KONSTRIBUSI PENDAPATAN DARI PENYADAPAN GETAH PINUS
TERHADAP PENDAPATAN TOTALNYA
( Studi Kasus Di RPH Guyangan BKPH Ponorogo Barat KPH Lawu Ds
Perum Perhutani Unit II Jawa Timur )
Djoko Setyo Martono 1 1
adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun
Abstract
The inclusion of communities in the pine resin tapping activity is one of perhutani efforts to improve the welfare of the people in the surrounding forest. The research aims to find out how much revenue contribution of pine resin tapping of its total income held in the Village District Slahung Sanepo Ponorogo in February 2009. The method used in this study is the method by describing the process diskriptif / activities undertaken during the study, sampling using a random method with 50% sampling intensity, as for the contribution obtained by calculating the percentage of revenue from tapping the sap tappers pine compared with its total income. The results obtained by the amount of income contribution from tapping the sap tappers pine is Rp 137,640, - / month or 17.5% of the total income of tappers and third ranked after moor management and ownership of livestock, besides tapping pine resin can increase the number of the poorest families and very poor to poor families can also lift the poor become wealthy.
Key words: contribution, pine resin tapping Latar Belakang
Hutan merupakan sumber kekayaan negara dan bangsa, baik ditinjau dari aspek ekonomi, sosial budaya, maupun ilmu pengetahuan. Pemanfaatan sumberdaya hutan secara bijaksana dan lestari merupakan amanat seluruh rakyat Indonesia yang harus dilaksankan oleh seluruh pengelola hutan di Indonesia.
Kebutuhan masyarakat terhadap peranan sektor kehutanan sebagai akibat pertambahan penduduk dan peningkatan kebutuhan hidup yang semakin besar agar dapat terimbangi maka potensi dan daya dukung hutan terus ditingkatkan . Hal ini penting diperhatikan mengingat sebagaian besar areal hutan, khususnya di pulau Jawa terletak pada daerah-daerah yang sebagain penduduknya hidup sebagai petani dengan taraf hidup relatif masih rendah.
Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat yang bertempat tinggal
di wilayah pedesaan sekitar hutan khususnya di pulau Jawa adalah sempitnya kesempatan kerja. Keterbatasan petani dalam bentuk modal, pengetahuan dan ketrampilan mengakibatkan tidak adanya inisiatif yang timbul dari diri mereka sendiri yang mendorong mereka untuk beralih ke lapangan kerja lain. Petani di desa hanya terus mengandalkan dari lahan pertanian, sementara tuntutan kebutuhan hidup belum dapat tercukupi secara baik dari lahan pertanian yang mereka miliki.
Secara umum yang dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan adalah semakin tingginya jumlah penduduk, semakin sempitnya lahan pertanian dan sangat terbatasnya ketrampilan kerja yang mereka kuasai yaitu hanya terbatas pada pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan bercocok tanam. Keadaan ini menyebabkan kesempatan kerja bagi mereka sangat terbatas, akibatnya
pendapatan perkapita masyarakat semakin sangat rendah. Dengan rendahnya pendapatan masyarakat jelas menjadi kendala yang sulit bagi pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perhutani sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas mengelola hutan di pulau Jawa, selain berusaha untuk memperoleh hasil produksi hutan yang menguntungkan bagi perusahaan juga harus ikut meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar hutan. Usaha yang selama ini telah dilaksanakan yaitu dengan mengikutsertakan masyarakat sekitar hutan dalam kegiatan-kegiatan kehutanan.
Salah satunya yaitu Perhutani mengambil masyarakat sekitar hutan menjadi tenaga penyadap getah pinus. Pekerjaan penyadapan getah pinus ini merupakan lapangan pekerjaan yang cukup membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan karena berlangsung terus menerus sepanjang tahun sehingga hasil mereka dari penyadapan juga terus berlangsung sepanjang tahun.
Kondisi di atas menarik untuk diteliti khususnya sejauh mana besarnya pendapatan dari hasil penyadapan getah pinus dapat memberikan konstribusi kepada tenaga penyadap terhadap pendapatan totalnya. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menunjukkan peranan penyadapan getah pinus terhadap kesejahteraan petani penyadap.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar hasil pendapatan dari penyadapan getah pinus dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan penyadap.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan serta informasi mengenai seberapa besar konstribusi dari hasil penyadapan getah pinus terhadap pendapatan totalnya serta diharapkan dapat dipakai sebagai acuan kebijakan untuk selalu mengikutsertakan masyarakat sekitar
hutan dalam kegiatan penyadapan yang dapat meningkatkan kesejahteraannya. Metodologi
Penelitian ini dilaksanakan di dukuh Bolo Desa Senepo Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo, petak 85 f dan 79 b, RPH Guyangan, BKPH Ponorogo Barat, KPH Lawu Ds, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. sedangkan pelaksanaan penelitian pada bulan Pebruari 2009.
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah hasil sadapan pinus dan petani penyadap di petak 85 f dan 79 b sedangkan alat yang digunakan daftar pertanyaan (quesioner) serta alat tulis menulis untuk mencatat hasil data dari lapangan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan memaparkan proses/kegiatan yang dilakukan selama penelitian. Pengambilan sampel yang dilakukan secara random dengan memilih penyadap sebanyak 25 orang dari jumlah keseluruhan penyadap yang ada di desa Sanepo yang berjumlah 49 orang, maka nilai Intensitas Sampingnya (%) sebesar : % 100 49 25 x IS = 51,01 % 50 %.
Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, studi pustaka dan pencatatan data sekunder. Jenis data yang digunakan yaitu data pimer dan data sekunder. Data primer meliputi : pendapatan keluarga penyadap dan kegiatan ekonominya. Sedangkan data sekunder meliputi : keadaan umum tempat penelitian dan kegiatan pada penyadapan getah pinus di petak 85f dan 79b.
Data yang sudah diperoleh dari hasil penelitian dihitung besarnya konstribusi pendapatan penyadap dengan memakai rumus :
%
100
x
Y
X
P
dimana :P = Konstribusi pendapatan dari hasil sadapan selama 1 tahun
X = Pendapatan penyadap dari hasil sadapan selama 1 tahun.
Y = Jumlah total pendapatan penyadap selama 1 tahun
Sedangkan untuk mengetahui besarnya peranan pendapatan penyadap dalam mengangkat tingkat kemiskinan keluarga penyadap dengan cara membandingkan pendapatan keluarga penyadap dengan atau tanpa menyadap getah pinus dimana klasifikasi tingkat kemiskinan memakai klasifikasi Sayogya, 1977 dengan klasifikasi sebagai berikut : ( Awang, 1994 )
1. Paling miskin. Bila pendapatan
perkapita / jiwa / tahun 180 Kg beras 2. Miskin sekali, Bila pendapatan
perkapita / jiwa / tahun 180 – 240 Kg beras 3. Miskin, Bila pendapatan perkapita /
jiwa / tahun 240 – 320 Kg beras 4. Berkecukupan, Bila pendapatan
perkapita / jiwa / tahun > 320 Kg beras.
Dengan dasar harga beras yang berlaku di lokasi penelitian Rp 5.000 ,- / kg Hasil Dan Pembahasan.
A. Tingkat pendapatan penyadap pada masing-masing sumber pendapatan. 1. Sumber pendapatan dari sektor
kepemilikan lahan.
Pendapatan masing-masing penyadap, hal ini karena luas lahan yang dimiliki dan jenis tanaman yang
dibudidayakan juga berbeda. Hasil pendapatan yang diperoleh dari lahan dijumlahkan, baik dari lahan sawah, tegal, maupun pekarangan. Untuk mengetahui tingkat pendapatan penyadap setiap tahunnya dari sektor ini dengan cara menghitung sumber pendapatan dari masing-masing lahan dikonversikan ke dalam bentuk rupiah, sehingga diketahui besarnya pendapatan keluarga penyadap dari sektor kepemilikan lahan.
2. Sumber pendapatan dari sektor ternak. Pendapatan yang diperoleh dari sektor ternak didapatkan dari penjualan ternak yang dimiliki oleh masing-masing penyadap, untuk mengetahui besarnya pendapatan ternak selama satu tahun dengan memakai rumus Simon (1983) yaitu : ternak Umur ternak Harga ternak Jumlah Pendapatan x
Pendapatan dari hasil ternak dinyatakan dalam bentuk rupiah/tahun, setelah diketahui harga ternak pada saat umur dijual.
3. Sumber pendapatan dari lain-lain. Besarnya pendapatan pada sektor lain diperoleh dari pekerjaan sampingan para penyadap, pekerjaan sampingan dilakukan pada saat mereka tidak mengerjakan lahan pertanian maupun penyadapan seperti dari petani (buruh tani milik petani lainnya) maupun dari, kuli ataupun tukang bangunan. Data tentang besarnya prosentase pendapatan dari masing-masing sumber pendapatan dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :
Dari tabel 1 terlihat bahwa sumber pendapatan terbesar pada kepemilikan lahan (51,19%) khususnya dari lahan tegal (40,01%), karena hampir semua penyadap mempunyai lahan dengan hasil utama cengkeh, dimana mempunyai nilai jual yang tinggi sehingga bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian lagi ditabung. Sebagai gambaran setahun dengan sekali panen rata-rata penyadap bisa menghasilkan 200 kg dan harga perkilonya dalam kondisi kering Rp 52.000 ,- (hasil survey pasar 2009). Sedangkan dari sawah hanya memberikan konstribusi sebesar 1,38% dan hasil panen hanya dipakai untuk dimakan sehari-hari dan tidak pernah dijual.
Pendapatan dari ternak memiliki nilai
terbesar kedua setelah tegalan (33,74%) dimana penyadap sebagian
mempunyai ternak sapi yang dijual pada saat hari besar keagamaan ataupun pada saat ada hajatan sehingga nilai jualnya tinggi begitu pula untuk ternak kambing, sedangkan untuk ternak ayam hanya dipakai untuk konsumsi sendiri.
Pendapatan dari penyadapan getah pinus dapat menambah masukan terhadap pendapatan penyadap sebesar Rp. 41.292.000 ,- atau 12,66 % dari seluruh pendapatannya, nilai ini cukup besar walaupun hanya menempati peringkat ketiga sumber pendapatan penyadap mengingat pekerjaan ini hanya merupakan pekerjaan sambilan alalagi bagi penyadap
yang lahan pertaniannya sempit sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya.
Pendapatan dari penyadapan ini memang sangat tergantung dari kemauan / kerajinan Umur pinusnya yang masih KU III sehingga
hasil sadapannya rendah walaupun sudah ada kebijaksanaan dari pihak Perhutani yang mengklasifikasikan hasil sadapan mereka masuk Kualitas A.
B. Peningkatan pendapatan penyadap dari penyadapan getah pinus dalam upaya mengangkat tingkat kemiskinan.
Peningkatan pendapatan penyadap dari penyadapan getah pinus dalam upaya mengangkat tingkat kemiskinan dapat diperkirakan dengan membandingkan pendapatan penyadap dengan adanya pennyadapan getah pinus ( DP ) dan kondisi tanpa penyadapan getah pinus ( TP ). Perbandingan kedua pendapatan tersebut tersaji dalam tabel 2 berikut :
Tabel 1. Prosentase pendapatan pesanggem pada masing-masing sumber pendapatan. No. Sumber Pendapatan Total ( Rp. ) Prosentase ( % )
1. Kepemilikan lahan 166.973.000,00 51,19 a. Sawah 4.500.000,00 1,38 b. Tegal 130.493.000,00 40,01 c. Pekarangan 31.980.000,00 9,80 2. Ternak 110.069.998,00 33,74 3. Lain-lain 7.837.500,00 2,40 4. Penyadapan getah 41.292.000,00 12,66 T O T A L 326.172.498,00 51,19 100,0
Dari tabel 2 terlihat bahwa, dengan adanya penyadapan getah pinus dapat meningkatkan pendapatan rata-rata pesanggem sebesar Rp. 1.651.680,00 / tahun atau Rp. 137.640,00 / bln.
Sedangkan untuk mengetahui berapa besar dapat meningkatkan kondisi kemiskinan pesanggem dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini :
Dari tabel 3, terlihat bahwa dengan adanya penyadapan getah pinus dapat meningkatkan jumlah keluarga paling miskin
dan miskin sekali menjadi keluarga miskin saja atau terdapat 1 keluarga paling miskin dan miskin sekali yang terangkat posisinya, demikian pula terdapat 3 keluarga miskin yang terangkat menjadi berkecukupan, yaitu dari 20 Keluarga menjadi 23 keluarga yang tergolong berkecukupan menurut klasifikasi Prayoga. Hal ini disebabkan dengan adanya penyadapan getah pinus masyarakat desa sekitar hutan yang mempunyai lahan sempit atau bahkan tidak mempunyai lahan sama sekali dapat bekerja sebagai tenaga penyadap untuk meningkatkan produktifitas keluarga yang secara otomatis dapat meningkatkan pendapatan rumah tangganya.
Walaupun demikian keberhasilan sadapan masih dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keseriusan penyadap dan
jarak tempuh menuju ke lokasi sadapan, dimana faktor jarak ini harus diperhitungkan dalam penentuan besarnya upah.
Kesimpulan dan Saran.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyadapan getah pinus dapat memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 137.640 ,- / bulan atau 17,5 % dari total pendapatan penyadap dan menempati peringkat
ketiga setelah pengelolaan tegalan dan kepemilikan ternak. Disamping itu penyadapan juga bisa menghilangkan jumlah keluarga paling miskin dan miskin sekali menjadi keluarga miskin, serta mengangkat jumlah
keluarga berkecukupan sebanyak 3 (tiga) keluarga penyadap dari 25 responden terpilih.
Tabel 2. Pendapatan rata-rata per tahun penyadap dalam kondisi Dengan Penyadapan ( DP ) dan Tanpa Penyadapan ( TP ).
Kondisi Dengan Penyadapan (DP) Kondisi Tanpa Penyadapan (TP) Pendapatan per
tahun (Rp/thn)
Pendapatan rerata
(Rp/thn/penyadap) Pendapatan per tahun (Rp/thn)
Pendapatan rerata (Rp/thn/penyadap) 326.172.498,00 13.046.899,92 284.880.498,00 11.395.219,92 Sumber : Pengolahan data primer.
Tabel 3. Jumlah kondisi tingkat kesejahteraan keluarga penyadap Dengan Penyadapan ( DP ) dan Tanpa Penyadapan ( TP )
Jumlah Keluarga Penyadap Tingkat Kesejahteraan Dengan Penyadapan (DP) Tanpa Penyadapan (TP) Berkecukupan 23 20 Miskin 2 3 Miskin Sekali 1 Paling Miskin 1 J U M L A H 25 25
Perlu keseriusan dari penyadap untuk hasil sadapan yang baik dan pihak perhutani perlu mempertimbangkan jarak tempuh menuju lokasi penyadapan menjadi salah satu faktor dalam penentuan upah penyadapan.
Daftar Pustaka
Anonimous, 1999. Jurnal Hutan Rakyat, Volume 1, Nomor 1, Pemerataan Pendapatan Petani, Pusat Kajian HR Manajemen Hutan UGM, Yogyakarta. --- , 2003 . Jurnal PHJO , Volume
1 , Nomor 2 , Aspek-aspek Sosial Ekonomi Pengelolaan Hutan Jati Optimal , UGM , Yogyakarta.
Awang, S.A. , 1994 . Studi Kemiskinan di Desa Sekitar Hutan dan Upaya Pengentasannya, Buletin MR Profil Kemiskinan Masyarakat Desa Hutan, Thesis S-2 Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
………….. , 2001 . Gurat Hutan Rakyat di Kapur Selatan, Debut Press, Yogyakarta.
Sayogyo, 1977. Golongan Miskin Di Indonesia, Pustaka 2 / II. Bandung. Simon, H. 1983, Analisis
Interrelationship Antara Pembangunan Kehutanan dengan Pembangunan Masyarakat Desa.Thesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan. ………… , 2006 . Dinamika
Perkembangan Hutan Kemasyarakatan Di Indonesia. (Tidak Diplublikasikan)