• Tidak ada hasil yang ditemukan

816637 6 buku pedoman akademik ok cetak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "816637 6 buku pedoman akademik ok cetak"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU PENDOMAN AKADEMIK

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

(2)

TIM PENYUSUN

Penanggungjawab: Dr. Azhari Akmal Tarigan, M. Ag

Ketua Tim: Dr. Muhammad Yafiz, M. Ag

Sekretaris: Drs. Syihabuddin

Nurhani, SE Asriani, S.Ag

Anggota:

Dr. Chuzaimah Batubara,MA Dr. M. Ridwan, MA Dr. Isnaini Harahap, MA

Nurlaila Harahap, MA Sugianto, MA Yusrizal, M.Si Zuhrinal. M. Nawawi, MA

Marliyah, MA Hendra Harmain, M.Pd Aliyuddin Abd. Rasyid, MA

(3)

i

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganuger ahkan nikmat dan r ahmat-Nya, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas kita sesuai dengan per an dan fungsi kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Shalaw at dan salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai uswat un hasanah dalam kehidupan kesehar ian kita, khususnya dalam memer ankan tugas kita sebagai dosen.

Buku Pedoman Akademik tahun 2016/ 2017 ini sesugguhnya ber isi ber agam infor masi tentang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, khususnya yang ber kaitan dengan penyelenggar aan akademik, pendidikan dan pengajar an di FEBI UIN Sumater a Utar a. Tentu saja buku ini nantinya akan dijadikan pedoman, baik bagi pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasi sw a pada umumnya. Buku ini juga dimaksudkan untuk member ikan infor masi secar a lebih r inci ber kaiat an dengan jur usan/ pr ogr am studi ter kait sehingga dapat dijadikan acuan untuk melihat apa yang menjadi kompetensi dan sekaligus menjadi pencir i jur usan/ pr ogr am studi ter tentu dar i jur usan/ pr ogr am studi lainnya.

Buku Pedoman Akademik ini tentunya masih memiliki kekur angan dan sangat memungkinkan untuk ter us diper baiki dan disempur nakan pada masa mendatang. Saya mengucapkan ter ima kasih atas ker jasama selur uh civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumater a Utar a at as ker ja ker asnya untuk membangun fakultas yang kita cintai ini. Semoga ini semua menjadi amal saleh dan mendapat per kenan Allah SWT. Amin.

Dekan,

(4)
(5)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAGIAN I

SEJARAH BERDIRINYA FAKULTAS EKONOM I DAN BISNIS ISLAM UIN SUM ATERA UTARA

1

DESAIN KEILM UAN FAKULTAS EKONOM I DAN BISNIS ISLAM UIN SUM ATERA UTARA

18

1. Tauhid Sebagai Basis Keilmuan Ekonomi Islam

2. Aspek Ontologi, Epistemologi dan Axiologi Ekonomi

Islam

3. Model Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam FEBI IAIN

SU

(6)

iv

5. Filosofi Dasar

6. Nilai-Nilai Utama

32 32 33

BAGIAN V

JURUSAN/PROGRAM STUDI

34

1. Jurusan/ Program Studi Ekonomi Syariah

2. Jurusan/ Program Studi Akuntansi Syariah

3. Jurusan/ Program Studi Perbankan Syariah

4. Jurusan/ Program Studi Asuransi Syariah

5. Jurusan/ Program Studi D3 Perbankan Syariah

34

35

36

37

38

BAGIAN VI

(7)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 1 BAGIAN I

SEJARAH BERDIRINYA FAKULTAS EKONOM I

DAN BISNIS ISLAM UIN SUM ATERA UTARA

Lahirnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan gerakan dan pemikiran ekonomi Islam di Sumatera Utara. Sejak tahun 1993, IAIN Sumatera Utara (saat ini telah menjadi UIN Sumatera Utara) menjadi salah satu, untuk tidak menyebut satu-satunya IAIN, lembaga pendidikan tinggi agama Islam pertama yang secara serius mengembangkan kajian ekonomi Islam. Tidak saja dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, tetapi juga IAIN Sumatera Utara masuk pada wilayah gerakan sosialisasi ekonomi syari’ah di masyarakat.

Keterlibatan IAIN Sumatera Utara secara langsung dalam pengembangan ekonomi Islam di Sumatera Utara membuat lembaga ini menjadi dipercaya pemerintah dalam hal ini kementerian agama RI untuk menjadi penyelenggara pendidikan tinggi ekonomi Islam. Sampai saat ini, IAIN.SU telah menyelenggarakan pendidikan tinggi ekonomi Islam, mulai dari tingkat diploma, strata S1 (sarjana) sampai program strata tiga (S3). Tidak itu saja, dalam rangka transformasi atau alih status IAIN Sumatera Utara menuju UIN Sumatera Utara kementerian agama juga menetapkan keunggulan dan distingsi UIN Sumatera Utara pada ekonomi Islam.

(8)

2 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 sejarah kelahiran FEBI penting untuk diketahui. Dengan cara ini, kita bisa menangkap semangat awal lahirnya prodi ekonomi Islam kemudian menjadi jurusan dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Sumatera Utara.

Sejarah lahirnya FEBI IAIN Sumatera Utara setidaknya dapat dibagi ke dalam tiga priode. Periode pertama adalah priode awal yang memuat sejarah lahirnya gerakan dan pemikiran ekonomi Islam di Sumatera Utara. Priode Kedua adalah institusionalisasi pendidikan Tinggi Ekonomi Islam. Priode Ketiga adalah Pengukuhan dan penguatan posisi ekonomi Islam ke dalam Fakultas. Untuk lebih jelasnya priodesasi tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1. Priode 1993-2000

Setidaknya ada dua faktor yang mendasari lahirnya gerakan ekonomi syari’ah di Sumatera Utara. Pertama, faktor internal dalam negeri yang berimbas ke Sumatera Utara khususnya kota Medan.

Kedua, faktor eksternal luar negeri, khususnya dinamika perkembangan pendidikan dan peraktik ekonomi Islam di Malaysia. Respon dari kedua persitiwa ini melahirkan apa yang disebut dengan gerakan ekonomi syari’ah.

Pada tahun 1990-an muncul isu lemak babi di dalam

penyedap makanan ajinomoto. Peristiwa ini menimbulkan

keprihatian dikalangan pemikir-pemikir ekonomi Sumatera Utara, sebut saja misalnya Prof. H.S. Hadibroto, Prof. Bahauddin Darus (Keduanya dari FE.USU) dan H.S Pulungan Dirut PTPN. Ada keinginan dari tokoh-tokoh tersebut untuk membuat lembaga kajian atau setidaknya media untuk berdiskusi dan membicarakan beragam persoalan umat Islam. Sebagai pemikir yang peduli, mereka menyadari betul dampak dari penggunaan lemak babi dalam makanan tertentu.

Perkumpulan “ tokoh-tokoh senior” yang peduli itu terwujud. Mereka kerap berkumpul dan melaksanakan pengajian-pengajian. Beberapa ulama di undang untuk memberikan tausiah atau mengkaji beberapa persoalan kegamaan, khususnya isu-isu aktual.

Namun sayangnya, seringkali pengajian-pengajian itu tidak

(9)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 3 rasional dan kontekstual. Mereka menginginkan sebuah pencerahan yang bersumber dari ajaran-ajaran agama.

Kendatipun saat itu mereka mendapatkan ceramah agama dari kalangan ustaz-ustaz yang ada di kota Medan, namun penjelasan para ustaz dan ulama tersebut tidak memuaskan dahaga intelektual mereka. Bisa jadi hal ini disebabkan karena metode para ulama yang masih menggunakan cara-cara pesantren atau maktab, untuk tidak menyebutnya secara tradisional, bagi mereka tidak sepenuhnya bisa menjawab persoalan ril yang mereka hadapi. Mereka sesungguhnya membutuhkan ahli agama yang tidak saja dapat menjelaskan Islam secara rasional tetapi juga kontekstual. Sehingga Islam benar-benar membumi dan dapat merespon persoalan ril yang dihadapi masyarakat.

Keresahan ini terjawab ketika dua orang cendikiawan Islam Sumatera Utara yang berkiprah di IAIN.SU kembali setelah meyelesaikan studi S3 di UIN Jakarta (dahulu IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Dr. M. Yasir Nasution ahli Filsafat Islam dan Hukum Islam serta Dr. M. Ridwan Lubis, ahli dalam bidang pemikiran Islam. keduanya diundang ke dalam berbagai pengajian untuk memberikan pencerahan terhadap senior dan tokoh-tokoh yang haus akan ilmu agama. Kedatangan dua orang Doktor baru IAIN.Su tersebut berhasil menjawab kegelisahan mereka selama ini. Kajian-kajian yang dikembangkan tidak lagi bercorak normatif-doktrinal, tetapi juga rasional-kontekstual. Tidak berlebihan jika dikatakan mereka seakan menemukan “ penjelasan baru tentang agama” .

(10)

4 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 ditambahkan dengan frasa “ perspektif Islam” , “ Perspektif Al-Qur’an” dan sesekali menggunakan frasa perspektif ekonomi Islam.

Setelah terjadi kebulatan tekad untuk melahirkan forum kajian itu, muncullah masalah baru. Pertanyaan besar saat itu adalah, di mana “ markas” atau “ lembaga” kajian ekonomi itu ditempatkan. Kendatipun mereka mewakili perguruan tinggi masing-masing namun tidak ada yang siap untuk menjadi “ tuan rumah” atau “ markas” kajian itu. Sampailah akhirnya, IAIN.SU yang saat itu dipimpin oleh Drs. H. Nazri Adlani selaku Rektor, bersedia menjadi tempat berkumpul tokoh-tokoh untuk mendiskusikan persoalan umat khususnya yang berkenaan dengan masalah ekonomi.

Dr. M. Yasir Nasution didaulat untuk memimpin lembaga yang kemudian diberi nama Forum Kajian Ekonomi dan Perbankan Islam di singkat FKEBI. Pilihan terhadap Dr. M. Yasir sebenarnya sangat sederhana saja. Bukan karena beliau ahli dalam ekonomi Islam. Bahkan dalam pengakuannya, pada mulanya Yasir sendiri adalah orang yang skeptis terhadap ekonomi Islam. Satu-satunya alasan mengapa harus M.Yasir, itu hanya karena beliau orang dalam atau orang IAIN. Saat itu Dr. Yasir menjabat sebagai Dekan Fakultas Syari’ah untuk priode 1991-1996. Tentu saja rektor pada waktu itu ingin agar lembaga yang baru ini tetap dalam kendalinya. Jika FKEBI dipimpin oleh orang luar, pastilah Rektor akan kesulitan untuk memantau dan mengarahkan lembaga tersebut.

(11)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 5 Prof. Bahauddin Darus diundang untuk mengikuti kegiatan Seminar ekonomi Islam di Malaysia. Sejak saat itulah Dr. Yasir mulai bersentuhan dengan isu-isu ekonomi Islam.

Dalam pengakuannya, DR. Yasir mulai mengenal ekonomi Islam sejak mengikuti kegiatan di negeri jiran itu. Beliau bertemu dengan pakar-pakar ekonomi Islam dunia seperti Fahim Khan, Umer Chafra dan dialog-dialog konstruktifpun berlangsung. Perlahan namun pasti Dr. Yasir mulai melihat titik terang ekonomi Islam dan perbedaannya dengan sistem ekonomi lainnya. Sebagai orang yang terdidik dalam ilmu-ilmu keislaman, tidak sulit bagi Yasir untuk memahami prinsif-prinsif ekonomi Islam. Agaknya tidak berlebihan jika dikatakan, Malaysia telah memperkenalkan kepada Dr. Yasir ekonomi Islam kendati dalam bentuknya yang amat sederhana.

Kondisi ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Entah mengapa gaung ekonomi Islam tidak terlalu berkembang. Walaupun secara apologetik kita bisa saja berkata, wacana atau diskursus ekonomi yang dikaitkan dengan Islam telah lama berlangsung di nusantara. Dimulai era yang paling awal dari perjalanan bangsa ini. Gagasan-gagasan para tokoh besar seperti Muhammad Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Cokro Aminoto, dan tokoh lainnya menjadi bukti bahwa wacana ekonomi Islam telah lama muncul di Indonesia.

Kendati kita terlambat, namun beberapa pakar Islam Indonesia berkesempatan untuk mengikuti secara dekat dinamika intelektual kajian ekonomi Islam di Malaysia. Sebut saja misalnya, Syafi’i Antonio yang memang sedang studi di IIUM. Sedangkan dari Medan terdapat sosok Prof. Bahauddin Darus yang tidak saja membawa “ orang IAIN.SU” untuk ikut dalam wacana besar ekonomi Islam dunia tetapi memperkenalkan kepada mereka tentang keberadaan Forum Kajian Ekonomi dan Perbankan Islam (FKEBI).

(12)

6 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 hasilnya adalah terselenggaranya kegiatan Workshop Ekonomi Islam yang pertama di Medan bahkan mungkin yang pertama di Indonesia.

Agaknya pakar-pakar Malaysia melihat Medan adalah wilayah yang sangat potensial untuk berkembangnya ekonomi Islam. seakan membawa misi “ Islamisasi ekonomi Indonesia,” beberapa universitas di Malaysia seperti IIUM dan Kolej Insaniyah bermaksud melaksanakan seminar bersama ekonomi Islam. Tawaran untuk melaksanakan workshop ekonomi Islam bersama diajukan kepada Dr. Yasir sebagai perwakilan orang Indonesia yang saat itu berada di Malaysia. Atas izin Rektor, Dr. Yasir menjawab tantangan Malaysia untuk melaksanakan seminar bersama.

Sepulangnya Dr. Yasir dari Malaysia, kepanitianpun disusun. Tidak ada cara lain bagi Dr. Yasir kecuali menggunakan orang-orang syari’ah. Pilihan jatuh kepada Amiur Nuruddin, Dosen Syari’ah yang sangat energik dan memiliki pemikiran yang futuristik untuk didapuk sebagai ketua panitia. Beberapa dosen Fakultas Syari’ah sebut saja Drs. Palit Muda Harahap, Drs. Syu’aibun, ikut terlibat secara aktif dalam menyukseskan acara tersebut. Sepertinya memang sudah ditakdirkan Allah SWT, Dr.Amiur Nuruddin yang pada saat itu juga belum berkenalan secara intesnif dengan ekonomi Islam, akhirnya menjadi tokoh nasional dalam pengembangan ekonomi Islam. Beliau menjadi as-sabiquna al-awwalun sebagai guru besar ekonomi Islam di Indonesia. Demikianlah, panitia bekerja siang malam untuk mensukseskan acara seminar ekonomi Islam pertama di Indonesia, setidak-tidaknya di luar Jawa. Penting dicatat, seminar itu berlangsung pada era orde baru. Di saat Islam phobia masing menguat.

Tepat tanggal 25-28 Oktober 1993, Seminar dan Workshop Ekonomi Islam bekerjasama dengan Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM) dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) dapat digelar. Ketua Panitia Seminar tersebut dijabat Amiur Nuruddin (Prof. Dr). Hadir sebagai nara sumber pada saat itu adalah, Zakaria Man (UIA), Syed Omar Bin Syed Agil, Aidit bin Haji Ghazali, Syed Abdul Hamid Al-Junaid, Syed Othman Alhabsi (IKIM), Dziyauddin bin Haji Ahmad (UIA). Sedangkan dari Indonesia sebagai nara sumber hadir pula, Muhammad Syafi’i Antonio.

(13)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 7 Sumatera Utara tetapi juga di Indonesia dengan melahirkan tiga

kesimpulan penting. Pertama, perumusan kurikulum dan

Pemasyarakatan Ilmu Ekonomi Islam dalam rangka pembukaan

Fakultas Ekonomi Islam. Kedua, Perlunya pendirian lembaga-lembaga

keuangan syari’ah. Ketiga, Perlunya membangun kerjasama antar

lembaga. 1

Di luar tiga kesimpulan dan rekomendasi yang telah dicapai, Seminar yang pada mulanya dicurigai pemerintah Orde Baru dan dikhawatirkan sebagai bagian gerakan negara Islam, ternyata menjadi spirit bagi FKEBI untuk terus bekerja dan melakukan terobosan-terobosan dalam rangka pengembangan kajian ekonomi Islam. FKEBI saat itu ingin membuktikan Seminar dan Workshop bukanlah sebatas mengumpulkan bahan-bahan atau makalah Seminar. Lebih dari itu, FKEBI ingin seminar yang penuh resiko itu dapat melahirkan sesuatu yang bermakna bagi bangsa dan agama. Tegasnya, bagaimana menindaklanjuti hasil-hasil seminar tersebut menjadi sesuatu yang nyata.

Tindak lanjut yang sangat konkrit adalah terlaksananya Diklat (Pendidikan dan Latihan) bagi calon pengelola Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) yang saat ini telah berganti nama menjadi, Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah. Kegiatan tersebut dikatakan sukses karena berhasil melahirkan beberapa BPRS. Sebut saja BPRS Kafalatul Ummah (1994) di Medan, BPRS Amanah Bangsa (1994) di Pematang Siantar, BPR Al-Washliyyah (1994) di Tanjung Morawa Deli Serdang, BPRS Gebu Prima (1996) di Deli Serdang, dan BPRS Puduarta Insani (1996) di Tembung Deli Serdang.

Penting dicatat, seminar yang bersejarah tersebut

diselenggarakan setelah MUI berhasil melahirkan bank Syari’ah pertama di Indonesia. Menurut Adiwarman Karim, upaya MUI untuk mendorong lahirnya Bank Syari’ah sudah berlangsung sejak tahun 1990. Bahkan pendirian Bank Syari’ah tersebut telah pula ditandatangani pada 1 November 1991, tetapi belum dapat beroperasi karena undang-undang perbankan belum memungkinkan. Ketika UU

1

(14)

8 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 No 7 Tahun 1992 diterbitkan pada 1 April 1992, tepat satu bulan

kemudia 1 Mei 1992, bank Syari’ah pertamapun beroperasi.2

Pada tahun 1998, FKEBI bekerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di Kota Medan menyelenggarakan Seminar Bank Islam dengan menghadirkan pakar ekonomi Syari’ah -sebelumnya bekerja di IDB- Karnaen Perwataatmaja. Seminar tersebut berlangsung di Hotel Garuda Plaza Medan. Tidak saja mengandalkan pemikir dan ahli ekonomi Islam Indonesia, FKEBI bekerjasama dengan pemerintah Propinsi berhasil mendatangkan pakar-pakar ekonomi Islam Internasional. Sebut saja misalnya, Prof. Dr. M.A. Mannan, Prof. Dr. Masudul Alam Choudry, Monzer Khaf, Prof. Dr. Azmi Omar, dll.

Tentu tidak pada tempatnya untuk menyebutkan semua seminar yang dilaksanakan FKEBI ataupun IAIN.SU di lembaran ini. Namun yang jelas, FKEBI sangat menyadari, yang diperlukan saat itu adalah memberikan pemahaman dan kesadaran kepada umat Islam akan arti penting ekonomi Islam. Kendati secara normatif, ajaran ekonomi Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam, namun dalam sejarahnya dimensi ekonomi ini jauh tertinggal. Tidaklah mengherankan jika umat Islam lebih memahami aspek-aspek akidah, ibadah dengan segala cabangnya, politik Islam (siyasah) dibanding dengan ajaran ekonomi Islam. Pada gilirannya, tragedi sejarah ini membentuk cara berpikir dikotomik dikalangan umat. Ekonomi diyakini bukan bagian dari ajaran Islam. Ekonomi adalah sesuatu yang bersifat dari luar yang diinjeksikan ke dalam Islam.

Cara berpikir yang keliru ini tentu saja perlu dibongkar dan diluruskan. Sarana yang cepat dan efektif adalah lewat Seminar, diskusi dan pertemuan-pertemuan resmi lainnya. Kendatipun tetap disadari, seminar juga tidak menjamin umat akan memiliki pemahaman yang utuh tentang ekonomi Islam. Setidaknya, lewat acara tersebut, diskursus ekonomi Islam cepat berkembang dan menjadi wacana di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan untuk jangka panjang, sosialisasi dan

pengintegrasian ajaran ekonomi Islam ke dalam diri umat Islam sekaligus dalam rangka menyiapkan Sumber Daya Insani (SDI) yang tangguh untuk mengisi kebutuhan industri keuangan syari’ah, tentu

2

(15)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 9 saja membutuhkan program yang sistematis, terencana dan komprehensif. Satu-satunya cara yang paling baik adalah dengan menyelenggarakan pendidikan tinggi Ekonomi Islam. Dalam hal ini, IAIN.SU dipandang paling siap dan paling mungkin untuk memulainya.

Tonggak sejarah yang cukup penting setelah tahun 1998 di IAIN.SU adalah berdirinya rogram Diploma DII Manajemen Perbankan dan Keuangan Syari’ah (DIII MPKS). Saat itu Dr. Amiur Nuruddin menjabat sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Syari’ah. ia sangat bersungguh untuk membuka program baru tersebut. Sebelumnya telah lebih dahulu didirikan Program Diploma II Perbankan Syari’ah pada tahun 1998. Kemudian ditingkatkan mejadi Program Diploma III. Tidak terlalu terang bagaimana proses berdiri dan beralihnya Pogram Diploma II ke Diploma III. Izin yang mereka kantongipun hanyalah dalam bentuk izin prinsif dan bersifat lisan. Demikianlah, bukan Dr. Amiur Nuruddin -saat itu menjadi pembantu Dekan- namanya jika tidak berani melakukan terobosan-terobosan akademik. Keyakinan adalah modalnya bahwa ekonomi Syari’ah harus diwujudkan ke dalam sebuah proses pendidikan yang tersistem dan berkesinambungan.

Kehadiran Diploma III MPKS yang berada di Fakultas Syari’ah kala itu mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat. Program Diploma ini menjadi idola baru di tengah-tengah calon-calon mahasiswa. Di Program ini seakan mereka melihat masa depannya dengan sangat jelas. Hal ini terlihat dari partisipasi pelamar atau calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya ke PT. Kendatipun programnya adalah Diploma – bukan strata S1- tidak menghalangi peminat untuk memilihnya.

Tidak jelas benar kapan mulainya, yang pasti di FKEBI IAIN Sumatera Utara terbentuk satu tim yang sangat solid. Seakan-akan membentuk generasi ekonomi Islam di IAIN Sumatera Utara setelah dua tokoh utama tersebut, muncullah nama-nama Drs. Syu’aibun, M, Hum, Drs. Agustianto, Sugianto, Abdi Rahmat, Dani Budianto dan Ibrahim Siregar. Mereka adalah generasi muda setelah Dr. M. Yasir dan Dr. Amiur Nuruddin, sebagai generasi yang pertama. Pada perkembangan berikutnya, lahir pula tenaga-tenaga baru, sebut saja misalnya, Saidurrahman, Muhammad Ramadhan, Azhari Akmal

(16)

10 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 selanjutnya muncul pula nama-nama Isnaini Harahap, Zuhrinal M.Nawawi, Andre Soemitra, Marliyah, Yusrizal dll.

Masuknya alumni-alumni luar, semisal USU yang

selanjutnya menjadi dosen di Fakultas Syari’ah IAIN.SU menambah kekuatan dalam gerakan ekonomi Islam. Sebut saja misalnya Saparuddin Siregar (alumni akuntansi USU). Beliau akhirnya ditugaskan Rektor IAIN Sumatera Utara untuk memimpin BPRS Puduarta Insani yang merupakan milik IAIN Sumatera Utara.

Sampai saat ini lapisan generasi ekonomi Islam di Sumatera Utara ini memiliki ikatan yang kuat. Mereka sangat mednyadari,

tanggung jawab mujahid al-iqtishad bukan sebatas mengembangkan

ilmu ekonomi Islam tetapi juga mensosialisasikan ekonomi Islam di tengah-tengah masyarakat.

2. Priode 2000-2013

IAIN Sumatera Utara dalam hal ini FKEBI memandang perlu untuk menyelenggarakan kegiatan yang sifatnya masif. Melibatkan seluruh komponen masyarakat Islam Sumatera Utara. Menggeser ekonomi Islam dari ranah wacana menjadi aksi nyata. Dukungan yang diberikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara T. Rizal Nurdin selaku Gubernur Sumatera Utara, diwujudkan dalam bentuk Gerakan Pencanangan Ekonomi Syari’ah yang momentumnya bersamaan dengan kegiatan 1 Muharram pesan yang ingin disampaikan lewat kegiatan tersebuta adalah, semangat Muharram menjadi energi bagi umat Islam untuk hijrah dari ekonomi konvensional (kapitalisme) menuju ekonomi Islam.

(17)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 11 H. Rizal Nurdin (alm) memiliki komitmen yang tinggi buat ekonomi Islam. Hampir semua kegiatan FEBI beliau hadir,

mencurahkan gagasan dan pemikiran-pemikirannya untuk

pengembangan ekonomi Islam di Sumatera Utara. Jika ditelusuri lebih jauh apa yang membuat gubernur yang lembut itu setuju dengan ekonomi Islam, ternyata dalam pemikirannya ekonomi Islam adalah ekonomi yang pro terhadap kesejahteraan rakyat lebih-lebih rakyat kecil. Kata kuncinya, ekonomi Islam adalah ekonomi kerakyatan. Pada saat yang sama, pendidikan tinggi ekonomi Islam yang dikelola IAIN Sumatera Utara lewat Program Studi Ekonomi Islam di Fakultas Syari’ah, terus mengalami perkembangan yang signifikan. Program Studi Diploma kendati masih diminati mahasiswa namun dipandang belum cukup. Jika Diploma menghasilkan tenaga-tenaga vokasi yang terampil dalam mengelola industri keuangan syari’ah, maka Program Strata S1 diharapkan dapat menghasilkan tenaga terdidik dan menguasai teori ekonomi Islam dan dalam tingkat tertentu menguasai peraktiknya.

Momentum pentingnya adalah pada tahun 2002, Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara berdiri. Prodi Ekonomi Islam ini ternyata mendapat sambutan yang sangat baik, terutama dari Departemen Agama. Respon positif itu dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam Nomor DJ.II/ 158/ 2004 tanggal 27 Mei 2004 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Ekonomi Islam Program Sarjana (S-1) Pada Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara Medan. Agaknya prodi ekonomi Islam pada Fakultas Syari’ah IAIN Sumatera Utara adalah program studi yang tertua di Indonesia. Artinya, belum banyak IAIN di Indonesia yang membuka prodi baru ini.

Satu hal yang menarik untuk kasus pendidikan tinggi ekonomi Islam di IAIN.SU adalah, program pasca sarjana (PPS) strata 2 prodi Ekonomi Islam ternyata lebih dahulu lahir ketimbang program S1 nya. Program S2 IAIN Sumatera Utara lahir pada tahun 2000 dengan jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 20 orang.3 Program S1 Ekonomi Islam lahir dua tahun setelah lahirnya

3

(18)

12 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 S2, tepatnya tahun 2002 dengan jumlah mahasiswa pertama sebanyak 39 orang.

Pada priode ini, diskursus ekonomi Islam tidak lagi sebatas pada gerakan sosialisasi ke masyarakat. tetapi mulai bergerak ke arah pengembangan studi ekonomi Islam. Muncullah pertanyaan-pertanyaan baru yang tentu saja membutuhkan jawaban serius dari para ahli. Apa sesungguhnya hakikat ekonomi Islam tersebut ? bagaimana bentuknya ? Apa perbedaannya dengan ekonomi konvensional ? Selanjutnya muncul pula pertanyaan bagaimana mengajarkannya kepada mahasiswa?

Kendatipun pada saat itu formulasi integrasi keilmuan ekonomi Islam belum jelas untuk tidak mengatakan belum tanpak sama sekali, namun yang jelas pada masa itu teori-teori ekonomi sudah mulai dimuati dengan prinsip-prinsip keislaman. Setidaknya dimensi etik Islam mulai mendapat tempat dalam kajian ekonomi. ayat-ayat ekonomi mulai dikaitkan dengan kajian-kajian ekonomi pada umumnya. Sebut saja misalnya, kaitan ayat-ayat konsumsi dengan larangan untuk israf atau berlebih-lebihan. Studi tentang riba tidak lagi dikaji dalam dimensi hukumnya saja tetapi mulai dihubungkan dengan masalah-masalah ekonomi kontemporer.

(19)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 13 and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta. Tugas konsultan terutama membantu dalam menyusun kerangka kurikulum dan silabus mata kuliah pokok prodi Ekonomi Islam.

Keterlibatan para pakar ekonomi Islam yang berkaliber internasional menambah percaya diri IAIN.SU untuk terus mengembangkan ekonomi Syari’ah. Beberapa pakar ekonomi Islam secara berkesinambungan turut serta memberikan kontribusi pemikirannya kepada IAIN. Sumatera Utara. Seiring dengan itu, pertumbuhan bank-bank syari’ah di kota Medan juga turut menambah semaraknya diskursus ekonomi Islam di kota Medan.

Menyadari ketersedian sumber daya ekonomi Islam menjadi keniscayaan, pimpinan Fakultas terus mendorong dosen-dosennya untuk segera melanjutkan studi S3 ekonomi Islam baik di luar negeri ataupun di dalam negeri. Pimpinan Fakultas menyadari bahwa untuk masa mendatang, program studi ekonomi Islam tentu tidak bias bersandar dengan tenaga-tenaga luar. IAIN Sumatera Utara harus segera menyiapkan sumber daya manusianya sendiri untuk menyongsong perkembangan studi ekonomi syari’ah yang diyakini akan berkembang pesat.

3. Priode 2013- Sekarang

Seiring dengan komitmen IAIN Sumatera Utara untuk melakukan alih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, maka IAIN Sumatera Utara mulai mempersiapkan pembentukan dan pembukaan fakultas-fakultas baru. Sebagai yang yang tertera di dalam UU Pendidikan Tinggi No 12 tahun 2012, pasal

59 ayat 2 tentang Universitas dinyatakan, Universitas merupakan

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun ilmu Pengetahuan dan/atau Tekhnologi dan jika memenuhi syarat, universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Sedangkan yang dimaksud

dengan institute adalah, Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan

pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah rumpun ilmu pengetahuan dan/atau tekhnologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institus dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Penegasan UU Pendidikan Tinggi tentang Universitas

(20)

14 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 mengembangkan rumpun ilmu baru dan tidak hanya sebatas rumpun ilmu agama saja. Berbeda dengan institute yang kewenangan pengembangan rumpun ilmunya sedikit terbatas dan relative sulit. Atas dasar itu pula, IAIN Sumatera Utara harus segera mempersiapkan pembukaan fakultas-fakultas baru, baik dalam upaya pengembangan ilmu-ilmu agama ataupun rumpun ilmu yang selama ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beberapa Fakultas baru yang diharapkan dapat dibuka ketika IAIN Sumatera Utara beralih status menjadi UIN Sumatera Utara adalah Fakultas Sain dan Teknologi (Fk. Saintek), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fak. SosPol), Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).

Dari sekian Fakultas baru tersebut, FEBI merupakan satu-satunya Fakultas yang paling mungkin proses pembukaannya lebih cepat direalisasikan. Beberapa alasannya adalah IAIN.SU telah memiliki program studi ekonomi Islam untuk tingkat Strata satu dan Program Diploma tiga manajemen dan perbankan syari’ah. Dengan kata lain, untuk FEBI yang belum ada hanyalah wadah yang lebih luas. Tentu saja maksudnya adalah Fakultasnya. Sedangkan mahasiswa, dosen dan kurikulumnya telah terformat dan terstruktur dengan baik. Bahkan lebih dari itu, jurusan ekonomi Islam dan Program Diploma tiga juga telah memiliki tradisi akademik yang relative mapan. Sebut saja misalnya, tata pamong, tata pelaksanaan ujian komprehensif, munaqasyah, magang dan sebagainya. Yang dibutuhkan jurusan dan Program Diploma tiga hanya payung yang lebih besar dan itu adalah fakultas ekonomi dan bisnis Islam.

(21)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 15 IAIN Sumatera Utara segera mempersiapkan diri untuk menyongsong lahirnya Fakultas Baru. Sebenarnya pimpinan Fakultas Syari’ah khususnya sejak masa Prof. Dr. Nur A Fadhil Lubis, dilanjutkan Dr. M. Jamil dan puncaknya pada masa Dr. Saidurrahman, MA, keinginan untuk menyapih Jurusan Ekonomi Islam sudah mulai menguat. Beberapa diskusi terbatas dengan mengkaji maslahat dan mudharatnya banyak dilakukan. Sayangnya, keinginan itu belum menemukan momentumnya yang tepat.

Sampailah pada satu waktu, Wakil Rektor I Prof. Dr. Hasan Asari, MA meminta Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Saidurrahman, M.Ag dan Dr. Azhari Akmal Tarigan, MA selaku ketua jurusan ekonomi Islam untuk mempersiapkan proposal alih status FEBI. Maka sejak saat itu, perangkat jurusan mulai bekerja keras untuk menyiapkan proposal tersebut. Waktu yang diberikan kepada jurusan tidak lebih satu minggu. Tim penyusun proposal atas nama Isnaini Harahap, MA, Yusrizal, M.Si, Ahmad Syakir, Zuhrinal M. Nawawi, Hotbin Hasugian bahu membahu untuk mempersiapkan proposal tersebut. Akhirnya pada waktu yang telah ditetapkan, proposal tersebut selesai dan segera diserahkan kepada Pembantu Rektor I Prof. Dr. Hasan Asari.

Tidak lama berselang, Dekan Fakultas Syari’ah dan Ketua Jurusan Ekonomi Islam didampingi Sekretaris Jurusan, Isnanini Harahap, MA diminta untuk mempresentasekan Proposal tersebut dihadapan Kepala Biro Ortala Kemenag RI, Drs. Muhammad Syahman Sitompul, SE, Ak dan tim. Ketua Jurusan mendapat giliran

setelah Rektor dan Pembantu Rektor I mempresentasekan

perkembangan alih staus IAIN Sumatera Utara menuju UIN Sumatera Utara.

(22)

16 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 Revisi proposal menjadi aktivitas yang tidak terhindarkan. Ketua Jurusan bersama Ahmad Syakir harus bermalam di Kemenag Gedung Ortala lantai IV untuk menuntaskan Proposal FEBI. Lagi-lagi peran Drs. M. Syahman Sitompul, SE, Ak, menjadi signifikan. Beliau tidak saja mengawal perjalanan proposal tersebut tetapi juga membantu agar proposal yang dihasilkan menjadi kuat dan meyakinkan pihak kementerian terkait.

Satu hal yang penting dicatat dan menjadi bagian dari sejarah Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam yang indah, proses alih status FEBI berjalan dengan sangat mulus. Pelepasan jurusan Ekonomi Islam dan Diploma III Perbankan Syari’ah ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam tidak menimbulkan masalah sedikitpun. Tidak ada perdebatan dan tidak pula konflik. Fakultas induk dalam hal ini Dekan Fakultas Syari’ah dengan penuh jiwa besar melepas mahasiswa/ I Jurusan dan Prodi Diploma III beserta dosen-dosen jurusan yang jumlahnya 37 orang. Hal ini tentu berbeda dengan beberapa UIN, yang proses perpindahan dan pelepasannya menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak bias dipandang sederhana.

Demikianlah setelah menunggu beberapa bulan lamanya, akhirnya pada tanggal 19 November 2013, PMA No 81 Tahun 2013 tentang Organisasi Tata Kerja IAIN Sumatera Utara ditanda-tangani Menteri Agama. PMA itu sesungguhnya menjadi penanda bahwa FEBI telah resmi berdiri. Pada pasal dinyatakan bahwa Fakultas yang ada dilingkungan IAIN. SU salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Selanjutnya, pada tanggal 14 Desember 2013, FEBI IAIN Sumatera Utara bersama dua UIN, Alauddin Makasar dan Sunan Kalijaga Jogjakarta dan tiga IAIN, Raden Fatah Palembang, Walisongo Semarang dan Surakarta FEBI sebagai fakultas baru diresmikan berdirinya oleh Bapak Surya Dharma Ali selaku Menteri Agama. Delegasi dari IAIN.SU yang hadir pada saat itu adalah Prof. Dr. Hasan Asari, MA, Dr. Saidurrahman, MA dan Dr. Azhari Akmal Tarigan, MA.

(23)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 17 persiapan-persiapan pelepasan, mulai dari pelepasan Mahasiswa dari Fakultas Syari’ah dan termasuk dosen-dosennya. Yang patut disyukuri adalah, pelepasan tersebut berlangsung dengan cukup baik dan elegan tanpa ada gesekan apapun. Ini menunjukkan jiwa besar pimpinan Fakultas Syari’ah IAIN Sumatera Utara.

(24)

18 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 BAGIAN II

DESAIN KEILMUAN FAKULTAS EKONOM I DAN BISNIS ISLAM UIN SUM ATERA UTARA

Ada perdebatan dikalangan ilmuwan atau pemikir ekonomi

Islam berkenaan dengan rumah keilmuan ekonomi Islam.

Pertanyaannya adalah apakah ekonomi Islam itu menjadi bagian dari ilmu-ilmu syari’ah atau lebih luas dari itu bagian dari ilmu agama? Ataukah rumah ilmu ekonomi Islam itu adalah ilmu ekonomi

konvensional, yang selanjutnya telah “ diislamkan” atau

diintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalamnya.

Perdebatan ini terus berlangsung sampai detik ini. Oleh sebab itu mendudukkan rumah ekonomi Islam pada tempatnya yang tepat menjadi sebuah keniscayaan. Bahwa ada sudut pandang lain yang berbeda, tentu saja dibenarkan sepanjang memiliki argumentasi yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pada saat yang sama, diskursus yang berkembang tentang penamaan ilmu ini tidak kalah menariknya. Apakah nama yang tepat itu ; Ekonomi Islami (dengan i kecil) atau Ekonomi Islam (tanpa i). Ataukah yang lebih tepat itu adalah Ekonomi Syari’ah dan bukan Ekonomi Islam.

Jika disebut ekonomi Islami secara sederhana istilah tersebut

dipahamai sebagai ilmu ekonomi konvensional yang diislamkan.

(25)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 19 dan hadis-hadis Nabi yang ber kenaan dengan isu-isu ter tentu. Dalam teor i saving misalnya atau teor i investasi dalam bisnis, unsur zakat, infaq dan sadaqah har us ditambahkan dan menjadi bagian dar i kajian ter sebut. Demikian pula halnya, pada sisi konsumsinya, dimensi t abzir (mubazir ) dan isr af (ber lebih-lebihan) har us dihindar kan. Sama halnya pada teor i pr oduksi, sisi maslahat har us mendapat tempat yang lebi h ter ang.

Pilihan ini disebut dengan pilihan pragmatis. Kerja keilmuan

yang kita lakukan tidaklah berat. Bangunan ilmunya (body of

knowledge) lebih mudah dirumuskan. Kelemahannya, bangunan ilmu ekonomi Islami itu tidak akan kokoh, karena berdiri di landasan epistemologi yang rapuh. Sedangkan metode kedua, disebut metode idealistik, merupakan sebuah upaya untuk merumuskan ilmu ekonomi yang berbasis Islam. jika cara ini yang ditempuh, kerja-kerja ilmiah yang kita lakukan sangat berat. Ibarat membangun sebuah rumah kita harus memulainya dengan meletakkan asas, dasar atau basis keilmuan. Merumuskan metodologinya dan selanjutnya mengkonstruksi ilmu itu, terlepas apakah dengan menggunakan metode istiqra’ i (induktif) atau istinbati (deduktif). Dua metode ini absah digunakan di dalam ekonomi Islam.

Penyebutan ekonomi syari’ah secara substansial sebenarnya tidak ada masalah. Lebih-lebih jika syari’ah dipahami dalam makna generiknya sebagai jalan ke sumber mata air. Ekonomi syari’ah sama dan sebangun maknanya dengan ekonomi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Hanya saja, penyebutan ekonomi syari’ah terkesan lebih sempit dan lebih berorientasi fikih. Seakan-akan, ekonomi syari’ah hanya bicara halal dan haram.

Kembali ke pokok persoalan di atas, FEBI IAIN Sumatera Utara memilih untuk menggunakan istilah Ekonomi Islam ketimbang ekonomi syari’ah. Penyebutan Islam sesungguhnya lebih mengacu pada nilai-nilai universal ketimbang forma atau bentuk. Adalah lebih penting dan merupakan esensi ajaran Islam itu, jika di dalam ekonomi dan bisnis, nilai-nilai Islam menyatu dengan bangunan ilmu (teori) dan peraktiknya.

(26)

20 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 merumuskan dan mekonstruksi ilmu ekonomi Islam itu dari awal. Lebih luas, bagian ini akan dikaji pada sub-sub berikut ini.

1. Tauhid Sebagai Basis Keilmuan Ekonomi Islam

Bangunan ilmu ekonomi Islam sesungguhnya bersumber dari pemahaman tentang tauhid. Tauhid yang bukan sebatas percaya kepada Tuhan yang satu, menyembahnya sebagaimana yang terangkum dalam aturan ibadah Islam tetapi lebih dari itu, tauhid merupakan pandangan hidup manusia.

Sudah menjadi doktrin Islam yang baku bahwa alam semesta ini dengan segala isinya diciptakan oleh sang maha pencipta (khaliq).

Kemudian ia menjadikan (fathir) ciptaannya memiliki ukuran, takaran

dan sunnatullah (taqdir) tertentu yang bersifat tetap. Adalah wajib bagi manusia untuk mengetahui dan memahami sunnatullah secara tepat agar ia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini dengan baik.

Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang memiliki tugas untuk memakmurkan semesta, telah diberikan Allah beragam potensi yang mendukung tugas-tugas kekhalifahannya. Di samping itu ia juga harus menjalankan kewajibannya sebagai ‘ abdun (hamba) Allah yang selalu tunduk dan patuh kepadaNya (islam). Potensi itu

inherent di dalam diri manusia seperti ‘aql, qalbu, syahwah dan juga jasad. Bersamaan dengan itu Allah juga memberikan bimbingan bagaimana potensi itu didayakan sesuai dengan keinginan Allah.

Selanjutnya Allah turunkan kepada manusia seorang Rasulnya yang bersamanya ada Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk

(hudan), penjelas (bayyinat) dan pembeda yang hak dengan yang batil

(al-furqan). Lebih dari itu, Rasul yang mulia, Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai mufassir, menjelaskan makna, maksud dan hakikat dari segala perintah-perintah Allah. ada kalanya Nabi menguatkan apa yang telah digariskan Allah di dalam Al-Qur’an dan pada saat-saat tertentu, Rasul juga menjadi Syari’ (pembuat syari’at) kendati bukan syari’ yang mandiri sebagaimana halnya Allah SWT.

(27)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 21 Nabi Muhammad sebagai teladan, contoh dan model dalam menjalani kehidupan.

Sejatinya dengan beragam potensi dan bimbingan Allah SWT, manusia mampu menggunakan semesta ini untuk kemajuan dan kemakmuran dunia. Bayangan dunia Al-Qur’an yang diungkap dengan kata baldatun thayyibatun wa rabb ghafur itu akan segera dapat terwujud.

Dalam kenyataannya, alam realita tidak menunjukkan kondisi ideal yang digagas Al-Qur’an. Kehidupan yang berkeadilan, berkemakmuran dan berperadaban itu tampaknya masih jauh. Walaupun dalam sejarah panjang dunia ini, kita pernah berada pada

fase-fase kejayaan (falah). Bukti-bukti itu menegaskan bahwa

kehidupan yang ideal itu bukanlah sesuatu yang utofia. Bukan pula khayalan. Kehidupan yang falah itu ril. Karena itulah kita bisa menjadikannya contoh atau setidaknya menginspirasi kita dalam menata dunia hari ini.

Saat ini dunia sedang berada dalam fase yang sesungguhnya amat sangat menakutkan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang pada mulanya diharapkan dapat memudahkan kehidupan manusia sekaligus membantunya untuk mencapai kehidupan yang ideal itu, ternyata jauh dari kenyataan. Kemajuan Ilmu dan Tekhnologi berimplikasi –terlepas antara sadar dan tidak- pada kehidupan manusia itu sendiri. Disparitas antara yang kaya dan miskin semakin tajam dan dalam. Kesenjangan sosial semakin menganga. Kekayaan alam tidak lagi digunakan untuk kemakmuran bersama melainkan dipakai untuk menopang kekayaan pribadi. Alam dieksploitasi untuk kepentingan pribadi dan golongan. Alih-alih rakyat hidup sejahtera yang terjadi adalah rakyat semakin menderita.

(28)

22 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 Kedua sistem itu sesungguhnya tidak memberikan harapan apapun untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Bahkan jika dibiarkan, kedua ideologi tersebut dapat menghancurkan kehidupan semesta tidak saja untuk generasi saat ini tetapi juga buat generasi puluhan tahun yang akan datang.

Kendati terlambat, kehadiran ekonomi Islam memberikan harapan baru bagi tatanan kehidupan dunia yang lebih adil dan sejahtera, lahir-batin, material-spiritual. Ekonomi Islam muncul bukan saja sebagai sintesa dari kedua sistem ekonomi tersebut tetapi ekonomi Islam juga membongkar habis filosofi yang mendasarinya. Ekonomi Islam menjadikan tauhid sebagai landasan filosofisnya. Tauhid ini pada gilirannya akan menjadi ruh bagi seluruh bangunan konsep keilmuan dan bentuk-bentuk praktiknya.

Sampai di sini, persoalan yang dihadapi manusia saat ini, walaupun bukan satu-satunya faktor, sesungguhnya didasarkan pada satu pandangan hidup dan sistem keilmuan yang keliru. Pandangan hidup yang tidak berorientasi pada tauhid dan keilmuan yang tidak pula berlandaskan epistemologi tauhidik. Oleh karena itu, sistem keilmuan tersebut yang harusnya dikoreksi.

2. Aspek Ontologi, Epistemologi dan Axiologi Ekonomi Islam

Bangunan Ilmu Ekonomi Islam baik pada sisi ontologis, epistemologis dan axiologisnya akan terlihat di bawah ini:

Pertama, Ontologi Ekonomi Islam. yang dimaksud dengan ontologi adalah essence of being it self. Ontologi berbicara tentang hakikat atau ada. Dalam makna lainnya, ontologi berkaitan dengan objek ilmu pengetahuan. Dalam perspekti Ekonomi Konvensional, landasan filsafat yang dijadikan dasar dalam pengembangan keilmuannya adalah filsafat positivisme yang berpijak pada empirisme.

Tidaklah mengherankan dari kerangka ontologis ini, definisi ilmu ekonomi – menurut Samoelson- adalah kajian tentang perilaku manusia dalam hubungannya dengan pemanfaatan sumber-sumber produktif yang langka untuk memproduksi barang dan jasa-jasa serta mendistribusikannya untuk dikonsumsi.

(29)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 23 sumber daya yang tersedia mengolahnya sehingga memiliki nilai tambah.

Kedua, Epistemologi Ilmu Ekonomi Islam. Epistemologi berasal dari kata episteme dan logos. Episteme artinya adalah teori.

Logos artinya ilmu. Epistemologi dimaknakan teori ilmu

pengetahuan. Dalam pengertian lain epistemologi adalah bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks bagaimana cara mendapatkan ilmu

pengetahuan dikenal dua model, idealisme dan empirisme. Namun dalam epistemologi Islam dikenal satu metode lagi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan; ilmu hudhuri atau ilmu laduni.

Ketiga, Axiologi Ilmu Ekonomi Islam. Axiologi secara sederhana diterjemahkan dengan nilai guna atau kemanfaatan. Dalam hal ini ada dua mazhab yang berkembang, mazhab yang menyebutkan bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai. Mazhab kedua menyatakan ilmu itu tidak bebas nilai. Di dalamnya ada kandungan

nilai tertentu. Nilai itu terdapat di dalam kandungan

epsitemologisnya.

Berangkat dari aspek ontologi, epistemologi dan axiologi ekonomi Islam terdapat perbedaan yang tidak dapat dipandang kecil. Dalam perspektif ekonomi Islam, dari sisi ontologis sesungguhnya tidak ada perbedaan antara ekonomi Islam an ekonomi konvensional. Apa yang menjadi objek dari ilmu ekonomi, Islam dan konvensional sama. Berkenaan dengan perilaku manusia. Bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan sumber daya yang terbatas tersebut.

3. M odel Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam FEBI IAIN SU

(30)

24 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017

Sedangkan misinya adalah, Pertama, menerapkan tata kelola

perguruan tinggi yang baik (good university governance) untuk

mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

berbasis nilai-nilai Islam. Kedua, melakukan pendidikan dan

pengajaran berstandar tinggi dalam disiplin ilmu secara multi dan

trans disipliner berdasarkan nilai-nilai Islam. Ketiga, melakukan

penelitian ilmiah yang membantu penyelesaian persoalan masyarakat.

Keempat, menjalin kerjasama strategis untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Dari Visi IAIN.SU di atas jelas bahwa model pengembangan keilmuan IAIN.SU yang bertransformasi menjadi UIN adalah model Integrasi keilmuan. Harus diakui selama ini ada cara pandang dunia yang berkembang di dalam pendidikan Islam Indonesia adalah pandangan dunia yang dikotomik antara Ilmu-ilmu agama dan umum, ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah, material-spiritual, dunia-akhirat, teo-antroposentris.

Pandangan yang dikotomik ini menimbulkan implikasi yang cukup berbahaya bagi peradaban Islam. Ilmu-ilmu agama menjadi bidang kelolaan kementerian Agama. Yang dimaksud ilmu agama tersebut tercermin pada fakultas-fakultas yang ada di IAIN atau jurusan di STAIN. Sebut saja misalnya, Fakultas Syari’ah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Di beberapa IAIN terdapat fakultas adab yang fokus dalam pengembangan bahasa dan sastra Arab. Selanjutnya ilmu-ilmu umum menjadi kelolaan kementerian pendidikan dan kebudayaan. Ilmu-ilmu kelolaannya juga tampak dari Fakultas-fakultas yang ada; fakultas hukum, fakultas ilmu sosial dan politik, fakultas kedokteran, fakultas teknik dan lain-lain.

Kendatipun di PTAI ilmu-ilmu umum dipelajari, sebut saja misalnya sosiologi, antropologi, komunikasi, hukum untuk menyebut beberapa contoh, namun keberadaannya tidak terkait sama sekali dengan ilmu-ilmu keislaman. Ilmu-ilmu umum tersebut dipelajari secara terpisah. Demikian pula halnya di perguruan umum. Ilmu agama juga dipelajari. Namun sama sekali tidak memiliki persentuhan dengan bidang-bidang ilmu lainnya.

(31)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 25 Pertanyaannya adalah, mengapa UIN. SU memilih integrasi ilmu dan tidak Islamisasi Pengetahuan dan Pengilmuwan Islam.

Dalam konteks pengembangan Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam FEBI IAIN.SU, pengembangan keilmuan integratif dengan pendekatan multi dan trandisipliner ini akan diaplikasikan pada desain kurikulum FEBI.

(32)

26 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 BAGIAN III

STRUKTUR ORGANISASI

Struktur organisasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara diatur berdasarkan Peraturan Menteri Agama No 55 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN Sumatera Utara. Secara Umum dapat dijelaskan bahwa hirarki organisasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dipimpin oleh seorang Dekan dan 3 orang Wakil Dekan. Wakil Dekan I bertugas menangani Bidang Akademik, Wakil Dekan II menangani Bidang Keuangan dan Kepegawaian, dan Wakil Dekan III menangani Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama. 5 orang Ketua Program Studi, 5 orang Sekretaris Program Studi, dan 1 orang Kepala Laboratorium.

Dalam bidang Administrasi dan Kepegawaian, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam secara koordinatif ke bawah, dibantu oleh beberapa orang pegawai yang dikepalai oleh 1 orang Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), 2 orang Kepala Sub Bagian (Kasubbag), yakni Kasubbag Administrasi Umum, Perencanaan & Keuangan, dan Kasubbag Akademik dan Kemahasiswaan, dan beberapa orang staf pada sub bagian.

Adapun nama-nama pemangku jabatan di FEBI UIN SU periode 2014-2018 adalah sebagai berikut :

Dekan : Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag

Wakil Dekan I : Dr. Muhammad Yafiz, M.Ag

Wakil Dekan II : Dra. Chuzaimah Batubara, MA

(33)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 27

Ketua JurusanEkonomi Islam :

Isnaini Harahap, M.Ag

Ketua Jurusan AkuntansiSyariah :

Nurlaila, SE, Ak., MA

Ketua Jurusan Perbankan Syariah :

Drs. Sugianto, MA

Ketua Jurusan Asuransi Syariah :

Yusrizal, M.Si

Ketua Jurusan D3 Perbankan Syariah :

Zuhrinal M. Nawawi, MA

Sekretaris JurusanEkonomi Islam :

Marliyah, M.Ag

Sekretaris Jurusan Akuntansi Syariah :

Hendra Harmain, SE, Ak, M.Pd

Sekretaris Jurusan Perbankan Syariah :

Aliyuddin Abd. Rasyid, MA

Sekretaris Jurusan Asuransi Syariah :

Tuti Anggraini, MA

Sekretaris Jurusan D3 Perban. Syariah :

Dr. Hj. Yenni Samri Juliati Nst, MA

Kepala Laboratorium :

M. Irwan Fadly, SE, MM, M.Kom

Kepala Tata Usaha :

Drs. Khoiruddin, MA

Kasubbag Akademik dan Alumni :

Asriani, S.Ag

Kasubbag Administrasi Umum,

Perencanaan, Akuntansi dan Keuangan :

Nurhani, SE

(34)

28 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 Ekonomi dan Bisnis Islam dapat dikatakan kondusif, dalam rangka menciptakan atmosfir akademik yang mendukung proses belajar mengajar. Dekan ditinjuk dan dilantik oleh Rektor UIN Sumatera Utara atas nama Menteri Agama. Wakil Dekan diusulkan oleh Dekan dan dilantik Rektor UIN Sumatera Utara atas nama Menteri Agama. Ketua dan sekretarsis Program Studi sebagai unsur pelaksana akademik di Fakultas disulkan oleh Dekan dan diajukan ke Rektor untuk mendapatkan Surat Keputusan Rektor. Ketua Program Studi sebagai ujung tombak Fakultas melaksanakan tugas-tugas operasional yang berkenaan langsung dengan mahasiswa.

Berikut adalah penjelasan ringkas tentang tugas dan fungsi

masing-masing komponen dalam struktur organisasi, yang

menggambarkan dukungan struktur organisasi terhadap pengelolaan program-program studi di bawahnya:

1. Dekan; memimpin penyelenggaraan pendidikan akademik, vokasi, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengabdian kepada masayarakat, pembinaan civitas akademika serta pelaksanaan administrasi dan pelaporan.

2. W akil Dekan I; Membantu Dekan memimpin penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masayarakat dalam rangka mencapai tujuan dan mewujudkan visi dan misi fakultas, membina, mengawasi dan mengarahkan seluruh kegiatan civitas akademika, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masayarakat.

3. W akil Dekan II; membantu Dekan memimpin penyelenggaraan adminsitrasi umum, perencanaan dan keuangan dalam rangka mencapai tujuan dan mewujudkan visi misi Fakultas.

4. W akil Dekan III; Membantu Dekan memimpin pelaksanaan dan pengembangan kegiatan di bidang pembinaan mahasiswa dan kerjasama

5. Ketua Jurusan/Program Studi; Melakasanakan Tugas memimpin dan melaksanakan penyelenggaraan program studi dalam satu (1) disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan atau olah raga

(35)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 29 7. Kepala Laboratorium; Unsur pelaksana pendidkan akademik atau

profesional pada jurusan yang mempunyai keahliannya telah memenuhi syarat sesuai dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian tertentu.

8. Kabag TU Fakultas ; melaksanakan administrasi ketatausahaan fakultas yang meliputi adminsitrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masayarakat, serta pembinaan pelayanan

kemahasiswaan dan alumni, organisasi dan tatalaksana,

kepegawaian, keuangan dan barang milik negara, hukum,

hubungan masyarakat, perlengkapan, rumah tangga dan

administrasi umum.

9. Kasubbag A kademik dan Kemahasiswaan; Menyiapkan konsep rencana program kerja dan mengelola administrasi akademik dan kemahasiwaan Fakultas, meliputi adminstrasi pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, dan pembinaan organisasi kemahasiwaan dan alumni serta kesejahteraan mahasiswa dan melaksanakan registrasi mahasiswa, penilaian prestasi pelaksanaan tugas dan menyusun laporan.

10. Kasubbag A dministrasi Umum dan Keuangan; Menyiapkan konsep rencana dan program kerja dan mengelola tata persuratan,

administrasi umum, kearsipan, kerumahtanggaan dan

(36)

30 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 BAGIAN IV

VISI, M ISI, PROFIL LULUSAN, FILOSOFI DASAR DAN NILAI-NILAI UTAM A ORGANISASI

Di bagian awal telah dijelaskan apa yang menjadi persoalan dasar dan harus di jawab oleh cetak biru pengembangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ini ke depan. Perosoalan pertama adalah berkenaan dengan visi dan misi FEBI.

Visi ini dirumuskan setelah mempertimbangkan dan menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan FEBI ke depan. Di samping itu gagasan dan pemikiran para stake holder dan sivitas akademika FEBI serta masukan para alumni Prodi EKonomi Islam dan Prodi Perbankan Syari’ah yang sudah bekerja di berabagi lapangan kerja juga tidak kalah pentingnya. Tidak ketinggalan untuk mengharmonisasikannya dengan Visi dan Misi UIN.SU. Setelah memperhatikan dan mendalami apa yang menjadi visi FEBI serta memahamkan khittah perjuangan gerakan ekonomi Islam Indonesia, maka visi ini dirumuskan.

1. Visi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN.SU telah menorehkan visinya sebagai berikut:

(37)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 31

2. M isi

Adapun Misi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam adalah:

a. Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan

pengajaran ilmu ekonomi dan bisnis yang berdasarkan nilai-nilai Islam dengan menggunakan pendekatan integratif-trandisipliner.

b. Melaksanakan dan menumbuhkan etos penelitian di kalangan

sivitas akademika FEBI. Hal ini penting dalam rangka Pengembangan ilmu ekonomi dan Bisnis Islam sekaligus menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

c. Melaksanakan pengabdian masyarakat yang terencana,

terprogram dan berkesinambungan dalam rangka

mensosialisasikan dan menerapkan ajaran ekonomi dan bisnis Islam dalam kehidupan masyarakat.

d. Membentuk mahasiswa dan alumni yang unggul, memiliki

keunggulan moral dan spiritual, penguasaan ilmu ekonomi dan bisnis serta memiliki kemahiran dan keterampilan yang berguna dalam menjalankan profesinya.

e. Menjalin kerjasama dan Membangun Jaringan yang konstruktif

dan produktif dengan berbagai lembaga-lembaga yang mendukung pencapaian visi FEBI IAIN Sumatera Utara.

3. Tujuan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam bertujuan untuk membentuk dan memproduksi :

a. Sarjana Ekonomi Islam yang memiliki keunggulan dan

keagungan moral (akhlak)-spiritual, penguasaan ilmu

ekonomi dan Bisnis yang bernafaskan Islam serta penguasaan keterampilan dan kecakapan hidup. Akumulasi dari kualitas tersebut menjadikan Sarjana FEBI mampu menggunakan ilmunya untuk menopang kehidupannya yang bersahaja, bermartabat dan bermanfaat bagi kemanusiaan.

b. Dosen yang memiliki keunggulaan moral dan spiritual,

(38)

32 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017

c. Pegawai yang memiliki keunggulan moral, spiritual, ilmu dan

keterampilan dan profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik buat mahasiswa, dosen, pegawai dan stake holder pada umumnya.

d. Karya-karya ilmiah, buku, artikel, modul dan bahan-bahan

pelatihan yang berguna bagi kemajuan dunia yang berperadaban, berkeadilan dan kemakmuran. Tidak kalah pentingnya, FEBI juga diharapkan mampu menghasilkan penelitian-penelitian yang bermanfaat dan memecahkan problema kehidupan umat.

4. Profil Lulusan

a. Praktisi Perbankan (Syariah dan Konvensional).

b. Praktisi Lembaga Keuangan non Bank (Syariah dan

Konvensional) seperti Asuransi, Pasar Modal dan Pasar Uang, Pegadaian, Leasing, Investasi dan lainnya.

c. Praktisi Lembaga Keuangan Mikro (Syariah dan

Konvensional) seperti Baitul Mal Wattamwil (BMT) dan Koperasi.

d. Pegawai Negeri Sipil (PNS) di berbagai Kementerian dan

Departemen.

e. Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan

Pengawas Syariah (DPS) di berbagai Lembaga Keuangan Syariah.

f. Konsultan Ekonomi, Bisnis dan Keuangan.

g. Akuntan Profesional di berbagai institusi dan perusahaan.

h. Akademisi dan Peneliti.

i. Entrepreneur (Wirausaha Mandiri)

5. Filosofi Dasar

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam memiliki filosofi dasar

pengembangannya. Filosofi dasar itu adalah al-nama’ (bertumbuh),

al-tazkiyah (suci)dan al-falah (bahagia-sejahtera).

(39)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 33 b. A l-Tazkiyah (suci). FEBI menyadari ekonomi Islam hakikatnya

adalah ekonomi ketuhanan atau ekonomi rabbaniyah. Nilai-nilai ilahiyyah harus menjelma dalam proses perjalanan FEBI. Baik itu berkenaan dengan dosen (perilaku dan integritas), mahasiswa (akhlak dan etika akademik) ataupun sistemnya harus mencerminkan terlaksananya nilai-nilai ketuhanan itu. c. A l-Falah (Bahagia). Al-Falah sejatinya merupakan tujuan

ekonomi Islam. Al-falah memiliki makna yang cukup luas dan juga dalam. Bukan sebatas kemenangan seperti yang kerap diterjemahkan pada lafaz hayyaa ‘ ala al-falah. Kata falah adalah

dapat diterjemahkan dengan kebahagian, sama ada

menyangkut kehidupan dunia-akhirat, material-spiritual, individu dan sosial.

6. Nilai-Nilai Utama

Di dalam UU No 12 Tahun 2012 sebagaimana yang terdapat pada pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan tinggi berasaskan, a) Kebenaran ilmiah. b) penalaran. c) kejujuran. d) keadilan. e) manfaat.

f). kebajikan. g) tanggungjawab. h) kebhinekaan dan i).

keterjangkauan.

Dari asas-asas penyelenggaraan pendidikan tinggi terdapat nilai utama yang dijadikan asas dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi khususnya dalam bidang ekonomi Islam.

Adapun nilai-nilai utama tersebut adalah :

a. Kejujuran

b. Keadilan

(40)

34 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 BAGIAN V

JURUSAN/PROGRAM STUDI

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera

Utara mempunyai 5 (lima) Jurusan/ Program Studi, yaitu:

Jurusan/ Program Studi Ekonomi Syariah, Jurusan/ Program Studi Akuntansi Syariah, Jurusan/ Program Studi Perbankan Syariah, Jurusan/ Program Studi Asuransi Syariah dan Jurusan/ Program Studi D-III Perbankan Syariah.

1. JURUSAN/PROGRAM STUDI EKONOM I SYARIAH

a. Visi

Unggul dan terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang ekonomi Syari'ah untuk menghasilkan sarjana yang memiliki keilmuan, keterampilan, dan kecakapan hidup (life skill) serta berakhlaqul karimah.

b. M isi

1) Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan

pengajaran di bidang Ekonomi Syari'ah secara komprehensif dengan pendekatan Integratif-transdisipliner.

2) Melaksanakan dan meningkatkan penelitian dan pengkajian

di bidang Ekonomi Syari'ah.

3) Melaksanakan pengabdian masyarakat yang terencana,

terprogram dan berkesinambungan untuk mendorong

perkembangan Ekonomi Syari'ah dalam kehidupan

masyarakat.

4) Melaksanakan pembinaan sumber daya insani untuk

(41)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 35

5) Menanamkan kesadaran profesional dan inovatif terhadap

berbagai produk lembaga keuangan Syariah yang sesuai kebutuhan masyarakat.

6) Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga perbankan dan

keuangan lainnya serta dunia usaha.

c. Tujuan

1) Menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu ekonomi

syariah secara professional yang amanah, kreatif, inovatif dan team work.

2) Menghasilkan lulusan di bidang ilmu ekonomi syari’ah

terutama di bidang perencanaan baik dalam lembaga bisnis dan non bisnis.

3) Menghasilkan lulusan di bidang ilmu ekonomi Syariah yang

senantiasa mengabdikan dirinya untuk masyarakat

4) Menghasilkan lulusan yang bermoral, berbudi pekerti dan mempunyai integritas yang tinggi terhadap pengembangan ilmu ekonomi Syaaiah

5) Menghasilkan lulusan yang dipersiapkan untuk melanjutkan

studi yang lebih tinggi (S2 dan S3)

2. JURUSAN/PROGRAM STUDI AKUNTANSI SYARIAH

a. Visi

Unggul dan terkemuka dalam pengkajian, pengembangan dan penerapan Akuntansi Syariah di wilayah Indonesia tahun 2021

b. M isi

1) Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan

pengkajian Akuntansi Syariah secara komprehensif dengan pendekatan Integratif-Transdisipliner.

2) Meningkatkan dan mengembangkan penelitian dan analisis

di bidang Ekonomi Islam dalam rangka pengembangan konsep dan implementasi Akuntansi Syariah di tengah-tengah aktivitas ekonomi masyarakat.

3) Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka

penataan pertanggungjawaban keuangan di tengah

masyarakat berbasis Akuntansi Syariah.

4) Menjalin kerjasama produktif dengan berbagai lembaga

(42)

36 | Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017

c. Tujuan

1) Menghasilkan lulusan di bidang Akuntansi Syariah yang

bertakwa dan istiqomah menjalankan nilai-nilai syariah dan mewarnai lingkungan kerja dan masyarakat.

2) Menghasilkan lulusan yang profesional untuk melahirkan

produk dan inovasi baru dan menerapkannya di bidang Akuntansi Syariah.

3) Menghasilkan lulusan yang aktif dan peduli dalam bidang

pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dan

pemberdayaan umat dengan menerapkan Akuntansi

Syariah.

3. JURUSAN/PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH

a. Visi

Unggul dan terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang Perbankan Syari'ah untuk menghasilkan sarjana yang memiliki keilmuan, keterampilan, dan kecakapan hidup (life skill) serta berakhlaqul karimah.

b. M isi

1) Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan

pengajaran di bidang perbankan Syari'ah secara

komprehensif dengan pendekatan Integratif-transdisipliner.

2) Melaksanakan dan meningkatkan penelitian dan pengkajian

di bidang perbankan Syari'ah.

3) Melaksanakan pengabdian masyarakat yang terencana,

terprogram dan berkesinambungan untuk mendorong perkembangan perbankan Syari'ah dalam kehidupan masyarakat.

4) Melaksanakan pembinaan sumber daya insani untuk

memasuki dunia kerja yang berbasis kualifikasi dan kompetensi.

5) Menanamkan kesadaran profesional dan inovatif terhadap

berbagai produk perbankan syariah yang sesuai kebutuhan masyarakat.

6) Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga perbankan dan

(43)

Buku Pedom an Akadem ik Fakult as Ekonom i dan Bisnis Islam UIN SU T.A. 2016/ 2017 | 37

c.Tujuan

1) Menghasilkan lulusan yang amanah, profesional, kreatif dan

inovatif dalam bidang perbankan syariah.

2) Menghasilkan lulusan yang mampu meneliti dan menjawab

persoalan di bidang perbankan Syari’ah di tengah masyarakat.

3) Menghasilkan lulusan yang senantiasa mengabdikan dirinya

untuk masyarakat.

4) Menghasilkan lulusan yang bermoral, berbudi pekerti dan

mempunyai integritas yang tinggi terhadap pengembangan ekonomi dan perbankan Syari’ah.

4. JURUSAN/PROGRAM STUDI ASURANSI SYARIAH

a. Visi

Unggul dan terkemuka dalam menghasilkan sarjana profesional di bidang Asuransi Syari'ah yang berdaya saing dan berakhlak mulia berdasarkan nilai-nilai Islam.

b. M isi

1) Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan

pengajaran di bidang Asuransi Syari'ah secara komprehensif dengan pendekatan Integratif-transdisipliner.

2) Melaksanakan dan meningkatkan penelitian dan pengkajian

di bidang Asuransi Syari'ah.

3) Melaksanakan pengabdian masyarakat yang terencana,

terprogram dan berkesinambungan untuk mendorong

perkembangan Asuransi Syari'ah dalam kehidupan

masyarakat.

4) Melaksanakan pembinaan sumber daya insani untuk

memasuki dunia kerja yang berbasis kualifikasi dan kompetensi.

5) Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga Asuransi dan

keuangan lainnya serta dunia industi/ bisnis

c. Tujuan

1) Menghasilkan sarjana ekonomi Islam yang menguasai ilmu

ekonomi dan asuransi Syari’ah serta kecakapan

Referensi

Dokumen terkait

Dapatan kajian ini dapat membantu Jabatan Agama Johor mengenal pasti kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam Program Membudayakan al-Quran dalam usaha meningkatkan tahap

- Siswa mendengarkan penjelasan dari guru kegiatan yang akan dilakukan hari ini dan apa tujuan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut dengan bahasa yang sederhana dan

Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap fenomena yang terjadi di lapangan, bahwa masih rendahnya akurasi shooting pemain SSB Bima Bukittinggi. Masalah inilah diduga

Sikap individu dan norma subjektif tentang perilaku dapat digunakan untuk memprediksi perilaku, seseorang yang memiliki persepsi perilaku yang biasa dan kemungkinan

NO TGL NAMA NO KTP BPJS TTL ALAMAT STATUS PEKERJAAN PEMERIKSAAN RIWAYAT. PENYAKIT MEROKOK AKTIVITAS

Untuk membuat sistem pakar diagnosis penyakit hati maka yang harus diperhatikan adalah pengetahuan yang akurat, aturan dan mekanisme inferensi yang akan

The methodology used by these researchers to develop HBIM involved data collection using laser scanning and modelling historic architectural elements graphically

Hal ini diharap kan pada pelayanan kesehatan dapat memberikan pelayanan dan mempertahankan hubungan kerjasama yang baik antara tim kesehatan dan klien yang ditujukan