• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buat Lencana Anda Translate Select Langu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Buat Lencana Anda Translate Select Langu"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

catattan aku

organ,  jaringan  atau  bagian  jaringan  untuk  dapat diamati dan ditelaah. Penelaahan umumnya dilakukan dengan  bantuan mikroskop,  karena  struktur  jaringan secara  terperinci  pada  galibnya  terlalu  kecil  untuk dapat  dilihat  dengan  mata  telanjang.  Ruang  lingkup yang  mencakup  materi  mikroteknik  dapat  diperoleh dari  sejumlah  definisi  dan  peristilahan  yang  bisa dipakai,  hanya  saja  sebaiknya  kita  mencamkan  dalam pikiran  kita  bahwa  suatu  spesimen  mikroteknik  dapat merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan.  Selain  dilekapkan  dengan  kaca  preparat, spesimen  tadi  umumnya  dilindungi  dengan  kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik  yang  tembus  pandang  yang  direkatkan  diatas spesimen  tersebut  (Gunarso,  1989).  Sedangkan menurut  Amar  (2008)  Mikroteknik  adalah  ilmu  yang akan  mempelajari  metode/prosedur  pembuatan preparat mikroskopik.

Mikroteknik merupakan teknik pembuatan sediaan atau preparat  secara    mikroskopis,  tentunya  pendekatan teoritis  tidaklah  memadai  untuk  memahami  secara menyeluruh  mengenai  Mikroteknik,  sebab  yang namanya  teknik  lebih  menekankan  pemahaman  pada wilayah aplikatifnya meskipun pada dasarnya landasan teoritis  juga  diperlukan  dalam  rangka  memberikan beberapa  petunjuk  yang  harus  dilalui  agar  proses pembuatan sediaan sesuai dengan prosedural kerja dan alasan penggunaan ataupun pemilihan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan Mikroskopis.

Organ  adalah  susunan  dari  bagian  organisme,  yang tujuannya melakukan fungsi tertentu ataupun kesatuan yang erat kaitannya. Dengan demikian pembuluh darah adalah  organ  yang  fungsinya  membawa  atau mengalirkan darah. Hati adalah organ yang mempunyai pengunjung

Dare to dream and do big things in this life

Dare to dream and do big things in this life

setiap detik begitu berharga

saat dunia blm bsa m'nerima, imajinasi lah yang membuat mu msh b'harga i always like with the imagination, coz from there everything started

Purba wedy 0kt0ra

@tora_89BFF

kanojo to, harewataru hibi ni..

#eien no aisuru_parbada chan wa.. :‐*

Purba wedy 0kt0ra

@tora_89BFF

Gambir, DKI Jakarta, Indonesia

Tweet to @tora_89BFF tweet

klik link : sonyafmradiomedan

klik link : classyfmpadang

Radio Streaming_ Menjadikan Radio & N HAMA TERPADU (Pengendali...

wedy oktora poerba

Ikuti 1

Lihat profil lengkapku

Mengenai Saya

KOMPONEN PHT/PENGENDALIAN

Populer

(2)

banyak  fungsi,  akan  tetapi  sebagai  kesatuan  fungsi maka  hati  ini  erat  kaitannya  dengan  pencernaan  dan asimilasi makanan (Gunarso, 1989).

Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai fungsi tertentu yang khas bagi perkembangannya. Sebagai contoh jaringan epitelia dapat terdiri dari satu atau beberapa lapisan sel yang telah berkembang dan membantuk lapisan penutup, jenis jaringan lainnya, jaringan otot terdiri dari sel-sel yang reka membentuk otot (Gunarso, 1989).

Sel  adalah  bagian  yang  merupakan  penyusun  dasar suatu  jaringan,  dan  pada  kenyataannnya  merupakan bagian  dari  semua  makhluk  hidup.  Suatu  sel  dapat merupakan organisme yang lengkap, ataupun sejumlah sel  dapat  bergabung  membentuk  suatu  jaringan, kombinasi  penyusunnya  membentuk  orga­organ. Bentu­bentuk  kehidupan  berderajat  tinggi  sekalipun dimulai  dari  satu  sel.  Bila  suatu  organisme  hanya teridiri  dari  satu  sel,  maka  dinamakan  Organisme Uniseluler.  Sedangkan  yang  terbentuk  oleh  kumpulan sel­sel yang berbeda fungsinya dinamakan Organisme Multiseluler (Gunarso, 1989).

Metoda­metoda  didalam  Mikroteknik  yang  umum digunakan :

1.      Sediaan utuh (Whole mounts) 2.      Sediaan irisan (sectioning) 3.      Sediaan uraian (teasing) 4.      Sediaan ulasan (smearing)

Selain itu masih ada pula dikenal beberapa metoda lain seperti :

1.      Sediaan rentang (spreading preparation) 2.      Sediaan gosok – sediaan remasan (squash) 3.      Sediaan supravital

Metoda Sediaan Utuh (Whole Mounts)

Dengan  metoda  ini  dipersiapkan  sediaan  yang  terdiri atas  keseluruhan  organisme  (baik  hewan  maupun tumhuhan)  secara  utuh.  spesimen  kultur,  organ, maupun  bagian  organ,  embrio,  sel  telur,  spermatozoa ,potongan  syaraf,pembuluh  darah,  jenis­jenis  selaput tipis  dan  sebagainya.  Melalui  metoda  ini  diusahakan agar  kita  mendapat  kesan  bentuk  aslinya  dengan mempertahankan format­format taga dimensinya. Yang menjadi  pembatas  adalah  faktor  ukuran,  ketabalan, serta  tingkat  transparansi  sediaan  yang  kita  buat tersebut  yang  berkaitan  dengan  faktor  pembesaran pengamatan  melalui  mikroskop  nantinya.  Sediaan dengan  ketebalan  2  mm  dan  transparan  akan memungkinkan  untuk  diamati  sampai  tingkat perbasaran  tidak  lebih  dari  30  kali.  Sediaan  dengan ketebalan  0,5  mm  mungkin  hanya  akan  mencapai tingkat perbesaran 100 kali. Sediaan permanen dengan ketebalan 0,2 mm atau lebih yang telah di dehidrasidan diberi  media  pelekap  memerluka  adanya  suatu penunjang gelas penutup agar spesimen tidak menjadi rusak dan gelas penutupnya sendiri tidak pecah karena proses pengeringan serta pengkerutan media tersebuut. Belakangan  ini  umum  pula  digunakan  tabung  plastik yang  dipotong­potong  secara  melintang  hingga dihasilkan  cincin­cincin  penunjang  dengan  ketebalan yang  sesuai  dengan  tinggi  serta  ketebalan  speimen.

HAMA TERPADU (Pengendalian Secara Fisik ; Mekanik ; Genetik dan Kimia) bahaya pestisida ,Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) KOMPONEN PHT 1.    1. Perlindungan Tanaman Perlindungan Tanaman adalah suatu usaha ataupun c...

Mikroteknik Hewan         MIKROTEKNIK Mikroteknik merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ, ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. P...

Catattan-aku golongan bakteri pathogen yang banyak...

catattan-aku_

Ketidakserasian dan Mandul Jantan

Ketakserasian dan Mandul Jantan pengisian energi _ cerita motivasi untuk aku dan kamu

setiap manusia yang hidup didunia ini pastilah mempunyai rasa takutnya masing-masing, namun terkadang akibat pemikiran super lebay ttg ...

Catattan-aku _DNA (Asam deoksiribonukleat) DNA (Asam deoksiribonukleat ) DNA/deoxyribonucleic acid, adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat k...

Catattan-aku_

Cerita_believe or don't believe (sekedar coretan) Pascal's Wager at mimpi kosong mimpi isi Taruhan (wager) ini diundangkan oleh Blaise Pascal, seorang ahli matematika perancis pada abad ke-17. Menurut Pascal, lebih...

(3)

Tepi tempat pemotongan sebaiknya dihaluskan dengan mengunakan kerrtas amplas (Gunarso, 1989).

Menurut (Joyner, 2008 dalam zaifbio 2010) Whole mounth merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan diamati dengan mikroskop tanpa didahului adanya proses pemotongan. Jadi pada metode ini, preparat yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel, jaringan, organ maupun individu. Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole mounth ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara umum saja. Metode pembuatan preparat yang digunakan untuk pengamatan secara menyeluruh, artinya mempelajari struktur vegetatif dan reproduktifnya tanpa melakukan penyayatan terhadap tanaman tersebut karena metode ini menggunakan semua bagian tanaman sebagai preparatnya. Tentu saja tanaman yang diamati haruslah berukuran kecil sehingga dapat termuat pada objek glass. Sedangkan pada tanaman yang agak besar bisa dilakukan pemangkasan agar menjadi lebih rapi dan kecil. Metode whole mounth mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas tiap bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bisa dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak bisa tanaman yang besar sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan bebagai percobaan (Gunarso, 1989).

Metoda Sediaan Irisan (Sectioning)

Cara  pengerjaan  melalui  irisan  atau  sayatan  ini dianggap  sebagai  teknik  rutin  ataupun  teknik  bagi penyiapan spesimen histologi amaupun patologi. Tebal tipisnya  sayatan  bergantung  pada  pengalaman  serta tujuan penyiapan spesimen. Tebal sayatan yang umum berkisar  antara  6­15  mikron  (1  mikron  =  0,001  mm). Ukura  sayatan  juga  sangat  bervariasi,  mulai  dari saytaan  pembuluh  darah  yang  sangat  kecil  hingga sayatan  otak.  Ukuran  sayatan  biasanya  terbatas  pada ukuran  panjang  lebar  2x3  cm  karena  ukuran  yang demikian  paling  sesuai  untuk  direkapkan  pada  kaca preparat  yang  umum  digunakan.  Tentu  saja  ukuran spesimen yang cukup kecil akan mengjasilkan sayatan juga juga jauh lebih kecil dari ukuran sayatan tersebut. Pengirisan atau penyayatan umumnya dilakukan dengan bantuan mikrotom, walau seringkali dilakukan penyayatan dengan tangan saja untuk jenis spesimen seperti tulang, gigi ataupun benda-benda fosil seringkali diperlukan gergaji untuk memotongnya. Mikrotom adalah jenis mesin khusus dirancang dan dipasarkan untuk tujuan mikroteknik. Mesin tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga mampu untuk melakukan penyayatan sesuatu spesimen dengan ketebalan yang sama atau paling kurang mendekati sama (Gunarso, 1989). 

Metoda Sediaan Uraian (Teasing Preparations)

Pengertian  teasing  adalah  menguaraikan.  Untuk  dapat memisahkan  komponen  suatu  jenis  jaringan  maupun organ  tisu  atau  jaringan  diuraikan  dengan menggunakan  jarum  penguraian.  Dengan  demikian pengertian  teasng  ini  berarti  juga  pembedahan  dalam skala  kecil.  Tingkatnya  pada  pembedahan  biasa  dan pembedahan  mikro  yang  dilakukan  dengan menggunakan  jarum  pengurai.  Teasing  ini  dilakukan pada  jenis  sediaan  segar  yang  telah  difiksasi  dan mengalami pewarnaan

Secara  umum  jenis  tisu  yang  bisa  ditelaah  melalui metode  ulas  ini  adalah  darah,  limfa,  cairan  sum­sum tulang  belakang,  semen  janan,  sediaan  air  seni,  serta beberapa  lainnya.  Masing­masing  biasanya

(4)

memerlukan  teknik  perlakuan  tersendiri  dalam melakukan  pengulasa  atau  penyebaran  pada  kaca preparat.  Untuk  jenis  cairan  yang  mengandung suspensi  yang  tinggi  densitasnya  umumnya  dicairkan dengan air atau serum darah dengan perbandingan 1 : 5 atau 1 : 10 (Gunarso, 1989).

Metoda Sediaan Rentang

Pada metoda ini preparat belum difiksasi, diperlakukan sedemikian  rupa  sehingga  disamping  jelas  juga mendekati  keadaan  aslinya  dengan  melalui perentangan. Jenis bahan siapan yang umum direntang saat  difiksasi  adalah  otot,  syaraf,  jenis  jaringan  tipis (selaput yang membungkus jantung ,hate dan lain­lain) (Gunarso,1989).

Metoda Sediaan Gosok

Jenis jaringan yang keras sifatnya, seperti tulang, gigi, kuku dan beberapa lainnya mungkin sekali sangat sukar untuk dibuat sediaan sayatan (kecuali bila mengalami berbagai perlakuan khusus sebelumnya). Untuk mengatasi hal diatas tadi, maka umum juga dibuat sediaan dengan metoda gosok. Tulang misalkan tulang paha, terlebih dahulu dipotong-potong hingga ukuran beberapa mili hingga 1 – 2 cm. Potongan tersebut kemudian digosok pada batu hingga cukup tipis untuk dapat diamati pada mikroskop (Gunarso, 1989).

Metoda Sediaan Supravital

Selain jenis­jenis metoda yang dimanfaatkan materi yang mengalami matian dan fiksasi. Untuk pengamatan sel­sel darah yang masih hidup umumnya digunakan zat warna vital seperti Yanus green atau Neutral red, karena sel darah mempunyai kemampuan untuk menghisap zat warna pada konsentrasi yang sesuai. Bila kedua zat warna tersebut dipakai secara bersama­ sama maka memungkinkan kita untuk mengamati mitokondria. Hanya saja akan terjadi perubahan yang sangat cepat pada sel, karena sel dapat mati oleh kedua warna tadi secara bersamaan (Gunarso, 1989).

Contoh penyiapan sediaan supervital darah adalah : 1. Satu tetes darah diteteskan pada kaca preparat 2. Teteskan pula 1 tetes zat warna (missal yanus green) dengan konsentrasi 0,25 dalam garam fisiologis3. Tutup dengan kaca penutup

4. Biarkan selama 5 menit

5.  Beri  lak  petrolatum  sekeliling  tepi  kaca  penutup. (Lasantha, 2010)

Metoda Sediaan Remasan (Squash)

Metode  remasan  banyak  dikakukan  untuk  penyaiapan pengamatan kromosom baik hewan maupun tumbuhan. Dengan  metoda  ini  bahan  diremas  atau  dihancurkan sehingga  masing­masing  sel  akan  terlepas  yang memudahkan  pengamatan  selanjutnya.  Jadi  tujuan peremasan  ini  bukan  berarti  menghancurkan  sel­ selnya,  tapi  masing­masing  sel  bebas  terlepas  satu sama lain dengan tetap dipertahankan bentuk aslinya

Tahapan –tahapan dalam mikroteknik

1. Fiksasi (fixation)

Fiksasi  bisa  dengan  kimiawi  yaitu  menggunakan

Buat Lencana Anda

team tkd_unand

Langganan

Pos

(5)

senyawa  formaldehide  /  glutardehide  dan  mekanik dengan  cara  difreezing  atau  boiling.Tujuan  fixation adalah untuk mempertahankan bentuk sel atau jaringan seperti  jaringan  aslinya  ,  serta  untuk  mencegah rusaknya  sampel  akibat  autolisis  atau  karena  bakteri dekomposisi (bakteri pengurai).

2. Dehydration dan clearing

Menggunakan alkohol yang diberikan secara bertingkat dari  konsentrasi  tinggi  ke  konsentrasi  rendah.  Tujuan dari  dehidrasi  yaitu  untuk  menghilangkan  sisa­sisa cairan/air  yang  ada  pada  sampel  sehingga  saat  proses selanjutnya tidak terbentuk es di dalam sampel. Setelah proses  dehydration  di  clearing  dengan  larutan  xyline untuk membersihkan sisa­sisa alkohol.

3. Embedding

Sampel  dikeraskan  dengan  menggunakan  lilin/waxes, resin  untuk  membentuk  blok  parapin.  Dikeraskan supaya mudah untuk dilakukan pemotongan sampel.

4. Sectioning

Sampel  dipotong  dengan  mengunakan  alat  pemotong misalnya microtome. Ataupun jika sebelumnya sampel difiksasi  dengan  cara  freezing  bisa  selanjutnya dipotong dengan metode cryostat (pemotongan dengan dibekukan).

5. Staining

Selanjut sampel diwarnai, biasanya dengan pewarnaan hymatoksilin­eosin atau dari derivatnya yang lain yang biasa  digunakan.  Pewarnaan  tersebut  untuk  mewarnai inti sel dan sitoplasmanya.

6. Mouthing

Setelah  diwarnai  selanjutnya  sampel  bisa  langsung diamati  dibawah  mikroskop  atau  di  proses  mouthing sampel  dengan  tujuan  untuk  mempertahankan  sampel jika disimpal lama, pewarnaannya dan sampelnya tidak rusak. Biasanya menggunakan canada balsem.

I.Fiksasi

Tujuan  utama  fiksas  adalah  memberikan perlakuan  tertentu  terhadap  elemen­lemen  jaringan, terutama  inti  sel  atau  nukleinya,  sehingga  dapat diwetkan  dalam  kondisis  yang  sedikit  banyak mendekati  keadaan  aslinya.  Selain  itu,  fiksasi  juga mencegah  terjadinya  kerusakan  jaringan  yang disebabakan oleh mikroorganisme maupun perusakan oleh  enzim  yang  terkandung  dalam  jaringan  itu sendiri,  yang  dikenal  dengan  autolisis.  Dengan  kata lain fiksasi bertujuan:

­  Mematikan  (menghentikan  proses­proses metabolisme)  jaringan  dengan  cepat  sehingga keadaannya  sedikit  banyak  mendekati  keadaan aslinya.

­ Mencegah autolisis

­ Menaikkan  daya  pewarnaan  karena  adanya  bahan­ bahan  keras  yang  merupakan  komponen  cairan fiksatif.

(6)

suatu  fiksatif  dapat  dikelompok  kan  menjadi  Fiksatif tunggal. Hanya menggunakan satu bahan kimia umum dalam bentuk larutan

Contoh:  formalin  ,alcohol  ,asam  asetat  dan  asam pikrat.  Umumnya  kurang  memenuhi  persyaratan sebagai  fiksatif  yang  baik,  terutama  bagi  tujuan mikroteknik.  Masih  umum  digunakan  untuk  tujuan anatomi  maupun  histopatologi  terutama  fiksatif formalin.

Fiksatif majemuk

Umumnya  berupa  campuran  dari  beberapa  fiksatif tunggal Disusun dengan formula agar dapat diperoleh sesuai keinginan dan tujuan.biasanya fiksatif campuran ini dituliskan sesuai dengan nama penemu formulanya Banyak sekali fiksatif campuran yang ada,

contoh  :  larutan  Bouin,larutan  FAA,  larutan  glison, dan lain sebagainya

Fiksatif  berfungsi  untuk  menghentikan metabolisme  secara  cepat,  mengawetkan  komponen sitologis  dan  histologis,  memperkeras  tekstur  yang rapuh,  dan  mewarnai  jaringan  sehingga  bagian­ bagiannya  dapat  diketahui.  Faktor­faktor yang berperan dalam fiksasi adalah buffer (pH), suhu yang  rendah,  ketebalan  irisan,  perubahan volume,osmolalitas pada larutan fiksatif, konsentrasi, dan  waktu  fiksasi.Dehidrasi  memiliki  fungsi menghilangkan  air  dalam  jaringan.  Bahan yangdigunakan  untuk  dehidrasi  harus  mampu menggantikan  fungsi  air.  Dehidrasi  yang  baik dilakukan  secara  bertahap  yaitu  mulai  dari konsentrasi 70% sesuai dengan pelarut Bouin formol kemudian berturut­turut ke dalam alkohol 80%, 90%, 96%dan  alkohol  absolut.  Pada  setiap konsentrasi  dilakukan  pengulangan  3  kali.Metode paraffin  merupakan  cara  dalam  pembuatan  sediaan denganmenggunakan  paraffin  sebagai  media embedding  (penanaman).

II. Dehydration dan clearing (penjernihan)

Clearing  atau  dealkoholisasi  ini  dapat menggunakan  aceton,  benzol,toluol,  dan  xilol. Clearing  dapat  dilakukan  selama  24  jam.Mikrotom adalah  mesin  untuk  mengiris  spesimen biologi  menjadi  bagianyang  sangat  tipis  untuk

pemeriksaan  mikroskop.  Beberapa

(7)

dan  pisau  yang  bergerak  maju  dan  mundur. Mikrotom  ini  sering  digunakan  padamikroteknik metode  paraffin,  walau  umumnya  digunakan  pada penyayayan jaringan yang di tanam dalam celloidin. Biasanya  digunakan  pada  objek­objek  yang  keras.4. Freezing  microtom  atau  mikrotom  beku,  sering digunakan  untuk  penyayatan  jaringan  yang  tidak ditanam dalam paraffin maupun dalam celloidin, jadi jaringanyang  disayat  adalah  jaringan  yang  tidak  di tanam  tetapi  dibekukan  denganmemakai  gas  CO2. Keuntungan  dari  mikrotom  ini  adalah  waktu  yang dipakailebih  pendek,  karena  langsung  disayat setelah  proses  fiksasi.  Kerugiannya  adalah  bila temperature  kamar  tinggi,  objek  menjadi  lunak sehingga  sulit  dipotong.  Hal­hal  yang  harus diperhatikan  dalam  proses  penyayatan  ini  adalah:o Mikrotom  harus  seberat  mungkino  Meja  tempat mikrotom  harus  stabilo  Pisau  harus  cocok  dengan mikrotomo  Posisi  pisau  harus  stabilo  Mata  bisau harus tajam, bersih dan suhunya harus sama dengan balok jaringanyang akan disayat.

Tahap­tahap Di Dalam

Clearing/Dealkoholisasi/Penjernihan :

      Alkohol Xylol 3 : 1

      Alkohol Xylol 1 : 1

Alkohol xylol 1 : 3

       Xylol 1 (p.a)

 Xylol 2 (p.a)

I.    Embedding (penanaman)

Ini memudahkan dalam membuat irisan yang sangat  tipis  (10  mikrometer)  dengan  menggunakan mikrotom.  Agar  paraffin  dapat  masuk  ke  dalam  sel, alkohol didalam organ harus diganti dengan zat yang mudah  mengusir  alkohol  sebelum  bisa  diusir  oleh paraffin.  Clearing  atau  dealkoholisasi  ini  dapat menggunakan  aceton,  benzol,toluol,  dan  xilol. Clearing  dapat  dilakukan  selama  24  jam  .Mikrotom adalah  mesin  untuk  mengiris  spesimen biologi  menjadi  bagianyang  sangat  tipis  untuk pemeriksaan  mikroskop.  Beberapa  mikrotom menggunakan  pisau  baja  dan  digunakan  untuk mempersiapkan  sayatan  jaringan  hewan  atau tumbuhan dalam histology (Wikipedia).

Jenis­jenis  mikrotom  yang  bisa  dipakai pada mikroteknik adalah:

1. Rocking microtom, cara kerjanya seperti mengatam kayu, biasanya untuk organ­organ keras seperti kayu 2.  Rotary  microtom  atau  mikrotom  putar,  cara

kerjanya dengan di putar yang akanmengerakan objek maju  dan  naik  turun,  sementara  pisaunya  tetap. Mikrotom  ini  biasanya  dipakai  dalam  mikroteknik metode paraffin

(8)

padamikroteknik  metode  paraffin,  walau  umumnya digunakan  pada  penyayayan  jaringan  yang  di  tanam dalam  celloidin.  Biasanya  digunakan  pada  objek­ objek yang keras.

4.  Freezing  microtom  atau  mikrotom  beku,  sering digunakan  untuk  penyayatan  jaringan  yang  tidak ditanam dalam paraffin maupun dalam celloidin, jadi jaringanyang  disayat  adalah  jaringan  yang  tidak  di tanam  tetapi  dibekukan  denganmemakai  gas  CO2. Keuntungan  dari  mikrotom  ini  adalah  waktu  yang dipakailebih  pendek,  karena  langsung  disayat setelah  proses  fiksasi.  Kerugiannya  adalah  bila temperature  kamar  tinggi,  objek  menjadi  lunak sehingga  sulit  dipotong.Hal­hal  yang  harus diperhatikan dalam proses penyayatan ini adalah:

­ Mikrotom harus seberat mungkin ­ Meja tempat mikrotom harus stabil ­ Pisau harus cocok dengan mikrotomo ­ Posisi pisau harus stabilo

­ Mata bisau harus tajam, bersih dan suhunya harus  sama  dengan  balok  jaringan  yang akan disayat.

II. Sectioning (Pemotongan)

Sebelum  pemotongan  oleh  microtomy,  materi  biologi biasanya  ditempatkan  dalam  fiksatif  lebih  kaku,  dalam sebuah  proses  yang  dikenal  sebagai  embedding.  Hal  ini dicapai  dengan  masuknya  zat  cair  di  sekitar  sampel, seperti parafin (lilin) atau epoxy, yang ditempatkan dalam cetakan  dan  kemudian  mengeras  untuk  menghasilkan sebuah "blok" yang mudah dipotong.

Proses  penyayatan  mencakup  berbagai  cara  akan menghasilkan  sayatan  tipis  tisu  baik  yang  telah mengalami  proses  penanaman  maupun  tidak.  Dalam mikroteknik,  cara  lazim  digunakan  adalah  penyayatan dengan  menggunakan  mikrotom  dengan  berbagai peralatan  pembantu  seperti  pisau  mikrotom,  kuas  bulu, spatula, gunting serta pensil penoreh..

Mikrotom.Alat  khusus  yang  diracang  untuk  menyayat material  atau  tisu‐tisu  dengan  sayatan‐sayatan  yang cukup tipis untuk penelaahan dengan mikroskop. Untuk  memperoleh  hasil  sayatan  yang  baik  dibutuhkan beberapa persayaratan sebagai berikut :

1.      Tisu yang telah dipersiapkan dengan sempurna 2.      Pisau yang cukup tajam

3.      Pemilihan jenis mikrotom yang tepat 4.      Operator yang cukup terampil dan terlatih

     Deklinasi adalah sudut kontak antara sampel dan vertikal pisau. Jika pisau berada pada sudut kanan (deklinasi = 90) memotong dibuat langsung menggunakan mode tekanan berbasis, dan kekuatan karena itu secara proporsional lebih besar. Namun jika pisau dimiringkan, gerakan relatif dari pisau semakin sejajar dengan gerak sampel, memungkinkan untuk tindakan mengiris. Perilaku ini sangat penting untuk sampel besar atau keras

(9)

harus dipilih secara tepat. Sudut yang optimal tergantung pada geometri pisau, kecepatan potong dan parameter lainnya. Jika sudut disesuaikan dengan nol, pisau potong sering dapat menjadi tidak menentu, dan lokasi baru dari pisau harus digunakan untuk kelancaran keluar ini. Jika sudut terlalu besar, sampel mampu menggumpalkan dan pisau dapat menyebabkan variasi ketebalan periodik dalam memotong.

III. Afixing (Afiksasi)

  Afiksasi atau proses perlekatan adalah proses perlekatan atau penetapan sayatan tisu yang pada kaca preparat dengan bantuan media prekat tertentu. Pada proses ini diperlukan berbagai persiapan antara lain : a.       Kaca preparat bersih

b.      Media prekat c.       Akuades

d.      Meja pemanas/hot plate

e.       Peralata berupa pinset, skapel, gunting, kuas dan lain sebagainya.

          Dari beberapa jenis formula media prekat yang umum digunakan dalam kerja rutin adalah media merekat albumin. Mula-mula putih telur dan gliserin dikock hingga rata, busa yang terjadi dibuang dan bila perlu dilakukan penyaringan, kemudian dibubuhkan kristal-kristal thymol yang berfungsi sebagai pencegah berkembangnya jamur dan bakteri serta beberapa tetes akuades sebagai pengencer.

VI. Deparafinisasi

Deparafinisasi adalah proses penghilangan parafin menggunakan xylol.

Adapun langkah-langkah deparafinisasi adalah : Jaringan dimasukkan kedalam xylol (xylol 1 dan xylol 2) masing-masing selama 30 menit Redehidrasi dengan alkohol dari tinggi ke rendah (100%, 96%, 80%, 70%, 50% dan 30%) kemudian cuci dengan air mengalir setelah itu celupkan ke dalam akuades.

IV. Staining / Pewarnaan

Pewarnaan  merupakan  suatu  tahap  dalam mikroteknik  untuk  mempertajamatau  memperjelas berbagai  elemen  jaringan,  terutama  sel­seknya, sehingga  dapatdibedakan  dan  ditelaah  dengan mikroskop.tanpa  pewarnaan,  jaringan  akantransparan sehingga  sulit  untuk  diamati.Pewarnaan  akan memperjelas  rinci  suatu  jaringan  sehinnga  mudah untuk  dipelajari.  Pewarnaan  dibedakan  antara  non vital  dengan  vitala.  Pewarnaan  non  vital,  pewarnaan dilakukan  setelah  jaringan  dimatikan  melaluifiksasi. Teknik  ini  merupakan  teknik  dan  cara  yang  paling alzim  digunakan,terutama  untuk  pekerjaan  rutin

sehari­hari,  terutama  pembuatan

(10)

kategori tertentu.

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).

Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah ”pewarna sederhana” dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990). Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).

Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe atau bagian-bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul. (waluyo,2010)

Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan. Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003)

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi.

(11)

2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad

3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam jasad.

4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia dapat diketahui.

Langkah-langkah utama teknik pewarnaan

1. Pembuatan olesan bakteri, olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau tipis

2. Fiksasi, dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan kimia seperti sabun, formalin, fenol.

3. Aplikasi zat warna : tunggal, atau lebih dari 1 zat warna

Teknik pewarnaan dikelompokkan menjadi beberapa tipe, berdasarkan respon sel bakteri terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri digunakan pewarnaan Gram, dan pewarnaan  “acid-fast”(tahan asam) untuk genusMycobacterium.

Untuk melihat struktur digunakan pewarnaan flagela, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora, dan pewarnaan nukleus. Pewarnaan Neisser atau Albert digunakan untuk melihat granula metakromatik (volutin bodies) pada Corynebacterium diphtheriae. Untuk semua prosedur pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan pembuatan apusan lebih dahulu sebelum melaksanakan beberapa teknik pewarnaan yang spesifik (Pelezar,2008). Macam-Macam Pewarnaan

Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut :

I.   Pewarnaan sederhana

Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).  Zat  warna  yang  dipakai  hanya  terdiri  dari  satu  zat yang  dilarutkan  dalam  bahan  pelarut.  Pewarnaan Sederhana  merupakan  satu  cara  yang  cepat  untuk melihat  morfologi  bakteri  secara  umum.  Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen  (30­60  detik),  ungu  kristal  (10  detik)  dan fukhsin­karbol (5 detik) 

II.  Pewarnaan  differensial  dibagi  menjadi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam             

Pewarnaan Gram 

(12)

penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938)  yang  mengembangkan  teknik  ini  pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. 

Dengan  metode  pewarnaan  Gram,  bakteri  dapat dikelompokkan  menjadi  dua,  yaitu  bakteri  Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut  ditentukan  oleh  komposisi  dinding  selnya. Oleh  karena  itu,  pengecatan  Gram  tidak  bisa dilakukan  pada  mikroorganisme  yang  tidak mempunyai  dinding  sel  seperti  Mycoplasma  sp Contoh  bakteri  yang  tergolong  bakteri  tahan  asam, yaitu dari genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu  dari  genus  Nocardia.  Bakteribakteri  dari kedua  genus  ini  diketahui  memiliki  sejumlah  besar zat  lipodial  (berlemak)  di  dalam  dinding  selnya sehingga  menyebabkan  dinding  sel  tersebut  relatif tidak  permeabel  terhadap  zat­zat  warna  yang  umum sehingga  sel  bakteri  tersebut  tidak  terwarnai  oleh metode  pewarnaan  biasa,  seperti  pewarnaan sederhana atau Gram. 

Dalam  pewarnaan  gram  diperlukan  empat  reagen yaitu : 

Zat warna utama (violet kristal) 

Mordan  (larutan  Iodin)  yaitu  senyawa  yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama.  Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven  organic  yang  digunakan  uantuk  melunturkan zat warna utama. 

Zat  warna  kedua  /  cat  penutup  (safranin)  digunakan untuk  mewarnai  kembali  sel­sel  yang  telah kehilangan  cat  utama  setelah  perlakuan  denga alcohol. 

Langkah­langkah  untuk  pewarnaan  gram  adalah sebagai berikut:

­ Penambahan Kristal violet ­ Penambahan Iodin ­ Pencucian dengan Alkohol ­ Penambahan Safranin 

      Bakteri Gram­negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan  zat  warna  metil  ungu  pada metode  pewarnaan  Gram.  Bakteri  gram­positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah  dicuci  dengan  alkohol,  sementara  bakteri gram­negatif  tidak.  Pada  uji  pewarnaan  Gram, suatu  pewarna  penimbal  (counterstain) ditambahkan  setelah  metil  ungu,  yang  membuat semua  bakteri  gram­negatif  menjadi  berwarna merah  atau  merah  muda.  Pengujian  ini  berguna untuk  mengklasifikasikan  kedua  tipe  bakteri  ini berdasarkan  perbedaan  struktur  dinding  sel mereka. 

Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.

Pengintesifan  cat  utama  dengan  penambahan larutan mordan JKJ.

(13)

Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin        Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan  negatif  adalah  pada  komponen  dinding selnya.  Kompleks  zat  iodin  terperangkap  antara dinding  sel    dan  membran  sitoplasma  organisme gram  positif,  sedangkan  penyingkiran  zat  lipida dari  dinding  sel  organisme  gram  negatif  dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri  gram  positif  memiliki  membran  tunggal yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25­50nm) sedangkan  bakteri  negative  lapisan peptidoglikogennya tipis (1­3 nm). 

      Sifat  bakteri  terhadap  pewarnaan  Gram merupakan  sifat  penting  untuk  membantu determinasi  suatu  bakteri.  Beberapa  perbedaan sifat  yang  dapat  dijumpai  antara  bakteri  Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu: 

Ciri­ciri bakteri gram negatif yaitu: 

Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 – 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.  

Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11­22%), peptidoglikan terdapat didalam   lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit ±

10% dari berat kering, tidak mengandung asam tekoat  

Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.  

Pertumbuhannya  tidak  begitu  dihambat  oleh  zat warna dasar misalnya kristal violet.  

Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.  

Tidak resisten terhadap gangguan fisik.   Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat   Peka terhadap streptomisin  

Toksin yang dibentuk Endotoksin 

Ciri­ciri bakteri gram positif yaitu:

 

  

  

 



Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1­4%), peptidoglikan ada yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50%

berat ringan. Mengandung asam tekoat. 

     

  

   

  

 



 

 



 

(14)

Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin 

Pewarnaan Tahan Asam 

Pewarnaan  ini  ditujukan  terhadap  bakteri  yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar

menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan,  maka  akan  menyerap  zat  warna  dan  akan

tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam‐alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA).

Teknik  pewarnaan  ini  dapat  digunakan  untuk mendiagnosa  keberadaan  bakteri  penyebab tuberkulosis

yaitu Mycobacterium  tuberculosis  .  Ada  beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak  adalah  cara  menurut  Ziehl‐Neelsen. (anonymous,2009)

III. Pewarnaan khusus untuk melihat struktur tertentu : pewarnaan flagel, pewarnaan spora, pewarnaan kapsul.

Pewarnaan Spora

    Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa, diperlukan teknik pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora yang paling banyak digunakan.

     Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. Untuk pewarnaan endspores, perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau  bisa masuk ke dalam spora , seperti halnya pada pewarnaan  Basil Tahan Asam dimana cat  carbol    fuschsin  harus dipanaskan untuk bisa menembus  lapisan lilin asam mycolic  dari Mycobacterium .

Prinsip kerja:

  Spora kuman mempunyai dinding yang tebal sehingga  diperlukan  pemanasan  agar  pori­pori membesar  zat  warna  fuchsin  dapat  masuk,  dengan pencucian  pori­pori  kembali  mengecil  menyebabkan zat  warna  fuchsin  tidak  dapat  dilepas  walaupun dilunturkan  dengan  asam  alkohol,  sedangkan  pada badan  bakteri  warna  fuchsin  dilepaskan  dan mengambil warna biru dari methylen blue

Cara Kerja :

a)       Dibuat  suspensi  kuman,  ditambah  dengan carbol fuchsin sama banyak.

b)       Dipanaskan selama 6 menit pada api kecil atau pada penangas air 80oc selama 10 menit.

c)       Dibuat sediaan dan dikeringkan.

d)       Dimasukkan kedalam H2SO4 1% selama 2 detik

e)       Dimasukkan kedalam alkohol sehingga tidak ada lagi warna merah mengalir.

f)      Sediaan dicuci dengan air.

g)       Diwarnai dengan methylen blue selama 1 menit kemudian dicuci dan dikeringkan.

(15)

Pewarnaan flagel

Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid  garam  asam  tanat  yang  tidak  stabil,  sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel.

Pewarnaan kapsul

Pewarnaan  ini  menggunakan  larutan  Kristal violet  panas,  lalu  larutan  tembaga  sulfat  sebagai pembilasan  menghasilkan  warna  biru  pucat  pada kapsul,  karena  jika  pembilasan  dengan  air  dapat melarutkan  kapsul.  Garam  tembaga  juga  memberi warna pada latar belakang. Yang berwana biru gelap.

IV.  Pewarnaan  khusus  untuk  melihat  komponen lain dan bakteri :

a)      pewarnaan Neisser (granula volutin), b)      pewarnaan yodium (granula glikogen). c)       

V. Pewarnaan negatif

Mempelajari  penggunaan  prosedur pewarnaan  negatif  untuk  mengamati  morfologi organisme  yang  sukar  diwarnai  oleh  pewarna sederhana. Bakteri tidak diwarnai, tapi mewarnai latar belakang.  Ditujukan  untuk  bakteri  yang  sulit diwarnai, seperti spirochaeta

Cara pewarnaan negatif

­ Sediaan hapus → teteskan emersi → lihat dimikroskop

Pewarnaan  negatif,  metode  ini  bukan  untuk mewarnai  bakteri  tetapi  mewarnai  latar  belakangnya menjadi  hitam  gelap.  Pada  pewarnaan  ini mikroorganisme  kelihatan  transparan  (tembus pandang).  Teknik  ini  berguna  untuk  menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak  mengalami  pemanasan  atau  perlakuan  yang keras  dengan  bahan­bahan  kimia,  maka  terjadinya penyusutan  dan  salah  satu  bentuk  agar  kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.

Pewarnaan  negatif  memerlukan  pewarna asam  seperti  eosin  atau  negrosin.pewarna  asam memiliki  negatif  charge  kromogen,tidak  akan menembus  atau  berpenetrasi  ke  dalam  sel  karena negative charge pada permukaan bakteri. oleh karena itu,  sel  tidak  berwarna  mudah  dilihat  dengan  latar belakang berwarna.

(16)

vital dengan vitala. Pewarnaan non vital, pewarnaan dilakukan  setelah  jaringan  dimatikan  melaluifiksasi. Teknik  ini  merupakan  teknik  dan  cara  yang  paling lazim  digunakan,terutama  untuk  pekerjaan  rutin

sehari­hari,  terutama  pembuatan

preparat/sediaan  praktikum  bagi  mahasiswa.  b. Pewarnaan  vital,  maka  proses  pewarnaan  dilakukan selagi jaringan/sel masihdalam keadaan hidup. Sel­sel yang  masih  hidup  tersebut  diharapkan  mampu untuk menyerap warna maupun mengikat/memfagosit partikel­partikel  zat  warna.Dengan  demikian  zat warna yang hendaknya yang tidak bersifat toksik bagi sel­sel  tersebut.  Sebagai  contoh,  tinta  china  dan lithium  carmine  secara  umumdigunakan  untuk mengamati penyebaran sifat sel­sel RES, karena sel­ sel  tersebutmampu  memfagosit  zat  warna.c. Pewarnaan  supra­vital  diharapkan  pada  hasil  kultur sel dan jaringan.

Dalam  arti  yang  sangat  luas,  zat  warna mencakup  bahan  organic  dan  bahananorganik,  yang mengadakan  ikatan  dengan  jaringan  lebih  jelas  untuk diamati.Ditinjau  dari  berbagai  segi,  maka  zat  warna dapat  kita  bedakan  atau  kelompokan  pada  kategori­ kategori tertentu

V.       Mounting

      Merupakan  proses  akhir  dari  pembuatan preparat  metoda  parafin.  Sebelum  ditutup  secara permanen  maka  sebaiknya  jaringan  dilihat  pada mikroskop  apakah  jaringan  tersebut  sudah  dapat diamati  dengan  baik  atau  tidak.  Pada  mounting  tutup dengan  canada  balsem  dan  gelas  penutup.  Hindari terbentuk  gelembung  udara,  kemudian  beri  label  dan diamati kembali dibawah mikroskop.

Pada contoh praktikum ini pembuatan preparat hewan yang  digunakan  adalah  burung  dara  yang  dapat  kita lihat  langkah­langkah  didalam  pembuatan  preparat hewan adalah sebagai berikut:

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada pembuatan preparat hewan: Botol film

Pinset Skalpel Mikrotom Vakum

Kotak kertas kalender Balok

Mikroskop Kaca objek Oven Hotplate

Bahan  yang  digunakan  pada  pembuatan  preparat hewan:

 Jaringan pada Burung Dara  FAA

 Alkohol, dengan berbagai konsentrasi  Xilol

(17)

 Eosin  Safranin  Fastgreen

Pembuatan Preparat Hewan

1.       Hewan percobaan (burung) dibius dengan menggunakan  eter  dan  diambil  organ­organ dalamnya,  seperti  jantung,  ginjal,  lambung, hati,  usus,  testes,  paru­paru  dll.  Potong  organ­ organ  tersebut  dengan  ukuran  0,5cm.  Organ­ organ  yang  diambil  kemudian  langsung dimasukan  ke  dalam  larutan  fiksasi  (FAA) sebanyak 15 menit sebanyak 3X.

2.        Dilakukan  dehidrasi  dengan  direndam  dalam alcohol  30,  40%,  50%,  70%,  80%,  90%, alcohol        absolute.  Masing­masing  selama  60 menit,kecuali alkohol 70% boleh dimalamkan.

3.     Dimasukan ke dalam Alkohol 100%:Xilol (1:1) selama 1 jam sebagai perantara sebelum proses penjernihan

4.      Sisa  alcohol  dijernihkan  dengan  proses clearing, yaitu xilol 1 jam

5.      Dilakukan tahapan perantara sebelum infiltrasi yaitu  perendaman  di  dalam  larutan  Xilol  :   paraffin  (paraffin  keras)(1:1)  1  jam  di  dalam oven

6.      Dilakukan infiltrasi dengan paraffin keras 3 kali masing­masing  1  jam  dalam  oven.  Pada paraffin ketiga boleh dimalamkan

7.      Tahap  selanjutnya  adalah  embedding  atau penanaman, organ dimasukkan kedalam kotak

8.      Parafin yang berisi objek dipotong seperti balik di tempel balok kayu untuk pegangan di       mikrotom.

9.     Selanjutnya ke proses sectioning atau pengirisan, setelah melalui pendiaman dalam blok paraffin

10.      Selanjutnya dilakukan Afiksing (membentuk sayatan  jaringan  ke  kaca  objek  yang  diolesi     dengan mayers albumin.

(18)

selama  3  menit  lalu  masukkan  dalam  air  lalu dilakukan  pewarnaan  dengan  hematoxillin selama 5­15 menit, kemudian bersihkan dengan air.

12.      Pewarnaan selanjutnya dengan menggunakan eosin  dengna  cara  sbb,  setelah  distaining dengan  hematoxilin  masukkan  dalam  alcohol 50%, 60%, 70%, 80%, masing­masing 3 menit, lalu  dimasukkan  ke  dalam  eosin  15­30  menit,

dilanjutkan  dengan  alcohol

(90%­100%)masing­masing  3  menit.

Selanjutnya  penjernihan  dengan  menggunakan xilol 5­15 menit serta dibersihkan

13.      penyelesaian  dengan  ditutup  pakai  kaca penutup sebagai media pelekat

14.      Amati  preparat  yang  dibuat  dengan menggunakan mikroskop

Hasil dan Pembahasan

Bahan  yang  digunakan  untuk  pembuatan preparat  hewan  adalah  burung  dara  .Pembuatan preparat pada praktikum ini dilakukan dengan metode parafin.  Metode  ini  dilakukan  dengan  beberapa  tahap yang  dilakukan  secara  berurutan  dan  terus­menerus, yaitu  pembiusan  (untuk  hewan),  collecting,  fiksasi, aerasi,  dehidrasi,  clearing,  infiltrasi,  embedding, sectioning,  afixing,  deparafinasi  dan  pewarnaan. Metode  ini  digunakan  karena  hampir  semua  jaringan dapat disayat dengan metode ini.

Pada  hasil  dari  pembuatan  preparat  hewan, yaitu  pada  hati,  otak  dan  paru­paru  hasil  yang didapatkan kurang bagus. Sehingga masih tidak dapat dibedakan  bagian­bagiannya.  Kadang  preparat  yang dihasilkan  kurang  bagus.  Jaringan  kadang  melipat sehiingga  sulit  diamati  bagian­bagiannya.  Hal  ini dikarenakan  pada  proses  pengirisan  kurang  berhasil dimana  pita  menggulung  dan  jaringan  yang  melekat pada parafin hanya sedikit. Warna jaringan yang pudar karena  setelah  perendaman  di  larutan  pewarna  terlalu lama  dibiarkan  di  udara  bebas.  Hal  lain  yang  sangat mungkin  adalah  pewarna  kualitasnya  sudah  menurun atau terlalu lama. Jaringan yang teramati kadang rusak aatu  terkoyak  hal  ini  dapat  dikarenakan  pita  sobek sehingga  jaringan  ikut  rusak.  Proses  infiltrasi  dengan xilol  kurang  maksimal  sehingga  jaringan  rapuh (Affuwa, 2007).

(19)

Diposkan oleh wedy oktora poerba di 08.00

Label: clearing dehydration mikroteknik, embedding (penanaman),

fiksatif, jaringan mikroteknik hewan, Mikroteknik Hewan,

mikroteknik tumbuhan

plasma, dan penetralan obat. Preparat yang lain adalah preparat  otak  dan  paru­paru.  Pada  otak  sebagiannya terdiri atas sel syaraf. (Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

DAFTAR PUSTAKA

__________________  .  Pembuatan  Preparat  Jaringan Hewan  Dengan  Metode  Parafin.  Lap.prak mikroteknik Universitas Brawijaya. http://cyber‐ biology.blogspot.com.  Di  akses  tanggal  29 Desember 2008 jam 14.17

Buckle.2007 Mikrobiologi Terapan. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta

Dasumiati, 2008. Diktat Kuliah Mikroteknik. Prodi Biologi Fak.Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dwidjoseputro. 2005.  Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta

Hadiutomo. 1990. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta: Erlangga

Pelezar,chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta

Rusdimin.2003. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Pt Gramedia

Suriawiria, unus. 1999. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung: Aksara

Tryana, S.T. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi.  Malang: Djambatan

Widjoseputro, D., 1989.  Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan

Rekomendasikan ini di Google

(20)

Posting Lebih Baru Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom) Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai:  Google Account

Publikasikan   Pratinjau

Chat room

Referensi

Dokumen terkait

Cara RS ...melindungi pasien & keluarganya dari kekerasan fisik terutama pada pasien yang tidak mampu melindungi dirinya seperti bayi, anak – anak, manula,

Namun, penggunaan harus tepat sasaran dalam pengalokasian anggaran, dikarenakan ada perbedaan yang signifikan dampak transfer ke daerah yang dialokasikan ke pada daerah

• Aliran vena : vena superfisial  vena perforantes  vena profunda, bila katup perforantes rusak setiap otot kontraksi  insufisiensi  beban tekanan hidrostatik ke

Karbohidrat antara lain gula, pati, sellulosa dan benang-benang kayu terdiridari unsur C, H, dan O. Gula dalam limbah cair cenderung terdekomposisi oleh enzim

Dalam penelitian data yang akan disajikan dalam penelitian berupa data hasil analisis mengenai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal kubus dan balok baik pada saat

1) Pada masukan berupa tangga satuan ( step ), sistem suspensi aktif yang dirancang dapat menekan harga puncak menjadi 12,57 cm dari 15,71 cm dan waktu mantap

Yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pengaruh Kepercayaan diri Petugas Protokoler terhadap

Begitu juga pada pasar modal, perasuransian, dana pensiun, pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainya yang setelah terbentuknya undang-undang no 21 tahun 2011