2. LANDASAN TEORI
2.1 Supply chain (rantai pasokan) 2.1.1 Konsep Supply Chain
Supply chain management, menurut (Heizer & Rander, 2004), merupakan
kegiatan pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah menjadi barang dalam proses atau barang setengah jadi dan barang jadi kemudian mengirimkan produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi. Kegiatan-kegiatan ini mencangkup fungsi pembelian tradisional ditambah Kegiatan-kegiatan penting lainnya yang berhubungan antara pemasok dengan distributor.
Sedangkan menurut (Chopra, 2004) Supply chain terdiri dari semua pihak yang terlibat, langsung maupun tidak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Supply chain tidak hanya meliputi produsen dan pemasok, tetapi juga pengangkutan, gudang, pengecer, dan pelanggan itu sendiri. dalam organisasi masing-masing, seperti produsen, supply chain termasuk semua fungsi yang terlibat dalam menerima dan memenuhi permintaan pelanggan. fungsi-fungsi ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan layanan pelanggan.
Definisi supply chain yang diusulkan (Langley, 2008) adalah supply chain memiliki makna yang luas dan komprehensif, karena itu, permintaan dan nilai yang sangat relevan. demikian, dapat dikatakan bahwa supply chain, rantai permintaan, jaringan nilai, rantai nilai merupakan suatu sinonim. Ada penggunaan yang lebih luas dari penerimaan manajemen rantai pasokan dan sudut pandang komprehensif dari supply chain management.
Supply Chain Management berkaitan langsung dengan siklus lengkap
bahan baku dari pemasok ke produksi, gudang, dan distribusi kemudian sampai ke konsumen. Sementara perusahaan meningkatkan kemampuan bersaing mereka melalui penyesuaian produk, kualitas yang tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan mencapai pasar diberikan penekanan tambahan terhadap rantai pasokan.
Rantai pasokan mencakup keseluruhan interaksi antara pemasok, perusahaan manufaktur, distributor, dan konsumen. Interaksi ini juga berkaitan dengan transportasi, informasi penjadwalan, transfer kredit dan tunai, serta transfer bahan baku antara pihak-pihak yang terlibat.
Dewasa ini, persaingan bisnis tidak lagi terjadi antar perusahaan tetapi melibatkan beberapa jaringan supply chain. Supply chain (rantai pemasok) merupakan jaringan antar perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menghasilkan dan mengantarkan suatu produk ke konsumen akhir. Mengelola aliran produk yang tepat adalah salah satu tujuan dari supply chain.
Konsep supply chain merupakan konsep dalam mengelola masalah persediaan. Tuntutan pelanggan yang terus berkembang dan jumlah retailer yang semakin banyak sehingga menyebabkan perlunya koordinasi yang baik antara penjual dan pembeli.
2.1.2. Fungsi Supply Chain
Supply chain merupakan sebuah proses bisnis dan informasi yang berulang
yang menyediakan produk atau layanan dari pemasok melalui proses pembuatan dan pendistribusian kepada konsumen. Maka dari itu terdapat fungsi supply chain.
Supply chain management secara umum mempunyai dua fungsi, yang
pertama supply chain management secara fisik mengubah barang bahan baku menjadi produk jadi dan menghantarkannya ke pemakai akhir. Fungsi pertama ini berkaitan dengan biaya material, biaya penyimpanan, biaya produksi, biaya transportasi.
Sedangkan fungsi yang kedua adalah supply chain management sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang di supply oleh rantai supply
chain mencerminkan aspirasi pelanggan atau pemakai akhir tersebut. Fungsi
kedua ini berkaitan dengan biaya survai pasar, biaya perancangan produk. (Zabidi, 2001)
2.1.3. Tujuan Supply Chain
Untuk memastikan sebuah produk berada pada tempat dan waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa menciptakan stok yang berlebihan atau kekurangan.
Untuk menjamin kesatuan gerak dari jumlah dan kualitas yang memadai pada persediaan yang meliputi banyak hal seperti perencanaan dan komunikasi.
Untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001)
Mencapai efisiensi aktivitas dan biaya seluruh sistem, total biaya sistem dari transportasi hingga distribusi persediaan bahan baku, proses kerja, dan barang jadi.
2.1.4 Strategi Supply Chain
Untuk memenuhi kebutuhan pasar sesuai dengan konteks yang diingikan oleh konsumen maka setiap rantai pasokan harus memiliki kemampuan dalam pengoperasian yang efisien, menciptakan kualitas, cepat, fleksibel, dan inovatif. Sehingga keputusan strategis terkait diantaranya adalah penentuan kapasitas fasilitas, penentuan sistem informasi, penentuan produk yang akan dibuat dan disimpan, penentuan lokasi dan model transportasi dan lain-lain.
Banyak peluang yang tersedia dalam supply chain management untuk meningkatkan nilai produk dengan biaya yang rendah. Dengan kata lain, terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan antara lain (Siagian, 2005):
Postponement, yaitu strategi untuk menunda modifikasi atau penyesuaian terhadap produk selama mungkin. Dengan bantuan rancangan dan bantuan pemasok, suatu perusahaan manufaktur dapat mempertahankan karakteristik generik dari produknya selama mungkin. Postponement dapat dilakukan berkaitan dengan teknologi dan karakteristik proses, karakteristik produk, dan karakteristik pasar.
Drop ship, strategi ini sering digunakan di sisi distributor. Pada awalnya tahapan produk dari supplier untuk sampai ke tangan konsumen cukup panjang seperti pada gambar 1.a , tetapi strategi drop ship pemasok akan
langsung mengirimkan ke konsumen pemakai dan bukan kepada penjual, agar menghemat waktu dan biaya pengangkutan seperti pada gambar 1.b. Hal lain yang dapat menghemat biaya mencakup penggunaan kemasan khusus, label khusus, dan lokasi.
Gambar 2.1.a: Aliran Produk Sumber: Siagian (2005, p 28)
Gambar 2.1.b: Strategi Drop ship Sumber: Siagian (2005, p 28)
Strategi supply chain diperlukan untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan yang diinginkan dalam strategi perusahaan. Inovasi terhadap pendekatan-pendekatan strategi supply chain akan membuat perusahaan dapat unggul dalam bersaing.
Dalam perencanaan strategi supply chain diperlukan beberapa sumber-sumber pengambilan keputusan. Suatu perspektif strategi untuk sumber-sumber dari dalam dan luar perusahaan bertujuan agar mampu bersaing berdasarkan differensiasi produk dan atau fokus. Di bawah ini beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam strategi supply chain antara lain:
a. Keunggulan Bersaing
Faktor pertama yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan strategi adalah kemampuan perusahaan untuk dapat unggul dalam bersaing (competitive
advantage). Secara umum keunggulan bersaing dapat diperoleh dari
1. Diferensiasi, yaitu berusaha menciptakan/ membuat produk yang unik berbeda atau minimal lebih baik dari produk yang sudah ada
2. Kepeloporan biaya, yaitu berusaha meminimalkan biaya tetapi tanpa mengurangi nilai atau kualiatas produk. Hal ini dapat dilakukan dengan Supplier Manufacturer Distributor Retailer Customer
Supplier Supply Chain Management M
inovasi proses, mendesain produk dengan benar, mengurangi biaya manufaktur
3. Respon yang cepat, ditandai dengan sifat fleksibel, reliable, cepat tanggap terhadap perubahan-perubahan.
b. Fleksibilitas Permintaan
Faktor kedua yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan strategi adalah fleksibilitas permintaan (demand flexibility) yang harus dipenuhi di setiap kegiatan. Persyaratan yang diinginkan konsumen terhadap suatu produk akan mengendalikan strategi operasional perusahaan. Kebutuhan fleksibilitas sangat tergantung pada jumlah dan cakupan perubahan yang diingikan terhadap permintaan barang dan jasa. Fleksibilitas permintaan menurut Slack (1990) dipengaruhi beberapa faktor, yaitu produk itu sendiri, campuran produk, volume, dan tipe pengantaran. Pengukuran terhadap fleksibilitas permintaan bermacam-macam, dapat dilihat dari ketepatan pengantaran, peramalan permintaan dan sebagainya.
c. Kapabilitas Proses
Kapabilitas proses (process capability) faktor ini sangat berkaitan dengan sejauh mana perusahaan dapat menjalankan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan. Hal ini sangat tergantung pada tipe kegiatan, dengan kata lain terdapat banyak cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kapabilitas proses sesuai dengan standar industri maka benchmarking dapat efektif digunakan.
d. Kematangan Proses
Faktor kematangan proses (process maturity) sangat berkaitan dengan tingkat kinerja proses, bagaimana proses ini dapat tanggap dan memenuhi penawaran pasar. Faktor ini sangat dibutuhkan untuk pertimbangan terhadap proses manufaktur yang akan digunakan.
Resiko strategi (strategic risk) resiko yang di maksud di sini bukanlah resiko terhadap kuantitas atau kualitas yang diberikan pemasok melainkan adanya penyebaran resiko. Penyebaran resiko adalah resiko yang resiko yang diterima perusahaan akibat adanya kebocoran informasi tentang produk dan layanannya, baik itu yang diterima atau yang diberikan pemasok, sehingga pesaing dapat mengetahui strategi-strategi perusahaan. Resiko dapat menjadi tinggi ketika pemasok memiliki konsumen lain sehingga pesaing memperoleh layanan pemasok dan mengetahui strategi-strategi perusahaan. Berdasarkan hal tersebut maka manajer sudah selayaknya mengevaluasi seluruh strategi yang dijalankan.
2.1.5 Tahapan Supply Chain
Supply chain atau dikenal dengan istilah lainnya rantai pasokan
merupakan rantai penghubung dari satu pelaku ke pelaku lainnya. Ada banyak model atau jalur rantai di dalam tahapan supply chain. Mulai dari supplier ke manufacturer kemudian dilanjutkan ke distributor dan setelah itu ke retailer dan akhirnya sampai ke tangan pelanggan. Jalur ini yang lasim digunakan tetapi juga ada perusahaan yang memotong salah satu atau beberapa rantai supply chain sebagai contoh tidak melewati jalur distributor maupun retailer. Hal itu dilakukan guna untuk mengurangi cost/biaya didalamnya atau ada pertimbangan-pertimbangan lain yang dianggap lebih menguntungkan perusahaan. Di bawah ini merupakan tahapan atau jalur rantai dalam proses supply chain
Supplier Manufacturer Distributor Retailer Customer
Supplier Supplier Manufacturer Manufacturer Distributor Distributor Retailer Customer Retailer Customer
Gambar 2.2: Jalur Supply Chain Sumber: Chopra (2004, p5) Chain 1. Supplier
Pada Rantai ini merupakan tahapan pertama dalam rantai supply chain. Dimana aktivitas supplier adalah sebagai penyedia bahan produksi seperti bahan baku, bahan mentah, ataupun bahan penolong. Jumlah supplier biasanya banyak tergantung dari permintaan masing- masing perusahaan. Jenis supplier ada bermacam-macam sebagai contoh perusahaan koran mendapatkan bahan baku kertas bisa berasal dari pemulung kertas, kertas yang di daur ulang atau secara langsung dari supplier kertas.
Chain 2. Supplier – Manufacturer
Rantai pertama dihubungkan pada rantai kedua. Pada rantai ini manufacturer berperan sebagai pembuat pekerjaan sampai dengan finishing. Bisa terjadi penghematan pada rantai ini seperti penghematan biaya inventories bahan baku, bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Manufacturer juga dapat menjalin kerja sama dari beberapa supplier. Contoh perusahaan coklat menjalin kerja sama dengan supplier gula, supplier tepung, supplier susu maupun juga supplier plastik untuk packaging nya.
Chain 3. Supplier – Manufacturer – Distributor
Setelah melewati rantai manufacturer, rantai ketiga adalah distributor. Pada rantai ini mulai terjadi aktivitas penyaluran bahan setengah jadi atau bahan jadi kepada pelanggan. Terdapat banyak cara dalam penyaluran barang ke pelanggan. Dimana nanti distributor besar atau wholesaler akan menyalurkan barangnya kepada retailer atau pengecer ataupun langsung menyalurkan barang kepada konsumen.
Chain 4 . Supplier – Manufacturer – Distributor – Retailer
Rantai keempat adalah retailer atau nama lainnya pengecer. Pada umumnya distributor besar mempunyai gudang sendiri dalam penyimpanan
barang yang kemudian akan didistribusikan kepada retailer. Peranan retailer adalah menyalurkan barang kepada konsumen akhir. Retailer dapat berupa toko-toko maupun kios di pinggir-pinggir jalan. Harga yang ditawarkan retailer biasanya lebih mahal dibandingkan dengan distributor langsung sehingga jalur retailer dapat tidak dilewati sehingga dari distributor langsung kepada konsumen akhir. Namun pola pada rantai pasokan pada umumnya melewati jalur retailer.
Chain 5. Supplier – Manufacturer – Distributor – Retailer – Customer
Tujuan dari supply chain adalah penyaluran barang sampai ke tangan konsumen. Para retailer langsung menawarkan produknya kepada konsumen. Pada rantai ini sebenarnya masih bukan rantai yang terakhir. Sebetulnya masih ada satu rantai lagi yaitu pembeli tetapi tidak menggunakan produknya secara langsung atau lebih dikenal dengan istilah reseller.
Contoh supply chain pada perusahaan biskuit PT MNO:
Gambar 2.3: Contoh Supply Chain PT MNO Sumber: Venskasehetapy (2009)
Untuk membuat produk biskuit, perusahaan membutuhkan beberapa supplier untuk menjadi pemasok bagi perusahaan tersebut. Pada SCM ini terdapat pemasok tepung, pemasok telur, pemasok gula, pemasok minyak nabati, dan
pemasok susu bubuk. Pemasok tersebut kemudian mengirim bahan baku ke pabrik bahan baku dan kemudian akan diolah. Setelah diolah, bahan baku tersebut akan dikirim ke gudang bahan jadi. Kemudian dari gudang bahan jadi akan dikirim ke pabrik bahan jadi untuk proses penyelesaian produk. Dari pabrik bahan jadi tersebut kemudian akan dikirim ke distributor. Distributor tersebut bisa melalui supermarket besar/kecil maupun ke pengecer. Yang pada akhirnya, produk-produk tersebut ditujukan untuk konsumen akhir untuk dapat mengkonsumsi produk biskuit yang telah dibuat.
Contoh Supply Chain pada perusahaan wafer coklat PT.XYZ:
Gambar 2.4: Contoh Supply Chain PT XYZ Sumber: Suryadewi (2009)
Gambar tersebut merupakan contoh dari SCM untuk perusahaan wafer coklat. Untuk penggambaran SCM yang baik yaitu dimulai dari hulu ke hilir. Adapun urutannya supplier-manufacturer-distributor-wholesaler-retailer-end customer.
Untuk SCM wafer coklat diatas, yang berperan sebagai supplier yaitu pabrik gula, pabrik tepung terigu, pabrik susu bubuk, pabrik coklat bubuk, pabrik bahan pelengkap, pabrik kaleng, pabrik plastik dan pabrik kertas.. bahan-bahan
tersebut akan dikirimkan pada pabrik pembuat wafer coklat. setelah wafer selesai dibuat, maka wafer akan diberikan pada PT. XYZ dalam hal ini berperan sebagai manufacturer. dari PT. XYZ, wafer yang telah diproduksi dan dipacking segera dikirimkan pada distributor-distributor. dari distributor, wafer akan di sebarkan lagi pada para retailer atau pengecer, setelah itu barulah wafer coklat bisa dibeli oleh end customer atau konsumen.
2.1.6 Produk Supply Chain
Dalam konsep supply chain terdapat bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pelaksanaannya. Di bawah ini merupakan komponen-komponen yang diperlukan pada proses supply chain menurut (Siagian, 2005):
a) Bahan Baku (Raw Material Stock)
Merupakan persediaan dari barang-barang yang dibutuhkan untuk proses produksi. Barang ini bisa diperoleh dari sumber-sumber alam, atau dibeli dari supplier yang menghasilakan barang tersebut.
b) Barang Setengah Jadi (Work In Process)
Merupakan barang-barang yang belum berupa barang jadi, akan tetapi masih diproses lebih lanjut sehingga menjadi barang jadi.
c) Barang Jadi (Finished Good)
Merupakan barang-barang yang selesai diproses dalam pabrik dan siap disalurkan kepada distributor, pengecer,atau langsung dijual ke pelanggan. d) Bahan Pembantu (Supplies Stock)
Merupakan persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu kelancaran produksi, tetapi tidak merupakan bagian dari barang jadi.
e) Bagian Produk (Purchased Parts)
Merupakan persediaan barang-barang yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain, yang secara langsung diassembling dengan parts lain tanpa melalui proses produksi.
Karakteristik produk dan pasar. Menurut Marshal Fisher, terdapat dua karakteristik produk, yaitu:
Produk dengan konfigurasi standar, siklus hidup panjang, memiliki sedikit variasi, kebutuhan pelanggan dari waktu ke waktu relatif tidak berubah. Contoh: kertas HVS, paku payung, pensil.
2. Produk Inovatif
Setiap kelompok produk inovatif mempunyai variasi sampai ratusan atau ribuan, bertahan sebentar di pasar dan akan digantikan oleh variasi baru yang dikembangkan.
Contoh: camera digital, handphone.
Setiap karakteristik produk memiliki strategi atau desain rantai pasokan yang berbeda. Untuk produk fungsional, difokuskan untuk meminimumkan ongkos-ongkos fisik disepanjang rantai supply, menciptakan efisiensi. Sedangkan untuk produk inovatif, difokuskan pada peningkatan kemampuan untuk lebih responsif terhadap kebutuhan pasar/ konsumen. Sehingga munculah 2 strategi utama yaitu strategi efisiensi dan strategi responsif. Kesesuaian antara karakteristik produk dan bentuk strategi yang digunakan dalam rantai pasokan dinamakan strategi fit. Konsep strategi fit dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.5: Konsep strategi fix rantai pasokan Sumber: Utaminingsih (2011)
2.1.7 Transportasi Supply Chain
Dalam proses supply chain teradapat beberapa model-model transportasi yang dapat digunakan untuk sampai ke tangan pelaku yang dituju. Peran anggota keluarga dapat turut berpartisipasi dalam mengirimkan barang sampai ke tangan konsumen. Model pengiriman yang digunakan pun dapat bermacamam-macam mulai dari pertimbangan tingkat kecepatan pengiriman, besar atau kecilnya volume pengiriman serta biaya yang dikeluarkan dalam proses pengiriman tersebut. Ada beberapa model transportasi yang dapat digunakan antara lain menurut (Chopra, 2004):
a) Sarana transportasi air
Muatan yang dikirim melalui air biasanya berukuran besar dan bernilai rendah. Sistem ini berarti jika pengiriman dianggap lebih penting dibandingkan kecepatan. Keutungan utama alat transportasi melalui jalur air adalah kemampuannya untuk membawa barang dalam jumlah besar. Kelemahan utama alat transportasi melalui jalan air adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pengantaran.
b) Jasa pengiriman
Perusahaan paket pengiriman seperti FedEx, pos pengiriman yang membawa paket kecil mulai dari surat untuk pengiriman dengan berat sekitar 150 pounds. Jasa pengiriman lebih mahal dan harga tidak dapat bersaing untuk pengiriman barang besar.
c) Truk
Kelebihan dari truk adalah fleksibilitas pengirimannya. Perusahaan yang mengadopsi JIT meningkatkan penekanan pada pengendara truk untuk mengambil dan mengirim tepat waktu, tanpa kerusakan, dengan pekerjaan administrasi yang baik dan dengan biaya rendah.
d) Kereta api
Dengan pertumbuhan JIT kereta api tertinggal karena manufaktur dengan batch berukuran kecil membutuhkan pengiriman yang teratur dan lebih kecil. Alat transportasi kereta api ini mempunyai kemampuan untuk mengangkut barang bertonase yang sangat besar, karena spesifikasi kereta api tersebut. Akan tetapi,
alat transportasi ini memerlukan biaya tetap yang cukup tinggi dan biaya peralatan rutin yang cukup tinggi pula.
e) Saluran pipa
Alat transportasi dengan menggunakan saluran pipa, biasanya digunakan untuk mengangkut bahan baku cari seperti minyak mentah, gas alam, produk minyak, dan bahan kimia. Kebaikan alat transportasi ini biaya tetapnya paling tinggi, tetapi baiya variabelnya paling rendah. Kelemahan yang menonjol adalah barang yang dibawa sangatlah terbatas, karena sangat tergantung diameter pipa dan derasnya arus yang dibawa.
f) Pesawat udara
Jenis pengiriman yang tumbuh paling cepat karena menawarkan kecepatan dan keandalan untuk perpindahan nasional dan internasional barang yang berbobot ringan. Penggunaan angkutan ini biasanya untuk produk bernilai tinggi buka produk bernilai rendah dan dengan biaya yang terlalu tinggi pula untuk ditutupi.
2.1.8 Peramalan Supply Chain
Dalam pengelolaan bisnis keluarga tentu saja pemilik perusahaan (ayah atau ibu) mempunyai peramalan pendapatan untuk mengembangkan perusahaan yang dijalankannya salah satunya adalah peramalan supply chain. Memperkirakan jumlah permintaan konsumen termasuk dalam kegiatan peramalan (forecasting). Kegiatan ini dilakukan untuk memperkirakan kondisi yang akan datang yang tidak menentu. Jadi peramalan dapat didefinisikan sebagai ilmu memprediksi peristiwa-peristiwa masa depan. Tujuan peramalan sebagai masukan membuat perencanaan dengan melakukan pengawasan dalam proses operasi. Hasil ramalan tersebut dijadikan masukkan bagi perencanaan kebutuhan. Dahulu manusia melakukan ramalan untuk menentukan nasib sekarang digunakan untuk mengembangkan perusahaan.
Menurut (Heizer, 2001) terdapat tiga kategori permalan yaitu:
1. Peramalan jangka pendek, rentang waktunya mencapai satu tahun tetapi umumnya kurang dari tiga bulan. Peramalan jangka pendek digunakan
untuk merencanakan pembelian, penjadwalan kerja, jumlah tenaga kerja, dan tingkat produksi.
2. Peramalan jangka menengah, peramalan jangka menengah biasanya berjangka tiga bulan hingga tiga tahun. Peramalan ini sangat bermanfaat dalam perencanaan penjualan, perencanaan produksi, perencanaan kas. 3. Peramalan jangka panjang, rentang waktunya biasanya tiga tahun atau
lebih, digunakan dalam merencanakan produk baru, pengeluaran modal, lokasi fasilitas, penelitian dan pengembangan.
Perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, tingkat ketergantungan perusahaan pada perusahaan lain baik sebagai pemasok atau partner kerja sangat tinggi. Ketepatan kebutuhan yang diramalkan akan mempermudah kerja sama antar perusahaan. Kebutuhan akan pasokan bahan baku dan pengunaan transportasi sangat menentukan kerja sama yang baik. Hubungan dengan pemasok yang baik dan keunggulan kerja yang terjamin untuk bahan baku dan suku cadang tergantung pada ramalan yang akurat.
2.1.9 Pull dan Push System
Dalam konsep supply chain juga mengenal istilah Pull dan Push System yakni pendekatan sistem tarik (pull system) dan pendekatan sistem dorong (push
system) yang memiliki pendekatan berbeda. Sistem tarik (pull system) adalah
suatu sistem yang memproduksi satu unit lalu ditarik ke tempat yang memerlukannya pada saat diperlukan. Sistem tarik menggunakan sinyal untuk meminta pengiriman dari stasiun-stasiun hilir ke stasiun-stasiun yang memiliki fasilitas produksi. Stasiun-stasiun ini menggunakan sinyal untuk menarik bahan baku pada saat tersedia kapasitas untuk memproses bahan baku itu. Konsep ini digunakan dalam lingkup proses produksi yang segera akan dilakukan, ini dapat dilakukan kerja sama dengan pemasok-pemasoknya. Dengan menarik bahan baku melalui sistem tersebut dalam sejumlah ukuran yang diperlukan, maka persediaan yang diperlukan dapat berkurang. Dengan berkurangnya persediaan maka investasi dalam persediaan dan waktu siklus manufaktur pun ikut berkurang.
Selain itu sistem dorong (push system) juga dapat diterapkan. Ketika terjadi produksi atau pembelian bahan melebihi permintaan jangka pendek, yang
dapat menganggu sistem pengantaran. Kemudian bahan tersebut tidak dapat disimpan karena tidak ada tempat sementara perusahaan harus tetap mengalokasikan stok tersebut maka sistem dorong merupakan sistem yang paling tepat dilakukan. Dan ada juga istilah Pull-Push system yang merupakan gabungan dari push sistem dan pull sistem.
Push – Alokasi barang berdasarkan Pull- Melengkapi pesanan Peramalan untuk setiap gudang persediaan berdasarkan
kebutuhan setiap gudang
Peramalan
Peramalan
Peramalan
A = Alokasi ke setiap gudang
Q = Setiap gudang memenuhi permintaan
Gambar 2.6: Pull vs Push System Sumber: Siagian (2005, p.173)
2.1.10 Sistem Informasi Supply Chain
Pada perusahaan yang sudah maju telah menerapkan teknologi informasi pada perusahaannya. Salah satunya adalah sistem informasi supply chain. Sistem informasi supply chain dapat dijelaskan dalam beberapa bagian fungsi dan operasi
Pabrik
Gudang 1
Gudang 2
internalnya. Secara umum sistem informasi supply chain melibatkan beberapa faktor antara lain sebagai berikut (Siagian, 2005, p91):
Internal, faktor-faktor yang dimiliki dan pengambilan keputusannya dari dalam perusahaan itu sendiri. Misalnya keputusan pengelolaan keuangan, strategi pemasaran yang digunakan, proses produksi yang direncanakan.
Eksternal, adalah bagian-bagian di luar perusahaan yang turut mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Misalnya selera dan keinginan konsumen, pemasok atau penyedia barang yang dibutuhkan.
Sistem Manajemen Order (Order Management System), mengatur kontak awal dengan konsumen pada saat pendataan dan penempatan produk sehingga ketersediaan barang terjamin.
Sistem Manajemen Gudang (Warehouse Management System),
kegiatannya meliputi penetapan tingkat persediaan, pilihan order, pemilihan rute, dan estimasi ketersediaan barang.
Sistem Manajemen Transportasi (The Transportation Management
System), sistem ini berfokus pada batasan-batasan di dalam dan luar
transportasi perusahaan sebagai bagian dari sistem informasi supply chain.
Gambar 2.7: Sistem Informasi Supply Chain Sumber: Siagian (2005), p93.
Internal - Logistik -Manufaktur - Pembelian
Sistem Informasi Supply Chain Eksternal - Pelanggan - Pemasok - Rantai Pasokan OMS - Ketersediaan barang - Alokasi produk ke konsumen WMS - Tingkat persediaan - Estimasi ketersediaan barang TMS - Pemilihan alat transportasi - Proses pengiriman
2.2 Perusahaan Keluarga
Perusahaan keluarga merupakan suatu fenomena tersendiri dalam dunia bisnis. Selain jumlahnya yang sangat banyak, perusahaan keluarga juga mempunyai andil yang cukup signifikan bagi pendapatan negara. (Susanto, 2007).
2.2.1 Definisi Perusahaan Keluarga
Perusahaan keluarga mempunyai karakteristik dengan kepemilikannya atau keterlibatan lainnya. Dari dua orang atau lebih anggota keluarga yang sama dalam kehidupan dan fungsi bisnisnya. Lingkup dan luas keterlibatan tersebut bervariasi dalam beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan juga diakui sebagai bisnis keluarga ketika perusahaan tersebut dialihkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebanyakan bisnis keluarga berukuran kecil. Bagaimanapun juga pertimbangan keluarga dalam menjadi hal penting sekalipun bisnis tersebut menjadi perusahaan besar. (Justin, 2001, p 34).
Perusahaan keluarga mempunyai ciri yang berbeda dengan perusahaan kecil lainnya. Jenis perusahaan ini ditandai dengan keterlibatan anggota keluarga baik dalam pemilikan maupun dalam operasi perusahaan. Misalnya pengambilan keputusan diwarnai nilai formal yang bernuansa keluarga. Machfoedz (2005, p 91).
2.2.2 Jenis Perusahaan Keluarga
Dalam terminologi bisnis ada dua jenis perusahaan keluarga yaitu (Susanto, 2007):
Family Owned Enterprise (FOE)
Perusahaan yang dimiliki oleh keluarga tetapi dikelola oleh eksekutif profesional yang berasal dari luar lingkarang keluarga. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi di lapangan agar pengelolaan perusahaan berjalan secara profesional. Dengan pembagian peran ini, anggota keluarga sebagai pemilik perusahaan dapat mengoptimalkan diri dalam fungsi pengawasan. Seringkali terjadi, perusahaan keluarga tipe ini merupakan bentuk lanjutan dari usaha yang semua dikelola oleh keluarga yang mendirikannya.
Family Business Enterprise (FBE)
Perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga pendirinya. Jadi baik kepemilikan maupun pengelolaan dipegang oleh pihak yang sama, yaitu keluarga. Perusahaan keluarga tipe ini dicirikan oleh dipegangnya posisi-posisi kunci dalam perusahaan oleh anggota keluarga. Di Indonesia, kebanyakan perusahaan keluarga adalah FBE dimana para anggota keluarga juga menjadi pengelolanya. Dalam perjalanannya, seiring dengan tumbuh kembangnya perusahaan, dinamikanya juga makin kompleks. Dinamika yang makin tinggi tentu saja menuntut kompetensi yang tinggi bagi pengelolaanya. Jika kebutuhan akan kompetensi ini tidak terpenuhi oleh anggota keluarga maka dibutuhkan suntikan tenaga dari luar lingkaran keluarga. Berangkat dari tuntutan semacam ini, tumbuh kembangnya perusahaan tidak jarang membuat perusahaan keluarga bermetamorfosa dari FBE menjadi FOE. Namun, di Indonesia persentasenya masih kecil dan belum signifikan.
2.2.3 Karakteristik Perusahaan Keluarga
Perusahaan keluarga dicirikan terutama dengan kepemilikan dan keterlibatan yang signifikan dari keluarga dalam manajemen. Dengan sendirinya anggota keluarga akan mengantisipasi bahwa kepemimpinan dan pengawasan dilakukan oleh keluarga dan akan diturunkan kepada generasi penerus. Berikut ini beberapa karakteristik lain dari perusahaan keluarga (Susanto, 2007, p.6):
Keterlibatan Anggota Keluarga
Keterlibatan anggota keluarga dimulai apabila anak-anak atau generasi kedua sudah mulai masuk ke manajemen. Sejak kecil anak-anak suda dimagangkan apabila orang tua mengingikan mereka terlibat dalam perusahaan keluarga. Komitmen menjadi lebih tinggi bagi generasi penerus karena kemauan ayahnya atau orang tuanya agar meneruskan bisnis.
Lingkungan Pembelajaran yang Saling Berbagi
Anggota keluarga yang menjadi generasi penerus mungkin belum pernah bekerja secara penuh, tetapi jiwa bisnis mereka sudah meresap dan mendarah daging sehingga kurva pembelajaran menjadi lebih cepat bagi mereka. Dengan sendirinya
pendekatan pribadi dan tingkat kepercayaan menjadi tinggi sehingga keluarga lebih stabil dan konservatif, yang dengan sendirinya punya komitmen jangka panjang.
Tingginya Saling Keterandalan
Suatu keuntungan perusahaan keluarga adalah meskipun pemimpinnya tidak ada ditempat, perusahaan tetap dapat berjalan. Karena perusahaan keluarga memiliki tingkat pembelajarang yang sama di dalam keluarganya. Jadi tidak perlu merasa was-was karena ada anggota keluarga lain yang mempunyai ilmu dan komitmen yang sama.
Kekuatan Emosi
Perusahaan keluarga dikelola secara emosional sehingga rasa kekeluargaan di dalamnya tinggi. Secara khusus, para manajer perusahaan keluarga ini menggunakan pendekatan pribadi dan memberikan kepercayaan kepada para karyawannya. Oleh karena itu perusahaan keluarga lebih stabil dan konservatif karena keluarga memiliki komitmen berjangka panjang terhadap bisnisnya, dan cenderung menjadi loyal terhadap misi, visi, dan nilai-nilai pendiri
Kekaburan Fungsi
Seringkali dalam perusahaan keluarga, orang-orang yang mempunyai posisi formal seperti dewan komisaris atau pemegang saham setiap hari masih pergi ke pabrik dan terlibatat dalam operasi perusahaan sehari-hari. Seharusny mereka tidak perlu banyak mengintervensi kegiatan operasional agar tidak mengakibatkan kerancuan dan kebingungan di pihak karyawan. Hal ini disebabkan pemilik atau pendiri punya rasa memiliki yang masih tinggi serta mencintai pekerjaan dan pengembangan bisnisnya.
Kepemimpinan Ganda
Di setiap fungsi dan divisi tentu ada yang menjadi pimpinan. Namun demikian, intervensi dari pihak keluarga tetap tinggi. Meskipun sudah ada eksekutif
6 7 4 5 2 Pemilikan 1 Keluarga 3 Perusahaan
profesional, komisaris masih turun juga ke bagian operasional sehingga membingungkan anak buah.
2.2.4 Keterkaitan Keluarga dan Bisnis
Banyak bisnis keluarga disusun atas dasar keluarga dan bisnis meskipun keluarga dan bisnis adalah institusi yang terpisah, dengan anggota, tujuan dan nilainya masing-masing. Mereka menjadi satu (saling berkaitan) di dalam perusahaan keluarga. Keluarga dan bisnis muncul dengan alasan mendasar yang berbeda. Fungsi pokok keluarga berhubungan dengan perhatian dan pendidikan anggota keluarga, sedangkan bisnis berkaitan dengan produksi dan pendistribusian barang dan/ atau jasa. Tujuan keluarga adalah pengembangan penuh yang mungkin dilakukan tiap anggota keluarga yang berkaitan dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya, serta pembagian kesempatan dan penghargaan yang sama untuk tiap anggota. Tujuan bisnis adalah keuntungan dan ketahanan hidup.
Setiap individu yang terlibat dalam perusahaan keluarga, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam perusahaan keluarga mempunyai kepentingan dan pandangan yang berbeda-beda tentang situasi perusahaan. Gambar di bawah ini menunjukkan tingkat keterlibatan individu sebagai anggota keluarga, karyawan, pemilik perusahaan, dan kombinasi dari ketiganya
Gambar 2.8: Three circle Model of Family Business
Keterangan gambar:
1. Merupakan bagian anggota keluarga tetapi tidak ikut bekerja di dalam perusahaan dan tidak memiliki saham kepemilikan
2. Merupakan pemegang saham dari pihak luar dan bukan merupakan bagian dari anggota keluarga serta tidak ikut bekerja di dalam perusahaan.
3. Merupakan orang yang bekerja di dalam perusahaan dan bukan merupakan bagian dari anggota keluarga serta tidak memiliki saham kepemilkan. 4. Merupakan anggota keluarga yang memiliki saham kepemilikan namun
tidak ikut berkerja di dalam perusahaan.
5. Merupakan pemegang saham sekaligus berkerja di dalam perusahaan namun bukan merupakan bagian dari anggota keluarga.
6. Merupakan anggota keluarga yang bekerja di dalam perusahaan, tetapi tidak mempunyai hal kepemilikan atas perusahaan.
7. Merupakan pemengang saham, bagian dari anggota keluarga dan bekerja di dalam perusahaan.
Perbedaan kepentingan dapat menimbulkan ketegangan yang dapat berkembang menjadi konflik. Hubungan antar anggota keluarga dalam perusahaan lebih peka daripada hubungan di antara karyawan yang tidak mempunyai hubungan keluarga.
2.2.5 Peran Keluarga dan Hubungannya
Keterkaitan dua institusi keluarga dan bisnis membuat perusahaan menjelaskan beberapa peranan dan hubungan keluarga yang mungkin membantu manajerial perusahaan. Ada beberapa peran keluarga dan hubungannya sebagai berikut:
Ibu atau ayah sebagai pendiri perusahaan
Gambaran umum dalam bisnis keluarga adalah seorang laki-laki atau wanita yang mendirikan perusahaan dan berencana untuk mewariskan perusahaannya kepada anaknya. Beberapa pendiri mencapai keseimbangan yang baik antara tanggung jawab bisnis dan keluarga, sedangkan yang lainnya dapat merancanakan waktu di luar kegiatan perusahaan.
Dari semua hubungan yang ada dalam bisnis keluarga, hubungan orang tua dan anak telah diakui tiap generasi sebagai hubungan yang paling menyusahkan. Di waktu sekarang, masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan organ tua-anak telah dibicarakan pada konseling, seminar, dan berbagai buku. Bagaimanapun juga, hubungan orang tua-anak terus membingungkan banyak keluarga yang terlibat dalam bisnis keluarga.
Suami atau Istri
Beberapa bisnis keluarga dimiliki dan dikelola oleh sepasang suami istri. Peran mereka sangat tergantung pada latar belakang dan pengalaman mereka. Keuntungan potensial dari kerja sama suami istri adalah kesempatan untuk membagi hidup lebih banyak dalam kehidupan mereka. Bagi beberapa pasangan, keuntungan potensial tersebut akan menjadi bencana dengan adanya masalah yang berkaitan dengan bisnis.
Perbedaan pendapat mengenai masalah bisnis dapat terbawa ke dalam kehidupan keluarga. Dan hasil dari kedua belah pihak dapat menjadi sangat sia-sia karena kerja mereka di dalam perusahaan yang sedang bergejolak sehingga akhirnya hanya sisa sedikit semangat yang tersisa bagi kehidupan keluarga.
Salah satu peran kritis terbesar dalam drama bisnis keluarga adalah istri sebagai wirausaha, biasanya peran ini diisi oleh istri sang wirausahan dan ibu dari anak-anaknya. Idealnya, sang wirausaha dan pasangannya membentuk suatu tim yang di tunjukan untuk kesuksesan keluarga dan bisnis keluarga. Kerja sama seperti itu tidak terjadi secara otomatis, membutuhkan usaha kerja sama dari kedua belah pihak.
Anak pemilik perusahaan
Seharusnya anak laki-laki dan perempuan diikutsertakan dalam bisnis keluarga atau mereka yang akan sendirinya memilih karir mereka. Dalam keluarga, kecenderungannya adalah memikirkan karir bisnis keluarga dan mendorong si anak, baik secara terbuka maupun secara halus ke arah tersebut. Sedikit pertimbangan mungkin diberikan pada masalah dasar yang terlibat, yang meliputi bakat si anak, kecakapan, dan tabiatnya. Si anak mungkin tidak dapat
menjalankan perusahaan, tapi juga mungkin seorang individu dengan aspirasi dan bakat yang berbeda.
Selain itu juga anak dari pemilik perusahaan juga dapat membantu bisnis dalam keluarganya. Si anak langsung turun tangan ke dalam bisnis keluarga. Mungkin dari tahap awal atau dapat langsung turun menjadi manajer/ tahap yang lebih tinggi.
Menantu di dalam dan di luar bisnis
Pada waktu si anak menikah, menantu menjadi aktor penting dalam drama bisnis keluarga. Beberapa orang menantu akan terlibat secara langsung dengan diterimanya dia dalam perusahaan keluarga. Jika seorang anak laki-laki atau perempuan juga dipekerjakan dalam perusahaan, dapat menimbulkan persaingan dan konflik.
Kolaborasi yang efektif mungkin dapat dicapai dengan menempatkan anggota keluarga pada cabang atau peran yang berbeda dalam perusahaan. Akhirnya persaingan pada puncak pimpinan dapat menghasilkan keputusan yang berbeda yang berguna untuk kemajuan perusahaan keluarga.
Karyawan Nonkeluarga
Para karyawan yang bukan anggota keluarga masih dipengaruhi oleh pertimbangan keluarga. Dalam beberapa kasus, kesempatan mereka untuk promosi dipersempit dengan adanya anggota keluarga yang memiliki jalur dalam.
Pembatasan gerak karyawan nonkeluarga tergantung pada jumlah anggota keluarga yang aktif di dalam bisnis dan jumlah posisi manajerial atau profesional dalam bisnis yang dapat diduduki oleh nonkeluarga. Peran dari karyawan nonkeluarga adalah guna untuk menunjang dan membantu dalam bisnis keluarga tersebut mengingat latar belakang pendidikan yang ditempuh berbeda-beda. Profesional juga dibutuhkan dalam memajukan suatu bisnis keluarga.
2.2.6 Konfik Dalam Perusahan keluarga
Dalam suatu pengelolaan perusahaan selalu berhubungan dengan konflik yang ada di dalamnya. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan konflik di
dalam perusahaan keluarga seperti pergantian manajer/ pemilik, keputusan yang diambil berdasarkan emosi, perbedaan kepentingan dan kebudayaan, kurangnya kepercayaan, melihat hanya dari salah satu sisi dan sebagainya. Hal itu dapat menimbulkan konflik dalam keluarga yang menyebabkan terhentinya perusahaan. Peristiwa ini berakibat dijualnya seluruh aset perusahaan.
Problem yang menyebabkan terjadinya konflik keluarga dapat dihindari. Cara yang dapat digunakan adalah menyiapkan pewaris yang akan meneruskan bisnis, namun hal ini memerlukan persyaratan yang tidak sederhana seperti bakat, kepemimpinan, kecakapan dan lain-lain. Beberapa pendiri perusahaan kurang berminat unutk membagi kewenangan dalam porsi yang memadai karena hal itu akan berdampak kurang menguntungkan bagi kekuasaan mereka di dalam perusahaan. Selain itu, ada persoalan umum tentang usia yang terlalu muda untuk mengambil ahli perusahaan, tanpa memperhatikan usia kronologis mereka. Persoalan laun adalah interpretasi anggota keluarga terhadap pokok permasalahan tersebut.
2.3 UKM ( Usaha Kecil Menengah)
Saat ini di Indonesia terdapat berbagai macam usaha-usaha yang dikelola. Mulai dari usaha besar, usaha menengah maupun usaha kecil. Kebanyakan usaha kecil dan menengah dikelola langsung oleh pemilik perusahaan tersebut atau lebih dikenal dengan istilah family business. Ada campur tangan anggota keluarganya langsung ke dalam bisnis keluarga tersebut. Tetapi juga ada perusahaan yang menggunakan campur tangan pihak luar atau profesional untuk ikut serta dalam mengelola bisnis perusahaan.
2.3.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah Pengertian Usaha Kecil
Sesuai dengan definisi Undang-Undang No.20 Tahun 2008 Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi
kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Pengertian Usaha Menengah
Usaha Menengah sebagaimana dimaksud dalam UU No.20 tahun 2008 adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
2.3.2 Karakteristik Usaha Kecil Menengah Karateristik Usaha kecil
Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap;
Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah;
Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha;
Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP;
Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha;
Karateristik usaha menengah
Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi;
Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan;
Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah ada Jamsostek, pemeliharaan kesehatan dll;
Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan dll;
Sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan;
Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih 2.3.3 Contoh Usaha Kecil Menengah
Contoh usaha kecil
Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja;
Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya;
Pengrajin industri makanan dan minuman, industri mebel, kayu dan rotan, industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan;peternakan ayam, itik dan perikanan;koperasi berskala kecil.
Contoh usaha menengah
Jenis atau macam usaha menengah hampir menggarap komoditi dari hampir seluruh sektor mungkin hampir secara merata, yaitu:
Usaha pertanian, perternakan, perkebunan, kehutanan skala menengah;
Usaha perdagangan (grosir) termasuk expor dan impor;
Usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut), garment dan jasa transportasi taxi dan bus antar proponsi;
Usaha industri makanan dan minuman, elektronik dan logam;
2.4 Kerangka Berpikir
Gambar 2.9:Kerangka Berpikir Sumber: Data sekunder diolah*
Di dalam sebuah bisnis keluarga dapat dikelola langsung oleh anggota keluarga itu sendiri ataupun ada campur tangan profesional dari luar lingkup keluarga. Campur tangan anggota keluarga dapat bermacam-macam. Mulai dari ayah/ibu, anak serta saudara-saudara lainnya yang ikut berpartisipasi dalam perusahaan keluarga tersebut. Salah satunya adalah mengelola rantai pasokan/ supply chain yang ada di dalam perusahaan. Adapun peranan anggota keluarga itu sendiri di dalam supply chain dapat beraneka ragam mulai dari memilih supplier yang tepat, sebagai perantara dalam rantai pasokan, membantu mengelola bahan mentah, mengawasi gudang atau mengirimkan barang langsung ke tangan konsumen. Banyak campur tangan yang dapat dilakukan anggota keluarga di dalam kegiatan
supply chain.
*Kerangka berpikir merupakan hasil dari kompilasi teori dan konsep tentang supply chain management (siagian; 2005) dan perusahaan keluarga (Susanto; 2007)
Supplier Manufacturer Distributor Retailer Customer Supply Chain Management
Peranan Anggota Keluarga