• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU Morinda citrif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU Morinda citrif"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI PESTISIDA ALAMI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KELAS

(Insecta) YANG MENYERANG TANAMAN PETANI

Wawan Riyanto

Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK

Mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan tumbuhan asli indonesia, buah mengkudu mengandung minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol dan antrakuinon. Kandungan lainnya adalah terpenoid, asam askorbat, scolopetin, serotonin, damnacanthal, resin, glikosida, eugenol dan proxeronin. Hama merupakan organisme parasit yang merugikan tanaman, hama dapat dikendalikan dengan penggunaan insektisida alami. senyawa flavonoid dan saponin dapat menimbulkan kelayuan pada saraf serta kerusakan pada spirakel yang mengakibatkan serangga tidak bisa bernafas dan akhirnya mati. Senyawa kimia pertahanan tumbuhan terpenoid mengakibatkan akibatnya pertumbuhan serangga akan terganggu. Senyawa kimia pertahanan tumbuhan merupakan metabolik sekunder atau aleleokimia yang dihasilkan pada jaringan tumbuhan, dan dapat bersifat toksit, menurunkan kemampuan serangga dalam mencerna makanan dan pada akhirnya mengganggu pertumbuhan serangga

(2)

PENDAHULUAN

(3)

mengkal, menjelang masak menjadi putih kekuningan, dan akhirnya putih pucat ketika masak. Daging buah lunak, tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida dengan daging buah berwarna putih, terbentuk dari mesokarp. Daging buah banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk atau bau kambing yang timbul karena pencampuran antara asam kaprat (asam lemak dengan sepuluh atom karbon), C10), asam kaproat (C6), dan asam kaprilat (C8). Diduga kedua senyawa terakhir bersifat antibiotik aktif. ( Eni hayani, dkk. 2009)

Buah mengkudu yang melimpah tidak di iringi dengan pemanfaatan yang maksimal. Buah mengkudu yang banyak mengandung zat zat kimia tertentu bisa digunakan dalam pembuatn insektisida alami, buah mengkudu mengandung minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol dan antrakuinon. Kandungan lainnya adalah terpenoid, asam askorbat, scolopetin, serotonin, damnacanthal, resin, glikosida, eugenol dan proxeronin ( hasnah dkk. 2009).

Sebagian besar masyarakat indonesia berprofesi sebagai patani, tidak bisa dipungkiri bahwa hampir 44,3% masyarakat berprofesi sebagai petani. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk, meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto. ( M Ali, dkk, 2010).

(4)

merugikan petani, beberapa golongan insecta menyerang tanaman dapat dilakukan pengendalian dengan penyemprotan pestisida. ( M Ali, dkk, 2010).

Serangga (disebut pula Insecta, dibaca “insekta”) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti “berkaki enam”). Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi. Lebih dari 800.000 spesiesinsekta sudah ditemukan. Terdapat 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera), 360.000 spesies bangsa kumbang(Coleoptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah (Hymenoptera). (hendra saruspita. 2007)

Secara morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian utama, sementara bentuk pradewasa biasanya menyerupai moyangnya, hewan lunak beruas mirip cacing. Ketiga bagian tubuh serangga dewasa adalah kepala(caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Caput merupakan sebuah konstruksi yang padat dan keras dan terdapat beberapa suture yang menurut teori evolusi caput tersebut terdiri dari empat ruas yang mengalami penyatuan. Torak terdiri dari tiga ruas yang jelas terlihat, sedangkan abdomen terdiri dari + 9 ruas.caput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala serangga dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous, prognathous, danephistognathous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah belalang Acrididae; prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang Carabidae; dan ephistognathous apabila alat mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera. (Mutiah sari, dkk. 2013)

(5)

kentang menunjukkan gejala – gejala yakni pada kulit umbi nterdapat kumpulan kotoran ulat berwarna coklat tua. Hama penggerek disebut Phthorimaea operculella, yakni berupa ulat berwarna kelabu dengan panjang tubuhnya 1 cm. Ulat ini akan tumbuh menjadi ngengat berwarna kelabu dengan sayap berumbai – rumbai. Hama Pemakan Daun Kubis Daun kubis yang terserang hama menunjukan gejala – gejala sebagai berikut. Hama (ulat) memakan daun kubis tanpa epidermisnya (kulit arinya) sehingga daun “berjendela” dan tampak memutih bahkan jika serangan lamanya berat, daun akan tampak berlubang –

lubang dan hanyatinggaltulangdaunnyasaja.

Hama pemakan daun kubis ini disebut Plutella xylostella. Hama Thrips pada cabai.Cabai yang terkena hama Thrips menunjukkan gejala – gejala, yakni daun cabai yang terserang hama berubah menjadi keriting. Bila serangannya berat, daun mengerut dan lapisannya berkurang, sehingga daun yang baru menyempit. Permukaan bawah daun yang terserang hama berwarna putih keperakan. Buah yang terserang berubah bentuk dan terlihat jaringan seperti kalus berwarna cokelat muda di kulit buah. Hama ini berupa serangga Thrips sp. Hama pada Bawang putih. Bawang putih yang terkena hama, daunnya berlubang dengan meninggalkan bekas gigitan berwarna putih, atau daun menjadi berselaput tipis dan layu.Hama pada bawang putih ini berupa ulat Spedoptera exigua .Hama Penggerek Buah Tomat. Buah tomat yang terkena hama penggerak menunjuukkan gejala – gejala, seperti bagian ujung atau dekat ujuna buah berlubang dan didekat lubang terdapat kotoran hama. Hama pada buah tomat ini berupa ulat Helicoverpa armigera. Hama Penggerek Polong Buncis. Polong buncis yang terserang hama menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada polong terdapat lubanggerakan berwarna cokelat tua. Daerah seitar lubang menjadi cokelat kehitaman. Jika polong dibuka, akan tampak ulat (hama)dan kotorannya. Hama pada polong buncis ini berupa ulat Etiella zinckenella. (Mutiah sari, dkk. 2013)

GAMBARAN KUSUS Kondisi Kekinian

(6)

ketersediaan pestisida di pasaran yang beraneka ragam, dengan harga yang cukup terjangkau menyebabkan petani tidak ambil pusing untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman mereka. Padahal penggunaan pestisida kimia akan menyebabkan efek samping yang beraneka ragam, mulai dari akumulasi senyawa kimia yang terkandung di dalam pestisida kimia yang mencemari lingkungan, sampai akumulasi senyawa kimia yang di konsumsi oleh manusia. Aplikasi penggunaan dan pemanfaatan insektisida alami yang bervariasi di alam sering kali terbengkalai. Padahal penggunaan pestisida alami tidak menyebabkan efek samping. (Efri, 2004)

Buah mengkudu merupakan bahan alam yang sangat berlimpah, sampai sampai tidak dimanfaatkan oleh manusia. Di dalam buah mengkudu memiliki banyak kandungan kimia yang dapa berguna untuk pembuatan pestisida alami. Kandungan kimia di dalam buah mengkudu diantaranya yaitu: minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol dan antrakuinon. Kandungan lainnya adalah terpenoid, asam askorbat, scolopetin, serotonin, damnacanthal, resin, glikosida, eugenol dan proxeronin (sardes purba, 2007).

(7)

Di samping itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa, ekstrak buah mengkudu menyebabkan Terhambatnya pertumbuhan Colletotrichum capsici dalam penelitian ini diduga karena adanya penurunan pengambilan oksigen dan kerusakan pada mitokondria akibat adanya aktivitas senyawa antifungi dari ekstrak buah mengkudu. Hal inilah yang kemudian menyebabkan energi yang dihasilkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan sel jamur menjadi berkurang yang mengakibatkan pertumbuhannya terhambat. Hal ini sesuai dengan senyawa antifungi dapat mengganggu metabolisme energi dalam mitokondria yaitu dalam transfer elektron dan fosforilasi. Metabolisme energi dalam mitokondria dihambat dengan terganggunya transfer elektron. Terhambatnya transfer elektron akan mengurangi pasokan oksigen dan mengganggu fungsi dari siklus asam trikarboksilat yang menyebabkan terhambatnya pembentukan ATP dan ADP pada sel hidup ( M Ali, dkk, 2010)

(8)

berikutnya adalah kelumpuhan (paralysis) sampai akhirnya memasuki stadium kematian (mortality).

Metode Pembuatan

Dalam pembuatan pestisida alami yaitu dengan menghaluskan buah mengkudu yang telah masak seberat 2kg dengan air sebanyak 5 liter air. Campuran ini difermentasikanselama 3 sampai 7 hari. Setelah proses fermentasi pestisida siap digunakan untuk pengendalian hama.

Metode Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Metode Pengujian dilapangan dilakukan untuk mengetahui efektivitas ekstrak buah mengkudu terhadap mortalitas larva, persentase pupa yang terbentuk, persentase imago yang muncul dan intentitas serangan. Kisaran konsentrasi yang digunakan disusun berdasarkan nilai LC50 yang diperoleh yaitu 3,081 persen. Konsentarsi tersebut diperluas untuk mendapatkan tingkat kematian larva uji 10-95 persen yaitu 30, 60, 90, 120, dan 150 ml. Sebagai pembanding positif digunakan 1 ml pestisida deltamethrin. Seluruh data hasil pengamatan pada setiap peubah dihitung dengan analisis ragam, jika terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata

Persiapan Tanah/Lahan Tanah yang digunakan adalah tanah lapisan atas (Top soil). Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 kemudian dimasukkan ke dalam polybag. Pemupukan dilakukan satu minggu sebelum penanaman dengan pupuk urea, TSP, dan Kcl dengan dosis masing-masing 370 kg urea/ha (3,33g/polybag), 85 kg TSP/ha (0,76 g/polybag) dan 480 kg Kcl/ha (4,32 g/polybag)

(9)

Setelah bibit berumur 15 hari, dipindahkan kedalam polybag yaitu satu tanaman/polybag.

Investasi Hama Masing-masing polybag langsung disungkup pada saat tanam. Investasi larva dilakukan pada 7 hari setelah tanam masing-masing 5 larva instar II/tanaman sampel.

Aplikasi ekstrak dilakukan dengan cara menyemprot cairan ekstrak pada masing-masing tanaman sesuai dengan konsentrasi yang diuji. Cairan ekstrak disemprot secara merata dengan menggunakan hand sprayer ukuran satu liter. Aplikasi dilakukan pada saat satu jam sesudah larva diinvestasikan. Penyemprotan suspensi ekstrak dilakukan pada sore hari sebanyak 50 ml/pot.

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan penyiangan. Penyiraman dilakukan sebanyak satu kali sehari yaitu pada pagi hari. Penyiangan gulma dilakukan untuk menghindari persaingan gulma dengan tanaman. Penyiangan dilakukan setiap kali ada terdapat gulma selama penelitian, sehingga kondisi tanaman bebas dari gulma.

Peubah yang Diamati Mortalitas Larva Mortalitas larva P. xylostella diamati sejak satu hari setelah aplikasi sampai semua larva uji membentuk pupa atau salah satu perlakuan telah menunjukkan kematian 100 persen. Mortalitas larva uji dihitung dengan menggunakan rumus: P0 = % 100x n r

Keterangan : P0 = Mortalitas larva a = Jumlah larva yang mati b = Jumlah larva awal

Persentase pupa yang terbentuk dihitung secara kumulatif dari setiap perlakuan, sejak satu hari larva memasuki fase prapupa sampai terbentuk pupa. Persentase pupa yang terbentuk dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Persentase pupa yang terbentuk = %100 awal larvaJumlah terbentukyang pupaJumlah x

(10)

dihitung dengan menggunakan rumus : Persentase imago yang terbentuk = %100 awal larvaJumlah muncul yang imagoJumlah x Intensitas Kerusakan Intensitas serangan diamati pada saat 28 hari setelah tanam.

Upaya Promosi

(11)

berlangsung cepat, tetapi pestisida sintesis memiliki kekurangan yang sangat banyak, diantaranya yaitu: Hama menjadi kebal (resisten), Peledakan hama baru (resurjensi), Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen, Terbunuhnya musuh alami, Pencemaran lingkungan (air dan tanah ) oleh residu bahan kimia, Tidak ramah lingkungan, Matinya musuh alami hama tanaman,Matinya organisme yang berguna. Dampak tersebut sampai sekarang masih diabaikan oleh para petani, didalam pemikiran mereka hanya bagaimana tanaman terhindan dari hewan pengerek.

Penggunaan pestisida alami kurang digunakan karena sosialisasi yang kurang. Penggunaan pestisida alami, jika disosialisasikan dengan baik akan memberikan sugesti, agar petani beralih dari penggunaan pestisida sintesis ke pestisida alami.

Upaya Preventif

Perlindungan tanaman terhadap serangan hama dengan cara preventif dapat dilakukan dengan menerapkan tehnik bercocok tanam yang baik, seperti pengolahan tanah secara intensif, jarak tanam sesuai, pemupukan yang berimbang, pergiliran penanaman tanaman, penyiangan, sistem pengairan yang baik, sterelisasi tanah, desinfektan benih, pemberian mulsa plastik, penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas, menanam varietas yang resisten terhadap penyakit, dan menanam tanaman sesuai dengan musim tanam.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohamad & dkk. (2010). Uji Beberapa Konsentrasi Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap Penyakit Antraknosa yang Disebabkan oleh Jamur Colletotrichum capsici pada Buah Cabai Merah Pascapanen. Riau: Universitas Riau.

Efri. & dkk. (2004). Keefektifan Ekstrak Mengkudu Pada Berbagai Konsentrasi Terhadap Penghambatan Pertumbuhan Bakteri Ralstonia sp Secara Invitro. Medan: Universitas Sumatera Utara

Hasnah & nasril (2009). Efektivitas Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Terhadap Mortalitas Plutella xylostella L. Pada Tanaman Sawi. Banda Aceh: Universitas darussalam.

Hayani, Eni & Fatimah, Tjihjah. (2004). Identifikasi Komponen Kimia Dalam Biji Mengkudu (Morinda citrifolia). Bogor: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Pangestiningsih, yuswani & dkk. (2013). Pengaruh Insektisida Botani Berbentuk Serbuk Biji Terhadap Hama Kumbang Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) Pada Benih Kacang Hijau. Medan: Universitas Sumatera Utara.

(13)

capsici Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Cabai (Capsicum annum L) Secara In Vitro. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Sari, Mutiyah & dkk. (2013). Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera : Noctuidae) DI Laboratorium. Medan: Universitas Sumatera Utara. Sarida, munti. & dkk. (2010). Pengaruh Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda

citrifolia L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Vibrio harveyi Secara In vitro. Lampung: Universitas Lampung

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang dan/atau barang yang dikuasai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, Perusahaan

jauh-jauh hari sudah menetapkan bahwa Indonesia secara keseluruhan menjadi satu wilayah hukum dengan istilah wilayatul hukmi, sehingga ada satu dari Ormas Islam di Indonesia

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas hidayat dan rahmat serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

Sebagai contoh, dalam domain ketahanan ekologi, Mason Elephan Park memiliki kuasa yang tinggi ( power ) dalam mendukung upaya-upaya konservasi dan pemiliharaan

Transgender adalah sebuah pengertian yang mengacu pada orang-orang yang mempresentasikan gendernya secara berbeda dari idealnya, yaitu jenis kelamin yang mereka

“Jenis-Jenis Lead dan Gaya Bahasa Dalam Feature Biografi Pada Harian Kompas Terbitan Bulan Januari Tahun 2007” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).Dengan demikian