BAB X. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB X. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan

.

 Pokok Bahasan a. Definisi

Kata arif dalam kearifan menurut kamus umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka diartikan sebagai bijaksana atau kebijaksanaan. Masyarakat lokal merupakan istilah lain dari masyarakat adat, yaitu masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau atau tersentuh oleh berbagai hal kemajuan sekarang ini dan mungkin seterusnya (Rahail 1995). Masyarakat lokal ini merupakan suatu masyarakat yang khas dan unik, banyak berbeda dengan masyarakat modern. Masyarakat adat merupakan sekelompok orang yang memiliki jejak sejarah dengan masyarakat sebelum masa invasi dan penjajahan, yang berkembang di daerah mereka, menganggap diri mereka beda dengan komunitas lain yang sekarang berada di daerah mereka atau bukan bagian dari komunitas tersebut. Mereka bukan merupakan bagian yang dominan dari masyarakat dan bertekad untuk memelihara, mengembangkan, dan mewariskan daerah leluhur dan identitas etnik mereka kepada generasi selanjutnya; sebagai dasar bagi kelangsungan keberadaan mereka sebagai suatu sukubangsa, sesuai dengan pola budaya, lembaga sosial dan sistem hukum mereka.

Sartini (2004) menjelaskan kearifan lokal terbentuk karena adanya hubungan tradisional dengan ekosistem sekitarnya. Mereka memiliki sistem kepercayaan, hukum dan pranata adat, pengetahuan dan cara mengelola sumberdaya alam secara lokal. Sebagai suatu komunitas mereka memiliki ketergantungan dan keyakinan rohani terhadap ekosistem setempat sehingga pengelolaannya dilakukan dengan aturan-aturan yang ketat, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu produk historis masyarakat dalam rangka adaptasi dengan lingkungannya.

Menurut Prof. Nyoman Sirtha dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” dalam http://www.balipos.co.id, bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Oleh karena bentuknya yang bermacam-macam dan ia hidup dalam aneka budaya masyarakat maka fungsinya menjadi bermacam-macam. Balipos terbitan 4 September

(2)

2 2003 memuat tulisan “Pola Perilaku Orang Bali Merujuk Unsur Tradisi”, antara lain memberikan informasi tentang beberapa fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:

1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam. 2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia.

3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. 4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan. 5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat. 6. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam berbagai upacara.

Kearifan lokal terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini (Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986).

Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu (budaya lokal) dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (masyarakat lokal). Dengan kata lain, kearifan lokal bersemayam pada budaya lokal (local culture). Budaya lokal (juga sering disebut budaya daerah) merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk membedakan suatu budaya dari budaya nasional (Indonesia) dan budaya global. Budaya lokal adalah budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di tempat yang lain.

(3)

3 b. Bentuk-bentuk Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Hutan

1. Kearifan Lokal Masyarakat Wonotawang dalam Pengelolaan Hutan

Local wisdom (kearifan lokal setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Pemanfaatan lahan hutan yang arif dan bijaksana menurut deskripsi masyarakat sekitar, diyakini dapat memberikan nilai manfaat, baik ekonomis dan ekologis serta menghasilkan keselarasan dengan alam, kedamaian dan kesejahteraan bagi kehidupan penduduk di Dusun Wonotawang. Namun masyarakat juga percaya bahwa jika pemanfaatan sumberdaya hutan yang ada digunakan dengan tidak bijaksana, maka tidak memungkinkan berbagai macam bencana alam akan sering dijumpai pada masa yang akan datang, seperti masalah kekeringan, lahan hutan yang rusak serangan hama dan penyakit, serta bencana alam lainnya. Permasalahan tersebut telah dirasakan masyarakat dusun Wonotawang pada tahun-tahun sebelumnya dan telah dijadikan pelajaran yang sangat berguna didalam pengelolaan hutan rakyat saat ini.

Saat ini keberadaan pengelolaan hutan rakyat yang dibangun masyarakat Dusun Wonotawang, sepenuhnya telah dirasakan cukup berarti didalam sumbangsihnya terhadap perbaikan kondisi lingkungan hidup dan kondisi lahan, serta hutan yang ada. Pembangunan pengelolaan hutan rakyat setelah memasuki tahun 1990-an telah mengubah kondisi regional yang kering, panas dan gersang. Keberadaan hutan rakyat yang didominasi jenis-jenis sengon dan mahoni telah menjadikan kawasan ini lebih hijau, subur dan sejuk. Hutan rakyat juga cukup memberi dampak dalam antisipasi bencana alam seperti tanah longsor pada kawasan pegunungan di Dusun Wonotawang. Pengelolaan hutan rakyat merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hal tersebut dapat ditinjau dari jenis mata pencaharian penduduk yang secara keseluruhan merupakan petani hutan rakyat, dan hanya sebagian kecil yang menggantungkan diri pada jenis pekerjaan lain seperti buruh tani, buruh industri, dan bangunan.

Pola pemanfaatan dan interaksi masyarakat desa hutan dengan hutan rakyat cukup beragam dan berbeda-beda satu-sama lain, tergantung kondisi kesuburan tanah, luas lahan, serta jenis tanaman yang dikembangkan. Namun secara umum dapat di

(4)

4 identifikasi bahwa hutan rakyat memegang peran penting dalam kehidupan ekonomi serta sosial masyarakat desa hutan secara turun temurun. Hal tersebut dapat tercermin dari pemanfaatan hutan rakyat untuk memenuhi kebutuhan penduduk, baik untuk jangka pendek (sehari-hari), menengah, maupun untuk jangka panjang. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, penduduk biasanya memungut hasil tanaman pengisi berupa sayuran yang ditanam di lahan milik, seperti daun ubi, cabe, dan jenis lainnya yang dapat dimanfaatkan. Dalam pemenuhan kebutuhan jangka menengah dipenuhi dari hasil panen tahunan seperti ketela, ubi, pisang, papaya, kelapa dan lainnya. Kebutuhan jangka panjang dipenuhi dari panenan jangka panjang, berupa pemanenan pada tanaman pokok atau tanaman kayu-kayuan.

Pengelolaan hutan rakyat di Dusun Wonotawang pada umumnya dilakukan dengan konsep pengelolaan yang sangat sederhana, yaitu hanya dengan menanami tanah miliknya dengan tanaman berkayu dan membiarkannya tumbuh berkembang. Dalam perjalanannya, teknik-teknik silvikultur di dalam pengelolaan hutan rakyat juga telah berkembang cukup pesat. Upaya-upaya perbanyakan tanaman dengan metode stek, sambung dan cangkok telah cukup akrab bagi petani hutan rakyat yang ada. Begitu pula dengan model penanaman multi jenis dan multilayer serta cara pemanenan pohon yang tidak merusak tanaman lain telah menjadi warna tersendiri dalam pengelolaan hutan rakyat. Namun perkembangan teknis ini tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas manajerial yang memadai. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses pengaturan hasil yang hampir dikatakan tidak ada, karena selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya mendadak. Pemenuhan ini secara khusus membuat petani hutan rakyat sebagai produsen kayu yang selalu menjadi pihak lemah didalam proses tawar-menawar harga produk berupa hasil kayu yang dipanen.

Kegiatan pengelolaan hutan rakyat di Dusun Wonotawang dikelompokkan menjadi beberapa kegiatan pengelolaan, secara garis besar merupakan teknis pengelolaan lahan yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan teknis pengelolaan hutan rakyat lainnya. Nemun terkait akan kearifan lokal setempat, teknis kegiatan pengelolaan hutan rakyat tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kegiatan, dimulai dengan kegiatan

(5)

5 persiapan lahan, ritual minta izin, penanaman awal, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran.

a. Tahap Persiapan Lahan.

Dalam memasuki kegiatan persiapan lahan, biasanya masyarakat Wonotawang menandai kegiatan ini pada bulan-bulan ketika sudah mendekati musim penghujan. Menurut penuturan warga setempat, hal tersebut didasarkan agar pengelolaan tanaman muda atau anakan selalu mendapat air ketika sudah memasuki musim penghujan. Teknis di lapangan selama kegiatan persiapan lahan mencakup kegiatan pembersihan lahan, pembuatan larikan, jarak tanam, dan pembuatan lubang tanaman.

Kegiatan pembersihan lahan dimulai dengan pembersihan pohon-pohon anakan yang tidak bermanfaat secara dirambah, sedang anakan pohon atau tumbuhan-tumbuhan sebagai bahan obat serta pohon yang bermanfaat menurut penduduk seperti pohon buah-buahan tidak dirambah atau ditebang. Pohon-pohon yang telah dirambah dibiarkan mongering dilantai hutan, dan dibiarkan membusuk sebagai seresah yang nantinya setelah mengalami dekomposisi dan proses alam menjadi humus yang dapat menyuburkan tanaman. Masyarakat tidak membakar pohon-pohon yang telah dirambah dikarenakan proses pembakaran tersebut dapat menimbulkan resiko yang lebih besar berupa kebakaran hutan. Pembakaran selain memunculkan resiko yang besar, juga mengakibatkan lahan yang berada pada proses persiapan cepat ditumbuhi rumput maupun gulma, selain itu kegiatan pembakaran juga akan mematikan beberapa bibit tanaman serta pohon anakan yang berguna seperti pohon obat-obatan dan buah.

b. Tahap Ritual Minta Izin.

Masyarakat Wonotawang pada kondisi saat ini meskipun tergolong masyarakat yang religius, namun di dalam pengelolaan khususnya dalam persiapan lahan, sangat ironis jika dibanding dengan kegiatan persiapan lahan pada masa-masa sebelumnya. Sebelum memasuki tahun 1960-an masyarakat Wonotawang mempunyai cara tersendiri didalam melakukan kegiatan pengelolaan hutan rakyat. Pada era tersebut, masyarakat Wonotawang percaya bahwa hutan serta lahan yang dimiliki masyarakat sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai mistis serta keberadaan dunia lain yang ikut terlibat dan hidup di dalam lahan hutan rakyat. Sehingga di dalam proses persiapan lahan, menurut

(6)

6 kepercayaan masyarakat pada saat itu selalu diikuti dengan proses atau tahap ritual meminta izin terhadap roh atau mahluk lain yang berada pada hutan dan lingkungan sekitar.

Kegiatan ritual tersebut ditandai dengan adanya beberapa upacara seperti pembakaran kemenyan, serta doa bersama yang dilakukan selama 3-7 hari berturut-turut jika pada tahap persiapan lahan belum turun hujan, dan sudah memasuki 5 bulan kering. Bentuk ritual yang tumbuh di dalam kultur dan budaya masyarakat Wonotawang pada era tersebut bahkan masih melekat sampai pada saat ini, namun memasuki kondisi masyarakat yang lebih religius seperti pada kondisi masyarakat Wonotawang saat ini, beberapa kegiatan mistis ini sudah mulai bergeser dan terlupakan oleh masyarakat. Tahap ritual meminta izin tersebut sudah mengalami perubahan dan perkembangan, hal tersebut dapat ditandai dengan tidak adanya upacara ritual berupa pembakaran kemenyan didalam persiapan lahan yang dilakukan masyarakat. Kegiatan tersebut dipercaya sebagai tindakan syirik atau tindakan yang tidak mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kegiatan pembakaran kemenyan sudah tidak dibiasakan lagi di era masyarakat Wonotawang saat ini, hanya saja sebatas doa bersama yang dilakukan masyarakat jika sudah memasuki 5 kali bulan kering bahkan lebih, masih tetap dilakukan sampai pada saat ini juga.

c. Tahap Penanaman.

Sebelum penanaman dilakukan kegiatan yang dilakukan selama proses persiapan lahan seperti pembuatan larikan, dilanjutkan dengan pembuatan piringan tanaman dengan diameter kurang lebih satu meter. Tahapan ini masuk kedalam proses penanaman awal, setelah itu dilakukan pembuatan lubang tanaman dan dibiarkan selama 1-2 minggu. Hal ini bertujuan agar tanah menjadi lebih gembur, namun ada sebagian masyarakat yang tidak melakukan kegiatan ini melainkan langsung melakukan kegiatan penanaman.

Pada proses pengelolaan hutan rakyat, penanaman awal dapat dilaksanakan dengan berbagai cara tergantung dari jenis tanaman yang akan dikembangkan. Pada umumnya setiap jenis tanaman mempunyai persyaratan tumbuh, hal ini tergantung dari kondisi tempat tumbuhnya. Sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan salah satu dari jenis

(7)

7 tanaman yang dipilih dalam pengelolaan hutan rakyat di Dusun Wonotawang saat ini, dan sangat mendominasi. Sebab sistem pemeliharaannya tidak sulit, kondisi alamnya mendukung serta masa panennya relatif cepat.

Beberapa tanaman lain yang dipilih dalam pengelolaan hutan rakyat di Dusun Wonotawang selain sengon(Paraserianthes falcataria), yakni mahoni (Swietenia macrophilla), jati(Tectona grandis), akasia(Acacia auriculiformis), dan sonokeling. Namun dalam pengelolaan hutan rakyat yang dikembangkan, juga dilakukan pengkombinasian dengan tanaman pertanian dan perkebunan sebagai tanaman penyela. Tanaman tersebut antara lain; papaya(Carica papaya), pisang(Musa paradisiaca), lombok/cabe(Capsicum sp), salak, alpukat dan juga durian. Penanaman worawari dan lamtoro (Leucaena leucocephala) juga dilakukan oleh masyarakat Wonotawang dan dijadikan sebagai tanaman HMT (Hijauan Makanan Ternak).

Pada proses penanaman, penanaman sengon dilakukan ke dalam lubang-lubang yang telah dibuat dengan jarak tanam yang bervariasi. Umumnya petani menanam dengan jarak 5 x 5 m, sehingga jika luasan lahan hutan rakyat perhektarnya dapat ditanam sebanyak 400 pohon.

d. Tahap Pemeliharaan.

Penyiangan adalah upaya untuk membebaskan tanaman dari jenis-jenis tanaman pengganggu atau gulma seperti rumput liar, dan semak. Pendangiran adalah upaya penggemburan tanah disekeliling tanaman dengan maksud memperbaiki kondisi disik tanah. Sedangkan penyulaman adalah upaya atau usaha penanaman untuk mengganti tanaman yang rusak/mati.

Kegiatan pemupukan pada lahan hutan rakyat di Dusun Wonotawang dilakukan sebanyak dua kali pemupukan dalam satu tahun, yaitu pada awal penanaman dan 6 bulan setelah penanaman. Selain itu, pada tanaman muda atau anakan yang baru di tanam, diberi perlakuan penutupan dengan ranting pohon atau bahan lainnya untuk menutupi anakan dari serangan hewan liar serta dimaksudkan agar tanaman mempunyai kelembaban yang cukup ketika memasuki bulan-bulan kering. Sedangkan untuk

(8)

8 pemberantasan hama penyakit ini dilakukan pada saat tanaman tersebut mengalami serangan hama atau pada kondisi tanaman sakit. Kebiasaan masyarakat yang ada di Dusun Wonotawang menggunakan penyemprotan pestisida didalam menanggulangi pemberantasan hama dan penyakit yang muncul.

e. Tahap Pemanenan.

Sistem penebangan di Dusun Wonotawang ini dilakukan dengan sistem tebang pilih. Biasanya masyarakat yang ada menjual hasil panen berupa kayu tersebut kepada pembeli (pengusaha kayu) dalam keadaan pohon berdiri dan diborongkan. Pemanenan kayu gelondongan ini biasanya dilakukan oleh pembeli, karena mereka telah mempunyai modal dan peralatan yang lebih memadai seperti gergaji mesin (chain saw) dan sarana pengangkutan.

 Hasil Pembelajaran

Mampu memahami, menjelaskan dan memberikan contoh kearifan lokal masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan dan kelestarian sumberdaya hutan.

.

 Aktifitas

(1) Membaca bahan ajar sebelum kuliah,

(2) Membaca bahan bacaan/pustaka yang relevan (3) Mencari kasus tentang kearifan lokal di kehutanan (4) Diskusi dan menjawab kuis

 Kuis dan latihan

(1) Jelaskan yang dimaksud dengan kearifan lokal dan berikan contohnya terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya hutan !

(2) Berikan contoh kasus beserta analisisnya mengenai relasi antara kearifan lokal sebuah masyarakat dengan pengelolaan sumberdaya hutan !

(9)

9 DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa Putra H.S. 1994. Antropologi Ekologi; Beberapa Teori dan Perkembangannya. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Awang S.A. 2002. Etnoekologi ; Manusia di Hutan Rakyat. Sinergi Press. Yogyakarta Djuwadi. 1976. Beberapa Aspek Produksi Gula Kelapa, FKT UGM, Yogyakarta

Djuwadi & Fanani. 1985. Produksi Tanaman Perladangan sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Peladang di Propinsi Jambi. FKT UGM. Yogyakarta Djuwadi. 2004. Hutan Kemasyarakatan. FKT UGM. Yogyakarta

Dove. M.R. 1985. Sistem perladangan di Indonesia; Studi Kasus di Kalimantan Barat. Penerbitan FKT UGM. Yogyakarta

Field, John. 2010. Modal Sosial. Kreasi Wacana. Yogyakarta.

Hasbullah, J., 2006. Sosial Kapital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. MR-United Press. Jakarta.

Leibo J., 2003. Kearifan Lokal Yang Terabaikan Sebuah Perspektif Sosiologi Pedesaan. Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta

Kartasasmita, G. 1996. Pembangunan Hutan Rakyat, Cides. Jakarta. Keraf S. 2002. Etika Lingkungan. Kompas. Jakarta.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Jakarta

Lobja E. 2003. Menyelamatkan Hutan dan Hak Adat Masyarakat Kei. Debut Press. Yogyakarta

Mubyarto. 1998. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat; Laporan Kaji Tindak Program IDT. Aditya Media. Yogyakarta

Nugraha A. & Murtijo. 2005. Antropologi Ekologi. Wana Aksara. Banten

Nur A. 2010. Peranan Kearifan Lokal dalam Mendukung Kelestarian Hutan Rakyat. FKT UGM. Yogyakarta

Pretty J. & Ward H., 2001, Social Capital and The Environment, World Development, Volume 29, No. 2, UK

Qowi M.R. 2009. Tata Kelola Hutan Lestari Masyarakat Adat Baduy. FKT UGM Yogyakarta

(10)

10 Raharjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta

Ritzer G., dan Goodman D.J., 2004, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta. Salim P., 2001. Teori dan Paradigma: Penelitian Sosial. Tiara Wacana. Yogyakarta Soekanto S. 2010. Sosiologi ; Suatu Pengantar. Rajawali Pers. 2010. Jakarta

Soemarwoto O., 2007, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Soetomo. 2008. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Supriono, Agus., Flassy, Dance J., Rais, Slasi. 2011. Modal Sosial : Definisi, Dimensi, dan Tipologi. Artikel

Wibisono H. 2013. Etnobotani Tanaman Herbal pada Areal Hutan Rakyat oleh Masyarakat Dusun Gedong. Girimulyo. Kulon Progo. FKT UGM Yogyakarta Widiyanto E. 2012. Relasi antara Modal Sosial dengan Implementasi PHBM di Desa

Jono. Kab. Bojonegoro. FKT UGM. Yogyakarta

Yuntari D. 2012. Relasi antara Tata Nilai dan Modal Sosial dengan Interaksi Masyarakat Terhadap Sumberdaya Hutan. FKT UGM. Yogyakarta

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :