• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN AIR UNTUK MASY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN AIR UNTUK MASY"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN AIR UNTUK MASYARAKAT

DAN LINGKUNGAN

Air, Lingkungan, dan Populasi

Air merupakan darah kehidupan di planet ini. Air adalah kebutuhan dasar biokimia dari semua organisme yang hidup. Ekosistem planet ini saling terkait dan terpelihara oleh air, mengendalikan pertumbuhan tanaman, menyediakan habitat permanen bagi ribuan spesies (misalnya 8500 spesies ikan), dan menjadi rumah perkembang-biakan ataupun rumah temporer bagi banyak mahluk lainnya, termasuk 4200 jenis ampibi dan reptil. Air juga merupakan pelarut universal dan sebagai jalur utama untuk aliran sedimen, nutrien, dan polutan. Melalui erosi, transportasi dan deposisi dari sungai, glasir, dan bongkahan es, air membentuk wilayah sendiri, dan melalui evaporasi terjadilah pertukaran energi antara daratan dan atmosfir, sehingga mengontrol iklim bumi.

Terlepas dari sebagian kecil proses kimiawi, air tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan, tetapi ia hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya disertai perubahan dalam kualitas. Jumlah air di bumi ini ialah 1.4 triliun km3, namun hanya 41,000 km3 yang bersirkulasi melalui siklus hidrologi, dan sisanya tetap tersimpan di lautan, bongkahan es, dan akuifer. Lagi pula, laju pembaharuan yang disediakan oleh air hujan bervariasi di seluruh dunia. Di padang gurun Atama di selatan Peru hampir tidak pernah turun hujan, sementara curah hujan 6,000 mm per tahun adalah hal yang umum terjadi di berbagai wilayah di Selandia Baru. Di setiap tempat, curah hujan juga bervariasi dari tahun ke tahun. Di awal tahun 1980 dunia menyaksikan kekeringan dashyat dan kekurangan pangan di Sahel, tetapi Agustus 1988 banjir melanda wilayah yang sama.

Ketersediaan air juga bervariasi setelah suatu periode yang panjang. Sekitar 10.000-20.000 tahun lalu, selama fase pembekuan es yang luas, curah huja di atas gurun Sahara dan Timur Tengah sangat tinggi dan perkolasi air ke lapisan cadas di dalam tanah menghasilkan sumber air tanah yang subtansial (Goudie, 1977). Akan tetapi, iklim saat ini yang lebih kering di wilayah ini menyebabkan pengisian ke sumber air tanah itu banyak berkurang dan pengeksploitasian air tanah jauh lebih besar.

Terjadinya perubahan atas siklus cuaca yang alami merupakan hasil perbuatan manusia secara global.

(5)

Abad 20 ini telah menjadi saksi atas lonjakan jumlah manusia yang luar biasa, dari 2.8 milyar di tahun 1955 menjadi 5.3 milyar di tahun 1990 dan diperkirakan akan mencapai 7.9 – 9.1 milyar sampai tahun 2025 (Engelman dan LeRoy, 1993). Akibatnya, kebutuhan air manusia untuk domestik, industri, dan pertanian juga meningkat sangat cepat. Jumlah air yang diperlukan setiap orang bervariasi, tetapi cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup. Di Amerika Serikat, setiap orang rata-rata memakai 700 liter air per hari untuk kegiatan domestik (minum, masak, dan cuci), sementara di Senegal, rata-rata 29 liter per hari. Secara umum, 100 liter per orang per hari adalah ambang kebutuhan minimum (Falkenmark dan Widstrand, 1992). Apabila kebutuhan industri dan pertanian dimasukkan, maka negara yang konsumsinya 1700 m3 per orang per tahun (sekitar 4600 liter per hari) dianggap mengalami ketegangan karena air. (Bank Dunia, 1992). Oleh karena adanya jarak antara tempat manusia hidup dan sumber daya air, pada tahun 2000 ada 12 negara di Afrika dengan populasi sekitar 250 juta menderita kekurangan air. Sampai tahun 2025, 10 negara di Afrika akan menyusul pada kondisi seperti itu dengan jumlah penduduk 1,1 milyar orang, atau dua pertiga populasi seluruh Afrika, sementara empat negara (Kenya, Rwanda, Burundi, dan Malawi) akan mengalami krisis air yang parah. (Falkenmark, 1989).

Air untuk Orang atau Lingkungan?

Krisis air di banyak negara, tampaknya perlu suatu kerja yang luar biasa untuk mengelola air sehingga menjadi cukup untuk orang minum, keperluan pertanian, lingkungan, dan industri. Situasi ini sering menimbulkan konflik kepentingan jika terdapat pilihan, misalnya antara air untuk orang, atau untuk kehidupan mahkuk luar, atau untuk lingkungan.

United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio tahun 1992 menandai perubahan dalam pemikiran moderen. Prinsip pokoknya ialah kehidupan manusia dan lingkungan merupakan ikatan yang sangat erat. Proses ekologi menjaga planet ini cocok bagi kehidupan, menyediakan makanan, udara, obat-obatan, dan banyak lagi yang diistilahkan “kualitas kehidupan”. Diversifikasi besar-besaran secara biologis, kimiawi, dan fisikal dari bumi ini membentuk

bangunan blok-blok yang esensial bagi ekosistem. Jadi dikala manusia membutuhkan air untuk langsung diminum, menyediakan air untuk lingkungan berarti sama dengan memakai air secara tidak langsung untuk manusia. Konsep ini amat mendasar yang memasukkan semua aspek manajemen sumber air, seperti undang-undang air yang baru di Afrika Selatan yang prinsip kesembilannya menyatakan bahwa: “kuantitas, kualitas, dan kelayakan air diperlukan untuk mempertahankan fungsi ekologis yang manusia bergantung padanya dan harus dicadangkan sehingga kesinambungan jangka panjang dapat terjamin”

(6)

Sebagai contoh, padang rumput dan hutan yang dikelola dengan baik akan

mengurangi limpasan permukaan saat musim hujan, meningkatkan infiltrasi tanah dan akuifer serta mengurangi erosi, seperti menjaga aliran air selama musim kemarau dan pengurangan limpasan permukaan selama ada banjir. Konservasi lahan basah secara khusus, dengan menjamin bahwa lahan itu akan mempunyai pasokan air yang memadai untuk mempertahankan fungsinya dapat menjadi manfaat yang positif bagi umat manusia. Banyak lahan basah memberikan hasil seperti ikan, tanah yang subur, kayu dan obat-obatan dan juga habitat untuk makhluk liar. Sebagian lahan basah juga berperan penting dalam fungsi-fungsi hidrologis termasuk pengurangan banjir, perbaikan kualitas banjir (dengan membuang polutan-polutan) dan pengisian air tanah. Jadi bagi jutaan manusia di seluruh dunia yang bergantung secara langsung pada lahan basah atau mengambil manfaat dari fungsi lahan basah, penyediaan air untuk lingkungan dan untuk manusia adalah satu dan sama.

Prinsip-Prinsip Manajemen Air untuk Manusia dan Lingkungan

Ada 10 prinsip manajemen air untuk manusia dan lingkungan. Prinsip-prinsip itu dapat dijadikan acuan apabila air ingin dimanajemeni secara berkesinambungan untuk manusia dan lingkungan.

Kesepuluh prinsip manajemen air untuk manusia dan lingkungan, yaitu: 1. Menilai manfaat air

2. Memakani air dengan lestari

3. Membangun institusi-institusi yang handal untuk memanajemeni air 4. Mengumpulkan dan mendesiminasi informasi

5. Memelihara sosial dan budaya 6. Menjamin akses air yang baik 7. Menggunakan teknologi yang tepat

8. Mengusahakan solusi atas penyebab masalah, bukan gejala yang nampak (tetapi terimalah solusi praktis)

9. Ambil pendekatan ekosistem 10.Bekerja sebagai tim multidisipliner

1. Menilai Manfaat Air

(7)

Penilaian ekonomis bukanlah suatu solusi menyeluruh bagi pengambil keputusan yang sedang menghadapi pilihan-pilihan yang sulit. Kesulitan lain adalah kurangnya informasi pada proses hidrologis dan ekologis, seperti pendauran zat makanan atau pengisian air tanah. Jika informasi tersebut dinilai kurang, maka diperlukan investasi waktu, sumber daya dan upaya lebih lanjut berupa penelitian sains dan ekonomi. Pada akhirnya, beberapa kelompok masyarakat berpendapat bahwa system lingkungan tertentu seperti hutan tropis dapat mempunyai nilai tambahan “sangat tinggi” melebihi apa yang ia dapat sediakan untuk kepuasan manusia, terutama saat manajemen air menimbulkan degradasi ekosistem, misalnya menurunnya atau musnahnya zat makanan atau spesies tertentu. Dari perspektif ini, konservasi ekosistem atau spesies merupakan persoalan kewajiban moral dari pada untuk efisiensi atau bahkan untuk penjatahan air. Jadi nilai ekonomis hanyalah menjadi salah satu masukan bagi pengambilan keputusan manajemen air, menyertai pertimbangan penting lainnya.

2. Memakai Air Secara Lestari

Apabila sumber air digunakan dengan tingkat pemakaian yang lebih tinggi dari pada pengisian kembali, sumber air itu akan menyusut dan pemakaian menjadi tidak berkesinambungan. Banyak tempat di bumi ini, sebagai contoh, air tanah

dieksploitasi habis-habisan jauh melebihi tingkat pengisiannya kembali. Di Quetta Pakistan misalnya debit pengisapan 2.5 m3/detik sementara pengisian kembali 2 m3/detik, mengakibatkan permukaan air tanah menyusut 1 m per tahun (Acreman, 1993). Di Jakarta, Indonesia, wilayah sekitar Cengkareng, Grogol, Cempaka Putih, dan Cakung, permukaan air tanah turun sekitar 17 m per tahun, dan beberapa wilayah lain muka air tanah sudah berada 40-50 m di bawah permukaan air laut (Hendrayanto, 2004).

Ada banyak cara untuk menggunakan air secara lestari:

1. Irigasi tetes yang menyuplai air langsung ke akar tanaman melalui pipa dengan lubang-lubang kecil (Gambar 2), merupakan metode yang sangat efisien misalnya untuk tanaman tebu di Mauritius (Batchelor and

(8)

Gambar 1. Contoh Sistem Irigasi Tetes

2. Pemakaian air dikenakan biaya dan buat investasi teknologi irigasi tetes serta perbaikan pipa-pipa bocor.

3. Penjernihan air limbah secara alami untuk digunakan kembali sebagai air irigasi.

4. Desalinisasi air sangat mahal dan hanya menyuplai sekitar 1/1000 dari kebutuhan air. Namun, desalinisasi dengan tenaga surya bisa menjadi solusi terutama di Negara tropis seperti di Asia Barat (Gleick, 1993).

5. Sistem roil yang mengalirkan air dari rumah tangga ke pusat pengolahan air limbah memerlukan jumlah air yang sangat banyak. Di banyak negara seperti Inggeris, pengolahan air limbah langsung di sumbernya yang hanya

menggunakan sedikit air.

3. Membangun Institusi Manajemen Air

Institusi pada berbagai level sangat esensial untul alokasi air secara adil. Pada level global ada dua institusi yang berjalan, pertama World Water Council, yang bertujuan mengasses sumber air global dan isu-isu kebijakan, dan yang kedua adalah Global Water Partnership yang melakukan kordinasi program berskala besar untuk masalah air dan sanitasi, pertanian dan irigasi.

(9)

menghasilkan suatu rencana pembebasan kendali untuk merehabilitasi system pertanian penduduk asli dan kehidupan liar.

Akan tetapi, pelepasan air pertama dari bendungan dilakukan pada saat yang tidak tepat dan panenan menjadi hanyut atau membusuk (Poultney, 1992). Tahun 1987, Departemen Urusan Air dan perwakilan suku-suku sepakat untuk mencoba partisipasi masyarakat. Hasilnya, komite air terbentuk, yang merepresentasikan lima kelompok pemakai: nelayan, pengumpul makanan, perempuan, pelayan kesehatan, dan yang diberi mandate untuk memutuskan kapan air dilepaskan. Komite ini sangat berhasil menjalankan keinginan masyarakat dan menjalankan manajemen basin sungai secara menguntungkan pemakai dataran banjir. Ini adalah contoh unik partisipasi pemakain dataran banjir secara langsung di dalam proses pengambilan keputusan dan

mempengaruhi pembanguna dan manajemen basin sungai.

Apapun levelnya, institusi membutuhkan anggota-anggota yang memiliki informasi yang baik dan yang mempunyai apresiasi luas tentang isu-isu alokasi sumber air. Pelatihan adalah hal esensil, namun pelatihan butuh variasi sesuai jenis institusi. Penasehat teknis professional memerlukan kursus pelatihan formal, misalnya manajemen tanah basah dan perencanaan sumber air, sedangkan masyarakat local dilatih tentang keterlibatan di dalam aktivitas lokal seperti partisipasi penilaian desa atau kunjungan ke demonstrasi proyek.

Satu factor yang dapat membatasi efektifitas keterlibatan masyarakat di dalam proses manajemen ialah ketidak-percayaan atau konsep keliru terhadap perhatian dan aspirasi mereka yang tidak dipahami dengan baik (Smith, 1995). Istilah yang sangat samar “publik umum” sering dipakai oleh pihak otoritas untuk mendefinisikan setiap orang lain, yang berimplikasi ke sikap “ kami dan mereka”. Jika “publik umum” diganti dengan “masyarakat setempat”, “mereka” menjadi pemilik tanah, pemakai dan individu yang bersama dengan asosiasi sungai, danau atau tanah perairan. Lebih penting, para professional ingin melihat mereka sendiri sebagai bagian masyrakat dan pemahaman mutual menjadi lebih mudah tercapai.

4. Kumpul dan Diseminasi Informasi

Manajemen sumber daya yang efektif hanya dapat dicapai jika keputusan didasarkan informasi yang baik. Bahkan di Negara seperti Inggeris, yang memiliki lebih dari 100 stasion pengukur aliran sungai, kuantitas sumber air yang tersedia masih tidak

(10)

riset sering menjadi prioritas pertama untuk dihentikan. Padahal, pengumpulan data hidrologi perlu diperluas menjadi lebih banyak sungai, perairan dan air tanah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Model yang lebih baik diperlukan untuk

membuat prediksi, terutama sejak iklim sangat mungkin berubah secara substansil 50 tahun kemudian. Peramalan banjir dan kekeringan memerlukan inisiatif baru dan pembangunan sistem komunikasi, seperti World Hydrological Climate Observation System, dikenal sebagai WHYCOS, yang akan mengumpulkan informasi hidrologis secara waktu riil melalui satelit seluruh dunia. (WMO, 1995).

Di sebagian negara, data hidrologi dikumpulkan, dianalisis, dan dipresentasikan di dalam buku tahunan hidrologis. Namun demikian, sering tidak didistribusi dengan baik dan didalam prakteknya hanya departemen pemerintahan tertentu saja dan konsultan yang memperolehnya. Informasi sumber daya air dan populasi perlu dipresentasikan rangkumannya dan dengan cara yang mudah dipahami serta

didesiminasi secara luas ke pejabat pemerintahan, peneliti, dan masyarakat setempat sehingga mereka dapat berpartisipasi di dalam proses pengambilan keputusan.

5. Memelihara Sosial dan Budaya

Air merupakan bagian fundamental kehidupan dan dipakai juga di dalam acara-acara religius di dalam masyarakat, misalnya untuk acara pembaptisan umat Kristen, pembersihan jiwa umat Hindu di sungai Gangga, dll. Manajemen dan alokasi air menjadi isu yang sensitif. Tidak seperti sumber daya lain misalnya batubara atau kayu, air dianggap sebagai “Pemberian Tuhan” sehingga strategi manajemen yang meminta pembayaran air sering tidak dapat diterima.

Anak-anak dan perempuan di banyak negara berkembang bahkan berjalan sangat jauh untuk mengumpulkan air. Dengan menyediakan sumur-sumur yang layak tentunya akan memperbaiki keadaannya. Akan tetapi, beberapa proyek penyediaan air di Afrika yang memasang kran-kran di perumahan menjadi gagal dan bermasalah karena budaya keluar rumah mengambil air dan mencuci merupakan event yang penting bagi wanita khususnya di mana dimanfaatkan untuk bertemu dan berbagi cerita satu sama lain.

6.

Jaminan Akses Air yang Adil

Statistik sumber air sering disajikan berdasarkan hitungan per kapita. Ini menggambarkan nilai rata-rata terhadap seluruh populasi, memberikan kesan ekualisasi dalam ketersediaan sumber air, yaitu akses yang sama dan kemampuan seimbang untuk membayar. Akses yang kontras terjadi di banyak negara

(11)

membayar lebih banyak dan membelanjakan penghasilannya secara proporsional untuk air. Di Port-au-Prince, Haiti, keluarga miskin menggunakan 20 % dari

penghasilannya untuk air; di Onitsha, Nigeria, si miskin membayar 18 % sementara orang yang berkecukupan hanya memakai 2 % dari penghasilannnya. Di Jakarta, Indonesia, 32 % membeli air dari pedang kaki lima / asongan dengan harga USD 1,5 sampai USD 5.2 per m3, kadang-kadang membayar 25-50 kali lebih tinggi dari 14 % rumah tangga yang menerima air dari sistem perkotaan (Bank Dunia, 1993).

Ditambahkan, beban ketidakcukupan air yang bekualitas lebih banyak dipikul oleh wanita dan anak-anak. Karena mereka adalah pengumpul air utama, waktu

pengumpulan yang lebih lama berarti wanita kurang waktu untuk mengurus produksi pertanian dan mengasuh anak. Air sangat vital untuk wanita terutama untuk aktivitas pengolahan makanan dan kerajinan tangan, yang merupakan sumber penghasilan utama (Serageldin, 1995). Wanita juga merupakan penyedia layanan kesehatan, sehingga penyakit di dalam keluarga akibat air yang kurang bersih berdampak lebih besar kepada wanita daripada pria.

7. Gunakan Teknologi yang Tepat

Teknologi dipandang sebagai alat untuk mengantar perintah terhadap tidak

menentunya iklim dunia. Sebagai contoh, bendungan digunakan untuk menampung air selama musim hujan dan dipakai saat dibutuhkan selama musim kemarau untuk industri, pertanian atau pembangkit listrik. Hal ini sangat penting untuk sungai-sungai yang alirannya bervariasi berdasarkan musim.

(12)

Gambar 2. Terowongan Tradisional yang Mengantar air ke Perkampungan atau Tanah Pertanian

Teknologi yang diterapkan harus dipertimbangkan kesinambungannya dan kemampuan penduduk setempat memeliharanya.

8. Atasi Penyebab, bukan Gejala-Gejalanya

Dengan banyaknya persoalan ekonomi, kesehatan, dan social, maka akan lebih mudah menanggulangi gejala-gejalanya daripada penyebabnya. Sebagai contoh, penyemprotan nyamuk akibat air tergenang adalah mengobati gejalanya. Seharusnya adalah mengatasi penyebab terjadinya genangan air sehingga nyamuk tidak dapat berkembang biak.

9. Lakukan Pendekatan Ekosistem

Adalah suatu kebutuhan membangun pendekatan luas untuk manajemen air dengan penekanan lebih besar pada perancangan regional terpadu dan konservasi habitat yang kritis. Lingkungan tersusun dari sekumpulan unsur fisik, kimia, dan biologi termasuk air, oksigen, tanaman, hewan, tanah, dan mineral. Setiap unsur itu memegang peranan penting seperti menyediakan struktur batuan atau berinteraksi antar komponen, memelihara proses-proses krusial misalnya aliran energi atau siklus nutrient. Diatas dari semua lingkungan alam ini adalah efek keberadaan umat

(13)

Pendekatan Manajemen Ekosistem bertujuan untuk mengintegrasikan semua

komponen fisik, kimia, dan biologis dan proses-proses interaksi sosial, ekonomi, dan faktor institusional. Ini memerlukan integrasi manajemen dari gunung, lahan kering, hutan, pertanian, perumahan, industri, transport, air buangan, akuifer, sungai, danau, lahan basah dan semua yang mempunyai efek bagi lingkungan.

10. Bekerja Sebagai Tim Multidisipliner

Banyak daerah aliran sungai yang didalamnya terdapat berbagai macam bentuk lahan, peruntukan lahan, habitat, industri, komunitas, aturan hukum dan adat istiadat.

Dengan demikian, implementasi pendekatan ekosistem terpadu seperti yang

diusulkan di atas, memerlukan gabungan interdisipliner termasuk hidrologis, insinyur keairan, ahli biologi, fisika, tanah, perencana, ahli kesehatan, sosiolog, ahli hukum, dan kehutanan.

Tim ini merumuskan berbagai topic permasalahan seperti dinamika populasi, pemodelan kualitas air, irigasi, masalah kesehatan, pasang-surut air, perikanan, legislasi, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Manajemen ekosistem tidak setuju adanya individu atau agen/lembaga yang

melingkupi semua lintas sektoral. Kolaborasi antar lembaga harus dibangun sebagai tim multidisipliner di dalam merencanakan dan mengimplementasi proyek yang meliputi analisa permasalahan, disain proyek, pengumpulan data, pemodelan, kebijakan pembangunan, evaluasi dan monitoring.

Kesimpulan

Bumi adalah milik bersama manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan dengan sangat banyak spesies yang belum teridentifikasi, atau manfaatnya yang belum dimengerti. Walaupun dengan pengetahuan yang masih terbatas, setiap komponen fisik, kimia, biologis yang membentuk bumi, jelas mempunyai peranan penting masing-masing. Lebih dari itu, air adalah komponen esensil bagi manusia, tanaman, dan hewan. Manajemen air tradisional menfokuskan pada penyediaan air bagi masyarakat untuk minum, memasak makanan, dan mendukung industri. Penyediaan air untuk

“lingkungan” sering dipandang sebagai hal yang mewah dan hanya negara kaya yang sanggup membiayainya. Sejalan dengan peningkatan populasi, terjadi peningkatan permintaan yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan air untuk umat manusia menjadi prioritas yang paling tinggi. Akan tetapi, manusia tidak dapat hidup dengan air saja, tetapi juga memerlukan jasa dari sistem lingkungan hidup yang tentunya membutuhkan air untuk kelestariannya.

Manajemen air yang modern focus pada ekosistem global dan tidak merusak alam untuk menyuplai air bagi kebutuhan manusia. Agar hidup yang saling

(14)

prinsip manajemen air harus diikuti. Air harus: dihargai; dilestarikan; diatur oleh institusi yang kompeten; dipandang dari perspektif social dan budaya; dapat diakses oleh semua pihak; dibangun dengan teknologi yang tepat; dirawat dengan mengatasi penyebabnya, bukan gejalanya; dimanajemeni dengan pendekatan ekosistem; dan ditangani oleh tim multidisipliner yang mengumpulkan dan diseminasi informasi untuk menghasilan keputusan yang memuaskan.

Referensi

Acreman, M.C., 1993. Hydrology and the environment. The Lower Indus and Balochistan. Report to IUCN Pakistan. Gland, Switzerland: IUCN.

Chaturvedi, M.C., 1987. Water Resources System, Planning and Management. McGraw-Hill, New Delhi.

Gambar

Gambar 1. Contoh Sistem Irigasi Tetes
Gambar 2. Terowongan Tradisional yang Mengantar air ke Perkampungan atau Tanah Pertanian

Referensi

Dokumen terkait

Jika hasil kali ketiga bilangan tersebut adalah 216, suku pertama dan suku ketiga barisan tersebut berturut-turut adalah.. E-book ini hanya untuk

Temulawak merupakan tanaman berkhasiat yang potensial untuk dikembangkan, namun keterbatasan varietas bibit unggul, rentan penyakit, keragaman kualitas dan produktivitas

Dalam oprasional 1-3 bulan anda sudah bisa melihat potensial tempat usaha warnet anda, apakah harus menambah komputer client atau harus menambah spesikikasi komputer, karena

Laporan laba rugi konsolidasi untuk sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 mencakup akun dari PT Matahari Department Store Tbk (Anak Perusahaan) dari tanggal

Nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif dari jenis tanaman Tengkawang disajikan pada Tabel 1 dan nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif dan

Nilai uji p value < 0,05 mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara sikap pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja kelas VIII di SMP Ma’arif

Dengan menggunakan akuntansi tradisional ini, perusahaan mencatat segala transaksi yang dilakukan mulai dari pembelian bahan baku, proses produksi, barang proses

Pada emulsi ganda A/M/A yang dibuat dengan menggunakan hidrokoloid sebagai penstabil antara fase dispers A/M dan fase air eksternal, viskositasnya dapat lebih