• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III - BAB III ETIKA, HUKUM DAN NORMA.pptx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB III - BAB III ETIKA, HUKUM DAN NORMA.pptx"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

BAB III

ETIKA, HUKUM DAN

NORMA

(2)

A. PENDAHULUAN

Membicarakan tentang makna, tujuan dan fungsi

kehidupan manusia, maka sulit hal itu untuk

dilepaskan dari masalah moral (etika) dan dengan

peraturan perundang – undangan (hukum) yang

berlaku dalam suatu Negara yang dikenal dengan

“hukum positif”. Dalam etika, kita membedakan

tindakan manusia (

act of human

) dari tindakan

yang manusiawi (

human act

).

(3)

Kita diajak melacak, merenung dan mendialogkan

sebuah mobilitas yang cukup heterogen. Di samping itu

memiliki orientasi yang berbeda, karakter yang

beragam, tuntutan yang tidak selalu sama, asal – usul

kultur yang tidak homogen. Juga cara – cara

menterjemahkan serta menyikapi kejadian – kejadian,

perubahan – perubahan, kemandekan – kemandekan

dan berbagai kebijakan pembangunan yang berdampak

pada kehidupan dan masa depan umat manusia.

Kita diajak melacak, merenung dan mendialogkan

(4)

Ada di antara anggota masyarakat yang berlaku egois,

mementingkan dan memperioritaskan kebutuhan

pribadi

dan

keluarganya.

Pertimbangan

pertimbangan rasionalitasnya lebih difokuskan pada

tuntutan peroleh status quo dan pola kerjanya

(profesinya) diarahkan pada sebuah model pekerjaan

yang mengharuskan mutlak ada pendapatan, kendati

syarat – syarat profesionalitas ditinggalkan.

Ada di antara anggota masyarakat yang berlaku egois,

(5)

Sementara itu, ada sekelompok masyarakat intelektual

(6)

B. PENGERTIAN ETIKA

(7)

Berbagai rumusan yang dapat ditarik dari

(8)

Jika seseorang berbicara tentang hal – hal

yang baik, hidup teratur, bekerja sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang –

undangan, tidak melanggar aturan main,

maka hal itu sudah masuk dalam studi

mengenai

“bagaimana

hidup

yang

(9)

Istilah “moral”, moralitas berasal dari bahasa Latin

(10)

 Dari istilah moralitas tersebut menunjukkan, bahwa

unsur – unsur moral, terletak pada modus perilaku manusia, apa itu baik ataukah buruk.

(11)

Manusia jadi penentu dan subjek yang bisa

(12)

Kata “etika” berasal dari kata Yunani “ethos”

yang berarti “sifat” atau “adat”. Kata jadian,

Plato

menggunakan

kata

ethos

untuk

(13)

K. Bertens membedakan tiga arti dari etika,

yaitu :

1. Nilai – nilai dan norma – norma moral yang

menjadi pegangan bagi seseorang atau

suatu kelompok dalam mengatur tingkah

lakunya.

2. Kumpulan asas atau nilai moral

(14)

Cita – cita hidup masyarakat yang

(15)

Etika sama artinya dengan “kesusilaan” yang

(16)

W.J.S.

Poerwadarminta

mengemukakan,

(17)

Mencermati dari berbagai pengertian

(18)

C. URGENSI DALAM BERETIKA

Mengapa seluruh sektor kehidupan, aktivitas, pola hidup,

berbudaya, berpolitik dan berperadaban harus berlandaskan etika atau moral ?

(19)

Menurut Magnis Suseno fungsi etika adalah

membantu kita mencari orientasi secara kritis dalam

menghadapi moral yang membingungkan. Dalam hal

ini terlihat bahwa etika merupakan pemikiran

sistematika tentang moralitas dan yang dihasilkan

secara langsung bukan kebaikan melainkan suatu

pengertian yang mendasar dan kritis. Selanjutnya

beliau mengatakan bahwa tugas etika adalah

memberikan

keterampilan

intelektual,

yaitu

keterampilan untuk berargumentasi secara rasional

dan kritis.

Menurut Magnis Suseno fungsi etika adalah

(20)
(21)

Sejak zaman Yunani, Aristoteles menempatkan urgensi

etika dalam bukunya “Ethica Nicomachea”. Dia berpendapat, bahwa tata pergaulan dan penghargaan manusia tidak didasarkan pada egoisme atau kepentingan individu, melainkan didasarkan pada hal – hal yang altruistic, yaitu memperhatikan orang lain.

Menurut Paul Scholten, bahwa moral (etika) mengatur

perbuatan manusia sebagai manusia, ditinjau dari segi baik – buruknya, dipandang dari hubungan dengan tujuan akhir hidup manusia bardasarkan kodrati.

Sejak zaman Yunani, Aristoteles menempatkan urgensi

etika dalam bukunya “Ethica Nicomachea”. Dia berpendapat, bahwa tata pergaulan dan penghargaan manusia tidak didasarkan pada egoisme atau kepentingan individu, melainkan didasarkan pada hal – hal yang altruistic, yaitu memperhatikan orang lain.

Menurut Paul Scholten, bahwa moral (etika) mengatur

(22)

Tuhan menciptakan dua alat pada manusia,

(23)

URGENSI ETIKA

1. Urgensi beretika adalah sebagai berikut :

2. Terjadinya kendali, pengawasan dan penyesuaian perilaku manusia sesuai dengan panduan etika yang wajib dipijakinya.

3. Terjadinya tertib kehidupan bermasyarakat

4. Dapat ditegakkannya nilai – nilai kemanusiaan, kejujuran, keterbukaan dan keadilan

5. Ditegakkannya tujuan hidup manusia

(24)

C. PERTAUTAN ETIKA DENGAN

HUKUM

Urgensi etika memberikan gambaran umum, bahwa :

Ada titik temu (pertautan) antara etika dengan

hukum

Keduanya memiliki kesamaan substansial dan

orientasi terhadap kepentingan dan tata kehidupan

manusia.

(25)

Demikian juga seseorang disebut melanggar etika,

bilamana sebelumnya kaedah – kaedah etika

memang ada menyebutkan demikian itu.

Mengenai kaitan etika dengan hukum, Paul Scholten

mengatakan, bahwa:

Baik hukum maupun etika (moral), kedua – duanya

mengatur perbuatan – perbuatan manusia sebagai

manusia

Pendapat tersebut menunjukkan, bahwa titik temu

antara etika dengan hukum terletak pada :

Muatan substansialnya yang mengatur tentang

perilaku – perilaku manusia

Jadi apa yang dilakukan oleh manusia selalu

mendapatkan koreksi dari ketentuan – ketentuan

hukum dan etika yang menentukannya.

Demikian juga seseorang disebut melanggar etika,

bilamana sebelumnya kaedah – kaedah etika

memang ada menyebutkan demikian itu.

Mengenai kaitan etika dengan hukum, Paul Scholten

mengatakan, bahwa:

Baik hukum maupun etika (moral), kedua – duanya

mengatur perbuatan – perbuatan manusia sebagai

manusia

Pendapat tersebut menunjukkan, bahwa titik temu

antara etika dengan hukum terletak pada :

Muatan substansialnya yang mengatur tentang

perilaku – perilaku manusia

Jadi apa yang dilakukan oleh manusia selalu

(26)

Fuller menekankan

, bahwa :

Di dalam moral dan hukum, nilai dan kewajiban itu

saling terkait

Theo Huijbers,

menekankan bahwa :

Norma – norma moral dan norma – norma hukum

memang berbeda, akan tetapi adanya satu

hubungan yang erat antara kedua jenis norma itu di

mana – mana diakui juga

Tentang hal ini,

Immanuel Kant

menjelaskan,

bahwa :

(27)

Von Savigny

dari madzhab sejarah secara tidak

langsung menunjukkan keterkaitan antara

hukum dengan etika. Ia mengatakan bahwa :

1. Hukum itu harus dipandang sebagai suatu

penjelmaan dari jiwa atau rohani suatu bangsa

(28)

Jadi selalu ada hubungan erat antara hukum dengan

kepribadian suatu Bangsa

Apa yang dikemukakan kedua pakar tersebut di atas mengisyaratkan mengenai produk hukum yang harus memasukkan jiwa suatu bangsa sebagai pandangan, pegangan, tata aturan atau kaedah – kaedah hidup, maka hal itu dapat disebut sebagai “Jiwa Bangsa”.

(29)

Selanjutnya Roscoe Pound dan Eugen

Ehrlich yang menjadi pelopor berdirinya

Mazdhab

Sociological

Jurisprudence

mengungkapkan bahwa :

Hukum yang baik adalah hukum yang

hidup dalam masyarakat

Nilai kemamfaatan yang dicita – citakan

antara hukum dengan etika, juga ada

kesamaannya, yaitu sama – sama mencita –

citakan tertib kehidupan bermasyarakat

(social order)

, dapat menjawab kebutuhan

keadilan

masyarakat

dan

dapat

(30)

Jadi dapatlah dikatakan bahwa :

Hukum terkait dengan etika, sebab

melalui norma – norma hukum

ditetapkan suatu tatanan sosial yang

adil

Hukum mewajibkan secara

(31)

* ALUR BERJALANYA NORMA

H U K U M

A T U R A N

(32)

ADA EMPAT MACAM NORMA YANG

BERLAKU DI MASYARAKAT

1. Norma Agama : Ialah peraturan hidup yang harus

diterima manusia sebagai perintah-perintah, laranganlarangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak di akhirat. Contoh : membunuh, menipu , mencuri, dll 2. Norma Kesusilaan : Ialah peraturan hidup yang

(33)

3. Norma Kesopanan : Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan

masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.

Hakikat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma ini diantaranya ialah :

(34)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan kata lain, etika sebagai refleksi kritis rasional meneropongi dan merefleksi kehidupan manusia dengan mendasarkan diri kepada norma dan nilai moral yang ada disatu pihak

Etika (moral) dan agam mempunyai hubungan yang sangat erat. Seperti telah diuraikan tadi bahwa etika atau moral adalah merupakan aturan atau rambu – rambu perilaku dalam

Dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatakan bahwa Akhlak, Moral dan Etika sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan

ditarik kesimpulan, bahwa persoalan nilai merupakan bagian penting dari filsafat yang tidak dilepaskan dalam kehidupan manusia. HUBUNGAN NILAI DAN NORMA

Sehingga makna hidup bermasyarakat sangat besar bagi manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat, kemungkinan terjadinya konflik dalam masyarakat

Sedangkan hukum merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai

Dan hal ini menegaskan bahwa moral merupakan bagian dari etik, dan etika merupakan ilmu tentang moral sedangkan moral satu kesatuan nilai yang dipakai manusia sebagai

Etika dan Moral Etika adalah studi tentang apa yang dianggap baik dan benar dalam perilaku dan tindakan manusia Moral adalah seperangkat nilai-nilai, prinsip, atau aturan yang