2. LANDASAN TEORI
2.1. Makanan Khas
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia hal. 503, Khas adalah (kepunyaan) tersendiri, teristimewa, tidak umum. Sedangkan Makanan adalah bahan, yang biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas), Sehingga makanan khas dapat didefinisikan sebagai bahan yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang (kepunyaan) tersendiri, teristimewa, dan tidak umum.
2.2. UKM
Menurut UU no. 20 tahun 2008 usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Kriteria usaha kecil adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus rupiah).
Ada beberapa kelemahan pada perusahan kecil tradisional menurut Weston, 1986), yaitu :
1. Orang tersebut (key man) mungkin tidak memiliki sepenuhnya kemampuan manajerial yang dibutuhkan.
2. Perusahaan kecil yang dijalankan oleh satu orang, system pengendaliannya cenderung bersifat informal, langsung dan pribadi.
3. Pemilik sibuk dengan operasi dari hari ke hari, maka perencanaan masa depan jadi terbengkalai. (Perusahaan cenderung bereaksi terhadap perubahan yang ada bukan menciptakan perubahan)
4. Pemilik jarang memiliki pendidikan dan pengalaman manajerial yang dibutuhkan.
Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 20 tahun 2008.
Berikut adalah criteria dari usaha menengah menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2008 :
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha: atau 2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,- (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh milyar rupiah).
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai penjualan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggi-tingginya Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari : (1) badang usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi) dan (2) perorangan (pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa)
Pada tanggal 4 Juli 2008 telah ditetapkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Definisi UKM yang disampaikan oleh Undang-undang ini juga berbeda dengan definisi di atas. Menurut UU No 20 Tahun 2008 ini, yang disebut dengan Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
2.3. Kewirausahaan
Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.
Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Menurut (Alma,2007) beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Richard Cantillon (1775)
Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
b. Jean Baptista Say (1816)
Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
c. Frank Knight (1921)
Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan
d. Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
e. Penrose (1963)
Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
f. Harvey Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
g. Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. h. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio
Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari
proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
i. Peter F. Drucker
Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa seorang wirausahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
j. Zimmerer
Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).
Jadi dari uraian diatas dapat ditarik suatu pemikiran bahwa kewirausahaan adalah kemampuan dalam melihat atau menilai kesempatan di peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil tindakan yang beresiko tinggi. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.
2.4. Wirausahawan
Zimmerere dan Scarborough (2008, p.163), mendefinisikan wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang signifikan dan menggabungkan sumber-sumberdaya yang diperlukan sehingga sumber-sumber-sumberdaya itu bisa dikapitalisasikan. Seorang wirausahawan merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi
manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta. Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.
Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek finansial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono, 2002, p.48)
Potensi kewirausahaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut : (Masykur, Winardi)
1. Kemampuan inovatif
2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity) 3. Keinginan untuk berprestasi
4. Kemampuan perencanaan realistis 5. Kepemimpinan berorientasi pada tujuan
7. Tanggung jawab pribadi
8. Kemampuan beradaptasi (Flexibility)
9. Kemampuan sebagai pengorganisator dan administrator 10. Tingkat komitmen tinggi (survival)
Jenis Kewirausahaan antara lain sebagai berikut: (Williamson, 1961) 1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif
2. Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur 3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan
peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan. 4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain. Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977)
Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :
(1) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
(2) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi,
kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
(3) Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
(4) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996, p.3) proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001, p.34).
Ciri-ciri wirausaha yang berhasil adalah sebagai berikut:(Kasmir, 27 – 28) a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke
mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
b. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan. c. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi
yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap
waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
d. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
e. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
f. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak. g. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh
dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak.
i. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Dari analisis pengalaman di lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat dirangkum dalam tiga sikap, yaitu :
a. Jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan
b. Membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan
c. Mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat
d. Melakukan kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum dapat diperoleh.
e. Selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan” dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.
f. Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan.
Dan & Bradstreet business Credit Service (1993, p.1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki yaitu :
a. Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan. b. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar
pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien. c. Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap
usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
d. Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati
merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
e. Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
f. Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
g. Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
h. Statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.
i. Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing.
j. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
k. Copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007, p.137 – 139)
2.5 Pengelolaan Keuangan
Pengelolaan Keuangan adalah menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara. Kegiatan pengelolaan keuangan antara lain perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan. (Organisasi.org Komunitas & Perpustakaan Online Indonesia)
Survei yang dilakukan oleh National Federation of Independent Business menemukan bahwa 67% dari pemilik perusahaan kecil mengatakan bahwa mereka kadang mengalami masalah dalam mengelola arus kas. Sebanyak 19% dari para pengusaha melaporkan arus kas sebagai masalah yang terus menerus muncul.
Satu-satunya cara untuk menghindar dari kondisi sulit yang dapat menghancurkan bisnis ini adalah menggunakan prinsip-prinsip manajemen kas.
Kreditor, karyawan, dan pemberi pinjaman berharap untuk dibayar tepat pada waktunya dan kas merupakan medium pertukaran yang diperlukan. Namun demikian, beberapa perusahaan menyimpan kas dalam jumlah yang berlebihan untuk menutupi pengeluaran tak terduga yang mungkin saja timbul. Uang yang tidak dimanfaatkan ini punya potensi untuk menciptakan pendapatan yang diabaikan pemiliknya, dan hal ini tentu saja menghambat pertumbuhan perusahaan dan menekan profitabilitasnya. Menginvestasikan dana ini, meskipun dalam jangka pendek, dapat menambah pendapatan perusahaan. Manajemen kas yang tepat memungkinkan pemilik untuk secara memadai menutup kebutuhan kas perusahaan, menghindari penyimpanan saldo kas yang terlalu besar yang tidak perlu, dan meningkatkan kapasitas untuk menghasilkan uang dari steiap sen yang dimiliki oleh perusahaan.
Berdasarkan pembahasan dalam skripsi ini, Ada beberapa dimensi dalam pengelolaan keuangan , antara lain yaitu :
2.5.1. Sistem Keuangan
Sistem Keuangan dalam pengelolaan keuangan diterapkan dalam berbagai bentuk perusahaan adalah sebagai berikut:
2.5.1.1 Perusahaan Perseorangan
Perusahaan perseorangaan adalah perusahaan yang dimiliki, dikelola dan dipimpin oleh seseorang yang bertanggung jawab penuh terhadap semua resiko dan aktivitas perusahaan. Tidak ada pemisahan modal antara kekayaan pribadi dan kekayaan perusahaan.
A. Ciri dan Sifat Perusahaan Perseorangan :
a. Relatif mudah didirikan dan juga dibubarkan
b. Tanggung jawab tidak terbatas dan bisa melibatkan harta pribadi c. Tidak ada pajak, yang ada adalah pungutan dan retribusi
f. Keuntungan yang kecil yang terkadang harus mengorbankan penghasilan yang lebih besar
g. Jangka waktu badan usaha tidak terbatas atau seumur hidup h. Sewaktu-waktu dapat dipindah tangankan
B. Kelebihan dan Kekurangan Perusahaan Perseorangan Kelebihan :
1. Pemilik bebas mengambil keputusan
2. Seluruh keuntungan perusahaan menjadi hak pemilik perusahaan 3. Rahasia perus ahaan terjamin
4. Pemilik lebih giat berusaha Kekurangan :
1. Tanggungjawab pemilik tidak terbatas 2. Sumber keuangan perus ahaan terbatas
3. Kelangsungan hidup perusahaan kurang terjamin
4. Seluruh aktivitas manajemen dilakukan sendiri, sehingga pengelolaan manajemen
5. Menjadi kompleks
2.5.1.2 Firma
Firma adalah badan usaha yang didirikan oleh seseorang atau lebih dengan bersama untuk melaksanak an usaha, umumnya dibentuk oleh orang-orang yang memiliki Keahlian sama atau seprofesi dengan tanggungjawab masing-masing anggota tidak terbatas, laba ataupun kerugian akan ditanggung bersama.
A. Ciri dan Sifat Firma :
1. Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi dengan harta pribadi.
2. Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin
3. Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota baru tanpa seizin anggota yang lainnya.
4. Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup 5. Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma
6. Pendiriannya tidak memelukan akte pendirian 7. Mudah memperoleh kredit usaha
B. Kelebihan dan Kekurangan Firma Kelebihan :
1. Kemampuan manajemen lebih besar, karena ada pembagian kerja diantara para anggota
2. Pendiriannya relatif mudah, baik dengan Ak ta atau tidak memerlukan Akta Pendirian
3. Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi Kekurangan:
1. Tanggungjawab pemilik tidak terbatas
2. Kerugian yang disebabkan oleh seorang anggota, harus ditangung bersama anggota lainnya
3. Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu.
2.5.1.3 Perseroan Komanditer (CV)
Bentuk badan usaha CV adalah bentuk perusahaan kedua setelah PT yang paling banyak digunakan para pelaku bisnis untuk menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Namun tidak semua bidang usaha dapat dijalankan Perseroan Komanditer (CV), hal ini mengingat adanya beberapa bidang usaha tertentu yang diatur secara khusus dan hanya dapat dilakukan oleh badan usaha Perseroan Terbatas (PT). Perseroan Komanditer adalah bentuk perjanjian kerjasama berusaha bers ama antara 2 (dua) orang atau dengan Akta Otentik sebagai Akta Pendirian yang dibuat dihadapan notaris yang berwenang. Para pendiri perseroan komanditer terdiri dari Persero aktif dan Persero Pasif yang membedakan adalah tanggungjawabnya dalam perseroan. Persero Aktif yaitu orang yang aktif menjalankan dan mengelola perusahaan termasuk bertanggung jawab secara penuh atas kekayaan pribadinya. Persero Pasif yaitu orang yang hanya bertanggung jawab sebatas uang yang disetor saja kedalam perusahaan tanpa melibatkan harta dan kekayaan peribadinya.
A. Ciri dan Sifat CV :
a. Sulit untuk menarik modal yang telah disetor b. Modal besar karena didirikan banyak pihak c. Mudah mendapatkan kridit pinjaman
d. Ada anggota aktif yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas dan ada yang pasif tinggal menunggu keuntungan
e. Relatif mudah untuk didirikan
f. Kelangsungan hidup perusahaan cv tidak menentu B. Kelebihan dan Kekurangan CV
Kelebihan :
1. Kemampuan manajemen lebih besar 2. Proses pendirianya relatif mudah
3. Modal yang dikumpulkan bisa lebih besar 4. Mudah memperoleh kredit
Kekurangan :
1. Sebagian sekutu yang menjadi Persero Aktif memiliki tanggung tidak terbatas
2. Sulit menarik kembali modal
3. Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu
2.5.1.4 Perseroan Terbatas (PT)
Bentuk badan usaha PT adalah bentuk perusahaan yang paling populer dalam bisnis dan paling banyak digunakan oleh para pelaku bisnis di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usaha diberbagai bidang. Berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bentuk PT ini juga dirasakan lebih menjaga keamanan para pemegang saham/pemilik modal dalam berusaha.
Sama halnya dengan CV pendirian PT juga dilakukan minimal oleh 2 (dua) orang atau lebih, karena sistem hukum di Indonesia menganggap dasar dari perseroan terbatas adalah suatu perjanjian maka pemegang saham dari perseroan terbatas pun minimal haruslah berjumlah 2 (dua) orang, dengan jumlah modal dasar minimum Rp. 50.000.000,-, sedangkan untuk bidang
usaha tertentu jumlah modal dapat berbeda seperti yang ditentukan serta berlaku aturan khusus yang mengatur tentang bidang usaha tersebut.
A. Jenis Perseroan Terbatas (PT) dibagi menjadi : PT-Non Fasilitas Umum atau PT. Biasa PT-Fasilitas PMA
PT-Fasilitas PMDN PT-Persero BUMN PT-Perbankan
PT-Lembaga Keuangan Non Perbankan PT-Us aha Khusus
Berdasarkan penanaman modalnya jenis perseroan terbatas dibagi menjadi : Perseroan Terbatas dalam rangka rangka Penanaman Modal Asing (PT-PMA) Perseroan Terbatas dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PT-PMDN)
Perseroan Terbatas yang modalnya dimiliki oleh Warga Negara Indonesia/Badan Hukum Indonesia (PT-SWASTA NASIONAL)
PT-Perseron BUMN,Perseroan Terbatas yang telah go public (PT-Go Public) yaitu perseroan yang sebagian modalnya telah dimiliki Publik dengan jalan membeli saham lewat pasar modal (Capital Market) melalui bursa-bursa saham
B. Ciri dan Sifat PT :
a. Kewajiban terbatas pada modal tanpa melibatkan harta pribadi b. Modal dan ukuran perusahaan besar
c. Kelangsungan hidup perusahaan pt ada di tangan pemilik saham d. Dapat dipimpin oleh orang yang tidak memiliki bagian saham e. Kepemilikan mudah berpindah tangan
f. Mudah mencari tenaga kerja untuk karyawan / pegawai
g. Keuntungan dibagikan kepada pemilik modal / saham dalam bentuk dividen
h. Kekuatan dewan direksi lebih besar daripada kekuatan pemegang saham i. Sulit untuk membubarkan PT
Walaupun populer dalam kegiatan bisnis bentuk PT pun memiliki kebaikan dan keburukan antara lain :
C. Kelebihan dan Kekurangan PT Kelebihan :
1. Pemeganga Saham bertanggung Jawab terhadap hutang-hutang perusahaan
2. Mudah mendapatkan tambahan dana/modal misalnya dengan mengeluarkan saham baru
3. Kelangsungan hidup perusahaan lebih terjamin
4. Terdapat efisiensi pengelolaan sumber dana dan efisiensi pimpinan, karena pimpinan dapat diganti sewaktu-waktu melalui Rapat Umum Pemegang Saham
5. Kepengurusan perseroan memiliki tanggung jawab yang jelas kepada pemilik atau pemegang saham
6. Diatur dengan jelas oleh undang-undang Perseroan Terbatas serta peraturan lain yang mengikat dan melindungi kegiatan perusahaan. Kekurangan :
1. Merupakan sunjek pajak tersendiri dan deviden yang diterima pemegang saham akan dikenakan pajak
2. Kurang terjamin rahasia perusahaan, karena semua kegiatan harus dilaporkan kepada pemegang saham
3. Proses pendiriannya membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar dari CV
4. Proses Pembubaran, perubahan Anggaran Dasar, Penggabungan dan Pengambilalihan Perseroan membutuhkan waktu dan biaya serta persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
2.5.2. Buku Catatan Keuangan 2.5.2.1 Laporan Keuangan
Menurut (Weston & Copeland, 1992) Laporan keuangan berisi informasi tentang prestasi perusahaan di masa lampau dan dapat
memberikan petunjuk untuk penetapan kebijakan dimasa yang akan datang. Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta laporan perubahan modal, dimana neraca menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan laporan rugi laba memperlihatkan hasil- hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu dan laporan perubahan modal menunjukan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Selain diatas laporan keuangan juga sering mengikut sertakan laporan lain yang sifatnya membantu untuk memperoleh keterangan lebih lanjut, diantara laporan tersebut adalah laporan perubahan modal kerja, laporan sumber dan penggunaan kas (laporan arus kas), laporan sebab-sebab perubahan laba kotor, laporan biaya produksi serta daftar-daftar lainnya.
2.5.2.2 Keuangan
Keuangan merupakan ilmu dan seni dalam mengelola uang, yang mempengaruhi kehidupan setiap orang dan setiap organisasi (Ridwan S, 2003). Keuangan berhubungan dengan proses, lembaga, pasar dan instrumen yang terlibat dengan uang.
2.5.2.3 Analisis Laporan Keuangan
Menurut (Astuti, 2004), analisis laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan investasi. Analisis laporan keuangan mencakup :
1. Pembandingan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama
2.5.2.4 Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat dengan maksud memberikan gambaran kemajuan (progress report) perusahaan secara periodik. Jadi laporan keuangan bersifat histories serta menyeluruh dan sebagai suatu progress report. Laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari kombinasi antara fakta yang telah dicatat, prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan dalam akutansi serta pendapat pribadi.
Fakta-fakta yang telah dicatat, laporan keuangan dibuat berdasarkan fakta dari catatan akutansi, pencatatan dari pos-pos ini merupakan catatan histories dari peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau dan jumlah uang yang tercatat dinyatakan dalam harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut. Dengan sifat yang demikian maka laporan keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan dari suatu perusahaan dalam kondisi perekonomian paling akhir.
Prinsip dan kebiasaan di dalam akutansi, data yang dicatat didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akutansi yang lazim, di dalam akutansi juga digunakan prinsip atau anggapan-anggapan yang melengkapi konvensi-konvensi atau kebiasaan yang digunakan antara lain : bahwa perusahaan akan tetap berjalan sebagai suatu yang going concern, konsep ini menganggap bahwa perusahaan akan berjalan terus, konsekwensinya bahwa jumlah-jumlah yang tercantum dalam laporan merupakan nilai-nilai untuk perusahaan yang masih berjalan yang didasarkan pada nilai atau harga pada terjadinya peristiwa itu. Jadi jumlah uang yang tercantum dalam laporan bukanlah nilai realisasi jika aktiva tersebut dijual.
Pendapat pribadi, dimaksudkan bahwa walaupun pencatatan akutansi telah diatur oleh dalil-dalil dasar yang telah ditetapkan yang sudah menjadi standar praktek pembukuan, namun penggunaan tersbut tergantung oleh akuntan atau pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan missal dalam menentukan nilai persediaan itu tergantung pendapat pribadi manajement serta berdasar pengalaman masa lalu. (Ilmumanajemen.Wordpress.com/2008)
2.5.2.5 Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat untuk suatu tujuan dimana tertuang dalam Prinsip akutansi Indonesia, 1984 mengenai tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai
sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan. 2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan
dalam sumber ekonomi neto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari aktivitas perusahaan dalam rangka memperoleh laba.
3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai
laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan
dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman
5. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijaksanaan akutansi yang dianut perusahaan.
2.5.2.6 Keterbatasan Laporan Keuangan
Keterbatasan Laporan Keuangan adalah sebagai berikut :
1. Laporan keuangan sifatnya sementara dan bukan laporan yang final,
karena itu jumlah dan hal-hal yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukan nilai likuiditas atau realisasi dimana dalam pembuatannya terdapat pendapat-pendapat pribadi yang telah dilakukan oleh akuntan atau management yang bersangkutan.
2. Angka yang tercantun dalam laporan keuangan hanya merupakan nilai
buku (book value) yang belum tentu sama dengan harga pasar sekarang maupun nilai gantinya.
3. Untuk para investor laporan keuangan hanya bersifat membantu, masih
memerlukan ramalan-ramalan sebabnya adalah bahwa data-data yang disajikan oleh akutansi semata-mata hanya didasarkan atas “cost” (yang bersifat histories) dan bukan atas dasar nilainya, akhirnya timbul jurang (gap) yang cukup besar antara hak kekayaan pemegang saham berupa aktiva bersih perusahaan yang dinyatakan dalam harga pokok historis dengan harga saham yang tercatat dibursa. (ikatan akutansi Indonesia, Jakarta 1974, p.14).
4. Laporan keuangan bersifat konserfatif dalam sikapnya menghadapi
ketidakpastian, peristiwa yang tidak menguntungkan segera diperhitungkan kerugiannya. Harta, kekayaan bersih, dan pendapatan bersih selalu dihitung dalam nilainya yang paling rendah.
5. Laporan keuangan itu bersifat umum, dan bukan untuk memenuhi keperluan tiap-tiap pemakai
2.5.2.7 Dasar Laporan Keuangan
Menurut (Astuti, 2004) Dasar-dasar Laporan keuangan terdiri dari : 1. Laporan Laba Rugi, adalah laporan yang mengikhtiarkan pendapatan
dan beban perusahaan selama periode akuntansi tertentu yang umumnya setiap kuartal atau setiap tahun. Jadi laporan laba-rugi melaporkan operasi perusahaan selama periode tertentu, dan untuk tujuan perencanaan dan pengendalian manajemen biasanya meramalkan laporan ini secara bulanan kemudian membandingkan hasil aktual dengan laporan yang dianggarkan.
2. Neraca adalah laporan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu. Sisi kiri neraca menunjukan aktiva perusahaan, sedangkan sisi kanan neraca menunjukan kewajiban dan ekuitas atau klain terhadap aktiva tersebut.
3. Laporan Laba Ditahan, adalah laporan bagian laba perusahaan yang telah disimpan dan tidak dibayarkan sebagai dividen. Laporan laba ditahan ini bersifat kumulatif dari tahun ke tahun.
2.5.2.8 Kas
Kas meliputi saldo uang tunai dan saldo rekening giro bank yang dimiliki perusahaan serta elemen-elemen lainnya yang dapat dipersamakan dengan kas. Syarat suatu elemen dapat dipersamakan dengan kas adalah: a. Dapat diterima setiap saat sebagai alat pembayaran khususnya di
dalam lingkungan bisnis
b. Dapat disetorkan sebagai atau ke dalam rekening giro dibank setiap saat sesuai dengan nilai nominalnya.
Elemen yang termasuk dalam kas meliputi: 1. Kas pada perusahaan (cash on hand) Terdiri dari:
a. Uang tunai meliputi uang ligam dan kertas yang dimiliki perusahaan b. Check yang diterima sebagai alat pembayaran dari pihak lain tetapi
oleh perusahaan belum diuangkan atau disetor sebagai rekening giro dibank.
c. Elemen-elemen lain nya yang dapat dipersamakan dengan kas,misalnya: pos wesel, bukti kiriman uang yang belum di uangkan,bank draft,money order dan sebagainya.
2. Kas di bank (cash in bank)
Kas dibank adalah semua saldo rekening giro bank yang dimiliki perusahaan dan dapat digunakan setiap saat sebagai alat pembayaran dengan menggunakan check atau permintaan transfer uang. Didalam praktek seringkali ada elemen yang tidak merupakan kas tetapi dimasukan sebagai elemen kas, sehingga elemen tersebut perlu dipisahkan dengan kas. Elemen-elemen yang tidak termasuk kas misalnya:
3. Kas bon
Kas bon atau uang muka intern adalah merupakan bukti pengambilan uang kas yang dilakukan oleh petugas perusahaan untuk melakukan pembayaran kepada pihak luar yang jumlahnya belum dapat dipastikan dan bukti-bukti pendukung nya baru piperoleh jika sudah dibayar. Bukti kas bon tidak dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran dan tidak dapat disetorkan kedalam rekening giro perusahaan di bank, maka kas bon bukan merupakan elemen kas.
Bentuk-bentuk buku catatan keuangan dalam Pengelolaan Keuangan : A. Buku Besar
Buku Besar/Ledger adalah kumpulan semua akun yang digunakan dalam system informasi perusahaan, ukuran perusahaan dan ragam industri mempengaruhi jumlah akun yang digunakan. Buku besar digunakan untuk mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu perkiraan tertentu yang disebabkan oleh adanya transaksi keuangan. Salah satu contoh bentuk buku besar :
Bentuk T
Bentuk T adalah buku besar berbentuk huruf T. Buku besar ini merupakan buku besar yang paling sederhana dan paling banyak digunakan, biasaya untuk keperluan analisis transaksi dan keperluan menjelaskan mekanisme penggunaan akun dalam pelajaran akuntansi.
Contoh bentuk buku besar T adalah sebagai berikut:
B. Jurnal-jurnal dalam Akuntansi
Dalam akuntansi, Jurnal adalah suatu buku dimana transaksi-transaksi bisnis dicatat secara kronologis pada prosedur pembukuan sebelum dimasukkan ke dalam buku besar. Secara umum, jurnal akuntansi dapat dibagi dua, yaitu:
• Jurnal khusus. Dipergunakan untuk mencatat transaksi-transaksi secara spesifik berdasarkan jenis, sesuai kebutuhan perusahaan. Jenis jurnal khusus yang sering dipergunakan adalah
a. Jurnal penjualan ( semua penjualan secara kredit)
b. Jurnal penerimaan kas (semua penerimaan kas secara tunai) c. Jurnal Pengeluaran kas ( semua pengeluaran kas secara tunai) d. Jurnal pembelian ( semua pembelian kas secara kredit)
• Jurnal umum digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang tidak masuk dalam jurnal khusus.
C. Siklus Akuntansi
Akutansi memiliki proses yang terdiri dari tahapan-tahapan untuk dapat menghasilkan laporan yang diinginkan dan dilakukan oleh akuntan.
1. Proses Mengklarifikasi Transaksi
Tahap yang awal ini adalah di mana dilakukan suatu pembagian transaksi suatu organisasi atau perusahaan ke dalam jenis-jenis tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh seperti membagi transaksi yang masuk ke dalam penjualan, pembelian, pengeluaran kas, penerimaan kas dan lain sebagainya ke dalam masing-masing bagian. Sedangkan untuk transaksi yang jumlahnya kecil dan jarang terjadi bisa sama-sama dimasukkan ke dalam jenis kategori yang sama yaitu transaksi rupa-rupa.
2. Proses Mencatat Dan Merangkum
Setelah melakukan pengklarifikasian data selanjutnya adalah melakukan pencatatan. Masukkan transaksi yang ada ke dalam jurnal yang tepat sesuai urutan transaksi terjadi atau kejadiannya. sumber-sumber yang dapat dijadikan bukti adanya transaksi yaitu seperti kertas-kertas bisnis semacam bon, bill, nota, struk, sertifikat, dan lain sebagainya. Jurnal yang umumnya ada pada jurnal akuntasi yaitu seperti jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas dan jurnal umum.Setelah transaksi dimasukkan ke dalam jurnal-jurnal yang ada, maka selanjutnya adalah memasukkan
jurnal ke dalam buku besar secara berkala. Hasil pemindahan ke dalam buku besar tersebut akan terlihat dari rangkuman neraca percobaan. 3. Proses Menginterpretasikan Dan Melaporkan
Setelah kedua proses di atas dijalankan, maka proses yang terakhir adalah melakukan pembuatan kesimpulan dari kegiatan atau pekerjaan laporan keuangan sebelumnya. Segala hal yang berhubungan dengan keuangan perusahaan diungkapkan pada laporan keuangan tersebut. Dari informasi laporan keuangan baik dalam bentuk laporan rugi laba, laporan modal dan neraca seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi pada suatu perusahaan, apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan dan informasi tersebut dapat menjadi acuan atau pedoman bagi manajemen untuk mengambil keputusan kebijakan pada organisasi perusahaan demi mencapai kondisi yang diinginkan.
2.5.3 Sumber Pembiayaan Keuangan 2.5.3.1 Bentuk-bentuk Pembiayaan a. Biaya Modal
Untuk memulai suatu bisnis dibutuhkan factor produksi modal. Factor produksi modal merupakan sumberdaya paling fleksibel karena dengan factor produksi modal dapat diperoleh sumberdaya lain, misalnya dengan modal atau dana yang cukup dapat dibeli mesin-mesin produksi, bangunan, bahan baku, SDM. Menurut (Dewi, 2004), biaya modal atau cost capital adalah biaya untuk pemakaian sejumlah modal untuk suatu usaha. Menurut (Weston&Copeland,1992), modal didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Jadi modal merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan, dikurangi kewajiban lancer yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar. Modal (capital) merupakan factor produksi yang dibutuhkan dan seperti factor-faktor produksi lainnya, factor modal mempunyai biaya. Ada beberapa alasan mengapa perlu mengetahui besarnya biaya modal dari modal yaitu sebagai berikut :
• Untuk memaksimumkan nilai perusahaan, manajer harus meminimumkan biaya dari semua masukan termasuk modal. Agar dapat meminimumkan biaya modal, kita harus terlebih dahulu dapat mengukur modal itu sendiri.
• Manajer keuangan memerlukan estimasi dari biaya modal agar dapat mengambil keputusan tepat bagi rencana investasi jangka panjangnya.
• Berbagai macam keputusan lain yang berkaitan dengan biaya modal seperti keputusan leasing, keputusan modal kerja, dan lain-lain. b. Biaya Hutang
adalah biaya yang masih harus dibayar yang masih harus dibayar adalah hutang jangka pendek perusahaan yang timbul karena perusahaan telah menerima jasa dari pihak lain, akan tetapi sampai tanggal neraca balas jasanya belum dilunasi atau diberikan oleh perusahaan.
Elemen hutang biaya: 1. Hutang gaji 2. Hutang biaya sewa 3. Hutang biaya kredit
2.5.3.2 Jenis-jenis Kredit a. Jangka Waktu Kredit
Kreteria kredit berdasarkan jangka waktu dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1. Kredit jangka pendek
Kredit yang memiliki jangka waktu maksimum satu tahun. Misalnya untuk membiayai modal kerja, pembiayaan musiman. 2. Kredit jangka panjang
Kredit yang jangka waktunya lebih dari satu tahun, contohnya adalah kredit investasi
Pada kredit revolving pinjaman yang telah dilunasi masih dapat ditarik kembali maka sifat pemakaian dana jenis kredit ini adalah “ naik-turun” sesuai dengan kebutuhan debitur.
Ciri dari kredit Revolving adalah :
a. Debitur diberi suatu plafond/limit kredit tertentu dan plafon tersebut merupakan jumlah dana maksimum yang dapat ditarik
b. Kebutuhan dana tergantung dari cash flow (arus kas)
c. Umumnya termasuk kredit jangka panjang (minimum 1 tahun) dan dapat diperpanjang
d. Penarikan dapat juga bertahap atau sekaligus demikian juga pelunasannya
2. Non Revolving
Kredit tidak dapat ditarik secara berulang-ulang jika sudah dilunasi.
Ciri-ciri kredit non revolving adalah :
1. Penarikan dana dapat dilakukan secara langsung dan sekaligus.atau secara bertahap sesuai perjanjian(umumnya penarikan dilakukan secara sekaligus)
2. Pelunasan pinjaman dapat dilakukan secara bertahap atau sekaligus sesuai perjanjian.
3. Debitur tidak dapat menarik dana yang telah dilunasi dengan demikina outstanding pinjaman akan terus menurun 4. Dari sudut jangka waktunya kredit ini merupakan kredit
jangka pendek atau jangka panjang. c. Tujuan Penggunaan Dana
Kreteria kredit penggunaan dana dapat dibagi menjadi : 1. Kredit modal kerja (working capital loan):
Kredit modal kerja ( working capital loan) kredit yang diberikan untuk membiayai kegiatan usahanya atau perputaran modal misalnnya pemberian barang dagangan dan lainnya. Sifat penggunaan dana dapat revolving dan non revolving.jenis
kreditnya pinjaman aksiet (dl) ,PRK (OD) bisa juga term loan (TL) . Umumnya jangka waktu kredit kurang atau sama dengan satu tahun.
2. Kredit investasi (investment Loan)
Kredit yang diberikan utnuk pembiayai pembelian aktiva tetap (misalnya tanah,banguan, mesin,.kendaraan) untuk pemproduksi barang dan jasa utama yang diperlukan guna relokasi, ekspansi,modernisasi,usaha ataun pendirtian usaha baru. Sifat penggunaan dana non revolving, jenis kredit TL. TL dengan grace periode atau kentraction loan dan umunya jangka waktu kredit lkebih dari saru tahun.
3. Kredit konsumsi ( consumer loan )
Kredit yang diberkan bank untuk membiaya pembeluan barang, yang tujuannya tidak untuk usaha tetapi untuk penmakain pribadi, sifat menggunaan dananya non revolving dan jenis kredit pada umumnya term loan, KPR, car loan.
2.6 Kerangka Berpikir
Pengelolaan keuangan
Profil Bisnis Indikator PK Profil Pengusaha
1. Jenis kelamin 2. Status Perkawinan 3. Jenjang Pendidikan 4. Kelompok usia 1. Sistem Keuangan 2. Buku Catatan Keuangan 3. Sumber Pembiayaan Keuangan 1. Bentuk Usaha 2. Status dan Tempat usaha 3. Nama Usaha 4. Lokasi Usaha 5. Nama Makanan Khas