• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal investasi dan perdagangan pariwis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal investasi dan perdagangan pariwis"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR PENENTU ALIRAN PERMINTAAN, DAN

PENAWARAN INVESTASI, BARANG DAN JASA PARIWISATA INDONESIA1

Deteminant Factors of Supply Demand Tourism Investment, Goods and Services in Indonesia Faurani Santi2, Rina Oktaviani3, Dedi Budiman Hakim4, Reni Kustiari5

ABSTRACT

Tourism is one of the most significant contributors to the Indonesia economy growth, based on data from the Indonesia Central Bureau of Statistics in 2012, the share of national tourism to GDP is 13.9 percent through foreign exchange earnings as revenue from tourist consumption. Besides that, it has provided a multiplier effect to other sectors which related to the sectors. Therefore, the increasing of tourism investment and trade will be focus in the tourism development program to improve the contribution. Meanwhile, the Indonesia Coordinating Board (BKPM) stated the average national investment for the tourism sector is Rp. 2.73 billion or 6 percent from total investment during 2006-2012, in other words an investment in tourism sector has not been able to provide optimal contribution to the national economy development considering to its potential.

The purpose of this study was to analyze the determinants of tourism investment, goods and services, demand and supply flows in Indonesia that used panel data from 1990 – 2012 periods; by applying a panel gravity model, the model analyzed the flow of investment (inward-outward), and international trade of Indonesia tourism sector to the growth of national economy. Based on the model, the results of the analysis give some conclusions including: (1) the magnitude of investment inflows to Indonesia influenced by the population of the country of origin of tourists and distances, (2) the flow of goods and services exports of Indonesian tourism is affected by the distance variable, price of Indonesian tourism in the country of origin of tourists, exchange rate, population, exports of the previous year (3) the flow of goods and services for Indonesian tourism influenced by distance, Indonesian GDP, the exchange rate, the price of Indonesian tourism in the countries of origin of tourists, and imports of goods and services in the Indonesian tourism previously (4) the flow of Indonesian tourism demand, affected by Indonesian GDP, GDP of the country of origin of tourists, Indonesia tourism, Asean Tourism (competitor), and tourism consumption by foreign tourists in Indonesia. (5) the result also define there is relationship between magnitude supply of Indonesian tourism deals with variable-GDP Indonesia, Indonesian tourism price, exchange rate, domestic consumption, and consumption in other countries

Keyword: Flows, investment, international trade, supply and demand tourism

PENDAHULUAN

Pariwisata merupakan salah satu sektor perekonomian yang memberikan sumbangan yang besar terhadap pembangunan ekonomi suatu negara, berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2012 share pariwisata nasional sebesar 13,9 persen terhadap total Produk Domestik Bruto dan tentu saja dengan besarnya kontribusi sektor tersebut berguna bagi pertumbuhan ekonomi nasional, melalui penerimaan devisa yang diterima dari besarnya konsumsi yang dikeluarkan oleh para wisatawan terhadap produk barang dan jasa nasional. Selain itu juga pariwisata mampu memberikan multiplier efek bagi sektor-sektor lain baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung (Antara, 1999).

Berkaitan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kontribusi pariwisata dan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, maka peningkatan investasi pariwisata juga menjadi pusat perhatian dalam program pembangunan, tujuannya agar kegiatan investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah sekaligus memicu peningkatan

1Bagian dari disertasi, disampaikan pada seminar Sekolah Pascasarjana IPB 2 Mahasiswa S3 Program Doktor Mayor Ekonomi Pertanian-IPB

(2)

produksi yang akan dihasilkan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal menjelaskan bahwa rata-rata investasi untuk sektor pariwisata adalah sebesar Rp. 2,73 triliun selama periode tahun 2006-2012, angka ini juga menunjukan bahwa kontribusi investasi pariwisata terhadap total investasi hanya sebesar 6 persen (Kemenpraf, 2012), dengan kata lain investasi di sektor pariwisata belum mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional, meskipun sektor ini sangat potensial dalam memberikan sumbangan dalam menggerakan perekonomian nasional. Adapun data dan profil perkembangan serta kontribusi sektor pariwisata Indonesia dapat dilihat pada table 1 sebagai berikut

Tabel 1: Profil dan Kontribusi sektor Pariwisata Indonesia Terhadap Perekonomian Nasional

Variabel 2011 2012 Perubahan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, maka peningkatan investasi pariwisata juga menjadi pusat perhatian dalam program pembangunan, tujuannya agar kegiatan investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah sekaligus memicu peningkatan produksi yang akan dihasilkan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal menjelaskan bahwa rata-rata investasi untuk sektor pariwisata adalah sebesar Rp. 2,73 triliun selama periode tahun 2006-2012, angka ini juga menunjukan bahwa kontribusi investasi pariwisata terhadap total investasi hanya sebesar 6 persen (Kemenpraf, 2012), dengan kata lain investasi di sektor pariwisata belum mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional, meskipun sektor ini sangat potensial dalam memberikan sumbangan dalam menggerakan perekonomian nasional.

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aliran investasi, barang dan jasa pariwisata Indonesia, (2) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aliran permintaan dan penawaran pariwisata Indonesia Indonesia, dan (3) bagaimanakah aliran investasi, barang dan jasa pariwisata internasional ke Indonesia, dan (4) bagaimanakah aliran permintaan dan penawaran investasi, barang dan jasa pariwisata internasional di Indonesia

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam Penelitian ini, model aliran, permintaan dan penawaran investasi, barang dan jasa pariwisata Indonesia dibuat dengan menggunakan metode panel gravity, dengan bantuan program Eviews 7.1 dalam melakukan pengolahan data. Adapun model aliran investasi dan perdagangan pariwisata Indonesia yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Model Aliran Investasi Pariwisata Indonesia

2) Model Aliran Barang dan Jasa Pariwisata Indonesia yang keluar (outflow)

(3)

4) Model Permintaan Pariwisata Indonesia =

5). Model Aliran Penawaran Pariwisata Indonesia

Dimana variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: pendapatan, nilai FDI, biaya transport, harga relative barang dan jasa Indonesia terhadap Negara asal wisman, populasi, tingkat bunga riil dalam negeri, exchange rate, tingkat bunga luar negeri (pada negara i) secara riil, keluarnya barang dan jasa (dari Indonesia ke negara tujuan j), masuknya barang dan jasa (dari negara asal j ke Indonesia), jarak, faktor krisis ekonomi sebagai faktor dummy, dan

factor dummy travel warning. Berdasarkan 3 model persamaan yang dibangun maka diperoleh secara umum metode yang digunakan adalah metode Fixed Effect Method untuk model aliran investasi pariwisata Indonesia model aliran keluarnya (outflow) barang dan jasa pariwisata Indonesia, dan model aliran masuknya (inflow) barang dan jasa pariwisata Indonesia.

Gambar Alur Penelitian:

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Aliran Investasi, Barang, dan Jasa Pariwisata Indonesia

Dari fungsi model aliran investasi langsung (FDI) dari negara-negara Asean (Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipna), Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia, dan Rest of The World (ROW) ke Indonesia, yang menggambarkan keterkaitan antara besarnya investasi yang masuk dari negara asal wisman ke Indonesia (dalam hal ini adalah Foreign Direct Investment)

(4)

persen. Pengaruh besarnya aliran investasi pariwisata yang masuk ke Indonesia terhadap GDP Negara asal wisman adalah positif, ini berarti bahwa peningkatan investasi (inward) pariwisata Indonesia akan meningkatkan GDP bagi kedua pihak (Indonesia dan negara asal wisman) selama kurun waktu 23 tahun besarnya investasi (inward) Indonesia dari negara-negara lain secara keseluruhan pada tahun 2012 adalah sebesar 1,9 miliar USD atau naik sebesar 18 persen dibandingkan tahun 2011. Sedangkan pengaruh investasi terhadap jumlah penduduk negara asal wisman dan jarak antara negara asal wisman ke Indonesia adalah positif dan signifikan, hal ini menunjukan bahwa besarnya nilai investasi (inward) yang dihasilkan terhadap kedua variabel tersebut searah dalam arti jika kenaikan populasi asal wisman semakin bertambah maka besarnya nilai investasi (inward) yang dihasilkan juga meningkat. Begitupula dengan jarak, semakin dekat jarak antara Indonesia dengan negara asal wisman maka semakin besar juga nilai investasi yang dihasilkan (Archer, Brian & Cooper. 1994). Seperti pada contoh kasus investasi Singapura yang cenderung mengalami peningkatan, selain karena faktor trend kenaikan GDP dari negara tersebut selama beberapa periode, jarak Singapura yang dekat dengan Indonesia pun menjadi faktor penentu investasi (inward).

Pada model aliran keluar (outflow) barang dan jasa pariwisata Indonesia variabel jarak, harga pariwisata Indonesia di negara asal wisman, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing asal wisman, populasi, dan keluarnya barang dan jasa pariwisata tahun sebelumnya merupakan variabel yang berpengaruh secara signifikan, dimana untuk variabel jarak menunjukan pengaruh yang positif terhadap outflow barang dan jasa pariwisata ini berarti dengan semakin bertambahnya jarak antara Indonesia ke negara asal wisman menaikan besarnya outflow barang dan jasa pariwisata Indonesia. Sedangkan hubungan antara outflow barang dan jasa pariwisata Indonesia dengan harga pariwisata Indonesia di negara-negara asal wisman dan nilai tukar rupiah terhadap besarnya outflow barang dan jasa pariwisata adalah bersifat negatif, jatuhnya mata uang domestik terhadap mata uang asing menyebabkan barang-barang yang masuk ke Indonesia akan lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang di dalam negeri, dan ini juga yang mendorong terjadinya peningkatan ouflow barang dan jasa yang berasal dari kegiatan pariwisata, dilain pihak hubungan yang searah (positif) terjadi pada populasi dan ouflow barang dan jasa pariwisata pada tahun sebelumnya. Secara keseluruhan dari hasil estimasi diperoleh besarnya hubungan antaara nilai ekspor pariwisata terhadap variabel-variabel penjelas adalah sebesar 96 persen.

(5)

Tabel 2: Analisis Aliran Investasi dan Perdagangan Pariwisata Indonesia

Analisis Aliran Permintaan dan Penawaran Pariwisata Indonesia

Pada model ini akan menggambarkan keterkaitan antara besarnya permintaan pariwisata yang diwakilkan oleh besarnya revenue (penghasilan) dari pariwisata Indonesia yang berasal dari wisman terhadap variabel GDP Indonesia, harga pariwisata antara negara asal wisman terhadap Indonesia, harga pariwisata negara pesaing terhadap harga pariwisata asal wisman, nilai tukar antara mata uang negara asal wisman terhadap mata uang domestik, perbandingan/rasio populasi negara asal wisman terhadap populasi Indonesia, dan konsumsi yang dikeluarkan oleh negara asal wisman di Indonesia.

Tabel 3: Aliran Permintaan dan Penawaran Pariwisata Indonesia

Pada model aliran permintaan pariwisata ini variabel GDP Indonesia, GDP negara asal wisman, harga pariwisata Indonesia, harga pariwisata negara lain, dan konsumsi pariwisata, merupakan variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan pariwisata Indonesia dengan besarnya pengaruh adalah 93.2 persen, Dari hasil estmasi hubungan yang positif menunjukan bahwa jika variabel GDP, harga pariwisatanegara pesaing (negara lain), dan konsumsi pariwisata, tersebut meningkat maka akan meningkatkan jumlah permintaan pariwisata, sebesar elastisitasnya.

(6)

meningkat juga termasuk dalam hal ini adalah sektor pariwisata. Kenaikan GDP Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 5 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya (GDP Indonesia tahun 2012 adalah sebesar 894.854 miliar USD). Kondisi dimana GDP mengalami kenaikan tentu saja akan menjadi suatu dasar bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor termasuk sektor pariwisata. Begitu juga dengan GDP negara-negara asal wisman, meskipun untuk negara-negara Uni Eropa yang mana selama beberapa tahun ini sejak krisis ekonomi Eropa melanda pertumbuhan GDP untuk negara-negara di kawasan tersebut menunjukan kecenderungan yang negatif namun hal ini tidak begitu mempengaruhi besarnya permintaan pariwisata Indonesia (terutama negara-negara lain yang tidak mengalami krisis ekonomi), seperti halnya Australia menunjukan bahwa GDP tahun 2012 yaitu sebesar 679.827 miliar USD atau naik sebesar 2,5 persen jika dibandikan dengan tahun sebelumnya. Kecenderungan naiknya GDP Australia juga menunjukan adanya kenaikan dalam permintaan pariwisata yang menandakan dengan bertumbuhnya ekonomi semakin bertambah pula tingkat kesejahteraan masyarakat akibat kenaikan pendapatan yang diperoleh sehingga dengan kenaikan tersebut pada akhirnya akan ikut menaikan konsumsi secara keseluruhan. Sedangkan hubungan positif antara harga pariwisata negara lain dengan permintaan pariwisata Indonesia menunjukan bahwa dengan kenaikan harga-harag pariwisata di negara lain merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil peluang dalam meningkatkan jumlah wisatawan termasuk dalam hal ini permintaan terhadap barang-barang dan jasa yang dibutuhkan dalam kegiatan pariwisata (Adi Laksono, 2011). Karena pada dasarnya permintaan pariwisata internasional di Indonesia dipengaruhi oleh pendapatan dari negara asal wisatawan, harga pariwisata Indonesia, dan harga pariwisata negara pesaing, dalam penelitian ini adalah Malaysia, Singapura, dan Thailand; dan apakah kedatangan wisatawan ke Indonesia ini merupakan rangkaian perjalanan pariwisata dari ketiga negara tersebut (sebagai barang komplemen) atau merupakan pilihan tunggal sebagai tujuan utama perjalanan (sebagai barang substitusi). Harga pariwisata sebenarnya terdiri dari harga berbagai jenis barang dan jasa sehingga sulit untuk mendapatkan angka tunggal tentang harga ini, oleh karena itu, harga pariwisata dapat direpresentasikan oleh indeks harga konsumen negara tujuan dibagi dengan indeks harga konsumen negara asal wisatawan dibagi dengan nilai tukar mata uang ke dua negara (Choyakh, 2008). Jumlah penduduk suatu negara juga merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke negara lain. Semakin meningkat jumlah penduduknya, akan semakin banyak penduduk tersebut melakukan perjalanan wisata. Variabel lainnya yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan, antara lain, pengeluaran untuk pemasaran, variabel dummy event seni, budaya dan olah raga, perubahan politik negara yang dikunjungi, kebijakan pemerintah dan keamanan.Sebagian besar studi tentang permintaan pariwisata menggunakan persamaan tunggal dengan jumlah kunjungan wisatawan ke suatu destinasi merupakan fungsi dari pendapatan, harga pariwisata, nilai tukar mata uang negara asal dengan negara tujuan, biaya transportasi, serta variabel dummy tentang faktor kualitatif yang mempengaruhi kunjungan wisatawan. Berdasarkan teori mikroekonomi tentang permintaan, permintaan pariwisata didefinisikan sebagai sejumlah barang dan jasa pariwisata di mana konsumen (wisatawan) bersedia dan mampu untuk membeli dalam waktu dan kondisi tertentu, dalam hal ini permintaan adalah fungsi dari pendapatan wisatawan, harga barang dan jasa pariwisata, harga barang dan jasa substitusi, serta variabel kualitatif lainnya seperti krisis ekonomi dan perang teluk dengan menggunakan variabel dummy (Choyakh, 2008).

(7)
(8)

Sebaliknya pada saat krisis yaitu dengan rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing menyebabkan rasio harga barang domestik terhadap harga di negara lain menurun akibatnya harga-harga domestik termasuk harga pariwisata jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pariwisata di negara lain dan inilah yang memicu terjadinya peningkatan kedatangan wisman ke Indonesia. Apa yang terjadi pada tahun 1997-1998 sebagai periode masa terjadinya krisis ekonomi di Indonesia,besarnya penawaran pariwisata Indonesia mengalami penurunan yaitu sebesar 5 persen pada tahun 1998 yaitu sebesar 345,219 juta USD dibandingkan tahun sebelumnya yang besarnya adalah 798,219 juta USD meski mengalami kenaikan kembali sebesar 21 persen di tahun 1999 menjadi 419,289 juta USD, begitu juga dengan krisis ekonomi periode tahun 2008-2009 dimana pada periode tersebut meski tidak sebesar periode tahun 1997-1998 terjadi penurunan penawaran pariwisata Indonesia rata-rata sebesar 9 persen.

.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi aliran investasi (inward-outward) pariwisata Indonesia adalah jumlah penduduk negara asal wisman, jarak antara Indonesia dengan negara asal wisman, dan pertumbuhan ekonomi negara asal wisman dengan besarnya pengaruh rata-rata dari variabel-variabel tersebut terhadap besarnya aliran investasi adalah sebesar 42 persen, yang menunjukan bahwa variabel-variabel penjelas dalam studi empiris ini adalah tidak besar terhadap perkembangan aliran investasi dan perdagangan pariwisata, sedangkan sisanya yaitu sebesar 58 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini seperti faktor promosi, harga pariwisata dari negara lain (pesaing), potensi pasar (market share).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi aliran keluarnya barang dan jasa pariwisata (outflow) adalah variabel jarak antara Indonesia dengan negara asal wisman, populasi negara asal wisman, nilai tukar, harga pariwisata Indonesia di negara-negara asal wisman, dan nilai aliran (outlflow) barang dan jasa pada tahun sebelumnya, dengan besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara keseluruhan adalah sebesar 96 persen, yang menunjukan adanya pengaruh yang kuat terhadap perkembangan aliran barang dan jasa (outflow) pariwisata Indonesia. Ini berarti bahwa besarnya barang dan jasa yang dikonsumsi dan dibawa keluar dari Indonesia cukup besar dan dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi aliran masuknya barang dan jasa pariwisata (inflow) adalah variabel jarak, pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dan aliran barang dan jasa (inflow) pariwisata yang masuk ke Indonesia, dengan besarnya pengaruh adalah 93 persen dan menunjukan pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan aliran barang dan jasa (inflow) pariwisata Indonesia. Pengertian dari besarnya barang dan jasa yang dikonsumsi dan dibawa masuk ke Indonesia Indonesia cukup besar dan dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

4. Dalam penelitian ini besarnya permintaan dan penawaran pariwisata dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama faktor pendapatan baik pendapatan Indonesia maupun pendapatan negara lain, jumlah penduduk negara lain, harga pariwisata di dalam negeri, harga pariwisata di negara lain (pesaing), jarak antara Indonesia dengan negara asal wisman, total konsumsi Indonesia, travel warning yang ditujukan oleh negara lain kepada Indonesia, dan krisis ekonomi di Indonesia, sedangkan krisis ekonomi yang dialami negara lain tidak mempengaruhi besarnya permintaan maupun penawaran pariwisata Indonesia. Besarnya pengaruh permintaan dan penawaran pariwisata terhadap faktor-faktor tersebut diperoleh rata-rata 93 persen dan 95 persen yang menunjukan pengaruh yang besar bagi perkembangan kegiatan pariwisata, sedangkan sisanya yaitu 7 persen (untuk permintaan pariwisata Indonesia) dan 5 persen (untuk penawaran pariwisata Indonesia dimungkinakan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini seperti promosi, dan daya tarik daerah tujuan wisata,

Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

(9)

perlu ditingkatkan kembali jumlah dan nilai investasi di sektor pariwisata (mengingat besarnya potensi alam dan budaya, serta ketersediaan sumber-sumber yang memadai dalam mendukung pertumbuhan pariwisata).

2. Investasi pariwisata dari suatu negara/daerah tujuan wisata umumnya dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pariwisata itu sendiri, sehingga sumber daya yang tersedia di suatu kawasan wisata memiliki nilai tambah, begitu juga dengan potensi dari suatu kawasan wisata apabila didukung oleh besarnya kualitas dan kuantitas investasi yang dilakukan, dalam hal ini peranan pemerintah, swasta, dan asing sangat diperlukan. Mengingat kondisi investasi yang belum optimal dilakukan di wilayah timur Indonesia maupun wilayah lainnya di Indonesia, maka diperlukan strategi pengembangan investasi yang tepat untuk menarik para investor baik dalam negeri maupun asing, salah satunya dengan memberikan fasilitas-fasilitas bagi para investor seperti tingkat pengembalian keuntungan (discount rate) yang cukup menarik bagi calon investor, promosi investasi yang gencar dilakukan oleh pemerintah di luar negeri, Undang-Undang maupun peraturan yang mendukung iklim investasi dan kepastian berinvestasi, pembenahan sistem layanan administrasi seperti layanan perizinan, layanan pajak, pembenahan sistem perbankan dan pembayaran internasional yang memadai, insentif pajak bagi para investor pariwisata seperti tax holiday, tax allowance dan subsidi produk, fasilitas dan infrastruktur pendukung pariwisata yang memadai seperti pelabuhan, bandara, terminal, jalan, jembatan,dan lain-lain.

4. Peranan kebijakan fiscal khususnya pengeluran pemerintah masih sangat dominan dalam mempengaruhi perekonomian sehingga perlu adanya perbaikan kebijakan fiskal di masa yang akan datang. Begitu juga dengan kebijakan peningkatan investasi khusunya di bidang infrastruktur sangat diperlukan dalam mendukung terjadinya pertumbuhan pariwisata. Disamping itu juga pemerintah harus bisa membuat program perencanaan yang terencana dan matang dalam pengembangan investasi khususnya pariwisata, agar bisa terkoordinir dan terintegrasi dengan sektor lain mengingat pariwisata merupakan sektor yang memberikan multiplier effect yang cukup besar terhadap perkembangan sektor-sektor lain.

5. Penigkatan investasi dan perdagangan pariwisata selama ini belum mampu membawa tingkat kesejahteraan yang diinginkan bagi masyarakat lokal oleh karena itu dalam upaya peningkatan investasi dan transaksi perdagangan pariwisata pemerintah perlu memperhatikan dampak negatif dari perkembangan pariwisata bagi masyarakat lokal melalui kebijakan-kebijakan yang pro-poor

dan perlu mempertimbangkan pengaruh dan dampaknya terhadap sektor-sektor lain khususnya pada sektor pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Alguacil, Ma. Teresa & Cuadros, Ana & Orts, Vicente, 2002.Foreign direct investment, exports and domestic performance in Mexico: a causality analysis,. Economics Letters, Elsevier, vol. 77(3), pages 371-376, November.

Anderson, James E. 1979. A theoretical foundation for the gravity equation, AmericanEconomic Review 69, 106-116

Antariksa B. 2010. Pengaruh Liberalisasi Perdagangan Jasa terhadap Daya Saing Kepariwisataan Indonesia. Prosiding Pertemuan Diklat Pariwisata tingkat Lanjutan Tahun 2010; Jakarta, 29 Juli 2010. Jakarta: Pusdiklat Kemenbudpar.

Antara, Made. 1999. Dampak Pengeluaran Pemerintah dan Wisatawan terhadap Kinerja Perekonomian

Bali: Pendekatan Social Accounting Matrix. (Disertasi). Bogor: IPB

Archer, Brian & Cooper. 1994. The Positive and Negative Impacts of Tourism. Oxford: Butterworth-Heinemann.

Deardoff, Alan. 1998. Determinants of Bilateral Trade: Does Gravity Works in a Neo Classical World?. National Bureau Economic Research. Working Paper no. 5377. In The Regionalization of the World Economy , University of Chicago Press

Dornbusch, R., S. Fischer, dan R. Startz. 2004. Macroeconomics. 9th edition. McGraw-Hill, Boston Dunning, John H. 1980. Towards an Eclectic Theory of International Production: Some Empirical Tests.

(10)

Durbarry, Ramesh. 2006. Tourism Expenditure in UK: Analysis of Competitiveness Using Gravity Based

Model. Nothingham University Business School. England

Greene. 2000, Econometric Analysis.4th ed., Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall

Hanafiah, M.H. & Harun, M.F. 2011. Trade and Tourism Demand: A case of Malaysia. International Conference on Business and Eonomic Research. Malaysia

Heriawan R. 2004. Peranan dan Dampak Pariwisata pada Perekonomi Indonesia: Suatu Pendekatan

Model I-O san SAM [Disertasi]. Bogor: IPB.

Horváth E, Frechtling DC. 1999. Estimating the Multiplier Effects of Tourism Expenditures on a Local

Economy through a Regional Input-Output Model. Journal of Traveo Researchvol. 37, no. 4 May

1999. hlm 324- 332.

Intriligator, M.R. Bodkin and C. Hsiao. 1978. Econometrics Models, Techniques and Application. Prentice-Hall Inc., New Jersey

Koutsoyianis, A. 1977.Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of Econometric Methods. Second Edition. The Macmillan Publisher Ltd,. London

Krugman P, Maurice O. 2004. Economi Internasional: Teori dan Kebijakan. Edisi Kelima. Jilid I. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kweka J. 2004. Tourism and The Economiy of Tanzania: a CGE Analysis. Research Fellow Economic and

Social Research Foundation. Oxford, UK: P.0. BOX 31226., 21 - 22 March 2004.

Mankiw, N.G., D. Romer, dan D. Weil. 2002. A Contribution to the Empirics of Economic Growth, Quarterly Journal of Economics

Mathieson, Alister dan Wall, Geofrey, 1982, Tourism: Economic, Physical, and Social Ipacts, Longman, London and New York

Mason, P. 2003, Tourism impacts, planning and management. Oxford

Millberg, William. 1999. Foreign Direct Investment and Development: Reassessing the Costs and Benefits. InternationalMonetary and Financial Issues for the 1990’s, Vol. VII, UNCTAD: Geneva

Nicholson W. 2005. Microeconomic Theory, Basic Principles and Extensions. Ninth Edition. Canada: Thomson South-western.

Pyndick, R.S. and D.L. Rubinfeld. 1991. Econometric Models and Economic Forecast. Third Edition. Mc Graw-Hill Inc, Singapore

Riyadi, D.S. 1998. Peranan arus masuk investasi asing langsung (FDI) inflow terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tesis master yang tidak dipublikasikan. Institut Teknologi Bandung, Bandung

Salvatore D. 1996. Ekonomi Internasional. Munandar H, penerjemah; Sumiharti Y, editor. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: International Economics.

Sanso, Marcos, et al, 199), Bilteral Trade Flows, The Gravity Equation and Functional Form, Vol. 75 No. 2

Sinclair, M. T., and C. M. S. Sutcliffe. 1988. The estimation of Keynesian in come multipliers at

thesubnational level. Applied Economics 20(11), 1435-1444.

Sugiyarto G, Blake A, Sinclair MT. 2003. Economic Impact of Tourism and Globalisation in Indonesia.

Annuals of Tourism Research, 30 (3). Hlm 683-701.

Suyana, Made. 2006. Pengaruh Perkembangan Pariwisata Terhadap Kinerja Perekonomian dan

Perubahan Struktur Ekonomi Serta Kesejahteraan Masyrakat di Provinsi Bali (Disertasi).

Universitas Airlangga. Surabaya

Tantowi A. 2009. Determinants of Tourism Demand in Indonesia: A Panel Data Analsys [Tesis]. Yokohoma, Jepang: Yokohama National University.

Thapa, K. (2005). Challenges and Opprtunities of Village Tourism in Sirubari. B.Sc Thesis, School of Environmental Management and Sustainable Development, Pokhara University, Kathmandu UNWTO 2009. Tourism Highlights 2009 Edition . http://www.unwto.org [21 April 2010].

UNWTO. 2011. Tourism Highlights 2011 Edition. http://www.unwto.org [2 November 2011].

Wagner JE. 1997. Estimating the Economic Impacts of Tourism. Annuals of Tourism Research 24 . hlm 592-608.

Widjaja A. 2000. Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Kinerja Ekonomi Indonesia: Suatu

Pendekatan Makroekonometrika [Disertasi]. Bogor: IPB.

(11)

Gambar

Tabel 1: Profil dan Kontribusi sektor Pariwisata Indonesia Terhadap Perekonomian NasionalVariabel20112012Perubahan
Gambar Alur Penelitian:
Tabel 2: Analisis Aliran Investasi dan Perdagangan Pariwisata Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Kesatuan dalam desain sebuah identitas visual akan membantu audiens untuk mengenali suatu brand, tidak hanya dari logo namun juga dapat dikenali dari aspek lainnya seperti

1) Pergerakan pencampur (Haustrasi) yaitu kontraksi gabungan otot polos dan longitudinal namun bagian luar usus besar yang tidak terangsang menonjol keluar menjadi

BILA dalam Perjanjian Lama pelayanan kesembuhan termasuk jarang, dalam Perjanjian Baru situasinya berbeda, karena pelayanan Yesus pada umumnya diiringi dengan pelayanan mujizat

Upaya yag dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga dalam mepertahankan Pulau Berhala di bidang hukum adalah melakukan uji materi atau judicial review terhadap peraturan

Demikian pula, seorang yang ikut dalam transaksi bursa berjangka komoditi tan- pa didukung adanya penyerahan fisik atas barangnya juga telah melakukan praktek-praktek

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Wondabio (2006) dan Johnstone (2003) bahwa calon klien yang memiliki dampak rendah terhadap risiko bisnis auditor berpeluang besar diterima

Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil kinerja guru (IPKG 1) bahwa rancangan pembelajaran siklus I rata-rata 2,88 ke siklus II rata-rata 3,11 terjadi

Jenis makanan yang sama, yang dibeli pada waktu yang bersamaan, di pedagang yang sama akan memberikan asupan yang sama pada nilai energi dan protein dari