PROPOSAL TESIS
Analisis Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor Dan Kontribusinya Terhadap Pajak
Daerah
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………...….i
BAB I Pendahuluan ……….…...1
1.1 Latar Belakang Masalah ……….…….1
1.2 Rumusan Masalah ……….………...4
1.3 Tujuan ………4
1.4 Manfaat Penelitian ……….….…..4
1.5 Batasan Masalah ……….………..5
BAB II Tinjauan Pustaka ………...6
2.1 Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) ………...6
2.2 Pajak ……….………...7
2.2.1 Fungsi Pajak ……….…..8
2.2.2 Macam-macam Tarif Pajak ………..………...9
2.2.3 Klasifikasi Pajak ……….…..10
2.2.4 Pajak Kendaraan Bermotor ………..………..12
2.2.5 Nilai Jual Kendaraan Bermotor ……….………14
2.3 Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) dengan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor ………. …..15
2.4 Konsep Produk Domestik Regional Bruto ...………..15
2.5 Hubungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita dengan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor ...16
2.6 Penelitian terdahulu ……….…….17
2.8 Kerangka Analisis ……….…...…18
BAB III Metode Penelitian …...19
3.1 Lokasi Penelitian ………..19
3.2 Objek Penelitian ……….…………..……19
3.3 Identifikasi Variabel ………..………..19
3.4 Jenis dan Sumber Data ……….………..19
3.5 Metode Pengumpulan Data ………20
3.6 Analisis Data ……….20
3.7 Sistematika Pembahasan ……….……20
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Untuk melaksanakan otonomi daerah secara nyata dan bertanggung jawab tolak ukur yang paling penting untuk menentukan tingkat kemampuan daerah adalah Pendapatan Asli Daerah (Aziz,1997).
Prinsip-prinsip keterbukaan, tanggung jawab terhadap masyarakat dan partisipasi masyarakat merupakan tanggung jawab dan kewenangan daerah otonom. Pemberian otonomi ini memiliki dasar prinsip berdasarkan pertimbangan dimana semua kebutuhan dan standar pelayanan bagi masyarakat daerah hanya daerah tersebut yang lebih mengetahui. Untuk menyemangati pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, pemberian otonomi daerah merupakan pengharapan dari pertimbangan ini.
Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan harkat, martabat, kualitas, serta kesejahteraan segenap lapisan masyarakat (Sumitro,1995). Untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berjalan secara berkesinambungan maka pembangunan merupakan suatu rangkaian proses pertumbuhan. Untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan bangsa dan negara secara merata dan adil, dan juga untuk mendapatkan kehidupan yang sejajar dari daerah yang lebih maju. Untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran yang adil dan merata kepada rakyat, alternatif yang dapat meningkatkan peran yang nyata dan kemandirian daerah dapat berupa pemberian otonomi kepada daerah tersebut.
bidang yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Diperlukan dana yang tidak sedikit dalam meningkatkan pembangunan. Untuk memenuhi peningkatan pembangunan pemerintah memperoleh dana dari luar negeri berupa pinjaman dan penjualan hasil alam dan produksi, serta penerimaan dari sktor pajak dari dalam negeri.
Sektor pajak merupakan salah satu sumber penerimaan dari dalam negeri. Sumber dana terbesar yang berasal dari mayarakat merupakan salah satunya ialah pajak. Salah satu tulang punggung penerimaan negara ialah pajak dimana semakin menurunnya penerimaan pemerintah dari sektor migas.
Dengan menyadari taat membayar pajak masyarakat mengetahui betapa pentingnya pajak bagi pembagunan nasional dan masyarakat dapat sadar bahwa mereka dapat ikut berperan dalam pembangunan nasional. Sejak tahun 1984 pajak mulai dipungut, dan sesuai degan Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 menganut Self Assesment System secara penuh, untuk membayar pajak masyarakat hendaknya berperan aktif untuk berpartisipasi. Aurbech dan Husset (1992) berpendapat dimana kebijakan pajak bertujuan untuk membangun menjaga kondisi perekonomian pada saat kesempatan kerja penuh. Di Indonesia pajak dikelmpokkan menjadi dua, yaitu Pajak Daerah dan Pajak Pusat. Pajak pusat dan pajak daerah merupakan suatu sistem perpajakan di Indonesia yang pada dasarnya merupakan beban masyarakat sehingga perlu dijaga agar kebijakan tersebut dapat memberikan beban yang adil kepada masyarakat (Acmad Lutfi, 2006).
rakyat memiliki beban seperti pajak, dan lain-lain. Pembinaan Pajak daerah saat ini dilakukan secara terpadu dengan pajak nasional, dimana akan saling melengkapi sehingga akan dilakukan terus menerus pembinaaan mengenai tarif pajak dan objek pajak.
Menurut Zaenal (1985) PAD yang antara lain berupa Pajak Daerah dan Retribusi Daerah diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian daerah mampu melaksanakan otonomi yaitu mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Begitu pula berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, APBD bersumber dari PAD dan Penerimaan berupa Dana Perimbangan yang bersumber dari APBN.
Semakin meningkatnya pelaksanaan tugas-tugas pemerintah, ini sesuai pula dengan disertai meningkatnya komunikasi dan teknologi, begitu pula dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi. Dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit untuk mewujudkan pembangunan, dan dapat dari berbagai sumber dana atau pendapatan. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “Analisis Faktor - faktor yang mempengaruhi peningkatan pendapatan pajak kendaraan bermotor dan kontribusinya terhadap pajak daerah”
Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalahnya:
1. Faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi pedapatan pajak kendaraan bermotor?
2. Kendala Apa saja yang mempengaruhi pendapatan pajak kendaraan bermotor ?
3. Bagaimana kontribusi pajak kendaraan bermotor dalam pajak daerah ? 1.3 Tujuan
Tujuan penelitian ini berdasarkan latar belakang masalah dan pokok permasalahannya ialah :
1. Untuk mengetahui Faktor- faktor apa saja yang mempengaruh pendapatan pajak kendaraan bermotor.
2. Untuk mengetahui Kendala Apa saja yang mempengaruhi pendapatan pajak kendaraan bermotor.
3. Untuk mengetahui persentase kontribusi pajak kendaraan bermotor pada pajak daerah.
1.4 Manfaat Penilitian 1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran, pemahaman dan wawasan yang lebih luas tentang sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari pajak serta proses penetapannya, khususnya Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dalam organisasi sektor publik.
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan masukan kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah dan Dinas Pendapatan Provinsi Jambi mengenai pajak Kendaraan Bermotor.
Penelitian ini hanya sebatas mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan pajak kendaraan bermotor, untuk mengetahui kendala apa saja yang mempengaruhi pendapatan pajak kendaraan bermotor, dan mengetahui persentase kontribusi pajak kendaraan bermotor pada pajak daerah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA Otonomi Daerah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menjelaskan definisi
otonomi daerah, yaitu hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Asas penting dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah yang perlu dipahami, antara lain:
2. Asas dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
3. Tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. 4. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah adalah suatu
sistem pembiayaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan daerah serta pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, serta kebutuhan daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
Otonomi daerah akan memberikan dampak positif di bidang ekonomi bagi perekonomian daerah. Beberapa indikator ekonomi atas keberhasilan suatu daerah dalam melaksanakan otonomi daerah adalah (Wenny, 2012):
1. Terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) riel, sehingga pendapatan per kapita akan terdorong.
2. Terjadinya kecenderungan peningkatan investasi, baik investasi asing maupun domestik.
3. Kecenderungan semakin berkembangnya prospek bisnis/usaha di daerah. 4. Adanya kecenderungan meningkatnya kreativitas pemda dan masyarakatnya.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Keuangan Daerah
daerah dalam membiayai pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial masyarakat. Keuangan daerah secara sederhana dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki dan dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai dengan ketentuan atau peraturan perundangan yang berlaku (Halim, 2007:230).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 1 ayat 5, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam rangka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Belanja Modal
Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tak berwujud.
Kemandirian Keuangan Daerah
pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah (Halim, 2002:128). Kemandirian keuangan daerah juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat kemandirian keuangan suatu daerah berarti semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen PAD.
Kemandirian keuangan daerah dapat diukur menggunakan rasio kemandirian. Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah, dan sebaliknya (Halim, 2004:150).
Pendapatan Asli Daerah
Menurut UU No. 33 Tahun 2004, Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber di dalam daerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber penerimaan daerah asli yang digali di daerah tersebut untuk digunakan sebagai modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana operasional keuangan pemerintah daerah, dimana di satu pihak menggambarkan perkiraan pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu, dan pihak lain menggambarkan perkiraan penerimaan dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaran-pengeluaran yang dimaksud (Halim, 2007:20).
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pasal 1 (b), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah suatu rencana keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah sesuai keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29Tahun 2002 mengenai pedoman pengurusan.
peningkatan kesejahteraan daerahnya dimana hal tersebut dapat dilihan antara lain:
1) Menentukan jumlah pungutan pajak dan retribusi daerah serta pengutan lainnya yang dilakukan kepada masyarakat.
2) Merupakan sarana mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab.
3) Memberikan isi dan arti kepada tanggung jawab pemerintah daerah umumnya dan kepada daerah yang khususnya, karena APBD menggambarkan seluruh kebijakan pemerintah daerah.
4) Merupakan sarana untuk melakukan pengawasan terhadap daerah dengan cara yang lebih mudah dan berhasil guna.
5) Merupakan suatu pemberian kuasa kepada kepala daerah untuk melakukan penyelenggaraan keuangan daerah di dalam batas- batas tertentu.
2.2 Pajak
keperluan negara diatur dengan undang-undang. Ketentuan ini secara tegas memisahkan antara pajak dengan pungutan lain yang bersifat memaksa.
Menurut Rochmat Sumitro (2000), pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk Public Saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai Public Investment.sedangkan menurut Ilyas dan Burton (2001:5), bahwa ada lima unsur yang melekat dalam pengertian pajak, yaitu :
1. Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang. 2. Sifatnya dapat dipaksakan.
3. Tidak ada kontra-prestasi (imbalan) yang langsung dapat dirasakan oleh pembayar pajak.
4. Pemungutan pajak dilakukan oleh Negara baik oleh pemerintah pusat ataupun daerah ( tidak boleh dipungut oleh swasta), dan
5. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah (rutin dan pembangunan) bagi kepentingan masyarakat umum.
2.2.1 Fungsi Pajak
Menurut IIyas dan Burton (2001 : 8), terdapat empat fungsi pajak yaitu:
1. Fungsi Budgeter yaitu fungsi untuk mengumpulkan uang pajak sebanyak banyaknya sesuai dengan undang-undang yang berlaku pada waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara baik untuk pengeluaran rutin ataupun pembangunan. Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Contoh : Dimasukkannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri.
untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang social dan ekonomi. Sebagai contoh yaitu dikenakannya pajak yang tinggi terhadap minuman keras, sehingga konsumsi minuman keras dapat ditekan, demikian pula terhadap barang mewah.
3. Fungsi Demokrasi yaitu suatu fungsi yang merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong, termasuk kegiatan pemerintah dan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.
4. Fungsi Distribusi yaitu fungsi yang lebih menekankan pada unsur pemerataaan dan keadilan dalam masyarakat. Wajib pajak harus membayar pajak, pajak tersebut digunakan sebagai biaya pembangunan dalam segala bidang. Pemakaian pajak untuk biaya pembangunan tersebut, harus merata ke seluruh pelosok tanah air agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmatinya bersama.
2.2.2 Macam-macam tarif Pajak
Tarif pajak merupakan salah satu unsur keadilan dalam pemungutan pajak bagi wajib pajak. Ilyas dan Burton (2001 : 26) berpendapat :
1. Tarif Degresif : Tarif degresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin kecil bila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak semakin besar.
3. Tarif Tetap : Tarif tetap adalah tarif pemungutan pajak yang besar nominalnya tetap tanpa memperhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Contoh Tarif tetap adalah tarif bea materai.
4. Tarif Proposional : Tarif Proposional adalah tarif pemungutan yang menggunakan persentase tetap tanpa memperhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Contoh tarif pajak proposional adalah tarif pajak pertambahaan nilai, pajak bumi dan bangunan, dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.
5. Tarif Spesifik : Tarif Spesifik adalah tarif dengan suatu jumlah tertentu atas suatu jenis barang tertentu atau suatu satuan jenis tertentu atau suatu satuan jenis barang tertentu.
6. Tarif Advalorem : Tarif advalorem adalah suatu tarif dengan persentase tertentu yang dikenakan atau ditetapkan pada harga atau nilai suatu barang.
2.2.3 Klasifikasi pajak
Menurut Soemitro (2000), pajak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu:
1. Pengelompokan pajak menurut golongan dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu:
a. Pajak Langsung yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak penghasilan. Hal ini juga diungkap oleh Eddy Suratman (2009) dimana pajak penghasilan dikenakan terhadap orang pribadi dan badan berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama 1 tahun penuh.
2. Pengelompokan Pajak menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
a. Pajak Objektif yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada obyeknya, tanpa memperhatikan diri wajib pajak. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
b. Pajak Subjektif yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subyeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh: Pajak Penghasilan.
3. Pengelompokan pajak menurut lembaga pemungutan pajak dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Pajak Daerah yaitu iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan perauturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Hal ini juga diungkap oleh Charney Alberta (1983) dimana pajak daerah juga dikumpulan oleh kotamadya dalam rangka mendanai pemerintah daerah.
b. Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan dipungut untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Atas Barang Mawah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Pajak Bea Materai.
Pajak kendaraan bermotor merupakan pajak atas kepemilikan kendaraan bermotor. Dalam hal ini kendaraan bermotor yang dimaksud ialah kendaraan beroda dua atau lebih yang dapat digunakan di jalan darat, yang digerakkan dengan tenaga bermotor atau tenaga yang dapat mengubah suatu sumber daya energi terntu menjadi tenaga gerak. Kendaraan yang dimaksud bisa juga berupa alat-alat besar yang dapat bergerak. Dengan menghitung hasil kali dari nilai jual kendaraan bermotor dan bobot yang mencerminkan secara relative kedar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat kendaraan bermotor itni merupakan dasar perhitungan pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
Masing-masing kendaraan bermotor dikenakan pajak sebesar 1,5% untuk kendaraan pribadi, sedangkan kendaraan bermotor umum dikenakan pajak 1,0% dan alat-alat berat atau alat-alat besar dikeakan pajak 0,5%.
- Istilah-istilah umum (PERGUB Nomor 17 Tahun 2012)
1. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan
digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya
yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu
menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan,
termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak;
2. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap kendaraan bermotor yang dipergunakan untuk pelayanan angkutan umum penumpang maupun
barang yang dipungut bayaran dengan menggunakan Tanda Nomor
3. Kendaraan Bermotor alat-alat berat atau alat-alat besar adalah alat-alat yang dapat bergerak / berpindah tempat dan tidak melekat secara
permanen;
4. Kepemilikan adalah hubungan hukum antara orang pribadi atau badan dengan kendaraan bermotor yang namanya tercantum di dalam bukti
kepemilikan atau dokumen yang sah termasuk Buku Pemilikan Kendaraan
Bermotor (BPKB);
5. Penguasaan adalah penggunaan dan atau penguasaan fisik kendaraan bermotor oleh orang pribadi atau badan dengan bukti penguasaan yang sah
menurut ketentuan perundangan yang berlaku.
- Subjek Pajak (PERGUB Nomor 17 Tahun 2012)
Yang menjadi subjek PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) adalah Orang
pribadi atau Badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan
bermotor.
- Dasar Pengenaan Pajak (PERGUB Nomor 17 Tahun 2012)
1 .
DPP PKB adalah perkalian antara Nilai Jual Kendaraan Bermotor dengan Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor. 2
a. Isi silinder dan atau satuan daya kendaraan bermotor;
b. Penggunaan kendaraan bermotor, yang dihitung berdasarkan faktor tekanan gandar, jenis bahan bakar, jenis, penggunaan, tahun pembuatan, ciri-ciri kendaraan bermotor;
d. Merek kendaraan bermotor;
e. Tahun pembuatan kendaraan bermotor;
f. Berat total kendaraan bermotor dan banyaknya penumpang yang diizinkan;
g. Dokumen impor untuk jenis kendaraan bermotor tertentu.
2.2.5 Nilai jual kendaraan bermotor
Harga pasaran umum (HPU) merupakan harga rata-rata yang didapat dari sumber terpercaya (perusahaan pemegang merek dan asosiasi penjual kendaraan bermotor) terhadap Nilai Jual Kendaraan Bermotor berbagai tipe ( jenis jeep, motor, mobil, mini bus, bus, pick up, truk, alat berat dll).
2.3 Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) dengan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
Nilai Jual Kendaraan Bermotor sangat mempengaruhi Penerimaan Pajak Kendaraan bermotor karena pusat pegenaan dari Pajak Kendaraan Bermotor adalah Niali Jual Kendaraan Bermotor. Sehingga akan ada hubungan yang positif antara Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dengan Nilai Jual kendaraan Bermotor, karena ketika pajak kendaraan bermotor itu naik maka Nilai Jual Kendaraan Bermotor juga akan mengalami kenaikan.
1. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah
UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dimana dinyatakan dalam Pasal 2 ayat (4) yang antara lain menyatakan bahwa objek pajak daerah bukan merupakan objek pajak pusat.
Sementara itu, apabila kita perhatikan sistem perpajakan yang dianut oleh banyak negara di dunia, maka prinsip- prinsip umum perpajakan daerah yang baik pada umumnya tetap sama, yaitu harus memenuhi kriteria umum tentang perpajakan daerah sebagai berikut:
• prinsip memberikan pendapatan yang cukup dan elastis, artinya dapat mudah naik turun mengikuti naik/turunnya tingkat pendapatan masyarakat.
• adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkatan kelompok masyarakat dan horizontal artinya berlaku sama bagi setiap anggota kelompok masyarakat sehingga tidak ada yang kebal pajak.
• administrasi yang fleksibel artinya sederhana, mudah dihitung, pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak .
• secara politis dapat diterima oleh masyarakat, sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak.
• Non-distorsi terhadap perekonomian : implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan su atu beban baik bagi konsumen maupun produsen. Jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan, sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss).
Untuk mempertahankan prinsip-prinsip tersebut, maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri dimaksud, khususnya yang terjadi
di banyak negara sedang berkembang, adalah sebagai berikut:
• relatif stabil, artinya penerimaan pajak nya tidak berfluktuasi terlalu besar, kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam.
• tax basenya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay ).
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ot onomi daerah, maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum, seyogyanya, juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi.
Menurut Teresa Ter-Minassian (1997), beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat
Pemerintahan Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota, yaitu :
1) Pajak yang dimaksudkan untuk tuj uan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharus nya tetap menjadi tanggungjawab Pemerintah Pusat.
3) Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah, seharusnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat.
4) Pajak daerah seharusnya “visible”, dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah, objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihi tung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah.
5) Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain, karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan).
6) Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fi skal vertikal yang besar. Hasil penerimaan, idealnya, harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi.
7) Pajak yang diserahkan kepada d aerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data , seperti identifikasi jumlah pembayar pajak, penegakkan hukum (law- enforcement) dan komputerisasi.
8) Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan, namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal.
2.4 Konsep Produk Domestik Regional Bruto
dihasilkan oleh berbagai sektor/lapangan usaha yang melakukan kegiatan/usahanya di daerah/wilayah tertentu tanpa memperhatikan kepemilikan atas faktor produksi. Sehingga dapat disimpulkan yang dimaksud dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita adalah salah satu tolak ukur untuk tingkat kesejahteraan suatu daerah dengan menggunakan pendapatan rata-rata penduduk.
2.5 Hubungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita dengan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
Indeks pembangunan di bidang perekonomian dapat menggunakan Pertumbuhan PDRB per kapita, denngan kata lain apabila daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor dan jumlah kendaraan bermotor bertambah itu berarti terdapat peningkatan PDRB perkapita atau peningkatan pendapatan penduduk. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dengan PDRB per kapita, karena apabila Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor itu mengalami peningkatan begitu juga dengan PDRB per kapita juga mengalami peningkatan.
2.6 Penelitian terdahulu
pertumbuhan, rasio efesiensi, rasio efektivitas, dan kontribusi masing-masing sumber penerimaan pajak daerah terhadap peningkatan PAD tahun anggaran 2000-2004. Hasilnya ialah pertumbuhan pajak, retribusi dan PAD mengalami fluktuasi, rasio pertumbuhan pajak dan retribusi daerah tahun 2002-2003 mengalami penurunan. Untuk kontribusi PAD, pajak daerah memberikan kontribusi yang lebih besar dari komponen PAD lainnya termasuk retribusi daerah. Bila dilihat dari efektivitas penerimaan pajak dan rasio efisiensi, efektivitas diatas 100% dan efisiensi di bawah 60% ini merupakan kinerja baik dari retribusi daraerah.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada objeknya menggunakan pajak kendaraan bermotor dan perbedaan yang lain terletak pada lokasi dan waktu penelitian dan variabel .
2.7 Hipotesis
1. Untuk mengetahui Faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi pedapatan pajak kendaraan bermotor.
2. Diduga terdapat Kendala yang mempengaruhi pendapatan pajak kendaraan bermotor.
3. Kontribusi pajak kendaraan bermotor pada pajak daerah Provinsi Jambi.
1. Nilai Jual Kendaraan Bermotor 2. Biaya Balik Nama
3. Pajak Kendaraan 5 Tahunan
4. Pajak Tahunan Kendaraan Bermotor 5. Pendapatan daerah dari pajak 3.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu : 1. Jenis Data Menurut Sumbernya :
Data ini berupa data sekunder, data yang dikumpulkan dari berbagai sumber terkait.
2. Jenis data menurut sifatnya :
Data yang digunakan ialah data kuantitatif, mengacu pada biaya dan pendapatan dari pembayaran pajak kendaraan bermotor.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara : - Metode Literatur
Yaitu mendapatkan data dengan cara mengumpulkan, mengindentifikasi, mengolah data tertulis dan metode kerja yang digunakan. Data tertulis bisa juga didapatkan dari instansi-instansi yang terkait.
3.6 Analisis Data
Data pajak kendaraan bermotor, berdasarkan variabel-variabel yang telah disebutkan sebelumnya, akan dianalisis menggunakan alat bantu pengolahan SPSS.
3.7 Sistematika Pembahasan
Tesis ini terbagi dalam lima bab dan pada tiap bab terbagi dalam sub bab-sub bab dengan urutan pembahasan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
sistematika pembahasan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini dibahas teori-teori yang melandasi pembahasan dalam tesis yang meliputi pengertian PKB, pendapatan daerah, pajak daerah, kontribusi pajak terhadap PDRB dan lainnya.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dijelaskan mengenai metode penelitian yang digunakan dalam penyelesaian Tesis.
BAB IV PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan melakukan pembahasan dan evaluasi terhadap Pajak Kendaraan Bermotor dan kontribusinya berdasarkan landasan teori yang dijelaskan dalam Bab II .
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini penulis mengambil kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan pada Bab IV. Dan atas dasar kesimpulan tersebut penulis mencoba mengemukakan beberapa alternatif pemecahan masalah yang dipandang cukup relevan dengan pembahasan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Eriadi. 2004. Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Sebelum dan Setelah Otonomi Daerah (Suatu tinjauan Terhadap Perubahan Regulasi Keuangan Daerah). Tesis, Medan.
Florida, Asha. 2007. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Dan Kota di Propinsi Sumatera Utara. Tesis, Medan
Harianto, D dan Adi, Priyo Hari. 2007. Hubungan antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Asli daerah.
Proceeding SNA X. Makassar.
Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Erlangga. Jakarta
Maimunah, M.2006. Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Pada Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera. Proceeding SNA IX. Padang
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. ANDI. Yogyakarta
Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:
Penerbit ANDI.
Nuarisa, SA. 2013. Pengaruh PAD, DAU dan DAK Terhadap Pengalokasian Anggaran Belanja Modal. Accounting Analysis Journal. Vol.1. Pp. 89-95.
Nugroho, Fajar dan Abdul Rohman. 2012. Pengaruh Belanja Modal Terhadap Kinerja Keuangan Daerah dengan Pendapatan Asli Daerah sebagai Variabel Intervening. Diponegoro Journal of Accounting.Vol. 1. Pp. 1-14.
Sumitro, Rohmat. 1990. Azas dan Dasar Perpajakan. Bandung: PT Eresco. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Sekretariat Negara. Jakarta
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Sekretariat Negara. Jakarta
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Sekretariat Kabinet RI. Jakarta
Peraturan Gubernur Jambi Nomor 27 tahun 2012 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor Dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2012. Jambi
Peraturan Gubernur Jambi Nomor 17 tahun 2012 tentang Tata Cara Penghapusan/Pengurangan, Dan Pembatalan Ketetapa, Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak Dan Bea Balik Nama Kendaran Bermotor Dan Sanksi Administrasi.Jambi
Peraturan Gubernur Jambi Nomor 16 tahun 2012 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemungutan Pajak Daerah.Jambi
Sasana, H. 2011. Analisis Determinan Belanja Daerah Di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Dalam Era Otonomi dan Desentralisasi Fiskal.
Jurnal Bisnis dan Ekonomi. Vol. 18. Pp. 46-58.
Setiaji, W dan Priyo Hari Adi. 2007. Peta Kemampuan Keuangan Daerah Sesudah Otonomi Daerah : Apakah Mengalami Pergeseran ?. Proceeding SNA X. Makassar.
Sudarsana, H S. 2O13. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Dan Temuan Audit BPK Terhadap Kinerja Keuangan Daerah. Diponegoro Journal of Accounting.
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sularso, Havid dan Restianto, Yanuar E. 2011. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Alokasi belanja Modal dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Media Riset Ekonomi. Purwokerto. Vol.1. Pp.109-124.
Wenny, CD. 2012. Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Kabupaten dan Kota Di Propinsi Sumatera Selatan. Forum Bisnis Dan Kewirausahaan Jurnal Ilmiah STIE MDP. Vol.2. Pp. 39-51.
Wertianti, I G A Gede dan A.A.N.B. Dwirandra. 2013. Pengaruh pertumbuhan ekonomi pada belanja modal dengan PAD dan DAU sebagai variabel moderasi. E-jurnal akuntansi universitas udayana. Pp.567-584
www.id.wikipedia.org/wiki/Pajak
Yovita, F M. 2011. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum Terhadap Pengalokasian Belanja Modal.