• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Gender dalam Hubungan Internasion

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Gender dalam Hubungan Internasion"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

RURAL WATER SUPPLY AND SANITATION PROGRAM (RWSSP) AUSAID: DINAMIKA PERUBAHAN GENDER RELATIONS DI TIMOR LESTE

Anisak Rahayuk Rahmawati (105120413111003)

Abstrak

Dalam kehidupan sosial Timor Leste khususnya di wilayah rural, masih banyak ditemui bagaimana perempuan harus berjuang untuk bertahan hidup dengan berbagai tanggung jawab yang membebani mereka. Hal ini bisa dilihat dalam contoh kecil dimana selama bertahun-tahun perempuan memiliki beban kerja yang lebih berat daripada laki-laki lantaran mereka harus mencari dan mengumpulkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari akibat keterbatasan akses terhadap air di wilayah rural Timor Leste.

Menanggapi hal tersebut, pada tahun 2007 AusAID menyatakan komitmennya untuk menjalankan proyek yang bernama Rural Water Supply and Sanitation Program (RWSSP) atau BESIK dalam singkatan bahasa setempat yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi akses terhadap water, sanitation, and hygiene (WASH) masyarakat rural Timor Leste. Yang menarik dari program ini adalah adanya dimensi gender equality yang menekankan pada pentingnya peran perempuan sebagai “aktor utama” dalam kegiatan domestik terutamanya yang berkaitan dengan sektor WASH.

Kata Kunci: BESIK, WASH, gender relations, perempuan, laki-laki, household, komunitas

Perempuan dan Sektor WASH di Timor Leste

Perempuan, aktor sosial yang selalu dikaitkan dengan peran dan tanggung jawab dalam sektor domestik tak terkecuali dalam usaha penyediaan akses terhadap sektor air dan sanitasi. Air dan sanitasi, dua elemen yang penting dalam kehidupan setiap manusia

dimanapun. Dua aspek tersebut seringkali dijadikan sebagai indikator tingkat kesejahteraan sosial penduduk di setiap negara. Diperkirakan bahwa perempuan di negara berkembang rata-rata menempuh perjalanan per harinya untuk mengumpulkan air sejauh 6 km dikarenakan keterbatasan akses terhadap dua elemen dasar kehidupan tersebut. 1

(2)

Kondisi demikian juga terjadi di Timor Leste dimana perempuan memiliki beban kerja yang lebih berat daripada laki-laki lantaran mereka harus mencari sumber air sebelum proyek terkait akses air dan sanitasi masuk ke negara tersebut. Salah satu contohnya adalah penduduk perempuan di salah satu wilayah rural Timor Leste di desa Lisapat, distrik Ermera yang harus berjalan sejauh 3 km sebanyak 4 kali setiap hari untuk mendapatkan sumber air terdekat dengan tempat tinggal mereka.2

Hal ini disebabkan oleh ketersediaan akses terhadap air dan sanitasi di wilayah rural Timor Leste yang masih terbatas jika dibandingkan dengan wilayah urbannya. Pada tahun 2003, akses air di wilayah rural Timor Leste hanya sebesar 46% sedangkan di wilayah urban mencapai 75%. Demikian juga akses terhadap sanitasi di rural Timor Leste yang hanya sebesar 21% sedangkan di wilayah urban mencapai 63%.3

Seringkali berbagai proyek pembangunan terkait akses terhadap air mengabaikan bahwa perempuan memegang peranan sentral dalam hal menejemen air, sanitasi, dan kesehatan (hygiene) dimana sebagian besar waktu perempuan (di negara berkembang dan kurang berkembang khususnya) dihabiskan hanya pada sektor ini. 4

Maka dari itu, sudah seharusnya program pembangunan tersebut mempertimbangkan adanya dimensi gender di dalamnya dengan memahami adanya suatu kebutuhan khusus bagi perempuan terkait akses terhadap air dan sanitasi. Bahwa segala keputusan terkait

perencanaan dan menejemen penggunaan sumber daya air harus memperhitungkan

kebutuhan antara laki-laki dan perempuan dimana kedua aktor tersebut memiliki pengaruh, peran, akses, dan manfaat yang sama dalam progam pembangunan.5

Dimensi Gender Dalam Program BESIK AusAID

Keterbatasan akses terhadap sektor WASH di rural Timor Leste menghasilkan sebuah penandatanganan MoU pada tahun 2007 antara pemerintah Timor Leste dengan Australia yang menyatakan komitmen Australia untuk menjalankan proyek 5 tahun yang bernama Rural Water Supply and Sanitation Program (RWSSP) atau dalam bahasa penduduk setempat Timor Leste bernama Bee, Saneamentu No Ijene Iha Komunidadi (BESIK). Program BESIK ini dibagi menjadi 2 tahapan yakni BESIK I pada tahun 2007-2012 dan BESIK II pada tahun

2 Diakses dari http://www.irinnews.org/report/88029/timor-leste-water-supplies-running-on-empty, pada tanggal 20 November 2013, pada pukul 07.55 WIB

3 Mack Phoebe, “Assessment of Appropriate Sanitation Technologies in a Development Context. Case Study: Tangkae, Timor-Leste”, 2006, Pp. 8

4 Inter-Agency Standing Committe (IASC), “Women, Girls, Boys, and Different Needs – Equal Opportunities”, 2006. Pp. 105

(3)

2012-2020. Dalam proyek tersebut terdapat suatu sektor yang bernama Rural Water, Sanitation, and Hygiene (RWASH) yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi akses terhadap air, sanitasi, dan kesehatan masyarakat rural di Timor Leste.6

Dalam BESIK tersebut, AusAID berusaha memasukkan dimensi gender ke dalamnya yang menekankan pentingnya untuk memperhatikan dan melibatkan peran perempuan sebagai aktor utama yang selama ini terlibat dalam kegiatan di sektor domestik khususnya di sektor WASH. Partisipasi perempuan dalam segala kegiatan BESIK sangatlah diutamakan oleh program tersebut. Sebagai hasilnya, gender equity and equality pun menjadi tema utama dalam sektor RWASH di Timor Leste.7

Untuk mengamati perubahan gender relations di Timor Leste sebagai dampak adanya program BESIK tersebut bisa digunakan suatu kerangka yang bernama Gender Analysis Matrix (GAM) yang dikembangkan olah Rani Parker sebagai alat atau kacamata pandang untuk menganalisa fenomena tersebut. Kerangka GAM ini menjelaskan dampak

pembangunan terhadap 4 level sosial (women, men, household, community) yang mengarah pada 4 area yakni labour, time, resources, dan socio-cultural.8

Dalam program BESIK, memang terlihat bahwa peran perempuan sangatlah diutamakan dalam berbagai kegiatan program dan komunitas program tersebut sehingga perempuan mendapatkan peran baru yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya. Selain perempuan, nampaknya program tersebut juga melibatkan aktor lain seperti komunitas di setiap aldeia (sub-desa atau dusun kecil di wilayah rural Timor Leste), household, dan laki-laki di wilayah rural Timor Leste. Masing-masing aktor sosial tersebut memiliki peran yang berbeda namun tetap saling berhubungan satu sama lain untuk mengelola water system management yang telah dibangun oleh AusAID.

Dinamika Perubahan Gender Relations di Timor Leste Perempuan dan BESIK AusAID

Secara logis, ketersediaan akses air dan sanitasi yang semakin dekat dengan tempat tinggal penduduk rural Timor Leste akan berimbas pada semakin ringannya beban kerja mereka khususnya para perempuan (labour) yang akan menghemat waktu mereka (time) untuk melakukan kegiatan di sektor WASH sehingga dapat melakukan kegiatan lain.

Contohnya adalah perempuan di Venilale yang menyatakan bahwa mereka merasa memiliki

6 AusAID, “Past Reflections . . . Future Plans. An Independent Evaluation of AusAID’s Support to Rural WASH in Timor Leste”, 2012, Pp. 1

(4)

lebih banyak waktu bersama keluarga dan memiliki waktu lebih untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain seperti menyirami kebun, menyiapkan sarapan, dsb dimana sebelumnya tidak bisa mereka lakukan lantaran waktu mereka habis untuk mencari air.9

Akan tetapi, sayangnya penjelasan secara komplit terkait dampak tersebut masih jarang dieksplor dan diteliti. Sehingga yang paling terlihat dari dampak program BESIK terhadap perempuan Timor Leste adalah semakin marak dan diakuinya keterlibatan dan peran aktif mereka (perempuan) dalam komunitas WASH. Peran aktif para perempuan Timor Leste tersebut dinilai berkontribusi positif terhadap perubahan peran dan status gender mereka yang selama ini menjadi kaum subordinat yang hanya berkutat pada pekerjaan di sektor domestik tanpa adanya pengakuan terhadap hak-hak dan peran perempuan tersebut (socio-cultural).

Dalam menjalankan prinsip gender equality di level komunitas WASH, BESIK menetapkan suatu kuota dan memastikan adanya aspek gender dalam materi pelatihan untuk Community Action Planning (CAP) dan Community Action Plan for Sanitation and Hygiene (PAKSI). Kuota yang diterapkan BESIK dalam GMF (Water Facility Management Group) adalah minimum 30% partisipasi perempuan dan 50% kuota yang direkomendasikan. Hasilnya, 52% peran teknis dalam GMF dipegang oleh perempuan.10

Perempuan di Maina (Los Palos) menyatakan bahwa dengan adanya program BESIK mereka merasa bahwa peran perempuan dalam proses pembuatan keputusan dalam komunitas terkait isu WASH mulai diperhitungkan. Selama bertahun-tahun mereka hanya bisa “duduk di belakang” laki-laki ketika terdapat pertemuan komunitas. Bahkan sebagian dari mereka ada yang tidak diijinkan untuk mengikutinya oleh para suami mereka. Namun dengan adanya kuota BESIK tersebut, mereka bisa mengambil akses terdepan dalam pertemuan komunitas. 11

Berikut skema pelaksanaan program BESIK yang berimbas pada perubahan gender relations di Timor Leste:12

Dampak BESIK Pada Komunitas Rural Timor Leste

9 AusAID, “Past Reflections... Future Plans. An Independent Evaluation of AusAID’s Support to Rural WASH in Timor Leste”, 2012, Pp. 15

(5)

Dalam sasaran untuk memperbaiki ketersediaan akses terhadap air, berikut capaian BESIK terhadap komunitas di wilayah rural Timor Leste:13

- Lebih dari 60.000 penduduk rural mendapatkan akses terhadap improved water supply pada tahun 2010 dan 40.000 penduduk pada tahun 2011;

- Berbagai dukungan dari komunitas membantu penyediaan akses tambahan terhadap 80.000 penduduk rural;

- Perbaikan susunan institusional membantu memfasilitasi sistem community engagement yang berkelanjutan di masa depan;

Sedangkan sasaran untuk memperbaiki perilaku sehat dan sanitasi di komunitas rural Timor Leste, BESIK berhasil mendapatkan capaian sebagai berikut:14

- 17.500 penduduk rural mendapatkan akses terhadap fasilitas sanitasi dasar; - Akses terhadap fasilitas improved sanitation bagi 3.000 vulnerable household;

- 137 komunitas berpartisipasi dalam CLTS (Community-Led Total Sanitation) yang didukung oleh BESIK;

- 55 aldeias menyatakan wilayah mereka sebagai ODF (Open Defecation Free); - 240 aldeias terlibat dalam kegiatan perbaikan kebiasaan dalam sektor WASH.

Berbagai capaian BESIK tersebut turut berkontribusi positif terhadap perbaikan akses resources para anggota komunitas terhadap sektor WASH di rural Timor Leste. Fasilitas WASH (kakus, kran air, pipa air, dsb) yang dibangun oleh BESIK pun turut dijadikan sebagai investasi jangka panjang oleh para anggota komunitas target yang bisa digunakan dalam waktu lama dengan perawatan dan menejemen sektor WASH yang berkelanjutan.

Selain itu, dari segi labour BESIK juga turut memberikan pelatihan kepada komunitas menejemen air di Timor Leste untuk mengatur, mengawasi, dan memelihara water system yang telah dibangun oleh AusAID. Partisipasi perempuan dalam komunitas tersebut pun mengalami peningkatan dari yang awalnya hanya 18% menjadi 38%.15

Dari capaian tersebut disebutkan bahwa sejumlah 55 dari total desa yang terlibat telah mendeklarasikan diri sebagai wilayah ODF dimana seluruh penduduknya telah menggunakan fasilitas kakus yang dibangun untuk aktivitas defecation merekaa. Hal ini pun turut

berkontribusi positif terhadap perubahan socio-cultural dengan merubah kebiasaan mereka di sektor WASH menjadi lebih bersih dan sehat dimana pada tahun 2010 AusAID telah berhasil menyediakan akses terhadap improved sanitation bagi 7.000 penduduk dan mempromosikan

13 Monitoring & Review Group (Finalized Report), “Timor Leste. AusAID Rural Water Supply & Sanitation Program (RWSSP / BESIK). April 2011 Visit”, 2011, Pp. 3

14Ibid

(6)

perubahan kebiasaan hidup untuk mencuci tangan dengan sabun kepada 1.000 penduduk Timor Leste.16

Selain berkontribusi pada perubahan perilaku di sektor WASH, dampak terhadap socio-cultural komunitas rural Timor Leste juga dapat dilihat dari berbagai peran baru yang mereka miliki terkait keterlibatan mereka dalam program BESIK yang meliputi:17

- Berpartisipasi dalam setiap pertemuan dan kegiatan WASH;

- Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan kebutuhan komunitas; - Elect / Select anggota GMF (Water Facility Management Group); - Berpartisipasi dalam perencanaan;

- Memilih tipe fasilitas air dan sanitasi; - Mengatur fasilitas yang telah jadi; - Membantu kegiatan maintenance;

- Merubah kebiasaan hidup menjadi lebih bersih dan sehat; - Monitoring dan evaluasi;

- Memelihara fasilitas WASH;

- Berpartisipasi dalam setiap pertemuan.

Adapun peran yang dimainkan oleh GMF dalam BESIK adalah sebagai berikut:18

- Melindungi kepentingan komunitas; - Melayani komunitas;

- Mengorganisi pertemuan GMF dan komunitas;

- Menyusun pertemuan reguler untuk memberikan penjelasan kepada komunitas terkait sektor WASH dan berbagai ide atau pemikiran;

- Memberikan tugas yang berbeda kepada setiap anggota (misalnya bagian O&M, mengatur keuangan, dsb);

- Mengorganisir konstruksi water system baru;

- Mengumpulkan dan mengatur dana dan material lain yang berasal dari kontribusi komunitas;

- Mengatur pengoperasian dan pemeliharaan (O&M) fasilitas WASH;

- Mencatat hasil setiap pertemuan, putaran keungan, pemeliharaan dan perbaikan; - Memimpin komunitas dalam mengembangkan WASH plan;

- Mengembangkan dan mengawasi peraturan menggunakan water system;

- Memobilisasi perempuan dan laki-laki dalam komunitas untuk terlibat dalam konstruksi fasilitas dan pengawasan konstruksi;

- Menetapkan peraturan tentang bagaimana pengaturan water system; - Menerapkan prinsip transparasi dalam setiap kegiatan untuk komunitas; - Menyiapkan jadwal maintenance;

- Mempromosikan perubahan perilaku atau kebiasaan dalam WASH; - Mengorganisir pemeliharaan water system yang baru;

16 AusAID, “Annual Program Performance Report 2010: Timor Leste”, 2011, Pp. 16

17 DNSAS, Democratic Republic of Timor Leste, “A Trainer’s Manual For Community WASH Planning. Book 1: Preparing For Community WASH Planning”, 2011, Pp. 25

(7)

- Monitoring dan evaluasi program dan kegiatan dengan fokus utama pada gender equality dan soial inclusion.

BESIK bekerjasama dengan GMF untuk memperbaiki menejemen water system. Pada pertengahan bulan Juni 2012, lebih dari 1.000 anggota GMF dari lebih 400 aldeia telah memiliki ketrampilan dalam O&M (Operation and Maintenance) dan financial literacy untuk pengaturan water supply system yang lebih baik. Total 264 anggota GMF (56% perempuan) telah dilatih dalam financial literacy dan 852 anggota GMF (34% perempuan) telah dilatih terkait sistem operasi. Hasilnya, 1 dari 5 rural aldeia Timor Leste memiliki anggota terampil untuk memastikan keberlanjutan infrastruktur WASH di wilayah mereka.19

Kontribusi BESIK terhadap pengembangan komunitas tersebut dinilai cukup

signifikan dengan membantu pengembangan ketrampilan setiap anggota komunitas melalui berbagai pelatihan dan pengembangan ketrampilan menejemen dan organisasi yang

dilaksanakan oleh BESIK. Perbaikan ketrampilan yang dimiliki oleh komunitas tersebut merupakan sumbangan terbesar bagi perubahan socio-cultural komunitas rural Timor Leste yang selama ini dikategorikan sebagai wilayah yang tertinggal.

Promosi WASH Dalam Level Household

Standar dan kondisi sanitasi di Timor Leste yang masih tergolong rendah nampakya berdampak pada tingginya penyakit terkait dengan perilaku hidup yang kurang bersih seperti diare, malaria, dsb dimana sebagian besar penyakit tersebut diderita oleh anak-anak. Dengan memanfaatkan isu tersebut, selain untuk memperbaiki akses resources para household Timor Leste terhadap air dan sanitasi, BESIK pun juga berupaya untuk merubah perilaku di sektor WASH para anggota household tersebut.

Hal yang kemudian dilakukan BESIK adalah menciptakan suatu program pilot dengan menggunakan pendekatan CLTS yang diadaptasi ke dalam komunitas PAKSI (Community Action Plan for Sanitation and Hygiene) pada tahun 2009-2012 yang menggunakan suatu konsep “disgust” dalam menyampaikan materi motivasi kepada komunitas yang diteruskan ke level household.20 Salah satu aktivitas komunitas tersebut adalah dengan mempromosikan

perubahan perilaku di sektor WASH melalui penyebaran aksi untuk membangun kakus sederhana yang disertai fasilitas yang layak. Pembangunan kakus tersebut sebagai strategi

19 AusAID, “East Timor Rural Water Supply & Sanitation Program (RWSSP) (2007-2012) Also Known As BESIK”, Activity Completion Report”, 2012, Pp. 18

(8)

untuk merubah kebiasaan open defecation yang dilakukan oleh hampir setiap household Timor Leste agar beralih menggunakan kakus yang telah dibangun.21

Untuk merubah perilaku hidup masyarakat rural, BESIK bekerjasama dengan MoH membentuk Family Health Promoters (PSF) untuk mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat di level household. Di 218 aldeia di 6 sub-distrik Timor Leste, NGO partner BESIK memberikan pelatihan kepada PSF tersebut untuk mempromosikan dan memberi informasi terkait hygiene behaviour change seperti bagaimana cara membuat fasilitas cuci tangan dari sumber daya lokal dan membangun toilet.22

Adapun peran PSF adalah sebagai berikut: 23

- Volunteer dalam mempromosikan kesehatan; - Mendemonstrasikan praktek WASH baru;

- Mempromosikan perubahan perilaku terkait kesehatan dalam komunitas;

- Mengadakan kunjungan rumah ke rumah untuk menyediakan informasi dan mengecek perubahan perilaku sehat;

- Menyediakan informasi dan pelatihan terkait isu kesehatan; - Bekerjasama dengan GMF dalam promosi WASH;

- Monitoring dan evaluasi isu kesehatan dalam komunitas dengan fokus utama pada gender equality dan social inclusion.

- Menyediakan hubungan antara komunitas dengan pelayanan kesehatan di setiap distrik atau sub-distrik.

Laki-laki dan Perubahan Status Gender

Perubahan positif yang paling terlihat dalam peran laki-laki sebagai dampak program BESIK adalah bahwa laki-laki Timor Leste mulai mengakui dan menghargai hak-hak dan peran perempuan untuk turut berpartisipasi dalam segala kegiatan komunitas WASH serta terlibat dalam decision-making dalam komunitas mereka (perubahan socio-cultural). Sebelum program BESIK masuk ke Timor Leste bisa dikatakan bahwa perempuan hampir tidak terdengar suara mereka lantaran sebagian besar suami mereka tidak memperbolehkan para wanita tersebut untuk terlibat dalam kegiatan apapun di luar rumah dan mengharuskan mereka hanya berfokus pada satu kegiatan saja yakni di sektor domestik.

Selain perubahan dalam socio-cultural, dampak berikutnya yang cukup terlihat adalah pemberdayaan laki-laki untuk membangun fasilitas WASH (resources and labour) di wilayah mereka oleh BESIK. Keterlibatan laki-laki tersebut sebagai bentuk community ownership di

21 AusAID, “Past Reflections... Future Plans. An Independent Evaluation of AusAID’s Support to Rural WASH in Timor Leste,” 2012, Pp. 16

22 “East Timor Rural Water Supply & Sanitation Program (RWSSP) (2007-2012)”, op. cit, Pp. 21

(9)

wilayah mereka dengan menyadari kebutuhan akses terhadap fasilitas WASH. Kegiatan tersebut secara langsung membuka lapangan pekerjaan baru bagi para laki-laki dalam

komunitas yang akan menambah pendapatan keluarga mereka. Akan tetapi di sisi lain, beban kerja mereka pun juga bertambah akibat pekerjaan baru tersebut. Memang dampak BESIK terhadap laki-laki secara spesifik di Timor Leste terlihat kurang begitu dieksplor, namun secara tersirat dampak di 3 level aktor sosial lainnya (women, community, household) tersebut terlihat cukup menjelaskan dimana peran dan posisi laki-laki dalam program BESIK.

Kritik dan Saran

Walaupun pada dasarnya berbagai program dan kegiatan BESIK telah

menitikberatkan pada pentingnya gender equality dan mempromosikan akses perempuan terhadap air dan sanitasi, namun secara nyata program tersebut masih belum terlalu mengeksplor manfaat apa yang diperoleh perempuan secara jelas ketika mereka telah

mendapatkan akses tersebut. Tidak hanya perempuan saja, dampak program dan ketersediaan akses air dan sanitasi terhadap aktor sosial lain seperti men, community, household pun juga belum begitu dieksplor.

Misalnya, apakah dengan ketersediaan akses terhadap air dan sanitasi mampu secara nyata mengurangi beban kerja perempuan atau aktor lainnya, menghemat waktu mereka untuk melakukan kegiatan domestik di sektor WASH, mengurangi tingkat penyakit yang berkaitan dengan sektor WASH yang tidak terjaga, atau menambah penghasilan dari

pekerjaan baru akibat ketersediaan akses tersebut. Sayangnya, hal-hal tersebut masih belum dikaji secara lebih mendalam dan jelas dalam dampak program.

Sehingga, memang pada akhirnya diperlukan suatu penelitian, data, atau dokumentasi yang jelas terkait dampak positif ketersediaan akses air dan sanitasi terhadap perempuan dan berbagai elemen masyarakat lainnya (men, household, community) bukan hanya dampak dari adanya program tersebut secara garis besar yang lebih menjelaskan terkait peran baru dalam komunitas yang mereka miliki.

Referensi

Aureli, Alice and Claudine Brelet. Women and Water: An Ethical Issue. UNESCO. 2004. AusAID. Annual Program Performance Report 2010: Timor Leste. 2011.

(10)

AusAID. Past Reflections . . . Future Plans. An Independent Evaluation of AusAID’s Support to Rural WASH in Timor Leste. 2012.

DNSAS, Democratic Republic of Timor Leste. A Trainer’s Manual For Community WASH Planning. Book 1: Preparing For Community WASH Planning. 2011.

Inter-Agency Standing Committe (IASC). Women, Girls, Boys, and Different Needs, Equal Opportunities. 2006.

International Fund for Agricultural Development (IFAD). Gender and Water. Securing Water for Improved Rural Livelihoods: The Multiple-Uses System Approach. 2007.

Mack Phoebe. Assessment of Appropriate Sanitation Technologies in a Development Context. Case Study: Tangkae, Timor-Leste. 2006.

March, Candida, and Ines Smith. A Guide to Gender-Analysis Framework. Oxfam. 1995. Monitoring & Review Group (Finalized Report). Timor Leste. AusAID Rural Water Supply &

Sanitation Program (RWSSP / BESIK). April 2011 Visit. 2011.

http://www.besiktimor.org/, diakses pada tanggal 19 November 2013, pada pukul 11.42 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang diatas, penulis melakukan penelitian berupa pengenalan gender berdasarkan parameter fitur atau matriks ( features-based ) pada wajah dengan menggunakan

Menurut Diar Puji Oktavian (2010), Cascading Style Sheet (CSS) berfungsi untuk mengatur tampilan dengan kemampuan jauh lebih baik dari tag maupun atribut standar

Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) Kemampuan menentukan sikap terhadap pengaruh globalisasi yang terjadi di lingkungannya tanpa menggunakan metode demonstrasi

Nama RINA NURAWANI NIM 50063 7705 Program Studi : Magister Pendidikan Dasar Judul TAPM : HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PREST ASI BELAJAR SISW A KELAS

adalah vektor bobot yang menghubungkan setiap neuron pada lapisan input ke neuron pertama pada lapisan output, sedangkan adalah vektor bobot yang menghubungkan setiap neuron

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan, dikemukakan beberapa temuan yang berhubungan dengan pola pengendalian sosial pelanggaran disiplin sekolah

nelayan kupang di Desa Balungdowo merupakan salah satu kegiatan sosial ekonomi masyarakat karena melalui kegiatan ini hubungan sosial dalam masyarakat dapat

1) Kejadian Sentinel adalah Kejadian Tak Terduga (KTD) yang mengakibatkan kematian atau cidera yang serius/ kehilangan fungsi utama fisik secara permanen yang