• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II EKLESIOLOGI PERIODE PATRISTIK DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB II EKLESIOLOGI PERIODE PATRISTIK DAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II:

EKLESIOLOGI PERIODE PATRISTIK DAN SKOLASTIK

Sebagaimana telah kita lihat dalam Bab I, eklesiologi (dan juga kristologi) sudah dimulai oleh para penulis Perjanjian Baru. Dalam tulisan-tulisannya, mereka tidak hanya mengajarkan semua kebenaran iman tentang asal Gereja serta anggota-anggota, fungsi-fungsi, simbol-simbol, ritus-ritus, jabatan-jabatan, hukum-hukum, tujuan-tujuan dan ciri-ciri khasnya. Kadang mereka juga berusaha menerangkan natura (kodrat), personalitas dan hubungan Gereja yang beraneka ragam, seperti hubungannya dengan Kristus, guru dan pendirinya, hubungan dengan Israel yang telah mendahuluinya sebagai partner perjanjian, hubungan dengan dunia, dan juga hubungan antara Gereja “yang sedang berjuang” dengan Gereja “yang jaya”. Usaha untuk memahami misteri Gereja yang sudah dimulai oleh penulis Perjanjian Baru ini akan diteruskan serta dikembangkan oleh para pemikir Kristen pada zaman-zaman berikutnya.1

Pada periode patristik (th 150-750) dan skolastik (th 750-1450)2, benih-benih refleksi eklesiologis yang ditaburkan oleh Gereja awali terus berkembang hingga menjadi sebuah pohon yang amat besar dan yang bercabang banyak. Walaupun usaha eklesiologis tersebut intensif dan terus menerus, eklesiologi itu sendiri mendapat susunan yang sistematis dan otonom hanya pada akhir periode skolastik. sebelumnya, studi mengenai misteri gereja dilakukan secara fragmentaris (sepotong-sepotong) oleh para Bapa Gereja Yunani dan Latin, dan dalam konteks misteri-misteri yang lain.

Dalam Bab II ini kita akan berusaha melihat suatu sintesis pandangan eklesiologis para pemikir (teolog), Bapa dan Pujangga Gereja yang masyhur, tanpa mencabut (dengan sedapat mungkin) pandangan mereka tersebut dari konteks historisnya masing-masing.

1. EKLESIOLOGI PERIODE SUB-APOSTOLIK

Dari Kitab Suci PB muncul sebuah gambaran Gereja yang jelas, yaitu umat Allah yang baru, qāhāl yang baru, partner perjanjian yang terakhir dan definitif, umat dalam suatu kelompok sosial yang berbeda dari semua umat lain di dunia ini. Yesus dari Nazaret, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, pendiri serta kepalanya, sudah memberikan kepada Gereja simbol-simbol, ritus-ritus, struktur-struktur, hukum-hukum, cita-cita, nilai-nilai dan tugas-tugasnya yang khusus. Sejak permulaan, Gereja memiliki segala sesuatu yang diperlukan sebagai

1 Materi ini dapat dilengkapi dengan mendalami ‘gambaran Gereja sesudah masa Perjanjian Baru’ dalam B.S. Mardiatmadja, Eklesiologi. Makna dan Sejarahnya, Yogyakarta, Kanisius, 1991, hlm. 103-119: a) Pada tiga abad pertama; b) Pada masa ‘Imperium Romanum’ dan abad pertengahan; c) Sekitar zaman reformasi: Gereja yang terpecah-pecah.

(2)

umat Perjanjian Baru dan untuk berfungsi sebagai sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia. Justru, karena Gereja adalah suatu kelompok, maka seperti setiap umat lain, Gereja juga mengalami pasang surut, mengalami masa perkembangan, pematangan dan saat-saat yang diselingi baik dengan kesuksesan maupun kegagalan.

Apa yang istimewa dalam sejarah umat Allah yang baru ini adalah perkembangan yang luar bisa pesatnya, khususnya selama dua abad pertama, yang biasa disebut zaman atau periode sub-apostolik.

a. Perkembangan tersebut pertama-tama berkenaan dengan bertambahnya jumlah anggota. Dalam jangka waktu kurang dari satu abad, pewartaan Injil disampaikan kepada seluruh wilayah Kekaisaran Romawi dan banyak sekali orang yang menjadi pengikut Kristus. Gereja-gereja lokal muncul di mana-mana; dari antara mereka, yang memiliki nama dan supremasi adalah Gereja-gereja yang didirikan langsung oleh salah seorang Rasul, seperti:

- Gereja Yerusalem khususnya: tempat lahir Gereja universal dan tempat tinggal dewan para Rasul, meskipun penggembalaan Gereja ini diserahkan secara resmi kepada Rasul Yakobus.

- Gereja Antiokia: tempat di mana Petrus, Paulus dan Barnabas menjalankan kerasulannya.

- Gereja Alexandria: tempat di mana Petrus dan Penginjil Markus mengadakan pewartaannya.

- Gereja Roma: tempat di mana Petrus dan Paulus menjadi martir dan tempat kedudukan Petrus.

b. Di antara Gereja-gereja yang didirikan langsung oleh salah seorang Rasul, sejak permulaan Gereja Roma diakui memiliki sejenis primat3 atas semua Gereja lain. Hakekat atau kodrat

primat tersebut telah dan terus menjadi objek studi serta sebab perbedaan pendapat yang mendalam antara orang-orang Katolik, Protestan dan Ortodoks. Persoalan utama adalah kelangsungan primat Petrus4 kepada para penggantinya di tempat kedudukan Romawi, yaitu kepada Paus. Namun tidak dapat disangkal bahwa sejak zaman sub-apostolik, primat tanggung jawab takhta Roma atas seluruh Gereja (dan bukan hanya primat hormat saja) diakui oleh sumber-sumber yang tidak dapat diragukan dan yang besar kewibawaannya. Terutama misalnya, Surat-surat Ignatius, Uskup Antiokia (+ 110), Prasasti pada makam Abercius, Uskup Geropolis (akhir abad II) dan tulisan “Adversus haereses” (“Melawan bidaah”) oleh Ireneus, Uskup Lyon (135-202/203).

Berikut dipaparkan beberapa kutipan karangan-karangan yang terkenal itu:

- Surat-surat Ignatius. Sebagai seorang yang sudah ditawan dan dijatuhi hukuman mati, dalam perjalanannya ke kota Roma, Ignatius menulis sepucuk surat (“Ad Romanos”) agar orang-orang Romawi tidak berusaha menghalang-halangi kemartirannya. Dengan mengulangi dan mengembangkan lebih lanjut pujian yang lima puluh tahun sebelumnya telah diberikan Paulus kepada jemaat itu, Ignatius mengawali suratnya yang hangat demikian: “Ignatius yang disebut juga Theoforus, kepada Gereja yang telah memperoleh belaskasih dalam kemuliaan Bapa yang mahatinggi dan Yesus Kristus, PuteraNya yang tunggal; kepada Gereja yang mengetuai di wilayah

(3)

orang Romawi, yang berkenan kepada Allah, yang pantas mendapat hormat, berkat, pujian, yang pantas di kabulkan, yang berhiaskan kesucian, yang ditempatkan mengetuai ‘cinta kasih’ (prokatthemene tes agapes), wali hukum Kristus, pembawa nama Bapa; salam atas nama Yesus Kristus, Putera Bapa, kepada orang-orang beriman yang bersatu dalam perintah-perintah kudus”.

- Prasasti Abercius.5 Sesudah menuliskan kata-kata perkenalan dirinya,6 Abercius melanjutkan: “Si gembalalah yang mengutus saya ke Roma, untuk mengkontemplasikan, dalam kota yang besar sekali ini, sri baginda yang agung serta melihat seorang ratu yang berpakaian dan berkasut emas. Di Roma saya sudah berkenalan dengan suatu bangsa yang mengenakan sebuah meterai gemilang”.

- “Adversus haereses”. Sebuah karya besar dan terkenal yang ditujukan untuk melawan kaum bidaah. Dalam karya tersebut Ireneus menulis mengenai Gereja Roma sebagai berikut: “Dengan Gereja inilah, karena kedudukannya yang terulung (propter potentiorem principalitatem), harus bersetujulah setiap Gereja (necesse est omnem convenire ecclesiam), yaitu semua orang beriman yang tersebar di mana saja, karena di dalam Gereja Romawi inilah tempat di mana orang-orang beriman dari segala bangsa telah memelihara Tradisi Apostolik (conservata est ea quae est ab apostolis traditio)”.7 Menurut Ireneus, Gereja Roma merupakan tanda, kriteria dan garansi (jaminan) dari penerusan Tradisi Apostolik yang tidak terputus.

Jadi, sambil membicarakan Gereja lokal Roma yang dengan cepat meneguhkan primatnya terhadap Gereja universal, sudah tampak juga kedua aspek dari perkembangan umat Allah yang baru itu, yakni perkembangan institusional dan perkembangan kulturalnya, yang benar-benar menjadi pusat dan mengesankan.

a. Berkat kualitas-kualitas kultural dari banyak orang yang menjadi Kristen sejak periode sub-apostolik, umat Allah yang baru, justru sebagai umat8 mencapai suatu konsistensi kultural yang sungguh kuat dalam semua unsur yang menandai serta membedakannya dari umat-umat lain, khususnya dari umat Ibrani, Yunani dan Romawi. Kemajuan kultural itu dialami dalam berbagai bidang, yakni:

- bidang simbol: dengan menyusun atau merusmuskana “Credo” (Syahadat para Rasul) dan dengan menentukan kanon Perjanjian Baru serta norma-norma untuk menentukannya;

- bidang liturgi: dengan menyempurnakan ritus-ritus perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen lain;

- bidang etika: hukum-hukum yang mengalir dari mandatum novum (perintah baru) dijadikan lebih nyata dan eksplisit;

- bidang institusi: dengan melengkapi hierarki dan dengan menentukan secara jelas fungsi dan tugas tingkatan masing-masing, yaitu para Uskup, presbiter/penatua, dan diakon;

5 Dikarang sendiri oleh Abercius untuk makamnya, pada akhir abad II.

6 Demikian dia memperkenalkan dirinya: “Saya bernama Abercius; saya murid seorang gembala yang suci murni…”.

7 Ireneus dari Lyon, Adversus haereses, III, 3, 2.

(4)

- bidang axiology: dengan membenarkan nilai-nilai dan cita-cita yang diusahakan oleh umat Allah yang baru dan dengan mempertahankannya baik dari serangan orang-orang kafir maupun dari penyimpangan kaum bidaah.

b. Doktrin atau ajaran yang disusun oleh keempat penulis gerejani termasyhur pada periode sub-apostolik ini (Ireneus, Tertulianus, Origenes dan Siprianus) merupakan tanda dan sebab

kemajuan kultural yang berhasil dicapai oleh umat Allah yang baru. Doktrin-doktrin tersebut sangat penting, meskipun belum dipaparkan secara sistematis. Para penulis periode sub-apostolik menggunakan metode simbolik dalam menafsirkan Kitab Suci maupun dalam membahas realitas Gereja.9 Kodrat dan fungsi-fungsi Gereja diterangkan dengan beberapa gambaran, yang pada umumnya telah dipakai, baik oleh para penulis Perjanjian Lama untuk membahas umat Israel, maupun oleh para penulis Perjanjian Baru untuk membahas umat Allah yang baru.

1.1. Ireneus dari Lyon (135 – 202/203)

Ireneus lahir di Asia Kecil, tepatnya di Smirna (sekarang Izmir, Turki) pada pertengahan pertama abad II. Dia menerima pendidikan yang baik dalam bidang agama, filsafat dan teologi dari para guru, seperti Uskup Polikarpus, yang pernah menjadi murid Yohanes, Uskup Papia, Melitone dari Sardi, dll. Sesudah pindah ke Barat, Ireneus menjadi imam dan kemudian menjadi Uskup di Lyon, Gallia (sekarang Prancis). Dalam tugasnya sebagai Uskup, yakni sebagai penjaga depositum fidei (warisan iman) yang tekun, ia berusaha sekuat tenaga melawan kelompok aliran gnostisisme, yakni aliran yang dapat memutarbalikkan arti seluruh kebenaran Kristen.10 Istilah gnostisisme berasal dari kata gnosis, artinya pengetahuan akan misteri-misteri ilahi yang dikhususkan bagi kaum elit atau cerdik pandai.11 Ajaran gnostisisme menegaskan bahwa iman yang diajarkan Gereja hanya merupakan simbolisme bagi orang-orang sederhana, yang tidak mempunyai kapasitas untuk mengerti hal-hal rumit dan sulit; sebaliknya kaum cerdik pandai, kaum intelektual (para gnostik) mampu mengerti apa sebenarnya di balik simbol-simbol tersebut, sehingga akan membentuk sekelompok orang-orang Kristen elit, yaitu kelompok orang-orang intelektualis.12 Upaya Ireneus yang cerdas dan efektif dituangkan dalam dua karyanya yang terkenal, yakni Adversus haereses (Melawan bidaah) dan Demonstratio apostolicae praedicationis (Eksposisi pewartaan apostolik) atau biasa disebut Epideixis.

a. Ireneus adalah seorang teolog pertama yang melakukan sintesis global tentang kristianisme. Sintesis global tersebut mencakup juga suatu model Gereja yang konsisten. Dapat dikatakan bahwa dengan Ireneus lahirlah “teologi sistematis”. Secara historis, dalam zaman Ireneus (abad II) ditandai dengan dua peristiwa kultural yang penting:

- munculnya gnostisisme, bidaah pertama yang memiliki suatu dasar doktrinal dan daya tarik yang kuat bagi orang-orang Kristen terpelajar dan intelektual;

9 Tetapi penggunaan metode simbolik ini sama sekali tidak berarti bahwa eklesiologi para Bapa Gereja kurang dalam atau kurang bernilai dibandingkan eklesiologi para skolastik.

10 Istilah gnostisisme menunjuk pada aliran filsafat agama yang ditandai doktrin bahwa keselamatan hanya dapat kita peroleh melalui pengetahuan atau ‘gnosis’. Menurut gnostisisme manusia tidak dapat mengenal apa-apa tentang Allah, bahkan tidak dapat mengatakan apa-apa dengan pasti tentang Allah, meskipun dibantu oleh wahyu.

11 Jules Lebreton dan Jacques Zeiller, Storia della Chiesa II, Torino, Editrice S.A.I.E, 1972, hlm, 17.

(5)

- berkembangnya neo-platonisme, suatu aliran filsafat yang pandangannya luas dan memiliki banyak kemiripan dengan kristianisme.

Karya teologis Ireneus – baik tentang ‘depositum fidei’ pada umumnya, maupun tentang misteri Gereja khususnya – dimaksudkan untuk menjawabi dan menanggapi secara mendalam tuntutan-tuntutan kedua fenomena kultural tersebut.

- Jawabannya adalah polemis terhadap aliran bidaah gnostisisme dan mengkritik kesalahan besar yang terkandung dalam ajaran mereka;

- Jawabannya dialogis terhadap aliran filsafat neo-platonisme, artinya Ireneus bersedia menerima beberapa prinsip umum aliran filsafat tersebut.

Oleh karena itu, eklesiologi Ireneus di satu pihak bersifat anti-gnostisisme dan di lain pihak agak dipengaruhi aliran filsafat neo-platonisme. Hal ini berarti bahwa Ireneus tidak menyusun suatu eklesiologi yang abstrak, tanpa kaitan dengan situasi zamannya, melainkan sebuah eklesiologi yang penuh perhatian terhadap tuntutan-tuntutan zamannya dan sekaligus yang tetap setia kepada tuntutan-tuntutan kebenaran yang diwahyukan Tuhan.

b. Latar belakang yang menjadi titik tolak Ireneus dalam menggariskan misteri Gereja adalah pandangan platonis, yang membedakan dua tingkat (dualisme) realitas:

- tingkat ideal, yaitu tingkat ilahi, kekal, tidak kelihatan, sempurna, tidak dapat rusak; dan

- tingkat real, yaitu tingkat konkret, historis, kelihatan, material, tidak sempurna.

Tingkat yang kedua merupakan gambar atau ‘copy’ dari tingkat yang pertama. Sebaliknya, tingkap yang pertama merupakan model atau paradigma dari tingkat kedua. Dengan mempergunakan skema tersebut untuk memahami misteri Gereja, Ireneus dapat memandang seluruh pelaksanaan keselamatan di dunia ini sesuai dengan model ilahi, dan kedua-duanya berasal dari Allah yang sama.13

c. Apabila dibaca dari pandangan eksemplaris ini (pandangan filsafat platonisme), sejarah keselamatan tampak sebagai suatu kesatuan yang cukup mengesankan. Seluruh sejarah keselamatan – yakni sejak hari pertama penciptaan sampai dengan hari kedatangan Kristus yang kedua (parousia) – merupakan bagian dari satu-satunya rencana ideal dan kekal itu. Karena itu, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru termasuk rencana yang sama dan satu. Di antara kedua Perjanjian, sama sekali tidak ada perpecahan dan pertentangan (konflik), seperti yang dipertahankan oleh kaum Gnostik, dan keselamtan bukanlah suatu privilese yang dikhususkan bagi sedikit kaum intelektual, seperti dimaui kaum Gnostik, melainkan suatu anugerah yang diperuntukkan Allah bagi umat manusia.

d. Karena bertitik tolak dari pandangan eksemplaris ini, Ireneus menunjukkan Allah sebagai seorang seniman, yang lebih dahulu merencanakan dan kemudian melaksanakan seluruh rencana keselamatan.

(6)

- Pelaksanaan rencana tersebut dijalankan menurut tuntutan “eksemplarisme”, artinya copy dijadikan sesuai dengan gambar asli. Seniman yang meng-copy diri. Sebagai seorang seniman, Allah tidak memerlukan model di luar diriNya sendiri untuk di-copy, “seperti seorang buruh yang kurang cakap atau seorang pemula/magang yang mulai mempelajari suatu pekerjaan”.

- Allah mengambil model asli diriNya sendiri; FirmanNya, yakni PuteraNya adalah model asli itu. Di dalam PuteraNya, Allah Bapa mengungkapkan diri secara sempurna. Dan di dalam PuteraNya, Allah secara serentak merencanakan segala sesuatu yang ingin diciptakanNya.

- Dosa manusia tidak mampu menggagalkan karya Allah, karena Dia dapat dan mau mengangkat apa yang sudah jatuh dan dapat mengubah masa pembuangan ini menjadi zaman akhir dengan menjalankan keselamatan.“Karya seni Allah tidak mengenal keterlambatan. Karya Allah sedemikian berkuasa sehingga dapat membangkitkan anak-anak Abraham dari batu-batu…Terang tidak dapat dipudarkan oleh kesalahan mereka yang tersesat dan oleh mereka yang tidak mampu mempertahankan karya seni Allah di dalam diri sendiri”.14 Rahmat Allah itu jauh lebih kuat dari pada segala penolakan manusia: “Adam tidak dapat melepaskan diri dari tangan Allah”.15 Hukum ini berlangsung sepanjang sejarah.

e. Dalam karyaNya, Allah berkehendak mencapai tujuan yang dimaksudkanNya sejak kekal dengan rencana keselamatan, yaitu manifestasi timbal balik antara Allah dan manusia:

- Allah sama sekali tidak menghendaki kemuliaan diriNya sendiri dengan merugikan manusia, melainkan demi kebaikan dan keselamatan manusia.

- Sebaliknya, keselamatan manusia tidak dapat terlaksana dengan ‘merugikan’ Allah, artinya dengan melepaskan diri dari Allah, melainkan dalam persatuan dengan Dia: - “Sebab kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, dan kehidupan manusia adalah

melihat Allah”.16

f. Setelah pertemuan pertama manusia dengan Allah di Taman Firdaus tampaknya gagal, dialog terputus selama beberapa waktu, namun tidak lama. Sesudah peristiwa air bah, Allahlah yang sekali lagi mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia, dan rencana ini diselesaikan dalam dua tahap:

- Pertama, dengan mengusulkan suatu perjanjian khusus dengan bangsa Israel (Perjanjian Lama);

- Kedua, dengan mengutus PuteraNya yang tunggal ke dunia, untuk mengadakan perjanjian definitif dengan umat manusia dan dengan bantuan Roh Kudus, Kristus mendirikan Gereja.

(7)

Gereja sebagai saramen keselamatan tidak pernah akan hilang, dan dengan demikian juga Perjanjian antara Allah dan manusia tidak akan pernah putus. Sebagaimana Tuhan “sudah memenuhi segala sesuatu dengan kedatanganNya, demikian juga Gereja terus menerus membawa Perjanjian Baru ke dalam sejarah sampai pada akhir zaman yang diramalkan Hukum itu”.17

g. Berkat bantuan istimewa dari Roh Kudus, Gereja menjadi tempat yang “tidak dapat salah” (indefectibilis) dan aman bagi kebenaran:

“Ajaran Gereja adalah sama di mana-mana, di setiap waktu dan di setiap tempat. Ajaran itu didasarkan pada kesaksian para nabi, para Rasul dan semua murid, sejak awalnya, pada masa tengahnya dan hingga akhirnya, yaitu melalui seluruh karya Allah […] yang ditujukan kepada keselamatan kita dan iman kita. Iman ini yang kita terima dari Gereja, di mana Roh meremajakannya tidak henti-hentinya […]. Iman ini adalah suatu anugerah yang dipercayakan Allah kepada Gereja sebagai sumber hidup bagi semua anggota. Karena itu, kita berada dalam persekutuan dengan Kristus, melalui Roh Kudus yang menjamin sifat “tidak-dapat-rusak” (incorruptibilitas), yang menopang iman kita, yang mana merupakan tangga sehingga kita dapat naik mencapai Allah. Sebab, seperti dikatakan St. Paulus, di dalam Gerejalah, Allah telah menetapkan para Rasul, para nabi dan pujangga; di dalam Gerejalah karya Roh Kudus terlaksana. Di mana Gereja, di situlah Roh Allah dan di mana Roh Allah, di situlah Gereja dan sertanya segala rahmat, dan Roh itu adalah kebenaran. Mereka yang tidak mengambil bagian di dalamnya dan yang tidak menimba hidup dari rahim ibunya, tidak menerima sumber ajaib yang memancar dari tubuh Kristus, melainkan menggali kolam yang bocor bagi mereka sendiri dan minum air yang berbau busuk dari parit yang berlumpur”.18

h. Kepada para pengikutNya, yaitu kepada umat Perjanjian Baru, Kristus sudah memberikan

jaminan yang nyata tentang kebenaranNya melalui suksesi apotolik.

- Ireneus adalah teolog pertama yang membahas doktrin eklesiologi yang sangat penting ini, yakni ‘suksesi apostolik’ sebagai kriteria untuk membedakan Gereja yang benar19 dari Gereja bidaah – dan oleh karena itu sebagai kriteria untuk membedakan ajaran yang benar dari ajaran yang sesat.

- Ajaran tentang ‘suksesi apostolik’ dirumuskan Ireneus sbb.: “Kami seharusnya mendaftarkan semua orang yang sudah ditetapkan sebagai Uskup dan pengganti para Rasul sejak awal sampai sekarang. Tapi karena terlalu panjang dalam buku ini daftar para pengganti di semua Gereja, maka cukuplah kita menyebut Gereja yang paling besar dan yang tua sekali dan yang dikenal oleh semua, Gereja yang didirikan dan diadakan di Roma oleh dua Rasul Petrus dan Paulus yang mulia itu. Dengan memelihara tradisi yang telah diterima dari para Rasul dan iman yang diwartakan dan diteruskan kepada kita lewat suksesi para Uskup. Dengan suksesi apostolik ini kita mengalahkan semua orang bidaah”. Maka “tidak perlu kita mencari di tempat lain kebenaran yang dapat ditimba dari Gereja, sebab di dalam Gereja, bagaikan tempat penyimpanan yang sangat bernilai, para Rasul

17 Ireneus dari Lyon, Adversus haereses, II, 38, 2. 18 Ireneus dari Lyon, Adversus haereses, III, 38, 2.

(8)

telah menuangkan segala kebenaran, agar setiap orang dapat menemukan di dalamnya minuman kehidupan. Dialah [Gereja] pintu masuk kehidupan. Yang lain semua adalah pencuri dan pembunuh. Oleh karena itu, kita mesti waspada terhadap mereka dan kita mesti sangat mencintai segala sesuatu yang dimiliki Gereja, dengan mempelajari kebenaran dari tradisi”.20

- Para bidaah yang datangnya sesudah para Rasul tidak dapat membuktikan otoritas ilahi apapun bagi dirinya sendiri, sedangkan Gereja berbicara dan bertindak atas nama Allah karena ‘suksesi apostolik’ para Uskupnya.

i. Berkat karya Ireneus, kesadaran eklesiologis umat Allah yang baru menjadi matang, lebih kritis, lebih bertanggung jawab dan berhasil merumuskan kriteria penting tentang kebenaran dan keanggotaan dalam Gereja, sehingga dalam perkembangannya yang pesat segala pencemaran doktrinal dapat dihindari.

Sebab pencemaran doktrinal tersebut bisa melemahkan dan menghilangkan ciri khas dan fungsi Gereja sebagai sakramen keselamatan bagi semua bangsa. Dalam konteks ini, penting sekali kriteria yang dipergunakan Ireneus, artinya apostolisitas, yakni yang menghubungkan suatu doktrin, simbol, hukum, struktur dan nilai langsung dengan para Rasul melalui ‘suksesi apostolik’. Ini adalah suatu kriteria yang terjamin, karena Kristus sendiri menghendaki para Rasul penggantinya sebagai saluran yang berkualitas untuk menyampaikan dan memelihara kebenaran InjilNya.

1.2. Tertullianus dari Kartago (160 – 220)

Tertullianus adalah seorang Afrika. Ia sudah dewasa ketika masuk agama Kristen. Pengetahuannya yang diperoleh sebelumnya sebagai ahli retorika dan ahli hukum, bakatnya yang luar biasa, semangat dan kepribadiannya yang kuat, dia pergunakan untuk mempelajari, mengajar dan mempertahankan iman yang baru dianutnya.

Dua ciri khas pemikirannya tentang teologi dan eklesiologi adalah sbb.:

- stoisisme21 - yang lebih disukai oleh Tertullianus dari pada platonisme – sebagai alat untuk

memahami, mendalami dan mengungkapkan kebenaran Kristen.

- integrisme, yang membawa Tertullianus mempertahankan bahwa tidak ada nilai, kebaikan dan kebenaran pada sesuatupun yang tidak berasal langsung dari Kristus dan GerejaNya.

a. Dari stoisisme, Tertullianus mengambil baik rigorisme etis/moral maupun materialisme metafisik. Dia tidak ragu-ragu menggunakan materialisme metafisik itu dalam mendefinisikan jiwa22, imago Dei23, dan kodrat manusiawi Kristus24. Metafisika stoisis juga memainkan peran yang penting dan menentukan, ketika Tertullianus membahas dan

20 Ireneus dari Lyon, Adversus haereses, III, 3-4.

21 Stoisisme merupakan aliran filsafat yang namanya berasal dari kata Yunani “e stoa”, artinya serambi muka, tokohnya yang pertama adalah Zeno dari Citium yang biasanya mengajar di kota Atena. Stoisisme menggarisbawahi bahwa hidup itu serius dan bertentangan dengan ide abstrak Plato atau ide universal Aristoteles. Yang terpenting adalah hidup praktis dan cita-citanya ataraksy atau keadaan mental (batin) tenang.

(9)

menyusun eklesiologi. Model Gereja yang disukai Tertullianus ialah model somatis, artinya Gereja dipandang sebagai “Tubuh Kristus”. Tertulianus tetap terikat pada model somatis ini, biarpun kemudian (sesudah menganut montanisme25) dia lebih cenderung menggarisbawahi

model pneumatis, yaitu Gereja sebagai Bait Roh Kudus.

b. Tertullianus memusatkan seluruh sejarah keselamatan (khususnya: kristologi dan eklesiologi) pada model Gereja sebagai “Tubuh Kristus”.

- Tertullianus berpendapat seperti Origenes, bahwa sejarah keselamatan adalah sejarah imago Dei di dalam diri manusia, namun berbeda dalam penerapan. Menurut Origenes, eikon atau imago Dei terletak pada jiwa, sedangkan menurut Tertullianus, eikon atau imago Dei terletak pada badan.

- Menurut Tertullianus, tubuh Kristuslah model utama dari imago Dei, sedangkan menurut Origenes, Logos-lah model tertinggi imago Dei.

- Dalam bukunya, “De resurrectione carnis”, Tertullianus berbicara tentang mengenakan sacramenta (sakramen) dan disciplina (pembinaan) pada daging dan memperkenalkan pembaptisan bagaikan induere Christum (mengenakan Kristus). Rahmat dan keselamatan itu bagaikan mengenakan pakaian baru, “pakaian pesta”, seperti dikatakan dalam Injil Matius (Bdk. Mat 22: 1).

Tetapi pengenaan Kristus, pengenaan tubuhNya, yang dilaksanakan melalui sakramen pembaptisan dapat dipahami secara individualis. Artinya, seakan-akan hal menjadi anggota Kristus tidak merupakan suatu kejadian komunitas, melainkan suatu kejadian pribadi atau individual saja. Kesalahpahaman ini dapat dihindari apabila sakramen ekaristi diperhatikan sebagaimana mestinya. Karena, pada hakekatnya sakramen ini merupakan suatu communicatio, artinya makan bersama makanan ekaristi. Gereja itu sendiri pada hakekatnya terdiri atas adanya sebagai “komunitas ekaristi” (dalam arti yang mendalam dan menyeluruh). Menurut Tertullianus, keanggotaan dalam Kristus tidak dihasilkan oleh sakramen-sakramen secara otomatis, seakan-akan komitmen pibadi kurang diperlukan. Di sini jelas bahwa sakramen dan ethos, corpus Christi dan disciplina merupakan satu kesatuan.

c. Dari ringkasan model Gereja Tertullianus tersebut di atas, dapat dilihat bahwa pandangan somatis tidak menjadi halangan bagi dia untuk mengatur eklesiologi yang berbobot dan tersusun. Di dalam eklesiologinya, selain kebenaran-kebenaran dasar yang berhubungan dengan misteri Gereja, terdapat juga prinsip-prinsip dan kriteria-kriteria utnuk membedakan Gereja yang benar dari gereja-gereja lain dan membedakan kebenaran dari kesesatan (bidaah). Tertullianus mengajukan suatu kriteria lagi yang sudah diberikan Ireneus, yaitu apostolisitas. Apostolisitas ini disebut Tertullianus sebagai praescriptio, istilah yuridis yang artinya “aturan yang memberi hak” kepada suatu tradisi.

d. Ciri khas kedua dari eklesiologi Tertullianus adalah integrisme. Pada permulaan, pendirian ini mendorong Tertullianus mengasingkan secara total Kristianisme dan Gereja dari semua

24 Dalam melawan gnostisisme, Tertullianus bukan hanya mempertahankan bahwa tubuh Kristus itu riil, melainkan juga bahwa tubuh Kristus itu jelek dan hina.

(10)

doktrin dan masyarakat lain. Kemudian, karena integrisme tersebut, Tertullianus menjadi penganut montanisme.26 Aliran atau sekte ini menuntut dari orang beriman suatu disciplina atau suatu tingkah laku yang sangat keras dan ketat. Karena pengaruh integrisme, pendirian Tertullianus tentang filsafat Yunani dan kebudayaan kafir pada umumnya sangat negatif. Menurut Tertullianus, sesudah kedatangan Kristus, kebudayaan kafir bukan hanya mubazir, melainkan juga jahat pada hakekatnya, karena itu tidak bisa dicocokkan dengan kebenaran dan disciplina Kristus.

e. Pendirian Tertullianus tentang hubungan antara Kristianisme dan kebudayaan lain, antara Gereja dan dunia, sama sekali bertentangan dengan pendirian Origenes dan Clemens. Pendirian Tertullianus – yang dengan keras menolak kultur lain – dapat dijelaskan berdasarkan alasan historis (penganiayaan terus menerus dari pihak kaisar-kaisar Romawi) maupun alasan teoritis (novitas christina, kebaharuan Kristen). Perlu diperhatikan bahwa keadaan historis tersebut tidak tahan lama, merupakan keadaan tidak tetap, sementara, dan contingen. Lagi pula, pendirian Tertullianus kurang sesuai dengan teologi inkarnasi: Yesus tidak menolak manusia, melainkan menanggungnya, bersama kulturnya, untuk mengubahnya menjadi anak Allah.

1.3. Origenes (184/185 – 253/254)

Origenes adalah seorang pemikir jenius dan ulung, baik sebagai seorang ekseget maupun sebagai seorang teolog. Ia meninggalkan jejak yang tidak terhapuskan dalam sejarah teologi Kristen dan dalam sejarah Gereja sendiri. Bersama guruya, Clemens dari Aleksandria, ia berhasil dalam usahanya agar filsafat Yunani dan kebudayaan Helenis pada umumnya diterima dalam Gereja. Ia berhasil juga dalam membuktikan legitimitas (keabsahan) helenisasi kristianisme. Sebagaimana telah kita lihat, masalah hubungan antara Gereja dan Kebudayaan mendapat perhatian besar sejak permulaan. Karena terbentuk dalam pangkuan Israel, umat Allah yang baru dengan segera mempertanyakan dirinya sejauh mana mereka harus terikat dengan kebudayaan Yahudi. Suatu pemecahan parsial dicapai dalam Konsili Yerusalem yang menjelaskan beberapa praktek ritual yang ditentukan hukum Musa, tidak diwajibkan bagi orang-orang Kristen yang berasal dari bangsa lain.

a. Namun tidak lama kemudian masalah hubungan antara Gereja dan kebudayaan muncul lagi secara lebih serius dan umum, yaitu ketika Gereja harus menghadapi masalah dalam hubungannya dengan kebudayaan Yunani (Hellenisme). Sebenarnya sejak permulaan, umat Allah baru yang jumlahnya masih sedikit, telah dipengaruhi oleh bahasa Yunani. Namun soalnya jauh lebih kompleks, kecuali persoalan bahasa, apakah umat Allah yang baru diperbolehkan juga mengambil unsur-unsur lain dari kebudayaan Yunani dan Romawi, seperti: filsafat, kesusasteraan, kesenian, moral, pedagogi, hukum sipil, dll. Pemecahan yang

(11)

tepat mengenai persoalan yang rumit ini dapat ditemukan hanya dengan menempuh jalan tengah:

 Di satu pihak, persoalan tersebut tidak dapat dipecahkan dengan menerima kebudayaan Yunani dan Romawi secara integral, karena tentang unsur-unsur esensial kebudayaannya umat Allah yang harus tetap setia kepada Kristus.

 Di lain pihak, kebudayaan Yunani dan Romawi tidak bisa ditolak mentah-mentah, karena umat Allah yang baru tidak bermaksud menggantikan semua bangsa lain, melainkan mau menjadi sakramen keselamatan bagi semua semua orang, bagi semua bangsa dan bagi kebudayaannya masing-masing.

b. Menghadapi persoalan yang tidak mudah ini, Clemens dari Aleksandria (guru Origenes), sudah menemukan jalan pemecahan yang jenius dan berani: Clemens dari Aleksandria memberikan kepada kebudayaan Yunani dan khususnya kepada filsafatnya peran yang mirip dengan peran yang telah dimainkan oleh hukum Musa.

“Allah telah memberikan hukum kepada orang-orang Yahudi dan filsafat kepada orang kafir untuk merintangi ketidakpercayaan mereka terhadap kedatangan Kristus. Karena itu tidak ada keringanan sedikitpun bagi orang yang tidak percaya. Melalui dua proses penyempurnaan yang berbeda, Allah menuntun, baik orang Yunani maupun orang Barbar kepada kesempurnaan iman”.27 Menurut Clemens, “Filsafat telah diberikan kepada orang Yunani sebagai suatu perjanjian khusus yang diperuntukkan bagi mereka, bagaikan anak tangga untuk naik ke filsafat yang sesuai dengan Kristus”.28 Secara analogi, sebagaimana Perjanjian Baru tidak menghapuskan Perjanjian Lama, melainkan membawanya ke kepenuhan, demikian juga filsafat baru, “yang sesuai dengan Kristus”, tidak menghapuskan filsafat lama orang-orang Yunani, melainkan menyehatkan, meningkatkan dan menyempurnakannya.

c. Origenes setuju dengan tesis Clemens ini dan meletakkannya sebgai batu sendi bangunan teologisnya yang mengagumkan. Seperti gurunya, Origenes berpendapat bahwa antara filsafat Yunani dan Kristianisme tidak ada pertentangan, melainkan solidaritas dan persekutuan. Origenes sadar bahwa filsafat itu bagaikan pedang yang bermata dua. Sebab menurut Origenes,“banyak orang menggunakan beberapa pengetahuan yang mereka miliki tentang Hellenisme untuk melahirkan ajaran-ajaran bidaah dan seakan-akan mau membuat anak-anak lembu emas di Babel”.29 Tetapi resiko ini tidak mengejutkan Origenes. Dia memutuskan untuk “mengambil dari filsafat orang Yunani segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai ‘propedeutika’ (pengantar) yang mengantar ke Kristianisme”30 untuk “memperkuat iman dan akal budi”.31 Dengan pernyataannya ini, Origenes tidak bermaksud memutarbalikkan

peranan khusus Kristianisme dan filsafat; kalau berbicara tentang kebenaran, tetaplah Kristianisme atau Sabda Allah yang paling utama (nomor satu). Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kita tidak dapat memperoleh suatu keterangan rasional – melalui proses filosofis – tentang kebenaran yang dipercayai karena iman itu.

27 Bdk. Clemens dari Aleksandria, Stromata, VII, 2, no. 10-11.

28 Bdk. Clemens dari Aleksandria, Stromata, VI, 8, no. 67; Pada masa Clemens, istilah “filsafat” sangat luas makna atau artinya, pengertiannya hampir sama dengan istilah “kebudayaan” pada masa kini.

29 Origenes, Philocalia, I, Pendahuluan, SC 252, 88-89. 30 Ibid.

(12)

d. Dengan menggunakan proses ini, Origenes dapat menyusun suatu sistem teologis yag luas dan kompak, di mana dia tempatkan bukan hanya kebenaran (yang pasti) yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan juga tesis-tesis (yang nilainya dapat diragukan) hasil pendapat atau keyakinan sendiri. Untuk mendalami kebenaran yang diwahyukan (doctrina revelata) dan untuk menyusunnya secara sistematis (seperti Ireneus dan Clemens), Origenes juga menggunakan filsafat Plato dan prinsip eksemplaris pada khususnya. Plato telah menemukan prinsip eksemplarisme ini untuk menjelaskan hubungan antara dunia pikiran (intelligibilis), dan memandang dunia pikiran sebagai model (exemplum…eksemplarisme) dunia materi; dan sebaliknya, memandang dunia materi sebagai “copy” atau gambar dunia pikiran. Origenes menerapkan prinsip ini dalam skala luas untuk memberikan susunan dan kesatuan pada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan.

e. Origenes menempatkan Allah Bapa sebagai model (exemplum) yang pertama dan tertinggi. Menurutnya, segala sesuatu yang berasal dari Bapa (dari PuteraNya sampai makhluk yang terendah) diciptakan menurut gambarNya:

 Tetapi, hanya PuteraNya, sang Logos merupakan gambarNya (imago) yang identik;

 Setelah sang Logos, menyusul makhluk rasional (logikoi), yaitu para malaikat (di antara mereka termasuk juga manusia ideal);

 Pada tingkat yang lebih rendah terdapat manusia badani, laki-laki dan perempuan;

 Lantas, binatang, tanaman dan benda mati.

Pada hakekatnya, sejarah keselamatan dipandang sebagai sejarah gambar (imago atau eikon) Allah di dalam manusia. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan dua tahap kunci dari prakarsa ilahi untuk merestorasi (memperbaharui) dan menyempurnakan imago Dei di dalam diri manusia. Imago Dei yang baru itu tampak lagi di antara manusia melalui inkarnasi Logos, Putera Allah. Kodrat manusia Putera Allah merupakan gambar (imago) sempurna dari Logos.

f. Restorasi imago Dei di dalam Kristus Yesus merupakan awal restorasi imago Dei di dalam semua orang. Bagaikan ragi, Yesus Kristus berkat kegiatan Gereja akan meresapi seluruh umat manusia untuk mengubah dan mengembalikannya ke keindahan eikon Allah yang semula.

 Origenes membedakan empat tahap utama dalam proses restorasi imago Dei dalam diri manusia: pertobatan, pembaptisan, anugerah Roh Kudus dan mengikuti Kristus.

 Kedua tahap sentral dan yang menentukan (pembaptisan dan anugerah Roh Kudus) tergantung seluruhnya pada kebaikan dan rahmat Allah.

 Sedangkan tahap awal (pertobatan) dan tahap akhir (mengikuti Kristus) menuntut kerjasama dari manusia.

(13)

daging serta hawa nafsu. Untuk melepaskan diri dari belenggu daging itu, orang perlu mengkontemplasikan imago Kristus dan mengikuti teladanNya.

g. Untuk menjadi imago Dei, kita perlu dituntun juga oleh doktrin Yesus Kristus, selain oleh teladanNya. Karena itu, kita perlu berpaling kepada Gereja. Mengapa? Karena Kristus sudah mempercayakan kebenaranNya kepada Gereja untuk dipelihara. Anggota Gereja dan seluruh umat Perjanjian Baru memberi kesaksian nyata tentang metamorfosis (perubahan) ilahi mereka, tentang imago Dei di dalam diri mereka, melalui suatu tingkah laku yang “serupa dengan Allah” (Dei forma). Berkat kelakuannya yang baik, bangsa Allah yang baru membedakan diri dari semua bangsa lain.

h. Dapat kita katakan bahwa eklesiologi Origenes agak cenderung bersifat individualistis, karena dipengaruhi prinsip eksemplarisme. Prinsip ini cocok sekali untuk menjelaskan hubungan antara seorang beriman dengan Logos atau imago Dei, tetapi tidak sebegitu memadai untuk menerangkan hubungan antra Gereja dan Kristus. Karena prinsip eksemplarisme, Gereja dapat dilihat hanya sebagai “tempat” di mana seorang – yang membiarkan diri dibentuk oleh Logos – mencapai identitasnya sebagai imago Dei; atau Gereja bisa dilihat sebagai lingkungan di mana Kristus dapat lahir dan berkembang di dalam seorang beriman, yang dengan demikian menerima kembali imago Dei itu.

1.4. Siprianus dari Kartago (210-258)

a. Siprianus adalah juga tokoh Afrika dalam periode sub-apostolik. Dia sudah dewasa ketika memeluk kekristenan. Demi imannya, dia menyerahkan seluruh hidup dan karyanya sebagai imam dan kemudian Uskup Kartago di Afrika Utara pada tahun 248. Siprianus meninggal menjadi martir tahun 258, ketika berlangsung penganiayaan oleh Kaisar Valerianus. Ungkapan atau pendirian Siprianus yang terkenal adalah “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan). Ungkapan ini sebenarnya apologetis bukan eksklusif. Ungkapan ini dikenakan oleh Siprianus untuk menyebut baptisan yang diberikan oleh para bidaah atau sesatan (yang memisahkan diri dari Gereja yang benar). Ia menegaskan bahwa baptisan para bidaah itu sesat dan dengan sendirinya tidak membawa keselamatan. Hanya pembaptisan dalam Gereja Katolik yang membawa keselamatan. Dengan kata lain, di luar baptisan gereja yang benar tidak ada keselamatan.32 Menurut Siprianus, para pejabat bidaah tidak mewarisi hak dan kuasa rasul-rasul, karena itu segala sakramen yang dilakukannya tidak berharga. Dia menduduki tempat yang penting sekali dalam sejarah eklesiologi, terutama berhubungan dengan doktrin validitas sakramen-sakramen dan kesatuan Gereja. Karya utamanya berjudul “Kesatuan Gereja Katolik” (De catholicae Ecclesiae unitate).

b. Siprianus bertitik tolak dari pandangan hierarkis dan kesatuan Gereja. Menurut dia (juga menurut Tertulianus dan Ireneus) Gereja secara menyeluruh terdiri atas dua kelompok, yaitu: kelompok para gembala yang diketuai Uskup dan kelompok umat (plebs). Tetapi pada hakekatnya Gereja hanya terdiri atas kelompok yang pertama, yakni atas para gembala yang

(14)

diketuai Uskup. Alasan Siprianus mengutamakan unsur hierarkis secara begitu ketat dan tegas sehingga disamakan dengan hakekat Gereja itu sendiri dapat dipahami bila kita mengingat penyimpangan-penyimpangan dari kebenaran yang dihadapinya. Berbeda dengan Ireneus yang harus mempertahankan agama Kristen melawan doktrin palsu gnostisisme, Siprianus harus menghadapi praktek beberapa Gereja lokal yang mengubah Gereja menjadi banyak sekte kecil. Dalam menghadapi keadaan ini, Siprianus mempertahankan kesatuan Gereja, yang bagi dia merupakan kesatuan yang kelihatan dari Gereja. Skisma (perpecahan) dilawan dengan unitas (kesatuan, dan persisnya dengan episcopus (Uskup) sebagai kenyataan unitas (kesatuan) tersebut. Hanya di mana ada Uskup yang sah, di situ ada Roh Kudus.

c. Siprianus menuduh dengan keras orang-orang dalam sekte, melawan Gereja dan menghendaki satu otoritas yang tidak mereka miliki. Dengan meninggalkan tradisi dan ajaran para Rasul, mereka tidak sanggup mempersembahkan kebenaran Injil, apalagi mempersembahkan “roti Tuhan” dan pembaptisan. Dalam himpunan orang-orang yang tersesat, Kristus tidak hadir, meskipun mereka berdoa sehati sejiwa, karena mereka kehilangan persekutuan dengan seluruh Gereja dan terutama dengan Uskup, yang merupakan prinsip utama kesatuan Gereja.

d. Karena alasan-alasan polemis, Siprianus sangat menggarisbawahi peranan hierarki (terutama peranan Uskup) demi kesatuan Gereja. Tetapi dia sungguh sadar dan percaya bahwa prinsip intrinsik kehidupan, kekuatan, cahaya dan kesatuan Gereja bukanlah hierarki juga bukan Uskup, melainkan Kristus sendiri. Yang dimaksudkan bukan hanya kenangan akan Kristus atau SabdaNya, melainkan Kristus yang hidup dan real, yang hadir dalam sakramen ekaristi secara mistik. Kesatuan antara anggota-anggota Gereja mengalir dari partisipasi mereka pada perjamuan ekaristi. Sedangkan gereja-gereja sekte itu membawa penolakan akan persatuan ekaristi dengan Uskup dan mendirikan umat yang berdoa dan bersakramen tanpa Uskup dan melawan Uskup. Jelas bahwa menurut Siprianus, dimensi sakramental dan dimensi ekaristis Gereja merupakan latar belakang pandangannya yang bersifat hierarkis.

2. EKLESIOLOGI PERIODE PATRISTIK

Pada masa Agustinus dan Dionisius Areopagus (biasa disebut juga Pseudo-Dionisius)33,

sarana epistemis (sarana yang bertalian dengan pengetahuan) tidak berbeda dengan sarana epistemis yang sudah digunakan oleh para pemikir Kristen pada periode sub-apostolik. Filsafat neo-platonisme terus dipakai, baik oleh Agustinus maupun Dionisius, walaupun masing-masing mengikuti haluan yang sedikit berbeda. Sebaliknya, apa yang mengalami perubahan besar pada masa Agustinus dan Dionisius adalah situasi historis yang dihadapi Gereja, baik di dalamnya maupun di luarnya.

- Di dalam Gereja, hal-hal yang terpenting adalah:

 konsolidasi patriarkat-patriarkat yang mengembangkan istilah-istilah liturgi dan kultur Kristen sendiri,

 berkembangnya bidaah-bidaah besar tentang Tritungal dan Kristus,

 konsili-konsili ekumenis, dan,

 munculnya monakisme.

(15)

Semuanya itu membuktikan suatu vitalitas yang kuat, suatu pluralisme yang cukup besar, tetapi juga sekaligus suatu usaha yang terus-menerus untuk bersatu. Sarana utama untuk memelihara kesatuan adalah konsili-konsili ekumenis (Nicea 325, Konstantinopel 381, Efesus 431, Chalcedon 451, dll.). Seringkali Uskup Roma juga berfungsi sebagai sarana kesatuan, khususnya apabila timbul perdebatan yang serius tentang doktrin atau disiplin yang tidak mampu diatasi oleh Gereja-gereja lokal sendiri.

- Di luar Gereja, kejadian-kejadian yang sangat penting adalah:

 berakhirnya masa penganiayaan dan hak hidup Gereja diakui secara resmi (Dekrit Milan, tahun 313),

 berkembangnya kedudukan dan kekuasaan Gereja di dalam masyarakat Romawi, hingga mendapat privilese yang sebelumnya diberikan kepada agama kafir,

 mulai runtuhnya kerajaan dan masyarakat Romawi.

Semua kejadian itu sedikit banyak mempengaruhi refleksi eklesiologis Agustinus dan Dionisius.

2.1. Agustinus (354-430)

Agustinus dari Hippo adalah seorang teolog yang terkenal dan mungkin yang terbesar hingga sekarang. Dalam bidang eklesiologi, dia sangat berjasa, baik dari segi kegiatan maupun dari segi refleksi. Dari segi kegiatan, Agustinus berjuang melawan bidaah Donatisme34 dan Pelagianisme35; dan dari segi refleksi dia menciptakan model Gereja sebagai ‘Civitas Dei’ (Kota

Allah). Tentu saja, gagasan ‘civitas’ yang diterapkan pada Gereja bersifat analogi. Agustinus menyusun eklesiologinya sebagai ‘civitas Dei’ bertitik tolak dari gagasan civitas pada umumnya. Pertama-tama dia menguraikan unsur-unsur yang termasuk dalam civitas pada umumnya, lantas dia memperlihatkan bahwa semua unsur tersebut hadir juga di dalam civitas Dei, meskipun mempunyai arti dan nilai yang berbeda. Istilah ‘civitas’ dipakai sebagai sinonim ‘societas’ (masyarakat) dan ‘populus’ (umat atau bangsa). Pembahasan eklesiologis Agustinus tidak djalankan secara sistematis, melainkan bersifat apologetis (pembelaan).

a. Setiap ‘civitas’ atau ‘societas’ berasal dari suatu “kepentingan bersama” antara mereka yang menjadi anggotanya.36 Agustinus menyebut Gereja (umat Kristen) sebagai civitas Dei, yang

34 Skisma atau bidaah ini berasal dari nama pemimpinnya, Donatus, seorang Uskup. Asal mula bidaah ini dari aneka perselisihan antara uskup-uskup di Afrika Utara, menyangkut sikap Gereja terhadap orang yang murtad. Pengikut Donatisme menuntut supaya sakramen dilakukan oleh uskup-uskup yang belum pernah berbuat dosa berat (percabulan dan murtad), sehingga kesucian Gereja terjamin. Kelompok ini tidak mengakui sakramen Gereja. Menurut mereka sakramen yang dilakukan oleh imam-imam yang sudah pernah berdosa berat tidak berkuasa dan tidak berakibat apa-apa bagi yang menerimanya. Ajaran ini ditolak oleh Agustinus, alasannya karena bidaah atau skisma ini hanya terdapat di Afrika, sehingga tidak mewakili Gereja Katolik. Cinta kasih Kristus yang terpenting, sudah hilang dari kelompok ini dan kekudusan Gereja tidak bergantung dari kelakuan kaum pejabat dan anggota-anggotanya. Gereja itu kudus, karena persekutuannya dibentuk oleh orang yang dikaruniai Tuhan dengan anugerah yang kudus, yaitu SabdaNya dan sakramen.

35 Ajarannya disebarkan oleh seorang Rahib bernama Pellagius dari Inggris. Menurut Pellagius manusia sendiri sanggup menyelamatkan diri dan manusia diciptakan bebas secara mutlak untuk melakukan yang baik dan menjauhkan yang jahat. Bidaah ini menyangkal pengangkatan manusia ke dalam tatanan adikodrati, dosa asal dan perlunya rahmat Tuhan.

(16)

dipertentangkan dengan civitas terrena. ‘Civitas Dei’ berasal dari cinta kasih akan Allah, sedangkan ‘civitas terrena’ berasal dari cinta kasih akan mkhluk dan khususnya akan diri sendiri. Dari kepentingan dasar tersebut mengalirlah perbedaan antara civitas Dei dan civitas terrena.

- Mengenai pemimpin. Civitas terrena dipimpin oleh iblis, sehingga secara pesimistis Agustinus menyebut juga civitas terrena sebagai civitas diaboli.37 Karena iblislah yang pertama menolak cinta kasih Allah dan memusatkannya pada diri sendiri serta membujuk malaikat dan orang lain membuat hal yang sama. Sebaliknya, civitas Dei dipimpin oleh Allah, bukan hanya karena Dialah yang paling dicintai, melainkan karena Dialah yang paling mencintai.

- Mengenai bawahan atau anggota. Bawahan atau anggota civitas terrena adalah mereka yang terikat oleh cinta akan barang duniawi yang ekslusif atau lebih kuat dari cinta kasih ilahi. Sebaliknya, bawahan atau anggota civitas Dei adalah semua orang yang sudah memilih Allah sebagai objek pertama dan terutama cinta kasih mereka.

- Mengenai ‘tempat tinggal’. Tempat tinggal definitif warga civitas Dei adalah surga, sedangkan tempat tinggal definitif warga civitas terrena (civitas diaboli) adalah neraka. - Mengenai doktrin dan simbol. Warga civitas terrena tidak peduli mengenai kebenaran

dan meremehkan doktrin apapun, sedangkan warga civitas Dei siap sedia mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan doktrin Kristus yang suci.

- Mengenai nilai-nilai. Tampaknya kedua civitas mencari nilai-nilai yang sama, yakni keadilan dan damai, tetapi pengetian tentang nilai-nilai tersebut berlainan. Warga civitas terrena mencari keadilan dan damai duniawi secaar eksklusif, sedangkan warga civitas Dei mencari keadialn dan damai surgawi. Dengan kata lain, dalam mengusahakan keadilan dan damai, yang satu memusatkan diri pada cinta akan mkhluk, yang lain memusatkan diri pada cinta akan Allah.

- Mengenai ibadat. Warga civitas terrena menyembah dewa-dewa yang dibuat dengan tangan sendiri, sedangkan warga civitas Dei menyembah Allah yang telah menciptakan segala sesuatu.

b. Dengan demikian ada perbedaan tegas sekali antara civitas Dei dan civitas terrena (civitas diaboli). Tetapi dalam kenyataannya, di dunia ini kedua civitas tersebut tidak dapat dipisahkan, saling berjalinan, atau “perplexae”, yaitu tercampur yang satu di dalam yang lain, sebagaimana diistilahkan oleh Agustinus. Kenyataan ini dapat dilihat dalam perumpamaan lalang di antara gandum (Mat 13: 24-30, 36-43). Karena itulah, Gereja tidak sama dengan civitas Dei yang meliputi hanya orang kudus (“est congregatio sanctorum”), Gereja merupakan ‘societas mixta’, yaitu societas yang terdiri atas orang kudus dan orang berdosa.

c. Model Gereja yang disusun Agustinus berdasarkan gambar civitas Dei memang bagus dan berarti banyak, tetapi model ini secara tersendiri tidak mampu mengungkapkan seluruh misteri Gereja yang amat besar itu. Memang melalui model civitas tersebut kita dapat melukiskan secara efektif apa yang membedakan Gereja dengan semua umat atau bangsa lain. Tetapi harus diakui bahwa lewat model civitas ini, kita sulit menjelaskan hubungan yang sangat dalam antar anggota Gereja dan antara anggota Gereja dengan Kepalanya, yakni Yesus Kristus. Untuk menjelaskan hubungan-hubungan seperti itu, kita perlu menggunakan

(17)

model lain, misalnya: model tubuh, model pokok anggur, model mempelai dll. Dapat kita simpulkan bahwa misteri yang besar itu “diperincikan secara berbeda-beda selaras dengan penekanan tiap-tiap periode”.38 Agustinus sendiri memakai model civitas dalam melawan orang kafir, sedangkan dia menggunakan model tubuh Kristus dalam melawan bidaah Donatisme dan Pelagianisme.

d. Terhadap eklesiologi Gereja Latin yang akan menyusul pada abad-abad berikutnya, sangat besarlah pengaruh Agustinus, khususnya melalui teologi ‘civitas Dei’, doktrin tubuh mistik, gagasan ‘ecclesia mixta’, dll. Yves Congar mengatakan “Santo Agustinus telah menyumbangkan kategori-kategori besar, pada hakekatnya moral dan religius, dan berdasarkan kategori-kategori ini, abad pertengahan menyusun pandangannya tentang sejarah dan masyarakat”.39

2.2. Dionisius Areopagus (abad V)

Dionisius Areopagus (atau biasa disebut Pseudo-Dionisius) adalah nama samaran seorang cendikiawan Kristen yang hidup pada abad V. Tulisan diedarkannya atas nama Dionisius Areopagus (seorang murid Rasul Paulus) untuk memperoleh kepercayaan yang lebih besar. Karena itu ia disebut juga Pseudo-Dionisius. Dia mengarang beberapa traktat teologi yang pengaruhnya besar sekali terhadap refleksi teologis dan filosofis, juga pada abad pertengahan.

a. Eklesiologi Pseudo-Dionisius dapat dilukiskan sebagai estetis dan liturgis: “estetis” berkenaan dengan bentuknya, “liturgis” berkenaan dengan isinya. Dia lebih tertarik kepada kategori “pulchrum” dari pada kategori “ens” atau kategori “bonum”. Dengan kata lain, dia lebih tertarik kepada kategori yang menimbulkan kekaguman, ekstase, kontemplasi (salah satu ciri khas Platonisme); sedangkan misteri eklesiologis yang paling menarik bagi dia adalah liturgi yang dirayakan oleh “hierarki gerejawi”.

b. Eklesiologi estetis-liturgis Pseudo-Dionisius berdasarkan dua gagasan khas neo-platonisme, yaitu: partisipasi dan hierarki.

- Arti yang diberikan Pseudo-Dionisius kepada istilah partisipasi sama dengan arti etimologis, yakni “mengambil bagian” atau “mengambil satu bagian” dari suatu keseluruhan. Istilah ini sekaligus berarti kesamaan dan perbedaan antara yang dibagi dan yang mengambil bagian. Kesamaan berdasarkan yang dibagi, perbedaan karena yang dibagi hanya parsial. Di antara “partecipatum” (yang terbagi) dan “partecipantis” (yang mengambil bagian) tetap ada suatu perbedaan ontologis. Karena itu, Pseudo-Dionisius menggunakan kategori partisipasi ini bukan hanya untuk melukiskan hubungan (ontologis) antara Allah dan ciptaannya, melainkan juga untuk menjelaskan hubungan antara tingkat material (ordo materialis) dan tingkat spiritual (ordo spiritualis), sesuai dengan filsafat Plato, dan hubungan antara hierarki duniawi (hierarchia terrestris) dan hierarki surgawi (hierarchia coelistis).

- Dengan istilah hierarki, Pseudo-Dionisius mengartikan susunan ciptaan menurut tingkat kesempurnaan, yaitu menurut dekatnya atau jauhnya dengan kesempurnaan Allah. Hierarki ini mencakup hanya ciptaan; karena itu Allah tidak termasuk di dalamnya.

(18)

Tempat Allah itu di luar, jauh lebih tinggi dari pada hierarki, sebagaimana yang terbagi (“partecipatum”) di luar dan lebih tinggi/luas dari pada yang mengambil bagian (“partecipantis”).

c. Pseudo-Dionisius membagi ciptaan rasional atas dua hierarki besar, yaitu: hierarki surgawi dan hierarki gerejawi. Hierarki surgawi meliputi para malaikat, sedangkan hierarki gerejawi meliputi semua orang yang sudah diperdamaikan dengan Allah, artinya anggota-anggota Gereja. Hal yang membedakan hierarki yang satu dengan hierarki yang lain adalah proses pengetahuan atau proses pengenalan. Para malaikat mengenal Allah dan kekuasaanNya secara langsung, sedangkan manusia mengenal Allah secara tidak langsung, yaitu melalui gambar, simbol dan sakramen.

d. Karena pengaruh filsafat neo-platonisme dan karena misteri Tritunggal yang Mahakudus, Pseudo-Dionisius menambahkan hierarki yang ketiga, yaitu hierarki legal. Hierarki legal adalah dunia Perjanjian Lama yang dari segi historis datang sesudah hierarki surgawi dan sebelum hierarki gerejawi. Namun, dari segi ontologis dan axiologis, hierarki legal datang sesudah hierarki gerejawi. Hierarki gerejawi menyempurnakan hierarki legal dan mempersiapkan manusia masuk dalam hierarki surgawi.

e. Dalam eklesiologi Pseudo-Dionisius, ada dua aspek fundamental yang kurang dibahas dan agak lemah:

- Hubungan antara Gereja dan dunia. Hubungan ini tidak bisa diatur menurut gagasan neo-platonisme tentang materi, karena dunia itu bukan materi, melainkan suatu civitas, sejenis civitas terrena seperti disebut oleh Agustinus.

- Pemahaman tentang kaum awam. Pemahaman mengenai kaum awam terasa kurang memuaskan. Tugas dan kewajiban kaum awam bukan hanya untuk dipimpin dan diajari oleh para klerus, melainkan mereka juga memiliki tugas Mesias, yakni sebagai raja, imam dan nabi, yang dimiliki umat Allah yang baru.

3. EKLESIOLOGI PERIODE SKOLASTIK

Rentang waktu antara Agustinus dan Dionisius Areopagus (periode patristik) dengan Bernardus dari Clairvaux dan Thomas dari Aquino (periode skolastik) selama tujuh abad. Selama tujuh abad tersebut terjadi beberapa peristiwa:

- keruntuhan Kerajaan Romawi Barat, invasi dari suku-suku Jerman (Ostrogot, Visigot, Vandal dll.);

- terbentuknya Kerajaan Karoling, timbulnya Islam dan skisma Timur;

- dan akhirnya muncul renaisans kultural yang pada abad XII-XIII mencapai puncaknya dalam segala bidang (kesusasteraan, filsafat, teologi, hukum, arsitektur, pemahatan, ikonografi dll.).

Dalam bidang teologi, tidak ada perhatian khusus terhadap eklesiologi dan tidak ada juga traktat khusus tentang Gereja. Namun, dalam periode ini teolog-teolog besar tidak melalaikan misteri Gereja dan merefleksikannya secara mendalam dan dengan menggunakan bahasa ilmiah yang teliti.

(19)

dengan civitas christiana. Artinya, suatu masyarakat (civitas) yang sudah diresapi dengan nilai-nilai Injil, masyarakat yang bersatu karena anggota-angggotanya dijiwai iman yang sama dan dipimpin oleh penguasa yang sama: Kaisar untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, yaitu kemakmuran dan damai; dan Paus untuk mencapai tujuan-tujuan surgawi, yaitu keselamatan kekal.

Dalam konteks inilah, yang pada hakekatnya stabil dan tenang, bermunculan “summae”, yaitu susunan sistematis tentang seluruh kebenaran Kristen. Di antara summae yang pertama, ada yang berjudul Libri IV Sententiarum yang dikarang oleh Petrus Lombardus (1095-1160), seorang cendikiawan sezaman dengan Bernardus dari Clairvaux. Summa Petrus Lombardus begitu terkenal hingga menjadi buku pegangan teologi pada semua biara dan universitas, mulai dari abad XII hingga abad XVI. Pada abad pertengahan, semua teolog yang terkenal (seperti: Thomas Aquino, Duns Scotus, William Occam, Cusanus, Martin Luther dll.) akan menjalankan karyanya sebagai “komentator” summa Petrus Lombardus itu. Isi keempat bagian (libri) sebagai berikut: I. De Trinitate et unitate Dei (Tentang Trinitas dan Kesatuan Allah).

II. De Deo creante et elevante (Tentang Allah pencipta dan kenaikan).

III. De incarnatione, redemptione, virtutibus teologalibus et gratia (Tentang inkarnasi, penebusan, keutamaan teologal, dan rahmat).

IV. De sacramentis et novissimis (Tentang sakramen dan para pemula).

3.1. Bernardus dari Clairvaux (1090 – 1153)

Bernardus adalah seorang pemikir lebih cerdas dan mantab dari pada Petrus Lombardus. Dia menggunakan bakatnya yang luar biasa sebagai teolog, antara lain untuk mempertahankan “ortodoksi” melawan penyimpangan rasionalis Abelardus40 dan bidaah Albigisme. Karena sikapnya yang sangat mistis, dia dapat memberikan suatu suasana spiritual dalam tulisan teologisnya.

a. Ada dua istilah yang kerap ditemukan dalam tulisan Bernardus: consuetudo (tradisi) dan

novitas (kebaruan). Kedua istilah ini melukiskan dengan baik eklesiologinya juga. Bernardus mempertahankan dengan teguh dan gigih segala sesuatu yang termasuk tradisi. Pada abad XII tidak begitu mudah menggariskan lingkungan tradisi Katolik. Menjelang pertumbuhan kultural yang baru dalam civitas christiana, sangat diperlukan meletakkan dasar kuat agar teologi dapat berkembang lebih lanjut: inilah tugas yang dipikul dan dijalankan Bernardus dengan setia.

b. Dalam membahas misteri Gereja, Bernardus menggunakan tiga model: model somatis (tubuh Kristus), model politis (“civitas Dei” atau Yerusalem Surgawi), dan model mempelai

(Gereja mempelai Kristus).

- Bernardus menggunakan model mempelai untuk melukiskan baik hubungan individual maupun hubungan Gereja seluruhnya dengan Kristus, sang Mempelai. “Sang Mempelai hanyalah satu: masing-masing individu adalah mempelai, yakni Gereja yang hidup secara

(20)

personal karena cinta kasih dari satu-satunya Mempelai”. Dengan demikian, Gereja dapat disebut sebagai kota besar, Yerusalem baru, yang berkat caritas (cinta kasih) menjadi mempelai. Namun, bagaimanapun juga Gereja itu belum Yerusalem Surgawi di mana anggotanya hanya orang-orang kudus. Gereja itu merupakan Yerusalem Perjanjian Baru di atas bumi kita ini, dan di antara warganya juga ada orang-orang berdosa. Mereka ini tetap anak-anak Gereja, meskipun mereka mengkhianati sang Mempelai. Mereka ini tetap menjadi anak-anak Gereja, berkat sakramen-sakramen yang mereka terima dan perbuatan baik mereka, berkat iman yang tetap mereka akukan, dan berkat persekutuan mereka dengan kaum beriman lainnya paling tidak secara fisik atau tubuh.

- Gereja dalam konsep Bernardus adalah Gereja militan, artinya Gereja dalam perjuangan untuk melawan berbagai “musuh”, baik para musuh di dalam maupun para musuh di luar. Gereja itu ada dalam keadaan perjuangan, khususnya di dalam setiap orang beriman yang sadar akan panggilannya untuk menjadi kudus, untuk mencintai Kristus (Mempelainya) secara total dan tanpa syarat. Namun pada waktu yang sama juga komitmen dan perjuangan itu terganggu oleh urusan duniawi dan beraneka godaan iblis. Kepada seluruh anggota Gereja: kepada kaum awam, para Uskup, dan Paus, Bernardus menawarkan kesucian ideal yang menuntut hidup asketik yang keras dan berat.

c. Dalam tulisannya, yang berjudul De consideratione libri quinque ad Eugenium III41,

Bernardus melukiskan dengan baik ministeria (tugas-tugas) yang menjadi wewenang atau kompetensi Paus. Sudah barang tentu bahwa tugas Paus yang utama adalah potestas

(kekuasaan) universal di atas seluruh Gereja, namun ministerium ini sebagai servitium

(pelayanan). “Engkau adalah imam besar, Sri Paus. Engkau adalah kepala para Uskup, pewaris para Rasul, engkau adalah Abel karena primat, Nuh karena memerintah, Abraham karena patriarkat, Melkisedek karena Tahbisan, Aron karena martabat, Musa karena otoritas, Samuel karena kebenaran, Petrus karena kuasa, Kristus karena Pengurapan. Engkau adalah dia yang telah diserahi kunci-kunci dan domba-domba”.42 Bernardus sangat menekankan gagasan ministerium sebagai servitium hingga dapat dikatakan bahwa ide ini meresapi seluruh makalah De consideratione (Tentang Pertimbangan), sehingga makalah ini juga diberi judul De auctoritate summi pontificis. Bernardus menggarisbawahi secara khusus tiga macam pelayanan seorang Paus agar Gereja semakin pantas menjadi mempelai Kristus. Paus hendaknya menjalankan pelayanan kepada ‘veritas’ (kebenaran), pelayanan kepada ‘hierarchia’ (hierarki), dan pelayanan kepada ‘disciplina’ (disiplin atau tata tertib).

- Pelayanan kepada ‘veritas’ (kebenaran), artinya mewartakannya kepada mereka yang kurang mengenalnya dan khususnya kepada orang kafir; dan karena itu Bernarus menghimbau agar kegiatan misioner, tugas utama Gereja dijalankan kembali, sesudah beberapa abad ditinggalkan. Pelayanan kepada kebenaran juga berarti mempertahankannya melawan kesalahan, terutama dari kesesatan atau bidaah.

- Pelayanan kepada ‘hierarchia’ (hierarki), artinya bahwa hubungan Paus dengan segala tingkat hierarki, khususnya dengan para Uskup, harus juga dijiwai oleh semangat pelayanan. Seorang Paus tidak boleh menekan atau menindih peran dan fungsi mereka, karena “bukan hanya otoritas tertinggi Anda (Paus) yang berasal dari Allah, melainkan juga otoritas yang tengah atau rendah tingkatannya”.43

41 Tulisan ini ditujukan kepada Paus Eugenius III (1145-1153), mantan muridnya di Biara Clairvaux. 42 Bernardus dari Clairvaux, De consideratione,II, 8.

(21)

- Pelayanan kepada ‘disciplina ecclesiastica’ (disiplin gerejawi), artinya menuntut agar anggota-anggota Gereja mematuhi segala ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Konsili-konsili. Tugas ini tidak mudah dijalankan, namun tetap merupakan pelayanan Paus kepada Gereja.

d. Agar seorang Paus dapat menjalankan secara pantas tugas sebagai gembala universal Gereja diperlukan beberapa keutamaan: “dia harus menjadi model kebenaran, cermin kesucian, teladan cinta kasih, corong kebenaran, pembela iman, pengajar umat, penuntun orang-orang Kristen, sahabat Mempelai, penjaga Gereja, pengatur klerus, gembala kaum beriman, guru bagi yang kurang pengetahuan, perlindungan orang-orang tertindas, garam dunia, terang dunia, imam Yang Mahatinggi, dan wakil Kristus”.44

e. Di samping otoritas tertinggi Paus, di dalam civitas christiana ada juga otoritas tertinggi yang kedua, yaitu otoritas Kaisar. Bernardus mengatakan bahwa ada dua tugas pokok Kaisar:

- mengusahakan kedamaian bagi bawahannya dan mempertahankan mahkotanya, - membela Gereja dengan mempertahankan dan melindungi kebebasannya.

Di dalam civitas christiana (populus christianus), kekaisaran dan imamat harus bersatu dan bekerjasama guna menghasilkan kedamaian dan keselamatan, keadilan dan cinta kasih, agar Kerajaan Allah semakin nyata.

3.2. Thomas dari Aquino (1225-1274)

Di dalam karya-karya Thomas Aquino (“Doctor Angelicus”), tidak terdapat traktat khusus tentang Gereja: ajarannya tentang eklesiologi ditemukan dalam konteks kristologi. Karena itu, tidak mungkin kita dapatkan suatu eklesiologi yang terperinci di dalam karya-karyanya.45 Lagi pula di dalam eklesiologi Thomas tidak terdapat unsur-unsur yang serba baru: garis besar Eklesiologinya terdapat juga dalam karya tulis semua pujangga Gereja terkenal abad XIII (seperti: Albertus Magnus, Aleksander dari Hales, Bonaventura dll.). Karena itu, eklesiologi Thomas Aquino mempunyai nilai “emblematis” (lambang, simbol), artinya yang melukiskan matangnya kesadaran eklesiologis yang sudah dicapai oleh Gereja Katolik pada fase emas civitas christiana. Tapi juga mempunyai nilai abadi dari segi spekulatif, seperti pendalaman Gereja model somatis: yaitu tubuh Kristus yang adalah kepalanya.

a. Nukleus hakiki refleksi eklesiologis Thomas dari Aquino dibahas dalam karyanya yang berjudul Expositio in Symbolum (Penjelasan tentang Syahadat para Rasul). Dari karya ini tampak jelas bahwa Thomas memakai model somatis (tubuh mistik Kristus) guna menjabarkan misteri Gereja: “sicut videmus quod in uno homine est una anima et unum corpus…ita ecclesia catholica est unum corpus. Anima autem quod hoc corpus est Spiritus Sanctus”46 [seperti kita lihat di dalam manusia ada satu jiwa dan satu tubuh…demikian juga dalam Gereja Katolik hanya ada satu tubuh dan banyak anggota berbeda. Jiwa yang menghidupkan tubuh itu adalah Roh Kudus]. Berdasarkan kutipan tersebut, model somatis ternyata belum kompleks: istilah caput yang masih kurang dan yang diperlukan sekali lagi untuk melukiskan hubungan antara Gereja dan Kristus. Akan tetapi istilah kunci ini (caput)

44 Bernardus dari Clairvaux, De consideratione, IV, 7.

(22)

terdapat pada karya lain, ketika Thomas membahas secara eksplisit hubungan Kristus dengan Gereja dan umat manusia.

b. Model somatis dalam semua bagian (corpus, caput, anima) digunakan sebagai suatu metafor (secundum metaphoram), lebih presisnya sebagai suatu analogi metaforis (per transumptionem), yang didasarkan atas peran, sikap, cara bertindak dan bukan atas adanya subjek sendiri. Thomas menunjukkan bahwa Kristus, baik menurut kodrat manusiawinya (secundum humanam naturam), maupun menurut keberadaanNya secara menyeluruh (Chritus totus secundum utramque naturam) adalah Kepala Gereja. Sebagai Kepala memiliki prioritas rangkap tiga atas bagian tubuh lainnya: pengatur (ordinem), kesempurnaan (perfectionem) dan kekuasaan/keutamaan (virtutem). Tiga prioritas ini dimiliki Kristus secara spiritual:

- prioritas pengatur, rahmat Kristus karena kedekatanNya dengan Allah lebih tinggi supaya semua orang menerima rahmatNya: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8: 29).

- prioritas kesempurnaan, Kristus memiliki kepenuhan segala rahmat: “dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1: 14).

- prioritas keutamaan, Kristus memiliki kekuasaan atau keutamaan untuk mengkomunikasikan rahmatNya kepada semua anggota Gereja: “Karena dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1: 16).

Dengan demikian jelas bahwa Kristus adalah Kepala Gereja.47

c. Dalam karyanya “Expositio in Symbolum”, Thomas menggunakan model somatis untuk melukiskan dengan baik “kelima” ciri khas (notae) Gereja Kristus, yaitu: kesatuan (unitas), kekudusan (sanctitas), kekatolikan (catholicitas), kekokohan (firmitas) dan keapostolikan (apostolicitas). Catatan, meskipun dalam menjelaskan ciri khas firmitas dia meninggalkan model somatis dan memakai model banguan (“domus dicitur firma si habet bona fundamenta”).

- Gereja adalah satu, dan kesatuan ini disebabkan tiga unsur, yakni: pertama, kesatuan iman: semua orang Kristen yang berasal dari tubuh Gereja percaya akan realitas yang sama. Kedua, kesatuan pengharapan: karena semua didasarkan pengharapan yangsama untuk mencapai hidup kekal. Ketiga, kesatuan cinta kasih: karena semua dipersatukan dalam cinta Allah dan cinta akan sesama.

- Gereja adalah kudus dan kekudusan itu bergantung dari tiga hal, yakni: pertama, fakta bahwa kaum beriman dicuci atau dibersihkan oleh darah Kristus. Kedua, pengurapan roh yang diterima kaum beriman agar menjadi kudus. Ketiga, dari kehadiran Tritunggal Mahakudus.

- Gereja adalah katolik, artinya universal, yang dapat ditegaskan karena tiga alasan, yaitu: pertama, alasan tempat, karena tersebar di seluruh dunia. Kedua, universal terutama kondisi para anggotanya, karena tidak dibedakan antara tuan, hamba, laki-laki dan perempuan. Ketiga, universal dalam waktu, karena Gereja berawal dalam zaman Abel dan berlangsung sampai akhir zaman.

Referensi

Dokumen terkait

Surat yang wajib dibaca di dalam shlat adalah.... kitab suci umat

Sumber-sumber kisah-kisah suci dipilih dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, cerita tugas perutusan Gereja yang relevan dengan peserta didik SD kelas II

Di sini penulis akan menelaah Al-Maidah ayat 51 menurut Quraish Shihab dan Bachtiar Nasir, di satu sisi, yang sebagai kitab suci umat Islam dengan fenomena sosial yang muncul

Disisi lain juga, santri dikatakan berasal dari bahasa India, yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana kitab suci agama

Selain itu etnis Bali juga memiliki kaitan erat dengan lingkungan hidup karena sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda atau kitab suci umat Hindu yang mengatur tata

Salah satu ajaran yang tercantum dalam kitab suci Weda dan diaplikasikan dalam keseharian umat Hindu di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan adalah menghormati

Keyakinan Ahmadiyah menjadi polemik yang berkepanjangan. Keyakinan terhadap Ahmad Ghulam Mirza sebagai Nabi terakhir ummat Islam dan Kitab Tadzkirah sebagai kitab suci baru

Lalu mengapa Kitab Suci Perjanjian Lama dapat dikatakan kitab iman bangsa Israel, itu karena pelaku dalam Kitab tersebut adalah umat Israel karena umat Israel adalah umat yang dipilih