• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Literature Review

Ada beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya mengenai GPON. Beberapa Literature review tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini dilakukan oleh Mahmoud M. Al Quzwini College of Engineering, AlNahrain University, Baghdad, Iraq. Pada tahun 2014 yang berjudul “Design and Implementation of a Fiber to the Home FTTH Access Network based on GPON”. penelitian ini menyajikan desain langkah demi langkah dan implementasi lapangan dari jaringan akses GPON FTTH terlindungi yang melayani 1000 pengguna. Komponen dasar jaringan adalah disajikan dan kontribusi masing-masing komponen terhadap arsitektur jaringan FTTH ditujukan. Desain menggabungkan perlindungan Kelas B, untuk menyediakan redundansi di port pengumpan dan GPON, penerapan praktis dari jaringan FTTH yang terlindungi sangat ditekankan.[1]

2. Peneltian dilakukan oleh Nebi Caka, Astrit Hulaj, pada tahun 2011 yang berjudul “Optimization of FTTH network in Kosovothrough the implementation of GPONarchitecture and analysis of the cost of theimplementation”. Peneltian ini menganalisis kelebihan dan kekurangan dari arsitektur PON yang diusulkan, masing-masing GPON standard, dan akan diberikan kewajaran pelaksanaannya. Ini akan menganalisis kemungkinan konkret penerapan praktis jaringan FTTH di Kosovo, tergantung pada lokasi dan peluang yang ada untuk realisasi ini. Ini juga akan menganalisis biaya implementasi jaringan FTTH, dimana sebagai model untuk analisis tersebut digunakan hubungan antara 10 rumah. Pada akhirnya, akan dianalisis dan didiskusikan hasil pengukuran yang dilakukan untuk dua panjang gelombang Λ = 1310nm dan λ = 1550 nm. [2]

(2)

3. Penelitian dilakukan oleh Pramudya Dicki Saputra, pada tahun 2014 yang berjudul “Perancangan Arsitektur Jaringan FTTH dengan Teknologi GPON di Universitas Jember”. Penelitian ini membahas kelayakan arsitektur jaringan FTTH yang menggunakan teknologi GPON yang diterapkan di Universitas Jember berdasarkan rekomendasi dari ITU-T G.984. Uji kelayakan ini akan ditentukan berdasarkan parameter link power budget dan rise time budget. Link power budget ditentukan dari hasil total loos daya dan margin daya.[3] 4. Penelitian dilakukan oleh Okta Mia Sari, pada tahun 2015 yang berjudul

“Perancangan Dan Simulasi Jaringan Fiber To The Home (FTTH) Menggunakan Gigabit Passive Optical Network (GPON) Huawei Dengan Fiber Termination Management (FTM) Untuk Perumahan Pesona Ciwastra Village Bandung“. Penelitian ini membahas tentang perancangan jaringan akses FTTH pada perangkat lunak menggunakan teknologi GPON Huawei dengan membuat jalur awal lalu penentuan perangkat, spesifikasi, tata letak dan volume yang digunakan. Kemudian untuk kelayakan sistem di analisa dengan parameter LPB dan RTB, sedangkan untuk performansi sistem dianalisa menggunakan parameter SNR dan BER. Serta dilakukan analisa kemampuan iODN pada NMS-GPON Huawei.[4]

5. Penelitian Dilakukan Oleh Aa Ngurah Eka Paramarta, Pada Tahun 2016 Yang Berjudul “Analisis Kualitas Jaringan Lokal Akses Fiber Optik Pada Indihome PT.Telkom Di Wilayah Jimbaran”. Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah bagaimana kualitas jaringan fiber optic pada indihome di wilayah jimbaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pengukuran menggunakan software Embassy milik PT. Telkom dan Telnet. Sedangkan metode perhitungan berdasarkan topologi jaringan yang ada. Data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data primer adalah data yang didapatkan dari hasil pengukuran menggunakan software, sedangkan data sekunder adalah data tambahan yang secara tidak langsung didapatkan dan berasal dari sumber yang layak dan keberadaanya dapat dipertanggung jawabkan.[5]

(3)

Kelima penelitian yang dilakukan sebelumnya membahas tentang perancangan jaringan ftth (fiber to the home) tentang kualitas dan perfomansi jaringan fiber optic pada suatu wilayah. Perbedaan pada penelitian ini adalah menganalisa gangguan dan memberikan solusi penanganan yang tepat jika terjadi masalah atau kerusakan pada hasil perancangan FTTH.

2.2. Arsitektur Indihome

Indihome (internet digital home) adalah produk layanan triple play (internet, voice, dan iptv) PT Telkom dengan menggunakan teknologi fiber optic. Berikut gambaran arstektur Indihome.

Gambar 2.1 Arsitektur Indhome [6]

Berdasarkan gambar 2.1 triple play mempunyai server yang berbeda-beda. BRAS server untuk layanan internet, IMS server sentral layanan voice dan middleware server layanan iptv. Secara garis besar terdapat dua tipe arsitektur jaringan kabel optik, yaitu arsitektur jaringan aktif dan arsitektur jaringan pasif. Arsitektur jaringan aktif mengacu pada konfigurasi point to point kabel optik dan atau konfigurasi star. Untuk arsitektur jaringan pasif, berbasis passive optical network (PON).

2.2.1 Arsitektur FTTx (fiber to the X)

Kabel lokal fiber Optik (Fiber to The X) paling sedikitnya terdapat 2 perangkat aktif (Opto Elektrik) yang dipasang di Central Office dan yang satu lagi dipasang di dekat dan atau di lokasi pelanggan. Berdasarkan lokasi penempatan perangkat aktif yang dipasang didekat dan atau dilokasi pelanggan maka terdapat beberapa Konfigurasi sebagai berikut :

(4)

Gambar 2.2 Arsitektur fttx [7] 1. Fiber to the bulding

TKO terletak didalam gedung dan biasanya terletak pada ruang telekomunikasi di basement atau tersebar dibeberapa lantai, terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga Indor atau IKG, FTTB dapat dianalogikan dengan Daerah Catu Langsung pada jaringan kabel tembaga.

2. Fiber to the zone

TKO terletak disuatu tempat diluar bangunan, biasanya berupa kabinet yang ditempatkan di pinggir jalan sebagai mana biasanya RK, terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga hingga beberapa kilometer, FTTZ dapat dianalogikan sebagai pengganti RK.

3. Fiber to the curb

TKO terletak disuatu tempat diluar bangunan, baik didalam kabinet, diatas tiang maupun di manhole, terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga hingga beberapa ratus meter saja, FTTC dapat dianalogikan sebagai pengganti Titik Pembagi

4. Fiber to the home

TKO terletak didalam rumah pelanggan, terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga Indoor atau IKR hingga beberapa puluh meter saja, FTTH dapat dianalogikan sebagai pengganti Terminal Blok ( TB ).

(5)

5. Fiber to the tower

TKO terletak didalam shelter dari pada Tower, terminal equipment system GSM/CDMA dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga Indoor hingga beberapa meter sajaJaringan kabel FO yang mencatu Tower sbb:

 Kabel FO Drop kalau lokasi tower perkotaan.

 Kabel FO Distribusi kalau lokasi tower di pinggiran kota.

Sehingga FTTT bisa dianalogikan sebagai pengganti ODP (FTTC) atau TB (FTTH).

2.2.2 Arsitektur Aktif GPON

Menghubungkan perangkat Optical Line Terminal (OLT) di Central Office (CO) yang terkoneksi dengan perangkat Optical Network Terminal (ONT) pada terminal pelanggan, menggunakan fiber optic dedicated sebagai medianya. OLT dan ONT merupakan perangkat aktif yang masing-masing membutuhkan power dilengkapi dengan optical laser.

2.2.2.1 Optical Line Terminal (OLT)

Optical Line Terminal (OLT) atau biasa disebut juga dengan Optical Line Termination adalah perangkat yang berfungsi sebagai titik akhir (end-point) dari layanan jaringan optik pasif. Perangkat ini mempunyai dua melakukan konversi antara sinyal listrik yang digunakan oleh penyedia layanan dan sinyal optik yang digunakan oleh jaringan optik pasif serta mengkoordinasikan multiplexing pada perangkat lain di ujung jaringan, atau biasa disebut dengan Optical Network Terminal (ONT) atau Optical Network Unit (ONU).

1. Spesifikasi OLT

OLT menyediakan interface antara sistem Passive Optical Network (PON) dengan penyedia layanan (service provider) data, video, maupun voice/telepon. Perangkat OLT meliputi:

(6)

DCS (Digital Cross-connect), yang melayani nonswitched dan non-locally switched TDM trafik ke jaringan telepon.

Voice Gateway, yang melayani locally switched TDM/voice trafik ke PSTN.

IP Routers atau ATM Edge Switch, yang melayani trafik data.

Video Network Device, yang melayani trafik video.

Gambar 2.3 OLT fiberhome 2. Spesifikasi Ruangan

Spesifikasi ruang OLT:

 Tegangan perangkatnya : -48 V DC (-40 V to -57 V)

 Sebaiknya ada UPS/baterai untuk mengkover kendala mati listrik, sebaiknya UPS mampu bertahan selama 8 jam

 Bearing dasar ruangan >600kg/m2

 Tidak ada gas korosif dan pelarut, tidak ada medan elektromagnetik kuat disekitar perangkat

 Grounding resistance <5 ohm

Atmosphere pressure : 86kPa sampai 106kPa

 Suhu kerja perangkat Operasi jangka panjang :0-45oC dan Operasi Jangka Pendek : -10O-50OC

Humidity relative : 10%-85%

(7)

 Untuk 1 rack kapasitas 2 subrack berarti : 3200 Watt(kapasitas penuh)

3. Spesifikasi Perangkat

Untuk perangkat AN5116-06B terdapat 2 jenis rak, yaitu ukuran 19 inch dan 21 inch, berikut spesifikasi ukurannya.

Table 2.1 Rak GPON fiberhome

2.2.2.2 ONT

Optical Network Terminal (ONT) merupakan perangkat di sisi pelanggan yang menyediakan interface baik data, voice, maupun video. Fungsi utama ONU ini adalah menerima trafik dalam format optik dan mengkonversinya menjadi bentuk yang diinginkan, seperti data, voice, dan video. Berikut ini adalah perlengkapan yang disiapkan di sisi pelanggan, antara lain:

Perangkat Optical Network Unit (ONU)

Kabel fiber optic, Single Mode.

Outlet fiber optic

Type Dimension (H × W

× D) (mm)

Cabinet Code Weight (kg)

19-inch cabinet 2000 × 600 × 300 2200 × 600 × 300 2600 × 600 × 300 4.102.597 4.102.598 4.102.599 109 117 134 21-inch cabinet 2000 × 600 × 300 2200 × 600 × 300 2600 × 600 × 300 404000069 404000070 404000071

(8)

2.2.2.3 STB (set top box)

Merupakan perangkat CPE (Customer-Premise Equipment) yang berfungsi mengubah sinyal (decoding) multimedia streaming dari jaringan IPTV menjadi konten yang bisa ditampilkan dalam layar televisi atau perangkat layar lainnya.

Gambar 2.4 STB (set top box) Beberapa Error yang sering terjadi:

1. ERROR 1305

Pemberitahuan pada layar televise “Maaf, menghubungkan ke jaringan gagal. Coba lagi nanti dan berkonsultasi dengan hotline layanan pelanggan untuk membantu” penyebab error 1305 layanan DHCP alamat IP yang valid tidak mencapai STB, DHCP protokol menerima kode kesalahan yang dikembalikan oleh server interaktif. Solusi yang bisa dilakukan memeriksa parameter DHCP dari STB.

2. ERROR 1901

Pemberitahuan pada layar televisi “Maaf, jaringan kabel sambungan yang salah! Silakan periksa koneksi jaringan kabel dan daya dari perangkat akses

(9)

jaringan dan coba lagi”. Error 1901 disebabkan kabel jaringan tidak tersambung. Solusi memeriksa koneksi fisik dari kabel ONT ke STB.

3. Error code 1302

Memeriksa validitas dari alamat homepage EPG gagal, nama domain resolusi dari alamat homepage EPG gagal Mencoba untuk terhubung ke homepage EPG gagal untuk beberapa kali. Untuk STB terdaftar baru, periksa apakah alamat dari server otentikasi utama adalah benar. Jika alamat server otentikasi dikonfigurasi sebagai nama domain, harap periksa log sistem dengan menghubungkan port 5030 melalui alat monitor untuk menentukan apakah resolusi nama domain tidak berhasil. Periksa nilai MTU dari EPG tepi bahwa dengan yang STB dihubungkan.

4. Error 4514

Kondisi error code 4514 sama dengan gangguan Live TV yaitu channel Live TV tidak muncul. Jika layar blank pada salah satu channel Live TV, penyebabnya adalah konfigurasi VLAN multicast. Beberapa solusinya sebagai berikut:

Cek embassy, pastikan data line profile, line rate, dan SNR untuk upstream dan downstream sudah sesuai dengan persyaratan layanan UseeTV Cable.

Pastikan VLAN untuk channel UseeTV Cable sudah tertanam pada GPON/DSLAM/MSAN. Hal ini agar dikoordinasikan dengan unit akses terkait.

5. Error 2003

Ketika melakukan pengecekan terhadap beberapa channel muncul error 2003. Kondisi ini disebabkan oleh pelanggan tidak berlangganan paket channel tersebut. Beberapa solusi yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

 Cek paket UseeTV Cable pelanggan ke Plasa

 Cek daftar channel yang diperoleh sesuai dengan paket yang diambil di SOAP.

(10)

 ika terjadi ketidaksesuaian antara paket dengan channel yang muncul harap hubungi ke plasa untuk register program tv yang di inginkan. 6. Error Code : 1306

Pada STB B600 / blank disebabkan kegagalan upgrade otomatis software STB.[8]

2.2.3 Perangkat Passive GPON

Merupakan teknologi akses fiber optik yang terdiri dari komponen berupa Optical Line Terminal (OLT), Optical Network Unit (ONU) dan passive splitter. OLT ditempatkan di central office operator, sedangkan ONU disetting di terminal akhir menuju pelanggan. Passive Splitter terletak diantara OLT dan ONU, yang berfungsi sebagai pembagi downstream sinyal dari OLT ke beberapa terminal ONU yang bertugas untuk mengidentifikasi data yang hanya dibutuhkan oleh terminal. Berikut penjelasan perangkat passive pada GPON:

2.2.3.1 ODC (optical distribution cabinet)

ODC adalah suatu perangkat pasif yang diinstalasi diluar STO bisa di lapangan (Outdoor) dan juga bisa didalam ruangan/di MDF Gedung HRB (Indoor), yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

a) Sebagai titik terminasi ujung kabel feeder dan pangkal kabel distribusi

b) Sebagai titik distribusi kabel dari kapasitas besar (feeder) menjadi beberapa kabel yang kapasitasnya lebih kecil lagi (distribusi) untuk flesibilitas.

c) Tempat Spliter.

d) Tempat penyambungan.

2.2.3.2 Passive Splitter (PS)

Merupakan suatu perangkat pasif yang berfungsi untuk membagi informasi sinyal optic ( gelombang cahaya ), kapasitas distribusi dari Passive Splitter bermacammacam yaitu 1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, dan 1:64. Spesifikasi teknis merefer ( STELL -047- 2008 Ver1) Juga ada yang inputnya 2 seperti 2:16 dan 2:32. Direkomendasikan digunakan di Telkom sampai 1:32 secara total, Aplikasinya :

(11)

Gambar 2.5 Odc dan passive splitter[9]

Perlu diperhatikan dalam menggunakan splitter, mengingat redaman dari splitter cukup besar, maka perlu perhitungan Loss Link Budget. Redaman dari masing-masing Spliter dapat dilihat pada tabel dibawah ini ;

Tabel 2.1 Standart redaman splitter

Network Elemen Batasan Ukuran

Splitter 1:2 Max 3,70 dB

Splitter 1:4 Max 7,25 dB

Splitter 1:8 Max 10,38 dB

Splitter 1:16 Max 14,10 dB

Splitter 1:32 Max 17,45 dB

2.2.4 Pengujian Level Sinyal Optik

Proses pengujian level sinyal optik dilakukan dengan menggunakan alat ukur OPM (Optical Power Meter), dimana alat ukut ini sebenarnya terdiri dari 2 (dua) perangkat yaitu :

a. LS (Optical Light Source), yang berfungsi sebagai sumber pengiriman sinyal optik.

b. OPM (Optical Power Meter), yang berfungsi sebagai penerima (pembaca level sinyal optik) Sedangkan kelengkapan pengukuran 2 set Patchcord dan 1 buah

(12)

adaptor.

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Kesesuaian tipe connector dan adaptor baik untuk Patchcord, port alat ukur dan perangkat terminasi.

b. Peralatan K3 dalam pengukuran (kaca mata tahan cahaya optik) c. Sumber catuan listrik (Batere)

d. Alat pembersih connector (one click/clatop)

Proses pengujian menggunakan OPM, secara garis besarnya ada dua tahap proses yaitu:

a. Kalibrasi (penyesuaian) terhadap satuan yang digunakan (misalnya dB atau dBm) dan pengaturan (set) zero, hal ini dimaksudkan agar perangkat alat ukur dan kelengkapannya telah sinkron, artinya alat ukur dan patchcord dianggap satu kesatuan saat pengiriman titik awal pengiriman dari ujung perangkat terminasi A dan ujung penerimaan port ujung perangkat terminasi B.

b. Pengukuran, dalam hal ini pada pengujian instalasi Indihome yang akan dilakukan pengukuran pada level sinyal terima baik di ODP , OTP maupun roset, maka satuan yang dipakai adalah dBm, lihat gambar 3.2

Gambar 2.6 Pengukuran Level sinyal terima di ODP Closure

Sinyal yang dikirim oleh OLT dengan range +1,5 dBm sampai dengan +5 dBm, sedangkan sepanjang jalur yang dilalui sinyal optik akan mengalami redaman sebagai berikut.

(13)

Elemen Jaringan Fiber

Optik Redaman

Kabel Fiber Optik SM

G.652D 0,35 dB/Km

Splicing (Fusion Splicer) 0,15 dB/splice Connector 0,25 dB/connector Splitter 1:2 3,70 dB Splitter 1:4 7,25 dB Splitter 1:8 10,38 dB Splitter 1:16 14,10 dB Splitter 1:32 17,45 dB

Dengan mengacu pada table 3.1 maka kita dapat menghitung level terima dari sinyal optik yang melalui jaringan Indihome dengan rumus :

PRx (dBm) = PTx (dBm) – ( (L FO x Panjang FO)+ (LSp x NSp)+ (LC x NC) + (L splitter))dB (2.1)

Dimana :

PRx : Daya yang diterima PTx : Daya yang dikirim L FO : Redaman Fiber optik L Sp : Redaman splice/sambungan N Sp : Jumlah splice/sambungan L C : Redaman Connector N C : Jumlah Connector L Splitter : Redaman Splitter

Misalkan kita akan mengukur sinyal terima di ODP, sudah diketahui bahwa PTx = + 5 dBm, panjang fiber optik 15 Km, jumlah sambungan ada 7 sambungan, jumlah connector ada 7 connector, menggunakan splitter 1:4 dan 1:8 , berapakah hasil hitungnya?

(14)

PRx (dBm) = 5 dBm – (( 15 x 0,35) + (7x 0,15) + (7x 0,25) + (7,25+10,38))dB = 5 – ((5,25)+ (1,05)+ (1,75) + (17,63))

= 5 – 25,68 = - 20.68 dBm

Jadi daya yang diterima di titik ODP = - 20,68 dBm

Hasil perhitungan ini dapat dijadikan acuan perkiraan saat melakukan pengukuran, karena hasil pengukuran akan mendekati hasil perhitungan tersebut. Kesalahan yang sering terjadi saat melakukan pengukuran adalah tidak dilakukannya kalibrasi/set zero pada perangkat OPM, sehingga hasil ukur sering menunjukan lebih rendah dari hasil perhitungan, hal ini secara kenyataannya akan memberikan level sinyal yang lebih tinggi dari range level sinyal terima detector ONT, mungkin dalam waktu singkat tidak akan berpengaruh pada perangkat ONT, namun dalam waktu yang lama karena sinyal dikirim secara kontinu akan mempengaruhi usia kerja perangkat.[10]

2.3. NMS (Network Management System)

NMS (Network Management System) merupakan perangkat lunak yang berfungsi untuk mengontrol dan mengkonfigurasi perangkat GPON. Letak NMS ini bersamaan di dekat OLT namun berbeda ruangan. Konfigurasi yang dapat dilakukan oleh NMS adalah OLT dan ONT. Selain itu NMS dapat mengatur layanan GPON seperti internet , VoIP , dan IPTV. NMS ini menggunakan platform Windows dan bersifat GUI (Graffic Unit Interface) maupun command line. NMS memiliki jalur langsung ke OLT, sehingga NMS dapat memonitoring ONT dari jarak jauh Sistem manajemen jaringan ANM2000 memiliki empat fungsi utama; manajemen konfigurasi, manajemen kesalahan, manajemen kinerja dan manajemen keamanan. Hal ini dapat bertindak sebagai jaringan sistem manajemen proxy untuk melakukan remote manajemen tanggung jawab terhubung dengan AN5116-06B sesuai dengan standar IEEE802.3 Ethernet OAM (Operations, Administration and Maintenance) Perangkat keras dan perangkat lunak komputer yang didedikasikan untuk tugas khusus terhadap pemantauan perangkat telekomunikasi, khususnya pengalih-pengalih (swicthing). [11]

(15)

Gambar 2.7 UNM2000 [12] 2.4. Serat Optik

Serat Optik adalah saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau plastik yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi Serat Optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.[13]

2.4.1 Struktur Serat Optik

Struktur serat optic terbagi menjadi 3 bagian yaitu core(inti), cladding(lapisan), Coating (jaket).

(16)

1. Core (inti)

Berfungsi untuk menentukan cahaya merambat dari satu ujung ke ujung lainnya.

 Terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas sangat tinggi.

 Merupakan bagian utama dari serat optik karena perambatan cahaya sebenarnya terjadi pada bagian ini.

 Memiliki diameter 10 mm ~ 50 mm. Ukuran core sangat mempengaruhi karakteristik serat optik.

2. Cladding (lapisan)

Berfungsi sebagai cermin, yakni memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujung lainnya.

 Terbuat dari bahan gelas dengan indeks bias lebih kecil dari core.

 Merupakan selubung dari core.

 Hubungan indeks bias antara core dan cladding akan mempengaruhi perambatan cahaya pada core (mempengaruhi besarnya sudut kritis). 3. Coating (jaket)

Berfungsi sebagai pelindung mekanis sebagai dan sebagai pengkodean warna.

 Terbuat dari bahan plastik.

 Berfungsi untuk melindungi serat optik dari kerusakan. 4. Indek bias (n) Core

Selalu lebih besar daripada indek bias Cladding (Nc > Nd). Perambatan cahaya dalam suatu medium dengan tiga cara yaitu merambat lurus, dipantulkan dan dibiaskan.

(17)

Gambar 2.9 Perambatan cahaya [15]

2.4.2 Rugi-Rugi Kabel Serat Optik

Secara garis besar rugi-rugi yang terjadi diakibatkan oleh faktor intrinsik dan extrinsik.

1. Faktor Intrinsik (dari serat itu sendiri)

Rugi-rugi karena faktor intrinsik dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

1. Penyerapan (absorption loss) disebabkan karena adanya molekul-molekul air yang terperangkap didalam core (inti) serat optik, pada saat pembuatan serat optic.

Gambar 2.10 Absorption loss

2. Penghamburan (scaterring loss) disebabkan karena adanya facet-facet yang memantulkan dan membiaskan cahaya

(18)

Gambar 2.11 Scaterring loss

3. Scatering loss terbagi menjadi tiga: rayleigh scattering, microbending dan core size variation.

2. Faktor Ekstrinsik (terjadi karena Instalasi kabel optic)

Factor disebabkan karena kesalahan-kesalahan instalasi jaringan fiber optik

Gambar 2.12 Faktor instalasi kabel optik [16]

2.5. Skematik Pengukuran dan Pemeliharaan FTTH

Agar perangkat bekerja secara optimal, maka pemeliharaan dan pengecekan berkala perlu dilakukan agar pelanggan dapat menikmati layanan tanpa ada kendala. Pada kesempatan ini penulis diberi amanat untuk melakukan pengecekan gangguan, perawatan, dan pemasangan pada jaringan optic.

1. Ujung kabel yang kotor, kabel rusak, atau terjadi bending pada kabel. 2. Splitter rusak.

3. Connector rusak.

4. ODC masih kosong (belum ada splitter). 5. Gangguan dari OLT

Gangguan tersebut dapat diketahui melalui laporan keluhan pelanggan maupun dari mitra perusahaan yang sedang mengerjakan proyek pemasangan baru ke rumah pelanggan. Pengkuruan redaman dilakukan disetiap perangkat optik. Pengukuran redaman dapat menggunakan Optical Power Meter (OPM). Pertama kali dilakukan

(19)

adalah pengukuran pada OLT. Pengukuran dilakukan dengan mengukur port uplink pada FTM-E akses, ini dilakukan agar kita bisa menghemat waktu. Redaman yang terdeteksi levelnya antara -0,01 dBm s/d ± -3 dBm. Jika levelnya melebihi -3 dBm maka dapat diketahui beberapa kemungkinan sebagai berikut :

a. OLT mengalami kerusakan. Jika hal ini terjadi, biasanya pihak perusahaan akan memanggil vendor untuk memperbaikinya.

b. Port uplink atau downlink FTM bermasalah. Penanganannya dengan menggantinya dengan connector yang baru.

c. Patchcord yang menghubungkan OLT dengan FTM mengalami kerusakan, terjadi bending, atau kotor. Penanganannya adalah menggunakan OTDR untuk mencari titik letak kerusakan kabel agar selanjutnya dapat dilakukan proses splicing ulang atau penggantian dengan kabel baru. Bila kotor maka ujung patchcord dibersihkan dengan alkohol.

Gambar 2.13 Pengecekan redaman di FTM E-akses

Jika tidak melebihi rentang tersebut selanjutnya mengukur redaman pada patchcord yang menghubungkan FTM E-akses dan O-akses. Jika redaman melebihi rentang tersebut, biasanya dilakukan penyambungan ulang kabel untuk meminimalisir waktu, karena jarak FTM E-akses dengan O-akses sangat berdekatan.

(20)

Gambar 2.14 Penyambungan ulang patchcord FTM

Setelah tidak ditemukan kendala yang berarti, selanjutnya pengukuran dilanjutkan di ODC. Langkah – langkahnya sebagai berikut :

a. Pertama-tama kita harus membuka recording atau data managemen core (mancore) untuk memastikan splitter ada atau splitter terhubung ke port yang benar.

b. Setelah memastikan keberadaan splitter, ukur redaman pada salah satu port panel uplink ODC. Rentang level yang harus muncul yaitu antara ±-4 dBm s/d ±-8 dBm. Jika melebihi -8 dBm maka perlu dilakukan penyambungan ulang dari FTM-O akses.

(21)

c. Jika level redaman tidak melebihi rentang tersebut, maka pengecekan selanjutnya ialah pengukuran pada splitter ODC. Rentang level redaman tidak jauh berbeda dengan diatas. Jika ditemukan redaman melebihi -8 dBm maka yang perlu dilakukan adalah mengganti splitternya dengan yang baru atau membersihkan ujung kabel dari splitter dengan alkohol

d. Selanjutnya jika tidak ditemukan kendala apapun, pengecekan dilanjutkan ke ODP. Pengukuran level redaman pada ODP adalah pada rentang ± -6 dBm s/d ± -10 dBm. Pertama ukur port uplink pada ODP, jika melebihi -10 dBm maka perlu pengecekan menggunakan OTDR agar terdeteksi titik kerusakan kabel atau bending pada kabel agar bisa di splicing ulang atau penyambungan ulang dari ODC.

Gambar 2.16 Contoh level redaman di ODP

Jika redaman tidak melebihi rentang tersebut, kemungkinan kerusakan ada di splitter, maka splitter perlu diganti dengan yang baru atau ujung kabel pada splitter dibersihkan menggunakan alkohol. Jika tidak ditemukan kerusakan pada splitter, pihak perusahaan biasanya menginstruksikan mitra perusahaan untuk datang ke rumah pelanggan yang bersangkutan untuk

(22)

Gambar

Gambar 2.1 Arsitektur Indhome  [6]
Gambar 2.2 Arsitektur fttx   [7]
Gambar 2.3 OLT fiberhome   2.  Spesifikasi Ruangan
Table 2.1 Rak GPON fiberhome
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kabel yang digunakan dalam penelitian skripsi ini terdiri dari 2 jenis kabel yaitu tembaga dan serat optik..

Sebuah sistem SMS Gateway, umumnya terdiri komponen Hardware ( Server/Komputer yang dilengkapi dengan perangkat jaringan) dan Software (Aplikasi yang digunakan untuk

Komputer server pada sebuah jaringan tipe client server disebut dengan dedicated server, karena komputer yang digunakan hanya sebagai penyedia fasilitas untuk

Router nirkabel ini merupakan perangkat yang melakukan fungsi router tetapi juga meliputi fungsi titik akses nirkabel dan switch jaringan dan biasanya digunakan untuk

Kumpulan sinyal – sinyal output dari setiap neuron pada layer output mewakili respon jaringan syaraf tiruan tersebut secara keseluruhan terhadap pola aktivasi yang

Dalam perjalanan sinyal optic dari transmitter menuju receiver akan terjadi redaman cahaya di sepanjang kabel optik, sambungan-sambungan kabel dan konektor-konektor

Semakin besar intensitas infra merah yang diterima maka sinyal pulsa listrik yang dihasilkan akan baik, jika sinyal infra merah yang diterima intensitasnya lemah

Pilihan untuk stand-alone atau jaringan (multiuser) tergantung pada ditentukan oleh kebutuhan pemakai perangkat keras yang tersedia, sistem operasi, yang digunakan