BAB III
BAB III
ETIKA, HUKUM DAN
NORMA
A. PENDAHULUAN
Membicarakan tentang makna, tujuan dan fungsi
kehidupan manusia, maka sulit hal itu untuk
dilepaskan dari masalah moral (etika) dan dengan
peraturan perundang – undangan (hukum) yang
berlaku dalam suatu Negara yang dikenal dengan
“hukum positif”. Dalam etika, kita membedakan
tindakan manusia (
act of human
) dari tindakan
yang manusiawi (
human act
).
Kita diajak melacak, merenung dan mendialogkan
sebuah mobilitas yang cukup heterogen. Di samping itu
memiliki orientasi yang berbeda, karakter yang
beragam, tuntutan yang tidak selalu sama, asal – usul
kultur yang tidak homogen. Juga cara – cara
menterjemahkan serta menyikapi kejadian – kejadian,
perubahan – perubahan, kemandekan – kemandekan
dan berbagai kebijakan pembangunan yang berdampak
pada kehidupan dan masa depan umat manusia.
Kita diajak melacak, merenung dan mendialogkan
Ada di antara anggota masyarakat yang berlaku egois,
mementingkan dan memperioritaskan kebutuhan
pribadi
dan
keluarganya.
Pertimbangan
–
pertimbangan rasionalitasnya lebih difokuskan pada
tuntutan peroleh status quo dan pola kerjanya
(profesinya) diarahkan pada sebuah model pekerjaan
yang mengharuskan mutlak ada pendapatan, kendati
syarat – syarat profesionalitas ditinggalkan.
Ada di antara anggota masyarakat yang berlaku egois,
Sementara itu, ada sekelompok masyarakat intelektual
B. PENGERTIAN ETIKA
Berbagai rumusan yang dapat ditarik dari
Jika seseorang berbicara tentang hal – hal
yang baik, hidup teratur, bekerja sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang –
undangan, tidak melanggar aturan main,
maka hal itu sudah masuk dalam studi
mengenai
“bagaimana
hidup
yang
Istilah “moral”, moralitas berasal dari bahasa Latin
Dari istilah moralitas tersebut menunjukkan, bahwa
unsur – unsur moral, terletak pada modus perilaku manusia, apa itu baik ataukah buruk.
Manusia jadi penentu dan subjek yang bisa
Kata “etika” berasal dari kata Yunani “ethos”
yang berarti “sifat” atau “adat”. Kata jadian,
Plato
menggunakan
kata
ethos
untuk
K. Bertens membedakan tiga arti dari etika,
yaitu :
1. Nilai – nilai dan norma – norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau
suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya.
2. Kumpulan asas atau nilai moral
Cita – cita hidup masyarakat yang
Etika sama artinya dengan “kesusilaan” yang
W.J.S.
Poerwadarminta
mengemukakan,
Mencermati dari berbagai pengertian
C. URGENSI DALAM BERETIKA
Mengapa seluruh sektor kehidupan, aktivitas, pola hidup,
berbudaya, berpolitik dan berperadaban harus berlandaskan etika atau moral ?
Menurut Magnis Suseno fungsi etika adalah
membantu kita mencari orientasi secara kritis dalam
menghadapi moral yang membingungkan. Dalam hal
ini terlihat bahwa etika merupakan pemikiran
sistematika tentang moralitas dan yang dihasilkan
secara langsung bukan kebaikan melainkan suatu
pengertian yang mendasar dan kritis. Selanjutnya
beliau mengatakan bahwa tugas etika adalah
memberikan
keterampilan
intelektual,
yaitu
keterampilan untuk berargumentasi secara rasional
dan kritis.
Menurut Magnis Suseno fungsi etika adalah
Sejak zaman Yunani, Aristoteles menempatkan urgensi
etika dalam bukunya “Ethica Nicomachea”. Dia berpendapat, bahwa tata pergaulan dan penghargaan manusia tidak didasarkan pada egoisme atau kepentingan individu, melainkan didasarkan pada hal – hal yang altruistic, yaitu memperhatikan orang lain.
Menurut Paul Scholten, bahwa moral (etika) mengatur
perbuatan manusia sebagai manusia, ditinjau dari segi baik – buruknya, dipandang dari hubungan dengan tujuan akhir hidup manusia bardasarkan kodrati.
Sejak zaman Yunani, Aristoteles menempatkan urgensi
etika dalam bukunya “Ethica Nicomachea”. Dia berpendapat, bahwa tata pergaulan dan penghargaan manusia tidak didasarkan pada egoisme atau kepentingan individu, melainkan didasarkan pada hal – hal yang altruistic, yaitu memperhatikan orang lain.
Menurut Paul Scholten, bahwa moral (etika) mengatur
Tuhan menciptakan dua alat pada manusia,
URGENSI ETIKA
1. Urgensi beretika adalah sebagai berikut :
2. Terjadinya kendali, pengawasan dan penyesuaian perilaku manusia sesuai dengan panduan etika yang wajib dipijakinya.
3. Terjadinya tertib kehidupan bermasyarakat
4. Dapat ditegakkannya nilai – nilai kemanusiaan, kejujuran, keterbukaan dan keadilan
5. Ditegakkannya tujuan hidup manusia
C. PERTAUTAN ETIKA DENGAN
HUKUM
Urgensi etika memberikan gambaran umum, bahwa :
Ada titik temu (pertautan) antara etika dengan
hukum
Keduanya memiliki kesamaan substansial dan
orientasi terhadap kepentingan dan tata kehidupan
manusia.
Demikian juga seseorang disebut melanggar etika,
bilamana sebelumnya kaedah – kaedah etika
memang ada menyebutkan demikian itu.
Mengenai kaitan etika dengan hukum, Paul Scholten
mengatakan, bahwa:
Baik hukum maupun etika (moral), kedua – duanya
mengatur perbuatan – perbuatan manusia sebagai
manusia
Pendapat tersebut menunjukkan, bahwa titik temu
antara etika dengan hukum terletak pada :
Muatan substansialnya yang mengatur tentang
perilaku – perilaku manusia
Jadi apa yang dilakukan oleh manusia selalu
mendapatkan koreksi dari ketentuan – ketentuan
hukum dan etika yang menentukannya.
Demikian juga seseorang disebut melanggar etika,
bilamana sebelumnya kaedah – kaedah etika
memang ada menyebutkan demikian itu.
Mengenai kaitan etika dengan hukum, Paul Scholten
mengatakan, bahwa:
Baik hukum maupun etika (moral), kedua – duanya
mengatur perbuatan – perbuatan manusia sebagai
manusia
Pendapat tersebut menunjukkan, bahwa titik temu
antara etika dengan hukum terletak pada :
Muatan substansialnya yang mengatur tentang
perilaku – perilaku manusia
Jadi apa yang dilakukan oleh manusia selalu
Fuller menekankan
, bahwa :
Di dalam moral dan hukum, nilai dan kewajiban itu
saling terkait
Theo Huijbers,
menekankan bahwa :
Norma – norma moral dan norma – norma hukum
memang berbeda, akan tetapi adanya satu
hubungan yang erat antara kedua jenis norma itu di
mana – mana diakui juga
Tentang hal ini,
Immanuel Kant
menjelaskan,
bahwa :
Von Savigny
dari madzhab sejarah secara tidak
langsung menunjukkan keterkaitan antara
hukum dengan etika. Ia mengatakan bahwa :
1. Hukum itu harus dipandang sebagai suatu
penjelmaan dari jiwa atau rohani suatu bangsa
Jadi selalu ada hubungan erat antara hukum dengan
kepribadian suatu Bangsa
Apa yang dikemukakan kedua pakar tersebut di atas mengisyaratkan mengenai produk hukum yang harus memasukkan jiwa suatu bangsa sebagai pandangan, pegangan, tata aturan atau kaedah – kaedah hidup, maka hal itu dapat disebut sebagai “Jiwa Bangsa”.
Selanjutnya Roscoe Pound dan Eugen
Ehrlich yang menjadi pelopor berdirinya
Mazdhab
Sociological
Jurisprudence
mengungkapkan bahwa :
Hukum yang baik adalah hukum yang
hidup dalam masyarakat
Nilai kemamfaatan yang dicita – citakan
antara hukum dengan etika, juga ada
kesamaannya, yaitu sama – sama mencita –
citakan tertib kehidupan bermasyarakat
(social order)
, dapat menjawab kebutuhan
keadilan
masyarakat
dan
dapat
Jadi dapatlah dikatakan bahwa :
Hukum terkait dengan etika, sebab
melalui norma – norma hukum
ditetapkan suatu tatanan sosial yang
adil
Hukum mewajibkan secara
* ALUR BERJALANYA NORMA
H U K U M
A T U R A N
ADA EMPAT MACAM NORMA YANG
BERLAKU DI MASYARAKAT
1. Norma Agama : Ialah peraturan hidup yang harus
diterima manusia sebagai perintah-perintah, laranganlarangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak di akhirat. Contoh : membunuh, menipu , mencuri, dll 2. Norma Kesusilaan : Ialah peraturan hidup yang
3. Norma Kesopanan : Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan
masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.
Hakikat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma ini diantaranya ialah :