Bab ini terdiri atas 4 (empat) bagian. Pada bagian pertama disajikan deskripsi tentang hasil prasurvey yakni (a) disain dan penerapan pembelajaran yang ada sekarang, (b) kemampuan dan aktivitas belajar peserta didik, (c) kemampuan dan kinerja Guru, (d) kondisi dan pemanfaatan sarana, fasilitas, dan lingkungan. Bagian kedua berisikan uraian pengembangan model antara lain (a) model pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers) yang dikembangkan, (b) langkah-langkah pengembangan model, dan (c) bentuk akhir dari mode! pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers).
Dalam bagian ketiga disajikan tentang hasil uji coba pengembangan mode! pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers) meliputi (a) kemampuan dan aktivitas murid, (b) kemampuan dan kinerja Guru yang dituntut dalam penerapan model, (c) sarana, fasilitas, dan lingkungan yang dituntut dalam penerapan model, dan (d) skenario model pembelajaran Advance Organizer. Pada bagian keempat berisikan hasil uji validasi model pembelajaran meliputi (a) dampak penerapan model pembelajaran Advance Organizer terhadap kinerja Guru, dan (b) dampak penerapan model pembelajaran Advance Organizer terhadap kemampuan murid
4.1 Hasil Prasurvey
Studi awal merupakan studi pendahuluan yang bersifat deskriptif dan hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi pola proses pembelajaran sejarah yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers) dalam implementasi kurikulum sejarah di Sekolah Dasar.
123
Langkah ini dipandang perlu sebab dalam penelitian pengembangan ini akan diujicobakan suatu model dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, dan pengembangan model tersebut harus didasarkan pada data empiris tentang bagaimana sebenarnya profil dan kondisi subjek yang akan diteliti.
Dalam prasurvey data dijaring melalui jawaban terhadap instrumen angket yang disebarkan baik kepada guru yang mengajar di kelas 4 maupun kepada murid kelas 4, dan hasil observasi kelas dari sejumlah 8 (delapan) sekolah yang terdapat di wilayah Kotamadya Bandung. Diperoleh responden guru sebanyak 8 (delapan) orang dan responden murid sejumlah 228 orang. Secara umum latar belakang responden guru dapat digambarkan melalui Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1
Latar Belakang Responden Guru
Guru Pendidikan Pengalaman Pengalaman
Terakhir Menaaiar di SD Menaaiar Kelas 4
A SI 21 tahun 1 tahun B SI 24 tahun 3 tahun c SPG 14 tahun 3 tahun D SPG 9 tahun 3 tahun E SI 18 tahun 16 tahun F D2 8 tahun 2 tahun G D2 6 tahun 1 tahun H D2 23 tahun 4 tahun
Dilihat dari latar belakang pendidikan (mayoritas pendidikan tinggi), jawaban terhadap angket yang diberikan dianggap cukup berbobot, dan ditinjau dari pengalaman mengajar di sekolah dasar yang berkisar antara 6 - 2 4 tahun dianggap bahwa para responden guru ini mampu mengekspresikan apa yang dipikirkannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan angket.
Terdapat 4 (empat) hal yang dikemukakan pada bagian ini dan merupakan aspek-aspek yang diteliti pada prasurvey untuk memperoleh gambaran tentang proses pembelajaran sejarah yang sedang berlangsung saat ini, meliputi (a) disain dan penerapan pembelajaran yang ada sekarang, (b) kemampuan dan aktivitas belajar
peserta didik, (c) kemampuan dan kinerja Guru, (d) kondisi dan pemanfaatan sarana, fasilitas, dan lingkungan.
4.1.1 Disain dan penerapan pembelajaran yang sedang berlangsung
Sebelum mengembangkan rencana pengajaran, seorang guru dituntut untuk melakukan persiapan dan dalam tahap persiapan ini guru-guru memberikan jawaban angket seperti tampak pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2
Persiapan Guru Ketika Menerima Tugas Mengajar
Frekuensi Membaca buku pegangan murid
Membaca buku sumber di (uar buku pegangan murid Membaca Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Membaca kurikulum secara keseluruhan
1 1 6 0
TOTAL 8
Mayoritas guru (= 6) memberikan jawaban membaca GBPP sebelum mengembang-kan rencana pengajaran dan tidak ada satupun guru yang membaca kurikulum secara keseluruhan. Jika ditinjau duri pengalaman mengajar di kelas 4, 6 (enam) orang guru mengajar di kelas 4 kurang dari 4 (empat) tahun yang sebenarnya masih perlu untuk memahami kurikulum secara keseluruhan.
Semua guru menyatakan membuat Satpel atau rencana pengajaran sebelum mereka mulai mengajar, tetapi terhadap pertanyaan tujuan pengembangan rencana pengajaran tersebut jawaban yang diberikan bervariasi seperti tampak dalam Tabel 4.3 berikut
Tabel 43
Tujuan Pengembangan Rencana Pengajaran
Frekuensi Untuk laporan ke Kepala Sekolah
Mengetahui kekurangan sehingga dapat dipersiapkan Bahan pembanding dengan hasil karya teman sejavrat Pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
2 1 2 3
125
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, hanya sebagian guru (= 3) yang memahami tujuan atau kegunaan pengembangan rencana pengajaran yakni sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Pendapat guru yang memberikan jawaban bahwa rencana pengajaran dibuat sebagai laporan ke kepala sekolah (= 2) memperlihatkan masih ada guru yang mempunyai pandangan bahwa membuat rencana pengajaran hanya sebagai kewajiban tugas administratif belaka.
Pemahaman guru terhadap pengembangan aspek-aspek dalam rencana pengajaran yakni pengembangan TPK, pengembangan materi pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran, dan pengembangan alat evaluasi hasil belajar dapat dicermati melalui Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4
Pendapat Guru tentang Pengembangan Aspek-aspek dalam Rencana Pengajaran
Frekuensi 1. Pengembangan TPK:
Mencontoh TPK yang sudah ada 1
Mengembangkan dari materi beku pegangan murid 2
Mengembangkan berdasarkan topik-topik dalam GBPP 3
Menjabarkan dari TP yang tercantum dalam GBPP 2
2. Pengembangan materi pembelajaran;
Disesuaikan dengan materi buku pegangan murid 2
Selain berdasarkan buku pegangan murid juga diperluas dengan sumber lain 3 Berdasarkan potok bahasan / subpokok bahasan yang ada datam GBPP 3
Mengembangkan dahuhi AMP 0
3. Pengembangan strategi pembelajaran;
Mencoba bertok-benortebaru 2
Mencocokkan antara TPK dengan materi 6
4. Pengembangan atat evaluasi hasil belajar :
Mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi buku pegangan murid 1 Mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi yang sudah diajarkan 4
Mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan TPK 2
Mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan kfsMtisi yang
memperhitungkan keluasan dan kedalaman materi 1
Berdasarkan paparan Tabel 4.4 di atas dapat disimpulkan bahwa guru-guru masih kurang memahami cara mengembangkan rencana pengajaran yang benar. Terlihat kecenderungan guru untuk menggunakan buku pegangan murid sebagai sumber utama baik dalam mengembangkan TPK, mengembangkan materi pembelajaran, maupun mengembangkan alat evaluasi hasil belajar. Dapat dimengerti kemudian
mengapa guru kurang merasakan kegunaan pengembangan rencana pengajaran, sebab dengan berbekal buku pegangan murid guru sudah merasa dapat memberikan "yang
terbaik" bagi murid-muridnya.
Pada waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sejarah, terlihat kecenderungan guru-guru menyatakan pendapatnya ke arah yang baik yakni sering atau sering sekali melaksanakan kegiatan seperti tampak pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5
Pendapat Guru tentang Kegiatan Belajar Mengajar yang Dilaksanakan
0 1 2 3 i 4
Menjelaskan dahulu tujuan pada awal KBM 1 A \ 3
Mengajarkan materi sesuai dengan TPK 1 1 1 6
Memberikan oambaran umum materi yang akan diajarkan 7 j 1
Memberikan pertanyaan untuk mengetahui apakah murid sudah
mempunya! pengetahuan tentang topik vang akan diajarkan 7
:
1 Menjelaskan dahulu konsep atau istilah yang ada pada matert
yang akan diajarkan 2 4 2
Memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan materi yang diajarkan
r 1
1 ' 4
i
3Menggunakan alat bantu media foambar, peta, dsb.) 2 3 i 1 | 2 :
Memberi kesempatan kepada murid untuk mengemukakan
pendapatnya 1 ' 4
i
3 !Menanyakan kepada murid pengetahuannya tentang gagasan
utama dari materi yang diajarkan 2 4
)
2 Mengulangi aspek-aspek yang dianggap penting berdasarkan
materi yang diajarkan 1 5
i
2
j
Mengulangi definisi konsep / istilah yang terdapat dalam materiyana diajarkan 1 1 5
i
1 Menanyakan kepada murid perbedaan/persamaan aspek-aspek
yana ieraaDat dalam topik materi vang sedang dibahas 2 4 1
Menanyakan kepada murid keterkaitan konsep/istilah dengan
maten secara keseluruhan dalam topik yana sedana disiarkan 1 2 5 I
Memberi kesempatan kepada murid untuk bertanya 3 5
Memberi kesempatan kepada murid untuk mengemukakan contoh-contoh yang berkaitan dengan konsep / istHah yang
sedang dibahas 4 4
Memberi kesempatan kepada murid untuk menghubungkan materi yang sedang dibahas dengan pengalaman/pengetahuan
yang dimifiki 3 2 3
Memberi kesempatan kepada murid untuk mengemukakan
pendapat sendiri (dari sudut pandang laini 3 4 1
Memberi kesempatan kepada murid untuk menceritakan kembali
127
Memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh murid berkaitan
denaan materi vana sedana dibahas 3 5
Membicarakan / mendiskusikan tugas-tugas murid tersebut di
kelas 3 3 2
Memberikan penguatan materi / umpan balik berdasarkan
tuoas-tuoas yana telah diberikan kepada murid 1 5 2
Penje/asan: 0 =/arang sekati dilakukan (antara 0-20%) 1 =jarang dilakukan (antara20.01 -40 %)
2 = kadang-kadang dilakukan (antara40.01 -60%) 3 = sering dilakukan (antara 60.01-80 %)
4=sering sekati dilakukan (antara 30.01 -100%)
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, pada aspek-aspek kegiatan yang lebih spesifik mengarah kepada bentuk Advance Organizers guru memberi jawaban jarang dilakukan atau kadang-kadang dilakukan, yakni menjelaskan dahulu konsep atau istilah yang ada pada materi yang akan diajarkan (= 2 jarang ; = 4 kadang-kadang), menanyakan kepada murid perbedaan / persamaan aspek-aspek yang terdapat dalam topik materi yang sedang dibahas (= 2 jarang ; = 4 kadang-kadang), memberi kesempatan kepada murid untuk menghubungkan materi yang sedang dibahas dengan pengalaman / pengetahuan yang dimiliki (= 3 jarang ; = 4 kadang-kadang), dan memberi kesempatan kepada murid untuk mengemukakan pendapat sendiri dari sudut pandang lain (= 3 jarang; - 4 kadang-kadang).
Jika jawaban guru pada angket dibandingkan dengan hasil observasi di kelas, tampak perbedaan yang sangat mencolok. Melalui observasi aktivitas kelas terlihat bahwa semua guru tidak menjelaskan tujuan pengajaran dan hanya 2 guru yang memberikan gambaran umum materi yang akan diajarkan. Materi yang diajarkan seluruhnya berasal dari buku pegangan murid, sebab cara guru mengajarkan materi adalah dengan membacakan apa yang tertulis dalam buku pegangan murid (= 6 guru). Dari cara pengajaran yang demikian tampak bahwa guru kurang siap dengan materi pengajaran sebab seringkah terjadi proses pembelajaran terhenti beberapa waktu karena guru membaca dahulu buku pegangan murid.
Konsep-konsep yang terdapat dalam materi pembelajaran dijelaskan oleh guru, terapi dapat diidentifikasi beberapa konsep yang salah penjelasannya. Kesalahan penjelasan konsep dapat dilihat melalui Tabel 4.6.
Tabel 4.6
Kesalahan Penjelasan Konsep
Konsep Penjelasan
Kota dan Desa
Prasejarah
Sumber sejarah
Jaman batu
Kota adalah daerah ramai, dan dan desa adalah daerah penghasil padi atau banyak sawah
Orang yang tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf
Orang yang mengerti atau mengetahui tentang sejarah
Nenek moyang datang dengan membawa batu sehinoaa disebut jaman batu
Kesalahan konsep ini akan berakibat ratai, sebab untuk seterusnya murid akan memiliki persepsi yang keliru terhadap konsep-konsep tersebut.
Meskipun guru memberikan contoh-contoh, tetapi contoh yang diberikan adalah contoh yang terdapat dalam buku pegangan murid. Tidak tampak usaha guru untuk memberikan contoh yang dekat dengan murid sehingga yang terjadi kemudian adalah tidak adanya keinginan murid untuk memberi respon terhadap contoh-contoh yang sebenarnya masih terlalu jauh bagi murid. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran terkondisi pada proses satu arah dan murid menganggap contoh sebagai bagian dari pelajaran yang harus dihafalkan.
Pada bagian akhir pelajaran semua guru memberikan tugas berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh murid secara tertulis. Pertanyaan dikembangkan dari buku pegangan murid dan bentuk pertanyaan hanya mencakup domain Cl {Knowledge) Taxonomy Bloom. Tidak tampak usaha guru untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat meningkatkan proses berpikir murid. Sebagian guru memeriksa hasil pekerjaan murid secara individual tanpa membicarakannya dalam forum kelas, dan sebagian guru bahkan tidak memeriksa hasil pekerjaan murid.
129
Berdasarkan perbandingan antara jawaban guru pada angket dengan hasil observasi kelas tampak adanya indikasi jawaban guru mengarah kepada keinginan mereka untuk mengajar dengan baik. Akan tetapi dalam kenyataannya jawaban terhadap angket tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan. Hal ini diperkirakan bersumber dari keterbatasan pengetahuan guru yang komprehensif atas materi pelajaran dan kekurangan kemampuan dan keterampilan dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar yang baik.
Dengan kondisi pembelajaran yang demikian, tidaklah mengherankan apabila murid memberikan pandangan bahwa pelajaran sejarah termasuk pelajaran yang kurang disukai seperti terlihat pada Tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.7
Pelajaran yang Membuat Murid Merasa Tersiksa
Frekuensi Agama 3 PPKn 9 Bahasa Indonesia 5 Matematika 32 IPA 15 IPS 31 Sejarah 4 0 . Bahasa Sunda 88 TOTAL 22É
Mata pelajaran sejarah menempati urutan kedua (17.5%) yang paling tidak disukai oleh murid dan alasan tidak menyukai pelajaran tersebut dikemukakan seperti terlihat pada Tabel 4. S.
Tabel 4.8
Alasan Tidak Menyukai Pelajaran
Frekuensi
Suttt untuk dimengerti 116
Banyak yang harus dihafalkan 65
Kuranq dirasakan kegunaannya 47
TOTAL 228
Mengapa pilihan sulit untuk dimengerti menempati urutan pertama (50.9%) menjadi suatu tanda bahwa proses pembelajaran sejarah harus diperbaiki. Proses pembelajaran
sejarah yang selama ini dikembangkan oleh guru seperti guru kurang mempersiapkannya dengan baik dan dalam kegiatannya hanya bertumpu dengan cara membacakan buku pegangan murid harus ditinggalkan. Sebagai salah satu alternatif, dengan memperkenalkan model pembelajaran Advance Organizers kepada guru diharapkan kualitas pembelajaran tersebut dapat diperbaiki. Hal ini tampak dari pendapat murid yang mencerminkan harapan mereka terhadap bagaimana seharusnya guru menerangkan pelajaran sejarah melalui Tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.9
Harapan Murid Terhadap Guru daiam Menerangkan Pelajaran Sejarah
Setuju TkJaksetuiu j Sebelum memulai pelajaran. Guru menjelaskan dahulu maksud
dan tujuan memaeteiari Sejarah. (78.5%) 179
49
(21.5%) ' Sejak awai Guru hanya langsung menerangkan pelajaran
Sejarah sampai akhir pelajaran. 1
59 (25.88%)
169 ] (74.12%) |
Selama pelajaran Guru memberi contoh-contoh yang banyak
sunava murid menaem. i (86.8%) 198 (13.2%) ! 30 \
Guru hanya membacakan buku pelajaran dan murid
rrtenqqarisbawahi baoian-bagian pentinq dari buku pelajaran (28.95%) 66
162 (71.05%)
Pertama-tama Guru menjelaskan ceritera sejarah secara lencjkap, lalu memberikan catatan
1S6 (81.6%)
42 (18.4%) Guru hanya mendiktekan tahun, nama orang, dan nama tempat >
lalu murid harus menghafalkannva
4 7 (20.61%)
181 (7939%) ; Guru memperlihatkan gambar-gambar yang menarik ketika
meneranoten Seiarah
171 57
(25%) Guru hanya bercerita tentang isi pelajaran Sejarah tanpa i
merwaunakan oambar-oambar i 33
(14.48%)
195 (85.52%) .
Murid-murid boleh memberikan pendapatnya secara bebas j i
150
(65.8%} (34.2%) 78
Berdasarkan apa yang di kemukakan oleh murid sebagai harapan mereka terhadap cara guru mengajar sejarah, terlihat bahwa apa yang mereka peroleh selama ini kurang memenuhi harapan murid. Butir-butir yang dijawab setuju oleh mayoritas murid (yakni lebih dari 50% murid memilih jawaban tersebut) memperlihatkan keinginan murid agar guru mengajar dengan lebih baik sehingga murid memperoleh pemahaman yang lebih baik.
131
4.1.2 Kemampuan dan aktivitas belajar peserta didik
Untuk memperoleh potret kemampuan dan aktivitas belajar murid, data dijaring melalui instrumen angket yang disebarkan kepada murid-murid kelas 4 sekolah dasar yang terpilih sebagai sampel prasurvey dan melalui observasi aktivitas kelas. Angket disebarkan sejumlah 228 dan semua murid mengembalikan angket sehingga N = 228.
Terhadap pertanyaan tentang pendapat murid mengenai aktivitas bersekolah diperoleh jawaban seperti tampak pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10
Pendapat Murid tentang Aktivitas Bersekolah
Frekuensi Menyenangkan karena bisa belajar banyak
Menyenangkan karena banyak teman
Tidak menyenangkan karena terlalu banyak yang harus dipelajari Tidak menyenangkan karena banyak teman yang suka mengganggu
188 34
1 5
TOTAL 228
Dari pilihan pernyataan yang terbanyak dipilih yakni menyenangkan karena bisa belajar banyak (82.5%) dapat disimpulkan anak-anak memahami benar bahwa sekolah adalah tempat untuk belajar. Pendapat ini diperkuat dengan pilinan jawaban mereka tentang aktivitas belajar di sekolah sebagaimana terlihat dalam Tabel 4.11.
Tabel 4.11
Aktivitas belajar di sekolah Menurut Pendapat Murid
Frekuensi
Membuat murid menjadi pandai 138
i
Banyak memberikan pengetahuan kepada murid 83
j
Terlalu berat karena terlalu banyak pelajarannya 4
i
Membosankan karena pelatarannya teriaki sering diulang-ulang 3 |
TOTAL 228
1
Kedua pernyataan di alas menyiratkan bahwa pelajaran yang diberikan di sekolah tidak terlalu berat atau sudah sesuai dengan kondisi tingkat perkembangan anak, sebab hanya 1 anak (0.44%) yang menyatakan bahwa bersekolah itu terlalu banyak yang harus dipelajari dan 4 anak (1.75%) yang menyatakan aktivitas belajar di sekolah terlalu berat karena terlalu banyak pelajarannya.
Aktivitas belajar di luar sekolah juga dilakukan oleh murid-murid. Hal ini tampak dari jawaban mereka terhadap pertanyaan lamanya mereka belajar di rumah seperti terlibat pada Tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.12
Aktivitas Belajar Murid di Rumah
Frekuensi
Kurang dari 1 jam 35
Antara 1 sampai 2 jam 96
Lebih dari 2 jam 38
Tidak menentu 59
TOTAL 228
Menurut murid, rata-rata mereka belajar 1 sampai 2 jam per hari di rumah (42.1%) dan hanya 35 anak (15.4%) yang meluangkan waktu untuk belajar kurang dari I jam per hari. Belajar di rumah erat kaitannya dengan mengerjakan tugas pekerjaan rumah. Sejumlah 193 murid (84.6%) menyatakan bahwa pekerjaan rumah cukup banyak tetapi hal tersebut membantu mereka untuk mengerti pelajaran. Hanya 21 murid (9.2%) yang mengatakan pekerjaan rumah terlalu banyak sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk bermain, dan 14 murid (6.1%) menyatakan tidak perlu ada pekerjaan rumah sebab belajar di sekolah sudah dianggap cukup.
Terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru, 117 murid (51.3%) mengatakan bahwa mereka mengerti apa yang diterangkan oleh guru dan 111 murid (48.7%) menyatakan kadang-kadang. Hal ini memperlihatkan murid memiliki kemampuan untuk belajar, persoalannya adalah bagaimana guru membimbing mereka agar dapat mencapai hasil optimal dalam belajar.
Dalam hal pelajaran sejarah dijaring data tentang bagian dari pelajaran sejarah yang disenangi oleh murid dan bagian dari pelajaran sejarah yang tidak disukai untuk mengetahui bagaimana posisi mata pelajaran sejarah. Jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut dapat dicermati melalui Tabel 4.13 dan Tabel 4.14 berikut.
133
Tabel 4.13
Pendapat Murid Tentang yang Disenangi Dari Pelajaran Sejarah
Frekuensi
Banyak bercerita tentang orang-orang jaman dahulu 131
Memperkenalkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia 75
Banyak tempat-tempat bersejarah vanq bisa dikunjungi 22
Tabe! 4.14
Pendapat Murid Tentang yang Tidak Disukai Dari Pelajaran Sejarah
j Frekuensi
Banyak menghafal angka tahun, nama orang, nama tempat 86
Banyak istilah-rsnlah yang kurang dimengerti 97
Ceritanya mertibirKHJnakan 45
Berdasarkan pendapat yang diberikan oleh murid di atas, tampaknya lebih banyak murid menyukai jika guru menguasai materi dan dapat bercerita banyak (57.5%). Melalui cerita-cerita sejarah yang disampaikan oleh guru seyogyanya dapat dimasukkan unsur-unsur nilai sehingga pelajaran sejarah tidak menjadi pelajaran yang membosankan dan kurang dirasakan kegunaannya. Hal yang paling tidak disukai oleh murid dalam pelajaran sejarah adalah banyaknya istilah-istilah yang kurang dimengerti (42.5%). Ini memperlihatkan bagaimana guru belum cukup mampu menjelaskan konsep atau istilah yang terdapat dalam materi pelajaran sejarah.
Apabila pelajaran sejarah direncanakan dengan baik oleh guru dan dikembangkan dalam kegiatan belajar mengajar ekspositori yang menank dan guru dapat menjelaskan istilah atau konsep dengan benar, maka diharapkan pandangan murid terhadap pelajaran sejarah akan berubah. Tidak perlu lagi guru berkeluh kesah bahwa materi sejarah terlalu banyak sebab materi yang banyak tersebut dapat diatasi dengan memberi tugas membaca kepada murid. Hal ini ditunjang dengan pendapat murid yang memiliki kemauan / senang membaca cerita sejarah (91.6%).
4.1.3 Kemampuan dan kinerja Guru
Untuk mendapatkan gambaran tentang kemampuan dan kinerja guru, data diperoleh melalui sejumlah pertanyaan yang dikembangkan dalam instrumen angket
baik angket untuk guru maupun angket untuk murid Pertanyaan tentang tujuan guru mengajar dapat memperlihatkan bagaimana pandangan guru terhadap tugas atau pekerjaannya. Terhadap pertanyaan tersebut jawaban yang diperoleh dapat dilihat dalam Tabel 4.15 berikut.
Tabel 4.15 Tujuan Guru Mengajar
1 Frekuensi
Menjalankan tugas yakni menyelesaikan materi pelajaran 2
Mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid 1
Memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada murid 1
Mengubah perilaku murid ke arah yang lebih baik 4
TOTAL 8 i
Berdasarkan jawaban yang terlihat pada Tabel 4.15 di atas, hanya 4 guru yang memahami benar bahwa tugas guru tidak hanya mengajar melainkan sebagai pendidik. Pandangan guru terhadap tujuan mengajar memberi implikasi terhadap apa yang dirasakan oleh guru berkenaan dengan tugasnya mengajar. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan oleh guru melalui Tabel 4.16
Tabel 4.16
Pandangan Guru Tentang Tugas Mengajar
Frekuensi
Pekerjaan rutin 2
Kewajiban yang harus dijalankan sesuai perintah 4
Tantangan untuk mengembangkan profesi 2
TOTAL 8
Di sini terlihat bahwa mayoritas guru berpendapat tugasnya mengajar merupakan kewajiban yang harus dijalankan sesuai perintah (= 4) atau pekerjaan rutin (= 2), sedangkan guru yang berpendapat bahwa tugasnya mengajar merupakan tantangan untuk mengembangkan profesi hanya 2 orang. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila kemudian guru mengajar tanpa motivasi untuk mengembangkan kreativitas.
Meskipun pandangan guru terhadap tujuan mengajar dan tugas mengajar cukup memprihatinkan, tetapi masih terdapat pandangan positif terhadap kinerja
135
guru. Semua guru menyatakan belum merasa puas dengan penguasaan materi untuk mengajar dan semua guru juga berpendapat bahwa mereka merasa perlu untuk memperbaiki cara mengajarnya. Untuk memperluas penguasaan materi dan memperbaiki cara mengajar yang dilakukan oleh guru antara lain memperluas pengetahuan dengan membaca (38.10%), mendiskusikan dengan teman sejawat (26.19%), mengikuti penataran atau lokakarya (19.04%), dan aktif dalam forum guru (16.67%). Dari pandangan guru ini dapat disimpulkan bahwa mereka menyadari kekurangannya dan masih mau berusaha untuk meningkatkan kinerjanya sebagai seorang guru.
Dalam pandangan murid, kinerja guru dapat digambarkan melalui Tabel 4.17 di bawah ini.
Tabel 4.17
Pendapat Murid Tentang Kinerja Guru <fi Kelas
Ya
Kadang-kadang
Tidak i
Memberitahu dahulu apa yang akan dipelajari 100 67 61
Memberi kesempatan bertanya jika ada pelajaran
yang kurang dimengerti 188 35 5
Memberi contoh-contoh sehingga murid lebih
mengerti pelajaran 190 36 2 |
Memberikan tugas pekerjaan rumah 157 67
4 !
Memeriksa tugas PR dan menjelaskan kalau ada
kesalahan 127 82 19 !
Yang menarik dari Tabel 4.17 di atas adalah pendapat murid yang menyatakan bahwa guru memberitahu dahulu apa yang akan dipelajari hanya 100 anak (43.86%); hal ini agak berbeda dengan pengakuan para guru yang hampir semua menyatakan sering / sering sekali menjelaskan dahulu tujuan di awal kegiatan belajar-mengajar. Sejumlah 157 murid (68.9%) menyatakan guru memberi tugas pekerjaan rumah (PR), tetapi hanya 127 murid (55.7%) yang mengatakan bahwa tegas pekerjaan rumah itu diperiksa dan dijelaskan kalau ada kesalahan. Hal ini agak berbeda dengan pendapat yang dikemukakau oleh mayoritas guru yang menyatakan sering atau sering sekali membicarakan / mendiskusikan tugas-tugas murid di kelas. Di sini tampaknya
memang kinerja guru harus ditingkatkan kualitasnya dengan berpedoman pada apa yang seharusnya dilakukan oleh guru.
Pemahaman guru terhadap sejarah cukup memadai, dengan 5 orang guru (62.5%) memberikan jawaban bahwa sejarah dapat diartikan sebagai pelajaran yang dapat diambil hikmahnya berdasarkan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Dalam hal ini guru memahami bahwa melalui pelajaran sejarah dapat ditanamkan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia, artinya guru cukup menyadari bahwa pelajaran sejarah tidak hanya sekedar menjejalkan fakta-fakta kepada murid tetapi lebih daripada itu sejarah merupakan pendidikan nilai. Pernyataan ini diperkuat dengan pendapat guru yang memilih dapat menanamkan nilai-nilai positif (87.5%) terhadap pertanyaan pandangan guru terhadap mata pelajaran sejarah.
Pemahaman yang memadai terhadap sejarah sebagai suatu bidang kajian kurang diikuti oleh pemahaman terhadap pengajaran sejarah. Sejumlah 4 orang guru menyatakan bahwa terlalu banyak materi yang harus disampaikan, dan 4 orang guru memberikan pandangan alokasi waktu tidak sesuai dengan beban materi. Alasan klasik ini memperlihatkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru terhadap kinerja profesi keguruan yakni pengembangan rencana pengajaran dan implementasi kurikulum dalam lingkup kegiatan belajar mengajar di kelas.
Meskipun tampaknya masih cukup banyak kekurangan yang dimiliki oleh guru, tetapi terdapat suatu hal yang cukup membesarkan hati yakni mereka semua membuka diri untuk menerima dan menerapkan pembaharuan (inovasi) dalam bidang pendidikan khususnya pengajaran sejarah. Hal ini mengisyaratkan kemungkinan diperkenalkannya dan diterapkannya model pembelajaran Advance Orgamzers dalam implementasi kurikulum sejarah dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran yang sudah ada.
4.1.4 Kondisi dan pemanfaatan sarana, fasilitas, dan lingkungan
Sekolah-sekolah yang diobservasi berada dalam lingkungan yang cukup memadai, artinya faktor keamanan bagi murid cukup diperhatikan dengan membuat
137
batas yang jelas antara sekolah dengan lingkung»! di luar sekolah. Pembatas ini selain merupakan pembatas pagar juga terdapat halaman yang memisahkan sekolah dengan lingkungan luar sehingga keberadaan ruang-ruang kelas cukup terhindar dari gangguan di luar sekolah.
Kondisi sekolah pada umumnya memenuhi syarat minimal sebagai suatu pusat pendidikan, artinya tiap sekolah memiliki ruang-ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, dan halaman tempat dilakukannya aktivitas di luar kelas. Beberapa sekolah memiliki ruang perpustakaan atau sudut terpisah yang dijadikan sebagai perpustakaan sekolah. Kendala yang dihadapi pihak sekolah adalah jumlah ruang yang dimiliki dengan jumlah sekolah yang menempati satu lokasi kurang berimbang karena rata-rata dalam satu lokasi terdapat 4 (empat) sekolah (SDN Cipaganti, SDN Patrakomala, SDN Nilem, SDN Balonggede). Untuk mengatasi kendala tersebut, dilakukan pengaturan 2 (dua) sekolah dengan waktu belajar pagi hari dan 2 (dua) sekolah dengan waktu belajar siang hari, dan keduanya bergantian dalam waktu 1 (satu) minggu sekali.
Kelengkapan ruang kelas menurut para guru kurang memadai (62.5%) Pendapat ini ditunjang dengan hasil observasi kelas yang memberi gambaran jumlah bangku belajar tidak sesuai dengan jumlah murid sehingga kapasitas 1 (satu) bangku yang seharusnya hanya untuk 2 (dua) murid dipadatkan untuk 3 (tiga) atau 4 (empat) murid. Bangku yang ada pun sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai bangku belajar, apalagi untuk murid SD yang sedang dalam masa pertumbuhan. Demikian pula dari sejumlah 8 (delapan) kelas yang diobservasi, 2 (dua) kelas memiliki pencahayaan yang kurang baik, dan hal ini cukup mengganggu proses pembelajaran.
Para guru memberikan tanggapan bahwa kelengkapan media / sumber belajar sangat tidak memadai untuk menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar (= 6) dengan alasan banyak murid tidak memiliki buku pegangan murid (~ 4) dan alat bantu pengajaran seperti gambar-gambar peta, atlas, sangat kurang (= 3). Memang alasan ini cukup berarti, sebab ketika dilakukan observasi kelas pada 3 (tiga) sekolah, murid harus pindah bangku dan berdesakan agar dapat turut membaca dari buku
pegangan murid yang jumlahnya sangat minim. Hal ini cukup mengganggu aktivitas pembelajaran sebab 1 (satu) buku disimak oleh 3 (tiga) atau 4 (empat) murid dan tidak tertutup kemungkinan konsentrasi murid terganggu oleh karena ada temannya yang bermain-main atau mengajak berbicara.
Kepemimpinan kepala sekolah dianggap cukup menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar (= 5), dan alasan yang dikemukakan oleh guru adalah bahwa kepala sekolah selalu memberi dorongan untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar, dan kepala sekolah berusaha melaksanakan fungsi kepemimpinannya. Jika ada guru yang berpendapat kepemimpinan kepala sekolah kurang menunjang (= 3) alasannya cenderung kepada kurangnya kepala sekolah memberi kesempatan kepada guru tersebut untuk mengikuti penyegaran di luar sekolah (lokakarya, seminar, dan sebagainya). Hal ini dapat dimengerti, sebab kesempatan mengikuti penyegaran di luar sekolah berkaitan dengan masalah dana.
4.2 Pengembangan Model Pembelajaran Advance Organizers
Pengembangan model pembelajaran Advance Organizers pada penelitian ini disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan sekolah sebagaimana tergambar pada hasil prasurvey. Dengan demikian bagian ini berisi uraian tentang (a) model pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers) yang dikembangkan, (b) langkah-langkah pengembangan model, dan (c) bentuk akhir dari model pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers).
4.2.1 Model Pembelajaran Advance Organizers yang dikembangkan
Tujuan dikembangkannya model pembelajaran Advance Organizers adalah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran Sejarah sehingga model pembelajaran yang dikembangkan mengacu dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di lapangan yakni bagaimana tuntutan kurikulum Sejarah untuk kelas 4 Sekolah Dasar dan bagaimana kondisi pembelajaran sejarah yang saat ini sedang berlangsung di sekolah Model pembelajaran Advance Organizers sebenarnya sudah diperkenalkan sejak tahun
139
1960an dan dari berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan model ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik (Baron, 1971; Lucas, 1972; Clawson & Barnes, 1973; Lawton, 1977). Harus diakui bahwa model pembelajaran tersebut belum pernah diterapkan untuk bidang studi sejarah. Sejalan dengan itu dirasakan adanya suatu tantangan yaitu bagaimana penerapannya di Indonesia yang menuntut perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
Pada posisi ini pengembangan model pembelajaran Advance Organizers merupakan suatu inovasi dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran. Wilson & Wilson (1971 : 4) menjelaskan bahwa inovasi merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru yang diperlukan (hmovation is defined as tbe äbitity to make wanted new combinations). Kata kunci yang digunakan adalah wanted, sehingga inovasi harus mengacu kepada dilakukannya perubahan karena memang diperlukan. Dengan demikian hasil prasurvey merupakan dasar berpijak dikembangkannya model pembelajaran Advance Organizers yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
Dari hasil prasurvey teridentifikasi bahwa sejarah merupakan mata pelajaran yang kurang disukai oieh murid sebab dianggap sukar untuk dimengerti. Hai ini tampak dari jawaban murid terhadap pertanyaan pada pelajaran apa murid merasa paling tersiksa. Dari sejumlah 8 (delapan) pilihan berdasarkan mata pelajaran yang diberikan di kelas 4 SD, 17.5 % murid memilih mata pelajaran sejarah yang merupakan urutan kedua terbanyak (perhatikan Tabel 4.7). Alasan tidak menyukai mata pelajaran tersebut dikemukakan oleh murid dengan pilihan sukar untuk dimengerti sebagai pilihan urutan pertama yakni sebanyak 50.9 % (perhatikan Tabel 4.8).
Dilihat dari tanggapan murid bahwa mata pelajaran sejarah dianggap sukar untuk dimengerti, pernyataan ini tampaknya menggambarkan relevansinya dengan pemikiran teoritik Piaget (Sprinthall & Sprinthall, 1990; Ginn, 1995) tentang tingkat perkembangan anak yang pada usia kelas 4 SD berada dalam batas perkembangan konkrit operasional dan formal. Tampaknya perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut
apakah pernyataan tersebut di atas memang karena belum waktunya mata pelajaran sejarah diberikan kepada murid kelas 4 SD atau ada variabel lain yang cukup berpengaruh terhadap proses pembelajaran sejarah, sebab masih dalam pemikiran Piaget perkembangan anak membangun struktur kognitif untuk memahami dan merespon sesuatu juga dipengaruhi oleh lingkungannya (Funderstanding, 1998 : 1). Untuk itu kemudian dilakukan penelusuran bagaimana pembelajaran sejarah yang terjadi selama ini.
Dilihat dari pengembangan disain pembelajaran dan implementasinya, hasii prasurvey memperlihatkan bahwa guru sebagai pengembang kurikulum di kelas kurang memberi perhatian terhadap kedua aspek tersebut.
" Guru karang memahami perlunya pengembangan disain /rencana pengajaran Sebagian besar guru berpendapat persiapan yang perlu dilakukan sebelum mengajar adalah membaca GBPP dan tidak satupun guru yang membaca kurikulum secara keseluruhan (lihat Tabel 4.2). bila dikaitkan dengan pengalaman mengajar, sebagian besar guru memiliki pengalaman mengajar di kelas 4 antara 1 - 3 tahun (lihat Tabel 4.1), di mana sebenarnya dengan pengalaman mengajar yang relatif sedikit guru masih perlu untuk memahami kurikulum secara keseluruhan dan hal ini dapat dicapai jika guru tidak hanya membaca GBPP melainkan membaca pula dokumen kurikulum secara menyeluruh.
Miskinnya pemahaman guru terhadap kurikulum diperberat dengan kurang selarasnya pandangan guru terhadap tujuan pengembangan rencana pengajaran Hanya sebagian kecil guru yang memahami bahwa rencana pengajaran digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belaj ar-mengaj ar. Sebagian besar guru menyatakan bahwa tujuan pengembangan rencana pengajaran sebagai laporan kepada kepala sekolah, untuk mengetahui kekurangan sehingga dapat dipersiapkan, dan sebagai bahan pembanding dengan hasil karya teman sejawat (periksa kembali Tabel 4.3). Jika pandangan yang kurang selaras mendominasi pandangan guru ini, maka dapat dibayangkan betapa rencana pengajaran yang seharusnya menjadi pedoman guru dalam mengajar tidak dapat berfungsi
141
sebagaimana mestinya. Di sini dapat dikatakan bahwa apabila guru akan mengajar maka hal tersebut kurang ditunjang dengan persiapan yang memadai.
Guru kutang memahami cara pengembangan rencana pengajaran
Pengembangan rencana pengajaran didasarkan pada empat aspek utama yakni pengembangan TPK, pengembaangan materi pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran, dan pengembangan alat evaluasi hasil belajar. Dalam aspek pengembangan TPK hanya sebagian kecil guru yang memberikan pendapatnya bahwa pengembangan TPK dilakukan melalui penjabaran Tujuan Pembelajaran yang tercantum dalam GBPP. Mayoritas berpendapat pengembangan TPK dilakukan dengan cara mencontoh dari TPK yang sudah ada, mengembangkan dari materi buku pegangan murid, dan mengembangkan dari topik-topik yang terdapat dalam GBPP. Apa yang dilakukan oleh mayoritas guru ini memperlihatkan dengan cara yang demikian maka TPK yang merupakan aspek terpenting dalam mencapai keberhasilan pembelajaran tidak dikembangkan sesuai dengan fungsinya.
Jika pengembangan TPK sebagai titik tolak dalam suatu proses pengembangan rencana pengajaran sudah dilakukan dengan cara yang kurang memadai, maka aspek-aspek berikutnya yang saling berkaitan dengan aspek pengembangan TPK akan mengikuti aspek awal tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pandangan guru tentang pengembangan materi pembelajaran yang mayoritas memilih jawaban disesuaikan dengan materi buku pegangan murid dan ditambah dengan sumber lain tanpa satupun guru berpendapat untuk mengembangkan AMP. Aspek pengembangan strategi pembelajaran dijelaskan oleh mayoritas guru dengan cara mencocokkan antara TPK dengan materi; dan pendapat mayoritas guru tentang aspek pengembangan alat evaluasi hasil belajar cenderung kepada mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi buku pegangan murid atau materi yang sudah diajarkan. Hanya sedikit guru yang memberi pendapat tentang pengembangan alat evaluasi hasil belajar dengan cara menyesuaikan dengan TPK (lihat Tabel 4.4).
Berdasarkan hasil di atas, dapat dipahami mengapa guru cenderung untuk tidak mempersiapkan rencana pengajaran sebagaimana mestinya, sebab selain memang pemahaman terhadap aspek-aspek pengembangan rencana pengajaran yang kurang memadai, guru juga cenderung menggunakan buku pegangan murid sebagai pedoman mengajar. Dengan berbekal buku pegangan murid, guru sudah merasa siap untuk mengajar. Apabila pengetahuan dan pemahaman guru hanya sebatas pada materi buku pegangan murid, maka dapat dibayangkan bagaimana amat terbatasnya pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh murid.
« Dalam proses kegiatan helajar-mengajar cara pengajaran terlihat scadanya
Hal ini tertangkap dari hasil pengamatan di kelas, di mana semua guru tidak menjelaskan tujuan pengajaran di awal kegiatan belajar-mengajar, materi yang diajarkan seluruhnya berasal dari buku pegangan murid, dan cara mengajarkannya dengan pendekatan membacakan apa yang tertulis dalam buku pegangan murid. Dalam kondisi yang demikian, tidaklah mengherankan jika kemudian ditemui konsep-konsep yang harus dijelaskan lebih lanjut oleh guru dan terjadi kesalahan penjelasan konsep tersebut (perhatikan Tabel 4.6). kesalahan penjelasan konsep ini dapat terjadi karena memang guru kurang siap dalam mempresentasikan materi belajar (hanya membacakan buku pegangan murid dengan suara keras di depan kelas), padahal kesalahan tersebut dapat berakibat fetal di mana murid untuk seterusnya akan memiliki pemahaman yang salah tentang konsep tersebut.
Apabila guru harus memberikan contoh-contoh, apa yang diberikan itu terbatas pada contoh-contoh yang terdapat dalam buku pegangan murid. Ketidaksiapan guru menyebabkan sukar bagi guru untuk mencari contoh-contoh lain yang relevan dan lebih dekat dengan murid Akibatnya, murid menganggap bahwa contoh-contoh yang diberikan itu sebagai bagian dari pelajaran yang harus diterima dan dihafalkan.
Mengapa sampai terjadi guru-guru kurang memberi perhatian terhadap tugas profesionalnya ? Hal ini dapat dikaji melalui penelusuran terhadap bagaimana
143
pandangan guru tentang tugas dan pekerjaannya. Hasil prasurvey memperlihatkan beberapa hal sebagai berikut
" Kekeliruan persepsi gnm tentang tujuan mengajar
Sebagian guru berpendapat bahwa tujuannya mengajar identik dengan menjalankan tugas yakni menyelesaikan materi pelajaran dan memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada murid. Hanya sebagian guru yang memberikan pandangan bahwa tujuannya mengajar adalah untuk mengubah perilaku murid ke arah yang lebih baik (perhatikan Tabel 4.15). atas dasar pandangan tentang tujuan mengajar ini berdampak kepada apa yang dirasakan oleh guru tentang tugasnya mengajar tersebut. Mengajar hanya dianggap sebagai tugas rutin dan kewajiban yang harus dijalankan sesuai perintah, dan hanya sebagian kecil guru yang menganggap bahwa mengajar merupakan tantangan untuk mengembangkan profesi (periksa Tabel 4.16).
Dengan kekeliruan pandangan tentang tujuan mengajar ini, tampaknya tidak mengherankan apabila guru mengajar sebatas menjalankan kewajiban yang dianggap suatu tugas rutin sehingga kurang berkembang kreativitas guru untuk mencari solusi jika menghadapi masalah-masalah yang berkenaan dengan kegiatan belajar-mengajar. aLasan-alasan klasik yang sering dikemukakan oleh guru seperti beban materi yang harus diselesaikan terlalu banyak, alokasi waktu yang kurang, memperlihatkan kurangnya pemahaman guru terhadap tugas profesionalnya.
" Kurangnya kelengkapan sarana dan fasilitas
Kondisi sekolah terutama kelengkapan kelas dan kelengkapan media belajar turut mempengaruhi kinerja guru dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Di satu sisi guru dituntut untuk bekerja secara profesional, tetapi di sisi lain tugas guru tersebut kurang ditunjang oleh kelengkapan sarana dan iasilitas yang memadai. Meskipun demikian, apabila guru berpandangan positif terhadap tujuannya mengajar, sebenarnya aspek sarana dan fasilitas ini masih dapat diatasi melalui kreativitas guru.
Bagaimana sebenarnya harapan murid terhadap pembelajaran sejarah, hasil prasurvey memberikan gambaran bahwa yang diinginkan oleh murid ketika guru mengajar sejarah adalah:
a. Sebelum memulai pelajaran, guru menjelaskan dahulu maksud dan tujuan mempelajari sejarah;
b. Selama pelajaran guru memberi contoh-contoh yang banyak supaya murid mengerti;
c. Pertama-tama guru menjelaskan cerita sejarah secara lengkap baru kemudian memberikan catatan;
d Guru menggunakan media (gambar-gambar) yang menarik ketika menerangkan sejarah;
e. Murid boleh memberikan pendapatnya secara bebas (perhatikan Tabel 4.9).
Apa yang diharapkan murid ini memperlihatkan bahwa selama ini mereka kurang memperoleh pengajaran yang baik dalam arti pengajaran yang menuntun mereka untuk memahami sejarah. Pernyataan a. dan b. memperlihatkan kesesuaian dengan penjelasan terdahulu bahwa guru kurang mempersiapkan rencana pengajarannya sehingga penjelasan tujuan di awal KBM tidak dilakukan, dan kurangnya contoh-contoh yang diberikan oleh guru karena guru terlalu ketat berpatokan pada buku pegangan murid. Pernyataan c. memperlihatkan bahwa cara pengajaran dengan membacakan isi buku pegangan murid tidak membantu murid untuk memahami substansi materi sejarah. Pernyataan d. menggambarkan bahwa penggunaan media pengajaran akan menarik perhatian murid untuk mau memperhatikan pengajaran guru, sedangkan pernyataan e. memperlihatkan perlunya pembelajaran dua arah yang selama ini terjadi adalah guru sebagai narasumber memberikan pengetahuan kepada murid (pengajaran satu arah).
Berdasarkan basil prasurvey kemudian dicoba untuk dilakukan pengembangan model pembelajaran yang mengakomodasi apa yang diharapkan oleh murid dan dapat memperbaiki kinerja profesional guru. Model pembelajaran yang dikembangkan didasarkan pada model pembelajaran Pengemas Awal (Advance Organizers), dan
HS
terhadap model ini dilakukan modifikasi sesuai dengan temuan-temuan hasil prasurvey. Penekanan yang dilakukan dalam pengembangan model ini adalah dalam h a l ;
(a). Pengembangan perencanaan pengajaran, sesuai dengan temuan hasil penelitian prasurvey di mana guru kurang memberi perhatian terhadap pengembangan rencana pengajaran.
(b). Proses pembelajaran, sesuai dengan temuan hasil prasurvey yang memperlihatkan proses KBM dilakukan seadanya sedangkan harapan murid adalah perbaikan proses KBM.
(c). Penggunaan media pembelajaran, sesuai dengan temuan hasil prasurvey yang memberi gambaran guru amat jarang memperhatikan penggunaan media sedangkan murid mengharapkan mgunakannya media selama proses K B M berlangsung.
(a) Pengembangan Perencanaan Pengajaran
Kekuatan model pembelajaran Advance Organizers terletak pada tujuan utamanya yakni mengembangkan struktur kognitif dan menambah daya ingat {retention) terhadap informasi baru (Joyce & Weil, 1980 : 81), sehingga Advance Organizers secara umum didasarkan pada konsep, proposisi, dan hukum-hukum yang terdapat dalam kajian ilmu, dalam hal ini sejarah. Tujuan ini dapat dicapai jika pengembangan rencana pengajaran dilakukan sesuai dengan tuntutan kurikulum, artinya rencana pengajaran yang dikembangkan benar-benar berfungsi sebagai pedoman pengajaran. Dalam model pembelajaran Advance Organizers pada langkah pertama hanya dijelaskan bahwa guru harus melakukan klarifikasi terhadap konsep-konsep utama, sedangkan klarifikasi ini dapat dilakukan jika guru memahami konsep-konsep utama dan konsep pendukung yang terdapat dalam materi belajar. Dengan demikian pada pengembangan model dalam penelitian ini ditambahkan aspek pengembangan peta konsep yang dilakukan ketika mengembangkan rencana pengajaran.
Ketika akan mengembangkan rencana pengajaran sejarah (setelah memahami oijuan pembelajaran), terlebih dahulu diidentifikasi konsep-konsep yang terdapat dalam materi pembelajaran sehingga dapat disusun struktur pengetahuan sejarah yang terdapat dalam materi belajar untuk topik tersebut Dalam mode) Advance Organizers, pemahaman terhadap struktur suatu bidang ilmu diperoleh melalui perancah (scaßbJding) disiplin ilmu tersebut, dan dalam kajian sejarah perancahnya adalah konsep ruang, konsep waktu, konsep peristiwa yang melibatkan pelaku, dan konsep sebab-akibat dalam sejarah. Atas dasar konsep-konsep dalam perancah tersebut, berbagai konsep yang teridentifikasi dalam materi belajar disusun ke dalam suatu bentuk struktur sehingga tampak sebagai suatu kesatuan pemetaan yang komprehensif.
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) sejarah untuk kelas 4 sekolah dasar pada catur wulan 1 adalah siswa mengenal perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan Nusantara dan peninggalan-peninggaJannya (Suplemen GBPP Sejarah, 1999). Konsep utama pada pokok bahasan
ini adalah kerajaan dan apabila akan dikembangkan suatu struktur yang mengacu kepada perancah, maka bentuk peta konsepnya {mapping concept) akan tampak seperti yang terlihat pada Bagan 4.1 berikut
KBUMAN Lokasi /Tempat (konsep ruang) I X Masa Pemerintahan (konsep waktu) X
Raja yang memerintah (konsep pelaku) Pemerintahan (konsep peristiwa) Pedalaman i. . 1 Pantai } i i
•—
r
TPolitik Sosial Budaya
Kekuasaan Scortomi Agama i Sebatuktbat Sebab-akibat Pertanian Perda-gangan Pelayaran Bagan 4.1 Pemetaan Konsep
147
Pemetaan konsep ini dikembangkan merujuk kepada bentuk peta konsep hirarkis yang dikemukakan oleh Ausubel (Joyce & Weil, 1980 : 80) ditujukan bagi guru sendiri dalam rangka memahami materi pengajaran.
Dalam rencana pengajaran juga dikembangkan prosedur pembelajaran yang mengarah kepada langkah-langkah pembelajaran Advance Organizers sehingga bentuk rancangan prosedur pembelajaran diuraikan dalam tiga langkah yakni presentasi pengemas awal (advance organizers), presentasi tugas belajar / materi, dan memperkuat organisasi kognitif. Pada bagian presentasi pengemas awal (advance orgaruzers) itulah diletakkan pemetaan konsep sehingga ketika guru mengajar, pada langkah presentasi pengemas awal {advance organizers) akan dilakukan klarifikasi terhadap konsep-konsep utama yakni guru mencoba untuk menggali pengetahuan yang telah dimiliki oleh murid (struktur kognitif lama murid) yang berhubungan dengan konsep-konsep yang akan diajarkan (struktur kognitif baru).
Dengan demikian aspek-aspek yang terdapat dalam rencana pengajaran terurai secara rinci dan dapat dicermati melalui contoh format pengembangan rencana pengajaran seperti tampak pada Bagan 4.2 berikut
RENCANA PENGAJARAN
T«ngga) :
(uraikan TPK secara rinci dan dapat diukur)
(uraikan materi pembelajaran berdasarkan analisis materi pengajaran)
: 1. Presentasi JXxigcmm A wx! (Advance Or&rims): * Mengkomunikasikan tujuan
° Klarifikasi konsep-konsep utama (berdasarkan peta konsep yang dikembangkan) " Tanya jawab, untuk mengetahui struktur kognitif murid
2 Presentasi Tbgas Betajar /Materi :
° Ekspositori materi (memperlihatkan media Bagan)
° Memperlihatkan peta (pengaruh lokasi leriadup perkembangan pemerintahan) * Memberi tugas ° Tanya - jawab MWaPrfujaran W*tn Topik Poke* Bahasan Muten Parfwlajaran
" Mengingatkan kembali siswa tenlang konjcp ° Menanyakan ringkasan materi
° Menanyakan persamaan, perbedaan, hubungan sebab-akibal SumUa bt&ifai dan medi»
° Buku pegangan o?» J Pew
" Media Bagan
Ewluasi : _ _
pantangkan pertanyaan sesuai TPK)
Bagan 4.2
Format Rencana Pengajaran (b) Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan implementasi rencana pengajaran dan dalam bal ini model pembelajaran Advance Organizers berpijak pada 3 (tiga) langkah yakni presentasi Pengemas Awal (Advance Organizers), presentasi tugas belajar / materi, dan memperkuat organisasi kognitif.
Langkah pertama (presentasi pengemas awal) merupakan langkah penentuan keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, sebab dalam langkah ini dilakukan klarifikasi terhadap konsep-konsep. Jika guru berhasil mengendalikan langkah pertama, maka murid mudah menerima informasi baru, murid senang belajar, dan perhatian murid tetap terkonsentrasi. Dengan dilakukannya klarifikasi dalam bentuk tanya jawab, guru berusaha menggali struktur kognitif lama murid sehingga murid merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Dengan demikian perhatian murid akan terkonsentrasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Pada posisi inilah proses pengembangan konsep-konsep berlangsung yakni struktur kognitif lama murid terkait dengan konsep-konsep baru sehingga akan terbentuk struktur kognitif baru. Dalam langkah ini perhatian utama diberikan pada penjelasan dan keterkaitan konsep-konsep, serta memberi kesempatan kepada murid untuk memberikan rcspon atau bertanya.
Pada langkah kedua (presentasi tugas belajar / materi) guru dapat mengembangkan pembelajaran melalui bentuk bercerita. Dikaitkan dengan sejarah yang berisikan peristiwa, strategi bercerita akan memudahkan murid untuk menangkap esensi isi materi. Agar terlihat hubungan logis antar materi, perlu
149
dikemukakan contoh-contoh aktual sebagai bahan perbandingan. Dengan dilakukan-nya aktivitas bercerita dan mencari contoh-contoh aktual, dapat dimabukkan unsur-unsur nilai ke dalam proses pembelajaran tersebut {mengapa kerajaan runtuh, apa akibatnya jika terjadi perebutan kekuasaan, siapa yang menderita dan menjadi korban, lihat peristiwa di Timor Timur sekarang, dan sebagainya). Hal yang perlu mendapat perhatian dalam langkah kedua ini adalah disediakannya waktu untuk memberi catatan kepada murid. Ha! ini perlu dilakukan mengingat hasil prasurvey memperlihatkan sebagian besar murid tidak memiliki buku pegangan murid, sehingga untuk mengatasi kendala tersebut seyogyanya guru menyediakan waktu untuk memberikan catatan kepada murid agar mereka memiliki bahan untuk belajar.
Langkah ketiga merupakan langkah memperkuat organisasi kognitif murid. Dalam langkah ini dikembangkan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh murid (dalam bentuk tugas / test) dan dapat berfungsi sebagai evaluasi hasil belajar murid. Karena tujuan penggunaan model ini adalah untuk mengembangkan struktur kognitif (proses berpikir) murid dan memperkuat daya ingat terhadap informasi baru, maka pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan tidak hanya mengukur aspek pengulangan {recall) tetapi juga aspek pemahaman dan analisis. Dikaitkan dengan tujuan penelitian yang ingin melihat perolehan hasil dalam hal pemahaman berpikir kesejarahan (periksa kembali Bagan 1.3 pada Bab I) yakni chronological thinking, historical comprehension, dan historical analysis and interpretation, maka pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan ditujukan kepada ketiga aspek berpikir kesejarahan tersebut dalam bentuk pertanyaan terbuka yang terdiri atas restricted response type dan extended response type (Gronlund, 1976 : 233).
(c) Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran digunakan untuk memfasilitasi kegiatan belajar-mengajar, dan menurut Gerlach & Ely (1980 : 4) "..media can be selected best and
used most creatively when they are chosen on the basis of their potential for implementing specific objectives". Dengan demikian media pengajaran yang dipilih, dibuat dan digunakan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Mengacu kepada
GBPP Sejarah kelas 4 sekolah dasar catur wulan 1, tujuan pembelajaran berbunyi siswa mengenal perkembangan keiajaan-keiajaan Hindu-Budba, kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagaikerajaan Nusantara dan peninggalan-peninggalannya, sehingga secara keseluruhan materi belajar murid mencakup konsep waktu (kronologis), konsep ruang (letak kerajaan-kerajaan), konsep peristiwa (kegiatan pemerintahan yakni aspek politik, sosial budaya dan agama, serta ekonomi), konsep sebab-akibat dalam sejarah (berkembang dan runtuhnya kerajaan, hubungan antara ruang dengan peristiwa, antara waktu dengan peristiwa, antara pelaku dengan peristiwa) yang secara implisit memperlihatkan aspek-aspek pemahaman berpikir kesejarahan.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, media pengajaran dikembangkan dalam bentuk peta dan bagan materi belajar. Media peta ditujukan untuk pengenalan konsep ruang dan pemahaman terhadap konsep sebab-akibat berdasarkan aspek ruang, sedangkan media bagan materi belajar ditujukan untuk pengembangan pemahaman berpikir kesejarahan. Media bagan maten belajar dikembangkan dalam dua bentuk dasar yakni bentuk perbandingan dan bentuk kronologis. Bentuk perbandingan adalah bentuk media bagan materi yang terdiri atas dua topik kerajaan dan masing-masing topik berisikan uraian tentang perkembangan kerajaan dan perancah. Dengan memperhatikan kedua media bagan tersebut murid dapat membandingkan untuk mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya. Bagan 4.3 berikut memperlihatkan bentuk media bagan perbandingan.
KERAJAAN KUTAI KERAJAAN TARUHAN EGARA Lokasi : daerah Kuta) di tepi sungai Lokasi : sekitar Bogor Savra Barat
Mahakam Kalimantan Timur Waktu : sekitar tahun 450
Waktu : sekitar tahun 400 Raja : Pumawarman
Raja : Mulawarman Pemerintahan : * raja berkuasa tunggal Pemerintahan : * raja berkuasa tunggal * kekuasaan ra}a turun-temurun
* kekuasaan raja turun-temurun * perkembangan pertanian " perkembangan pelayaran * berkembang agama Hindu
dan perdagangan Peninggalan : Prasasti (7 buah) * bertembang agama Hindu
Peninggalan : Yupa, prasasti
Bagan 4.3
ISI
Bentuk kronologis berisikan uraian tentang perkembangan kerajaan dan perancah yang disusun berurutan berdasarkan angka tahun (secara kronologis), sehingga dengan memperhatikan bagan tersebut murid dapat melakukan analisis dan interpretasi sebab-akibat dan berpikir komprehensif Bagan 4.4 berikut memperlihatkan bentuk media bagan kronologis.
MATARAM KUNO (Airtongga 1019 -1042)
KERAJAAN KEDIRI
Lotest : Kecflrt, setdtar sungai Berantas Jawa Tkmrr Waktu : 1117 - 1222
Raja : Kameswara (1117 -1130) Jayabaya (1130-1157) Kertajaya (1157 -1222) Pemerintahan : - raja berkuasa tunggal
- pertanian (raja merobagf tanah) - perdagangan (ulat sutra dan kapas)
- berkembang kesusasteraan (kitab Mahabaratfia) - rakyat sejahtera dan makmur
- menUHM daerah Kekuasaan bernama
KERAJAAN JENGGALA
TUHAPEL
Lokasi : daerah fumapel Akuwu : Tunggul Ametung
Ken Arok Pemerintahan : terjadi perebutan
kekuasaan :
- Ken Arok membunuh Tunggul Ametung - Ken Arek mengalahkan
Kertajaya
- Ken Arek mendirikan Kerajaan Sfngonri
KERAJAAN SINGOSARI Lokasi : Singosari, dekat Matang Jawa Umur
Waktu : 1222 - 1292 Raja ; Ken Arok
AnusapaC Tohjays Ranggawuni
Kerta negara (1268 -1292) Pemerintahan : - raja berkuasa tunggal
- terjadi perebutan kekuasaan oleh keturunan Ken Arek • perdagangan (hubungan dengan Stun dan Kamboja) - hubungan dengan Sumatera
- usaha mempersatukan nusantara, gagal karena dBatahfcan oleh Jayakatwang dan Kediri -setato agama Hindu, berkembang Juga agama Budha (Kertanegara memetuk agama Budha)
Bagan 4.4
4.2.2 Langkah-langkah Pengembangan Model
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan model pembelajaran Advance Organizers dibagi ke dalam 4 (empat) langkah yakni (a) mempelajari kurikulum dan GBPP, (b) menetapkan alokasi waktu yang disesuaikan dengan topik pembelajaran, (c) mengembangkan Analisis Materi Pengajaran dan mempersiapkan media pengajaran, dan (d) implementasi model.
(a) Mempelajari kurikulum dan GBPP
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 pasal 1 ayat 11, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar. Sebagai seperangkat rencana, kurikulum memiliki unsur atau komponen yang terdiri atas tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi ; dan keempat komponen ini berkaitan erat satu dengan yang lain (Zais, 1976 : 493; Nana Syaodih, 1997 : 102). Di sini dapat diartikan bahwa kurikulum memiliki kesesuaian antara komponen yaitu isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, dan evaluasi sesuai dengan proses, isi, dan tujuan kurikulum (Nana Syaodih, 1997 : 102).
Mengacu kepada pernyataan di atas, tujuan pendidikan pada jenjang dan satuan pendidikan dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (Depdikbud, 1993 : 3). Untuk tingkat sekolah dasar, tujuan
memberikan bekal kemampuan dasar yang dijabarkan menjadi (a) bekal kemampuan dasar baca-tulis-hitung, (b) pengetahuan dasar, dan (c) keterampilan dasar.
Isi kurikulum pendidikan dasar terdiri atas beberapa mata pelajaran dan mata pelajaran diartikan sebagai satu atau sekumpulan bahan kajian dan bahan pelajaran yang memperkenalkan konsep, pokok bahasan, tema, dan nilai, yang dihimpun dalam satu kesatuan disiplin pengetahuan / ilmu pengetahuan (Depdikbud, 1993 : 5). Salah
153
satu mata pelajaran, yang diberikan pada jenjang sekolah dasar adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Sejarah merupakan bagian dari mala pelajaran tersebut. Di dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) IPS sekolah dasar diuraikan mengenai pengertian, fungsi, tujuan, dan ruang lingkup sebagaimana tampak pada Bagan 4.5.
PENDAHULUAN PFNGliRTIAN
Buru Pengelabuan Sosial (IPS) «Ialah mata pelajaran yang mcngbrjj lr>»w}iipftn sosial yang buburnya didasarkan peda kajian sejarah, geografi, ekonomi, aosiologt, •afropolagi, dan tela negarc.
IPS yang diajarkan di SD/MI terdiri utas dua beban kajian pokft ; pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan kajian pengetahuan sosial roeorakop antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi, dan tata negara. Bahan kajian sejarah rnettp^ perkembangan masyarakat Indonesia sejak inasa lampau hn^gaman kari.
FUNGSI
Pengajaran pengetahuan sosial di SD/MI berfungsi roatgeinhangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar untuk memahami kenyataan sosial yang dihadapi t a m dalam kefajdnpgp sebari-bari. Sedangkan pengajaran sejarah rasa fcebangsaan dan bangga tersedap petkepibangan masyajilat indowsrie sejak masa tarnpftu hingga masa kinL
TUJUAN
Mata pelajaran pengetahuan sesial di SD/MI bertujuan agar siswa mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dakm kehidupan setari-bari. pEngajaran sejarah bertujuan agar siswa mampu "rifgf^""!*™ pnr*1™^!) \n,tmS, p - T l t ^h , ng " ' n-«ymhit InAwii» MJ«fc mw lain hmgg" Hni «rfwnggw »«w»
memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. RUANO UNGtLUP
Ruang lingkup pengajaran pengetahuan sosial meliputi hal-hal yang berkaitan dengan: 1. Keluarga
2. Wilayah sekitar 3. Wilayah Propinsi 4. Pemerintahan, daerah
5. Negara Republik Indonesia
6. Pengenalan kawasan dunia 7. Kegiatan Ekonomi
Kajian lingkup pengajaran sejarah meliputi: I. Kerajaan-kerajaandi Indonesia
1. Tokoh dan peristiwa
3. Indonesia peda jangan penjajahan
4. Beberapa peristiwa penting masa kemerdekaan.
Bagan 4.5
Pertgerban, Fungsi, Tujuan, Ruang lingkup IPS SD
Berdasarkan aspek-aspek pengertian, fungsi, tujuan, dan ruang lingkup di atas, kemudian GBPP Sejarah untuk kelas 4 sekolah dasar dijabarkan seperti terlihat dalam Bagan 4.6 berikut
St^nh (Kelas 4 Cawu V)
2. Siswa mengenal pa&aabangaa kaafaan-kasjaaa Hiodo-Badha, kej*)vsn Sriwijaya dan Ma/apshil sebagai
lawajMait Njipantiim Ainp?tl/rigg*i*n-fifjtifjggfliinnyal
2 . 1 Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
2 . 1 . 1 Kerajaan Kutai, Tannnaaegara, Kediri, dan Singasari
° Menceritakan tetak dt*tg*n menggunakan peta, kegiatan pemerintahan dan
penioggala&-peoinggalan «ejarah kerejaan Kulai dan Tarumanegam
* Menceritakan letak dengan menggunakan peta, kegiatan pemerintahan dan pcmnggalan-peomggalan sejarah kentjaan Kediri dan Singosari
2 . 1 . 2 Kerajaan Sriwijaya
° Menceritakan letak dengan menggunakan peta, sebagai kerajaan maritim, pusat pesdagangEo, pasat pendidikan dan penyebaran agama Budha, tefla upaya menguasai perairan Nusantara
2 . 1 . 1 Kerajaan Majapahit
° Menceritakan letak dengan menggunakan peta, masa kejayaan Majapahit, peranan Gajah Mada dalam upaya menyatakan Nusantara, dan pnanggalan-ptornggalan »ej arahnya
2 . 1 . 4 PmTnCE»1*" h"ng'T™-1-ng7T"Tl t"riJI«i « j a r a h yjmg h w m n i i - Htnrtii Rtuflw
° Menceritakan Candi Borobudur dan Ptambanan yang mencennmkan tingkat tingginya peradaban nenek moyang bangsa Indonesia
" Mencari pada peta letak Candi Borobudur dan Prambanan
Sejatah (Kelas 4 Cawu 2)
4. Siswa mengenalkemjaao-terajaan Islam di Indonesia.
4 . 1 Kerajaan4&raJBBBlslradiIitdonena
° Menceritakan letak dengan menggunakan peta, kegiatan pemerintahan dan peninggalan kerajasn-keiajaan Islam di Indonesia (Samudra Patai, Aneh, Demak, Banten, Teroate, Tidore, Gowa)
Sejatah (Keks 4 Cawu 3)
6. Siswa dapat meajelasian nodakan penjajahan yang tfilnknkan hwgsa asing d' ludooesin aem tokoh-tokoh yang melakukanperlawanan terhadap penjajai.
6 . 1 Jaman Penjajahan
° Menceritakan awal penjajahan Belanda di Nusantara * Memberikan contoh penderitaan rakyat p*da jaman penjajahan
" Menceritakan peranan tokoh-tokoh nasional dalam melamai Belanda dt daerah Indonesia : Thomaa MatuJessi (Mataku), Tuanku Imam Bonjol (Suawtera), Diponegoro (Jawa), Pangeran Antasari (Kalimantan), Raja Buleleng (Bali)
Bagan 4.6
Struktur GBPP Sejarah Kelas 4 SD
Penelitian ini difokuskan pada kegiatan belajar-mengajar pada catur wulan 1 untuk tahap pengujian sampai terbentuknya model yang stabil, sehingga langkah-langkah
155
pengembangan model didasarkan pada setting GBPP Sejarah kelas 4 SD catur wulan 1.
(b) Menetapkan alokasi waktu
Jika dicermati GBPP Sejarah kelas 4 SD catur wulan 1, terdapat satu topik utama yakni Kerajaan Hindu Budha di Indonesia topik utama tni dibagi ke dalam 4 (empat) pokok bahasan yakni (1) Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Kediri, dan Singosari, (2) Kerajaan Sriwijaya, (3) Kerajaan Majapahit, dan (4) Peninggalan bangunan-bangunan bernilai sejarah yang bercorak Hindu-Eudha. Melihat pada keluasan dan kedalaman masing-masing pokok bahasan, maka pelajaran sejarah diberikan 2 x 40 menit setiap minggu, sehingga rencana catur wulan 1 dikembangkan sebagaimana terlihat pada Tabel 4.18 berikut ini.
Tabel 4.18 Rencana Catur Wulan 1
Topik Pokok Bahasan / Subpokok Bahasan
Jam
Pelajaran Waktu Pemel lenaaaraan Topik Pokok Bahasan /
Subpokok Bahasan
Jam
Pelajaran September Oktober Topik Pokok Bahasan /
Subpokok Bahasan Jam Pelajaran
JLJ
2 3 4 1 2 3 4 Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia- Kerajaan Kutai dan Tarumaneoara
2 x 4 0 ' Kerajaan Hindu
Budha d!
Indonesia • Kerajaan Kediri dan Sfnaosari 2 x 4 0 ' Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia • IManoan 1 x 4 0 ' Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia • Keraiaan Sriwhava 2 x 4 0 ' Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia • Kerataan Matanafiit 2x40* Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia • Wantjan 1 x 4 0 ' Kerajaan Hindu Budha d! Indonesia • Bangunan-bangunan bernilai sejarah yang bercorak Hindu Budha
2 x 4 0 ' Kerajaan Hindu
Budha d! Indonesia
• IManoan Umum 1x40"
(c) Mengembangkan Analisis Materi Pengajaran
Berdasarkan rencana catur wulan, maka kegiatan belajar mengajar diselenggarakan lima kali tatap muka dengan jumlah jam pelajaran 2 x 40 menit untuk setiap kali pertemuan. Untuk masing-masing kegiatan belajar mengajar dikembangkan rencana pengajaran yang didasarkan atas analisis materi pengajaran. Analisis materi pengajaran dijabarkan seperti yang tertera pada Tabel 4.19 berikut
Tabel 4.19
Analisis Materi Pengajaran Sejarah Kelas 4 SD Catur Wulan 1
Topik P B / S P B Uraian Materi ProMdur Pembdafanut Kerajaan Hindu Budha d? Indonesia Kerajaan Kutai dan Tarumanegara Kerajaan Kutai:
Lokasi: Kutai di tepi sungai Mahakam
(konsep namft
Waktu : sekitar tahun 400 {konsep traktir)
Raja : Mufewarman {konsep peJahf)
Kegtatan Pemerintahan; (konsep peristiwa)
- poHtfic
- ekonomi (pelayaran dan perdagangan) - sosial budaya (berkembangnya Hindu) Peninggalan (Yupa, prasasti)
Kerajaan Tarumanegara :
Lokasi: sekitar Bogor, Jawa Barat {konsep maag)
Waktu : sekitar tahun 450 (konsep mkbJ)
Raja : Purnawannan (konsep peJaM)
Kegiatan Pemerintahan : (konsep peristfm)
- poBBk
- ekonomi (pertanian)
- sosial budaya (bertembangnya Hindu) Peninggalan (Prasasti)
PfwsenOesf Pengentas Awaf i
Mengkomun&asikan tujuan Klariflkasi konsep-konsep utama
Konsep searah Konsep kerajaan
Konsep pemerintstian (poBtik,
ekonomi yakni pelayaran, perdagangan, pertanian, dan sosial budaya yakni masuknya agama Hindu)
Tanya Jawab, untuk mengetahui struktur kognitif murid
Presentasi Materi:
eespostorf materi Kerajaan Kutai dan Tarumanegara
htamperIButkan peta Kalimantan dan Jawa Sarat (pengaruh lokasi terha-dap perkembangan pemerintahan) Memberi tugas membaca buka pegangan sfewa Bab 5 (hal. 60-63)
Memperkuat Organirari Kognitif:
Mengingatkan tonsep kerajaan Menanyakan ringkasan materi Menanyakan persamaan antara Kutai dan Tarumanegara
Menanyakan perbedaan antara Kutai deraan Tarumanegara Kerajaan Hindu Budha d? Indonesia Kerajaan KedWdan Singosari Kerajaan Kediri s
lokasi: daerah Kediri sektor sungai Berantas, Jawa Timur (konsep rvano) Waktu : 1117-1222 (tonsepwakty Raja -.(konseppetaki]) Kameswara (1117-1130) Jayabaya (1130 -1157) Kertajaya (1157 -1222)
Kegiatan Pemerintahan: (konsep pertsOiva)
- raja berkuasa tunggal - perkembangan pertanian - perkembangan perdagangan
- perkembangan sastera (kitab Mahabarathe) - mempunyai daerah kekuasaan bernama
Tumapel (terjadi perebutan kekuasaan, Ken Arek membunuh Tunggul Ametung, mengalahkan Kertajaya dan mendirikan kerajaan Stogosarf)
Peninggalan : Kitab Mahateratha
Kerajaan Singoaari :
Lokasi: daerah Singosari dekat Keresidenan Malang, Jawa Timur (konsep mang)
Waktu : 1222 -1292 (konsep waktu)
Raja : (konsep
petak-Ken Arok, AnusapatJ, Toftjaya, RanggawunL Kertanegara (1268 -1292)
Presentasi Pengemas Awal:
Menjelaskan tujuan
Ktertflfcasl konsep-konsep utama dibantu dengan rrtemberfitan contoh-rontori:
Konsep sejarah
Konsep kerajaan (waktu, ruang, petaku, bentuk pemerintahan, pengaruh dari luar dan akbatnya)
Konsep pemerintahan
(perebutan kekuasaan, perkembangan ekonomi yakni pelayaran, perdagangan, pertanian, dan berkembangnya agama Budha)
Tanya Jawab, untuk mengetahui struktur kognitif murid
Presentasi Materi:
BsposRori materi tentang Kerajaan Kafiri dan Kerajaan Singosari MemperBhatkan peta Jawa Timur (pengaruh lokasi terhadap perkembangan pemerintahan) Memberi tugas mencatat tentang Kerajaan Kediri dan Singosari