• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRO"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI PADI SAWAH (Tania Oryza) DI KECAMATAN BATANG ASAI KABUPATEN

SAROLANGUN PROPOSAL SKRIPSI

KHOIRIYYAH AL-ADAWIYYAH D1B014074

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTAIAN UNIVERSITAS JAMBI

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal skripsi dengan judul “ Analisis Efisiensi Ekonomi Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah. Proposal skripsi ditulis guna memenuhi syarat dalam menyelesaikan tugas matakuliah Metode Penelitian Agribisnis “

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Prof Dr Ir. H. Zulkifli A, M.Sc dan ibu Dr. Ir. Ernawati HD, M.P selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan proposal skripsi ini, sehingga proposal skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa proposal skripsi ini masih banyak terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar proposal ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap kerangka acuan proposal skripsi ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada umumnya dan pada penulis pada khususnya.

Jambi, 08 Oktober 2016

(3)

DAFTAR ISI

2.3 Konsep Fungsi Produksi... 13

2.4 Konsep Efisiensi Ekonomi... 16

2.5 Kerangka Pemikiran... 19

2.6 Hipotesis... 21

BAB. III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian... 23

3.2 Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data... 24

(4)

3.4 Metode Analisis Data... 25

3.5 Konsepsi Pengukuran ... 29

DAFTAR PUSTAKA... vii

(5)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Luas panen produksi rata-rata produksi padi menurut Kecamatan di

Kabupaten Sarolangun pada Tahun 2015... 2 2. Luas panen produksi dan rata-rata produksi padi di Kecamatan Batang Asai

(6)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

(8)
(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sasaran pembangunan pertanian di Indonesia adalah untuk menciptakan ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani. Ketersediaan pangan merupakan hal penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, khususnya kebutuhan makanan sebagai kebutuhn dasar dan kebutuhan pokok manusia.

Di antara berbagai sumber bahan makanan pokok di Indonesia padi merupakan salah satu komoditi yang menjadi sumber penting bagi ketahanan pangan nasional dan pemberdayaan ekonomi rumah tangga petani di Indonesia. Usahatani padi sawah merupakan salah satu usahatani paling utama di Indonesia dan merupakan salah satu usahatani yang dijadikan penopang dalam produksi beras nasional. Mulanya, usahatani padi sawah hanya berada di wilayah jawa, namun pada saat ini usahatani padi sawah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan padi merupakan komoditi penghasil sumber bahan pangan utama masyarakat di Indonesia yaitu nasi. Seiring berjalannya waktu permintaan akan hasil dari usahatani padi sawah semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin pesat pula. Hingga saat ini kebutuhan pangan utama masyarakat Indonesia tidak tergantikan oleh komoditi lain yang memiliki kandungan gizi yang sama dengan padi seperti ubi, jagung, dan lain-lain. (Retno, 2011)

(10)

permintaan pasar, hal ini disebabkan karena masih banyaknya kelemahan dalam meningkatkan produktivitas usahatani padi sawah yaitu pada sistem pengolahan tanah yang salah, penggunaan air yang boros, tenaga kerja yang dibutuhkan begitu banyak dan biaya yang dikeluarkan. Penggunaan faktor produksi yang tidak efisien dalam usahatani padi sawah akan mengakibatkan rendahnya produksi dan tingginya biaya yang dikeluarkan sehingga mengakibatkan pendapatan petani yang menurun serta tidak tercukupinya kebutuhan konsumsi beras masyarakat yang berarti dapat mengancam ketahanan pangan. (Suratiyah, 2015)

(11)

Sumber : Sarolangun Dalam Angka 2016

(12)

Tabel.2

Besar kecilnya luas lahan yang diusahakan bukan menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya produksi usahatani. Faktor lain yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya produksi suatu usahatani ialah penggunaan tenaga kerja, modal, serta manajemen usahatani itu sendiri (Suratiyah, 2015)

Secara geografis Kabupaten Sarolangun berada pada posisi astronomi 1020 03’ 39” sampai 1030 13’ 17” BT dan 010 53’ 39” LS sampai 020 46’ 24” LS (Meridian Greenwich), dengan posisi eostrategic terletak di wilayah Barat Provinsi Jambi, yang memiliki luas 6.174 km² sedangkan Kecamatan Batang Asai memiliki luas sebesar 858 km2 atau 13,90 % dari luas keseluruhan

(13)

Kabupaten Sarolangun adalah 3.819 Ha atau 0,62% dari luas Kabupaten Sarolangun. (RKPD Sarolangun, 2016).

Penggunaan lahan di kabupaten Sarolangun untuk usahatani padi sawah tidak seluas penggunaan lahan untuk usahatani padi sawah sawah di kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang luasnya mencapai 33.540 ha. Namun, hasil produksi dari usahatani padi sawah Kabupaten Sarolangun dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan pangan khususnya bagi masyarakat di Provinsi Jambi.

Luas lahan suatu usahatani dapat mempengaruhi besarnya produksi dan memberi pengaruh terhadap penerimaan petani, namun faktor-faktor produksi lain seperti modal, tenaga kerja, dan skill juga dapat memberikan pengaruh apabila digunakan dalam waktu yang tepat dan dalam penggunaannya ditinjau terlebih dahulu. Berdasarkan uraian di atas maka

dilakukan penelitian mengenai “Analisis Efisiensi Penggnaan Faktor

Produksi Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun

1.2 Perumusan Masalah

(14)

Perubahan jumlah penduduk mendorong meningkatnya kebutuhan manusia yang beraneka ragam, terutama kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan pangan. Maka perlu digalakkan usaha peningkatan produksi beras sebagai bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Salah satu upaya peningkatan produksi beras ialah dengan upaya intensifikasi lahan padi sawah atau pengoptimalan lahan usahatani yaitu dengan cara penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, irigasi sawah yang bagus, pemberian pupuk yang teratur serta pemberantasan hama. Penggunaan faktor produksi yang optimal juga mampu meningkatkan produksi dari suatu usahatani.

Kenaikan dan penurunan produksi padi sawah di Kecamatan Batang Asai dapat terjadi karena perubahan penggunaan faktor-faktor produksi. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa produk-produk pertanian dihasilkan dari kombinasi faktor produksi lahan, tenaga kerja modal, (pupuk, benih, dan obat-obatan). Dalam usaha teknologi penggunaan faktor-faktor produksi memegang peranan yang sangat penting, karena kurang tepatnya penggunaan jumlah dan kombinasi faktor produksi mengakibatkan rendahnya produksi yang dihasilkan atau tingginya biaya produksi. Rendahnya produksi dan tingginya produksi akan mengakibatkan rendahnya pendapatan petani. Karena keterbatasan pengetahuan petani dalam konsep-konsep usahatani, masih banyak petani yang belum memahami bagaimana faktor produksi digunakan secara efisisen.

Dari uraian di atas maka perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh penggunaan faktor produksi dengan jumlah produksi padi sawah di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun?

(15)

1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi dengan jumlah produksi padi sawah di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun.

2. Untuk mengetahui kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yang dialokasikan petani dalam mencapai efisiensi pada usahatani padi sawah di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Menjadi bahan masukan untuk meningkatkan pengethuan dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang berkepentingan.

2. Sebagai bahan masukan bagi petani dalam berusahatani yang efisien secara ekonomi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usahatani Padi Sawah

(16)

bangunan-bangunan, yang didirikan diatas tanah dan sebagiannnya. (Mubyarto, 1989)

Usahatani padi sawah merupakan suatu kegiatan pertanian tanaman pangan yang diusahakan pada lahan berair. Tinggi rendahnya produksi suatu usahatani tergantung pada bagaimana petani dalam mengalokasikan faktor produksi yang digunakan. Secara umum tujuan dari petani dalam mengusahakan padi adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masih belum sepenuhnya untuk tujuan ekonomi, sehingga hal ini menjadi salah satu penghambat dalam memajukan bidang pertanian karena bidang pertanian dapat bergerak maju apabila suatu usaha pertanian diarahkan pada praktek ekonomi modern yang berorientasi pada keuntungan, berjalan dinamis, dan haus akan teknologi. (Daniel, 2001)

(17)

Dalam suatu usaha pertanian, produksi diperoleh melalui proses yang sangat panjang dan penuh dengan resiko usaha.dengan waktu cukup lama dan tergantung pada jenis komoditi yang diusahakan. Disamping itu, kecukupan faktor produksi yang dialokasikan pada setiap skala usaha tertentu juga merupakan penentu dalam mencapai produksi yang optimum. Dengan demikian suatu fungsi dari suatu produksi yang dihasilkan merupakan cerminan dari interaksi antara satu input dengan input lainnya yang terkait antara satu sama lain selama proses produksi berlangsung. Semakin banyak jumlah input yang digunakan dalam proses produksi maka dapat menyebabkan kenaikan hasil produksi ataupun penurunan hasil produksi. (Daniel, 2001)

2.2.1 Lahan

Lahan pertanian merupakan tanah yang disiapkan untuk diusahakan usahatani seperti sawah, tegal, dan pekarangan. Sedangkan lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menyalurkan dan menahan air yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang status kepemilikan lahan. Lahan rawa yang ditanami padi dan lahan bekas tanaman tahunan yang ditanami padi maupun palawija, juga dapat dikategorikan sebagai sawah. (Soekartawi, 1994)

Berdasarkan survei penggunaan lahan pertanian (2010), rata-rata pengusahaan lahan sawah per rumah tangga di Provinsi Jambi semakin berkurung. Hal ini seiring dengan penurunan tingkat penggunaan lahan sebagai lahan pertanian.

(18)

mengatasi permasalahan tersebut, maka upaya yang dilakukan selain penggunaan teknologi ialah dengan menerapkan diversifikasi, intensifikasi, ataupun ekstensifikasi lahan.

Pengukuran luas lahan usahatani dapat diukur berdasarkan luas total lahan yang merupakan jumlah keseluruhan tanah yang ada di dalam usahatani termasuk sawah, tegal, pekarangan, jalan saluran, dan sebagianya. Luas lahan pertanaman merupakan jumlah seluruh tanah yang dapat ditanami atau diusahakan. Dipandang dari sudut efisiensi, semakin luas lahan yang diusahakan maka semakin tinggi produksi dan pendapatan per satuan luasnya. Luas tanaman adalah jumlah luas tanaman yang ada pada suatu saat. (Suratiyah, 2015)

2.2.2 Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung pada musim. Kelangkaan tenaga kerja mengakibatkan mundurnya waktu penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.

Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usahatani keluarga, khususnya tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga tani yang umumnya sangat terbatas kemampuannya sangat ditentukan dari segi modaldan peranan tenaga kerja keluarga. Jika masih dapat dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga luar

yang berarti menghemat biaya. Baik pada usahatani keluarga maupun

perusahaan pertanian, peranan tenaga kerja belum sepenuhnya dapat teratasi dengan teknologi yang menghemat tenaga (teknologi mekanis). Hal ini dikarenakan selain mahal, juga ada hal-hal tertentu yang tidak dapat digantikan oleh selain tenaga kerja manusia. (Suratiyah, 2015)

(19)

tenaga kerja bidang usahatani menurut Tohir (1983) dalam Suratiyah (2015) adalah sebagai berikut : (1) Keperluan dalam tenaga kerja usahatani tidak kontinyu dan tidak merata, (2) Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas, (3) Tidak mudah distandarkan, dirasionalkan, dan dispesialisasikan, (4) Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Menurut Tohir (1991), tenaga kerja keluarga merupakan tulang punggung dalam berusahatani, maka harus digunakan secara rasional dan efisien. Secara umum tenaga kerja di Indonesia merupakan tenaga kerja dengan tingkat pengetahuan yang minim karena berasal dari dalam keluarga atau turun temurun diwariskan dari keluarga. Sehingga tingkat pengetahuan mengenai usahatani mereka rendah namun secara pengalaman ilmu yang dimiliki para petani tersebut tinggi. Dengan tingkat pengetahuan yang rendah maka pada umumnya para petani sulit menerima dan menerpkan teknologi pertanian atau inovasi. Kondisi tersebut akan mempengaruhi pencapaian produksi dan produktivita yang tinggi dalam berusahatani.

(20)

HKSP = X

Y Z

Dimana : x = Upah tenaga kerja yang bersangkutan

y = Upah tenaga kerja pria

z = Satu HKSP

Selanjutnya Suratiyah (2015), mengatakan bahwa untuk menghitung tenaga kerja yang dibutuhkan digunakan satuan Jam Kerja Orang (JKO) dan hari kerja orang (HKO). Dimana JKO dalam hal ini didasarkan pada jam kerja dan HKO berdasarkan hari kerja. Secara formulates dapat diformulasikan sebagai berikut:

HKO = (HK X JK)

7

Atau 1 HKO = 7JKO

Dimana : HK = Hari kerja (hari)

JK = Jam kerja (jam)

HKO = Hari Kerja Orang

JKO = Jam Kerja Orang

2.2.3 Modal

(21)

sebagian lagi digunakan untuk memproduksi barang-barang baru, inilah yang disebut sebagai modal. Jadi dapat dikatakan bahwa modal merupakan setiap hasil atau produk kekayaan yang digunakan untuk memproduksi hasil selanjutnya,

Modal dalam usahatani diklasifikasikan sebagai bentuk kekayaan, baik berupa uang maupun barang yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu secara langsung atau tak langsung dalam suatu proses produksi. Pembentukan modal bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani, serta menunjang pembentukan modal lebih lanjut. (Hanafie, 2010)

Menurut Soekartawi (1994) Dalam kegiatan proses produksi pertanian, modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan modal tidak tetap (variabel). Model tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi tersebut. Tanah, bangunan, dan mesin merupakan faktor produksi yang digolongkan dalam modal tetap. Sedangkan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali proses produksi, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan atau yang dibayarkan untuk tenaga kerja. Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari berbagai hal seperti skala usaha, macam komoditas yang diusahakan, dan ketersediaan kredit.

Penggolongan modal menjadi modal tetap dan tidak tetap digunakan berhubungan dengan perhitungan biaya. Biaya modal bergerak harus sama sekali diperhitungkan dalam harga biaya rill, sedangkan biaya modal tetap diperhitungkan melalui penyusutan nilai. (Daniel, 2001)

2.3 Konsep Fungsi Produksi

(22)

variabel yang menjelaskan biasanya berupa input. Secara matematis, hubungan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Y = f ( X1, X2, X3, X4, ……… Xi,………Xn)

Dimana :

Y = Output

X1, X2, X3, X4, …… Xi,……Xn = Input

f = symbol fungsional antara x dan y

Dalam perhitungan analisis ekonomi usahatani, dikenal tiga macam

produk, yaitu average product, total product, dan marginal product. Konsep

kurva produksi melukiskan hubungan antara konsep average product (AP) dengan Marginal Product (MP) yang disebut kurva total product. Rata-rata produksi menunjukkan jumlah output produk yang dihasilkan. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

AP = Y

X

Dimana : AP = Produki rata-rata

Y = Output

X = Input

Sedangkan marginal product (MP) mengukur banyaknya penambahan atau pengurangan totul output dari penambahan input yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

MP = △Y

X

(23)

△X = peubahan input

Gambar.1

Menurut Sukirno (2014), dalam kurva produksi klasik terdapat tiga daerah yaitu peningkatan MP, penurunan MP, dan MP negatif. Dimana daerah 1 nilai elastisitasnya lebih besar dari 1 (E>1), hal ini terjadi ketika MP > AP . AP akan meningkat pada daerah 1 atau daerah a pada Gambar 1. Hal ini menunjukkan bahwa setiap penambahan produksi sebesar satu satuan akan menyebabkan peningkatan produksi yang lebih besar dari satu-satuan, serta produsen belum mencapai produksi yang maksimum seperti yang ditunjuukkan pada Gambar.1 Daerah satu ini disebut sebagai daerah irasional atau belum efisien.

(24)

penambahan input sebesar satu-satuan akan meningkatkan produksi paling besar satu-satuan dan paling kecil nol satuan. Daerah ini merupakan daerah rasional atau daerah efisien.

Daerah III yang ditunjukkan dengan daerah c pada Gambar.1 merupakan daerah dengan elastisitas lebih kecil daripada nol yang terjadi ketika MP bernilai negatif yang berarti bahwa setiap penambahan satu satuan input akan menyebabkan penurunan produksi.

Fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Secara matematis persamaan Cobb Douglas dapat ditulis sebagai berikut :

Y = Ax1b1X2b2X3b3X4b4……X ibieu

Untuk memudahkan penghitungan fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditransformasikan kedalam bentuk logaritma sehingga fungsi produksi tersebut adalah sebagai berikut :

Log Y = Log a + b1 Log X1 + b2 Log X2 + b3 Log X3 + b4 Log X4…+ bi Log Xi+e

b1, b2,….. bi pada fungsi Cobb Douglas menunjukkan elastisitas X

terhadap Y, dan jumlah elastisitas merupakan return to scale. (Soekartawi, 1994)

2.4 Konsep Efisiensi Ekonomi

Dalam terminologi ilmu ekonomi, pengertian efisiensi dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga), dan efisiensi ekonomi.

(25)

produk marginal untuk suatu input tertentu sama dengan harga input tersebut. Efisiensi teknis merupakan besaran yang menunjukkan perbandingan antara produksi sebenanya dengan produksi maksimum. Sedangkan efisiensi ekonomi adalah besaran yang menunjukkan perbandingan antara keuntungan yang sebenarnya dengan keuntungan maksimum. (Soekartawi, 1994)

Menurut Soekartawi (1994) efisiensi ekonomi terjadi pada saat nilai produk marginal dari setiap unit tambahan masukan sama dengan harga dari setiap unit masukan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

NPMx = Px

Dimana: NPMx = Nilai produk marjinal dari masukan x

Px = Harga masukan

NPMx = bi. Y . PyXi

Dimana Py = Harga produk

Y = Rata-rata hasil produksi ke-i

Xi = Rata-rata penggunaan faktor produksi ke-i

bi = Koefisien regresi faktor produksi ke-i

Namun demikian kenyataan yang banyak terjadi NPMx tidak selalu

sama dengan Px. yang sering terjadi adalah a) NPM xP x > 1, artinya

penggunaan masukan (x) belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi, pada

kondisi ini masukan (x) masih bisa ditambah. b) NPM x

P x < 1, artinya

(26)

Menurut Soekartawi (1994) setelah penggunaan faktor produksi dalam suatu usahatani dievaluasi dengan menggunakan rumus efisiensi teknik dan efisiensi harga apakah sudah mencapai tingkat efisiensi secara ekonomi, maka perlu diketahui bagaimana faktor produksi yang digunakan mempengaruhi tingkat efisiensi tersebut dan pada kombinasi penggunaan faktor produksi optimal manakah yang memberikan keuntungan maksimum bagi petani padi sawah. Berdasarkan konsep keuntungan maksimum yang diacu pada kondisi produksi marjinal, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:

Xi= bi. Py . YPxi

Dimana: Pxi = Harga rata-rata faktor produksi ke-i

Py = Harga rata-rata produksi ke-i

Y = Produksi rata-rata padi sawah

bi = Elastisitas produksi (Koefisien regresi faktor produksi ke-i)

Xi = Kombinasi faktor produksi yang optimal

2.5 Penelitian Terdahulu

(27)

Selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan Nainggolan (2011) dalam tesisnya yang berjudul Pengaruh Program Penguatan Modal Petani Terhadap Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi diketahui bahwa rata-rata usahatani petani sudah efisien secara teknis namun belum efisien secara ekonomi. Ditemukan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh positif dan nyata terhadap efisiensi adalah luas lahan, benih, pupuk Urea dan keikutsertaan petani dalam program PMP. Sedangkan penggunaan pupuk TSP tidak berpengaruh nyata dan bertanda negatif terhadap tingkat produksi dan efisiensi usahatani padi sawah di Tanjung Jabung Barat.

Penelitian oleh Respikasari (2012) yang berjudul Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Dalam Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Karanganyar ditunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah di Kabupaten Karanganyar adalah luas lahan, tenaga kerja, benih, dan pupuk urea. Petani padi sawah di Kabupaten Karanganyar dalam mengkombinasikan faktor produksi luas lahan belum mencapai efisiensi ekonomi, penggunaan faktor produksi tenaga kerja dan benih tidak efisien, sedangkan faktor produksi pupuk urea sudah mencapai efisiensi ekonomi tertinggi. Nilai elastisitas produski (RTS) adalah 1, 055 yang berarti secara umum usahatani padi sawah di Kabupaten Karanganyar masih bisa beroperasi dengan skala usaha yang meningkat ( Increasing Return to Scale) tetapi sudah mendekati kondisi konstan.

2.6 Kerangka Pemikiran

(28)

Dari data yang dilihat selama 5 tahun terakhir pada Tabel.2 menunjukkan bahwa kenaikan dan penurunan produksi padi sawah di Kecamatan Batang Asai terjadi karena perubahan penggunaan faktor-faktor produksi. Fluktuasi tersebut juga dipengaruhi oleh kombinasi penggunaan faktor produksi yang berbeda dalam setiap musim tanam.

Tinggi rendahnya pendapatan akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan petani khususnya dalam menyediakan faktor produksi dengan tingkat harga pada input tertentu. Terlepas dari pendapatan yang diterima, dalam hal ketersediaan faktor produki dipengaruhi oleh tinggi rendahnya harga faktor produksi dan ketersediannya di pasar. Hal ini akan mempengaruhi kombinasi penggunaan faktor produksi yang optimal antara satu input dengan input yang lain dalam memaksimumkan keuntungan petani. Sehingga dengan kombinasi input yang optimal dan tersedia pada setiap musim tanam akan mengarah pada efisisensi ekonomi siatu usahatani.

Dalam menganalisa suatu usahatani yang efisien dua hal yang dicapai adalah yang dapat meminimumkan biaya dan memaksimumkan pendapatan petani pada tingkat skala yang optimum. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang diperlukan dalam melakukan kegiatan usahatani padi sawah.

Modal juga diperlukan dalam mengelola usahatani padi sawah karena sangat memegang peranan penting dalam menjalankan usahatani. Ketersediaan modal menjadi peran utama dalam kegiatan usahatani.

(29)

2.7 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian diatas maka dirumuskan beberapa hipotesis yang akan di uji kebenarannya dalam penelitian ini yaitu :

1. Diduga ada pengaruh yang nyata dari penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi sawah di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Srolangun.

2. Diduga bahwa petani padi sawah di Kecamatan Batang Asai dalam

(30)

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara survey terhadap petani padi sawah yang berada di Kecamatan Btang Asai Kabupaten Sarolangun selama satu musim tanam. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi dengan jumlah produksi, kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yang dialokasikan petani dalam mencapai efisiensi dan kondisi skala usahahatani padi sawah.

Sebagai obyek peneltian adalah petani padi sawah yang menghasilkan padi sawah pada satu kali musim tanam tahun 2016. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 07 september 2016 sampai 07 oktober 2016.

Adapun data yang dikumpulkan untuk membahas analsisi efisiensi ekonomi usahtani ini adalah:

1. Identitas sampel yang meliputi nama, umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman berusahatani, dan jumlah anggota keluarga.

2. Jumlah luas lahan (ha) yang diushakan petani.

3. Jumlah produksi padi sawah (kg) pada berbagai jenis pengairan dalam bentuk gabah kering giling (GKP).

4. Jumlah penggunaan faktor produksi selama satu kali tanam.

5. Harga jual produksi padi sawah gabah kering panen (Rp/kg), harga pembelian faktor produksi (Rp) dan data-data lain yang relevan dengan penelitian ini.

3.2 Sumber dan Metode Pengumpulan Data

(31)

1. Interview, yaitu pengumpulan data yang berasal dari wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner) secara langsung dengan petani padi sawah.

2. Observasi, yaitu dengan cara pengamatan lansgung secara sistematis

terhadap aktivitas petani padi sawah.

3. Studi Pustaka, yaitu guna menunjang pengumpulan data dilapangan,

diperlukan studi kepustakaan dimana digunakan literature yang berhubungan dengan judul penelitian.

3.3 Metode Penarikan Sampel

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Terdapat 9 (sembilan) desa yang mengusahakan padi sawah yaitu: 1. Desa Simpang Narso 2. Desa Batin Pengambang 3. Desa Tambak Ratu 4. Desa Padang Jering 5. Desa Bukit Kalimau Ulu 6. Desa Kasiro 7. Desa Sungai Bemban 8. Desa Sungai Baung 9.Desa Batu Empang.

Desa Simpang Narso dan Desa Batin Pengambang dipilih secara sengaja (purposive) sebagai sampel dengan pertimbangan luas lahan sawah yang tinggi menurut irirgasinya (lampiran 1).

Sampel dalam penelitian ini adalah petani padi sawah di Desa Simpang Narso dan Desa Batin Pengambang. Penarikan sampel dilakukan secara Random Sampling.

Masing-masing jumlah populasi petani padi sawah yang diperoleh dari data Batang Asai Dalam Angka adalah sebagai berikut:

1. Desa Simpang Narso : 60 KK

2. Desa Batin Pengambang : 121 KK

(32)

n = N 1+Ne2 Dimana :

n = JumlahSampel

N = Jumlah Popoulasi

e = Persen Kelonggaran (Tingkat kesalahan yang diperkenankan) 10%

Jumlah sampel dari setiap desa diambil secara proposional sehingga jumlah sampel yang di dapat adalah sebagai berikut:

Desa Simpang Narso adalah : n = 60

1+60(0,10)2 = 43

Desa Batin Pengembang adalah : n = 121

1+121(0,10)2 = 55

3.4 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Data yang di dapat akan di klasifikasikan, ditabulasi, serta diolah dengan menggunakan alat analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas. Formulasinya adalah sebagai berikut:

Y = A.K-b 1. Lb2..eu

Fungsi produksi Cobb-Douglas diatas kemudian disederhanakan dan secara matematis adalah sebagai berikut:

Y = Ax1b1X2b2X3b3X4b4……X ibieu

(33)

Untuk menjawab tujuan penelitian pertama yaitu mengetahui pengaruh hubungan faktor produksi terhadap produksi padi sawah (variabel tidak bebas) secara bersama-sama (overall) dapat diuji dengan menggunakan Uji F statistik, dengan menghitung terlebih dahulu besarnya variabel tidak bebas (dependent variabel) yang dapat diterangkan oleh variabel bebas (independent

variabel) yang dapat dihitung dengan menggunakan koefisien determinasi (R2)

sebagai berikut:

R2 = bixiyiyi2 Dimana :

R2 = Koefisien Determinasi

bi = Koefesien regresi variabel ke-i

xi = Nilai simpangan suatu variabel ke-i dari nilai rata-ratanya

yi = Nilai simpangan suatu variabel ke-i dari nilai rata-ratanya

yi2 = Nilai kuadrat simpangan variabel ke-i dari nilai rata-rata

Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1. Nilai R2 yang mendekati 1

menunjukkan bahwa model ekonometrika yang digunakan semakin baik.

Berarti semakin besar nilai R2 maka semakin besar pula kemampuan variabel

X untuk menjelaskan variabel Y. Setelah nilai dari R2 di dapat, maka dihitung

nilai dari uji F dengan rumus sebagai berikut:

Fhit =

R2/(k−1) (1−R2)/(nk)

`Dimana :

R2 = Koefisien determinasi

(34)

n = Jumlah sampel penelitian

α = Taraf keyakinan penelitian 90 % atau α = 10 %

Nilai F hitung yang didapat selanjutnya dibandingkan dengan nilai F tabel pada derajad kebebasan (df) tertentu dengan tingkat kepercayaan dengan criteria keputusan sebagai berikut :

Fhit ≤ F(α,k:n-k-1) → Terima Ho

Fhit > F(α,k:n-k-1) → Tolak Ho

Jika Ho diterima berarti faktor produksi (XI – Xn) secara bersama-sama

tidak berpengaruh terhadap produksi, sebaliknya bila Ho ditolak berarti secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi,

Untuk mengetahui pengaruh masing – masing variabel terhadap Y (produksi) dalam usahatani padi sawah maka dilakukan uji T, dengan formula:

thit = Sbibi

Dimana :

thit = Nilai t hitung

bi =Koefesien regresi perkiraan ke- bi

Sbi = Standar eror perkiraan ke- bi

I = 1,2,3,4,5

Nilai t hitung yang didapat selanjutnya dibandingkan dengan nilai t tabel.

(35)

л = TR-TC

Dengan demikian dapat diperoleh kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yang dialokasikan petani dalam mencapai efisiensi yaitu dengan cara membandingkan nilai produk marginal dengan biaya korbanan marginal yakni dengan kaidah sebagai berikut:

NPM xi

P xi < 1 artinya: penggunaan faktor produksi ke-i tidak efisien, maka

perlu adanya pengurangan faktor produksi ke-i agar efisien.

NPM xi

P xi = 1 artinya: penggunaan faktor produksi sudah efisien

NPM xi

P xi > 1 artinya: penggunaan faktor produksi ke-i belum efisien, maka

perlu adanya penambahan faktor produksi ke-i agar efisien.

3.5 Konsepsi Pengukuran

(36)

1. Usahatani padi sawah adalh usahatani yang mengusahakan tanaman padi dengan suatu sistem manajemen dan memanfaatkan faktor produksi seoptimal mungkin selama satu kali musim tanam.

2. Petani sampel adalah petani yang mengusahakan padi swah.

3. Jumlah produksi adalah banyaknya hasil produksi (GKP) padi

sawah yang diperoleh petani selama satu kali musim tanam (kg)

4. Luas lahan adalah luas tanah garapan dan sewaan yang digunakan

petani padi sawah dalam satu kali musim tanam (ha)

5. Benih adalah penggunaan benih oleh petani dalam satu kali musim

tanam (kg)

6. Tenaga kerja yang dimaksud adalah jumlah hari kerja tenaga kerja

yang digunakan petani padi sawah baik dari dalam keluarga maupun dari luar keluarga dalam satu kali musim tanam, dimana dalam perhitungan efisiensi ekonomi usahatani tenaga kerja dalam keluarga dikenakan biaya upah sebesar upah yang berlaku(Rp/HKO)

7. Pupuk adalah jumlah pupuk kimia antara lain pupuk Urea, TSP, dan

KCL yang digunakan petani padi sawah dalam satu kali musim tanam (kg)

8. Obat-obatan yang digunakan adalah berbagai jenis obat-obatan

kimia seperti pestisida, herbisida yang digunaka petani padi sawah dalam satu kali musim tanam.

9. Harga faktor produksi adalah harga dari nilai jual gabah kering giling (GKP) yang di bayar oleh pembeli (Rp/kg)

10. Efisiensi ekonomi usahatani adalah jika efiseiensi secara teknis dan

(37)
(38)

DAFTAR PUSTAKA

Daniel, Mohar. 2001. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara

Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Andi

Mubyarto. 1984. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES

Soekartawi. 1994. Teori Ekonomi Produksi: Dengan Pokok Bahasan analisis fungsi

cobb-doouglas. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Sukirno, Sadono. 2010. Mikroekonomi: Teori Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada

Suratiyah, Ken. 2015. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya

(39)

Referensi

Dokumen terkait

Pada pelayanan lengkap Honda berada pada kategori baik, ini membuktikan bahwa pelayanan Honda memang baik berdasarkan persepsi responden, begitupun pelayanan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang... selaras dengan prinsip HAM yang berlaku universal, juga

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa penting unsur prominence atau keterkenalan dalam pemberitaan selebritas di Harian WASPADA dan Harian Medan Bisnis, untuk

Laba juga merupakan salah satu tujuan agar perusahaan dapat mempertahankan hidupnya (going concern). Sebagai salah satu instrumen keuangan, maka laba juga

Sumatera Utara khususnya Kota Medan memiliki jumlah surat kabar lokal yang banyak seperti Harian WASPADA, Tribun Medan, Analisa, Medan Bisnis, Sinar.. Universitas

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Ni’mah menyatakan bahwa terdapat hubungan antara riwayat pemberian ASI ek- sklusif dengan dengan kejadian stunting

tersebut, maka tujuan dilakukannya penelitian tentang stabilitas sistem tenaga listrik ini adalah untuk mengetahui respon generator pembangkit bila terjadi gangguan

Jika variabel (X 25 ) mampu mengkomunikasikan prinsip manajemen pengelolaan K3 kepada seluruh tim proyek sesuai dengan yang tertuang dalam dokumen AMDAL proyek menurun (-0,196) maka