• Tidak ada hasil yang ditemukan

130 ANALISIS KELAYAKAN BISNIS DAN PENGEMBANGAN KEMASAN PRODUK PADA IKM TELAGA JAYA DI KABUPATEN PESISIR BARAT Petrus Wisnubroto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "130 ANALISIS KELAYAKAN BISNIS DAN PENGEMBANGAN KEMASAN PRODUK PADA IKM TELAGA JAYA DI KABUPATEN PESISIR BARAT Petrus Wisnubroto"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KELAYAKAN BISNIS DAN PENGEMBANGAN KEMASAN PRODUK PADA IKM TELAGA JAYA DI KABUPATEN PESISIR BARAT

Petrus Wisnubroto1*, Danopal Ariantama2 1,2

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Jl. Kalisahak No.28 Kompleks Balapan Tromol Pos 45 Yogyakarta 55222

Telepon (0274) 563029, Faksimile (0274) 563847

*E-mail:wisnurini@yahoo.co.id

INTISARI

Industri Kecil Menengah (IKM) Telaga Jaya yang berada di Kabupaten Pesisir Barat memproduksi keripik singkong yang meningkat setiap tahun. Melihat potensi permintaan dan prospek pengembangan serta pemasaran keripik singkong di Kabupaten Pesisir Barat, IKM Telaga Jaya berpeluang untuk mengembangkan usahanya namun belum memiliki perizinan dan kemasan yang digunakan juga masih sangat sederhana untuk itu perlu dilakukan penelitian yang ditinjau dari aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen dan organisasi serta aspek keuangan dan pengembangan kemasan agar lebih menarik.

Peluang pasar IKM Telaga Jaya menunjukkan peningkatan. Investasi awal pada tahun 2011 sebesar Rp 141.471.000,- sumber dana pada bulan pertama modal sendiri Rp 7.813.000,- dan pinjaman dari PNPM sebesar Rp 25.000.000. Pinjaman dibayar perbulan Rp 956.000,- dengan bunga pinjaman 15%. Mengalami kerugian pada awal tahun sebesar Rp 28.636.000,- dan aliran kas bersih negatif sebesar Rp 26.286.000,-.

Hasil analisis terhadap kriteria penilaian bisnis diperoleh Break Event Point (BEP) dalam unit (BEPQ) 2.717 kg lebih kecil dari produksi, penjualan dan kapasitas maksimal perusahaan. Net

Present Value (NVP) > 0 yaitu Rp 108.773.516,-. Internal Rate of Return (IRR) 21,79% > suku bunga pinjaman 15%. Profitability Index (PI) 2,3 > 1(satu). Payback Periode (PP) selama 3(tiga) tahun 11 bulan lebih pendek dari umur ekonomis usaha yaitu 5(lima) tahun. Bisnis keripik singkong dinyatakan layak dan diharapkan IKM Telaga Jaya dapat mengembangkan usaha dan dapat memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah dan meberikan lapangan pekerjaan lebih luas lagi kepada masyarakat.

Kata kunci: Analisis Kelayakan Bisnis, Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), Payback Period (PP)

1. PENDAHULUAN

Kondisi perekonomian nasional yang diupayakan pemerintah telah dan akan terus diciptakan pembangunan dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di dalam negeri. Langkah ini memiliki langkah strategis, mengingat beberapa hal Pertama, pengolahan sumber daya alam di dalam negeri memperkuat struktur industri nasional yang berdampak terhadap peningkatan nilai tambah; mengurangi ketergantungan impor bahan baku/bahan penolong dari luar negeri. Kedua, langkah tersebut juga berarti akan memberikan peluang usaha dan peluang kerja yang lebih luas kepada masyarakat. Oleh karena itu masyarakat terutama yang tinggal di pedesaan diharapkan dapat memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam yang tersedia dalam skala industri kecil maupun rumah tangga, sehingga partisipasi masyarakat dalam mengembangkan industri kecil pengolah hasil pertanian akan merupakan sarana sekaligus wahana untuk mengembangkan perekonomian di pedesaan.

(2)

usaha keripik singkong Telaga Jaya layak untuk diteruskan serta dapat membantu pemilik usaha dalam mengajukan dana pinjaman kepada pihak bank atau kreditur demi menunjang pengembangan usaha. Selain itu pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, jumlah perusahaan sejenis, jumlah bahan baku yang tersedia serta faktor-faktor lainnya juga sangat mempengaruhi kelayakan bisnis keripik singkong ini.

Studi kelayakan bisnis (feasibility study) merupakan penelitian terhadap rencana usaha yang

tidak hanya menganalisa layak atau tidak layak usaha dibangun, tetapi juga saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan baik itu dari aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen dan yuridis, aspek keuangan serta aspek lingkungan (Umar, 2007).

Untuk melakukan studi kelayakan bisnis, terlebih dahulu harus ditentukan aspek–aspek yang

akan dianalisis. Studi kelayakan bisnis tersebut membahas semua aspek yang dapat menentukan layak tidaknya gagasan usaha. Usaha yang layak tersebut harus dianalisis dari beberapa aspek antara lain sebagai berikut:

a.

Aspek pasar dan pemasaran,

b.

Aspek teknis dan produksi,

c.

Aspek manajemen operasi,

d.

Aspek yuridis,

e.

Aspek keuangan,

sehingga dapat menjadi sebuah alur informasi yang dapat dilihat sebagai berikut :

Fakta Lapangan

Aspek yuridis Aspek pasar dan

pemasaran

Aspek produksi

Aspek Manj. operasi

Aspek Keuangan

Gambar 1. Alur Informasi (Sumber: SKB Penulis Husein Umar)

1.1. Break Even Point (BEP)

Analisa Break Even Point adalahsuatu alat analisa yang digunakan untuk mengetahui hubungan

antara beberapa variabel didalam kegiatan perusahaan, seperti biaya yang dikeluarkan dengan

pendapatan yang diterima perusahaan dari kegiatannya (Umar, 2007). Break even point diperoleh

dimana total pendapatan (TR) sama dengan total pengeluaran (TC).

(1)

(2)

Keterangan:

TBE = titik break even P = penjualan

BTT = biaya tetap total H = harga jual per unit

BV = biaya variabel BVR = biaya variabel rata-rata

1.2. Net Present Value (NPV)

(3)

NPV = PV Kas Bersih – PV Investasi (3)

1.3. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return adalah besarnya suku bunga yang membuat Present Value (PV) dari investasi dan hasil-hasil bersih yang diharapkan selama proyek berjalan menjadi 0 (nol). Nilai suku

bunga yang membuat Present Value= 0 (nol) tersebut dinamakan “Rate of Return” (Harmaizar, 2006).

( )

(4)

Keterangan : i1 = tingkat bunga 1 (tingkat discount rate yang menghasilkan NPV1)

i2 = tingkat bunga 2 (tingkat discount rate yang menghasilkan NPV2)

NPV1 = Net Present Value 1

NPV2 = Net Present Value 2

1.4. Profitability Index (PI)

Profitability Index merupakan rasio aktivitas dari jumlah nilai sekarang penerimaan bersih dengan nilai sekarang pengeluaran investasi selama umur investasi (Kasmir dan Jakfar, 2010).

(5)

1.5. Payback Period (PP)

Metode Payback Period (PP) merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode)

pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas

bersih (proceed) yang diperoleh setiap tahun.

(6)

Kemasan produk harus memiliki label yang berbentuk gambar atau tulisan atau bentuk lain yang disertakan pada kemasan produk baik di dalam atau diluar kemasan (PP no. 69 tahun 1999) (Anonim, 2014).

Pelaku usaha yang memproduksi produk pangan wajib mencantumkan label di dalam atau di luar kemasan pangan yang memuat keterangan mengenai :

1. Nama produk

Penggunaan nama produk selain yang termasuk dalam SNI harus menggunakan nama yang lazim atau umum dan harus benar mengenai tulisan, gambar atau bentuk lainnya.

2. Daftar bahan yang digunakan/kompeosisi

Bahan yang digunakan dalam proses produksi harus dicantumkan pada label sebagai daftar bahan/komposisi secara berurutan.

3. berat bersi atau isi bersih

4. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau menginpor

Nama dan alamat perusahaan wajib dicantumkan pada label seperti alamat, nama kota dan kode pos.

5. Halal bagi yang disyaratkan

Tulisan “halal” dapat dicantumkan pada bagian utama label dan sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan yang berlaku setelah mendapat surat persetujuanpencantuman tulisan dari Badan POM RI.

6. Tanggal dan kode produksi

7. Tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa

8. Nomor izin edar bagi pangan olahan

(4)

2. PEMBAHASAN

Analisis dan pembahasan hasil pengolahan data dilakukan untuk mengetahui kinerja usaha keripik singkong IKM Telaga Jaya apakah sudah memenuhi kriteria kelayakan usaha yang ditinjau dari aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen dan organisasi, aspek

keuangan serta dianalisis berdasarkan kriteria kelayakan usaha seperti Break Even Point (BEP), Net

Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Probability Index (PI) dan Payback Periode (PP), selain itu juga membahas tentang usulan kemasan produk yang akan digunakan sebagai upaya pengembangan usaha IKM Telaga Jaya.

2.1 Aspek pasar dan pemasaran

Aspek pasar dan pemasaran keripik singkong IKM Telaga Jaya untuk permintaan keripik singkong diambil dari data historis penjualan pada tahun 2011 hingga 2015 sebagai berikut :

Gambar 2. Diagram scatter permintaan keripik singkong

Sedangkan untuk peluang pasar keripik singkong IKM Telaga Jaya didapat dari hasil pengurangan antara permintaan yang dikurang penawaran yang merupakan usaha sejenis yang ada di kabupaten Pesisir Barat. Adapun peluang pasar IKM Telaga Jaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1. Peluang Pasar IKM Telaga Jaya

Tahun Permintaan Penawaran Peluang

2011 12.000 9.360 2.640

2012 24.000 12.360 11.640

2013 48.000 19.080 28.920

2014 48.000 31.800 16.200

2015 72.000 37.800 34.200

Sumber: Hasil pengolahan data

2.2 Aspek teknis dan teknologi

Analisis aspek teknis dan teknologi meliputi pemilihan lokasi usaha, pemilihan teknologi dan proses produksi keripik singkong IKM Telaga Jaya.

Lokasi usaha IKM keripik singkong Telaga Jaya ini terletak di desa Way suluh, kecamatan Krui Selatan, kabupaten Pesisir Barat. Lokasi ini terletak tepat dipertengahan daerah kabupaten. Hal ini dipertimbangkan oleh pemilik usaha karena lokasi berdekatan dengan sumber bahan baku yang disuplay dari petani di desa SP 1 dan SP 2 kecamatan Ngambur. Selain itu pertimbangan lain seperti pemasaran juga menjadi alasan lokasi usaha, karena daerah pemasaran menyebar ke bagian pesisir selatan dan pesisir utara kabupaten tersebut.

Teknologi yang digunakan IKM Telaga Jaya dalam meproduksi keripik singkong masih sangat sederhana. Mesin yang digunakan masih bersifat semimanual yaitu alat perajang singkong dan mesin

0 20000 40000 60000 80000

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Permintaan (Kg)

(5)

seiler sebagai alat bantu pengemasan produk. Alat-alat penunjang operasional yang dibutuhkan antara lain, pisau, wajan, penyaring, baskom, ember, spatula dan masih banyak lagi.

Tabel 2. Mesin dan peralatan IKM Telaga Jaya

No Mesin/Peralatan Unit

1 Mesin Perajang Manual 1

Sedangkan proses produksi keripik singkong dapat dilihat pada gambar berikut:

Singkong

PETA PROSES OPERASI

Nama Produk : Keripik Singkong Telaga Jaya Nomor Peta : 01

Kondisi : Sekarang

Dipetakan Oleh : Danopal Ariantama (142022007) Tanggal Dipetakan : 05 Maret 2016

Ringkasan

Kegiatan Simbol Jumlah Waktu (S) (*)

Operasi

Gambar 3. Peta proses operasi keripik singkong

2.3 Aspek manajemen dan organisasi

(6)

PIMPINAN

PEMASARAN ADMINISTRASI

DAN KEUANGAN Bagian Pengupasan

Bagian Pengemasan Bagian Penggoreng Bagian Perajang

PRODUKSI

Gambar 4. Peta proses operasi keripik singkong

2.4 Aspek keuangan

Analisis keuangan meliputi perhitungan investasi, penyusunan laporan keuangan dan arus kas usaha keripik singkong IKM Telaga Jaya. Kebutuhan investasi IKM Telaga Jaya pada awal pendirian membutuhkan investasi sebesar Rp 141.471.000,- seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Investasi IKM Telaga Jaya tahun 2011 (Rp)

No Keterangan Total

A Investasi Awal

1 Bangunan 20.800.000

2 Mesin dan Peralatan 2.135.000

B Modal Kerja 118.536.000

Total Biaya 141.471.000

Sumber: Hasil pengolahan data

Sedangkan untuk modal kerja dalam memproduksi keripik singkong setiap tahunnya berbeda-beda sesuai dengan kapasitas produksi pertahunnya. Berikut adalah modal kerja IKM Telaga Jaya pada tahun 2011.

Tabel 4. Kebutuhan Modal Kerja IKM Telaga Jaya (Rp)

NO Uraian Tahun 2011

A Biaya Produksi

1. Biaya bahan baku 24.000.000

2. Biaya tenaga kerja langsung 30.000.000

3. Biaya overhead pabrik 57.216.000

Jumlah Biaya Produksi 111.216.000

B Biaya Administrasi dan Umum

1. Biaya pulsa (telepon) 600.000

2. Biaya operasi kendaraan 1.920.000

Jumlah Biaya Adminitrasi dan

Umum 2.520.000

C Biaya Pemasaran

1. Gaji bagian pemasaran 4.800.000

Total Kebutuhan Modal Kerja 118.536.000

Kebutuhan modal kerja dalam 1 bulan 9.878.000

(7)

2.5 Kriteria kelayakan bisnis

Tabel 5. Analisis Kelayakan Investasi

NO Metode Hasil

Perhitungan

Standar Kelayakan

Kriteria Kelayakan

Rekomedasi

1 BEP 4307 Kg 72.000 Kg BEP < Kapasitas

Perusahaan

Layak

72.000 Kg BEP < Produksi

2 NPV Rp. 108.773.516 0 NPV > 0 Layak

3 IRR 21.79% 15% IRR > i Layak

4 PI 2,3 1 PI > 1 Layak

5 PP 3 th, 11 bln 5 th PP < Umur Usaha Layak

Sumber: Hasil pengolahan data

2.6 Kemasan produk

Produk pangan yang dikemas wajib mencantumkan label, baik di dalam atau diluar kemasan (PP no. 69 tahun 1999) (Anonim, 2014). Label dapat dituangkan dalam bentuk gambar, tulisan, ataupun kombinasi keduanya. Melalui label produk yang digunakan, para pebisnis bisa menyampaikan informasi kepada calon konsumen mengenai kualitas, legalitas dan brand/logo suatu produk agar mudah di ingat oleh konsumen.

Adapun hal-hal yang menjadi analisa label kemasan produk keripik singkong IKM Telaga Jaya adalah sebagai berikut:

a. Nama atau brand produk

Untuk membuat brand produk, yang perlu diperhatikan adalah mencantumkan nama jenis olahan dan merk dagang yang digunakan. Keripik singkong IKM Telaga Jaya sudah dikenal dengan merk keripik singkong way suluh, hal tersebut dikarenakan lokasi IKM Telaga Jaya berada di desa Way suluh sehingga nama tempat mudah melekat di benak konsumen.

b. Informasi produsen atau distributor

Asal-usul produsen maupun distributor produk menjadi salah satu hal penting dalam label produk. Hal ini memudahkan konsumen atau calon pengecer untuk mendapatkan produk tersebut, selain itu informasi juga dapat digunakan untuk mengakses lokasi usaha. Informasi yang dicantumkan pada label keripik singkong IKM Telaga Jaya adalah nama produsen, alamat dan nomor telpon pimilik dan karyawan bagian pemasaran.

c. Legalitas produk

Legalitas atau perizinan produk digunakan untuk membangun kepercayaan (Trust) kepada

konsumen terhadap produk yang membuktikan bahwa produk sudah berada dalam pengawasan pemerintah dan aman untuk dikonsumsi. Legalitas atau perizinan untuk industri rumah tangga/UMKM adalah P-IRT (Perizinan Industri Rumah Tangga) yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat.

3. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek-aspek kelayakan bisnis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha keripik singkong Telaga Jaya di kabupaten Pesisir Barat dinyatakan layak dan potensi untuk dikembangkan.

1. Aspek pasar dan pemasaran, Usaha keripik singkong Telaga Jaya dinyatakan layak diteruskan

karena selama tahun 2011 hingga tahun 2016 permintaan keripik singkong meningkat yaitu sebesar 12.000 kg, 24.000 kg, 48.000 kg, 48.000 kg, 72.000 kg. sedangkan peluang pasar masih tersedia sehingga IKM Telaga Jaya masih berpotensi untuk meningkatkan penjualan pada tahun berikutnya.

2. Aspek teknis dan teknologi, usaha keripik singkong Telaga Jaya dinyatakan layak namun pada

(8)

3. Aspek manajemen dan organisasi, Usaha keripik singkong Telaga Jaya dinyatakan belum layak dalam menerapkan manajemen dan organisasi dalam usahanya, selain itu IKM Telaga Jaya belum memiliki legalisasi seperti pajak penghasilan dalam menjalankan usahanya sehingga usaha sulit untuk berkembang.

4. Aspek keuangan, Net Present Value (NPV) positif yaitu Rp 108.773.516,-. Internal Rate of Return

(IRR) 21,79% lebih besar dari tingkat suku bunga kredit yaitu 15%. Profitability Indeks (PI) 2,3

lebih besar dari 1(satu) dan periode pengembalian investasi Payback Period (PP) 3(tiga) tahun, 11

bulan lebih pendek dari umur ekonomis usaha yang dianalasis yaitu 5(lima) tahun. Sehingga dari kelima hasil kriteria penilaian kelayakan bisnis menujukan bahwa usaha keripik singkong Telaga Jaya dinyatakan layak dan potensi untuk dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, Penerapan Label Pangan, http://www.

clearinghouse.pom.go.id/content-penerapan-label-pangan.html, diakses tgl 15 Maret.

Harmaizar Z., dkk. 2006, Mengenali Potensi Wirausaha, Edisi-I,CV Dian Anugerah Prakasa, Bekasi.

Husein Umar, 2007, Studi Kelayakan Bisnis, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gambar

Gambar 1. Alur Informasi (Sumber: SKB Penulis Husein Umar)
Gambar 2. Diagram scatter permintaan keripik singkong
Tabel 2. Mesin dan peralatan IKM Telaga Jaya
Gambar 4. Peta proses operasi keripik singkong
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sumenep Kota Kediri Kota Blitar Kota Malang Kota Probolinggo Kota Pasuruan Kota Mojokerto Kota Madiun Kota Surabaya Kota Batu 23,00 28,00 33,00 38,00 43,00 48,00 53,00 63,00 68,00

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran lebih difokuskan kepada siswa atau student center sedangkan guru sebagai fasilitator dalam

Berdasarkan data Rekam Medis Kesehatan di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Sidoarjo dari 30 pasien sirosis hati yang mendapatkan terapi obat golongan beta bloker,

Hubungan Antara Konsep Diri Pada Remaja Putri Yang Mengalami Obesitas dan Hubungan Interpersonal Dengan Teman Sebaya ……….. Metode

Segala puji bagi Allah yang melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

Berdasarkan analisa dan perancangan sistem yang telah dipaparkan dapat diambil kesimpulan bahwa seleksi asisten praktikum dengan menggunakan metode profile matching

RKA - SKPD 2.2.1 Rincian Anggaran Belanja Langsung Menurut Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah. RKA - SKPD 3.1 Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah

11 Efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ukuran besarnya target kualitas penilaian portofolio dalam pembelajaran matematika telah tercapai dan indikator