• Tidak ada hasil yang ditemukan

Critical Journal Report PENINGKATAN AKTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Critical Journal Report PENINGKATAN AKTI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Critical Journal Report

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

BERDASARKAN MASALAH PADA MATA KULIAH FISIKA UMUM I

Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Pengembangan Program

Pengajaran Fisika

Dosen Pengampu : Dr. Derlina, M.Si

Irfandi M.Si

Disusun Oleh :

NAMA

: NIA AYU NINGSIH

NIM

: 4151121045

Fisika Dik C 2015

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

(2)

Critical Journal Report

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

BERDASARKAN MASALAH PADA MATA KULIAH FISIKA UMUM I

I. PENGANTAR

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama untuk membangun bangsa dan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam kehidupan berbangsa dan negara. Tujuan Pendidikan Nasional tertuang dalam Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidik itu sendiri, pendidik diharapkan bisa mengembangkan pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Untuk menjadikan pembelajaran yang bermakna tersebut, pembelajaran hendaknya diarahkan ke kontruktivisme dan mengembangkan model pembelajaran yang inovatif, yang nantinya pengetahuan peserta didik dibangun melalui pengetahuan awal yang dimilikinya. Selain membangun pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik, proses pembelajaran dapat melatih keterampilan, dan pembelajaran diharapkan menyenangkan dan menantang.

(3)

aktivitas belajar peserta didik sangat kurang. Kemudian dalam proses pembelajaran pendidik juga kurang mengaitkan materi pembelajaran yang dibahas dengan masalah nyata yang dihadapi peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna. Kurang bermaknanya proses pembelajaran yang disajikan, menimbulkan rasa tidak tertarik pada diri peserta didik untuk mengikuti pembelajaran, karena mereka memiliki anggapan proses pembelajaran yang diikutinya tidak memberikan manfaat atau tambahan ilmu yang dapat diterapkan dalam masalah kehidupan dunia nyata.

Adapun alternative untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik adalah Model pembelajaran Berbasis Masalah (ProblemBased Learning). Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Adapun identitas jurnal yang akan dijadikan sebagai sumber referensi dalam Critical Journal Report ini adalah

Judul Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Mahasiswa dengan Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah pada Mata Kuliah Fisika Umum I

Jurnal Ikatan Alumni Fisika Universitas Negeri Medan Download http://pakirfandi.blogspot.com

Volume dan Halaman Vol.2 No.1 & hal. 44-49 ISSN p-ISSN 2461-1247

e-ISSN 2477-5142

Tahun 2016

Penulis Deo Demonta Panggabean dan Ifandi

II. RINGKASAN ISI JOURNAL

(4)

ada 23 orang, dan nilai C ada 2 orang perkelas semuanya 32 orang. Hal ini disebabkan mahasiswa pada umumnya rendah dalam penguasaan konsep fisika ketika berada diSMA dan pembelajaran masih belum memaksimalkan kemampuan kognitif mahasiswa dalam pemecahan masalah fisika.

Penelitian jurnal ini ini bertujuan : (1) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada mata kuliah Fisika Umum I. (2) Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah pada mata kuliah Fisika Umum I. Penelitian ini dilakukakan dengan alur penelitian tindakan kelas (PTK). Jumlah siklus yang digunakan meliputi 2 siklus yaitu siklus I dengan materi: Kinematika dan siklus II dengan materi: Dinamika. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari instrumen tes hasil belajar dan lembar observasi aktivitas mahasiswa.

Penelitian ini terjadi dari 2 siklus yang dilakukan dengan tahapan yaitu : a. Rencana (planning)

Pada tahap perencanaan, peneliti mengadakan beberapa kali pertemuan untuk membahas teknis pelaksanaan penelitian tindakan kelas, mendata dan mengidentifikasi isi buku teks yang ada di seluruh perpustakaan yang ada di UNIMED yang terdapat igunakan untuk menunjang perkuliahan Fisika Umum I, membuat tes hasil belajar, membuat angket/format observasi, membuat media pembelajaran, membuat rencana pembelajaran sesuai dengan inovasi pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini.

b. Tindakan (action)

Pada tahap ini, pertama sekali dilaksanakan pretes kepada mahasiswa untuk melihat sejauh mana pengetahuan awal mahasiswa tentang materi Fisika Umum I. Kemudia materi disampaikan kepada mahasiswa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan menggunakan perpustakaan sebagai sumber referensi. Setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah, paa setiap akhir siklus diadakan postes untuk melihat tingkat keberhasilan yang dicapai oleh mahasiswa.

(5)

Pengamatan dilakukan tim peneliti di dalam kelas pada saat kegiatan belajar mengjar berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktivitas mahasiswa. observasi dilakukan kepada aktivitas mahasiswa baik selama tatap muka dan hal-hal yang terjadi selama proses belajar mengajar dan diskusi kelompok. Jumlah observer dalam setiap ertemuan berjumlah satu orang. Instrumen yang digunakan adalah format observasi yang dikembangkan berdasarkan indikator –indikator ynag sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

d. Refleksi (Reflection)

Sebelum melakukan refleksi data hasil tes dan hasil pengamatan dianalisis terlebih dahulu. Selanjutnnya refleksi dilakukan berdasarkan hasil analisis data perolehan tes dan engamatan yang dilakukan. Hasil analisis data merupakan bahan dalam menentukan tindakan perbaikan untuk tahap perencanaan pada siklus berikutnya. Dalam kegiatan refleksi akan dikaji kaitan anatara hasil pengamatan dan tes setiap siklus, serta mendeskripsikan perkembangan –perkembangan yang dicapai tiap siklus, hambatan-hambatan yang dihadapi, dan upaya penanggulangannya.

Instrumen tes yang digunakan terdiri dari instrumen tes kinematika dan instrumen tes dinamika yang masing-masing terdiri dari 25 soal berbentuk pilihan ganda yang sudah diujicobakan kepada mahasiswa dan hasilnya dinyatakan valid dan memiliki reliabilitas sangat tinggi. Dari hasil penelitian melalui lembar observasi aktivitas mahasiswa dan hasil belajar mahasiswa diperoleh rata-rata skor aktivitas mahasiswa pada setiap siklus mengalami peningkatan. Selanjutnya nilai rata-rata dan nilai gain hasil belajar mahasiswa juga mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II. Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah fisika umum dengan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah.

(6)

Pada abstrak telah menggambarkan secara kesuluruhan isi paparan dalam jurnal, mulai dari tujuan penelitian, instrumen yang digunakan dan hasil penelitian yang telah dilakukan serta kesimpulan dari penelitian. abstrak yang dipaparkan sesuai dan berkaitan dengan isi dalam jurnal penelitian

Tujuan dari penelitian jurnal ini adalah (1) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada mata kuliah Fisika Umum I. (2) Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah pada mata kuliah Fisika Umum I. Tujuan tersebut terdapat pada abstrak tetapi tidak dijabarkan didalam isi jurnal secara langsung melainkan pembaca harus menganalisis sendiri tujuan apa yang ingin dicapai pada pada penelitian jurnal ini.

Penelitian yang dilukukan merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK), pada metode penelitian telah dijelaskan langkah-langkah yang akan ditempuh yang mana dari paragraf satu ke paragraf lain saling berkaitan secara terstruktur dimulai pada paragraf satu menjelaskan populasi penelitian dan tahapan-tahapan yang ditempuh dengan menggunakan alur PTK (penelitian tindakan kelas).

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk deskriptif yang terdiri dari hasil belajar dan aktivitas belajar yang dilengkapi dengan menyajikan data penelitian dengan tabel dan diagram baik nilai pretes dan postes pada siklus I dan II serta aktivitas mahasiswa. Kemudian pada pembahasan mengkaji hasil penetian tersebut dengan teori yang ada. Hal ini membantu pembaca menganalisis bagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan.

Jurnal ini juga menggunakan referensi yang cukup uptodate yang jumlahnya cukup banyak. Sehingga menambah keakuratan hasil penelitian. Jadi, dapat disimpulkan keterkaitan tiap bagian pada jurnal sudah cukup baik dan saling berkaitan satu dengan lainnya.Jadi, dapat disimpulkan keterkaitan tiap bagian pada jurnal sudah cukup baik dan saling berkaitan satu dengan lainnya.

(7)

Kemuktahiran ke tiga Journal ini dapat di buktikan dengan adanya penerapan langsung model pembelajaran berdasarkan masalah yang menunjukkan dampak positif dari penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran. pembelajaran berdasarkan masalah dianggap sebagai suatu proses terkandung makna ketika mahasiswa belajar pada proses menemukan kembali. Pada jurnal ini juga pengaplikasian model pembelajaran berdasarkan masalah dilakukan penelitian langsung dimana hasil penelitian terdiri dari aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah pada mahasiswa di jurusan fisika FMIPA Unimed T.A 2015/2016

IV. KELEMAHAN BUKU a) Keterkaitan isi jurnal

Keterkaitan isi jurnal sudah cukup baik satu dengan yang lain, hanya ada terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan seperti : selanjutnta (selanjutnya), memengadakan (mengadakan), berdarkan (berdsarkan). Ada beberapa bagian pada jurnal yang menggunakan kalimat yang sulit untuk dicerna, butuh konsentrasi yang cukup untuk memahami kata-kata yang terdapat di dalam jurnal .

b) Kemuktahiran Isi Journal

Menurut saya, pada jurnal ini sudah cukup terbukti kemuktahirannya yang dilihat dari hasil penelitian jurnal memang benar-benar dilakukan sendiri oleh peneliti.

V. IMPLIKASI TERHADAP a) Teori

(8)

pendidikan ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan pula dalam implementasinya pada proses pembelajaran.

Meski ada perbedaan, namum tetap bahwa model tentang proses pembelajaran yang diturunkan dari tujuan pendidikan yang manapun tetap akan merujuk pada kinerja belajar sebagai bagian terintegrasi dengan proses pembelajaran itu sendiri. Model hubungan antara komponen dan proses dalam belajar mencakup komponen karakteristik matakuliah, karakteristik pebelajar, (yang keduanya akan berpengaruh pada persepsi dan intensi), aktivitas belajar, dan outcome (Thomas dan Rohwer, 1986). Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan kedua proses pembelajaran.

Meski pada dua komponen pertama, yaitu karakteristik matakuliah dan karakterisitk pebelajar sama, namun pada aktivitas dan outcome antara pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas memang berbeda. Perbedaan inilah yang akan menyebabkan adanya perbedaan yang terjadi pada pebelajar yang mengalami proses pembelajaran.

Perbedaan penekanan aspek belajar antara pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas tersebut menjadi penggerak adanya perbedaan pada outcome yang diperoleh untuk tiap proses pemebelajaran secara berbeda. Sehingga cukup rasional bila memang pada akhirnya terjadi perbedaan yang cukup signifikan pada proses pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas.

Apps (1979) menyatakan bahwa tujuan proses pembelajaran saat ini sebaiknya adalah (1) membantu seseorang untuk dapat bertahan (survive), (2) membantu seseorang menemukan makna, (3) membantu seseorang belajar bagaimana belajar, (4) membantu masyarakat memberikan lingkungan yang lebih manusiawi pada setiap warganya. Pebelajar perlu lebih bersikap proactive untuk mencari apa yang ingin dipelajari. Konsep-konsep baru yang lebih mendekatkan pebelajar dengan dunia nyata menjadi salah satu penyebab munculnya pembelajaran berbasis proyek.

(9)

bukan pada nurturant effect of learning. Dan pebelajar dilihat sebagai sesuatu yang pasif atau sebagai obyek yang orang lain memegang kendali sehingga pebelajar perlu dibantu untuk ini dan itu. Dengan kata lain bahwa pada akhirnya untuk meningkatkan kompetensi dunia industri, pembelajaran berbasis proyek lebih berpeluang untuk itu.

Gagne (1985) menyebutkan bahwa tujuan proses belajar adalah peningkatan kapabilitas pada declarative knowledge (verbal information), procedural knowledge (intelectual skill), cognitive strategies (problem solving), motor skill, dan attitudes. Konsep di atas dikembangkan dari teori pemrosesan informasi. Belajar masih dilihat sebagai pembelajaran kelas yang terpisah dari kehidupan nyata, maka Gagne mempertanyakan “mungkinkah pengetahuan tentang proses belajar diterapkan untuk ‘task’ yang membuat seseorang lebih mampu untuk memecahkan masalah, untuk berfikir secara jelas, dan mencipta-kan ide atau secuatu yang asli.

Teori belajar yang lain melihat bahwa belajar merupakan aktivitas yang dinamik (Schank, 2001). Teori dinamik melihat bahwa dalam proses belajar pe-nyimpanan memori saja tidaklah cukup. Pebelajar perlu memiliki konteks yang sesuai dengan informasi baru yang diperolehnya agar dapat menggunakannya sesuai dengan kecerdasannya. Siklus sejak identifikasi masalah hingga melakukan evaluasi atas alternatif yang terjadi pada pembelajaran berbasis proyek memberi peluang yang lebih baik untuk terjadinya aktivitas dinamik. Pemahaman yang lebih mendalam lebih mungkin untuk diperoleh dengan proses pembelajaran tersebut.

Mills (1985) dengan kalimat yang berbeda menyebutkan bahwa belajar adalah proses yang terus menerus dalam mengembangkan dan memodifikasi konseptual. Sedangkan Piaget melihat belajar sebagai aktivitas yang direpresen-tasikan pada perkembangan script/ scheme pada diri pebelajar.

(10)

Suatu yang perlu adalah bagaimana ccra yang sesuai untuk mengukur atau menilai masing-masing. Tujuan yang berbeda akan menentukan teknik dalam proses assessment. Perlunya perubahan dalam proses penilaian atau assessment ini terjadi karena 3 faktor, yaitu: perubahan lingkungan tujuan belajar, hubungan antara penilaian dan pengajaran, dan pembelajaran. Juga karena adanya keterbatasan metode pencatatan kinerja dan pelaporan kredit (Marzano, Pickering, dan Tighe, 1994).

b) Program Pembangunan Di Indonesia

Tantangan pembangunan bangsa Indonesia pada abad ke-21 ini, khususnya dibidang pendidikan adalah menyiapkan generasi muda yang luwes, kreatif, dan proaktif. Generasi muda perlu dibentuk agar terampil dalam memecahkan masalah, bijak dalam membuat keputusan, berpikir kreatif, suka bermusyawarah, dapat mengkomunikasikan gagasannya secara efektif, dan mampu bekerja secara efesien baik secara individu maupun dalam kelompok. Hal ini didasari bahwa,sekedar mengetahui pengetahuan (knowing of knowledge) saja terbukti tidak cukup untuk dapat berhasil dalam menghadapi hidup dan kehidupan yang semakin kompleksdan dapat berubah dengan cepat.

Tuntutan abad ke-21 dalam dunia pendidikan memerlukan adanya pergeseran tujuan pendidikan. Yaitu, mempersiapkan p eserta didik menghadapi dunia yang relatif sederhana, statis, dan dapat diramalkan ke arah mempersiapkan peserta didik untuk hidup di dunia yang tidak mudah untuk diramal dan memerlukan kekuatan pikiran serta kreativitas yang tinggi.Untuk menjawab tantangan dan harapan tersebut hanya dapat diwujudkan melalui suatu pendidikan yang memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kegiatan pembelajarandi sekolah harus merujuk pada 4 karakter belajar abad 21 yang biasanya dirumuskan dalam 4C yakni :

1.Communication.

(11)

pendapatnya dalam proses belajar mengajar, sehingga peserta didik dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui komunikasi dan pengalaman yang dia alami sendiri. Hal ini sejalan dengan filsafat pembelajaran modern yang dikenal dengan filsafat Kontrukstivisme.

2.Collaboration.

Artinya, pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan situasi di mana peserta didik dapat belajar bersama-sama atau berkelompok (team work), sehingga akan tercipta suasana demokratis dimana peserta didik dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tangung jawab yang diberikan. Selain itu, dalam situasi ini peserta didik akan belajar tentang kerjasama tim, kepemimpinan, ketaatan pada otoritas, dan fleksibilitas dalam lingkungan kerja. Hal ini akan mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi dunia kerja dimasa yang akan datang.

3.Critical Thinking and Problem Solving.

Artinya, proses pembelajaran hendaknya membuat peserta didik dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah kontekstual yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan situasi yang real yang dialami oleh peserta didik ini akan membuat peserta didik menyadari pentingnya pembelajaran tersebut sehingga peserta didik akan menggunakan kemampuan yang diperolehnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

4.Creativity and Innovation.

Artinya, pembelajaran harus menciptakan kondisi di mana peserta didik dapat berkreasi dan berinovasi, bukannya didikte dan diintimidasi oleh guru. Guru hendaknya selalu menjadi fasilitator dalam menampung hasil kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh peserta didik.

(12)

kompetitif perlu disosialisasikan, kemudian juga perlu adanya penghargaan yang layak kepada mereka yang berprestasi.

Hal ini akan berdampak positif terhadap terbentuknya rasa percaya diri pada peserta didik. Pengalaman ini selanjutnya dapat menjaga proses pembentukan kemandirian. Dalam hal ini peserta didik juga perlu dilibatkan dalam proses belajar mengajar yang memberikan pengalaman bagaimana peserta didik bekerja sama dengan peserta didik yang lain seperti dalam hal berdiskusi. Pengalaman seperti ini selanjutnya akan dapat membentuk sikap kooperatif dan ketahanan bersaing dengan pengalaman nyata untuk dapat menghargai segala kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Dalam kegiatan belajar mengajar sejarah, seorang pengajar harus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang dialogis, sehingga dapat memberi peluang untuk terjadinya atau terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif. Dengan cara ini, peserta didik akan mampu memahami secara lebih benar, tidak hanya mampu menyebutkan fakta sejarah belaka. Pemahaman konsep belajar sejarah yang demikian, memerlukan pendekatan dan metode pembelajaran yang lebih bervariasi, agar peserta didik benar-benar dapat mengambil manfaat dari belajar.

Hasil belajar yang dimaksud adalah terjadinya perubahan dan perbedaan dalam cara berpikir, merasakan, dan kemampuan untuk bertindak serta mendapat pengalaman dalam proses belajar mengajar. Metode problem solving adalah suatu metode pengajaran yang mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan persoalan-persoalan. Manusia adakalanya memecahkan masalah secara instinktif maupun dengan kebiasaan. Pemecahan masalah instinktif merupakan bentuk tingkah laku yang tidak dipelajari, namun dalam menghadapi masalah yang lebih pelik, manusia dapat menggunakans cara ilmiah. Langkah-langkah pemecahan masalah dengan cara ilmiah meliputi: memahami masalah, mengumpulkan data, merumuskan hipotesis, menilai hipotesis, mengadakan eksperimen/menguji hipotesis, dan terakhir adalah menarik kesimpulan.

(13)

Kemampuan pemecahan masalah adalah kecakapan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal . Khaeruddin et al., (2009) menyatakan kemampuan memecahkan masalah juga dapat diartikan sebagai kemampuan suatu individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang lumrah. masalah dapat diajukan kepada mahasiswa melalui dugaan verifikasi, serta transfer pengetahuan yang diperoleh dalam kursus sebelumnya. pemecahan masalah dapat diartikan sebagai proses menghilangkan masalah yang ada, dimana didalamnya terdapat hubungan atau konsepkonsep yang diperolehnya dalam memecahkan masalah.

Pemecahan masalah fisika adalah suatu metode penyelesaian terhadap sejumlah tugas yang berkaitan dengan fisika, sedangkan kemampuan memecahkan masalah dalam pelajaran fisika adalah kemampuan menggunakan suatu metode untuk menyelesaikan sejumlah tugas dalam pelajaran fisika. Kemampuan pemecahan masalah mengacu pada upaya yang diperlukanpeserta didik dalam menentukan solusi atas masalah yang dihadapi (Rahmat dkk, 2014). Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan dalam memanfaatkan segala informasi yang ada dan menggunakan suatu metode belajar dalam menentukan apa yang harus dilakukan dan diselesaikan untuk mendapatkan solusi dari masalah. Menurut Polya (1980), pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian, yaitu: (1) Memahami masalah (understanding the problem), (2) Merencanakan penyelesaian (devising a plan), (3) Menyelesaikan masalah sesuai rencana (carrying out the plan), (4) Melakukan pengecekan kembali (looking back). Selanjutnya Styer (2012) mengemukakan bahwa tahapan yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan fisika terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu (1) design a strategy, (2) execute strategy, (3) check the resulting answer.

(14)

a) Kesimpulan

Dari jurnal yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa mengerjakan masalah otentik dengan maksud menysuun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, dan keterampilan berpikiri, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Pengajarab berdasarkan masalah dikenal dengan pembelajaran autentik dan bermakna yang memungkinkan terjaidnya pertukaran ide secara bebas dan memberikan kemudahan untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan penerpaan model pembelajaran berdasarkan masalah pada proses pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar mahasiswa.

b) Saran

Penulisan Critical Journal Report ini masih banyak kekurangan. Pemilihan kata-kata mungkin saja banyak kekeliruan saya juga mengharapkan saran dan kritikan yang mendukung demi kesempurnaan Critical Journal Report ini.

KEPUSTAKAAN

Panggabean, Deo Damonta dan Ifrandi. (2016). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Mahasiswa Dengan Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada Mata Kuliah Fisika Umum I.

Referensi

Dokumen terkait

Data hasil belajar akan disajikan secara deskriptif melalui Tabel 11 yang akan merangkum data empirik skor hasil belajar IPA pada siswa kelas 5A sebagai kelompok

Tujuan Pembelajaran: Murid dapat menyajikan data dari lingkungan sekitar dalam bentuk tabel, diagram batang, atau diagram garis dengan baik.. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan

Data peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut: Atas dasar hal tersebut,

Bab keeempat, hasil penelitian yang terdiri dari analisis deskriptif hasil belajar siswa kelas X SMA Makassar Mulya sebelum diajar dengan penerapan model pembelajaran

• Berisi informasi dengan hasil dari penelitian, dapat disajikan dalam diagram, tabel, gambar, peta, atau hal-hal lain yang menunjukan hasil dari penelitian tersebut.. •

Hasil analisis deskriptif untuk hasil jawaban pretest siswa berhubungan dengan variabel terikat yaitu minat belajar IPA yang disajikan sebagai berikut: Tabel 4 Kualifikasi dan

Adapun perbandingan nilai tertinggi, nilai terendah, rata-rata kelas dan ketercapaian ketuntasan klasikal antara hasil belajar siklus I dan siklus II dapat disajikan dalam diagram

Hasil disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4Uji Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen dan Kontrol Diperoleh Kelas Keterangan zhitung ztabel Tuntas Eksperimen 1,914 1,645 Secara