• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan HIV AIDS di Indonesia HIV A (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan HIV AIDS di Indonesia HIV A (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia

HIV/AIDS Developments In Indonesia

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas

Andalas

Jl.Perintis Kemerdekaan, Padang, Sumatera Barat, 25148

Telepon/HP: 0751- 38613

FDY : dianayeza96.dy@gmail.com

APY : pitria.adindayusril@gmail.com

ST : sarahsuray39@gmail.com

Fatma Diana Yeza1, Adinda Pitria Yusril2, Sarah Tsurayya3

1 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, 25148

Abstrak

Pendahuluan

HIV berarti Human Immunodeficiency Virus. HIV hanya menular antar manusia. Ada virus yang serupa yang menyerang hewan, tetapi virus ini tidak dapat menular pada manusia, dan HIV tidak dapat menular hewan. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, yaitu sistem yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Karena pada tahun-tahun pertama setelah terinfeksi tidak ada gejala atau tanda infeksi, kebanyakan orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah terinfeksi, beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama beberapa minggu. Penyakit ini disebut sebagai infeksi HIV primer atau akut. Selain itu tidak ada tanda infeksi HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menular pada orang lain.(1)

(2)

HIV merupkan virus yang menyebabkan AIDS. AIS adalah suatu kondisi dimana limfosit dan sel-sel darah putih mengalami kerusakan sehingga melemahkan sistem pertahanan alami tubuh.(2)

Penyakit AIDS berkembang secara pandemic, menyerang baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang .Hal ini merupakan tantangan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat dunia dan memerlukan tindakan segera. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1981, di Amerika Serikat dan sampai saat ini telah menyerang sebagian besar negara didunia. Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu relatif singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara.(3)

Pada Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Pada tahun 2007, epidemi HIV menunjukkan peningkatan yang sangat tajam, yaitu terdapat sekitar 11.141 pasien AIDS dan 6.066 orang HIV positif yang dilaporkan. Jumlah ini diperkirakan hanya 10 persen dari seluruh orang yang terinfeksi HIV di Indonesia. (4)

Di Indonesia, HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987. Pada tahun 1987, Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitian terhadap 30 waria di Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis, Dr. Zubairi menyatakan dua di antaranya kemungkinan AIDS. Pada November 1987, Menteri Kesehatan RI, Dr. Soewandjono Soerjaningrat menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks dan mencegah turis-turis asing membawa masuk penyakit itu.(5)

Dari pertama kali dilaporkan sampai tahun 2009 tercatat 3.492 orang meninggal karena HIV/AIDS. Dilaporkan 11.856 kasus baru pada tahun 2008, dan 6.962 orang diantaranya berusia kurang dari 30 tahun, termasuk 55 bayi di bawah usia 1 tahun. Pada awalnya cara penularan HIV & AIDS melalui hubungan heteroseksual. Peningkatan jumlah penasun di Indonesia menyebabkan cara penularan HIV & AIDS mengalami perubahan, cara penularan HIV/AIDS terbanyak melalui penggunaan jarum suntik bersama di kalangan para penasun. Beberapa tahun terakhir ini, cara penularan HIV & AIDS terbanyak berubah lagi menjadi hubungan heteroseksual. Perubahan cara penularan tersebut yang bila tidak diwaspadai akan menyebabkan makin meningkatnya kasus HIV & AIDS akibat upaya pencegahan yang kurang tepat.(6)

(3)

Latar belakang kasus HIV/AIDS juga tidak terlepas dari faktor lingkungan, khususnya lingkungan pergaulan seperti berkumpul dan nongkrong dengan komunitas (kelompok gay dan lesbi) dianggap salah satu faktor pendorong untuk melakukan seks dengan sesama jenis. Faktor pengaruh dari tayangan/gambar yang terdapat pada HP atau setelah menonton video porno juga dianggap sebagai pendorong dalam melakukan perilaku seks bebas.(7)

Menurut Suesen (1989) terdapat 5 -10 ,juta HIV positif yang dalam waktu 5-7 tahun mendatang diperkirakan 10-30% diantaranya akan menjadi penderita AIDS. Masa inkubasi penyakit ini yaitu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala penyakit sangat lama (sampai 5 tahun atau lebih) dan karena infeksi HIV dianggap seumur hidup maka resiko terjadinya penyakit akan berlanjut selama hidup pengidap virus HIV. Seseorang yang terserang virus AIDS menjadi membawa virus tersebut selama hidupnya. Orang tersebut bisa saja tidak demikian gejala sama sekali, namun tetap sebagai sumber penularan kepada orang lain.(3)

Pada tingkat sekarang pandemi HIV infeksi HIV tanpa gejala jauh lebih banyak daripada penderita AIDS itu sendiri .Tetapi infeksi HIV itu dapat berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kelainan imonologis yang luas dan gejala klinik yang bervariasi. Menurut Wibisono (1989) diperkirakan 5 -10 juta pengidap HIV yang belum menunjukkan gejala apapun tetapi potensial sebagai sumber penularan. AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai case fatality rate 100% dalam 5 tahun, artinya dalam waktu 5 tahun setelah diagnosa AIDS di tegakkan maka semua penderita akan meninggal.(3)

Tidak ada seorang pun yang tahu asal HIV, cara kerja yang sesungguhnya atau bagaimana HIV dapat diberantas dari tubuh seseorang. Di setiap negara, waktu laporan infeksi HIV pertama muncul, orang menyalahkan kelompok yang sudah terpinggirkan (dan oleh karena itu pada umumnya lebih mudah diserang infeksi HIV, karena kemiskinan dan tidak terjangkau oleh layanan dan informasi). Biasanya yang disalahkan adalah orang ‘dari luar’ atau yang penampilannya atau perilakunya ‘berbeda’. Semua itu membawa masalah saling menyalahkan dan prasangka. Artinya juga bahwa banyak orang menganggap bahwa hanya orang dalam kelompok ini berisiko tertular HIV dan bahwa ‘itu tidak mungkin terjadi pada saya.’ Ketidakpastian mengenai asal usulnya HIV dan siapa yang terpengaruh oleh HIV juga membuat orang bahkan siap menyangkal bahwa HIV sebetulnya ada di antaranya. (1)

(4)

.Dikatakan pula bahwa epidemi yang terjadi tidak saja mengenai penyakitnya (AIDS) tetapi juga epidemi virus (HIV) dan epidemi reaksi/dampak negatif di berbagai bidang seperti tersebut diatas .Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang.(3)

Penelitian mengenai AIDS telah dilaksanakan dengan sangat intensif dan informasi mengenai penyakit ini bertambah dengan cepat. Informasi yang semakin banyak, masalah yang semakin kompleks dan masih barunya penyakit. AIDS ini sering menimbulkan kesalahpahaman dan ketakutan yang berlebihan mengenai penyakiti ni. Oleh karenanya kita harus waspada dan siap untuk menghadapi penyakit ini.(3)

Metode Penulisan

Penulisan karya tulis ini disusun berdasarkan telaah pustaka dari literatur-literatur yang sesuai dengan topik penulisan. Berdasarkan masalah yang ada pada masyarakat kemudian dilakukan pencarian dan pengkajian terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah tersebut. Literatur-literatur yang digunakan merupakan literatur-literatur yang bersifat primer (jurnal) dan sekunder (internet).

Pembahasan

1. Gambaran Jumlah Kasus HIV/AIDS di Indonesia

Kasus HIV/AIDS terus berkembang dan meningkat jumlah kasusnya dari tahun ke tahun sejak pertama kali dilaporkan. Di Indonesia, HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987. Data tentang jumlah sebenarnya orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia sulit untuk didapat. Seringkali dikemukakan bahwa jumlah penderita yang berhasil dihimpun atau data yang didapatkan itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es yang sebenarnya di bawahnya menyimpan petaka yang sangat mengerikan.(8)

Perkembangan kasus HIV baru pada tahun 1987 sampai dengan 1998 masih di bawah 100 kasus. Selanjutnya, pada tahun 1999 kasus HIV terus meningkat menjadi diatas 100 kasus. Peningkatan kasus HIV yang cukup tajam terjadi pada tahun 2000, dimana dari 178 kasus meningkat menjadi 403 kasus. Pada tahun 2000 kasus HIV baru mencapai 732 kasus dan terjadi penurunan pada tahun 2003 dan tahun-tahun berikutnya jumlah kasus baru yang dilaporkan cenderung meningkat.(8)

(5)

2009 terdapat sekitar 9.793 kasus baru. Pada tahun 2010 terdapat 21.591 kasus baru dan 21.031 kasus baru pada tahun 2011. Dari tahun 2012 sampai tahun 2014 kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan dari 21.511 kasus baru, meningkat menjadi 29.037 kasus baru pada tahun 2013 dan 32.711 kasus baru yang dilaporkan pada tahun 2014. Terjadi penurunan kasus pada tahun 2015 dimana ditemukan 30.935 kasus baru. Sampai dengan Maret 2016 telah ditemukannya 7.146 kasus baru. Menurut laporan kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai dengan Maret 2016, yang diterima dari Ditjen PP & PL, virus HIV diperkirakan telah menginfeksi lebih kurang 198.219 orang di Indonesia.(9, 10)

Meningkatnya kasus HIV baru tiap tahunnya menyebabkan kasus AIDS juga cenderung terus meningkat secara lambat dari tahun ke tahun. Data yang dilaporkan menunjukkan bahwa jumlah kasus AIDS baru terus meningkat dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2013. Perkembangan jumlah kasus AIDS sejak ditemukan sampai dengan tahun 1999 hanya terdapat puluhan kasus AIDS dan terus meningkat menjadi ratusan kasus dalam kurun waktu 3 tahun yaitu pada tahun 2000 sampai 2003. Peningkatan drastis terjadi pada tahun 2004 di mana terdapat 1.125 kasus AIDS baru. Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 5.231. Pada tahun 2006 terdapat 3.679 kasus baru dan selalu meningkat menjadi 1.000 kasus baru tiap tahunnya sampai tahun 2013. Pada tahun 2014 dan 2015 terdapat penurunan jumlah kasus AIDS baru yang ditemukan yaitu 7.864 dan 6.373 kasus baru. Data menunjukkan bahwa sampai dengan Maret 2016 jumlah kumulatif kasus AIDS di seluruh wilayah Indonesia yang dilaporkan secara resmi mencapai 78.292 kasus.(9, 10)

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia Menurut Provinsi

Dari sisi wilayah, virus HIV telah menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Jika pada awalnya hanya provinsi-provinsi tertentu saja yang rawan terhadap penyebaran virus HIV, sekarang hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia terinfeksi oleh HIV/AIDS. Berdasarkan data yang dilaporkan ke Ditjen PPM dan PL Depkes sampai dengan tahun 2010 kasus HIV/AIDS telah menyebar di 32 provinsi di Indonesia. Hanya satu provinsi yaitu Sulawesi Barat yang belum melaporkan adanya kasus HIV/AIDS di wilayahnya.(8)

(6)

Dalam waktu tiap 25 menit di Indonesia, terdapat satu orang baru terinfeksi HIV. Provinsi Papua, Papua Barat, dan Bali menduduki posisi teratas untuk tingkat kasus HIV baru per 100.000 orang, dengan Jakarta memiliki jumlah kasus baru tertinggi pada tahun 2011. Dengan populasi hanya1,5 persen dari penduduk Indonesia, Tanah Papua di tahun 2011 berkontribusi terhadap lebih dari 15 persen dari semua kasus HIV baru di Indonesia. Papua memiliki angka kasus hampir 15 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional. Prevalensi HIV pada penduduk asli Papua lebih tinggi (2,8 persen) dari prevalensi penduduk non-pribumi (1,5 persen) dan lebih tinggi pada laki-laki (2,9 persen) dibandingkan pada perempuan (1,9 persen).(12, 13)

Dari data yang dilaporkan sampai dengan tahun 2016 jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu Provinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur, Papua, DKI Jakarta, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan NTT.(9)

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di IndonesiaMenurut Jenis Kelamin

Secara umum data jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dari tahun 1987 sampai dengan tahun 2016 cenderung lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Data menunjukkan bahwa proporsi kasus AIDS pada laki-laki mencapai 55% dan perempuan sekitar 31%.(9)

Jumlah kasus HIV/AIDS lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya adalah jumlah Injecting Drug Users (IDUs) atau pengguna narkoba suntik (penasun) yang merupakan salah satu faktor penting dalam penularan HIV & AIDS didominasi oleh laki-laki daripada perempuan, selain itu adanya perilaku seksual sesama laki-laki (homoseksual/lelaki seks dengan lelaki /LSL) juga berperan dalam penularan HIV & AIDS pada laki-laki. Pembangunan fisik yang dilakukan di daerah urban dan lapangan kerja sempit di daerah pedesaan menyebabkan arus urbanisasi ke kota besar di Indonesia meningkat setiap tahun. Pekerja di daerah industri dan proyek pembangunan fisik didominasi oleh laki-laki. Dominasi dari satu jenis kelamin di setiap jalur urbanisasi menunjukkan bahwa para pendatang tersebut hidup jauh dari keluarga (istrinya) dan berpotensi untuk berperilaku risiko tinggi. Hal ini juga dibuktikan dengan penderita HIV/AIDS lebih banyak di daerah perkotaan daripada pedesaan.(6)

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di IndonesiaMenurut Faktor Risiko

(7)

pengguna jarurn suntik secara bergantian dan tidak steril. Dalam perkembangannya, kasus AIDS pada para pengguna jarum suntik meningkat sangat pesat. Kasus AIDS pada kelompok pengguna jarum suntik ini terutama terjadi pada kelompok penduduk usia remaja. Indikasinya adalah pada kurun waktu yang sama terjadi pula peningkatan jumlah kasus AIDS pada kelompok umur muda yaitu umur 20-29 tahun.(8)

Pada tahun 2006 penularan terbanyak melalui penggunaan jarum suntik bersama di kalangan penasun sebesar 59%, dan penularan melalui heteroseksual sebesar 41%. Kemudian beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2010, cara penularan HIV/AIDS terbanyak adalah melalui hubungan heteroseksual (52,7%), penasun (38,3%), lelaki seks lelaki (3,0%), dan perinatal (2,6%).(6)

Seiring dengan peningkatan jumlah kasus AIDS pada pengguna jarum suntik, dalam periode yang sama terjadi pula peningkatan kasus AIDS pada kelompok heteroseksual. Pada tahun 2004 kasus AIDS pada kelompok heteroseksual terdapat sekitar l000 kasus dan meningkat menjadi sekitar 7730 kasus pada tahun 2008. Pada beberapa tahun terakhir kasus AIDS paling banyak terjadi pada kelompok heteroseksual, dan kemudian diikuti oleh pengguna narkoba injeksi (IDU). Sampai dengan tahun 2016 faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (66,7%), penasun (11,3%), diikuti homoseksual (2,9%) dan penularan melalui perinatal (2,8%).(9)

Pola penularan HIV & AIDS di Indonesia yang mengalami perubahan dari heteroseksual bergeser melalui penasun/IDU dan kemudian bergeser ke heteroseksual lagi terjadi karena makin tingginya kesadaran penasun untuk tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, namun harus diwaspadai adanya penularan ke populasi risiko rendah dan meningkatnya kasus IMS karena penularan melalui heteroseksual semakin meningkat.(6)

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di IndonesiaMenurut Kelompok Umur

(8)

Pada tahun 2008, Kasus AIDS di Indonesia ditemukan di semua kelompok umur. Penderita AIDS terbesar berasal dari kelompok umur 20-29 tahun dengan jumlah kasus mencapai 6782 kasus atau sekitar 53,5% dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan.(8)

Sampai dengan tahun 2016, persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi yaitu pada kelompok umur 20-29 tahun (31,5%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29,6%), 40-49 tahun (12%), 50-59 tahun (4,1%), dan 15-19 tahun (2,8%).(9)

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di IndonesiaMenurut Jenis Pekerjaan

Data yang ada menunjukkan bahwa HIV/AIDS telah menginfeksi ibu rumah tangga, wiraswasta, karyawan, bahkan pada anak-anak atau bayi yang dikandun ibu pengidap HIV. Sampai dengan tahun 2016 jumlah AIDS tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (10.691), diikuti tenaga non-profesional/karyawan (9.656), wiraswasta (9.512), petani/peternak/nelayan (3.685), buruh kasar (3.202), penjaja seks (2.581), pegawai negeri sipil (1.826), dan anak sekolah/mahasiswa (1.776).(9)

Padatnya penduduk dan kemiskinan di daerah perkotaan serta kebutuhan ekonomi yang makin meningkat menyebabkan banyak perempuan turut mencari nafkah terutama menjadi pekerja seks komersial karena tidak membutuhkan keterampilan dan uangnya mudah diperoleh. Prevalensi HIV/AIDS di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan. Di Indonesia pada 31 Desember tahun 2007 jumlah penderita HIV/AIDS 11.141 kasus per 100.000 penduduk, angka kejadian HIV/AIDS sebanyak 4,91 kasus per 100.000 penduduk. Jawa Barat memiliki jumlah kasus HIV/AIDS 1.675 kasus per 100.000 penduduk, case rate sebanyak 4,28 kasus per 100.000 penduduk.(14)

2. Penyebab perkembangan kasus HIV dan AIDS di Indonesia

Menurut data statistik dan hasil pemodelan matematik menunjukkan bahwa jalur utama penularan HIV di Indonesia sekarang ini dan kedepan adalah melalui transeksual. Dengan adanya peningkatan akses sarana tranpostasi dan komunikasi mengakibatkan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan mobilisasi. Mobilisasi sangat berdampak terhadap penyebaran HIV/AIDS di mana kehidupan di desa selalu kental dengan nilai moral dan agama. Para pendatang lebih cenderung terlihat dalam kegiatan – kegiatan seksual yang dapat meningkatkan risiko terjangkit HIV dan akhirnya berujung pada AIDS.(15)

Maraknya penggunaan narkoba

(9)

menunjukkan, 30 - 50% pecandu narkotik bisa terinfeksi HIV/AIDS (Kompas, 30 Nopember 1999). Walaupun pengaruh narkoba terhadap penularan HIV/AIDS bersifat tak langsung, namun dampaknya cukup luas dirasakan dalam masyarakat. Selama pengedaran narkoba masih tetap berlangsung, makajumlah penduduk yang terinfeksi HIV akan semakin meningkat.(8)

Estimasi yang menggambarkan besamya jwnlah penderita HIV/AIDS di Indonesia kiranya tidak terlampau berlebihanjika dikaitkan dengan maraknya pemakaian narkoba terutama melalui jarum suntik yang tidak steril dikalangan penduduk Indonesia. Jika sebelumnya kalangan yang mempunyai resiko tinggi terhadap HIV/AIDS adalah melalui hubungan seksual, terutama bagi mereka yang sering ganti-ganti pasangan (heteroseksual}, maka saat ini entitas pengguna Napza suntik (penasun) jumlahnya semakin meningkat. Mengingat besamya potensi penduduk Indonesia yang menggunakan narkoba, maka tidaklah mengherankan jika ada prediksi yang suram yang mengatakan bahwa Indonesia akan kehilangan generasi mudanya sebagai akibat pemakaian obat terlarang tersebut.(8)

Seperti diketahui bahwa penularan HIV pada mereka yang memakai narkoba tersebut lebih banyak ditularkan melalui jarum suntik tidak steril daripada hubungan seksual. Pemakaian jarum suntik bagi junkies merupakan tindakan yang sangat berbahaya apalagi dipakai tidak steril dan berganti-ganti. Jarum suntik tersebut merupakan agen penularan penyakit HIV/AIDS, hepatitis dan berbagai penyakit lainnya. Padahal bagi pecandu narkoba jika sedang ketagihan mereka tidak lagi berpikir, apakah alat suntik mereka steril atau tidak.(8)

Maraknya Pekerja Seks Komersial anak baru gede (ABG)

Merebaknya gaya hidup remaja putri (ABG) yang melakukan hubungan seks pranikah seperti yang sering diberitakan di media massa merupakan fenomena yang cukup memprihatinkan. Seperti yang pemah dimuat oleh harian Republika (25 April 1999), bahwa di Purwakarta terdapat sekelompok remaja putri dari sekolah menengah yang menjadi pelayan seks, dengan motif tidak hanya sekedar mencari uang tetapi juga untuk mengikuti tren dan pemuas libido. Maraknya anak remaja yang menjadi pelacur ditemukan di Surabaya (Rustamaji, 1999: Ill). Padahal, penelitian Suryadi (1998) menunjukkan bahwa penyakit menular seksual (PMS) di kalangan pekerja seksual komersial (PSK) cukup tinggi. Munculnya fenomena pelacur usia muda ini dapat memberikan penjelasan mengenai adanya kasus HIV/AIDS di kalangan anak usia 15-19 tahun.(8)

(10)

putaw, ganja dan ekstasi. Kalau mereka lagi ketagihan umumnya mereka melakukan pesta bersama-sama teman-temannya, bahkan kadang-kadang dengan si pelanggan. Penggunaan jarum suntik dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang ini yang dikhawatirkan akan cepat membawa mereka untuk mendapatkan HIV/AIDS. Fenomena ini tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk terpapar HIV/AIDS dan nampaknya hal ini akan menambah deretan jumlah perempuan terinfeksi HIV/AIDS.(8)

Fenomena kehidupan homoseksual dan biseksual serta transgender (waria)

Perilaku seksual kelompok homo cenderung rentan untuk terpapar virus HIV/AIDS karena hubungan seks mereka biasanya dilakukan melalui dubur. Hubungan seksual melalui dubur lebih beresiko terjadi luka kecil karena penetrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan seksual melalui dubur berpotensi mengakibatkan luka 10 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan hubungan seks antara pria-wanita. Gesekan yang terjadi di anus akan cepat melecetkan epitelnya, sebab tipis dan tidak elastis.(16) Luka pada anus tersebut sangat memudahkan untuk terjadinya penularan HIV/AIDS. Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Citra Usadha Bali menunjukkan bahwa pada tahun 1995, dari sejumlah homoseksual dan biseksual dalam program jangkauan (outreach), 10,9% di antaranya terkena virus HIV/AIDS.(17)

Pada tahun 2011, populasi gay, transgender (waria) dan laki – laki yang orientasi seksualnya dengan laki – laki termasuk kepada populasi dari waria dengan prevalensi 22 % dan gay dengan prevalensi 8,5 %. Dan kasus ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2009, STBP menyatakan bahwa prevalensi HIV pada waria di Indonesia ialah 18,96 %.(18)

Penyebab seseorang menjadi homoseks (suatu kondisi ketika sesorang memiliki ketertarikan erotik seksual terhadap jenis kelamin yang sama) dan transvestitism (homoseks yang menikmati penampilan sosial dengan menggunakan atribut kewanitaan seperti pada waria) disebabkan oleh pola asuh keluarga yang sangat menginginkan anak peremupuan sehingga mendadani anak laki – lakinya seperti mendadani anak perempuan (Sadarjoen, 2005)

Pola asuh orang tua dalam mendidik anak juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang si anak. Jika pola asuh orang tua koersif (keras atau otoriter) kepada anak, akan membuat anak di masa mendatang menjadi sosok yang tidak dapat mengontrol diri sehingga dapat memicu timbulnya ketidakpercayaan diri terhadap diri mereka.

(11)

komersial. Jarangnya penggunaan kondom pada saat berhubungan seks anal dan vaginal dan tingginya mobilitas dari aktifitas seks.(18)

Komunitas waria biasanya berhubungan seks anal dengan pasangan reguler mereka. Berdasarkan data IBBS tahun 2011, pasangan reguler dari komunitas waria jarang menggunakan kondom pada saat berhubungan seks di mana kurang dari 50 %. Hal itu dikarenakan adanya rasa nyaman dan percaya yang ada pada mereka. Dan mereka juga percaya bahwa menggunakan kondom dapat menurunkan “kenikmatan” pada saat berhubungan seks.(18)

Mobilitas Penduduk

Letak geografis Indonesia yang strategis baik untuk perdagangan maupun pariwisata, merupakan penduduk yang terinfeksi HIV/AIDS. Indonesia semakin menarik tidak hanya bagi wisatawan asing (mancanegara), melainkanjuga merangsang terjadinya transaksi-transaksi obat bius (narkotik) yang sifatnya berskala intemasional. Dalam kasus-kasus tertentu, meningkatnya wisatawan atau pekerja asing yang masuk ke Indonesia telah mengakibatkan penduduk sangat rentan terhadap infeksi HIV/AIDS. Sebagai contoh bisa disebutkan bahwa banyaknya nelayan-nelayan Thailand yang berlabuh di Merauke, Papua telah mengakibatkan banyak diantara pekerja seksual didaerah tersebut yang terjangkit HIV/AIDS.(8)

Perpindahan penduduk jangka pendek (short term movements), seperti turisme, pelaut yang tinggal beberapa saat di pelabuhan, kunjungan ke daerah lain untuk kepentingan bisnis dan sebagainya juga merupakan faktor penting dalam terjadinya sexual networking. Dengan pergerakan penduduk yang bersifat sirkuler ini, maka tidak tertutup kemungkinan bagi seseorang untuk punya hubungan seks dengan pasangan sementara (casual partner) di tempat lain. Kondisi demikian tentu saja merupakan faktor penting dalam peningkatan kasus PMS termasuk infeksi HIV/AIDS di masyarakat.(8)

Zaman modernisasi yang terus berkembang pesat, revolusi mobilitas penduduk pun berubah. Mobilisasi sangat berdampak terhadap penyebaran HIV/AIDS di mana kehidupan di desa selalu kental dengan nilai moral dan agama. Sehingga norma – norma yang mengatur pergaulan antara laki – laki dan perempuan sangat dijaga.(15)

(12)

Dampak dari banyaknya lokalisasi ilegal, tidak adanya kontrol dari keluarga terdekat yang memungkinkan orang untuk melakukan transaksi seksual dengan perempuan pekerja seks.(15)

3. Upaya pencegahan penyebaran HIV dan AIDS

Program untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS perlu memperhatikan jenis intervensi. Program penyuluhan yang berkaitan dengan upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan perilaku seksual yang positip perlu diikuti dengan upaya peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang antara lain mencakup pelayanan KB dan penanggulangan PMS. Hal ini perlu ditekankan pada kelompok remaja karena di satu sisi kelompok remaja ini rentan dalam penularan penyakit, namun di sisi lain pelayanan bagi kelompok ini kurang terstruktur karena pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kegiatan seksual reproduksi umumnya ditujukan bagi kelompok orang dewasa dan sudah menikah. Sikap prejudice terhadap remaja yang mencari pertolongan kesehatan reproduksi di fasilitas pelayanan kesehatan umum perlu diluruskan agar remaja ini tidak canggung dan malu untuk datang berkonsultasi atau berobat. Bila hal ini dilakukan maka perlu kesiapan dari aparat pelayanan kesehatan guna memberikan pelayanan yang baik bagi kelompok remaja.(8, 19)

Sosialisasi pencegahan penularan HIV/AIDS melalui formula 'ABCD' (Abstinence, Befaithful, use Condom, and no Drug use) perlu dimulai dari keluarga sebagai unit yang terkecil dalam masyarakat. Di samping itu, ajakan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan untuk mencegah HIV/AIDS, kecanduan narkotik dan nasional dengan memadukan seluruh potensi masyarakat dapat segera dilakukan sebagai upaya pencegahan secara intensif. (8, 20) Kurangnya pengetahuan tentang penggunaan kondom pada saat berhubungan seks sehingga tidak pernah menanyakan pasangan mereka untuk menggunakan kondom dan tidak membawa persiapan kondom sebelum berhubungan seks. Kurangnya perhatian mereka terhadap penggunaan kondom pada saat berhubungan seks sehingga indikasi penyebaran HIV/AIDS sangat mudah tersebar informasinya.(18, 20)

Berdasarkan faktor risiko penularan, kasus HIV pada ibu rumah tangga menduduki peringkat kedua. HIV/AIDS merupakan penyebab utama kematian perempuan usia reproduksi. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90 % kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau mother to child HIV transmission (MTCT). Tahun 2012, sekitar 260.000 anak diseluruh dunia terinfeksi HIV.(21)

(13)

suntik merupakan media utama bagi penduduk untuk ketularan HIV/AIDS. Oleh karena itu, untuk memberantas penggunaan narkoba tersebut diperlukan bebagai pendekatan yang konprehensifmulai dari tingkat keluarga, sekolah dan masyarakat. Penyebaran informasi melalui berbagai macam penyuluhan kiranya perlu dilakukan secara aktif, terutama untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Hal ini kiranya perlu juga didukung dengan komitmen (political will) dari pemerintah untuk memberantas secara sungguh-sungguh pengedaran narkoba di Indonesia. Kesungguhan tersebut tentunya akan berdampak terhadap penurunan jumlah penderita HIV/AIDS di tanah air.(4, 8)

Kesimpulan

Penanganan HIV/AIDS memerlukan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Hal ini terutama karena penyakit ini mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh yang akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup dan produktifitas bangsa.

Kompleksnya masalah HIV/AIDS sehingga tidak mungkin hanya dibebankan kepada salah satu institusi, termasuk institusi pemerintah. Oleh sebab itu, fenomena HIV/AIDS tersebut harus menjadi perhatian dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penanggulangan HIV/AIDS harus dilaksanakan secara komprehensif atau terintegrasi, termasuk dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama serta organisasi sosial lokal.

Dengan struktur penduduk Indonesia yang mengarah pada usia muda berarti proporsi penduduk kelompok seksual aktif juga besar. Bila penduduk usia muda tersebut termasuk dalam kelompok berperilaku risiko tinggi terhadap penularan terhadap penularan HIV/AIDS, maka hal tersebut akan mengancam kehidupan sosial ekonomi penduduk Indonesia. Apalagi mengingat kecenderungan akhir – akhir ini yang menunjukkan bahwa penduduk kelompok usia muda merupakan kelompok yang paling berisiko untuk menularkan dan tertular infeksi HIV/AIDS.

(14)

telah dilakukan ternyata kelompok usia muda/anak gede (ABG) ini telah terlibat dalam jaringan seksual multi-partner.

1.

Yayasan Spiritia. Dasar HIV & AIDS Jakarta: Yayasan Spiritia; 2009 [updated 7 Januari

2009; cited 2016 10 Desember]. Available from: spiritia.or.id/art/bacaart.php?

artno=1001.

2.

Kalalo JGK, Tjitrosantoso HM, Goenawi LR. Studi Penatalaksanaan Terapi Pada

Penderita HIV/AIDS di Klinik VCT Rumah Sakit Kota Manado. Jurnal Universitas

Samratulangi. 2012.

3.

Siregar FA. AIDS dan Upaya Penanggulangannya di Indonesia. Jurnal Universitas

Sumatera Utara. 2004.

4.

Sudikno, Simanungkalil B, Siswanto. Pengetahuan HIV dan AIDS Pada Remaja di

Indonesia. Jurnal Kesehatan Reproduksi. 2011;1(3):145-54.

5.

Yayasan Spiritia. Sejarah AIDS Jakarta: Yayasan Spiritia; 2008 [updated 9 Mei 2008;

cited 2016 10 Desember]. Available from: spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1030.

6.

Astindari, Lumintang H. Cara Penularan HIV & AIDS di Unit Perawatan Intermediate

Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit

dan Kelamin. 2014;26(1):36-40.

7.

Media Y. Pengembangan Strategi Dalam Upaya Penanggulangan HIV/AIDS Melalui

Pendekatan Sosial Budaya di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jurnal Ekologi

Kesehatan. 2016;15(1):1-14.

8.

Purwaningsih SS. Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia : Tinjauan Sosio

Demografis. Jurnal Kependudukan Indonesia. 2008;III(2).

9.

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Bulanan HIV/AIDS sampai

dengan Maret 2016. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan

Penyehatan Lingkungan; 2016.

10.

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. Perkembangan Pengendalian HIV-AIDS di

Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan

Penyehatan Lingkungan; 2014.

11.

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Bulanan HIV/AIDS sampai

dengan akhir bulan Desember 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan

Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan; 2012.

12.

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. Situasi dan Analisis HIV-AIDS. Jakarta:

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI; 2014.

13.

UNICEF Indonesia. Respon Terhadap HIV & AIDS. Jakarta: UNICEF Indonesia; 2012.

14.

Nurachmah E, Mustikasari. Faktor Pencegahan HIV/AIDS Akibat Perilaku Berisiko

Tertular Pada Siswa SLTP. Makara Kesehatan. 2009;13(2):63-8.

15.

Rokhmah D. Implikasi Mobilitas Penduduk dan Gaya Hidup Seksual Terhadap

Penularan HIV/AIDS. KEMAS. 2014;9(2):183-90.

16.

MATRA. AIDS Pasca 2000. Maret 1995.

17.

Rustamaji NA. Membidik AIDS : Ikhtiar Memahami HIV dan ODHA (Editor).

Yogyakarta: Galang Press bekerja sama dengan Yayasan Memajukan ilmu Penyakit

Dalam; 1998.

(15)

19.

Isni K. Dukungan Keluarga, Dukungan Petugas Kesehatan, dan Perilaku Ibu HIV

Dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS ke Bayi. KEMAS. 2016;11(2):96-104.

20.

Azam M, Fibriana AI, Azinar M. Model Integrasi Pendidik Komunitas dan Sistem Poin

"RP" (Reward-Punishment) Untuk Pencapaian Condom Use 100% di Lokalisasi.

KEMAS. 2014;10(1):25-32.

21.

Octavianty L, Rahayu A, Rahman F, Rosadi D. Pengetahuan, Sikap dan Pencegahan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan karbon sumber karbon di permukaan, akar, substrat lumpur, dan kandungan karbon total dan untuk mengetahui nilai ekonomi

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bupati Blora Nomor 35 Tahun 2017 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Blora Nomor 7 Tahun 2016 tentang Badan

Layanan prima dalam perpustakaan sudah ditekankan dalam undang-undang perpustakaan nomor 47 tahun 2007, tentang layanan perpustakaan pasal 14 ayat (1) “ layanan

The point of this section is that there’s no need for the guilt, because the various manipulations can be carried out in the ring of formal power series, where questions of

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik beberapa simpulan yaitu (1) asap cair dari serbuk gergaji campuran kayu akasia dan kayu laban berperan sebagai antijamur,

Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan pada kesadaran, bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik, sesuai dengan nilai dan norma yang

Penggunaan terhadap adopsi m- banking BRI Makassar Raya (H6) Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat diketahui bahwa Kemudahan Penggunaan mempunyai pengaruh positif

Sample penelitian ini adalah bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010-2018. Peneliti menggunakan uji regresi logistik yang dilakukan dua kali untuk