KESEMPURNAAN DALAM KESEDERHANAAN (Perjalanan SM-3T Kabupaten Alor)
Tahun 2012 merupakan tahun yang paling bersejarah bagiku, karena pada tahun ini diisukan bumi akan kiamat, namun bukan isu kiamat yang membuat tahun ini tahun yang bersejarah. Tahun ini sangat bersejarah karena pada tahun 2012 banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat berkesan dan tak terlupakan sehingga untuk menceritakannya pasti sangat panjang. Diawalai pada bulan Februari 2012 merupakan titik tolak awal kehidupanku, karena pada bulan ini aku menyelesaikan bangku kuliahku dengan sangat berkesan. Bangku kuliahku aku selesaikan dengan waktu 3,5 thn bukan merupakan waktu yang lama untuk aku menyelesaikan bangku kuliah dengan nilai memuaskan (paS-Pasan) seperti kawan-kawanku yang lain, dan pada bulan itu pula aku mengikuti S1 KKT (S-1 Kependidikan dan Kewenangan Tambahan). Aku mendapatkan pengalaman belajar dengan bidang ilmu yang berbeda yaitu Kimia yang dibiayai oleh kementrian pendidikan nasional guna mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di daerah 3T.
Pada bulan juni, guna melanjutkan program kementrian yang telah aku ikuti sebelumnya, aku mengikuti salah satu program lainnya yang memiliki tujuan untuk mengatasi permasalahan pendidikan di daerah 3T yaitu program SM-3T yang merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yaitu S1 KKT. Program SM-3T sangat menggiurkan, karena selain mendapatkan pengalaman hidup baru, program ini juga ditunjang dengan biaya hidup di daerah 3T yang lumayan besar dan PPG secara gratis, inilah yang membuat aku tertarik mengikuti program ini. Pendaftaran program ini diawali dengan beberapa seleksi, dari seleksi administrasi, test online dan wawancara. Aku lolos seleksi hanya sekali test yaitu seleksi pada gelombang pertama, berbeda dengan teman-temanku yang lain sampai mengikuti test gelombang pertama dan gelombang ke-2. Alangkah senang hatiku, semua perjalanan hidupku dengan sedikit usaha keras aku lewati semua tantangan dengan mulus.
akademik, mental, fisik, dan survival (ketahananmalangan). Namun sebelum mengikuti prakondisi, untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yaitu tidak lolos SM-3T, aku telah mengajukan beberapa lamaran pekerjaan, salah satunya perusahaan BUMN ternama yaitu PT Bank Mandiri,Tbk pada bulan mei lalu. Namun sesuatu yang tidak dipercaya sebelumnya, aku lolos semua seleksi yang diberikan oleh pihak bank, dari test wawancara awal sampai test kesehatan. Test kesehatan dari Bank Mandiri dilaksanakan pada saat prakondisi bidang pendidikan di Undiksha. Aku mencari alasan untuk mendapatkan ijin dari panitia karena aku berpikir mengikuti program SM-3T hanyalah cadangan apabila aku tidak mendapatkan pekerjaan di Bali. Alhasil kesemua test yang diberikan pihak Bank aku lewati dengan mulus tanpa halangan, namun belum aku ketahui apakah aku lolos atau tidaknya. Sembari menunggu pemanggilan aku melanjutkan semua prakondisi dan pada akhirnya tiba saatnya keberangkatan, akupun mempersiapkan semua peralatan yang aku mesti bawa sambil berharap adanya panggilan dari Bank Mandiri.
wawancara di Bank Mandiri. Hal ini dikarenakan belum ada kepastian diterima atau tidaknya aku di Bank Mandiri, wawancara terakhir ini menentukan diterima atau tidaknya aku, apabila aku tidak diterima dan program SM-3T sudah berangkat maka aku akan menjadi orang goblok dan juga apabila aku bekerja di Bank, tidak sesuai dengan bidang keahlianku dan kedepan aku berpikir ilmu yang aku punya tidak akan berkembang dan aku bulatkan tekadku untuk mengikuti SM-3T yang membawa misi mulia “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
Pada tanggal 22 Oktober, aku meninggalkan pulau tercinta yaitu pulau Bali bersama 48 peserta SM-3T untuk Kabupaten Alor. Aku melupakan semua tentang Bank Mandiri dan fokus untuk melaksanakan tugas yang mulia ini. Tepat pada hari ini pula aku harus meninggalkan semua orang-orang terdekatku, orangtua, kakak dan seorang perempuan yang telah menemaniku saat suka dan duka kehidupanku. Air mata mengalir membasahi pipinya, rasa sedih tidak bisa ia hapuskan seperti menghapus air matanya, dan aku berbisik di telinganya “aku pergi hanya sementara nanti aku akan kemBali untuk membuatmu bahagia” dengan ucapanku itu dia tersenyum walau air mata tetap menetes dan akupun pergi menuju bandara bersama 48 rekan yang bertugas di Kabupaten Alor.
Sebelum menuju tempat tugas, aku tidak melepaskan kesempatan untuk berkeliling, dan menyaksikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang umumnya beragama Kristen. Salah satunya ialah paduan suara di salah satu gereja terbesar di Alor, yaitu gereja pola. Aku bertemu dengan seorang polisi Bali yang awalnya sangat baik, tapi lama kelamaan tingkahnya tidak baik. Orang-orang bilang dia sudah kena pengaruh Orang-orang-Orang-orang pribumi yang tidak bisa dipercaya seratus persen. Tapi tidak semua orang-orang pribumi tidak bisa dipercaya, yah paling tidak satu berbanding seribu yang seperti itu. Dia yang awalnya baik, karena sama-sama orang Bali yang memiliki rasa persaudaraan tinggi, tapi dia telah membohongi saya dan menghilangkan kepercayaannya kepada saya. Uang saya dia pinjam yang jani dikemBalikan pada bulan desember, sampai sekarang dia tidak pernah membicarakan hal tersebut, itu yang membuat saya merasa dia tidaklah keluarga saya. Jadi sedikit saran dan sekaligus pemberitahuan bahwa orang pribumi disini tidaklah bisa dipercaya, semuanya hanya omong banyak tapi kenyataannya nol kabuak (nol besar).
Pada hari kamisnya, aku bersama temanku dua orang menuju tempat tugas dengan menggunakan mobil pengangkut air, betapa mirisnya nasibku bersama rekanku, tapi demi mencerdaskan kehidupan bangsa aku tetap harus berjuang walaupun hiruk-pikuk diBali merupakan daya tarik dunia tapi bukan dalam dunia pendidikan. Sesampai di tempat tugas yaitu desa otvai yang berada di pegunungan nuh atinah, aku merapat di kediaman bapak Jacob S.Maro sebagai orang tua asuhku. Walaupun bapak Jacob memiliki tampang yang seram, kulit hitam, rambut kriting, mata membelalak tapi hatinya sangat baik. Begitu juga istrinya mama rahel, cantik dan baik. Ternyata dalam kehidupan ini Tuhan sudah merencanakan bahwa “Orang yang baik hanya untuk orang baik”. Maksudnya ialah apabila baik dalam kehidupan baik untuk diri sendiri maupun dengan orang lain pastilah suatu saat nanti kita mendapatkan orang yang baik, tempat yang baik dan suasana yang baik.
yang dapat mengikat semua tingkah laku sosial masyarakat, dan harus dihormati dan dijaga keajegannya. Setelah penerimaan oleh keluarga asuh, ketua komite dan beberapa dewan guru, baik guru SD, SMP, dan SMAN AWAALAH aku dan dua rekanku menuju sekolah tempat kami bertugas. Awal kedatanganku aku menyangka listrik sudah masuk di kampung ini karena tiang-tiang listrik telah berdiri dengan tegaknya, namun ternyata belum dialiri listrik. Dalam perjalanan menuju sekolah yang ± 2 km dari kediaman rumah tempat aku beristirahat, aku hanya melihat tiang berjajar namun tiada guna. Hanya janji-janji manis pemerintah yang masyarakat percaya setengah mati, masyarakat di Alor tidak semua terjamah dengan informasi, sehingga sedikit saja isu berkembang di Alor masyarakat percaya sekali. Televise, Koran tidak dapat ditemukan setiap hari karena listrik, sinyal belum terjangkau dampai di perkampungan. Sehingga tidak menyalahkan pengetahuan orang-orang pribumi sangatlah dangkal dan hanya tau seputaran pulau Alor, sehingga mereka merasa hebat dan merasa daerahnya paling hebat.
Sesampai disekolah akupun terkejut, apa yang aku lihat, sekolah yang lumayan megah, dan berkeramik. Setelah aku tanya ternyata sekolah ini hanya status meminjam di SMPN AWAALAH. Untuk SMA gedung ternyata belum ada yang ada hanya papan yang terpancang di lahan tanah kososng yang berbatu. Permerintah hanya memiliki keinginan yang besar untuk membangun pendidikan Alor, tapi action yang tidak sesuai dengan harapan inilah yang disebut dengan masalah (kesenjangan antara harapan dan kenyataan). Kalau pemerintah daerah ingin mengembangkan kemajuan pendidikan seharusnya itu diikuti dengan pembangunan sarana dengan prasarana. Sekolah ada tapi sarana dan sarana penunjang pendidikan tidak ada sama dengan pemerintah hanya omong kosong atau orang Alor bilang baku akal. Ternyata gedung dan sarana belum ada sama sekali, kalau begini bagaimana kita bisa memajukan pendidikan Indonesia????? Tidak bisalah. Pendidikan itu harus ada beberapa sector pendukung guna memajukannya, bukan hanya opini yang tidak ada apa-apanya.
yang tidak mendampingi aku menuju tempat tugas pernah berkata ”kita sudah ada guru biologi kenapa yang didatangkan guru biologi”. Beliau berkata begitu kepadaku, betapa hati ini tidak sakit. Walaupun hati ada sakit, tetapi tekadku sudah kuat untuk berjuang setengah mati untuk memajukan pendidikan di kabupaten yang masih tertinggal ini karena cintaku pada anak-anak yang berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan walaupun dengan usaha yang keras. KBM berlangsung pada siang hari setelah KBM SMP usai, ini sangat berat KBM berlangsung dari pukul 13.30-18.00. ini bukan kerja yang mudah untuk dapat mencerdaskan anak bangsa. Untuk jam-jam ini merupakan jam-jam mengantuk untuk memulihkan tenaga setelah beraktifitas pada pagi harinya “power map”. Apalagi pada pagi harinya siswa pergi untuk mencari kemiri di kebun membantu orang tua untuk menyambung hidup selain membayar biaya sekolahnya. Walau sering terjadi keterlambatan pada siswa aku tetap memberikan toleransi asalkan masih bisa dipertanggung jawabkan.
Apabila sepulang dari sekolah, banyak masyarakat yang menyapa dan mengajakku mampir di kediamannya. Ditempatku bertugas banyak orang yang baik, sesekali untuk menghilangkan rasa dingin aku menghampiri salah satu rumah warga dekat sekolah. Aku dijamu dengan baik, kopi dan ubi itu wajib ada di meja, untuk menghilangkan rasa lelah seusai mengajar dan rasa dingin di sore hari ini sangat tepat. Hampir semua warga sangat segan dengan profesiku sebagai guru, guru diBali hanyalah seorang petugas yang berada si sekolah. Tetapi di kampung tempatku bertugas guru adalah tugas mulia seorang manusi yang memberikan pengajaran pada anak-anak dari yang tidak tahu menjadi tahu. Masyarakat beranggapan bahwa seorang gurulah yang mampu untuk memberitahukan bahwa sebuah batu ialah batu, bukan orang lain.
siswa harus mengumpulkan catatan dan uang seribu rupiah untuk mendapatkan satu lembar soal. Kalau untuk mengumpulkan catatan itu merupakan salah satu metode pendidikan tapi untuk mengumpulkan uang seribu??? Itu bukan tindakan seorang guru. Sesekali anak-anak mendapatkan hadiah apabila bertanya baik-baik dan melupakan sebuah catatan, itu bukan pendidikan jaman sekarang. Cara seperti itu tidak ubahnya kita pada jaman jepang dimana sudah berbeda pada periode ini. Dimana pendidikan saat ini seorang guru itu bertugas memanusiakan manusia bukan memperlakukan anak-anak seperti binatang. Selain melakukan pemukulan guru PNS di tempatku bertugas juga jarang hadir, guru PNS ini melebih mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan pendidikan. Apakah semua guru yang PNS taraf hidup yang baik seperti ini?? Itu menjadi tanda Tanya besar dalam benakku. Kalau semua begitu wajarlah Kabupaten Alor merupakan daerah yang tertinggal.
memberikan pendidikan yang selayanknya pada anak-anak bangsa ini walaupun dengan segala keterbatasan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tidak terasa sudah menginjak pada bulan januari 2013, tepat selesainya pembangunan sekolah darurat yang menggunakan lahan SMPN AWAALAH semua siswa kelas X akhirnya dapat bersekolah di pagi hari. Untuk bisa bersekolah pagi, membutuhkan banyak sekali perjuangan baik dari dewan guru, komite dan semua siswa. Semua komite dan orang tua siswa bekerja tanpa pamrih untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya di pagi hari yang bertujuan agar konsentrasi anak-anak tidak terganggu akibat jam tidur siang, jam bermain dan jam membantu orang tuanya terbagi. Walaupun dapat bersekolah pagi, itu tidaklah maksimal untuk memfokuskan konsentrasi siswa, bagaimana tidak gedung sekolah yang dipergunakan untuk proses KBM hanyalah gedung darurat dari bambu, yang seringkali bubuk jatuh dari atas dan dari dinding gedung yang kesemuanya terbuat dari bambu. Tidak ubahnya lagi bangku dan kursi mereka, hanya terbuat dari belahan batang kemiri yang tidak rata yang membuat duduk dan tulispun tidak nyaman. Tapi dengan kehadiran guru SM-3T semangat siswa untuk bersekolah juga sangat tinggi walau siswa banyak yang bilang sekolah di gubug derita tapi dengan adanya bapak dan ibu guru SM-3T kita sebagai siswa jadi semangat, karena cara guru SM-SM-3T mengajar berbeda dengan guru disini. Guru disini lebih banyak melakukan CBSA = Catat Buku Sampai Habis, dan memberikan buku kepada ketua kelas dan menyuruh siswa mencatat dan guru pergi bercerita di ruang guru. Sedangkan guru SM-3T mengajar dengan metode yang menarik dan selalu membuat siswa senang dan semangat untuk belajar itulah sedikit ungkapan dari siswa di SMAN AWAALAH.
menandatangani fakta integritas apabila anak didik disekolah yang akan kami pindahkan ada yang tidak lulus. Kami menolak dengan tegas, karena apabila ingin memaksimalkan pembelajaran persiapan Ujian Nasional sebaiknya pas pertama penempatan kami sudah direncanakan sedemikian rupi. Ternyata dinas tidak memiliki persiapan apapun dan sembarangan dalam meletakkan kepindahan guru, yang awalnya akan dipindahkan disekolah terdekat aku dipindahkan ke SMP SATAP SERANGLANG itu ada di Alor Timur jauh sekali dengan tempat awal di Alor Barat Laut.
Mendengar kepindahanku, kepala sekolah nampaknya biasa-biasa saja sesuai dengan statementnya pada awal pertemuan yang menyatakan secara tidak langsung tidak memerlukanku, begitu juga guru-guru yang malah mengolok-olokku. Inilah yang membuatku sebenarnya tidak betah di sekolah, tapi pas anak-anak sekolah tahu kepindahanku, betapa tidak terharunya aku. Anak-anak-anak kelas X1
menangis tersedu-sedu dan berteriak supaya aku tidak pindah ke sekolah lain. Anak-anak menyatakan tidak menginginkan kepindahanku kepada semua guru, tapi guru tidak ada tanggapan sama sekali. Aku cuman bisa menghibur mereka dengan menyatakan bapak akan kemBali apabila ujian nasional smp usai, kemudian aku Tanya kenapa kalian menangis sedangkan guru biologi dan kimia sudah ada guru yang mengajar. Anak-anak menyatakan kalau selain guru SM-3T kami tidak suka di ajar, guru-guru pribumi mengajar tidak jelas dan sering membuat anak-anak tidak mengerti. Melihat keadaan ini, aku berjuang agar aku tidak dipindahkan, bersama bapak Jacob orang tua asuhku aku menghadap kepala dinas dan mengatakan supaya aku tidak dipindahkan. Bapak asuhku juga tidak menyetujui kepindahanku sehingga beliau berjuang mati-matian memepertahankanku. Mungkin juga karena kuasa tuhan dan akhirnya aku tidak jadi dipindahkan dan tetap mengajar di SMAN AWAALAH. Sesuai dengan mottoku “kalau kita mau pasti bisa” kalau kita sebagai manusia apabila kita menginginkan sesuatu kemudian kita berusaha dengan semaksimal mungin niscaya apa yang kita inginkan akan tercapai, karena dalam kehidupan tiada yang tidak mungkin.
terpikirkan aku temui yaitu di tempat salah satu rekanku yang bertugas di Lella terdapat perang antar suku dan rekanku tersebut ada di dalamnya. Pagi-pagi sekali aku bersama rekan yang berada di secretariat mendapatkan telepon yang tidak kami harapkan, salah satu rekan dilella menelpon dengan tergesa-tegas dan menyarankan kami untuk melapor ke Polres bahwa di tempat tugasnya sedang terjadi perang besar. Kami yang berada di secretariat sontak kaget dan langsung melaporkan ke polres Alor, namun apa yang terjadi petugas tidak mempercayai kami dan kami bersikeras untuk meyakinkan petugas sekaligus rekan kami yang di sana. Tidak hanya pihak keamanan yang kami cari, di pihak kesehatan juga kami melapor agar mengirimkan tenaga medisnya ke lella karena disana ada beberapa korban. Saking paniknya kami, smpai-sampai kami melupakan semua hal hanya berharap dan berdoa agar rekan kami yang bertugas di lella tetap selamat dan segera dapat bergabung bersama kami di secretariat SM-3T Undiksha di Kenarilang.
Salah satu kejadian yang paling membuatku dilemma adalah adanya telepon dari pihak bank mandiri yang memintaku untuk ikut bergabung disana. Aku hanya bisa terheran saja, karena number handphoneku saudah aku ganti saat sebelum keberangkatan dan nomorku yang lama aku sudah buang. Tepat setelah hari raya galungan berakhir saat aku bersama rekan-rekan menikmati dispen hari raya aku ditelpon oleh personalia bank mandiri bagian MKA (Mikro Analisi Kredit) yang bernama bapak Nyoman Sukarma. Bapak nyoman memintaku untuk menjadi staf MKA, dan sudah menawarkan gajih dan penempatan untukku. Gajih yang ditawarkan ialah Rp.2.350.000 untuk training selama 3 bulan, dan apabila aku bisa melewati test lagi maka akan di promosikan sehingga gaji yang didapat juga naik menjadi 3juta rupiah. Ini benar-benar membuat diriku dilemma, tawaran ini sangat-sangat menggiurkan karena aku rasa mengikuti program SM-3T gajih yang aku dapat lebih kecil dan juga keberlanjutannya juga belum jelas. Aku meminta pertimbangan dengan semua rekan-rekan dan orang tuaku, mereka semua mengemBalikannya padaku. Akupun berpikir berjuta kali lipat menyanggupi dan melepaskan anak-anak bangsa atau tetap bersama anak bangsa sampai tugas usai.
jauh-jauh keinginanku untuk bergabung di perusahaan BUMN, dan mengikuti program pemerintah. Mudah-mudahan jalan yang aku pilih benar, sekarang aku memperjuangkan pendidikan anak bangsa semoga suatu saat nanti apa yang aku lakukan bersama rekan-rekanku dapat diperjuangkan juga di pemerintahan untuk menjadi guru (PNS) karena tidak semua orang dapat mengabdi dengan baik demi negaranya. Apalagi sudah rasia umum untuk menjadi PNS guru semua sarjana harus merogoh kocek dalam-dalam sampai ratusan juta itu tidak sedikit. Semoga pemerintah memperhatikanku dan semua rekan-rekan dan apabila tidak mungkin aku hanya bisa menyesal-menyesal dan menyesali hidupku karena melepaskan pekerjaanku di Bank ternama.
Hari berganti hari, siang berganti malam, aku beraktifitas sebagaimana guru di daerah 3T, musim kering yang melanda membuaku harus mandi secukupnya dengan air seadanya tanpa mementingkan kesehatan lagi yang penting aku dapat memberikan yang terbaik demi anak bangsa yang akan menjadi tulang punggung bangsa untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran dan itu semua tidak menyurutkan semangatku dari awal kedatangan sampai akhir. Untuk melupakan semua beban di hati dan pikiran apalagi tidak bertemu dengan orang terkasih, aku melakukan aktifitas sesuai yang dilakukan masyarakat kesehariannya. Aku membeli babi dan aku pelihara sendiri, mencari kayu bakar, menanam jagung bersama keluarga asuh, pergi ke kebun yang membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai disana, melakukan aktifitas rumah dan membantu semua kebutuhan masyarakat desa otvai dan alila selatan sampai tugas ini berakhir, tidak ada penyesalan dalam hati karena hanya dalam kesederhanaan kesempurnaan dapat kita rasakan.
“Aku tinggal di daerah yang asing dan jauh dari daerahku, tapi aku merasa ada ikatan dengan daerah ini, sebuah ikatan yang lebih erat daripada daerahku dan aku akan berjuang semampuku untuk mencerdaskan dan membangun daerah ini. Aku telah membiasakan dengan gaya hidup masyarakat disini, ini menciptakan ketenangan dalam pikiranku sebuah gaya hidup tanpa kemewahan, dan keserakahan, dalam kehidupanku aku tidak pernah senyaman ini, semua orang baik padaku bahkan ketika aku meremehkan daerahnya aku merasa bingung karena aku harus kemBali meninggalkan daerah ini untuk mencapai cita-citaku dan semua harapanku”