• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL HERBARIUM CELEBENSE DAN DESKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROFIL HERBARIUM CELEBENSE DAN DESKRIPSI"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

ISBN: 978-970-3701-64-6

dan Deskripsi 100Jenis Pohon Khas Sulawesi

Profil Herbarium Celebense Universitas Tadulako

Penulis

Prof. Dr. Ramadanil Pitopang

Dr. Ir. Iskandar Lapandjang, MP

In'am F Burhanuddin, S.Si

:

Editor :

Prof. Ir. Zainuddin Basri, PhD

(2)

Profil Herbarium Celebense

Universitas Tadulako

dan

Deskripsi 100Jenis Pohon Khas

Sulawesi

Prof. Ir. Zainuddin Basri, PhD

Prof. Dr. Ramadanil Pitopang

Dr. Ir. Iskandar Lapandjang, MP

In'am F Burhanuddin, S.Si

Editor :

Penulis :

(3)

Editor :

Penulis:

Penerbit: UNTAD PRESS ISBN 978-970-3701-64-6

Prof. Ir. Zainuddin Basri, PhD

Prof. Dr. Ramadanil Pitopang, Dr. Ir. Iskandar Lapandjang, MP,

In'am F Burhanuddin, S.Si

Penerbitan buku ini dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Tadulako Palu, Tahun 2011.

©: 2011 Herbarium Celebense UNTAD

Cover design : In’am F. Burhanuddin Lay out : In’am F.Burhanuddin

(4)

Sambutan Rektor

Universitas Tadulako

Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, SE, MS

Segala puji dan syukur kami persembahkan kepada TuhanYang Maha Kuasa yang atas karuniaNya buku Profil Herbarium Celebense dan Deskripsi 100 Jenis Pohon Khas Sulawesi ini akhirnya dapat disusun dan diterbitkan dengan baik. Keanekaragaman hayati Sulawesi yang begitu tinggi perlu didokumentasikan dengan baik agar menjadi panduan bagi generasi mendatang yang ingin mempelajari keanekaragaman hayati sulawesi khususnya bagi para pelajar, guru-guru, mahasiwa, peneliti, pejabat fungsional dan parapihak yang ingin mengembangkan kajian tentang KEHATI di sulawesi. .

Kehadiran buku ini merupakan salah satu dari hasil Tri Darma Perguruan Tinggi yang dilakukan di Universitas Tadulako dan merupakan bukti nyata bahwa kegiatan penelitian merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian utama di Universitas Tadulako, sehingga melalui pengembangan lembaga riset seperti Herbarium merupakan fasilitas utama penting dalam menunjang bidang keanekaragaman hayati Sulawesi yang terkenal dengan keunikan dan tingkat endemisitas yang tinggi. Potensi biodiversitas tumbuhan Sulawesi ini masih sangat tinggi, hal ini ditunjukan dengan banyaknya penemuan ilmiah baru oleh botanist dalam beberapa tahun terakhir baik yang bersifat “New Record” ataupun “New Species”. Tercatat beberapa jenis yang merupakan baru untuk ilmu pengetahuan seperti (Araceae) dari C.A. Tinombala,

(Balsaminaceae) dari Lore Lindu, (Arecaceae) dan (Nepenthaceae) dari Taman Nasional Lore Lindu.

Kami merasa bangga dan menyambut baik kehadiran Buku ini yang kedepannya diharapkan muncul karya-karya dari civitas academica Universitas Tadulako untuk kemajuan Ibu Pertiwi yang tercinta.

Palu, 1 Agustus 2011

Allocasia megawatii Impatien

punaensis Pinanga aurantiaca

(5)
(6)

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan KaruniaNya sehingga buku ini dapat diselesaikan secara baik hingga penerbitannya. Seperti disadari bahwa publikasi menyangkut Flora Sulawesi masih sangat terbatas, disisi lain kawasan ini merupakan bioregion penting untuk keanekaragaman hayati Indonesia terutama kekayaan Flora dan Fauna di Indonesia. Oleh sebab itulah buku ini disusun untuk membantu para pihak dalam pengenalan keanekaragaman hayati tumbuhan Sulawesi terutama kaum akademisi (dosen, peneliti dan mahasiswa) pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam seperti Biologi, Kimia, Kehutanan serta lembaga terkait lainnya seperti pertanian, pariwisata, kehutanan, dan konservasi konservasi sumber daya alam.

Penulisan buku ini sangat ditunjang oleh fasilitas Herbarium Celebense (CEB) UNTAD, yang merupakan salah satu herbarium penting di bioregion Wallacea dan merupakan aset Universitas Tadulako. Untuk itu penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah berjasa dalam pengembangan Herbarium Celebense terutama pada Bpk. Prof. Dr. Ir. H. Edi Guhardja, MSc (IPB), Dr. Paul J.A. Kessler (Hortus Botanicus Leiden), Prof. Dr. Stephan Robert Gradstein (Univ.of Gottingen), Dr. Michael Kessler (Univ. Gottingen), Dr. Ir. Sri S. Tjitrosoedirdjo (SEAMEO BIOTROP), Prof. Dr. Johanis P. Mogea (Herbarium Bogor) dan Dr. Ir. H. Dede Setiadi (IPB), Dr. Gillian Brown (School of Botany the University of Melbourne Australia) yang semuanya merupakan pakar ekotaksonomi dan konservasi biodiversitas tumbuhan.

Buku ini diterbitkan atas biaya dari Kementerian Pendidikan Nasional melalui Dana DIPA Universitas Tadulako tahun 2011. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih banyak atas tersediannya pembiayaan tersebut. Akhirnya penulis berharap semoga buku ini bermanfaat untuk kemaslahatan umat manusia.

Palu, 22 Agustus 2011

(7)
(8)

DAFTAR ISI

Sambutan Rektor Universitas Tadulako...iii

Ucapan Terima Kasih...v

Daftar Isi...vii

Pendahuluan...1

Tinjauan Pustaka...3

Profil Herbarium Celebence....9

Teknik Pengkoleksian dan Pembuatan Herbarium....14

Deskripsi 100 Jenis Pohon khas Sulawesi..25

Aleurites moluccana...27

Dysoxylum nutans...61

(9)
(10)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mendapat julukan sebagai “Megabiodiversity Countries” karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia ini tersebar di dalam wilayah nagara kesatuan Republik Indonesia.

Sulawesi merupakan pulau terbesar dan penting di Indonesia, secara biogeografi pulau ini terletak dalam subregion biogeografi Wallacea yaitu suatu wilayah yang unik karena merupakan kawasan peralihan antara Benua Asia dan Australia dan memiliki keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisitas yang tinggi. Diperkirakan 15% dari tumbuhan berbunga di Sulawesi adalah endemik (Whitten et al. 1987 : Ramadhanil Pitopang, 2006). V. Balgooy et al. (1996) melaporkan 933 tumbuhan asli dari Sulawesi yang dibahas dalam Flora Malesiana waktu itu, 112 adalah endemik Sulawesi.

Endemisitas tumbuhan berbunga di Sulawesi sangat bervariasi diantara kelompok takson, Sebagai contoh pada Palm (Arecaceae) dan Anggrek (Orchidaceae) dari total 817 spesies anggrek dari Sulawesi dan Maluku (128 genera) 149 merupakan endemik (Thomas and Schuiteman 2002). Selain itu Sulawesi juga dikenal sebagai salah satu kawasan EBA (Endemic Bird Area) terpenting di Indonesia, dimana dari 328 jenis burungnya, 88% adalah jenis yang unik (White and Bruce, 1986). Dari 127 hewan menyusui asli, 79 (62%) bersifat endemik dan presentasinya meningkat sampai 98% jika kelelawar tidak dihitung (Whitten et al., 1987).

Berdasarkan data base yang ada, diperkirakan di Sulawesi terdapat lebih dari 2100 jenis tumbuhan berkayu yang terdiri atas famili Meliaceae, Euphorbiaceae, Rubiaceae, Myrtaceae, Ebenaceae, Moraceae, Magnoliaceae, Burseraceae, Araucariaceae dan lain-lain (Kessler et al 2002). Diantaranya merupakan tumbuhan yang tergolong pohon (dbh > 10 cm) yang mempunyai nilai ekonomi, estetika dan konservasi yang sangat baik.

(11)
(12)

TINJAUAN PUSTAKA

Biogeografi , Sejarah Alam dan Keanekaragaman Hayati Sulawesi

S

ulawesi merupakan salah satu pulau besar dan penting di Indonesia, karena secara biogeografi termasuk dalam kawasan Wallacea, suatu kawasan yang terdiri atas pulau Sulawesi, sebagian Maluku, kepulauan Banda, dan kepulauan Nusa Tenggara Barat, dengan luas keseluruhan sekitar 346.782 km2. Wilayah ini sangat unik karena merupakan tempat bercampurnya tumbuhan, hewan, dan hidupan lain dari Asia dan Australia, serta merupakan kawasan peralihan ekologi (ekoton) antara kedua benua tersebut (Mittermeier et al., 1999).

Kawasan ini dinamakan Wallacea, merujuk nama Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah alam dari Inggris yang pada tahun 1850-an melakukan ekspedisi di kawasan ini. Hasil penelitiannya dipublikasikan dalam buku The Malay Archipelago yang menyimpulkan bahwa flora dan fauna di kawasan ini banyak yang unik dan spesifik, serta mempunyai biogeografi tersendiri yang berbeda dengan bagian barat dan timur Indonesia. Karena hasil pemikirannya ini, Alfred Russel Wallacea dikenal sebagai Bapak Biogeografi, studi tentang persebaran geografi tumbuhan dan hewan (Whitten et al., 1987; Kinnaird, 1997; Mittermeier et al., 1999).

Whitmore (1989) dan Mittermeier et al. (1999) menyatakan bahwa kondisi biogeografi pulau Sulawesi yang spesifik merupakan akibat proses pembentukan pulau ini sejak masa purba. Menurut Kinnaird (1997), kawasan ini memiliki sejarah geologi yang komplek, meliputi pergeseran lempeng bumi, perbenturan antar lempeng bumi, pergolakan dalam perut bumi, dan kegiatan gunung api yang memuntahkan isi perut bumi, hingga menjadikan bentuk pulau Sulawesi unik dan tidak beraturan seperti saat ini (Gambar 3).

(13)

Pembentukan pulau Sulawesi dimulai sekitar 200 juta tahun yang lalu, ketika benua besar purba Gondwana (sebelumnya Pangea) terpecah-pecah karena pergerakan lempeng bumi di bawahnya. Di antara pecahan-pecahan benua tersebut ada sebagian yang bergabung kembali membentuk pulau-pulau baru (Gambar 2.3). Salah satu penggabungan yang penting secara biogeografi adalah pertemuan sebagian benua Asia dan Australia yang memungkinkan perpindahan dan percampuran flora dan fauna yang sedang berevolusi. Salah satu pecahan daratan Asia bergerak ke arah timur dan kelak membentuk Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi barat. Selanjutnya sekitar 100 juta tahun yang lalu, Australia bersama dengan Irian (Papua) dan Sulawesi timur, memisahkan diri dari Antartika dan bergerak ke utara dengan membawa serta mamalia, burung dan tumbuhan berbunga. Kemudian sekitar 60-70 juta tahun yang lalu, Sulawesi barat terpisah dari Kalimantan, lalu sekitar 15 juta tahun yang lalu Sulawesi timur memisahkan diri dari Irian, serta bergerak ke barat menabrak fragmen Sulawesi barat, sehingga pecahan tersebut membelok dan semenanjung utaranya berputar hampir 90 derajat ke posisinya yang sekarang. (Moss and Wilson, 1998).

Aktifitas geologi ini menyebabkan pulau Sulawesi secara biogeografi terisolasi dari pulau-pulau di sebelah barat (Asiatis), maupun di sebelah timur (Australis). Isolasi geografi pulau Sulawesi dan kondisi lingkungannya, seperti variasi topografi, gradien elevasi, dan variasi jenis tanah menyebabkan flora dan fauna di bioregion ini berkembang secara khas (Siebert, 2000). Struktur dan komposisi biota pulau ini sangat unik, walaupun jumlah jenisnya relatif sedikit, dimana jumlah jenis tumbuhan tinggi diperkirakan hanya 5000 spesies, termasuk 2100 tumbuhan berkayu (Whitten et al., 1987; Keßler et al., 2002). Di pulau ini hanya didapatkan 7 spesies anggota familia Dipterocarpaceae, kelompok tumbuhan berhabitus pohon yang bernilai ekonomi tinggi dan mendominasi hutan-hutan di Kalimantan (267 spesies) dan Sumatera (104 spesies). Fagaceae menunjukan pola yang sama dimana 6 spesies Lithocarpus dan 2 Castanopsis dari Sulawesi, dibandingkan dengan 60 dan 21 tercatat dari Kalimantan masing-masingnya (Keßler 2002).

Kemolekan fisik pulau Sulawesi dengan pegunungan berselimut hutan dan terumbu karang yang mengagumkan menyimpan pesona kehidupan biologi, berupa flora dan fauna yang unik dan spesifik (Kinnaird, 1998; Yuzammi dan Hidayat, 2002). Keanekaragaman hewan di kawasan meliputi sekitar 289 spesies burung, 114 spesies mamalia, dan 117 spesies reptilia (Ministry of Population and Environment Republic of Indonesia, 1992). Di pulau ini dikenal beberapa fauna endemik seperti anoa (Buballus depresicornis dan B. quarlesii), tarsius ( , ,

dan ), maleo ( ), burung alo ( dan

), babirusa ( ), musang raksasa

( ), kuskus ( dan

), jalak sulawesi ( ) dan sp salah satu species

ikan purba (ikan fosil) yang ditemukan beberapa tahun yang lalu

Tarsius spectrum T. pumillus T. diannae Macrocephalon maleo Rhyticeros cassidix Phanelopides exerhatus Babyrousa babyrusa

Macrogalidia muschen-broekii Ailurops ursinus Strigocuccus celebensis Scisirostrum dubium Latimeria

dari perairan Sulawesi Utara.

(14)
(15)

50

Gambar 3. Rekontruksi Asia Tenggara sejak 50 juta tahun lalu. (Hall 1995)

50

40

30

20

10

0

(16)

Yuzammi dan Hidayat (2002) melaporkan 67 spesies anggrek dan 67 spesies flora non anggrek yang bersifat endemik dan unik dari Sulawesi yang disusun berdasarkan pada hasil ekspedisi botani yang dilakukan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi. Jenis flora tersebut antara lain: ,

, , ,

Sweet, J.J. Smith, Yuzammi & A.Hay,

Yuzammi, Val., Hay,

Bakh., Miq., , dan lain-lain.

Cymbidium finlaysonianum Coelogyne celebica Abdominiea minimiflora Goodyera reticulata Phalaenopsis celebensis Vanda celebica Allocasia suhirmaniana

Alocasia megawatii Alpinia abendanoni Alocasia balgooyii Diospyros celebica Orophea celebica Agathis celebica

Gambar 4. spec.nov, jenis baru dari TN.

Lore Lindu dan (Proteaceae)

species endemik Sulawesi.

Nepenthes

Macadamia hildebrandii

Menurut Mogea (2002) Sulawesi memiliki tingkat endemisitas palem yang tinggi (72%), dimana 68% spesies dan 58% genus palem yang tumbuh di bioregion ini adalah asli Sulawesi. Di antara jenis-jenis palem yang ada dua di antaranya endemik

untuk Sulawesi Tengah, yaitu dan sp. nov

(longirachilla). Beberapa spesies palem Sulawesi lainnya yang endemik adalah Becc., Miq., serta beberapa spesies rotan seperti

taimanu ( ), tohiti ( Becc. var. Becc.),

, Becc., Mart. dan

lain-lain.

Gronophyllum sarasinorum Pinanga

Pigafetta elata Licuala celebica

(17)
(18)

PROFIL HERBARIUM CELEBENSE (CEB)

H

erbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber, 1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa. Karl von Linné (1707-1778) adalah orang berjasa mengembangkan teknik herbarium (de Wolf, 1968 dan Radford et al., 1974 dalam Bridson dan Forman, 1998). Pada saat ini istilah herbarium digunakan pula untuk menamai lembaga yang mengelola koleksi spesimen tumbuhan, mempelajari keanekaragam spesies tumbuhan dan kedudukan taksonominya, serta membuat pangkalan datanya secara komputerisasi.

Pada tahun 2000 telah didirikan sebuah herbarium di Universitas Tadulako Palu dengan nama Herbarium Celebense (CEB) yang sebelumnya bernama Herbarium Universitas Tadulako. Berdirinya Herbarium adalah dimulai dengan pengkoleksian jenis-jenis tumbuhan kawasan pantai di Donggala oleh Dr Ramadhanil Pitopang setelah pulang mengikuti kursus tentang “ Manajemen Herbarium dan Taksonomi Tumbuhan” di Herbarium Bogoriense (BO) Bogor selama 6 bulan.

Tahun 2001, Herbarium ini dikembangkan melalui dukungan proyek STORMA (Stability of Rain Forest Margin) sebuah proyek penelitian kerjasama antara 4 universitas, yaitu Universitas Göttingen dan Kassel University (dari Jerman), serta Universitas Tadulako dan Institut Pertanian Bogor dari Indonesia.

(19)

Pendirian dan pengembangan lembaga ini telah melibatkan dan dukungan dari beberapa ahli sistimatik botani seperti: Prof. S. Robert Gradstein (Department of Systematic Botany, Gõttingen, Germany), Dr. Paul J.A. Keßler (Nationaal Herbarium Nederland, Universiteit Leiden, Nederlands), Dr. Johanis P. Mogea, LIPI-Indonesia), Prof. Dr. Edi Guhardja, M.Sc. Selama perkembangannya CEB juga menjalin kerjasama dengan beberapa herbarium baik dari dalam maupun luar negeri, seperti Herbarium Bogoriense (BO), Herbarium Biotrop (BIOT), Herbarium Göttingen (GOET), National Herbarium of the Netherlands di Leiden (L), Herbarium Wanariset (WAN), Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dan National Herbarium of Australia di Canberra. Kehadiran herbarium ini di kawasan Sulawesi sangat penting untuk mempelajari dan mengkoleksi seluruh spesimen tumbuhan dari Indonesia, khususnya flora wallacea.

Pada tahun 2002 Herbarium Celebense telah terdaftar secara resmi dalam International Index Herbariorum (New York) dengan akronim CEB. Pada saat ini CEB telah aktif melakukan koleksi botani dan menyimpan lebih dari 12.000 spesimen tumbuhan Sulawesi yang didatabasekan dalam BRAHM SYSTEM. Di antara koleksi terdapat juga “Specimen Type” yang pertama sekali di deskripsi dari Sulawesi (Jenis baru). Kebanyakan spesimen herbarium tersebut terdiri atas tumbuhan tingkat tinggi (spermatophyta) yang tergolong ke dalam dikotiledon seperti pohon dan Monokotiledon (rotan, anggrek, dan rumput) serta beberapa merupakan tumbuhan tingkat rendah yang terdiri dari paku-pakuan dan lumut, artifak etnobotani dan koleksi karpologi.

Secara umum keberadaan Herbarium Celebense (CEB) mempunyai peranan sebagai berikut:

1. Mendukung penelitian keanekaragaman hayati tumbuhan, taksonomi, ekologi dan konservasinya.

2. Secara khusus mendukung konservasi flora Sulawesi dan Wallacea ataupun Indonesia secara umum.

3. Menyediakan fasilitas pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa Universitas Tadulako dan masyarakat Sulawesi Tengah

4. Memberikan jasa pelayanan identifikasi dan determinasi tumbuhan kepada mahasiswa ataupun pihak yang memerlukannya.

5. Memberikan pelatihan kepada unit kegiatan mahasiswa ataupun siswa sekolah menengah Umum di Sulawesi Tengah.

6. Sebagai sarana pendidikan dan rekreasi bagi masyarakat.

7. Sebagai lembaga konservasi yang melakukan upaya koleksi, pemeliharaan dan perbanyakan jenis tumbuhan dalam rangka membentuk dan

mengembangkan habitat baru.

8. Sebagai sarana pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(20)

Atas : Tengah : Bawah

Nupa Bomba, Kebun Kopi (kiri), Nokilalaki, TN Lore Lindu (kanan) Rano Kodi CA Morowali (kiri) Rorekatimbu, TN Lore Lindu (kanan) Deplancea bencana Macadamia hildebrandii

(21)

12

Aktifitas Penelitian

(22)

Nama Keahlian Lembaga 1 Prof. Dr. Ramadanil Pitopang Taxonomi Tumbuhan

Tinggi

UNTAD

2 Irmasari, SP, MP Kehutanan UNTAD

3 Dr. Syamsurizal Sulaeman Ekologi Mangrove UNTAD 4 Prof. Dr. Andi Tanra Tellu Taxonomi dan Ekologi

Rotan

UNTAD

5 Dr. Ir. Iskandar M. Lapandjang Agronomi UNTAD 6 Dr. Ir. Muhammad Basri Konservasi satwa liar UNTAD 7 Dr. Ir. Muhd. Nur Sangadji, DEA Ethno botany UNTAD

8 Dr. Ir. A. Masyahoro Botani laut UNTAD

9 Safaruddin, SSi, Apt Ethno Farmasi UNTAD

10 Gatot Sutanto Teknisi UNTAD

11 Nofri Arianto Teknisi UNTAD

Staf Kehormatan

Nama Lembaga

1 Prof. S. Robbert Gradstein University of Göttingen, Germany

2 Dr. Gillian Brown School of Botany, University of Melbourne, Australia

3 Dr. Max Van Balgooy NHN , Leiden, Netherland

4 Prof. Dr. Edi Guhardja Bogor Agricultural University, Indonesia 5 Prof. Dr. Michael Kessler University of Zurich, Switzerland

Staf Herbarium Celebence

Koleksi-koleksi Penting

(23)

14

Teknik Pengkoleksian dan Pembuatan

Herbarium

Herbarium adalah istilah yang pertama sekali digunakan oleh Tournerfort pada tahun 1700 untuk koleksi tanaman kering. Selanjutnya Lucha Gini (1490-1556) seorang Professor Botany di Universitas Bologna Italia adalah orang pertama mengeringkan tumbuhan dengan menggunakan tekanan dan kemudian mengeplaknya diatas kertas untuk disimpan sebagai koleksi dan dilakukan pencatatan sebagai koleksi. Pada Era Carolus Linneaus teknik pembuatan herbarium sudah sangat baik dipraktekan dan telah menyebar di seluruh dataran Eropah (Bridosn & Forman 1998)

Herbarium dapat dipergunakan untuk keperluan riset dalam bidang Taksonomi Tumbuhan, Ekologi, Ethnobotani, Biodiversity monitoring, Antropologi, Fitokimia, disamping itu herbarium dimaksudkan untuk mengumpulkan contoh-contoh tumbuhan yang hidup pada suatu daerah atau kawasan kemudian selanjutnya digunakan untuk penyusunan buku Flora daerah setempat.

Untuk mempelajari keanekaragaman jenis tumbuhan perlu diketahui teknik dasar dalam pengkoleksian spesimen dari lapangan, alat-alat dan bahan yang dibutuhkan. Setiap contoh spesimen tumbuhan seharusnya diambil yang digunakan baik sebagai Voucher ataupun sebagai koleksi herbarium yang digunakan untuk proses identifikasi dan determinasi.

(24)

Sebuah herbarium specimen adalah seluruh bagian tumbuhan atau pada sebuah ukuran ketika di pres secara merata dan kering dilekatkan pada selembar kertas plak (mounting paper) yang berukuran 26 X 42 cm sheets, Ukuran yang sama diadopsi dari Herbarium Bogoriense (BO) dan National Herbarium of Netherland, Leiden (L). Specimen sebaiknya memiliki ranting, daun, bunga dan buah dan disertai dengan label yang berisi keterangan.

Herbarium Specimen

Scissors cuttings ("Prunning cutter"), GPS (Global Positioning System), Altimeter, Compass, Branch Cutter, Pole, Hand lens, Electric stove, Oven, Tree Climbing equipment (either "Single rope technique or Iron Foot Technique"), Parang , Parang, Martil, Label gantung, Spidol, Pensil 2 B, Plastik besar, plastic kecil, amplop, spiritus, alcohol, Gliserin, Papan sasak ukuran 45 cm X 35 cm, Kardus 45 cm X 35 cm, Tali raffia, karung beras dll.

(25)

16

I. Cara Membuat/ Pengkoleksian Tumbuhan Spermatophyta (Koleksi Kering atau Dried Collection)

Pengkoleksian (Collecting)

Dalam pembuatan herbarium dan pengkoleksian spesimen terdapat beberapa langkah kerja yang harus diikuti yaitu :

1. Untuk pengkoleksian spesimen tumbuhan sebaiknya dikoleksi spesimen yang fertil (memiliki bunga dan buah), menggunakan gunting stek. Untuk tumbuhan tingkat pohon bagian tumbuh yang diperlukan adalah ranting yang berbunga atau berbuah sebanyak 7 duplikat.

2. Untuk tumbuhan yang kecil , misalnya rumput , semanggi dan sebagainya dapat diambil dengan akarnya , setelah dicuci dapat diawetkan dengan jumlah sebanyak 7 duplikat juga.

3. Lakukan pencatatan terhadap informasi lapangan tempat spesimen tersebut dikoleksi pada buku lapangan misalnya : altitude, latitude, longitude, habitat tempat tumbuh, lokasi tempat koleksi (misalnya: Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Pulau, Propinsi dll), Deskripsi tumbuhan misalnya ada atau tidaknya getah, warna getah, bau, warna bunga, informasi etnobotani dll. 4. Setiap spesimen diberi label gantung yang bertuliskan nama kolektor (cukup

Inisial), nomor koleksi, tanggal, dll.

5. Contoh tumbuhan tadi dikumpulkan dalam karung beras untuk selanjutnya dibawa ke basecamp.

6. Selanjutnya spesimen tadi diatur dengan rapi diatas kertas koran terlipat , ditutup dengan kertas koran lain, dan dibungkus dengan koran dan disimpan dalam plastik besar dan diberi spiritus (Pengkoleksian specimen menggunakan “Schweinfurth method” (Bridson and Forman 1999).

(26)

8. Apabila tidak memiliki Electric stove dan sponge dapat juga spesimen secara langsung diatur dengan rapi diatas kertas koran terlipat , ditutup dengan kertas koran lain, dijepit dengan dua papan tripleks , kemudian diikat dengan tali katun .

9. Untuk mendapat hasil yang lebih baik dan pengeringan lebih cepat , pada tripleks tadi dibuat lubang – lubang secukupnya , misalnya 12 lubang berdiameter +/- 2 cm . Satu pasang tripleks tadi dapat dipakai untuk membuat beberapa contoh hebarium sekaligus , yaitu tumbuhan yang telah diatur di antara dua koran tadi ditumpuk . Simpan di tempat yang kering selama beberapa hari , tiap 2 hari sekali kertas koran diganti yang kering , dan dijaga tumbuhan tadi tidak berjamur . Setelah contoh tumbuhan kering , dapat ditempelkan pada kertas karton putih ukuran folio , dan diberi label.

(27)

18

Pengepresan dan Pengeringan (Pressing and Drying)

Cara Kerja:

1. Spesimen tumbuhan yang berasal dari lapangan (sebelumnya telah diawetkan dengan alkohol 70% atau spiritus) disusun kembali untuk proses pengepresan dan pengeringan.

2. Pada proses pengpresan spesimen tumbuhan disusun (di atas kertas koran) dan diushakan rata dengan permukaan kertas koran. Spesimen diletakan dalam lembaran kertas koran bekas dan setiap lembaran spesimen (organ vegetatif) harus kelihatan permukaan daun atas (dorsal) dan permukaan bawah (ventral).

3. Spesimen tumbuhan yang telah ditutup dengan koran tersebut diletakkan secara berhimpitan di atas kertas koran yang berisi spesimen lain dan setiap spesimen dilapisi dengan kertas kardus atau triplek.

4. Setelah semua spesimen disusun lalu diikat menggunakan sabuk pengikat, diberi label berisi informasi tentang tanggal mulai dikeringkan dan kolektor, kemudian dimasukan ke dalam oven dalam posisi berdiri

5. Pengeringan dilakukan dalam oven yang suhunya 50-60 C selama 2-3 hari, atau boleh juga menggunakan tungku arang yang telah dibuat khusus untuk pengeringan herbarium. Setiap 1 hari ikatan spesimen tersebut dibalik sedangkan untuk spesimen yang banyak mengandung air (famili Musaceae, Zingiberaceae, Araceae dll) kertas koran pelapis sebaiknya diganti dengan kertas koran yang kering dan baru.

0

(28)

Contoh label specimen 1 :

HERBARIUM CELEBENSE (CEB)

Research Center for Plant Diversity of Wallacea

UNIVERSITAS TADULAKO

Kampus Bumi Tadulako, Tondo

CENTRAL SULAWESI, PALU, INDONESIA

Family : Magnoliaceae

Species : (Blume) H. Keng var.

Vern. : Uru

Det. : Ramadhanil Pitopang

Leg. : R. Pitopang, S.R Gradstein, S. Sporn, N.S. Ariayanti, H. Mangopo and C.Drubert

Coll. Number : 1005 Date : 28 Feb. 2004

Locality : Indonesia, Central Sulawesi, Donggala Regency, Kulawi District, Toro, Dusun 1, Bulu Kamonua

Long. : 01º 29.735' S Lat. : 120º 02. 212' E

Alt. : 832 m

Tree, 7 m tall, 10 cm in diameter, flos terminalis, Growth on sandy soil at the Forest Margin of the Lore Lindu National Park, sloope 40º.

Assosiated with sp, and sp.

to L, BO, BIOT, GOET, WAN, ANDA

Please notify Herbarium Celebense (CEB) of new identification of this specimen Magnolia candoleii

Candollii

Polypodium Schizostachium brachycladum Lithocarpus

Description :

(29)

20

Contoh Label 2

HERBARIUM CELEBENSE (CEB)

Research Center for Plant Diversity of Wallacea

UNIVERSITAS TADULAKO

CENTRAL SULAWESI, INDONESIA

KAMPUS BUMI TADULAKO TONDO, PALU

Collector(s) : Ramadhanil

No. : R. 1200 Date : 01/01/2002 Local Name : Kou

Habit : Solitary, up to 25 m. Diam. With leaf sheath to 8 cm, to 1 cm without leaf sheath. Internodus to 30 cm in length. Knee conspicuous. Leaf sheath grayish, smooth surface. Spine in leaf sheath very rare, in group of two or single spine, scattered. Leaves in one plane. Leaflets irregularly arranged, 15 in each side, in distance of 10 to 15 cm. Leaves to 2,0 m including petiole to 20 cm. Cirrus up to 300 cm. Inflorescence female, to 7 branches, in 40 cm in distant.

Notes Uses

Determined by Ramadhanil Date : 27/02/2000

Arecaceae

Calamus zollingeriiBecc.

Locality : Manokwari Regency, Wasior District, Wosimi river, Sikama river, 3 km SE of Senderawoi village, 26 km SE

Latitude : 02 57 02.7 S Longitude : 134 34 22.5 E Altitude :

Habitat : Swampy area

(30)

Pengeplakan (Mounting Specimen)

Proses pengeplakan (”mounting”) bertujuan untuk melekatkan spesimen tumbuhan yang telah kering pada kertas plak menggunakan kertas yang bebas asam (”acid free”) dengan ukuran 43 X 30 cm. Apabila spesimen agak berat dan besar menggunakan kertas plak yang tebal (600 g/m) sedangkan untuk spesimen yang ringan menggunakan kertas plak yang tipis (400 g/m). Selanjutnya pengeplakan dapat juga dilakukan setelah spesimen dideterminasi atau diidentifikasi.

Bahan yang digunakan dalam proses pengeplakan adalah kertas plak bebas asam, selotip 3 m bebas asam (lebar 4,5 mm dan 6 mm), sampul jenis dari kertas bebas asam, benang ”goodyear”, lem Fox, Stempel CEB, ”numbering”, pensil 2B, pinset, jarum layar, jarum preparat, gunting, ”scalpel” dan kuas.

1. Kertas plak yang digunakan untuk menempel spesimen terlebih dahulu diberi nomor CEB menggunakan alat.

2. Spesimen diletakan secara hati-hati di atas kertas plak, disusun sedemikian rupa sehingga kelihatan simetris dan rapi.

3. Spesimen dilekatkan rata dengan kertas plak menggunakan selotip yang bebas asam dan apabila organ spesimen tersebut besar dan tebal seperti buah, batang dan akar harus dijahit menggunakan benang ”Goodyear”.

4. Selanjutnya dilakukan penempelan label pada sudut kanan bawah menggunakan lem yang bebas asam.

(31)

22

Pembekuan (Freezing)

Penyelipan (”Inserting”)

II. Teknik Pembuatan Koleksi Basah (Spirit Collection)

1. Spesimen yang sudah di data, kemudian dimasukan ke dalam kantong lastic berklip (“zipper plastic bag”) dengan ukuran 44 X 55 cm.

2. Dimasukan ke dalam frezzer atau lemari pendingin dan dibekukan sampai pada suhu -18 sampai -20 C selama 48 hari-72 jam atau 5-7 hari. Diharapkan pada suhu tersebut semua tahap perubahan serangga (metamarfosis) dan organisme perusak lain sudah mati.

3. Setelah itu dikeluarkan dari freezer dan diaklimatisasi selama 1-2 hari untuk kembali ke suhu ruangan.

4. Guna menghindari segala kemungkinan buruk seperti masuknya kembali serangga dalam spesimen, diupayakan agar tidak mengganti kantong plastik yang digunakan pada saat pembekuan.

Setelah proses aklimatisasi selama beberapa hari spesimen diseleksi kembali dan dipilah-pilah berdasarkan taksanya seperti suku, marga dan jenis serta lokasi pengambilan (pula) yang diurut secara alfabetis.

Koleksi basah biasa digunakan untuk spesimen-spesimen yang lunak dan mudah rusak seperti : Cucurbitaceae, Zingiberaceae, Musaceae, Araceae, Rafflesiaceae, Orchidaceae atau juga untuk jamur yang lunak.

Cara Kerja:

1. Spesimen yang berasal dari lapangan yang difiksasi dengan alkohol berserta label yang telah ditulis dengan pensil 2 B dipindahkan ke dalam larutan alkohol 70%, kemudian ditutup rapat dan ditempel label serta diregistrasi.

2. Larutan alkohol (ethanol) 70 % dapat dibuat dengan cara mengencerkan larutan induk (alkohol absolut) dengan akuades. Khusus untuk bunga tumbuhan dari suku anggrek (Orchidaceae) biasa ditambahkan gliserin agar jaringan bunga anggrek tidak tegang dan rapuh agar spesimen tidak mudah patah bila digunakan dalam penelitian.

3. Formulasi bahan pengawet untuk suku Orchidaceae adalah 3100 cc alkohol 96%, akuades 1650 cc, dan Gliserin 250 cc.

(32)

Penyimpanan dan Perawatan Koleksi Basah

Penyimpanan:

Perawatan

Spesimen koleksi basah yang akan diawetkan terlebih dahulu diregistrasi dalam buku register (buku yang memuat data koleksi). Data yang diperlukan adalah sebagai berikut :

Nama Suku (Family) Nama jenis ( Species)

Kolektor (Nama orang yang mengkoleksi) No. Koleksi ( Nomor koleksi dari kolektor) Lokasi (lokasi tempat pengambilan spesimen) Tanggal Koleksi

Gunakan tempat yang biasanya terdiri atas botol. Ukuran botol yang digunakan pada keperluan (Untuk koleksi yang besar seperti Rafflesia atau Amorphophallus dapat digunakan botol asinan yang besar).

Penataan spesimen disusun secara alfabetis mulai dari Family (suku), Genus (marga) dan Species (jenis).

Untuk koleksi jamur (Fungi) koleksi disusun secara alfabetis bangsa (Ordo), Marga dan Jenis

Tambahkan alkohol 70% ke dalam botol bagi spesimen yang kurang alkoholnya.

Ganti larutan apabila larutannya keruh dan kotor.

Untuk koleksi yang kering direndam terlebih dahulu dengan ammoniak selama satu hari untuk menghindari kerusakan saat pemindahan.

(33)

24

III. Koleksi Karpologi (”Carpological Collection”)

IV. Koleksi Tumbuhan Rendah (”Cryptogamie”)

Koleksi karpologi pada umunya merupakan bagian dari koleksi umum karena ukurannya terlalu besar sehingga sulit untuk diplak. Koleksi karpologi berasal dari koleksi buah kering tetapi ada juga batang, kulit, bunga, akar dan umbi serta jamur Basidiomisetes seperti Fomes, Polyporus dan Ganoderma. Koleksi karpologi disimpan di dalam lemari yang disusun secara alfabethis menurut suku, marga, jenis dan pulau. Untuk mengurangi kerusakan koleksi akibat serangan serangga, setiap k a n t o n g p l a s t i k k o l e k s i d i b e r i k a n s a t u b u t i r k a p u r b a r u s .

Koleksi tumbuhan tingkat rendah meliputi jamur (Ascomisetes), Algae (Chrysophyta, Chlorophyta dll ), Lumut (Hepaticae dan Musci) serta Lumut kerak (Lichenes).

Setiap spesimen/koleksi untuk jamur, lumut dan lichens dilakukan pencatatan sewaktu di lapangan meliputi lokasi, ketinggian tempat, longitude, latitude, kelembaban, habitat, kolektor dan nomor koleksi pada label dan pada buku lapangan.

(34)
(35)
(36)

Aleurites moluccana

(L.) Willd.

EUPHORBIACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, tinggi hingga 20 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm. Tajuk kelihatan berwarna perak keputih-putihan dari jauh. Daun : Tunggal, tersusun secara alternate atau spiral, berukuran 12-23 X 6–12 cm, dengan 3-5 tulang daun dari bawah, disamping itu terdapat 4-7 ekstra pertulangan daun. Tangkai daun 10 cm atau lebih dengan sepasang kelenjer

pada permukaan atas. Bunga : Putih kekuning-kuningan, pucat, dengan tangkai bunga bulat, terletak pada ujung. Buah : Bulat, 5-6 cm diameter, hijau atau kecoklatan, biasanya dengan 2 biji keras, daging buah tebal berdaging.

Distribusi

Asia tropis hingga Polinesia. Di Asia Tenggara umumnya ditanam dan dibudidayakan termasuk di Sulawesi, terutama digunakan sebagai tanaman pelindung pada tanaman coklat.

Nama Lokal

Lumbang (Filipina), Kemiri, Muncang (Indonesia), Kembiri, buah keras (Malaysia), “Kok namz man (Laos), Photisat, Kue ra, Purat, Mayao (Thailand), Lai (Vietnam). Derekan , Pidekan (Jawa), Muncang (Sunda), Candle nut tree, Bankul nut Tree (Inggeris), Bancoulier des Moluques, Noyer des M, Noix de Bancoul, Aleurite, Camiri (Perancis). Sulawesi : Beau (Kaili, Muma, Uma).

Kegunaan

(37)

28

Deskripsi

Berukuran besar, tinggi hingga 40 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 100 cm. Kulit batang bagian luar coklat terang hingga krem, batang berlenti sel, kulit batang bagian dalam

menghasilkan getah warna putih (susu). Daun : Tunggal, tersusun dalam bentuk melingkar yang terdiri atas 5-8 daun, berbentuk elip, berukuran 7-17 X 2.5 –3,5 cm, dasar daun runcing, ujung membulat, pertulangan daun sering prominent, warna hijau pada permukaan atas, dan keputihan pada permukaan bagian bawah, tangkai daun 1,5-3 cm panjangnya. Bunga : Putih krem, dalam bentuk cymus terletak pada ujung, corolla tubular dengan 5 lobes. Buah disusun oleh 2 folikel, 20-30 cm masing-masingnya, glabrous (polos), biji panjang dan pipih dengan bulu/ rambut pada ujung.

Nama Lokal

Dita (Filipina), Pulai lilin (Brunei), Pulai (Indonesia, Malaysia), Lettok (Myanmar), Tinpet (laos), Sattaban, Teenpet, Hassaban (Thailand), C[aa]y m[of] cua (Vietnam). Pule, Gabusan (Jawa), Lame bodas (Sunda), Poole, Ajooras, Shaitan wood, Whitecheese wood (Inggeris), Pulai, Shaitan (Perancis). Sulawesi : Kayu Tolor (Buol), Lengaru (Kaili, Muma, Uma).

Distribusi

Srilanka dan India hingga Asia Tenggara dan China Selatan termasuk Filipina dan Australia bagian Utara, Kepulauan Bismarck, dan Salomon.

Kegunaan

Kayu berkualitas bagus untuk pulp berwarna putih ringan, mempunyai berat jenis 0,38 termasuk kelas awet V dan kelas kuat V-IV. Kulit batang untuk banyak kegunaan seperti obat Malaria, kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias.

Alstonia scholaris

(L.) R.Br

(38)

Nama Lokal

Hiha, Labuangi (Sulawesi Tengah).

Distribusi

Tersebar di Asia Tenggara seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku. Di Sulawesi tersebar merata seperti di Taman Nasional Lore Lindu, Dumoga Bone, Tangkongko, Cagar Alam Morowali, dan Soroako.

Kegunaan

Kayu berkualitas bagus untuk pulp berwarna putih ringan, mempunyai berat jenis 0,37 termasuk kelas awet III dan kelas kuat III-II.

Deskripsi

Berukuran sedang, tinggi 8-10 m, kulit batang agak gelap, bergetah seperti susu. Banir akan ada apabila pohon sudah tua. Daun tunggal,

berhadapan atau melingkar, bentuk elip melebar, urat daun jelas. Perbungaan terminal, tersusun malai, bunga berukuran kecil. Mahkota bunga putih, kuncup terpuntir pada ujung. Buah bulat memanjang, diameter 4 mm. Tumbuh

berpasangan.

Alstonia spectabilis

R.Br.

(39)

Annona muricata

L.

ANNONACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran kecil, tinggi 3-8 m. Daun memanjang, bentuk lanset atau bulat telur terbalik, ujung meruncing pendek, seperti kulit, panjang 6-18 cm, tepi rata.

Bunga berdiri sendiri berhadapan dengan daun, bau tak enak. Daun kelopak kecil. Daun mahkota berdaging, 3 yang terluar hijau, kemudian kuning, panjang 3,5- 5cm, 3 yang terdalam bulat telur, kuning muda. Daun kelopak dan daun mahkota terdalam secara genting. Dasar bunga cekung sekali. Benang sari banyak. Penghubung ruang sari di atas ruang sari melebar, menutup

ruangnya, putih. Bakal buah banyak, bakal biji 1. Tangkai putik langsing, berambut. Kepala putik silendris. Buah majemuk tidak beraturan, bentuk telur miring atau bengkok, 15-35 kali 10-15 cm. Biji hitam dan daging buah putih. Manis keasaman rasanya apabila masak.

Distribusi

Tropis, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam dan kadang tumbuh liar di Malesia. Banyak tumbuh di lembah Palu

Nama Lokal

Zuurzak (Nederland), Sirsak (Indonesia), Durian Balando (Minangkabau), Mandalika (Sunda), Nangka Belanda (Jawa, Sunda), nangka buris (Madura), Nangka England (Madura), Nangka Sabrang (Jawa).

Kegunaan

Ekstrak biji dan daun digunakan sebagai pestisida botani. Daging buah bahan baku industri minuman (juice), mengandung vitamin C.

(40)

Annona reticulata

L.

ANNONACEAE

Deskripsi

Pohon atau perdu berukuran kecil, tinggi hingga 7 m, semua bagian jika diremas berbau kuat. Daun memanjang sampai bentuk lanset, 9-30 X 3,5-7 cm, cukup lemas, tepi rata.

Bunga dalam karangan yang pendek berbunga 2-10. Daun kelopak waktu kuncup tersusun secara katup, segitiga kecil, pada pangkalnya bersatu. Bunga dengan daun mahkota terluar berdaging sangat tebal, 2-3 cm panjangnya, dari dalam putih kekuningan, dengan pangkal berongga akhirnya ungu. Daun mahkota yang dalam sangat kecil. Dasar bunga meninggi. Benang sari banyak, putih. Penghubung ruang sari di atas ruang sari melebar, dan menutup ruangnya. Bakal buah banyak. Kepala putik boleh dikatakan duduk. Buah majemuk bentuk bola, garis tengah 5-12 cm ; anak buah khususnya dengan ujung datar, juga pada waktu masak masih

berhubungan.

Biji coklat hitam. Daging buah putih kotor.

Distribusi

Tropis, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam dan kadang tumbuh liar di Malesia. Banyak tumbuh di lembah Palu.

Nama Lokal

Buah nona (Indonesia), kemluwa (Jawa), manowa (Jawa).

Kegunaan

(41)

32

Annona squamosa

L.

ANNONACEAE

Deskripsi

Pohon atau perdu berukuran, tinggi hingga 7 m. Daun elip memanjang sampai bentuk lanset tumpul, 6-17 X 2,5-7,5 cm, tepi daun rata. Bunga 1-2 berhadapan atau di samping daun. Daun kelopak segitiga, waktu kuncup bersambung secara katup, kecil. Daun mahkota yang terluar berdaging tebal, panjang 2-2,5 cm, dari putih kuning, dengan pangkal yang berongga akhirnya ungu. Daun mahkota yang terdalam sangat kecil atau tidak ada. Dasar bunga dipertinggi. Benang sari banyak, putih. Penghubung ruang sari di atas ruang

diperpanjang dan melebar, dan menutup ruangnya. Bakal buah banyak, ungu tua. Kepala putik duduk, rekat menjadi satu, mudah rontok. Buah majemuk bentuk bola, garis tengah 5-10 cm, berlilin. Anak buah khususnya dengan ujung yang melengkung, pada waktu masak sedikit atau banyak melepaskan diri satu dengan yang lain. Biji masak hitam mengkilat. Daging buah putih.

Distribusi

Tropis, berasal dari Amerika Selatan, banyak ditanam dan kadang tumbuh liar di Malesia. Banyak tumbuhan di lembah Palu, terutama di sekitar kampus Universitas Tadulako dan jalan raya menuju Donggala. Salah satu buah-buahan utama di Kota Palu.

Nama Lokal

Srikaya ( Indonesia, Jawa, Sunda), Sarkaya (Madura), Srikaya (Palu), Sarikayo (Minangkabau).

Kegunaan

(42)

Anthocephalus chinensis

(Lam.) A. Rich ex Walp.

Syn :Neolamarckia cadamba

Anthocephalus cadamba

(Roxb) Bosser, (Roxb.) Miq.

RUBIACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran besar, Tinggi hingga 40 m, DBH hingga 60 cm. Batang lurus. Banir jika ada, curam, tinggi hingga 2 m. Kulit batang halus hingga bersisik, berwarna coklat abu-abu hingga coklat tua. Kulit batang bagian dalam berwarna kuning pucat, kayu berwarna kuning pucat. Cabang mendatar. Daun penumpu segi tiga sempit, panjang 1-2 cm, bertumpang tindih dan memeluk kuncup ujung. Daun menjorong hingga

membundar telur sungsang, panjang 12- 30 cm, lebar 5-16 cm, pangkal membundar

hingga menjantung, ujung melancip, gundul di permukaan bawah, tulang daun sekunder 11-17 pasang, susunan tulang daun tersier mirip tangga. Tangkai daun panjang 1-4 cm. Perbungaan di ujung, berbentuk sebuah bongkol soliter,

membulat, garis tengah 2-4 cm, tanpa daun gagang antar bunga, berkelamin ganda, berkelipatan 5, hampir tanpa tangkai, mahkota berwarna kuning, gundul, panjang hingga 9 mm, terpilin dalam kuncup, bakal buah beruang 2, bakal biji banyak. Bongkol berbuah membulat, berwarna jingga, buah muda garis tengah hingga 3 mm, tidak merekah, biji garis tengah 0.2 mm, tidak bersayap. Di Sulawesi terdapat 2 jenis Anthocephalus yaitu : dan (Roxb) Havil. yang merupakan jenis endemik untuk Wallacea.

A. chinensis A. macrophyllus

Distribusi

Habitat dan Ekologi

India hingga New Guinea. Malesia : Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Jawa, Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, PNG, Filipina.

Merupakan jenis pohon pionir penting dalam hutan sekunder, terutama di tanah alluvial. Pada ketinggian 70 m.

Nama Lokal

Jabon, kelempayan (Melayu). Sulawesi : Kokabo (Poso, Baree, Tojo),

Bekawa/Bekava (Besoa, Napu, Kulawi).

Kegunaan

(43)

Antidesma bunius

(L.) Spreng.

EUPHORBIACEAE

Deskripsi

Berukuran kecil, tinggi hingga 7 m, Kanopi sangat rapat. Daun : Tunggal, tersusun secara alternate, coriaceus, berdaging dan mengkilat, berukuran

8-16 X 15 cm, jarang lebih besar tetapi sering lebih kecil, dasar daun cuneatus atau membulat. Ujung runcing, petioles bulat dan besar 1 cm panjangnya. Bunga : dalam bentuk racemus terdapat pada dekat ujung tangkai, Bunga putih kekuningan, bunga jantan sesil. Bunga betina dengan tangkai yang pendek. Buah : pendek bentuk elip atau bulat, 1 cm diameter.

Distribusi

India, Srilanka, Indochina dan Malesia meliputi Malaysia, Sumatra, Jawa, Sulawesi, Filipina.

Nama Lokal

Bignai (Filipina), Buni (Malaysia), “Kho lien tu (Laos), ba mao chaang (Thailand), Choi moi (Vietnam). Wuni, Buni

(Indonesia), Wuni (Jawa), Huni, Buni, Wuni, Barune (Sunda), Antidesme (Perancis). Chinese Laurel, Bignay (Inggeris), Sulawesi : Aropi (Kaili, Muma, Uma).

Kegunaan

Buah dapat dimakan, di Jawa barat dimakan sebagai rujak, kadang-kadang difermentasi menjadi wine (anggur). Dimasak bersama-sama ikan.

(44)

Areca vestiaria

Giseke

ARECACEAE

Deskripsi

Areca adalah salah satu marga tumbuhan berciri pohon, berbatang lurus. Terdiri atas 60 jenis tersebar mulai dari Asia Selatan, China bagian selatan, Indochina, malesia sampai kepulauan Salomon. Di alam tumbuh di hutan hujan tropik yang rapat mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

Giseke memiliki perawakan pohon berbatang lurus tanpa cabang, tunggal atau berumpun, tegak, tinggi 5-10 m, tajuk pelepah berwarna kuning sampai jingga, warnanya makin terang dengan bertambahnya ketinggian tempat. Daun: tangkai dan tulang daun berwarna kuning. Perbungaan : tumbuh pada batang di bawah tajuk pelepah. Buah : bulat, diameter sampai 2 cm, warna kuning sampai merah, daging buah berserat dan berbiji satu.

Areca vestiaria

Distribusi

Wallacea (Sulawesi dan Maluku) Habitat dan Ekologi

Tumbuh pada hutan yang agak terbuka pada ketinggian 300-1.200 m dpl.

Nama Lokal

Harao (Napu), Katasa (Wana, Morowali), Pinang yakis (Sulawesi)

Kegunaan

Tanaman hias di luar ruangan, Di alam,

buah banyak dimakan

monyet jika sudah masak.

(45)

Arenga pinnata

(Wurmb) Merr.

ARECACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, Palem pohon soliter tinggi hingga 12 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm. Permukaan batang ditutupi oleh serat ijuk berwarna hitam yang berasal dari dasar tangkai daun. Daun : pinnate, hingga 8 m panjang, anak daun divaricate, panjangnya 1 m atau lebih, jumlahnya 100 atau lebih pada masing-masing sisi, dasar daun 2 auriculate, ujung daun lobes, dan kadang-kadang bergigi, permukaan atas hijau berdaging, bagian bawah putih dan bertepung. Bunga: baik bunga jantan dan betina terpisah, besar, tangkai perbungaan muncul dari batang, panjangnya 1-1,5 m masing-masing pada rachille. Buah : bulat, ujung tertoreh, 4 X 5 cm, sesil dan terdapat 3 bractea yang tebal, secara rapat berkumpul sepanjang tangkai perbungaan, berwarna hijau mengkilat, buah masak warna kuning, terdapat 3 biji keras.

Distribusi

Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Sulawesi, Filipina. Di Sulawesi Tengah terutama tumbuh pada hutan dataran rendah hingga ketinggian 1000 m dpl.

Nama Lokal

Kaong (Filipina), Aren, Lirang (Jawa), Anau, Biluluak, (Minangkabau), Kawung, Taren (Sunda), Areng Palm, Sugar Palm, Gomuti palm (Inggeris), Palmier a sucre, Areng, Aren (Perancis). Sulawesi : “Ngkonau (Kaili), Saguer (Minahasa, Sulawesi Utara),

Kegunaan

Buah muda dimasak dan dapat dibuat biluluak (kolang-kaling), gula disadap dari tangkai bunga untuk pembuatan gula merah, difermentasi menjadi minuman beralkohol, cuka, Ijuk (serat) digunakan untuk pembuatan sapu. Saringan air, atap rumah, lidi untuk sapu.

(46)

Arenga undulatifolia

Becc.

ARECACEAE

Deskripsi

Pohon yang tergolong palm ini berukuran kecil, tumbuhnya berumpun, dan batang tidak jelas, tinggi bisa mencapai 6 m, daunnya lebar, panjang hingga 4 m, anak daun tersusun menyirip dan berbentuk sirip ikan, tepinya bergelombang. Perbungaan /inflorescentia mirip enau, berukuran kecil.

Distribusi

Kalimantan dan Sulawesi.

Di Sulawesi tengah banyak ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu

mulai dari ketinggian 400 mdpl hingga 1200 mdpl.

Nama Lokal

Take ( Sulawesi Tengah : Kulawi (Muma , Uma, Tado).

Kegunaan

(47)

Artocarpus heterophyllus

Lmk

Sinonim : Artocarpus integrifolia L.f

MORACEAE

Deskripsi

Pohon berumah satu, tinggi 10-25m. Memiliki getah perekat. Daun tunggal, biasanya tidak berlekuk, hanya daun pada pohon muda dan tunas air dengan lekuk besar 3-5; tangkai 1-4 cm; helaian daun memanjang atau bulat telur terbalik, 10-25 X 4,5-10 cm, dengan pangkal menyempit demi sedikit, tepi rata, serupa kulit, dari atas mengkilat hijau tua.

Karangan bunga jantan atau betina. Bulir betina berbentuk gada silendris, anak bunga tenggelam dalam poros, bagian yang bebas panjangnya lebih kurang 0,5 cm, pada ujung berpori, di mana muncul kepala putik yang tunggal, pipih pada sisinya. Bulir jantan bentuk gada atau spul, kerapkali bengkok, hijau tua; anak bunga sangat kecil, dan tenda bunga bertaju 2, dan 1 benang sari. Buah semu menggantung pada ranting yang p endek dari batang atau cabang utama, bentuk telur, memanjang, atau + bentuk ginjal, dengan duri tempel pendek yang runcing segi 3-6, berbau manis yang keras; berdaging ketat di sekeliling biji. Biji 3,5 cm panjangnya. Terdapat jenis lain yang umumnya tumbuh secara alami di hutan yaitu

Merr. (cempedak hutan) yang buahnya harum dan berasa enak, pada musimnya biasanya

diperjualbelikan di pasar.

Daun penumpu segitiga bulat telur.

Artocarpus integra

Distribusi

Tanaman ini berasal dari India. Di Indonesia umumnya ditanam untuk diambil buahnya. Dapat tumbuh pada ketinggian 50-1200 m dpl. Di Sulawesi, terutama tumbuh baik di sekitar lembah Palu.

Nama Lokal

Nongko (Jawa), Cubadak (Minangkabau), Nangka (Indonesia). Sulawesi : ganaga (Kaili, Muma), Sulawesi Tengah; panasa (Bugis), nanaka (Bungku, nanaka (Sulawesi Tenggara).

Kegunaan

Buah muda disayur, biasanya digulai (kari), sedangkan buah yang sudah masak, daging buah yang meyelimuti biji berwarna kuning, harum dapat dimakan. Biji kadangkala direbus dan dimakan. Salah satu buah utama dari Kota Palu. Kayunya berwarna kuning digunakan sebagai bahan ukiran Toraja, getahnya digunakan untuk perekat penangkap burung.

(48)

Bischofia javanica

Blume

EUPHORBIACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, bersifat menggugurkan daun (deciduous) tinggi hingga 35 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 80 cm. Kulit batang bagian luar coklat kemerahan dan bersisik, kulit batang bagian dalam menghasilkan getah warna merah. Daun : Beranak daun tiga (trifoliate), anak daun elip hingga ovatus, berukuran 6-16 cm X 3-10 cm, dasar daun membulat, ujung daun meruncing, pinggiran daun bergerigi, permukaan daun berdaging dan mengkilat terutama pada permukaan bagian atas. Tangkai daun 8-20 cm panjangnya. Bunga : Kuning kehijauan baik bunga jantan dan betina. Dalam bentuk bunga malai yang terletak secara axilaris, 9-20 cm panjangnya. Buah: bulat (globosa), drupa berdaging,

berdiameter 1-1.5 cm dengan 3-4 lokul, masing-masingnya terdapat 2 biji. Biji oblong-obovoid, panjangnya 5 mm berwarna coklat.

Distribusi

India dan Himalaya hingga China, Taiwan, Jepang Selatan, Indochina, Thailand, di seluruh Malesia, termasuk Filipina, dan Australia Utara, Samoa, di hutan-hutan primer, areal terbuka.

Nama Lokal

Tuai (Filipina), Gadog, Gintungan, Kerinjing (Indonesia), Jitang, Tuai (Malaysia), Java cedar ( Papua New Guinea), “Khom 'fat, 'Foung'fat (Laos), Toem, Pradu sam (Thailand), Nhoi (Vietnam). Sulawesi : “Pepolo” (Pakerehua/ Napu), Balintunga (Kulawi, Moma. Uma), Bunga- bunga (Pantai barat).

Kegunaan

Kayu digunakan sebagai kontruksi bangunan, tanin dapat diekstrak dari kulit batang, daun muda dapat dimakan, di Napu digunakan sebagai obat cacing Schistosomiasis. Kadangkala digunakan sebagai tanaman pelindung.

(49)

Buchanania arborescens

(Blume) Blume

ANACARDIACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 75 m tinggi, Kulit batang bagian luar umumnya halus. Daun tunggal, tersebar (spiral), obovatus, berukuran 4-26 X 2-7 cm, ujung daun cuneatus, ujung daun membulat. Pertulangan daun 7-18 pasang, petiole 1-3 cm panjangnya. Bunga : Putih atau kuning terang, bisexual, dalam panikel axilaris. Buah 1 biji

berbentuk drupa, buah masak hitam violet, 10 mm diameter.

Distribusi

Andamans, Thailand, Indochina, Taiwan, Menyebar keseluruh Malesia meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, kalimantan, Sulawesi, Filipina, New Britain, Kepulauan Salomon, Australia utara. Terutama pada elevasi yang rendah seperti dekat pantai dan pesisir.

Nama Lokal

Balinghasai (Filipina), Kepala Tundang, Renghas Ayam (Brunei), Otak, Udang tumpul, Rangas laut, beluno-beluno (Malysia), Chaa muang, Luaet khwai, Mamuang khee kratai (Thailand), C[aaa]y m[uw]ng ri (Vietnam), Popohan, rawa-rawa pipit (Indonesia). Sulawesi Tengah : “Marantaripa” (Baree, Tau Taa),

Marantaipa (Kaili, Moma)

Kegunaan

Kayu digunakan sebagai kontruksi bangunan, meubel, dan kotak-kotak.

(50)

Calophyllum inophyllum

L.

CLUSIACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 20 m tinggi, DBH hingga 80 cm. Kulit batang bagian luar umumnya bersisik ( scaly), apabila dipotong mengeluarkan getah berwarna kuning. Kanopi tersebar.. Daun : Tunggal, berhadapan, membulat, dasar daun bulat atau tumpul, ujung bulat dengan urat daun pada permukaan atas secara prominen putih kekuningan. Pertulangan daun sekunder sangat jelas. Daun berdaging. Bunga : Putih, beraroma bagus, biasanya tidak bercabang, terdapat pada ketiak daun. Buah : Drupa, bluat, 3-4 cm diamaternya, hijau keabu-abuan. Buah masak kuning.

Distribusi

Afrika Timur hingga India, Srilanka, menyebar ke seluruh Asia Tenggara, Taiwan, Kepulauan Ryukyu, termasuk Filipina, Australia bagian Utara, dan pulau-pulau di bagian barat Pasifik, terutama pada hutan-hutan pantai, kadang-kadang hingga 200 m dpl.

Kegunaan

Kayu banyak digunakan untuk banyak keperluan, minyak dari biji untuk

penerangan dan pembuatan sabun, sering ditanam sebagai tanaman hias.

Nama Lokal

(51)

Cananga odorata

(Lamk) Hook.f. & Thomson

ANNONACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 50 m tinggi, DBH hingga 60 cm. Tidak memiliki akar papan/ banir, Kulit batang bagian luar umumnya halus, coklat kekuningan. Daun : tunggal, alternate, berbentuk oval- oblong, berukuran 13-29 X 4-10 cm, berdaging, ujung runcing-meruncing, pinggiran daun berombak, pertulangan daun 8-9 pasang, tangkai daun 1-2 cm panjang. Bunga : hijau terang, kuning, sangat harum dalam karangan bunga dengan 2-6 bunga berukuran pendek. Petal 6, linear-lancelata, 3-9 X 5-16 mm, sering

bergelombang. Buah : terdiri atas 7-16 terpisah. Bulat, monokarp, berukuran 2,5 X 1,5 cm. Buah masak kehitaman. Biji 2-12, diselaputi oleh pulp berminyak. ukuran 9X6 X 2,5 mm, coklat.

Distribusi

Seluruh Asia Tenggara, dan Malesia termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Filipina, PNG, Australia dan kepulauan Pasifik. Biasanya pada hutan dataran rendah.

Nama Lokal

Ilang-ilang, Alangilang (Filipina), Chenanga, kenanga utan, kenanga (Malysia), Kadatngan, Kadapnam, Sagasein (myanmar), Chhke sreng (Kamboja),, Kradangnya thai, Kradangnya songkla (Thailand), Ngh[oj]c lant [aa]y, ho[af]ng lan (Vietnam), Ylang ylang (Inggeris), Kananga, Kenanga

(Indonesia). Bois de banane, Alanguillan, Aquillon (Perancis). Sulawesi: Ndolia (Muma, Uma, Pakerahua), Andolia (Kaili), Lia-liatangon (Saluan).

Kegunaan

Bunga digunakan pada acara-acara pernikahan, festival dan perayaan lain, dan juga digunakan sebagai obat tradisional, minyak diekstrak dari bunga digunakan sebagai parfum. Pohon sering ditanam sebagai tanaman hias.

(52)

Canarium hirsutum

Willd.

BURSERACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 30 m tinggi, DBH hingga 60 cm. Banir kadang-kadang hadir, kadang tidak ada. Kulit batang bagian luar umumnya coklat keabu-abuan hingga coklat gelap, bersisik. Daun : Majemuk, pinnate, tersusun secara spiral dengan 9-27 anak daun, rachis tebal dengantepi yang tajam, pinggir daun rata, dengan 12-30 prominen pasang urat daun. Bunga inflorescen yang terletak secara axilaris. Bunga jantan dalam satu panikel, sedang bunga betina subracemus. Bunga 10-13 mm panjangnya. Stamen 6. Buah ovoid, 20 X 63 X 17-45 mm, berwarna hitam keunguan. Biasanya memiliki trikom/bulu yang tajam dan menimbulkan gatal.

Distribusi

Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku, PNG, Filipina, Kepulauan Salomon.

Nama Lokal

Dulit, Bakayan, Hagushus (filipina), Kedondong, Damar degun, Kambayau Burong (Malaysia), ki bonteng, Kanari Jaki, Mede-mede (Indonesia), Butohuloku (Napu).

Kegunaan

(53)

Carallia brachiata

(Lour.) Merr.

RHIZOPHORACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 15 m tinggi, DBH hingga 25 cm. Kulit batang bagian luar coklat gelap, ranting secara prominen memiliki nodus (buku). Daun : Tunggal, berhadapan, oblong. Berkuran 4-10 cm panjang, dasar daun cuneat, ujung runcing, pinggiri daun rata, mengkilat, permukaan atas gelap, bagian bawah lebih pucat, petiole pendek, hingga 5 mm. Bunga : Hijau kekuningan, dalam cymus pada ketiak daun dengan sedikit

percabangan, Buah : subglobosa, berdaging, 5-8 mm panjang, kuning, buah masak merah dengan 1 biji.

Distribusi

Madagaskar, India, Srilanka, Myanmar, Indochina, China bagian selatan, Thailand, Malesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, PNG) Filipina, Australia Utara, Kepulauan Salomon.

Nama Lokal

Bakawan gubat, Anosep, Katolit (Filipina), Meransi, Sabar buku (Brunei), Mesinga, Radipah, Rabong (Malaysia), Maniagwa yat (Myanmar), Trameng (Kamboja), Bong nang, Halay, Kaueum (laos), Chiang phra nang ae (Thailand), Mam[ax], S[aw]ng m[ar], Send[aw] (Vietnam), Kitamiyang, Ringgit daerh, Sepat (Indonesia). Sulawesi : Dango ( Kulawi, Besoa, Napu)

Kegunaan

Kayu merupakan bahan yang bagus untuk furnitur, lantai, dan interior. Kulit batang untuk sumber tanin.

(54)

Cassia siamea

Lamk.

CAESALPINIACEAE

Deskripsi

Pohon, tinggi hingga 20 m. Daun majemuk menyirip genap. Kelenjer daun tidak ada atau satu di antara pasangan daun terbawah. Anak daun oval sampai memanjang, kerapkali melekuk ke dalam, bagian atas gundul dan mengkilat sedikit, bawah berambut halus, 3-7,5 X 1-2,5 cm. Daun penumpu cepat rontok, sangat kecil tidak berarti. Kelopak berbagi 5 dalam. Daun mahkota kuning cerah, panjang lebih kurang 2 cm. Tangkai sari terpanjang kira-kira 1 cm. Bakal buah dengan tangkai putik sama panjang dengan benang sari yang terpanjang. Polongan dengan katup yang tebal dan sambungan buah yang sangat dipertebal, di antara sambungan berbelok-belok, 15-30 X 1,5 cm, berkatup 2. Biji 20-30, panjang 1,5 kali lebar.

Distribusi

Tumbuhan ini berasal darai Asia Tenggara, kerap ditanam dan menjadi liar. Sangat mudah tumbuh di lembah Palu dan sekitarnya (ketinggian 1-1000 m dpl). Banyak digunakan sebagai tanaman peneduh jalan-jalan di kota Palu dan di kampus Universitas Tadulako. Juga ditanam sebagai tanaman reboisasi.

Nama Lokal

Johar (Indonesia), Juwar (Jawa, Sunda), Jua (Minangkabau)

Kegunaan

(55)

Castanopsis acuminatissima

(Blume) Rheder

FAGACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran besar, 10-35 m tinggi, DBH hingga 30-90 cm. Banir hingga 2 m tingginya. Kulit batang bagian luar abu-abu hingga coklat, kasar, kulit batang bagian dalam 1-2 cm tebalnya Daun tipis hingga sedikit berdaging, tunggal, berukuran 4,5-17 cm X 2,5-6 cm, terlebar pada bagian agak ke bawah dari pertengahan, pangkal daun membulat, pinggiran daun rata, ujung meruncing, permukaan atas hijau mengkilat berdaging, permukaan bawah coklat hingga keperak-perakan, tidak terdapat rambut, pertulangan daun prominen pada bagian bawah, tulang daun 10-14 pasang dengan sudut 45-60°. Pembungaan terdapat bunga jantan dan bunga betina (Androginous), rachis jantan 5-10 cm, bunga betina soliter. Buah soliter, ovoid-conical, berukuran 1-1,5 X 3,4-1 cm.

Distribusi

India, Burma, China, Taiwan, Siam, Indo-china (Tonkin, laos, Annam). Malesia : Sumatra utara (Aceh), Semenanjung Malaysia (Kedah, Selangor, Pahang), Jawa (Gunung Gede dan Wilis), Kalimantan Utara (Gunung Kinabalu), Sulawesi ( Lore Lindu, Sojol, Bawakaraeng dan

gunung–gunung lain), New Guini (sangat banyak), Japen, Misima, New Britain. Habitat biasanya tumbuh pada hutan yang bergunung-gunung pada tanah berpasir, pada altitude 300-2500 m dpl. Di Sulawesi terutama dominan pada hutan pegunungan mulai dari 1100 m dpl seperti di Taman Nasional Lore Lindu

bersama-sama dengan ,

Palaquium, dan Litsea sebagai penyusun hutan submontane.

Lithocarpus spp

Nama Lokal

Riung anak (Sunda) karena pada induk yang besar muncul tunas atau individu baru yang jumlahnya sangat banyak. Sulawesi Tengah : Kaha (Muma, Uma), Haleka (Besoa, Bada, Napu).

Kegunaan

Bahan bangunan dan kayu bakar, buah dapat dimakan.

(56)

Casuarina equisetifolia

L.

CASUARINACEAE

Deskripsi

Berukuran besar, hingga 30 m tinggi, DBH hingga 70 cm. Kulit batang bagian luar bersisik, Decidous tree. Daun : halus, tersusun dalam lingkaran 5-20 daun (pohon menggugurkan daun). Bunga unisexual, bunga jantan dengan stamen tunggal dalam sebuah spike pada brancelet lateral. Buah agregate seperti cone berkayu dengan sebuah biji.

Distribusi

Semenanjung Malaysia, Thailand dan menyebar di seluruh Malesia meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku, PNG, Filipina, Australia Timur, Kepulauan Salomon.

Nama Lokal

Agoho, ahaso, aro (Filipina), aru, ru, ru laut (Malaysia), Pink tinyu (Myanmar), Pek nam, Son tha le (laos), Son thale (Thailand), C[aa]y phi lao (Vietnam), Cemara laut, ai smara, aru (Indonesia), Cemara, Cemawis (Jawa), Cemara laut (Sunda), Casuarine Filao de I'Inde (Perancis), Pin d'Australia (Perancis), Cassowary tree, Australian pine, Swamp oak, Bull o Beefwood tree (Inggeris). Sulawesi : Kayu angin (Tojo, Luwuk), Guu ( Tou Taa Morowali).

Kegunaan

(57)

Celtis philippinensis

Blanco

ULMACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran sedang, hingga 20 m tinggi, DBH hingga 40 cm. Daun : Tunggal, tersusun alternate, atau spiral, oblong hingga ovatus. Berukuran 9X6 cm, pinggir daun rata, terdapat 3 pertulangan daun, pertulangan daun hingga ujung, dasar daun meruncing, petiole 5-8 mm panjangnya. Bunga : dalam karangan bunga kecil atau pada ujung , berdaging. Bunga sesil. Buah secara melebar berbentuk elip, 1,25 cm panjang.

Distribusi

Afrika tropis hingga Madagaskar, India, Myanmar, Indo-China, China Selatan, Hongkong, Taiwan, Thailand dan diseluruh Malesia yang meliputi Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, PNG, Filipina, Kepulauan Salomon dan Australia Timur Laut. Biasanya pada hutan dataran rendah hingga 600 m dpl.

Nama Lokal

Malaikmo, Maragaoed, Narabagsay (Filipina), Nyelepi (Malaysia), Thalai khao (Thailand), Ki endog (Sunda), Jalinan, Sentok (Indonesia).

Kegunaan

Kayu secara umum digunakan sebagai bahan bangunan. Di Jawa dikenal sebagai kayu tahi digunakan sebagai obat.

(58)

Cinnamomum porrectum

Blanco

Syn:Cinnamomum parthenoxylon(Jack) Meissn.

LAURACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran sedang, hingga 30 m tinggi, DBH hingga 25 cm. Kulit batang bagian luar berlenti sel, aromatik. Daun : Tunggal, berhadapan, atau suboposite, oblong, dasar daun meruncing, atau bulat, ujung secara gradual meruncing, berwarna hijau pucat, keputih-putihan pada bagian bawah. Bunga : kuning kehijau-hijauan, dalam panikel pada ujung, yang panjangnya hingga 15 cm.

Distribusi

Afrika tropis hingga Madagaskar, India, Myanmar, Indo-China, China Selatan, Hongkong, Taiwan, Thailand dan

diseluruh Malesia yang meliputi Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, PNG, Filipina, Kepulauan Salomon dan Australia Timur Laut. Biasanya pada hutan dataran rendah hingga 600 m dpl.

Nama Lokal

Selasihan, Kayu gadis, Kayu lada, Medang resah, Medang lesah, Medang Selaroh (Indonesia), Selasihan (Jawa), Huru pedes, Ki sereh, Ki lada, Sintok badak (Sunda), Sassafras des Indes, Bois de camphre (Perancis), Martaban camphor tree, Tree Galanga ( Inggeris), Sulawesi : Pakanangi, kanangi (Kulawi, Napu, Besoa, Uma)

Kegunaan

(59)

Cocos nucifera

L

ARECACEAE

Deskripsi

Pohon tidak bercabang berbatang lurus, tidak berduri. Batang tingginya sampai lebih dari 30 m dan diameter 40 cm, pada pangkal membesar. Daun dalam tajuk. Tangkai daun 75-150 cm panjangnya, helaian daun panjang sampai 5 m. Anak daun sampai 120 kali 5-6 cm dengan ujung lancip yang keras.

Tongkol bunga dengan 2 seludang (spatha), bercabang satu kali. Cabang karangan dengan bunga jantan yang banyak dan tersusun

berpasangan, pada pangkalnya dengan satu bunga betina yang besar, kerapkali di kiri kanan ada 2 bunga jantan, bunga mekar dari ujung kemudian ke arah pangkal. Bunga jantan panjangnya lk 9 mm; daun kelopak kecil; daun mahkota berbentuk lanset; benang sari 6; putik rudimenter berbagi 3. Bunga betina bulat peluru, akhirnya garis tengah 2,5-3 cm, dengan perhiasan bunga berdaging yang menempel pada bakal buah; bakal buah beruang 3 ; tangkai putik tidak ada, kepala putik serupa celah yang tenggelam. Buah bulat telur terbalik, sampai lk 25 kali 17 cm dengan dinding buah tengah yang berserabut dan dinding buah dalam keras serupa tulang. Biji satu (sangat jarang 3), kebulat-bulatan, garis tengah sampai 12 cm; putih lembaga beruang, kerapkali berisi cairan.

Distribusi

Daerah asal tidak dikenal, tetapi terdapat dan tumbuh secara alami di kawasan tropik. Di Indonesia tersebar di seluruh kepulauan, di Sulawesi banyak tumbuh mulai dari pinggir pantai hingga 700 m dpl. Banyak dibudidayakan sebagai penghasil kopra.

Nama Lokal

Kokospalm (Nederland), klapper (Nederland), enyor, iyor, niyor (Madura), Kelapa (Jawa, Sunda), Kecambol, klappa, klendah, krambil (Jawa), karambia (Minangkabau), kerambil (Melayu), nyiur (sebutan lain Indonesia), kaluku (Kaili, Sulawesi Tengah), kayuku (Wana, Baree, Sulawesi Tengah).

(60)

Kegunaan

Kelapa adalah pohon serba guna bagi masyarakat tropika. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Akar kelapa menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam (dipakai misalnya pada Bandar Udara Soekarno Hatta) oleh Sedyatmo.

Batangnya, yang disebut glugu dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.

Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.

Tandan bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak. kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarp yang berupa serat-serat kasar,

(61)

Cynometra ramiflora

L

LEGUMINOSAE/CAESALPINIACEAE

Deskripsi

Pohon berukuran kecil, tinggi hingga 7 m, DBH hingga 30 cm. Daun 1-2 jugate, anak daun ovatus, elip, berukuran 2,5 X 7 cm, berdaging, dasar daun membulat, ujung runcing atau meruncing,

pertulangan daun 8-16 pasang, tangkai daun hingga 1,5 cm panjangnya, daun muda berwarna putih terang hingga krem . Bunga kekuning-kuningan, dalam panikel yang muncul diketiak daun, petal dan sepal sama, tidak sama, 4-8 mm panjang, oblong. Buah (polong) elip, berkayu, coklat, 2-5 X 1,3-4 cm.

Distribusi

India melewati Asia Tenggara dan Malesia termasuk Indonesia, Filipina hingga Pasifik. Di Sulawesi Tengah banyak ditemukan di Tojo Una-una, hutan dataran rendah Taman Nasional Lore Lindu (sekitar Pakuli).

Habitat dan Ekologi

Biasanya pada hutan dataran rendah hingga 400 m dpl, kadang-kadang hutan mangrove.

Nama Lokal

Balitbitan (Filipina), Nam-nam (Indonesia). Nam-nam (Jawa, Sunda). Cynometre ramiflore (Perancis). Nam-nam (Inggeris).

Kegunaan

Kayu dikatakan keras tapi tidak tahan lama, kadang-kadang digunakan untuk kontruksi, umumnya ditanam sebagai tanaman hias.

(62)

Delonix regia

Raf.

CAESALPINIACEAE

Deskripsi

Pohon yang kadang-kadang menggugurkan daunnya (deciduous), tinggi 10-20 m. Ujung ranting berambut. Daun penumpu bentuk garis atau menyirip sampai menyirip rangkap. Sirip daun4-21 pasang, yang tengah terbesar. Anak daun berhadapan, persirip 6-35 pasang, oval sampai memanjang, tumpul, membulat atau berlekuk, 0,5-2 X 0,0,5-2-0,6 cm. Bunga dalam tandan yang

berbentuk malai rata ; tandan 1-3 pada pangkalnya tunas muda, berdiri miring, berbunga 6-12. Anak tangkai 0,5-1 cm, tatap. Tabung kelopak pendek; taju dari luar hijau kuning, dari dalam merah, panjang 2-3 cm. Daun mahkota berkuku panjang; yang teratas kuning dengan noda dan garis merah, panjang 4,5-8 cm ; yang ke -4 lainnya kuning oranye dengan merah, panjang 4-7 cm. Benang sari 10, lepas; tangkai sari pada pangkalnya berambut, separo bagian atas merah. Bakal buah bertangkai pendek. Polongan berambut, separoh bagian atas merah. Bakal buah bertangkai pendek. Polongan menggantung, bentukgaris pipih, berkayu, 20-72 X 3-6 cm, berkatup 2, dengan sekat lebar antara biji. Biji 10-50, melintang, memanjang.

Distribusi

Aslinya dari Madagaskar. Sekarang telah banyak ditanam sebagai tanaman peneduh jalan. Di Kota Palu banyak ditanam di pinggir jalan seperti Jl. Sudirman.

Nama Lokal

Flamboyant (Indonesia, Nederland)

Kegunaan

Gambar

Gambar 1. Kepulauan Indonesia dengan zona biogeografinya (Whitten et al. 1987)
Gambar 2. Kawasan Konservasi di Sulawesi
Gambar 3. Rekontruksi Asia Tenggara sejak 50 juta tahun lalu. (Hall  1995)
Gambar 4.Nepenthes

Referensi

Dokumen terkait

Bunga tidak lengkap ( tidak sempurna ), yaitu bunga yang tidak memiliki salah satu bagian kelopak bunga, mahkota bunga, putik atau benang sari.. Bunga yang memiliki tangkai,

5 menit Mengajak anak untuk mengamati dan menganalisis tanaman bunga mawar, mengamati bagian - bagian dan kegunaan akar, batang, daun, kelopak, benang sari bunga

Berdasarkan kelengkapan bagian bunganya, bunga dapat digolongkan ke dalam bunga lengkap, yaitu bunga yang memiliki kelopak, mahkota, benang sari, dan putik dan bunga

Tumbuhan ini memiliki bunga yang sesungguhnya yang terdiri dari mahkota bunga, kelopak bunga, putik, dan benang sari.. Secara umum, tumbuhan berbiji tertutup memiliki ciri

Parameter yang diamati adalah jumlah kelopak, warna kelopak, panjang dan lebar kelopak, warna mahkota, jumlah mahkota, panjang dan lebar mahkota, panjang kotak

Berdasarkan hasil penelitian dapat disim- pulkan bahwa pola peruratan pada daun kelopak, daun mahkota, dan daun sebagai berikut (a) daun kelopak dan daun mahkota memiliki

Mengkudu Struktur Bunga Tersisa di buah -Bunga duduk pd bakal buah -Tangkai di buah -Bunga Majemuk - Buah 10×7=70 -Tangkai dibakal buah -Biji -Perigonium 5 -Benang sari 5 -Putik 2-3

adalah bunga beragam terbentuk di ketiak daun dengan tangkai silinder yang mempunyai panjang ± 1,5 cm, pada kelopak bunga yang dimilikinya berbentuk corong dengan mahkota yang berbentuk