• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR UTAMA DALAM PENINGKATAN DAYA SAIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FAKTOR UTAMA DALAM PENINGKATAN DAYA SAIN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR UTAMA DALAM PENINGKATAN DAYA SAING PERKOTAAN

Achmad Ghozali

Manajemen Pembangunan Kota Jurusan Arsitektur-FTSP Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

[email protected]

PENDAHULUAN

Tingkat daya saing kota menjadi salah satu ukuran yang menentukan apakah suatu daerah

potensial bagi investasi atau tidak. Tingkat daya saing ini berlaku global sehingga kota-kota di

seluruh negara berupaya meningkatkan daya saing kotanya. Tingkat persaingan tidak hanya

berlaku pada level nasional, namun juga di level internasional. Pada dasarnya tidak ada

pengertian yang baku tentang competitiveness atau tingkat daya saing. Kota-kota yang

kompetitif menarik bagi orang-orang yang kreatif dan untuk menjadi kota yang kompetitif.

Tingkat daya saing (competitiveness) merupakan salah satuparameter dalam konsep kota

berkelanjutan.Semakintinggi tingkat daya saing suatu kota, maka tingkat kesejahteraan

masyarakatnya pun semakin tinggi.

Daya saing daerah menjadi salahsatu isu utama dalam pembangunan daerah. Konsep

daya saing umumnya dikaitkan dengan kemampuan suatu perusahaan, kota, daerah, wilayah

atau negara dalam mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif secara

berkelanjutan (Porter, 2000). Daya saing juga diartikan sebagai kemampuan untuk

memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan disamping kemampuan mempertahankan

pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan (Santoso, 2009). Dengan kata lain kemampuan suatu

wilayah untuk menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja yang relatif tinggi yangterlihat

pada daya saing eksternal.

Oleh karena itu daya saing perkotaan perlu diperhatikan dalam menciptakan perkotaan

yang berkelanjutan. Dengan memiliki daya saing kota dapat terus tumbuh dan berkembang

dengan keunggulan masing-masing dan dapat mengikuti perubahan global. Dengan demikian

factor utama yang berpengaruh dalam peningkatan daya saing perlu diidentifikasi. Tulisan ini

mencoba mendiskusikan melalui litreratur review factor-faktor daya saing perkotaan tersebut.

(2)

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif dengan melakukan

review literatur yang membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat daya

saing perkotaan baik hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal maupun hasil teori-teori

terkait.

PEMBAHASAN DAN DISKUSI

Kota hidup akibat dinamika aktivitas yang berlangsung di dalamnya yang dilakukan

oleh penduduk kota tersebut. Hal ini menjadikan kota dituntut untuk terus dapat memproduksi

dan menyediakan segala kebutuhan penduduknya. Kegiatan ekonomi perkotaan menghasilkan

barang dan jasa bagi masyarakat lokal bernilai tinggi terhadap harga, mendukung ekonomi

ekspor kota, sehingga lebih kompetitif, serta langsung meningkatkan kualitas hidup dan standar

hidup bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan wilayah.

Ketidakmampuan suatu kota dalam mewadahi sebuah kegiatan dapat berakibat pada

kecenderungan kota tersebut untuk bergantung pada wilayah lain. Hal ini menimbulkan sebuah

hubungan persaingan antar kota. Persaingan Kota mengacu pada kemampuan suatu wilayah

perkotaan untuk memproduksi dan memasarkan serangkaian produk (barang dan jasa) yang

mewakili nilai yang baik (belum tentu harga termurah) dalam kaitannya dengan produk yang

sebanding daerah perkotaan lainnya (Webster dan Muller, 2000).

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan kota tidak dapat menghindari urbanisasi

dan globalisasi. Oleh karena itu kebijakan yang tepat perlu dijalankan agar kesempatan

investasi di wilayah kota masih terus berkembang. Hal ini diakibatkan oleh kota dituntut untuk

terus berkembang dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di dalam kota tersebut sehingga

memunculkan daya saing antar kota dalam pertumbuhan ekonomi. Tingkat daya saing kota menjadi salah satu ukuran yang menentukan apakah suatu daerah potensial bagi investasi atau tidak. Tingkat daya saing ini berlaku global sehingga kota-kota di seluruh negara berupaya meningkatkan daya saing kotanya. Jika sebuah kota gagal dalam menjalankan dinamika ini maka dapat dipastikan bahwa kota tersebut tidak akan berkembang kegiatan ekonominya,

kehilangan kesempatan investasi dan lapangan pekerjaan bagi penduduknya bahkan kegagalan

ekonomi. Dengan demikian kota dituntut untuk kompetitif.

Menurut Frost dan Morner (2005) faktor yang mempengaruhi kota menjadi kompetitif

adalah infrastruktur perkotaan, komunikasi, dan pelayanan publik; Persaingan bisnis dan

kerjasama; Akses ke sumber daya alam dan keterampilan; lokasi relatif terhadap pasar;

(3)

Seperti yang diungkapkan oleh Frost dan Moner (2005), Choe et all (2011)

mengungkapkan bahwa daya saing perkotaan dipengaruhi oleh 3 hal yang utama antara lain :

1. Pembangunan infrastruktur yang memadai

Infrastruktur memiliki peranan penting dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi di

suatu wilayah. Dengan infrastruktur juga perdagangan dan investasi kota terus tumbuh

dan memberikan daya saing kota yang lebih baik.beberapa strategi infrastruktur yang

menjadi focus utama adalah industry, pariwisata, perdagangan dan jasa dan aliran

logistic.

2. Standar hidup perkotaan

Standar hidup kota menjadi ukuran pembangunan ekonomi kota. Hal ini dipengaruhi oleh

tingkat kenyamanan, keamanan, kualitas pendidikan, sosial dan budaya, kenyamanan

tinggal, tingkat pekerja, dan konflik sosial dan resiko bencana alam yang minim. Setiap

kota dituntut untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi namun tidak melupakan

peningkatan standar hidup perkotaan untuk menjamin penudududk di dalamnya merasa

nyaman tinggal dan beraktivitas didalamnya.

3. Good Governace

Good governance merupakan pokok utama dalam menjalankan fungsi kota dengan baik.

Semakin tinggi kualitas pelayanan pemerintah kota maka semakin tinggi pula daya saing

kota tersebut. Good governance tergantung pada akuntabilitas dan transparansi kegiatan

pemerintah pada setiap elemen perkotaan. Selain itu terdapat elemen-elemen good

governance yang perlu dipenuhi antara lain :

a. Adanya kejelasan batasan kewenangan dan fungsi antar pemerintah/ badan dan tidak

saling tumpang tindih. Adanya tumpang tindih kewenangan dapat berakibat pada

kebijakan ganda dan bias.

b. Kordinasi antar lembaga pemerintah dalam menjalankan setiap kebijakan atau

program.

c. Manajemen yang bagus baik manajemen keuangan maupun antar sumberdaya

manusia di dalamnya.

d. Memiliki tanggung jawab dan transparansi publik yang tinggi.

Daya saing yang pada dasarnya merupakan kemampuan daerah /kota untuk

menumbuhkan sebuah daya tarik dan iklim yang produktif untuk kegiatan ekonomi /usaha

(Taufik, 2005). Daya saing dapat digambarkan sebagai produktivitas dan kemampuan ekonomi

(4)

membangun iklim ekonomi yang kondusif bagi wilayahnya (Jeddawi, 2009). Pemerintah yang

sangat erat kaitannya dengan birokrasi maka daya saing daerah juga sangat dipengaruhi oleh

birokrasi daerah (Jeddawi, 2009).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hidayat (2012) yang dilakukan di wilayah Kota

Medan didapatkan bahwa terdapat beberapa factor utama daya saing. Hasil penelitian ini

mengungkapkan bahwa terdapat 3 faktor penentu daya saing Kota Medan antara lain

infrastruktur, ekonomi daerah, dan kelembagaan. Meskipun demikian terdapat beberapa faktor

pendukung antara lain kondisi sistem keuangan dan sosial politik.

Infrastruktur merupakan kunci bagi kelaancaran kegiatan usaha. Ketersediaan secara

kuantitas dan kualitas infrastruktur sangat berpengaruh terhadap iklim investasi di suatu daerah

sehingga berpengaruh juga terhadap daya saing Kota Medan. Penelitian Hidayat (2012)

menunjukkan bahwa infrastruktur kunci dalam meningkatkan daya saing adalah infrastruktur

transportasi terutama kondisi dan jaringan jalan, pelabuhan dan bandar udara. Kualitas dan

kuantitas infratsruktur transportasi dapat mencerminkan kelancaran mobilitas orang dan barang

di wilayah tersebut.

Faktor ekonomi daerah merupakan inplikasi potensi dan struktur ekonomi sebuah kota.

Hidayat (2012) menunjukkan bahwa ekonomi daerah dipengaruhi oleh potensi/peluang

kegiatan ekonomi yang dapat dikembangkan dan kualitas ketenagakerjaan. Potensi kegiatan

ekonomi yang dapat dikembangkan tersebut meliputi potensi fisik dan non fisik seperti

sumberdaya alam, dorongan aktivitas usaha, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, ketenaga kerjaan meliputi jumlah penduduk dan kualitas sumber daya manusia.

Kondisi kelembagaan merupakan faktor yang berasal dari lingkungan pemerintah

sebagai fasilitator dalam setiap iklim usaha di suatu daerah sehingga mempengaruhi

kenyamanan kegiatan usaha. Kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah dapat meningkatkan

daya saing atau malah menurunkan daya saing. Oleh karena itu kondisi kelembagaan turut

menjadi salah satu faktor daya saing wilayah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari faktor

ini adalah kepastian hukum, penegakan hukum dan kualitas aparatur pemerintahan dalam

pelayanan publik (Hidayat, 2012). Kepastian hukum merupakan konsistensi peraturan dan

penegakan hukum dalam mengatur kegiatan usaha. Ketiadaan adanya tumpang tindih

kewenangan antar instansi pemerintah dan adanya payung hukum yang tetap dan tidak

berubah-ubah dalam jangka waktu yang lama juga merupakan salah satu bentuk kepastian

hukum.

Tidak jauh berbeda dengan temuan Hidayat (2012), penelitian yang dilakukan oleh

(5)

daerah adalah infrastruktur dan kondisi sumberdaya manusia. Wilayah dengan infrastruktur

transportasi dan energi yang baik memiliki daya saing yang lebih baik daripada wilayah lain.

Kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku ekonomi juga turut mempengaruhi daya saing

daerah. Sumber daya manusia menjadi bagian dari keunggulan komparatif karena kuantitasnya

dan sebagai keunggulan kompetitif akibat kualitas sumberdaya manusia yang ada (santoso,

2010).

Dengan demikian beberapa teori dan temuan diatas mengerucutkan bahwa daya saing

daerah merupakan ukuran kemampuan dan produktivitas ekonomi antar kota/wilayah dalam

mengembangkan kegiatan ekonominya. Hasil review teori dan temuan penelitian menunjukkan

bahwa terdapat 3 faktor utama daya saing kota/wilayah antara lain :

1. Infrastruktur terutama infrastruktur transportasi merupakan kunci kelancaran

pergerakan arang dan barang. Infrastruktur transportasi menghubungkan antar sub

wilayah / pusat-pusat kegiatandi dalam kota dan sebagai jaringan aksesibilitas menuju

wilayah lainnya. Kemudahan jangkauan tersebut memudahkan distribusi barang

sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi.

2. Sumberdaya manusia merupakan pelaku dan obyek pembangunan. Sumberdaya

manusia yang banyak berpengaruh terhadap ketersediaan tenaga kerja yang memadai

sehingga usaha-usaha baru cukup mudah untuk mencari tenaga kerja. Meskipun

demikian kelimpahan sumberdaya manusia juga harus dipandang tidak hanya sebagai

keunggulan kompetitif namun juga perlu diperhatikan kualitas sumberdaya manusia

tersebut. Kualitas sumberdaya manusia juga dapat tercermin dari tingkat pendidikannya

sehingga menciptakan keunggulan kompetitif. Sumberdaya manusia yang unggul dapat

pula menciptakan inovasi-inovasi kegiatan usaha dan teknologi yang baru sehingga

mempercepat pertumbuhan ekonomi dan bukan malah menghambat pembangunan.

3. Kelembagaan atau birokrasi juga turut memegang peranan penting dalam tingkat daya

saing daerah. Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator dalam pelaksanaan kegiatan

ekonomi berdampak pada berbagai kebijakan birokrasi dan peraturan yang dibuat.

Tidak jarang ditemuai bahwa kualitas pemerintahan dari pelayanan public yang buruk

menciptakan iklim investasi yang buruk pula. Pemerintah juga dapat berperan dalam

mendorong spesialisasi ekonomi kota/wilayah berdasarkan poetnsi daerah

masing-masing. Dengan demikian pemerintahan yang baik memainkan peran utama dalam

menciptakan iklim ekonomi yang kondusif dan lingkungan perkotaan yang

(6)

KESIMPULAN

Tingkat daya saing kota/wilayah merupakan ukuran perkembangan daerah dalam

menciptakan produktivitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan daerah.

Terdapat beberapa factor daya saing daerah namun terdapat 3 faktor utama yang sangat krusial.

3 faktor utama tdalam peningkatan daya saing daerah ersebut adalah infrastruktur, sumberdaya

manusia dan kelembagaan. 3 faktor utama tersebut dipandang bukan sebagai kuantitas

sumberdaya yang dimiliki oleh suatu daerah namun juga perlu dipandang sebagai ukuran

kaulitas yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif .

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Paidi. 2012. Analisis Daya Saing Ekonomi Kota Medan. Jurnal Keuangan dan Bisnis.

Vol. 4 No. 3 November 2012. Hal 228-238.

Choe, KyeongAe. Roberts Brian. 2011. Competitive Cities In The 21st Century. Urban

Development Series. AusAID.

Irawati, Ira, dkk. 2012. Pengukuran Tingkat Daya Saing Daerah Berdasarkan Variabel

Perekonomian daerah, Variabel Infrastruktur Dan Sumberdaya Alam Serta Variabel

Sumberdaya Manusia Di Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Teknik

Planologi Institut Teknologi Nasional Bandung Vol. VII No. 1 Januari 2012.

Jeddawi, Murtir. 2009. Peranan Birokrasi Dalam Meningkatkan Daya Saing dan Investasi Di

Daerah. Media Riset Bisnis dan Manajemen Vol 9 No. 1 April 2009.

Taufik, Tatang (2005). Manajemen Usaha Indonesia. Jurnal Pasar Modal Indonesia

Poerter, Michael E. 2000. The Competitive Advantage Of Nations. World Economic Forum

Journal. The Free Press

Santoso, Eko Budi. 2009. Daya saing Kota-Kota Besar Di Indonesia. 2009. Seminar Nasional

Cities 2009.

Santoso, Eko Budi. 2010. Strategi Pengembangan Perkotaan Di Wilayah Gerbangkertosusilo

Referensi

Dokumen terkait

Pola sebaran Menegak c4 Pb, cu rlan Zn Terrarut Di perairan Laut Banda lSuatu Tqmuan Tambahrn Proses Geokimiawi Laut Logam Kelumit.. Tl Prartono

Pedoman Umum Audit Komunikasi disusun sebagai acuan dalam mengukur sistem komunikasi yang akurat dan andal di lingkungan instansi pemerintah sehingga mampu

Himpunan Peraturan Gubernur Tahun 2015 1... Himpunan Peraturan Gubernur Tahun 2015

Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis multimedia dengan konsep one stop learning menggunakan software Adobe Flash untuk materi Bentuk

Kedua, metode investigasi kelompok lebih efektif diterapkan dengan model pembelajaran Project Based Learning di SMP Negeri 3 Sukoharjo dibandingkan dengan

We had a speech contest, a singing contest and playing drama, and the cooking contest.. We did them in

bahwa umur kehamilan saat bayi dilahirkan cenderung mempengaruhi kejadian asfiksia setelah bayi lahir, ibu-ibu yang melahirkan. dengan umur kehamilan yang berisiko

Dengan ini saya bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan oleh saudari Distia Taravella selaku mahasiswa DIV Keperawatan Politeknik