PERAN KELUARGA UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI AGAMA
DALAM MENANGGULANGI PERGAULAN BEBAS DI KALANGAN
REMAJA
Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Sosial dan Budaya dengan dosen pengampu M. Januar Ibnu Adham, S.Pd. M.Pd
Disusun oleh
Adni Fitria K (1510631050006)
Endah Yanti (1510631050043)
Kelas : 5 B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERAN KELUARGA UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI AGAMA
DALAM MENANGGULANGI PERGAULAN BEBAS di KALANGAN
REMAJA
Endah Yanti1, Adni Fitria K2, dan M. Januar Ibnu Adham3 1,2
Mahasiswa Prodi. Pendidikan Matematika FKIP, UNSIKA
3)
Dosen Mata Kuliah Pendidikan Sosial Budaya Prodi. Pendidikan Matematika FKIP, UNSIKA
e-mail: [email protected] [email protected]
Abstrak-Pergaulan bebas merupakan perilaku manusia sebagai makhluk sosial yang melewati batas norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Terdapat beberapa bentuk penyimpangan remaja dalam bergaul, salah satunya merupakan seks bebas. Seks bebas adalah kegiatan bersetubuh dengan lawan jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan. Terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah (a) Faktor agama dan iman; (b) Faktor lingkungan yaitu orang tua, teman, tetangga, dan media; (c) Pengetahuan yang minim dan rasa ingin tahu yang berlebihan; (d) Perubahan zaman atau globalisasi. Hal ini mengakibatkan timbulnya dampak negatif yang dirasakan oleh remaja baik dalam segi kesehatan maupun psikisnya. Keluarga memiliki peran yang penting dalam upaya mencegah terjadinya hal tersebut. Upaya yang dapat dilakukan oleh keluarga diantaranya adalah memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anak dan senantiasa menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupannya.
Kata Kunci : pergaulan bebas, nilai-nilai agama, peran keluarga
Abstract-Free association is a human behavior as a social being that exceeds the limits of norms prevailing in a society. There are several forms of juvenile deviance in association, one of which is free sex. Free sex is an activity of intercourse with the opposite sex before marriage. The occurrence of free association among adolescents is caused by several factors such as (a) religious and faith factors; (b) Environmental factors of parents, friends, neighbors, and media; (c) Less knowledge and excessive curiosity; (d) change of time or globalization. This resulted in the negative impact felt by teenagers both in terms of health and psychological. The family has an important role in preventing the occurrence of it. Efforts that can be done by the family such as providing early sex education to children and constantly instill religious values in life.
Keywords: free association, religious values, family role
PENDAHULUAN
kurangnya pemahaman masyarakat saat ini terhadap batas-batas pergaulan antara pria dan wanita. Remaja sekarang ini sangat mudah untuk terpengaruh terhadap perkembangan zaman yang dibawa oleh budaya barat yang menyebabkan pergaulan yang tidak baik dikalangan remaja. Disamping itu didukung oleh arus modernisasi yang telah mengglobal dan kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama mengakibatkan masuknya budaya asing tanpa penyeleksian yang ketat.
Pada zaman modern sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai dan kemudian sistem-sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem-sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan agama, moral, pendidikan, serta sosial. Maka dari itu harus ditanamkan nilai-nilai positif yang berbanding lurus dengan agama, sosial, moral dan pendidikan dikalangan remaja agar menghindari pergaulan bebas.
Pergaulan bebas ini juga disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama yang mengakibatkan remaja dengan mudahnya melakukan hubungan suami istri diluar nikah, sehingga terjadinya kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga serta kurangnya tanggung jawab maka terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cenderung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal seperti ini.
Biasanya para remaja melakukan perbuatan-perbuatan memalukan itu karena rasa ingin tahunya dan ingin mencoba sesuatu. Seperti halnya seks bebas, mereka melihat adegan-adegan yang melanggar agama akhirnya nafsu mereka bergerak dan ingin mencobanya. Merekapun melakukan hal tersebut dengan pasangannya yang bukan istrinya melainkan dengan pacar mereka.
Oleh karena itu penulis mencoba mengkaji tentang Peran Keluarga Untuk Menanamkan Nilai-Nilai Agama dalam Menanggulangi Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja, agar pembaca khususnya para remaja agar dapat menjaga dirinya dari pengaruh lingkungan serta perkembangan teknologi yang semakin canggih.
KAJIAN TEORI
1. Pergaulan Bebassetiap individu yang tidak dibatasi maupun didiskriminasi agar tidak melanggar hak itu sendiri. Indonesia adalah negara hukum yang dalam kegiatan bermasyarakat dan bernegaranya diatur oleh norma-norma dan hukum yang berlaku. Individu bebas dalam bergaul tetapi tetap harus mematuhi norma hukum, norma budaya dan norma agama yang berlaku. Menurut Abdullah (dalam Aisyah, 2013) pergaulan bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas norma -norma. Berdasarkan pengertian diatas dapat dipahami bahwa pergaulan bebas adalah perilaku individu atau manusia yang melanggar norma-norma yang berlaku di suatu masyarakat yang tidak ada batasannya. Dampak dari pergaulan bebas ini dapat terlihat pada masalah-masalah yang timbul dewasa ini.
Pengertian pergaulan bebas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbagi menjadi 2 kata yaitu pergaulan dan bebas, pergaulan berarti kehidupan bergaul dan bebas berarti tidak terikat atau terbatas oleh aturan.
Masa remaja adalah masa peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003). Menurut Sarwono (2013) perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik. Menurut WHO (World Health Organization) , yang disebut remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24 tahun. Menurut Menteri Kesehatan RI tahun 2010, batas usia remaja adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.
Pada diri remaja umumnya mengalami perubahan fisik dan psikis, remaja cenderung akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik dan penuh tanggung jawab.
2. Nilai Agama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadarminta (2007:801) dinyatakan bahwa nilai adalah harga. Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya, Gordon Allfort (dalam Dudung, 2006). Definisi ini di landasi oleh pendekatan psikologi karena itu tindakan dan perbuatannya seperti keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah, adalah hasil proses psikologi.
Tuhan. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa agama adalah suatu sistem yang telah mengatur segala tata keimanan atau kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan yang mahakuasa serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
James (dalam Darajat, 1991) mendefinisikan agama sebagai perasaan dan pengalaman manusia secara individual, yang menganggap mereka berhubungan dengan apa yang dipandang sebagai Tuhan. Thouless (dalam Darajat, 1991)menyatakan bahwa agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu itu lebih tinggi dari pada manusia.
Terdapat lima agama yang di akui di Indonesia, antara lain Islam, Hindu, Buddha, Kristen Protestan, Katolik dan Kong Hu Cu. Agama yang dimaksud penulis disini yaitu agama Islam. Agama islam adalah suatu agama yang berisi ajaran tentang tata hidup yang diturunkan Allah kepada umat manusia melalui para Rasul-Nya, sejak Nabi Adam as sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurut para ulama sebagaimana yang dikutip oleh Halim (2003: 91) ajaran Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yakni: akidah, ibadah, dan akhlak. Begitu juga Anwar (2003: 107) dalam bukunya study Agama Islam menyatakan bahwa ajaran-ajaran Islam secara garis besar terhimpun dan terklasifikasi dalam tiga hal pokok yakni akidah, ibadah dan akhlak. Menurut Basri (1999: 89) dalam bukunya keluarga sakinah berpendapat bahwa ajaran agama dengan tuntunan akhlak dan ibadah serta akidah jika dilaksanakan sungguh -sungguh akan mampu menghasilkan perkembangan anak yang saleh yang mampu membahagiakan keluarga.
3. Peran Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) didalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dihidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Karena naluri ini timbul rasa kasih sayang para orang tua pada anak-anak mereka, sehingga secara moral keduanya merasa terbebani tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi dan melindungi serta membimbing keturunan mereka. Dari pendapat diatas dapat kita ketahui bahwa peranan pendidikan keluarga amatlah penting, apalagi pendidikan keagamaan.
PEMBAHASAN
1. Tingkat Pergaulan Bebas Dikalangan Remaja
Seks bebas merupakan kegiatan bersetubuh dengan lawan jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan. Fauzy dan Indrijati (2014) memaparkan bahwa menurut survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada tahun 2002, 2007, dan 2012 menyatakan ada berbagai macam jenis perilaku seks yang dilakukan dalam berpacaran, yaitu 70% berpegangan tangan, 4,82% berciuman, dan aktivitas saling merangsang sebanyak 13,6%. Kemudian sebanyak 21% remaja laki-laki dan 2% remaja perempuan mengaku memiliki teman yang pernah melakukan hubungan seks pranikah.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010, 52% remaja di Medan sudah melakukan seks bebas yang berdampak kepada terjangkitnya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Ini artinya setiap tahunnya fenomena seks bebas atau perilaku seks pra-nikah yang dilakukan remaja terus mengalami peningkatan bahkan menambah korban penularan PMS (Penyakit Menular Seksual).
Sarwono (dalam fauzy dan Indrijati, 2014) menjelaskan bahwa perilaku seks pranikah remaja biasanya diawali dengan berpacaran. Berpacaran adalah salah satu perilaku seks pranikah yang biasanya diawali dengan berpegangan tangan, kemudian berciuman, lalu petting dan kemudian berhubungan intim tanpa ada status pernikahan yang, sah. Perilaku berpacaran pada remaja zaman sekarang ini cenderung disengaja dan tidak lagi memperhitungkan nilai-nilai budaya yang terkandung pada masyarakat. Ironisnya, anak muda cenderung menyukai perilaku ini, terutama kalangan remaja yang secara bio-psikologis sedang tumbuh menuju proses pematangan. Pada tahap ini remaja biasanya lemah dalam penggunaan norma, nilai-nilai dan kepercayaan, maka kecenderungan yang ada mereka lebih suka bertindak ceroboh, trial and error (Santrock, 2003).
2. Faktor-faktor Terjadinya Pergaulan Bebas
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang muncul karena adanya dorongan dan kemauan dari individu itu sendiri. Terdapat dua hal yang secara internal ditemukan dalam memperngaruhi perilaku seksual remaja, diantaranya:
a. Aspek Perkembangan Alat Seksual (Biologis)
Perkembangan alat seksual (biologis) merupakan salah satu bentuk ciri-ciri perubahan remaja yang nampak dari luar, sehingga secara langsung perubahan terjadi dapat dilihat oleh orang lain. Dari hal tersebut tentunya akan memiliki dampak apabila remaja yang mengalami perubahan pada fisiknya atau alat seksualnya (biologis) yang tidak terkontrol dengan baik. Hal ini akan memancing pemikiran negatif seseorang terhadap remaja yang menyalahgunakan perubahan pada alat seksualnya (biologis).
b. Aspek Motivasi
Masa remaja merupakan masa dimana seorang anak mulai dihadapkan pada realita kehidupan.Pada saat inilah jiwa seorang remaja mengalami peralihan dari jiwa kekanak-kanakan kearah pedewasaan.Dalam masa peralihan ini tentunya anak banyak mengalami peristiwa baru yang selama ini belum pernah dialami pada masa sebelumnya. Peralihan keadaan inilah yang dapat memicu timbulnya dorongan untuk mencoba hal-hal baru yang selama ini belum pernah mereka coba, tentunya tanpa pemikiran yang matang tentang akibat-akibat yang bisa ditimbulkan karena keterbatasan pemikiran pada usia dewasa.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar individu, yang dapat mendorong remaja untuk melakukan seks bebas. Beberapa faktor eksernal diantaranya:
a. Aspek Keluarga
Di dalam keluarga jelas dibutuhkan adanya komunikasi terutama orang tua dengan anak-anaknya, karena hal tersebut dapat memberikan kehangatan dan hubungan yang bak antara orang tua dan anak.Dengan adanya komunikasi, orang tua dapat memahami kemauan dan harapan anak, demikian pula sebaliknya. Sehingga akan tercipta adanya saling pengertian dan akan sangat membantu di dalam memecahkan atau mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi anaknya. Komunikasi merupakan hal yang penting dalam keluaraga.Berbeda halnya ketika seorang anak berada pada keluarga yang kurang adanya komunikasi antara orang tua dengan anak. Hal ini dapat mengakibatkan anak akan merasa kesepian di dalam keluarga. Menurut Kartono (1988:286) menjelaskan bahwa keluarga memiliki pengaruh yang luar biasa besarnya dalam pembentukan watak dan kepribadian anak.
b. Aspek Pergaulan
aspirasi, kreasi, pematangan kemampuan, potensi dan kebutuhan lain sebagai output pendidikan orang tua dan potensinya. Akan tetapi jika yang dimasukinya adalah lingkungan yang buruk maka akan mendorong mereka ke hal negatif.
c. Aspek Media Massa
Dampak yang ditimbulkan oleh media massa beraneka ragam diantaranya, misal terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial atau nilai-nilai budaya yang ada. Pengaruh media massa baik televisi, majalah, handphone dan internet sering kali disalah gunakan oleh kaum remaja dalam berperilaku sehari-hari, misalnya saja remaja yang sering melihat tontonan kebudayaan barat, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima dilingkungannya. Kemudian dari hal tersebutlah kaum remaja mulai mengimitasikan pada pola kehidupan mereka sehari-hari.
Menurut Akbar (dalam Aisyah, 2013) Terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja pada umumnya bukan disebabkan pengetahuan melainkan oleh ketidaktahuan mereka dalam hal seks. Adapun yang menjadi faktor terjadinya pergaulan bebas adalah naluri seks yang tidak terkendali. Kecenderungan manusia dalam hal ini remaja untuk melakukan pergaulan bebas yang telah membudaya di kalangan remaja putra dan putri lebih dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu seksual yang sangat sulit untuk diantisipasi.
Menurut Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy dalam bukunya “Kiat Mengendalikan
Syahwat” memaparkan bahwa faktor yang menyebabkan syahwat tidak terkendali adalah :
1. Lemah iman
Semakin lemah iman seseorang maka semakin berani pulalah ia menerjang apa-apa yang diharamkan oleh Allah. Jadi, iman yang lemah merupakan faktor utama terceburnya seseorang dalam lumpur syahwat.
2. Salah memilih teman bergaul
Jika teman itu bisa mempengaruhi teman-temannya, maka yang paling banyak terpengaruh adalah orang-orang yang masih berusia muda. Mereka sangat mudah terseret ke dalam lumpur syahwat karena pengaruh teman-temannya.
3. Memikirkan syahwat
Sangat disayangkan bahwa sebagian pemuda sudah sedemikian jauh berpikir tentang syahwat.Dan bila seseorang berlarut larut berfikir seperti itu hatinya pasti dipenuhi oleh lupaan dan gelora syahwat yang bergejolak mencari pemuasan dan pelampiasan.
Selanjutnya terdapat beberapa faktor yang juga mempengaruhi terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja, diantaranya sebagai berikut.
Kecenderungan para remaja dalam hal melakukan pergaulan bebas maupun yang telah terlibat ke dalamnya sangat dipengaruhi oleh efek moderinisasi dan kebudayan yang datang dari barat akibat globalisasi. Modernisasi yang berkembang pesat dengan ditandai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata benar-benar dapat menyilaukan mata generasi yang jauh dari cahaya hidayah agama. Konteks asumsi diatas dapat dipahami bahwa media kita lebih cenderung menayangkan produk dari barat, yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita. Akibat transformasi budaya dari luar negeri, ada kecenderungan para remaja untuk mengikuti pola hidup gaya barat yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya terutama dalam memenuhi kebutuhan biologis. Sehingga tidak ada lagi batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
Sudah merupakan fitrah bahwa manusia memiliki sifat meniru, sehingga manusia yang satu akan selalu cenderung untuk mengikuti manusia lain, baik dalam sifat, sikap, maupun tindakannya. Dalam hal adanya berbagai sajian program dan acara yang disiarkan televisi seperti film, sinetron, musik, drama dan lain-lain sebagainya, yang paling dikhawatirkan adalah jika tontonan tersebut berupa adegan kebejatan moral yang mengarah kepada terciptanya pergaulan bebas di kelangan para remaja, yang tentunya sedikit atau banyak akan ditiru oleh pemirsa khususnya oleh para remaja sesuai dengan fitrahnya. Oleh sebab itu, televisi akan selalu mampu berperan sebagai alat atau media transformasi moral dan budaya destruktif yang sangat efesien dan efekif.
2. Faktor keluarga
Kedudukan orang tua yakni ibu dan bapak perannya sangat strategis dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri setiap anak-anaknya, sebelum anak-anak itu memasuki atau melanjutkan kejenjang pendidikan formal. Disamping itu pun ia juga sebagai motivator untuk mengarahkan anak-anaknya agar dalam bertaubat dan bertindak dan perbuatan yang distruktif. Menurut Sudarsono (dalam Aisyah, 2013) keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif.
Free seks yang terjadi di kalangan remaja tidak terlepas dari fakor keluarga. Keadaan orang tua yang kurang memperhatikan anak-anaknya dalam kehidupannya sehari-hari yang disebabkan salah satu diantara komponen keluarga tersebut terlalu sibuk sehingga tidak dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.Pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak apakah itu pengalaman baik ataukah pengalaman buruk akan senantiasa berpengaruh terhadap psikisnya. Sehingga anak tersebut mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya dengan sendiri, apakah hasil analisis itu baik atau tidak, itu tidak pernah dipikirkan.Baginya yang terpenting problema dapat teratasi sekalipun bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilai moral serta budaya masyarakat.Maka tidak mengherankan dalam keluarga seperti ini memberikan peluang kepada remaja untuk melakukan pergaulan bebas dalam bentuk seks bebas diluar nikah. Pada dasarnya pergaulan bebas yang terjadi di kalangan para remaja yang disebabkan oleh faktor keluarga ini, juga disebabkan oleh ketidak harmonisan hubungan suami istri dalam membina keluarga sakinah, yang menyebabkan broken home. Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak yang melakukan kejahatan disebabkan karena didalam keluarganya terjadi disentegrasi.
Minimnya perhatian orang tua terhadap anaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku anak. Dalam hal ini peluang untuk melakukan pergaulan bebas lebih besar. Seluruh kegagalan di kalangan remaja membuktikan bahwa, dimasa kanak-kanak mereka tidak bisa menyesuaikan dirinya dan bekerja sama dalam kehidupan keluarganya.
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja diantaranya adalah:
a. Faktor agama dan iman
b. Faktor lingkungan yaitu orang tua, teman, tetangga, dan media c. Pengetahuan yang minim dan rasa ingin tahu yang berlebihan d. Perubahan zaman atau globalisasi
3. Dampak Negatif yang Timbul Akibat Pergaulan Bebas
Dampak yang ditimbulkan dari pergaulan bebas terhadap kesehatan diantaranya:
1. Adanya dampak fisik bagi wanita yang dibawah usia 17 tahun yang pernah melakukan hubungan seks bebas akan beresiko tinggi terkena kanker serviks.
3. Terjadinya KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) hingga tindakan aborsi yang dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kanker Rahim, cacat permanen bahkan berujung pada kematian.
Pergaulan bebas mengakibatkan munculnya konsekuensi psikologis dan resiko-resiko kejiwaan yang sulit dihadapi dengan terapi teknologi kesehatan (Aisyah, 2013). Diantara konsekuensi psikologi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pergeseran pandangan remaja modern terhadap seks
Pergaulan bebas, seks diluar nikah, kumpul kebo, dan semacamnya sudah menjadi tradisi yang tidak asing lagi disaksikan melalui pemberitaan media massa. Pacaran bahkan dijadikan ukuran untuk melihat kesetiaan dengan kesediaan untuk mencurahkan kasih tanpa batas di luar nikah.Pandangan remaja terhadap nilai kesucian dan keperawanan pun kiat bergeser.
Sebagai konsekuensi riil adalah munculya sifat sulit mempercayai orang lain di sekelilingnya. Perasaan besdosa, benci pada diri sendiri, perasaan tak berharga dan beragam beban psikis lainnya pada gilirannya nanti akan membawa trauma berkepanjangan pada pelakunya.
2. Pergaulan bebas dan perilaku seks yang eksplosif.
Dapat memicu individu berperilaku menyimpang seksual untuk memuaskan keinginan-keinginan di luar batas kewajaran.
3. Pergaulan bebas adalah awal dari kesesatan selanjutnya
Biang kesesatan yang umum terjadi di kalangan remaja sekarang ini adalah munculnya budaya pacaran yang menjadi biang keladi kemungkaran.Pacaran pada umumya melegalkan hubungan mesra antara lawan jenis sebelum jenjang pernikahan.
Umumnya generasi muda tidak menyadari bahwa pacaran yang dijalaninya adalah sebuah jalan yang menghantarkannya pada aib, kerusakan moral dan harga diri yang tergadaikan. Dengan setia mempersembahkan kehidupannya pada hawa nafsu serakah yang menjadikan manusia yang berperilaku demikian diatas berada dalam kondisi psikis yang labil, tidak merasakan nikmat kepuasan batin yang sempurna, serta kosong jiwanya dari cahaya Ilahi.
bisa memaafkan diri sendiri, takut akan hukuman Tuhan, mimpi buruk, merasa hampa, sulit mempertahankan hubungan.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat. Maka pengendalian hawa nafsu sebagai jihad tebesar sepanjang hidup dengan kepatuhan dan keimanan pada ajaran agama. Dengan hal ini dapat mencegah hubungan terlalu jauh sebelum menikah. Bagi yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu seyogyanya melaksanakan pernikahan dengan dasar kesiapan dari kedua pasangan secara kepribadian, kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik serta sikap mengedepankan rasa tanggung jawab. Dan tak lupa syarat pernikahan ini haruslah berdasar pada perasaan saling mencintai dan menghargai. Sudah semestinya generasi muda menghindari budaya berpacaran yang mana pacaran merupakan budaya asing yang belepotan syahwat dan birahi. Bahkan ketika cinta itu tumbuh semakin dewasa, syahwat dan birahi tidak lagi menjadi tujuan yang memiliki arti.
Dilansir dari liputan6.com, terdapat penelitian yang mengatakan jika sebagian besar remaja Indonesia sangat jarang sekali curhat kepada orang tua tentang masalah seks mereka. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga non pemerintah Synovate Research di empat kota besar di Indonesia dengan survei yang diikuti oleh 450 orang yang mencapai kisaran umur dari U15 –U24 dan kebanyakan dari mereka berasal dari ekonomi menengah kebawah.Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari dan mengenal bagaimana aktifitas seks responden mereka. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 silam ini mengaasilkan bukti real jika sebagian besar remaja di Indonesia mendapatkan informasi berbagai hal tentang seks dari teman mereka (65%), 35% dari film porno dan sisa 5% mereka mendapatkan informasinya dari orang tua.
Media adalah salah satu sumber yang memudahkan remaja untuk mengakses informasi apapun. Media yang menyediakan banyak informasi tentang seks, seperti cerita-cerita percintaan, berbagai model atau gaya dalam berhubungan seks, penjelasan orgasme, onani/masturbasi, ejakulasi, gambar-gambar wanita yang berhubungan seks juga dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja. Remaja lebih tertarik untuk mencari segala informasi yang berhubungan dengan seksualitas di internet secara mandiri tanpa pengawasan orang dewasa (Parkes, dkk., dalam Fauzy dan Indrijati, 2014).
dan mereka akan membuat penjelasannya sendiri tanpa tahu benar ataukah salah. Santrock (dalam Fauzy dan Indrijati, 2014) juga memaparkan bahwa padahal seharusnya orang tua dapat mengarahkan para remaja itu ke arah yang benar dan mendampingi, serta mengontrol anak dalam setiap pengambilan keputusan merupakan peran dari orang tua. Penelitian yang dilakukan Asfiyati & Sanusi (2006) menemukan bahwa remaja lebih banyak mengalih informasi seksual melalui lingkungan sebayanya, karena bertanya pada teman mereka itu bisa bebas, tidak dibatasi aturan. Lou & Chen (dalam Fauzy dan Indrijati, 2014) memaparkan bahwa remaja lebih nyaman untuk membicarakan seks dengan teman sebaya, teman atau saudara yang lebih tua dikarenakan orang tua yang sering melarang remaja untuk menanyakan atau membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seks,. Ini dilakukan orang tua dengan alasan bahwa seksualitas itu adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dengan anak.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agha & Rossem (2004) menunjukkan bahwa pencegahan dan pengurangan yang efektif dalam berperilaku seks bebas pada remaja adalah dengan adanya pengetahuan seks yang berasal dari pendidikan yang formal atau pendidikan seksual dari sekolah. Pemberian pendidikan seks sejak dini akan membuat individu tersebut lebih berhati-hati dan menjaga sekali dirinya dalam menerapkan perilaku seks dalam hidupnya. Lou & Chen (dalam Fauzy dan Indrijati, 2014) juga menjelaskan bahwa pendidikan seks secara dini dapat dilakukan oleh keluarga atau orang tua yang berfungsi sebagai pendidik pertama juga memegang peranan penting dalam perkembangan seksual anaknya. Menurut SIECUS, salah satu dewan informasi dan pendidikan tentang seks milik Amerika Serikat mengatakan bahwa seharusnya pendidikan seks itu berawal dari rumah, dimana orang tua atau pengasuh adalah pemberi pendidikan seksual yang sifatnya primer atau pertama kali (“Sexuality Education Question & Answer”, 2012). Pentingnya orang tua melakukan komunikasi seksual pada anak adalah untuk mencegah penularan HIV/AIDS dan juga mencegah kehamilan diluar nikah. Menurut Dilorio, dkk., 2000’Waylen, dkk. (dalam Fauzy dan Indrijati, 2014) terjadinya proses penurunan nilai budaya, norma, dan agama orang tua ke anak bisa diramu dengan informasi seksual yang ada, sehinga dengan begitu akan lebih mudah untuk memberikan penjelasan mengenai seks pada remaja.
pada remaja awal perempuan dan laki-laki dengan komunikasi efektif tentang seksualitas dalam keluarga. Semakin tinggi komunikasi seksual yang dilakukan, maka akan semakin positif pula sikap remaja awal perempuan dan laki-laki terhadap pergaulan bebas. Ini membuktikan bahwa adanya pergeseran persepsi nilai-nilai atau norma sosial pada remaja mengenai seks.
Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang telah dipaparkan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja adalah adanya komunikasi yang terjalin diantara orang tua dan anak mengenai pendidikan seks sehingga anak tidak lagi mencari informasi yang belum bisa dibuktikan kebenarannya melalui lingkungan sekitarnya baik berasal dari teman-teman, maupun dari internet.
4. Menanamkan Nilai-nilai Agama Islam
Aspek nilai-nilai ajaran Islam pada intinya dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu nilai-nilai aqidah, nilai-nilai ibadah, dan nilai-nilai akhlak.
1. Nilai-nilai aqidah mengajarkan manusia untuk percaya akan adanya Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa sebagai Sang Pencipta alam semesta, yang akan senantiasa mengawasi dan memperhitungkan segala perbuatan manusia di dunia. Dengan merasa sepenuh hati bahwa Allah itu ada dan Maha Kuasa, maka manusia akan lebih taat untuk menjalankan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan takut untuk berbuat dhalim atau kerusakan di muka bumi ini.
2. Nilai-nilai ibadah mengajarkan pada manusia agar dalam setiap perbuatannya senantiasa dilandasi hati yang ikhlas guna mencapai rido Allah. Pengamalan konsep nilai-nilai ibadah akan melahirkan manusia-manusia yang adil, jujur, dan suka membantu sesamanya.
3. Nilai-nilai akhlak mengajarkan kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma atau adab yang benar dan baik, sehingga akan membawa pada kehidupan manusia yang tenteram, damai, harmonis, dan seimbang.
Cara menanamkan nilai-nilai agama islam pada remaja antara lain: a. Memotivasi remaja
Motivasi sebagaimana yang dijelaskan oleh Sadirman ( 2003: 73) berasal dari kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang tua sebaiknya memberikan motivasi kepada anaknya yang berkaitan dengan nilai-nilai agama.
b. Memberi teladan kepada remaja
c. Membentuk kebiasaan-kebiasaan remaja
Pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang bersifat relegius, sesuai dengan perkembangan jiwanya. Apabila anak tidak mendapatkan latihan dan pembiasaan tentang agama pada waktu kecilnya, menurut Drajat (1995: 65) bisa jadi ia akan besar dengan sikap acuh tak acuh atau anti terhadap agama. Oleh karena itu seharusnya orang tua bisa menanamkan kebiasaan-kebiasaan berprilaku baik mulai sejak dini.Karena masa anak-anak adalah masa yang paling baik untuk meresapkan dasar-dasar kehidupan beragama.
Dengan demikian jelas bahwa nilai-nilai ajaran Islam merupakan nilai-nilai yang akan mampu membawa manusia pada kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan manusia baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
Pada dasarnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecil. Seseorang yang waktu kecilnya tidak mendapat pendidikan agama, maka pada dewasanya ia tidak merasa penting akan adanya agama dalam hidupnya sehingga ia melakukan hal-hal yang melanggar aturan-aturan yang berlaku di agama dan masyarakat salah satu contohnya yaitu pergaulan bebas. Lain halnya dengan orang yang waktu kecilnya sudah dikenalkan dengan pengalaman-pengalaman agama misalnya kedua orang tuanya taat beragama, ditambah lagi dengan pendidikan sekolah, maka orang tersebut akan dengan sendirinya mempunyai kecenderungan terhadap hidup yang taat mengikuti peraturan-peraturan agama. Di samping itu juga terbiasa menjalankan ibadah, takut larangan-larangan dan merasakan betapa nikmatnya hidup beragama. Dalam keluarga nilai-nilai agama bagi kehidupan seorang anak akan mempengaruhi dan memberikan dampak positif terhadap kehidupan anak sejak ia kecil hingga ia dewasa kelak.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya maka nila-nilai agama perlu ditanamkan dalam diri remaja untuk mencegah terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja. Dalam mencegah hal tersebut peran serta orang tua dalam keluarga sangat diperlukan untuk menanamkan nilai-nilai agama.
Kesimpulan
dan iman; (b) Faktor lingkungan yaitu orang tua, teman, tetangga, dan media; (c) Pengetahuan yang minim dan rasa ingin tahu yang berlebihan; (d) Perubahan zaman atau globalisasi. Dampak yang ditimbulkan dari pergaulan bebas terhadap kesehatan diantaranya (a) Adanya dampak fisik bagi wanita yang dibawah usia 17 tahun yang pernah melakukan hubungan seks bebas akan beresiko tinggi terkena kanker serviks; (b) Beresiko tertular penyakit kelamin dan HIV-AIDS yang bisa menyebabkan kemandulan bahkan kematian; (c) Terjadinya KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) hingga tindakan aborsi yang dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kanker Rahim, cacat permanen bahkan berujung pada kematian.
Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah pergaulan bebas dikalangan remaja diantaranya adalah komunikasi seksual yang dilakukan orang tua dan anak secara efektif. Hal ini akan memberikan pengaruh yang kuat dalam keputusan anak dalam melakukan perilaku seks pranikah. Adanya komunikasi yang terjalin diantara orang tua dan anak mengenai pendidikan seks maka anak tidak lagi mencari informasi yang belum bisa dibuktikan kebenarannya melalui lingkungan sekitarnya baik berasal dari teman-teman, maupun dari internet. Upaya selanjutnya adalah perlunya penanaman nilai-nilai agama dalam diri remaja yang diperolehnya melalui pendidikan di keluarga. Terdapat tiga aspek nilai-nilai agama yang perlu ditanamkan dalam diri remaja diantaranya adalah nilai akidah, nilai akhlak dan nilai ibadah. Seorang anak yang telah ditanamkan nilai-nilai agama sejak dini oleh orang tuanya maka anak tersebut dalam kehidupannya akan senantiasa menjaga dirinya dari lingkungan dan pengaruh negatif yang menghampirinya melalui perkembangan zaman dan teknologi seperti sekarang ini.
Daftar Pustaka
Online :Aisyah. 2013. Dampak Negatif Pergaulan Bebas Terhadap Generasi Muda Menurut Tinjauan Pendidikan Islam. Skripsi
Halim Abdul Nipan. 2003. Anak Saleh Dambaan Keluarga. Yogyakarta. Mitra Pustaka.
Muhtadi, Ali. 2012. Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Dalam Pembentukan Sikap Dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Luqman Al-Hakim Yogyakarta. Jurnal.
Rahmat Dudung. 2006. Hakikat Dan Makna Nilai.
Hartono, Rizki Dwi & Gianawati, Nur Dyah. 2013. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang (The Factors That Causes Teenagers Behave Deviant). Artikel Ilmiah.
Fauzy, Zulinar Firda & Indrijati, Herdina. 2014. Hubungan antara KomunikasiOra ngtua dan Anak tentang Seksual dengan Presepsi Remaja terhadap Perilaku Seks Pranikah. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial.
http://m.forum.liputan6.com/t/pengalaman-seks-bebas-remaja-indonesia-mencapa-50/108369
Diakses pada tanggal 2 Desember 2017.
Buku :
Jalaluddin. 2003. Psikologi Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Ad-Duwaisy, Muhammad bin Abdullah. 1994. Kiat Mengendalikan Syahwat. Bekasi: PT Wacana Lazuardi Amanah.
Basri, Hasan. 1999. Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi Dan Agama. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Poerwadarminta, W.J.S. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Sarwono, S.W. (2013). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
Santrock, J.W. (2003). Adolescent: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.
Penelitian :
Asfiyanti., & Sanusi, S.R. (2006). Gambaran Karakteristik, Keluarga, dan Perilaku Seksual Santri di Pesantren Purba Baru. Jurnal Komunikasi Penelitian, 18(1), 1-4.
Agha, S., & Rossem, R.V. (2004). Impact of a School-based Peer Sexual Health Interventention on Normative Beliefs, Risk Perceptions, and Sexual Behavior of Zambian Adolescent. Journal of Adolescent Health,34, 441-452.