WISATA BAHARI WAHANA PELESTARI WARISAN BUDAYA KAPAL LAUT TRADISIONAL: “Daya Tarik Kapal Tradisional Sebagai Kapal Wisata Bahari (traditional cruise)”
Roby Ardiwidjaja 1
GAMBARAN UMUM
Indonesia dengan potensi wilayahnya berupa laut, merupakan negara yang sekitar ¾ dari luas wilayahnya adalah laut. Sebagai negara kepulauan dengan potensi sekitar 17.508 pulau, Indonesia dikenal antara lain sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km persegi, sebagai benua ke enam dunia dengan sebutan benua maritim Indonesia, serta memiliki garis pantainya yang terpanjang kedua (81 ribu km) di dunia. Belum lagi dengan letak dan kondisi wilayahnya, Indonesia memiliki kekayaan berupa keaneka ragaman alam, flora dan fauna yang khas dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia (Dahuri, 2002).
Dari kekayaan potensi tersebut, Indonesia patut dikenal sebagai negara yang memiliki potensi utama berupa sumberdaya kelautan serta budaya baharinya. Seharusnya Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu negara maritim terbesar di dunia yang akar pembangunan dan pendapatan utama ekonomi negara adalah dari potensi kekayaan baharinya. Banyak hal dapat dilakukan dari mulai bidang pendidikan, perikanan hingga pariwisata untuk mengembangkan pemanfaatan kekayaan potensi sumberdaya bahari yang ada di wilayah Indonesia. Misalnya mengembangkan keaneka ragaman potensi atraksi sumber daya bahari, melalui salah satunya pemanfaatan daya tarik warisan budaya bahari berupa moda transportasi laut tradisional sebagai sarana penghubung ke destinasi wisata bahari.
Propek wisata bahari sebagai industri yang menjanjikan tersebut didukung dari gambaran prospek wisata bahari sebagai sumber devisa oleh WTTC (Word Tourism and Traveling Council), yang menyebutkan pada tahun 1993 wisata bahari menghasilkan devisa lebih dan US $ 3,5 triliun atau sekitar 6-7 persen dari total pendapatan kotor dunia. Peluang usaha dibidang kepariwisataan ini juga didukung dengan perkembangan wisata bahari secara global yang cenderung prospektif akibat adanya peluang pasar yang terus mengalami pertumbuhan pesat. Disamping itu juga gambaran minat wisata bahari dari PADI (The Professional Association of Driving Instructor), ditunjukkan dari pemberian sertifikat selam di seluruh dunia meningkat pesat dari 500 ribu tahun 1967 menjadi 10 juta sertifikat pada tahun 2000.
Atas dasar kondisi tersebut, maka artikel ini akan membahas masalah pelestarian (perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan) warisan budaya bahari kapal laut tradisional sebagai salah satu daya tarik dari komponen pengembangan wisata bahari di Indonesia yang socially accepted, people centered (pro Poor, Job, Growth), culturally appropriate, indiscriminative, dan environmentally sound.
ISU STRATEGIS
Kecenderungan new global of tourism tersebut telah menjadi bahan pertimbangan negara-negara anggota WTO (World Tourism Organization) dalam merumuskan ketentuan-ketentuan umum ‘pariwisata berkelanjutan’ (sustainable tourism). Pengelolaan pariwisata di satu sisi sangat mengandalkan sumberdaya alam dan budaya yang terpelihara dengan baik agar dapat menciptakan nilai tambah pendapatan dan lapangan usaha yang bermanfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Namun di sisi lain sering terlupakan yang sangat penting adalah pariwisata harusnya memberi manfaat antara lain kraetivitas, wawasan, pemahaman hubungan lintas budaya serta revitalisasi infrastruktur dan pemanfaatan lahan. Seperti yang disinggung oleh Ashley dkk (2005), bahwa penyelenggaraan pariwisata di banyak tempat belum memperhatikan adanya kesimbangan. Di dalam pertumbuhan yang demikian cepat, pariwisata juga mengalami perubahan secara cepat yang terlihat:
1. perubahan ekonomi pariwisata dari mass market ke niche travel; dari perjalanan yang diselenggarakan oleh travel agent ke individual travel sebagai bentuk inovasi bagi aplikasi special interest . Berikut 9 karakteristik khas dari pasar wisatawan minat khusus (niche market):
a. Menginginkan suatu pengalaman asli yang mendalam dan berfaedah secara individu ataupun sosial.
b. Tidak menyukai kelompok wisata yang besar dan ketat dengan rencana perjalanan
c. Mencari tantangan phisik dan mental
d. Mengharapkan interaksi dengan masyarakat local dengan mempelajari budayanya
e. Dapat beradaptasi dan bahkan lebih memilih akomodasi yang bernuansa pedusunan
f. Ketidaknyamanan (minimnya kasesibilitas dan amenitas klas bintang) menjadi aspek daya tarik dan petualangan
g. Mencari keterlibatan yang aktif
2. Hingga saat ini jenis wisata yang paling popular adalah wisata bahari, hal tersebut diperkuat antara lain:
a. Menurut WTO, 12 dari 15 negara sebagai destinasi wisata yang paling popular di dunia adalah Negara yang aktivitas utamanya adalah pesisir atau bahari (United Kingdom, France, Mediterranean, Caribbean, Gulf of Mexico, Indian Ocean Islands, and islands of the South Pacific).
b. Hasil study dari UN menjelaskan bahwa wisata bahari memiliki peran penting pada ekonomi Negara tropis, bahari dan berkembang (Economic Planning Group, 2005)
c. pertumbuhan pasar wisata selam terlihat dari pemberian sertifikat di seluruh dunia oleh PADI (The Professional Association of Diving Instructor) dari 500 ribu tahun 1967 menjadi 10 juta sertifikat pada tahun 2000
d. Prospek wisata bahari sebagai sumber devisa WTTC (Word Tourism and Traveling Council) yang menyebutkan pada tahun 1993 wisata bahari menghasilkan devisa lebih dan US $ 3,5 triliun atau sekitar 6-7 persen dari total pendapatan kotor dunia.
3. Sebagai Negara kepulauan yang memiliki keaneka ragaman potensi kelautan dan budaya bahari, prioritas pembangunan tentunya akan di arahkan lebih pada wilayah laut yang salah satunya melalui bidang pariwisata. Namun mengingat bahwa upaya pengembangan wisata bahari baru dilakukan beberapa tahun terakhir, maka masih terdapat berbagai permasalahan dan peluang yang perlu dikaji lebih mendalam terhadap konsep, pemahaman dan kesamaan pandang terkait wisata bahari beserta komponennya seperti atraksi, aksesibilitas, amenitas hingga kelembagaan dan kebijakan yang ada. Beberapa isu yang menjadi perhatian dalam pengembangan wisata bahari secara umum mencakup antara lain:
a. Pembangunan wisata bahari belum dikembangkan secara holistic mencakup pemanfaatan potensi sumberdaya alam bahari dan keterkaitannya dengan potensi sumberdaya budaya bahari
b. wisata bahari dapat menjadi alat strategis (strategic weapon) dalam melestarikan warisan budaya bahari termasuk transportasi kapal layar tradisional sebagai salah satu identitas peradaban bangsa bahari untuk negara kepulauan.
c. wisata bahari mempunyai dampak positif untuk tumbuh bangkitnya kembali jiwa dan budaya bahari yang dengan itu dapat memberikan efek berganda dalam mendorong terwujudnya negara maritime yang tangguh.
benua dan dua samudera yang memiliki kekayaan ragam flora fauna alam laut yang khas dan unik sehingga jarang ditemuni di negara lain.
e. wisata bahari dapat mempunyai efek berganda (multiplier effect) serta terobosan ekonomi (economic breakthrough) yang dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kreativitas akar budaya bahari, serta mendorong konservasi lingkungan.
PENGERTIAN DAN KONSEP
1. Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan
Visi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) tidak lagi berpusat pada pertumbuhan yang menekankan hasil ekonomi, tetapi pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat dengan mengutamakan pelestarian alam dan budaya masyarakat (Korten, 2002: 54). Dari UUD 1945, UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, UU no. 11 tahun 2010 tenang cagar budaya, UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (SDHE), serta deklarasi pembangunan berkelanjutan, disebutkan bahwa dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan budaya dapat dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian dan memperhatikan prinsip keberlanjutan yang didasarkan azas manfaat dan lestari, kerakyatan, kesejahteraan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan, dan keterpaduan.
Dalam program pengembangan produk pariwisata, pemerintah memprioritaskan pada pengembangan pariwisata yang berwawasan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam dan budaya Indonesia. Indonesia dilihat dari kondisi wilayahnya merupakan negara maritime yang memiliki ciri khas keaneka ragaman alam dan budaya bahari yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan dan minat khusus diharapkan dapat meningkatkan pengembangan pariwisata tidak hanya yang berbasis darat (land based), tetapi juga mulai mengoptimalkan yang berbasis laut (sea based). Selain itu pendekatan new tourism telah melengkapinya melalui deklarasi Piagam Pariwisata berkelanjutan yang berbunyi: “Pengembangan pariwisata didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang secara ekologis harus dikelola dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi, etika dan sosial masyarakat” (KLH, 1998).
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi kelautan yang mengandung nilai strategis selain perlu dilestarikan juga perlu dikelola secara bijak agar bermanfaat bagi berbagai kepentingan seperti ilmu pengetahuan, sosial budaya dan pariwisata.
Pelestarian (conservation) warisan budaya di Indonesia memiliki lingkup yang luas. Pelestarian tidak semata berhubungan dengan kegiatan pemugaran bangunan kuno atau perawatan naskah-naskah kuno saja. Pelestarian mencakup upaya-upaya pemeliharaan, perlindungan, pemugaran, pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya. Pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya merupakan alat dan strategi pelestarian, dalam upaya memberdayakan dan mengangkat nilai-nilai penting warisan budaya. Nilai-nilai penting warisan budaya meliputi nilai penting bagi ilmu pengetahuan, edukasi, kebudayaan, sejarah hingga nilai ekonomi yang terkandung dalam warisan budaya. Oleh karena itu pengelolaan warisan budaya perlu dilakukan dengan berbasis pelestarian. Artinya, pelestarian menjadi kata kunci utama dalam melakukan pengelolaan warisan budaya termasuk budaya bahari.
Pengelolaan warisan budaya pada hakekatnya adalah melestarikan warisan budaya bersifat kebendaan atau non kebendaan agar tetap ada dalam konteks system dan berguna bagi kehidupan masyarakat sekarang. Pengelolaan warisan budaya adalah upaya untuk memberi makna baru bagi warisan budaya itu, apakah sebagai identitas atau jatidiri, daya tarik wisata ataupun untuk kajian ilmu pengetahuan. Oleh karena itu jika tidak ada makna baru yang dapat dirasakan oleh masyarakat sekarang, upaya pengelolaan itu akan terasa sulit atau bahkan tidak akan mencapai sasaran (Tanudirjo 2006: 14).
Disadari pengelolaan warisan budaya untuk berbagai kepentingan, misalnya situs-situs arkeologi serta adat dan tradisi bahari di kawasan pesisir tidak sesulit jika dilakukan di kawasan yang relatif berpenduduk banyak seperti di perkotaan. Kawasan pesisir merupakan suatu permukiman yang memiliki pusat pemerintahan, pusat religi, maupun pusat perdagangan. Pada umumnya daerah pesisir mempunyai keseragaman tradisi dalam keberagaman masyarakatnya. Kenyataan ini membuat upaya mencari kesepakatan pemaknaan baru warisan budaya menjadi lebih memungkinkan. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan dan mengambil manfaat dari warisan budaya, mengingat warisan budaya memang dapat memiliki nilai penting yang berbeda bagi masyarakatnya (Tanudirjo 2006: 14).
Berdasarkan hal tersebut, pengelolaan warisan budaya bahari khususnya di kawasan pesisir yang dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata, perlu memperhatikan berbagai nilai penting warisan budaya (ilmu pengetahuan, jatidiri, dan nilai ekonomi). Dalam hal ini pariwisata budaya dan eko wisata (Eco-Culture Tourism) dapat mensinergikan berbagai nilai penting warisan budaya yang dipersepsikan oleh tiap pihak.
Menurut Vallega ( 1997) Wisata bahari adalah jenis wisata minat khusus yang memiliki aktivitas yang berkaitan dengan kelautan, baik di atas permukaan laut (marine), kegiatan yang clilakukan di bawah permukaan laut (submarine), maupun kegiatan yang dilakukan di pesisir (coastal). Wisata bahari oleh pemerintah Indonesia melalui Direktorat jenderal Pariwisata, dimasukkan dalam wisata minat khusus (Depbudpar, 2001). Sedangkan wisata minat khusus sendiri didefinisikan sebagai suatu bentuk perjalanan wisata wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat atau tujuan khusus terhadap suatu objek atau kegiatan yang dapat ditemui atau dilakukan di lokasi atau daerah tujuan wisata tersebut (Cooper dkk, 1996). Wisata bahari adalah jenis wisata minat khusus yang memiliki aktivitas yang berkaitan dengan kelautan, baik di atas permukaan laut (marine), maupun kegiatan yang dlilakukan di bawah permukaan laut (submarine). Wisata bahari oleh pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pariwisata, dimasukkan dalam wisata minat khusus (Budpar, 2001). Sedangkan wisata minat khusus sendiri didefinisikan sebagai suatu bentuk perjalanan wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat atau tujuan khusus terhadap suatu objek atau kegiatan yang dapat ditemui atau dilakukan di lokasi atau daerah tujuan wisata tersebut (Budpar, 2001).
Sebagai bagian dari ekowisata, wisata bahari secara koseptual dilandaskan pada pariwisata berkelanjutan dengan prinsip mendukung upaya-upaya konservasi lingkungan bahari (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Dengan demikian wisata bahari merupakan suatu bentuk wisata berbasis laut yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangannya juga menggunakan strategi konservasi yang mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Adapun sumber daya atraksi wisata ini meliputi antara lain:
a. obyek wisata dan aktivitas yang diselenggarakan antara lain: Tabel 1. Potensi Atraksi dan Aktivitas
6. snorklin g;
b. Kegiatan wisata bahari yang mencakup rekreasi lainnya di wilayah perairan antar lain kegiatan marina; kapal wisata; kapal layar; dan pengelolaan pulau kecil;
c. Usaha penunjang kegiatan wisata bahari antara lain jasa penyediaan moda transportasi; kapal pesiar; pengelola pulau kecil; pengelola taman laut hotel dan restoran terapung; pemandu wisata selam; dan rekreasi pantai dan lain sebagainya.
4. Kapal Wisata Tradisional (Traditional Cruise)
Aksesibilitas dan mobilitas wisatawan ke daerah tujuan wisata akan sangat didukung oleh ketersediaan infrastruktur transportasi, sebagai
akses bagi wisatawan untuk kemudahan menuju daerah tujuan wisata. Ini berarti, keterkaitan antara wisata bahari dan transportasi merupakan suatu hubungan yang mutlak terjadi terutama di Indonesia sebagai negara kepulauan. Pergerakan manusia yang dilakukan dari daerah/negara satu ke daerah/negara lain melibatkan transportasi sebagai sistem untuk mewujudkannya. Keterpisahan daerah-daerah oleh lautan membutuhkan sarana dan prasarana angkutan laut dan udara. Sedangkan keterpisahan daerah-daerah oleh hambatan geografis berupa daratan juga membutuhkan sarana dan prasarana angkutan darat.
Salah satu sarana transportasi laut yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata dan sekaligus dapat menjadi daya tarik wisata bahari, adalah sarana transportasi berupa kapal tradisional yang menjadi bagian dari ciri khas budaya yang ada. Kapal tradisional dapat menjadi kelengkapan sarana wisata untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya ke daerah tujuan wisata, sekaligus menikmati salah satu unsur kehidupan budaya bahari masyarakat setempat.
namun kapal tradisional ini hingga sekarang masih digunakan di beberapa wilayah Indonesia, dan bahkan menjadi andalan dibidang transportasi antar pulau. Bahkan dapat dikatakan bahwa kapal tardisional sudah menjadi industry skala kecil di bidang perkapalan dengan bahan kayu. Ciri khas kapal tradisional ini kebanyakan mengunakan layar, kecepatannya rendah dan ukurannya mulai dari perahu kecil yang disebut kelotok atau ketingting yang bisa memuat 10 penumpang, hingga bus air berupa perahu panjang (long boat) yang bisa mengangkut puluhan penumpang.
Dengan beranekaragamnya budaya bahari di Indonesia, memperlihatkan bahwa jenis kapal tadisional yang ada di Indonesia juga bervariasi seperti kapal tradisional asal Sulawesi seperti kapal patorani, kapal pakur, kapal padewakang, dan kapal pinisi. Asal Madura seperti kapal golekan lete, kapal Sope dari Jakarta, kapal Alut Pasa dari Kalimantan Timur, kapal Lancang Kuning dari Riau, kapal Gelati dari Perairan Bali, dan kapal Kora-kora dari Maluku.
Ciri khas daya tarik kapal ini beraneka ragam, misalnya kapal pinisi sebagai kapal layar tradisional khas asal Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarmpulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia.
Sejarah membuktikan ketika pinisi Amanagappa dengan gagah berlayar ke semenanjung Madagaskar. Kapal tradisonal jenis Pinishi ini sudah pernah melanglang buana ke segala penjuru dunia. Salah satu buktinya adalah pulau Madagaskar. Menurut sejarah, orang Indonesia banyak yang datang ke Madagaskar sejak zaman dahulu. Diantara mereka itu adalah orang-orang Bugis yang tentu saja belayar dengan perahu Pinishi. Konon ada 2 kali perpindahan besar-besar penduduk Sulawesi Selatan ke Madagaskar, yaitu sekitar 150 tahun dan 900 tahun silam. Buktinya adalah adanya persaman bentuk bangunan dibeberapa daerah di Madagaskar dengan bangunan di Sulawesi. Selain itu, dialek bahasa salah satu suku di Madagaskar juga sama dengan dialek Konjo, salah satu suku di Tanaberu, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Malah katanya, nama ibukota Madagaskar, Antananarivo (ada juga yang menyebut Tan anarive) berasal dari kata Makasar, tanena narappe, yang artinya tanah yang sempat di jangkau.
PENYELENGGARAAN PELAYARAN KAPAL TRADISIONAL
sejumlah pelabuhan untuk perdagangan umum (algerneen handel) tidak hanya pada pelabuhan besar seperti Batavia, Surabaya, Semarang, Padang, Makasar, tetapi juga pada pelabuhan-pelabuhan skala kecil, baik di kawasan pulau Jawa maupun di luar Jawa seperti Palembang, Sibolga, Singkel, Baros, Natal, Bengkalis, Teluk Betung, Cirebon, Banten, Juana, Pasuruan, Probolinggo, Menado, Ambon, Tual, Kupang, Merauke (Maziyah dkk, 1999).
Dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa pada masa ini peran pelayaran perahu tradisional pribumi memegang peran penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena biaya yang murah, memiliki pangsa pasar sendiri, serta tidak terikat dngan jalur dan jadwal pelayaran tertentu. Perkembangan pelayaran Indonesia terus berkembang hingga saat ini, dan permasalahannya adalah adanya penyederhanaan perizininan di bidang usaha pelayaran. Kebijakan ini disamping memperlancar arus barang dan penumpang juga menimbulkan pengaruh negatip bagi
pertumbuhan pelayaran Nasional. Akibatnya deregulasi kebijakan ini memberikan keleluasan bagi kapal-kapal bendera asing untuk beroperasi di Indonesia sehingga mendesak pangsa pasar pelayaran nasional baik untuk pelayaran luar negeri maupun pelayaran dalam negeri.
Sasaran pembangunan transportasi dalam pembangunan ke depan adalah meningkatnya peranan sistem transportasi nasional dalam memenuhi kebutuhan mobilitas manusia, barang, dan jasa; terwujudnya sistem transportasi nasional yang makin efisien yang didukung oleh kemampuan penguasaan teknologi dan sumber daya manusia yang berkualitas; meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha transportasi; meluasnya jaringan transportasi yang menjangkau daerah terpencil dan terisolasi, terutama di kawasan timur Indonesia; dan tersedianya pelayanan transportasi yang andal untuk mendukung industri, pertanian, perdagangan, dan pariwisata.
Di bidang transportasi laut, angkutan sungai, danau dan penyeberangan adalah menyediakan sarana dan prasarana transportasi laut yang memadai melalui kegiatan meliputi:
1. kegiatan pengembangan fasilitas pelabuhan laut; 2. kegiatan pengembangan keselamatan pelayaran;
Dalam program pembinaan pelayaran nusantara ini, difokuskan pada dan pelayaran rakyat, yaitu pelayaran tradisional dan dikelola oleh usaha kecil seperti koperasi sebagai sarana angkutan laut antarpulau, khususnya di daerah kepulauan dan desa sekitar pantai. Pelayaran-Rakyat atau disebut juga sebagai Pelra adalah usaha rakyat yang bersifat tradisional dan mempunyai karakteristik tersendiri untuk melaksanakan angkutan di perairan dengan menggunakan kapal layar termasuk Pinisi, kapal layar bermotor, dan/atau kapal motor sederhana berbendera Indonesia dengan ukuran tertentu. Pelayaran rakyat mengandung nilai-nilai budaya bangsa yang tidak hanya terdapat pada cara pengelolaan usaha serta pengelolanya misalnya mengenai hubungan kerja antara pemilik kapal dengan awak kapal, tetapi juga pada jenis dan bentuk kapal yang digunakan.
Namun sejalan dengan perkembangan tehnologi kapal yang mengarah kepada kapal yang lebih cepat dan lebih besar saat ini, peran pelayaran rakyat semakin memprihatinkan karena hanya sesuai untuk angkutan dengan demand yang kecil, menghubungkan pulau-pulau yang jumlah penduduknya masih rendah, ataupun pada angkutan pedalaman guna memenuhi
kebutuhan masyarakat didaerah aliran sungai-sungai khususnya di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Belum lagi masalah angkutan sungai yaitu pendangka lan pada musim kemarau. Sehubungan dengan permasalahan yang ada, pemerintah terus berupaya mendorong pelayaran rakyat untuk meningkatkan pelayanan ke daerah pedalaman dan/atau perairan yang memiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan
danau; meningkatkan kemampuannya sebagai lapangan usaha angkutan laut nasional dan lapangan kerja; dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan kewiraswastaan dalam bidang usaha angkutan laut dan angkutan pedalaman nasional. Salah satu upaya lainnya dalam mengakselerasi peran pelayaran tradisional adalah dengan pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata melalui peningkatan pelayanan kapal layar tradisional sebagai kapal wisata tradisional (Traditional Cruise).
PENGEMBANGAN KAPAL WISATA TRADISONAL
sebagai kawasan sensitiv, fenomena alam dan bentang alam, laut dan lain sebagainya. Hingga saat ini upaya pemanfaatan ekosistem alam melalui pendekatan wisata berbasis bahari di banyak tempat terus digalakkan sebagai jembatan untuk pelestarian sumber daya alam dan budaya termasuk tinggalan budaya bawah air sekaligus menciptakan peluang usaha dan kerja terkait pariwisata bagi masyarakat setempat, khususnya masyarakat pesisir (Robyi, 2005).
Pembangunan wisata berbasis bahari sangat bertumpu pada sumber daya lokal mulai dari sumber daya pariwisata itu sendiri sampai pada pengadaan sarana, prasarana, hingga suprasarana yang ramah lingkungan. Dengan basis kekayaan dan keanekaragaman potensi alam dan budaya bahari yang dimiliki Indonesia baik yang berada di pesisir, laut permukaan (marine) maupun yang berada di kedalaman laut (submarine) maka sangat dimungkinkan sasaran pembangunan pariwisata Indonesia adalah mejadikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata bahari dunia dan sebagai destinasi wisata kapal pesiar (cruise) dan kapal layar (yacht) baik tradisional maupun internasional. Dalam
situasi masih lemahnya infrastruktur perhubungan dan fasilitas pariwisata di sebagian besar wilayah pulau-pulau kecil di Indonesia, kegiatan wisata dengan menggunakan transportasi laut di Indonesia pada dasarnya mempunyai peluang yang besar. Daya tarik alam bawah laut, lansekap panorama pantai dan keunikan budaya masyarakat pesisir di wilayah pulau-pulau kecil menjadi tidak punya nilai astetika untuk wisatawan pada umumnya karena sulit dicapai dan buruknya sarana transportasi. Upaya memanfaatkan keanekaragaman daya tarik pulau-pulau kecil yang ada, menjadikan keberadaan transportasi yang menghubungkan antar pulau sebagai daereh tujuan wisata bahari menjadi penting. Walaupun hingga saat ini sarana transportasi laut yang disediakan pemerintah masih sangat minim, namun hubungan antar pulau di beberapa wilayah banyak di dilakkan oleh pelayaran rakyat dalam bentuk kapal layar tradisional.
Potensi Kapal Layar Tradisional
dalam mendorong perekonomian di daerah yang berbasis pada wisata bahari adalah pemanfaatan kapal layar tradisional sebagai kapal wisata (Traditional Cruise)
Di banyak wilayah kepulauan menunjukkan bahwa kapal tradisional inilah yang telah meringankan beban pemerintah mempercepat aksesibilitas dalam menembus keisolasian hubungan antar pulau, walaupun masih kurang memadai dari segi kenyamanan dan fasilitas kapal. Dalam pengembangan transportasi Wisata Bahari, dapat dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat di bidang pemanfaatan salah satu budaya bahari yaitu kapal tradisional. Keanekaragaman kapal tradisional tidak saja dapat dimanfaatkan dari budayanya seperti budaya pembuatan kapal tradisional mulai dari upacara penyiapan bahan baku, pendesainan kapal hingga pembagian tugas pembuatan kapal. Tetapi juga dapat dimanfaatkan dari fungsinya dari kapal nelayan atau angkutan menjadi kapal wisata (Traditional Cruise) baik yang melayani transportasi antar pulau (small islands cruise) maupun yang melayani transportasi pedalaman (river cruise). Adapun beberapa karakteristik kapal layar tradisional yang dapat dipertimbangkan sebagai sarana transportasi wisata bahari mencakup:
a. Penyelenggaraan pelayaran kapal tradisional yang dilakukan oleh perusahaan Pelayaran Rakyat dengan menggunakan kapal tradisional dengan layar; Kapal tradisional dengan layar dan motor; Kapal tradisional dengan motor,
b. Batas pelayarannya menyinggahi antar pulau dan bahkan antar Negara tetangga.
c. Kapal pelayaran rakyat memiliki Beaya menggunakan perahu tradisional lebih murah dari pada kapal uap atau bermesin; memiliki pangsa pasar tersendiri yang tidak tersentuh oleh pelayaran kapal-kapal lain; tidak selalu terikat pada jalur dan jadwal pelayaran tertentu; dan Ramah lingkungan
Strategi Pengembangan
fleksibel dalam pengaturan jadwal dan tujuan pelabuhan yang ada. Berdasarkan data sejarah beberapa kawasan di Indonesia memiliki banyak pelabuhan tua yang hingga kini masih berfungsi dengan komunitas masyarakatnya yang beragam. Pelabuhan ini dapat menjadi kesatuan daya tarik mulai dari jalur pelayaran tradisional, pelabuhan tradisional/rakyat, kehidupan social budaya bahari masyarakat pesisir, hingga daya tarik sarana,
fasilitas dan layanan di dalam kapal itu sendiri. Adapun untuk pelabuhan tidak harus ada di sebuah teluk yang dalam dan terlindung dari tiupan angin, tetapi bisa juga pelabuhan terdapat di pedalaman yang jalan masuknya melalui sungai-sungai (river cruise) besar seperti banyak ditemukan di Pulau Sumatra, seperti di Jambi melalui Sungai Batanghari dan Palembang melalui Sungai Musi; Kalimantan seperti Pontianak melalui Sungai Kapuas, Banjarmasin melalui Sungai Barito dan sebagainya.
1. Berbasis Akar budaya. Usaha kapal pesiar tradisional harus berbasis pada ciri budaya bahari masyarakat yang ada di Indonesia 2. Pemberdayaan Masyarakat. Pengusahaan
diselenggarakan oleh komunitas kelembagaan masyarakat melalui pendekatan pola pendampingan oleh pihak pemerintah dan industri
3. Pengusahaan Pelayaran Rakyat dapat dilakukan:
a. Warga Negara perorangan atau dalam bentuk Badan Hukum Indonesia, dengan: b. memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) orang tenaga ahli dibidang Ketatalaksanaan,
dan/atau nautis, dan/atau teknis pelayaran niaga tingkat dasar. c. berbendera Indonesia dan
d. laik laut yang dibuktikan dengan salinan Groos Akte, surat ukur dan sertifikat keselamatan kapal yang masih berlaku
4. Keamanan. Kapal pesiar tradisional harus memiliki perangkat keselamatan minimum antara lain pemadam kebakaran, pelampung atau baju pelampung, perahu sekoci, perangkat radio komunikasi, peralatan navigasi
6. Pengemasan Paket. Kapal pesiar tradisional harus memiliki beberapa alternatif jasa dan layanan terkait atraksi, aktifitas, serta kebutuhan lainnya seperti kuliner, informasi dan kesenian yang dikemas dalam kesatuan paket wisata yang berbasis budaya bahari
7. Kemiteraan. Kapal pesiar tradisional merupakan usaha kecil hingga menengah yang dijalankan oleh komunitas masyarakat, dibantu pihak-pihak lainnya seperti pihak pemerintah, swasta, perbankandan ,LSM melalui pola kerjasama kemiteraan.
PENUTUP
1. Mengakomodasi kebutuhan transportasi laut yang mampu menghubungkan jejaring antar daerah terpencil khususnya daerah kepulauan khususnya daerah pesisir dan pulau-pulau kecil yang letaknya terisolir
5. Memudahkan pengelolaan pemanfatan sumberdaya budaya bahari khususnya di pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai daya tarik, dan sekaligus perlindungan nusantara yang berbatasan negara tetangga
6. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui pemanfaatan akar budaya bahari, sekaligus pemberdayaan dibidang layanan jasa dan usaha transportasi kapal laut tradisional sebagai kapal wisata tradisional (Traditional Cruise)
SUMBER BACAAN
Adalberto Vallega. 1997. Integrating Information in Coastal Zone Management, FROM RIO TO JOHANNESBURG: THE ROLE OF COASTAL GIS, CoastGIS’03,
BAPPENAS, 2002. Pengelolaan Sumberdaya Alam Dengan Strategi Kemitraan, Naskah Kebijakan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta
Cabrini Luigi, 2004. Trend of International Tourism, 13th Central European Trade Fair, WTO,
Caroline Ashley, Clive Poultney, Gareth Haysom, Douglas McNab and Adrienne Harris, 2005. How to…? Tips and tools for South African tourism companies on local procurement, products and partnerships. Brief 2: Stimulating local cultural and heritage products, Produced by Overseas Development Institute Business Linkages in Tourism
Chris Cooper, John Fletcher, David Gilbert and Stephen Wanhill. 1996. Tourism Principles and Practice. Longman Group Limited, Malaysia,
Dahuri R. 1998. Pendekatan Ekonomi-Ekologis Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Berkelanjutan. Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia. Jakarta: Dit. Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Kawasan, TPSA BPPT, CRMP USAID.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2001. Rencana Induk Pengembangan Wisata Bahari, Executive Summary Report,
Fletcher John, Prof. DR, 1996, “Heritage Tourism: Enhancing The Net Benefits of Tourism”, International Conference on Tourism and Heritge Management, Yogyakarta, Indonesia
Indroyono Soesilo, 2000. “Peranan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam”, Diskusi Panel: Harta Karun Bawah Air: Tantangan Bagi Arkelogi, Gedung Gramedia, Jakarta,
Kebijakan dan strategi Nasional Pengembangan Wisata Ekologi Alam (draft IV), kantor Menteri Negara LH, 1998
Nurhayato Wiendu, 1996, “Interpreting Heritage for Tourism: Complexities and Contradictions”, International Conference on Tourism and Heritge Management, Yogyakarta, Indonesia
Roby, Ardiwidjaja, 2005. Pengembangan Pariwisata Budaya, dalam Jurnal Kepariwisataan Indonesia, Puslitbang Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
Rudito, Bambang dan Arif Budimanta, 2005, Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development, Jakarta: ICSD
Sedyawati, Edi, 1996, “Potensial and Challenges of Tourism: Managing The National Cultural Heritage”, International Conference on Tourism and Heritge Management, Yogyakarta, Indonesia
Siti Maziyah, Sugiyarto, Singgih Tri Sulistiyono, 1999. Strategi Pelayaran Perahu Tradisional Indonesia 1879-1911. Laporan Hasil Penelitian, Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan, Fakultas Sastra Universitas Dipenogoro.
Tanudirdjo, Daud, 2006, “Pengelolaan Sumberdaya Budaya di Perko¬taan”, dalam Jurnal Arkeologi Sidhayatra Volume 11 Nomor 1 Mei 2005 (hlm. 13-18). Palembang: Balai Arkeologi.
The Fine Art Department of Thailand, 1999, Cultural System: For Quality Management, Bangkok, Thailand, World Tourism Organization, 1997. Tourism Market Trend, Spain,