DEFINISI DAN DASAR HUKUM SYIRKAH
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Muamalah
Dosen pengampu : Imam Mustofa, S.H.I M.Ag.
Disusun oleh:
Nurhannah: (1502100287)
Kelas: D
PRODI S1 PBS JURUSAN EKONIMI SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PENDAHULUAN
Syirkah atau sering juag disebut dengan Syarikah adalah bentuk perseruan dalam islam yang pola operasionalnya melekat prinsip kemitraan usaha dan bagihasil. Secara prinsip Syirkah
berbeda denagn model perseroan dalam sistim ekonomi kapitalisme. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak hanya terletak pada tidak adanya praktik bunga dalam model ini, tetapi juga berbeda dalam hal transaksi pembentukannya, operasionalnya, maupun pembentukan keuntungan dan tanggungjawab kerugian.
Model syirkah merupakan sebuah konsep yang secara tepat dapat memecahkan permasalahan permodalan. Satu sisi, prinsip islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang dimanfaatkan oleh orang lain berhak memperoleh konpensasi yang saling menguntungkan,baik terhadap barang modal, tenaga atau barang sewa. Disisi lain islam menolak dengan tegas konpensasi atas barang modal berupa bunga.
Para ahli ekonomi islam mendukung pentingnya peran syirkah dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kemandekan ekonomi sering terjadi karena pemilik modal tidak mampu mengelola modalnya sendiri atau sebaliknya mempunyai kemampuan mengelola modal tetapi tidak memiliki modal tersebut. Semua hal tersebut dapat terpecahkan dalam syirkah yang dibenarkan dalam syariah islam.
A. Definisi Syirkah
Syirkah secara Etimologi didefinisikan sebagai berikut:
“Syirkah merupakan kata yang berasal dari kata ‘Isytirak’ yang berarti perkongsian, diartikan demikian, karena syirkah merupakan perkongsian dalam hak untuk menjalankan modal.”1
Secara Etimologi juga dapat didefinisikan syirkah berarti:
Artinya:
“Percampuran, yaikni bercampurnya salah satu dari dua harta dengan harta lainnya, tanpa dapat dibedakan anatara keduannya”.2
Menurut Terminologi, ulama fiqih beragam pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain:
a. Menurut Malikiyah:
“Syirkah atau perkongsian adalahizin untuk mendayagunakan (tasharruf) harta yang dimiliki dua orang secara bersama-sama oleh keduannya, yakni keduannya saling engizinkan kepada salah satunya untuk mendayagunakan harta milik keduannya, namun masing-masing memiliki hak untuk bertasharruf.”3
b. Menurut Hambaliyah Artinya:
“ Syirkah adalah persekutuan dalam hak dalam berusaha atau menjalankan sebuah usaha.”4
1
1 Ibnu Jabrin, Syarh Akhsar Al-Mukhtasarat,(digital library,2005),MI/14(dikutip oleh Imam
Mustofa,hal:127)
2 Mardiani, Fiqih Ekonomi Syariah:Jakarta,Kencana,2012.hl.183 3 Ibid.,hl.184
c. Menurut Syafi’iyah
“Ungkapan tentang adanya transaksi (akad) anatara dua orang yang bersekutu pada pokok harta dan keuntungan.”6
Apabila diperhatikan secara seksama, definisi terakhir dapat dipandang paling jelas, karena mengungkapakan hakikat pekongsian, yaitu transaksi (akad), adapun pengertian lainnya tampaknya hanya menggambarkan tujuan, pengaruh, dan hasil perkongsian.
Syirkah dalam kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) pasal 20 didefinisikan sebagai beikut:
“Adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam hal permodalan, keterampilan atau kepercayaan dalam usaha tertentu dalam pembagiaan keuntungan berdasarkan nisbah yanag telah disepakati oleh pihak-pihak yang berserikat”7
Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Syirkah adalah persekutuan atau perkongsian dua pihak atau lebih dalam menjalankan sebuah usaha, baik dalam bidang perdagangan atau jasa dimana modal bisa dari semua pihak yang bersekutu atau dari sebagian mereka. Pekerjaan untuk menjalankan modal juga dapat dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam perkongsian atau atau sebagian mereka, sementara resiko ditanggug bersama. Keuntungan dari usaha tersebut di bagi bersama secara proporsional dan sesuai dengan kesepakatan.8
2
25 Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al Ansari Asna Al-Matalib(digital library,2005),X/202;(dikutib oleh
Imam Mustofa,.hl.128).
6 Ibnu Qudanah, Al-Muqni,(digital libarary,2005,X104; ;(dikutib oleh Imam Mustofa,.hl.128). 7 Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer,(Jakarta:Rajawali Pers, 2016),hl.128
B. Hukum-hukum Syirkah
Syirkah mempunyai landasan hukum yang kuat, baik dari Al-Qur’an, Al-Sunnah, dan Ijma’.
Dasar hukum syirkah dalam Al-Qur’an anatara lain sebagai berikut:
a. Al-Qur’an beramal saleh dan amat sedikitlah mereka ini.”9
(QS.Shad:24)
b. As-Sunnah Artinya
“Dari Abu Hurairah yang dirafa’kan kepada Nabi SAW. Bahwa Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah SWT.berfirman, “aku adalah yang ketiga pada dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari keduannya tidak mengkhianat temannya, aku akan keluar dari persekutuaan tersebut apabila salah seorang menghianatinya.”
(HR.Abu Dawud dan Hakim dan menyahihkan sanadnya)10
Maksudnya, Allah SWT. Akan menjakan dan menolong dari orang yang bersekutu dan menurunkan berkah pada pandangan mereka. Jika salah seorang yang bersekutu itu menghianat temannya, Allah SWT. Akan menghilangkan pertolongan dan keberkahan tersebut,
Legalitas perkongsian pun diperkuat, ketika Nabi diutus masyrakat sedang melakukan perkongsian, Beliau bersabda:
3
39 Mardiani, FiqihEekonomi Syariah:Jakarta,Kencana,2012.hl.185
Artinya
“Kekuasaan Allah senantiasa berada pada dua orang yang bersekutu selam keduannya tidak berkhianat.”11
(HR.Bukhari dan Muslim)
c. Al-Ijma’
Umat islam sepakat bahwa syirkah dibolehkan. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang jenisnya.12
Asy-Syirkah (perkongsian) penting untuk diketahui hukum-hukumnya, karena banyaknya praktik kerja sama dalam model ini. Kongsi dalam berniaga dan lainya, hingga saat ini terus dipraktikan oleh orang-orang. Ini merupakan salah satu bentuk dari saling menolong untuk mendapatkan laba, dengan mengembangkan dan menginvedatasikan harta, serta saling menukar keahlian.13
Kongsi dalam perniagaan dan sebagainya merupakan hal yang dibolehkan berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan sunah. Yang terdapat dalam surah Shaad ayat 24.
Kata Khulathaa dalam ayat diatas adalah orang-orang yang melakukan kerjasama. Ayat ini menunjukan kebolehan perkongsian, dan larangan untuk menzalimi mitra kongsi.
Adapun dalil dari As-Sunnah mengenai kebolehan perkongsian ini adalah sabda Rasullullah saw.
Dalam hadis tersebut maksud dari firman Allah ,”Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat”, adalah bahwa Allah bersama mereka dengan menjaga, memelihara dan memberi bantuan serta barokah dalam berniagaan mereka.
Dan maksud dari firman-Nya, “Selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada yang lain. Jika ia berkhianat, maka aku keluar dari persyerikatan mereka “, adalah bahwa Allah akan mencabut barakah dari perniagaan mereka.
4
411 Ibid,.hl.186 12 Ibid....
Maka hadish diatas mnunjukan kebolehan bahkan motivasi untuk melakukan perkongsian dalam perniagaan, dengan tanpa adanya dari salah satu atau kedua pihak, karena didalamnya terdapat tolong menolong hamba-Nya, selam hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.
Hendaknya orang yang akan berkongsi dalam perniagaan memilih hartanya yang halal untuk diinvestasikan dan menjauhkan hartanya yang haram atau yang bercampur dengan harta yang haram.
Seorang muslim boleh bekerjasama dengan orang kafir, dengan syarat orang kafir tersebut tidak mengambil kebijakan dan bertindak sendiri, akan tetapi selalu dibawah pengawasan orang muslim tersebut. Hal ini agar orang kafir tersebut tidak berinteraksi dengan harta riba atau hal-hal lain yang diharamkan.
Perkongsian terbagi menjadi dua:14
1) Perkongsian dalam kepemilikan (syirkatul amlaak), seperti berkongsi dalam memiliki tanah,pabrik,mobil dan sebagainya.
2) Perkongsian dalam akad (syirkatul ‘uquud), seperti berkongsi dalam jual-beli, penyewaan dan sebagainya. Perkongsian jenis kedua ini isa berlaku dalam hara dan pekerjaan, atau dalam pekerjaan saja. Dan, jenis kedua ini terbagi menjadi lima macam:
a. Perkongsian yang berlangsung dengan adanya kerja dan harta dari masing-masing pihak. Ini disebut dengan syirkatul ‘innan.
b. Perkongsian yang berlangsung dengan adanya modal dari satu pihak dan kerja dari pihak kedua. Jenis ini disebut sebagai syirkatul mudhaarabah.
c. Perkongsian yang berlangsung dalam menanguung jaminan, bukan menanggung harta. Dan, Syirkah ini tanpa modal awal dari kedua pihak. Ini disebut dengan
Syirkatul Wujuuh.
d. Perkongsian yang berlangsung atas hasil yang diperoleh kedua pihak dari kerja (badan) murni tanpa adanya modal awal. Ini disebut dengan Syirkatul Abdaan.
5
e. Perkongsian dengan semua jenis kongsi diatas. Yaitu, jika salah seorang dari keduanya menyerahkan kepada yang lain semua kebijakan terhadap harta dan kerja yang dilakukan. Maka Syirkah ini mencangkup Syirkatul ‘inaan, Syirkatul Mudharabah, Syirkatul Wujuuh dan Syirkatul Abdaan. Dan ini disebut dengan
Syirkatul Mufaawadhah.
C. Sifat Akad Perkongsian dan Kewenangan 1. Hukum Kepastian (Lazim) syirkah
Kebanyakan ulama fiqih berpendapat bahwa akad syirkah diperbolehkan, tetapi tidak lazim. Oleh karena itu, salah seorang yang bersekutu dibolehkan membatalkan akad atas sepengetahuan rekannya untuk menghindari kemudorotan.15
2. Kewenangan Syirkah (yang berserikat)
Para ahli fiqih sepakat bahawa kewenangan syarik perkongsian adalah amanah, seperti dalam titipan, karena memegang atau menyerahkan harta atas izin rekannya.
D. Hal-hal yang Membatalkan Syirkah
Perkara yang membatalkan syirkah terbagi menjadi dua hal. Ada perkara yang membatalkan syirkah secara umum dan ada pula yang membatalkan sebagian yang lainnya.
1. Pembatalan Syirkah Secara Umum
a. Pembatalan dari salah seorang yang bersekutu. b. Meninggalkan salah seorang syarik.
c. Salah seorang syarik murtad atau membelot ketika perang. d. Gila.
2. Pembatalan Secara Khusus Sebagian Syirkah a. Harta Syirkah Rusak
Apabila harta syirkah rusak seluruhnya atau harta salah seorang rusak sebelum dibelanjakan, perkongsian batal. Hal ini terjadi pada syirkah amwal, alasannya, yang menjadi barang transaksi adalah harta maka, kalau rusak, akad menjadi batal sebagaimana terjadi pada transaksi jual-beli.
6
b. Tidak Ada Kesamaan Modal
Apabila tidak ada kesamaan modal dalam syirkah mufawidhah pada awal transaksi, perkongsian batal sebab hal itu merupakan syarat transaksi mufawidhah
Tehnik Perbankan Dalam Mengaplikasikan Syirkah
1) Bentuk usaha umum dari usaha bagi hasil musyarokah (syirkah atau perkongsian). Transaksi musyarokah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama.
2) Termasuk dalam golongan musyarokah adlah bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
3) Secara sepesifikasi bentuk kontribusi dari pihak yang bekerjasama dapat berupa dana , barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (enterepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (proporti), peralatan (equipment), atau intangible asset, seperti hak paten atau goodwill, kepercayaan reputasi (credit worbiness) dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang.16
4) Dengan merangkum seluruh kombinasi danbentuk kotribusi masing-masing pihak dengan atau tanpa batasan waktu menjadikan produk ini sangat fleksible. Ketentuan Umum
Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarokah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijadikan oleh pelaksana proyek, pemilik modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarokah tidak boleh melakukan tindakan, seperti:17
1) Menggabungkan dana proyek dengan harta pribadi
2) Menjalankan proyek musyarokah dengan pihak lain tanpa izin pemilik modal lainnya.
3) Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaannya atau digantikan oleh pihak lain.
7
8
716 Deny Setyawan, KERJASAMA SYARIAH DALAM EKONOMI ISLAM,Vol21 no.3september
2013
4) Setiap pemilik modal dianggap mengahiri kerjasama apabila; menarik diri dari perserikatan, meninggal dunia dan menjadi tidak cakap hukum.17
5) Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus diketahui bersma, keuntungan dibagi sesuai dengan porsi kontribusi modal 6) Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad , setelah proyek
selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah d 7) Disepakati untuk bank.
Dalam menghadapi aktifitas perekonomian baik dari sisi operasional maupun umat islam haruslah tunduk kepada Allah . mulai Al-Qur’an dan Hadish Rasulullah saw. Salah satu bentuk aktifitas perekonomian adalah percampuran harta atau syirkah.
Hukum syirkah adalah mubah atau diperbolehkan. Syirkah boleh dilakukan antara sesama muslim antara sesama kafir atau antara orang muslim dan orang kafir. Maka dari itu seorang muslim juga boleh melakukan syirkah dengan orang yang beda agama selagi apa apa yang disyirkahkan adalah usaha yang tidak diharamkan bagi kaum muslimin.
Sedangkan berakhirnya syirkah terjadi karena disebabkan enam alasan yaitu jika salah satu pihak membatalkan, salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasyaruf, salah satu pihak meninggal dunia, salah satu pihak ditaruh dibawah pengampunan, salah satu pihak jatuh bangkrut, modal para anggota lenyap sebelum dibelanjakan.
Mardiani,fiqih ekonomi syariah:((jakarta,Kencana,2012)
Imam Mustofa, fiqih muamalah kontemporer,(jakarta:rajawali pers, 2016)
Saleh Al-Fauzan,Fiqih Sehari-Hari,(jakarta:Gema Insani,2005)
Nasrudin Haroen,Fiqih Muamalah,(jakarta,Gaya Media Pratama,2007)
Deny Setyawan, kerja sama ayariah dalam ekonomi islam,Vol21 no.3september 2013