56 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1 Kalyana Shira Films
Kalyana Shira Films adalah sebuah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2000. Berlokasi di Jakarta, Kalyana Shira Films dikelola oleh Nia Dinata dan Constantin Papadimitriou. Dengan bantuan para crew dan staff yang berpengalaman dan mencintai industry films, perusahaan ini berusaha untuk selalu memproduksi film layar lebar yang berkualitas. Kalyana Shira Film telah melahirkan banyak film seperti : Ca Bau Kan, Biola Tak berdawai, Arisan, Janji Joni, Berbagi Suami, Perempuan Punya Cerita, Quickie Express, dan arisan 2. Selain film layar lebar, Kalyana Shira Films juga memproduksi acara Tv, iklan, dan iklan layanan masyarakat.
4.1.2 Sinopsis Film Tanah Mama
Film tanah mama bercerita tentang tanah Papua yang merupakan tempat yang begitu berjarak dengan daerah lain di Indonesia. Papua terkenal dengan tanahnya yang subur dan sumber mineralnya yang melimpah, ironisnya, masih banyak masyarakatnya yang hidup dalam kemiskinan serta minimnya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Di tengah situasi itu, perempuan memiliki perjuangannya sendiri melawan kekerasan dan diskriminasi seperti tokoh sentral dalam film ini yaitu mama Halosina.
Film ini merekam kehidupan Halosina, seorang ibu di Papua yang hidup di perkampungan ladang di lembah pendalaman Yahukimo, sekitar lima jam jalan kaki dari pinggiran kota Wamema. Perempuan yang dipanggil mama itu harus berjuang menghidupi diri dan empat anaknya setelah suaminya kawin lagi. Tanah ladang yang dibukakan oleh sang suami sudah tak subur lagi sehingga tak bisa ditanami. Namun, karena lebih memperhatikan istri keduanya, yang juga beranak banyak, maka Halosina tak bisa mengandalkan lelaki itu lagi untuk memberinya ladang.
Mama mengandalkan ubi dan sayuran hasil kebun, bekerja seorang diri tanpa bantuan suami dan menanam ubi hasil di ladang tidaklah cukup. Walhasil, di tengah himpitan kelaparan anak-anaknya, Halosina terpaksa mencuri ubi di ladang adik iparnya sendiri. Namun, ikatan kekeluargaan itu ternyata tak membuatnya terbebas dari hukuman. Pemilik ladang dan ketua adat tetap bersikeras bahwa halosina harus membayar denda seharga satu ekor babi, atau sekitar 500 ribu rupiah. Mama Halosina berusaha menyelesaikan masalah denda itu, tapi kesulitam demi kesulitan harus dia lalui.
Tidak memiliki uang sepeser pun, Halosina akhirnya memutuskan untuk kabur keluar dari desanya, dan memilih bersembunyi di rumah saudaranya yang berada di kampung sebelah dari desanya. Namun hal itu tidak membuatnya bebas dari hukuman adat yang diterimanya, ancaman denda terus mengejarnya, walau ia dengan gigih berusaha menempuh jalan damai dengan membujuk dan meminta maaf kepada sang adik ipar. Mama berusaha menyelesaikan masalah denda tersebut, akan tetapi rintangan demi rintangan harus dia lewati seorang diri.
Seperti ubi, tumbuh dan hidup dari tanah, begitu juga anak-anak, tumbuh dan hidup dari mama.
4.2 Gambaran Karakter Pemeran Film Tanah Mama
Sebuah film yang baik dan berkualitas dapat ditentukan dari kemahiran sang penulis skenario dan sutradara yang dapat menghidupkan cerita dalam film tersebut dan mampu menyajikan tayangan yang dapat dinikmati serta pesan dari seluruh latar belakang dan gambaran dalam film ini dapat tersampaikan dengan baik terhadap penonton. Film ini pun tidak hanya sekedar menyampaikan sebuah maksud dalam film tersebut. Tapi juga menyampaikan suatu makna lain dibalik sebuah cerita. Yang secara denotative tersampaikan melalui karakter yang ditampilkan.
Halosina
Halosina digambarkan dalam film ini adalah sebagai sosok seorang ibu yang mampu menyejajarkan diri dan kemampuannya dengan para pria tapi tidak meninggalkan kodrat dan kewajibannya sebagai seorang ibu kepada anak-anaknya. Halosina lebih mengutamakan kesejahteraan keluarga sebagai tanggung jawab utamanya, Halosina mampu berperan ganda dalam menghidupi anak-anaknya, bukan hanya menjadi seorang ibu namun Halosina mampu menjadi seorang ayah untuk anak-anaknya. Namun disisi lain dari penggambaran tokoh ini, terdapat makna lain yang ditampilkan bahwa ada pesan yang ingin disampaikan. Bahwa ditengah situasi itu perempuan memiliki perjuangannya sendiri melawan kekerasan dan diskriminasi yang dihadapi oleh Mama Halosina.
Hosea
Hosea digambarkan dalam film ini adalah sebagai sosok laki-laki yang tidak peduli kepada keluarga, lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mempunyai rasa tanggung jawab, walaupun ia sudah memiliki empat anak dari istri pertama namun Hosea lebih memilih hidup bersama dengan istri keduanya.
4.3 Filmografi Tanah Mama
TANAH MAMA
Sutradara Asrida Elisabeth
Produser Nia Dinata
Executive Produser Constantin Papadimitriou
Penulis Asrida Elisabeth
Production Supervisior Ucu Agustin
Hosea
Rumah Produksi Kalyana Shira Films Director of Photography Vera Lestafa
Editor Aji Pradityo
Genre Dokumenter
Durasi 65 Menit
Budget 400 Juta
Tanggal Rillis 8 Januari 2015
Negara Indonesia
4.4 Hasil Penelitian
Seperti yang sudah dikemukakan pada tujuan penelitian bahwa dalam penelitian ini, peneliti memiliki tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagamanakah Patriaki digambarkan dalam film “Tanah Mama”?.
Pada Film Tanah Mama ini, peneliti akan menganalisis sesuai dengan model analisis semiologi Roland Barthes mengenai mitologi yang ada dalam adegan gambar yang terdapat dalam film Tanah Mama. Dimana peneliti melakukannya dengan menggunakan makna denotasi dan konotasi. Yang mana bahwa sisi denotasi menggambarkan apa saja yang terdapat di dalam potongan gambar tersebut dan dari sisi konotasi menggambarkan apa saja yang terlihat di dalam potongan gambar tersebut sehingga menciptakan sebuah mitos.
Tabel 4.4.1 Mama Halosina Sedang Berkumpul Dengan Anaknya
Hal yang diamati
Teks :
“Seperti tiang ini berdiri tegak.”
Denotasi Konotasi
Dari scene ini terlihat suasana di malam hari. Mama Halosina berkumpul dengan anaknya. Terlihat Mama Halosina sangat serius memberi makan kepada anaknya yang paling kecil yang berada dipangkuan Mama Halosina.
Serta terlihat seorang kaka laki-laki, yang merupakan anak Mama Halosina yang menggunakan switer dengan penutup kepala sedang menghibur
Perkataan Mama Halosina “seperti tiang ini, berdiri tegak.” Memiliki arti rasa kasih sayang ditunjukkan oleh Mama Halosina kepada anaknya yang tak akan pudar, hal ini merupakan sebuah isyarat untuk memotivasi anaknya dalam menghadapi masa depan. Mama Halosina seorang diri merawat sang buah hati yang sejak kecil telah ditinggal kawin oleh
adiknya yang paling kecil.
Mama Halosina mengucapkan “seperti tiang ini, berdiri tegak” kepada anaknya untuk tetap kuat dalam menjalani hidup.
ayahnya. Penggambaran Patriaki yang
dihadapinya, membuat Mama
Halosina menjadi sosok figur seorang ibu yang kuat dan tegar melihatkan sisi feminisme. Hal ini menujukkan bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki yaitu bisa menjadi seorang pemimpin, dimana perempuan mampu mencari nafkah untuk membiayai keperluan keluarga.
Mitos
Perempuan mandiri yaitu orang tua tunggal yang segalanya dilakukan sendiri mulai dari membereskan rumah, mengurus anak bahkan hingga banting tulang bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga. Seorang perempuan mandiri sudah menjadi suatu kebanggaan tersendiri terutama bagi perempuan, karena hal tersebut sudah memberikan aspirasi bahwa perempuan bukanlah kaum lemah yang tidak bisa apa-apa seperti yang selalu direndahkan oleh laki-laki. Dan ia akan melakukan apa saja demi kebahagian anaknya dan menyelamatkan kehidupan rumah tangganya hal tersebut merupakan bentuk feminisme. Mama Halosina yang seorang single parent berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya tanpa kenal lelah, dan tetap tegar walaupun ia sudah disakiti oleh suaminya yang tidak bertanggung jawab.
Hal ini termasuk kedalam feminisme liberal yang berpandangan bahwa perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi inisiatif dan prestasi individual.
Table 4.4.2 Mama Halosina Sedang Mengajarkan Anaknya Bercocok Tanam
Hal yang diamati
“Belajar gali ubi dari sekarang,
supaya nanti kalau sudah berkeluarga tahu caranya.”
Denotasi Konotasi
Dalam adegan ini Mama Halosina mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana cara memanen ubi yang benar, dengan mengatakan “belajar gali ubi dari sekarang, supaya nanti kalau sudah berkeluarga tahu caranya.” tanpa bantuan alat untuk mempermudah proses pengambilan ubi, walau hanya dengan tangan kosong Mama Halosina sangat serius mengajarkan anak – anaknya, hal yang biasanya diajarkan oleh para ayah ditanah papua, namun hal ini diajarkan dengan tulus oleh Mama Halosina kepada anak-anaknya agar kelak menjadi anak yang mandiri
Ucapan Mama Halosina kepada anak– anaknya menggambarkan tanggung jawab seorang ibu kepada anak –
anaknya, bahwa ia harus
menggantikan dan berperan sebagai dua figure selain menjadi ibu, Mama Halosina pun harus menjadi seorang ayah untuk anak – anaknya di tengah permasalahan perekonomian yang dihadapinya. Kecerian terpancar dari wajah mereka, tawa dan senyum mewarnai perbincangannya.
Mama Halosina mengajarkan anaknya bagaimana memanem ubi dengan benar.
Mama Halosina mengajarkan anak – anaknya sejak dini bagaimana cara memanen ubi, hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laki saja, namun Mama Halosina mampu melakukan
pekerjaan tersebut. Ini menujukkan bahwa derajat atau kedudukan kaum perempuan setara dengan kaum laki – laki, bahkan dapat diartikan sebagai emansipasi wanita.
Mitos
Bercocok tanam adalah kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat papua untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari, dan salah satunya tanam yang sering ditanam dipapua adalah ubi.
Seorang ibu disini mengajarkan anaknya bagaimana cara bercocok tanam yang benar sejak kecil, hal yang biasanya diajarkan oleh seorang ayah namun disini dilakukan oleh seorang perempuan hal tersebut merupakan bentuk feminisme dan hal itu dilakukan untuk membuat anaknya tahu bila sudah dewasa nanti bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan benar. Hal tersebut diajarkan oleh Mama Halosina agar suatu saat nanti anaknya bisa menjadi seorang yang mandiri dalam menjalani kehidupannya. Hal ini termasuk kedalam feminisme psikoanalisis dan gender yang berpendapat bahwa mungkin memang ada perubahan biologis dan juga perbedaan psikologis atau penjelasan cultural atas maskulinitas laki-laki dan feminitas perempuan. Aliran feminisme psikoanalisis dan gender ini termasuk kedalam nilai-nilai feminisme sintesis, dimana feminis menggabung-gabungkan pikiran dan perasaan satu sama lain sehingga menjadi kesatuan yang selaras.
Tabel 4.4.3 Mama Halosina Sedang Merenungkan Nasibnya
Hal yang diamati
Teks :
“Lalu bagaimana dengan keempat anak saya ini.”
Denotasi Konotasi
Metode pengambilan gambar pada scene ini close up dimana untuk menunjukkan perasaan yang dirasakan subyek dalam gambar.
Disini terlihat jelas bahwa Mama Halosina sedang sangat bingung memikirkan nasib keempat orang anaknya dengan ekspresi wajah sedih, dengan berkata “lalu bagaimana dengan
Ucapan Mama Halosina
mengungkapkan perasaan seorang ibu yang sangat sedih, Sosok Mama Halosina menggambarkan kesedihan yang sangat mendalam dalam dirinya
akan nasib permasalahan
perkekonomian yang dihadapinya Dari scene ini terlihat mimik ekspresi wajah Mama Halosina yang sangat
keempat anak saya ini.”
Mama Halosina merasa tertindas, tergambar dengan baik melalui teknik close up ini. Selain itu, dari dialog yang Mama Halosina ucapkan, jelas sepertinya Mama Halosina sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk melawan ketertindasan yang dialaminya.
membutuhkan bantuan seorang suami untuk membantu menfakahi keempat orang anaknya.
kondisi Mama Halosina yang sedang bersedih memikirkan nasib kehidupan
perekonomian keluarganya,
pengahasilan bercocok tanam tidak seberapa, sedangkan Mama Halosina harus membiayai keempat orang anaknya tanpa ada bantuan dari mantan suaminya. Hal ini membuat
Mama Halosina mempunyai
kewajiban untuk membiayai
kehidupan keluarganya, hal yang demikian ini juga menggambarkan bahwa Mama Halosina adalah seorang perempuan yang memiliki derajat yang tinggi sebagai seorang pemimpin di anggota keluarganya, sehingga ia harus melindungi dan bertanggung jawab untuk keluarga. Kejadian ini karena Mama Halosina sebagai perempuan dan korban,
berusaha melawan diskriminisasi yang diterimanya.
Mitos
Kesedihan adalah suatu emosi yang ditandai oleh perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Saat sedih, manusia sering menjadi lebih diam, kurang bersemangat, dan menarik diri. Seperti yang terlihat pada gambar, Mama Halosina terlihat sangat begitu sedih memikirkan kehidupan yang sedang dijalaninya, dimana ia menjadi orang tua tunggal yang harus membesarkan, mendidik anak-anaknya agar menjadi seorang yang tumbuh besar dengan baik layaknya seperti anak – anak yang lain. Hal ini termasuk kedalam aliran feminisme eksistensialisme, ada beberapa cirri eksistensialisme yaitu selalu melihat cara manusia berada, eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan berdasarkan pengalaman yang konkret. Aliran feminisme yang seperti ini berdasarkan nilai-nilai feminisme adalah pengetahuan dan pengalaman personal artinya setiap perempuan memiliki keunikan dan kondisi yang berbeda, sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan yang tidak sama.
Tabel 4.4.4 Mama Halosina Beserta Anaknya Berjalan Menuju Pasar
Hal yang diamati
Teks :
“Sayur-sayur ini mungkin tidak akan laku, Karena sudah terlambat jalan jauh.”
Denotasi Konotasi
Memikul noken tas khas papua yang terbuat dari serat kulit kayu yang berisi buah – buahan dan sayuran, ditambah
“sayur – sayur ini mungkin tidak akan laku, karena sudah terlambat jalan jauh.” Ucapan Mama Halosina
dengan menggendong anaknya yang paling kecil Mama Halosina mengajak ke empat anaknya yang masih kecil untuk menuruni bukit menuju pasar
yang jaraknya begitu jauh
membutuhkan waktu berjalan kaki lebih dari tiga jam.
Mama Halosina berkata “ sayur – sayur ini mungkin tidak akan laku, karena sudah terlambat jalan jauh” walau berkata seperti itu Mama Halosina tidak menghentikan langkah kakinya untuk menuju pasar.
mengungkapkan perasaan gelisah yang dirasakan oleh Mama Halosina karena cemas takut sayuran yang akan dijualnya tidak akan laku.
Realita kehidupan di papua seakan sangat jauh dengan kehidupan di kota besar, dengan keadaan yang serba sulit karena terbatasnya fasilitas dan mahalnya barang – barang Mama Halosina harus bertahan seorang diri menjadi tulang punggung keluarga.
Mitos
Perjuangan menggambarkan semangat yang dimiliki dalam diri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dilakukan untuk hal yang baik dan bukan untuk melakukan sesuatu hal yang buruk. Perjuangan kegiatan mencurahkan segenap tenaga untuk merebut sesuatu melalui jalan yang sukar dan penuh rintangan. Dalam perjuangan tersebut juga terdapat berbagai macam hambatan yang malang melintang. semakin kita sering mengalami berbagai masalah makan semakin kuat pula kita dalam menjalani kehidupan. Hal ini dilakukan oleh perempuan-perempuan kuat di tanah papua mencerminkan bentuk feminisme yang sangat kuat. Hal ini termasuk kedalam aliran feminisme marxis dan sosialis mengarah
ke dalam nilai-nilai feminis yaitu kemandirian ekonomi sebagai versus dari ketergantungan ekonomi pada agenda dan pihak lain dan sebagai penyusunan konsep baru yang mengedepankan pembagian kerja secara adil dan setara antar pelaku ekonomi.
Tabel 4.4.5 Ketua Adat Menjelaskan Masalah Denda Adat
Hal yang diamati
Teks :
“Bagaimanapun juga, denda tetap harus dibayar.”
Denotasi Konotasi
Pada adegan ini ketua adat sedang berbicara kepada Mama Halosina yang sedang terkena masalah pencurian bahwa masalah yang dialami oleh Mama Halosina harus diselesaikan
Perkataan ketua adat “Bagaimanpun juga, denda tetap harus dibayar.” Memiliki arti meskipun pelanggaran yang dilakukan kecil, setiap pelanggaran harus ditindak tanpa
dengan sangsi adat yang sudah berlaku.
Ketua adat mengucapkan
“Bagaimanapun juga, denda tetap harus dibayar.” Pada Mama Halosina agar cepat untuk menyelesaikan masalah pencurian ini.
memandang siapa yang melakukan pelanggaran tersebut, laki – laki maupun wanita semua sama dimata hukum adat.
Mama Halosina terpaksa mengambil ubi dari kebun adik iparnya untuk memberi makan anak – anaknya. Walau bagaimanapun, perilaku ini dianggap sebagai pelanggaran hukum adat dan ia tetap harus bertanggung jawab untuk membayar denda adat tersebut.
Mitos
Bertanggung jawab merupakan keadaan wajib menanggung segala sesuatunya(kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipermasalahkan, diperkara, dsb), berkewajiban menanggung akan sesuatu. Jadi bertanggung jawab adalah sifat berani menanggung semuanya apabila terjadi kesalahan atas semua yang dilakukannya. Mama Halosina disini harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukan, karna aturan adat yang telah berjalan secara kuat turun- menurun. Mencerminkan sikap feminisme yang sangat kuat didalam diri halosina walaupun iya mendapat masalah iah tetap bertanggung jawab atas masalah yang diterimanya.
Tabel 4.4.6 Mama Halosina Sedang Menyusui Anaknhya
Hal yang diamati
Medium Shot (MS)
Denotasi Konotasi
Ukuran gambar medium shot dengan maksud hubungan ibu dan anak dari objek yang ada dalam film Tanah Mama, dengan gerakan dan ekspresi wajah.
Terlihat dari gambar yang ditampilkan adalah Mama Halosina yang sedang menyusui anaknya dipinggir ladang, walaupun dalam keadaan sibuk bekerja diladang.
Mama Halosina yang duduk
beristirahat sambil menyusui anaknya yang paling kecil ini merupakan tindakan seorang perempuan sebagai ibu dalam menjaga dan melindungi anaknya sebagai wujud kasih sayang kepada anaknya.
Sebuah cerminan bahwa seorang ibu ditengah perjuangannya ia mampu
memberikan ketenangan untuk
ibu kepada anaknya.
disini digambarkan Mama Halosina tanpa pamrih dalam mengurus anaknya seorang diri, walaupun sedang sibuk bercocok tanam di ladang, Mama Halosina tetap memprioritaskan anaknya. Makna barunya dari gambar di atas perempuan bisa berdiri sendiri,
menunjukkan keberanian yang
dimilikinya dalam berperan besar menjaga anaknya, meski ditengah diskriminasi yang dihadapinya, Mama Halosina sebagai ibu pun bisa sejajar berdiri dengan laki – laki.
Mitos
Rela berkorban bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau sesuatu, walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemauan sendiri. Berkorban berarti memberikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Disini terlihat Mama Halosina rela mengorbankan waktunya untuk mengurusi anaknya yang paling kecil untuk diberikan Asi walau ditengah kesibukkannya. Hal ini
termasuk kedalam aliran feminisme liberal yang termasuk kedalam kandungan nilai-nilai feminisme bahwa seorang perempuan berhak merumuskan dirinya sendiri. Feminisme liberal berpandangan bahwa perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi insiatif dan prestasi individual.
Tabel 4.4.7 Mama Halosina Menatap Lahan Kosong
Hal yang diamati
Long shot (LS)
Denotasi Konotasi
Dari scene ini terlihat posisi Mama Halosina bersama anaknya yang berada dipundaknya sedang melihat lahan kosong yang masih rimbun dengan
Dalam scene ini Mama Halosina sedang menatap kearah lahan hutan yang masih belum dibuka untuk tempat
pepohonan.
Gambar yang menggunakan teknik Long shot ini mempertegaskan adanya
seseorang ibu yang sangat
mengharapkan dibukakan lahan untuk tempat bercocok tanam oleh suaminya.
bagaimana Mama Halosina sangat ingin mempunyai lahan baru untuk tempat dia menafkahi anak-anaknya.
Sosok Mama Halosina
menggambarkan kesedihan dalam diri
akan nasib permasalahan
perekonomian yang dihadapinya. Dimana seorang ibu yang ditinggalkan oleh suaminya, sangat ingin sekali mempunyai lahan baru seperti perempuan lain untuk merubah perekonomiannya agar lebih membaik. perempuan memiliki haknya untuk diberikan lahan baru, ketika suami sudah pergi meninggalkannya. karena itu merupakan tanggung jawab seorang suami atau bapak untuk memperbaiki kehidupan mantan istri dan anak-anaknya yang sudah ditinggalkan, namun disini Mama Halosina tidak mendapatkan bantuan sama sekali dari mantan suaminya. Bentuk diskriminasi yang diberikan suaminya menandakan
bentuk ketidakpedulian disebabkan oleh budaya patriaki yang muncul dari sebuah kebudayaan yang berkembang dalam tatanan masyarakat tertentu.
Perempuan selalu menerima
ketidakadilan gender, karena laki-laki selalu merasa bahwa merekalah yang mampu lebih berperan ketimbang perempuan. Perempuan adalah sosok yang lemah dimata laki – laki. Tapi dilihat dari sisi lain, perempuan justru sosok yang sangat kuat, karena tabah menghadapi ketidakadilan gender dalam hidup mereka.
Mitos
Pada umumnya pantang menyerah merupakan sikap yang tidak pernah putus asa dalam meraih sesuatu. Selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Maka makna pantang menyerah dari gambar tersebut adalah suatu sikap Mama Halosina yang tak pernah putus asa dalam menutut haknya dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya selalu berusaha terus – menurus untuk menemukan jalan keluar demi memperbaiki perekonomian keluarganya. Hal ini termasuk kedalam aliran feminisme liberal yang termasuk kedalam
kandungan nilai-nilai feminisme bahwa seorang perempuan berhak merumuskan dirinya sendiri. Feminisme liberal berpandangan bahwa perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi insiatif dan prestasi individual.
Tabel 4.4.8 Mama Halosina Menjelaskan Apa Yang Sebenarnya Terjadi
Hal yang diamati
Medium Shot (MS)
Denotasi Konotasi
Pada gambar ini terlihat Mama Halosina bersama anak-anaknya sedang berdiskusi dengan ketua adat di dalam sebuah ruangan. Di sini Mama
Pembelaan yang dilakukan oleh Mama Halosina adalah ungkapan kesedihan yang dialaminya, ketika tidak ada dukungan dan bantuan dari seorang
Halosina mencoba menjelaskan bahwa perbuatan yang dilakukannya tidaklah salah. Shot size yang digunakan pada gambar ini adalah medium shot yang menunjukkan aktivitas suatu objek dan lingkungan sekitar
suami, Mama Halosina terpaksa mengambil ubi dikebun saudaranya untuk memberi makan anaknya.
Walaupun disini terlihat dalam teks bahwa sebenarnya Mama Halosina bukan mencuri, namun ia tetap harus melunasi pembayaran denda yang diberikan oleh ketua adat.
Dengan segala kelemahannya, berada dibawah kendali laki-laki, sehingga disini Mama Halosina hanya dapat bersikap menerima rela dan tabah.
Mitos
Berani mengambil resiko pada umumnya merupakan suatu sikap yang berani menanggung semua akibatnya apabila terjadi sesuatu pada dirinya maka ia harus siap menghadapinya. Makna mengambil resiko dalam film ini merupakan hal yang tidak lumrah karena mengambil resiko mencuri ubi diladang milik adik ipar, Mama Halosina mengambil ubi untuk memberi makan anak-anaknya, karena tidak ada stock makanan yang tersedia dirumah, Mama Halosina pun nekat mengambil ubi milik adik iparnya tersebut dan berani mengambil resiko dengan apa yang telah diperbuatnya. Mencerminkan sikap feminisme yang sangat kuat didalam diri halosina walaupun iya mendapat masalah iah tetap
bertanggung jawab atas masalah yang diterimanya tanpa lari dari masalah tersebut.
Tabel 4.4.9 Mama Halosina Berjualan Sayur di Pasar
Hal yang diamati
Medium Shot (MS)
Denotasi Konotasi
adalah Mama Halosina yang sedang berinteraksi dengan pembeli yang menghampiri dagangan yang dijualnya. Pengambilan gambar dengan medium shot menunjukan suasana yang ada disekitar Mama Halosina yaitu dipasar tradisional. Terlihat Mama Halosina serius menawarkan sayuran yang dijualnya.
ditanah papua merupakan kegiatan yang biasa dilakukan mama – mama dipapua untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hal ini juga sama dilakukan oleh Mama Halosina sebagai bentuk tanggung jawab seorang ibu kepada anak – anaknya. Sebagai seorang ibu Mama Halosina tidak hanya berdiam diri saja dirumah, tetapi perempuan juga dapat menghasilakan penghasilan untuk kebutuhan hidup. Hal ini menujukkan bagian dari konsep feminisme bahwa perempuan adalah kaum yang kuat dan dapat disamakan derajatnya seperti laki – laki.
Mitos
Kerja keras adalah sesuatu yang menggambarkan kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan. Kerja keras dapat diartikan bekerja mempunyai sifat yang bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Kemampuan untuk mencapai target pribadi yang dianggap sedikit melebihi batas kemampuan kita sendiri demi mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini
dilakukan oleh Mama Halosina sebagai bentuk tanggung jawab seorang ibu kepada anak-anaknya menunjukkan sfiat feminisme yang dimilikinya, Mama Halosina sebagai orang tua tunggal tidak diam begitu saja namun ia bisa memiliki penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup ia dan anak – anaknya. Hal ini termasuk kedalam aliran feminisme liberal yang termasuk kedalam kandungan nilai-nilai feminisme bahwa seorang perempuan berhak merumuskan dirinya sendiri. Feminisme liberal berpandangan bahwa perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi insiatif dan prestasi individual.
4.5 Pembahasan
Dari hasil penelitian berdasarkan mitos dan ideologi yang dirujukkan melalui teknis analisis roland barthes. Peneliti melihat adanya sebuah rangkaian mitos melalui gambar-gambar atau objek yang diteliti. Mitos itu sendiri berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Dimana mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya, atau dengan kata lain bahwa mitos adalah suatu sistem pemaknaan tataran kedua.
Film Tanah Mama ini berceritakan tentang perjuangan seorang perempuan yang berjuang melawan diskriminasi dan ketertindasan yang dihadapinya yang ditandai dengan bentuk verbal dan nonverbal. Semua terlihat dalam banyak adegan dari adanya permasalahan, konflik hingga pemecah masalah. Dalam adegan awal ditunjukan dari adanya sebuah permasalahan dalam sebuah hubungan. Dan dalam film ini juga menceritakan mitos di dalam masyarakat akan gerakan perlawanan terhadap sistem patriaki, dalam film ini perlawanan dilakukan dengan cara berjuang dalam melawan ketertindasan, pada setiap scene gambar terlihat lebih feminisme karena hal tersebut terjadi disebabkan dari adanya budaya patriaki, dimana sosok perempuan di dalam film ini mencoba berjuang melawan ketertindasan yang dialaminya yang terwakili dalam film ini iyalah sosok Mama Halosina yang harus menjalanin sebuah perjalanan rumah tangga yang sangat pelik berjuang seorang diri.
Patriarki didasarkan pada sebuah sistem relasi kuasa yang hierarkis dan tidak setara dimana laki-laki mengontrol perempuan dalam hal produksi, reproduksi, dan seksualitas. Hal tersebut memaksakan stereotype mengenai karakter maskulinitas dan femininitas dalam masyarakat yang memperkuat relasi kuasa yang tidak adil di antara perempuan dan laki-laki. Patriarki bukanlah sesuatu yang konstan dan relasi gender yang dinamis dan kompleks juga telah mengalami perubahan dalam berbagai periode sejarah. Penindasan dan kontrol atas perempuan pun memiliki beragam bentuk antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, dimana perbedaan atau keragaman bentuk penindasan
tersebut bergantung pada perbedaan kelas, agama, wilayah, etnisitas, dan praktik sosio-kultural.
Mitos perempuan melawan budaya patriaki dalam film Tanah Mama ini tergambarkan bahwa perempuan mampu berdiri sendiri, menunjukkan keberanian yang dimilikinya dalam berperan besar menjaga anak, meski ditengah kerumunan yang didominasi oleh kaum laki-laki. Perempuan dapat berdiri sendiri dan sejajar dengan laki-laki, menjadi pemimpin terutama dalam mendidik dan menjaga anaknya dimana pun ia berada. Sehingga ia mampu mengimbangi jiwa kepemimpinan yang dasarnya dimiliki oleh laki-laki.
Mitos lain yang ditemukan dalam film ini bahwasanya perempuan juga mampu menjadi pemimpin dalam memerintahkan dan mengkordinir masyarakat atau berperan ganda, baik itu sifat pekerjaan yang digeluti oleh kaum laki-laki. Perempuan mampu untuk memikul tanggung jawab dalam memajukan kehidupan sosial
Ketidakadilan gender yang terjadi karena budaya patriaki ini selanjutnya akan terbentuk menjadi stereotipe perempuan yang mengakibatkan perempuan, dengan segala kelemahannya, berada dibawah kendali laki-laki. Sehingga perempuan hanya dapat bersikap menerima menerima dan tabah. Sikap hormat perempuan terhadap laki-laki yang kemudian berubah menjadi rasa takut, malu, dan sungkan inilah membuat mereka menjadi lunak atas kesewenang-wenangan laki-laki.
Suatu pemberontakan perempuan dalam film ini adalah karna ingin mendapatkan haknya yang layak sebagai seorang perempuan dan korban, berusaha melawan ketidakadilan yang diterimanya berjuang seorang sendiri demi memperjuangkan kehidupan anak-anaknya agar lebih layak. Kemajuan jaman yang menggeser norma-norma dan budaya yang mengikat perempuan. Namun demikian, tidak membebaskan perempuan dari kekuasaan laki-laki. Hal tersebutlah yang membuat mama Halosina berjuang demi mendapatkan haknya yang layak.
pada akhirnya perlawanan Mama Halosina mendapatkan hasil yang memuaskan. dimana pada akhirnya Hosea sang mantan suami sadar, bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini tidaklah adil, sehingga ia mencoba untuk bertanggung jawab dengan cara membukakan lahan baru untuk Mama Halosina tempati dan sang adik iparpun memaafkan kesalahan yang dilakukannya, akan tetapi Mama Halosina tetap terikat oleh denda ada yang berlaku dan tetap harus membayar denda adat semampunya dengan cara dicicil.
Pada akhirnya ketidakadilan gender terhadap perempuan disebabkan oleh budaya patriaki yang muncul dari sebuah kebudayaan yang, berkembang dalam tatanan masyarakat tertentu. Perempuan selalu menerima ketidakadilan gender, karena laki-laki selalu merasa bahwa merekalah yang mampu lebih berperan ketimbang perempuan. Perempuan adalah sosok yang lemah dimata laki-laki.
Namun dilihat dari sisi lain, perempuan justru sosok yang kuat, karena tabah dalam mengahadapi ketidakadilan gender dalam hidup mereka. Bahkan perempuan mampu melakukan pemberontakan atas dirinya. Film ini sukses memberikan gambaran sistem patriaki itu, dari awal Mama Halosina menjadi korban diskriminasi dan ketertindasan atas hak – hak yang diperjuangkannya. Latar belakang pendidikan dan ekonomi lah yang menjadi akar masalahnya.