• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN TAHUNAN PENELITIAN HIBAH BERSAING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN TAHUNAN PENELITIAN HIBAH BERSAING"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

LAPORAN TAHUNAN

PENELITIAN HIBAH BERSAING

DETERMINAN DARI STATUS KESEHATAN, STATUS JAMINAN

SOSIAL DAN STATUS PEKERJAAN BERDASARKAN

KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI LANJUT USIA

(STUDI LANSIA PEDESAAN DI PROVINSI BALI)

Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun

Made Susilawati, S.Si., M.Si., NIDN. 0002097101

Desak Putu Eka Nilakusmawati, S.Si., M.Si., NIDN. 0011067113 Drs. Nyoman Dayuh Rimbawan, MM., NIDN. 0006054807

UNIVERSITAS UDAYANA

November 2014

(4)
(5)

iii RINGKASAN

Tujuan Secara keseluruhan penelitian ini diarahkan pada status kesehatan, jaminan sosial dan status pekerjaan, dengan tujuan: mengetahui secara luas latar belakang sosial ekonomi lansia; mengetahui model dari status kesehatan lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya; mengetahui model dari status jaminan sosial lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya; dan mengetahui model dari status pekerjaan lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Penelitian ini dilakukan di 8 kabupaten di Provinsi Bali, dengan total sampel sebanyak 430 lansia. Teknik pengambilan sampel untuk setiap kabupaten dipilih secara acak 3 desa, selanjutnya secara proporsional diambil sampel di masing-masing desa. Banyaknya sampel yang diambil proporsional dengan jumlah lansia yang ada di masing-masing desa hingga tercapai jumlah sampel 430 lansia. Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Karakteristik sosial ekonomi (umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, pendapatan, status ekonomi), status kesehatan lansia, status jaminan sosial, dan status pekerjaan. Analisis statistika yang digunakan adalah analisis diskriptif dan analisis regresi logistik. Dari model-model yang diperoleh merupakan acuan dalam revisi kebijakan tentang kesejahteraan lansia.

Latar belakang sosial ekonomi lansia diperoleh sebagian besar lansia mempunyai status bekerja, yaitu sebanyak 67,2% dan 32,8% tidak bekerja. Menurut ada/tidaknya Jaminan sosial, diperoleh sebagian besar lansia (81.2%) tidak mempunyai jaminan sosial dan sisanya mempunyai jaminan sosial, seperti tunjangan pensiun, asuransi hari tua, Jaminan sosial lanjut usia (JSLU), maupun tunjangan lainnya. Status kesehatan lansia, menunjukkan sebagian besar responden (63%) mempunyai status sehat, sedangkan sisanya 37% menyatakan tidak sehat.

Model yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara status pekerjaan lansia dengan variabel karakteristik sosial ekonomi lansia adalah model regresi logistic biner. Hasil uji diperoleh variabel-variabel yang berpengaruh pada status bekerja lansia, yaitu: umur, ada tidaknya tunjangan hari tua, dan besarnya pendapatan keluarga. Model terbaik yang diperoleh adalah:

tan 421 . 2 459 . 3 152 . 0 204 . 16 ) (

ˆ x Umur TunjHariTua Pendp

g     (1)

Model 1 mengindikasikan bahwa dengan bertambahnya umur lansia dan ketika lansia mempunyai tunjangan hari tua, hal tersebut akan mengurangi keinginan lansia untuk bekerja. Variabel besaran pendapatan lansia menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan menaikkan keinginan lansia untuk bekerja.

Variabel-variabel yang berpengaruh pada status kesehatan lansia adalah variabel umur dan pendapatan keluarga, dengan model terbaik yang diperoleh adalah:

a PendKelu Umur x gˆ( )1.1800.033 0.309 arg (2) Model 2 mengindikasikan bahwa bertambahnya umur akan menurunkan derajat kesehatan lansia dan peningkatan pendapatan keluarga akan menurunkan persepsi responden mengenai status kesehatannya.

Variabel tingkat pendidikan lansia berpengaruh signifikan terhadap status tunjangan hari tua, dengan model terbaik yang diperoleh adalah:

Pendidikan x

gˆ( )6.7670.855

(3)

Berdasarkan model 3 dapat dinyatakan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan lansia akan meningkatkan peluang mempunyai tunjangan hari tua.

(6)

iv PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan, karena perkenan-Nya penelitian “Determinan dari Status Kesehatan, Status Jaminan Sosial dan Status Pekerjaan Berdasarkan Karakteristik Sosial Ekonomi Lanjut Usia (Studi Lansia Pedesaan Di Provinsi Bali)” dapat dilaksanakan dengan baik dan Laporan Tahunan ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Terlaksananya penelitian ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dirjen Dikti yang telah mendanai penelitian ini, sehingga penelitian ini bisa terlaksana.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng, sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, atas dukungannya dalam kegiatan penelitian ini.

3. Bapak Ir. A.A.G. Raka Dalem, M.Sc. (Hons), selaku dekan FMIPA Universitas Udayana, atas dukungannya.

4. Teman-teman sejawat di FMIPA Universitas Udayana, yang turut memberikan sumbang saran dan dukungan.

5. Mahasiswa Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Udayana yang terlibat dalam pengumpulan data di lapangan, serta semua pihak yang turut membantu demi kelancaran kegiatan penelitian ini.

Laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak diterima dengan senang hati, demi perbaikan pelaksanaan peenelitian di tahun berikutnya. Akhir kata, semoga hasil penelitian ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita semua

Denpasar, 21 November 2014 Tim Peneliti

(7)

v DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ... ii RINGKASAN... iii PRAKATA... iv DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR LAMPIRAN... viii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Keutamaan Penelitian ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Konsep dan Definisi Lanjut Usia (Lansia) ... 4

2.2 Lansia dan Permasalahannya ... 6

2.3 Studi Pendahuluan ... 8

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 10

3.1 Tujuan Penelitian ... 10

3.2 Manfaat Penelitian ... 10

BAB IV. METODE PENELITIAN ... 11

4.1 Pemilihan Daerah Penelitian ... 11

4.2 Teknik Sampling ... 11

4.3 Teknik Pengumpulan Data ... 11

4.4 Variabel-variabel Penelitian ... 12

4.5 Metode Analisis Data ... 13

BAB V. HASIL YANG DICAPAI ... 16

5.1 Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia Pedesaan Provinsi Bali ... 16

5.2 Model Status Pekerjaan Lansia ... 18

5.3 Model Status Kesehatan Lansia ... 21

5.4 Model Status Tunjangan Hari Tua Lansia ... 23

BAB VI. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA... .. 26

(8)

vi

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN... 27

7.1 Kesimpulan ... 27

7.2 Saran ... 29

DAFTAR PUSTAKA ... 30

(9)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 5.1 Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia Pedesaan Provinsi Bali ... 16 5.2 Hasil Uji Khi Kuadrat Status Pekerjaan dengan Karakteristik

Sosial Ekonomi ... 19 5.3 Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Pekerjaan Lansia ... 20 5.4 Hasil Uji Khi Kuadrat Status Kesehatan dengan Karakteristik

Sosial Ekonomi... ... 22 5.5 Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Kesehatan Lansia ... 23 5.6 Hasil Uji Khi Kuadrat Status Tunjangan Hari Tua dengan

Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia ... ... 24 5.7 Hasil Uji Regresi Multivariate Status Tunjangan Hari Tua... 25

(10)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Instrumen: Kuesioner Penelitian ... 31 2. Personalia Tenaga Peneliti Beserta Kualifikasinya. ... 34 3 Publikasi Hasil Penelitian ... 35

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Hasil dari pembangunan nasional telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup yang makin meningkat. Hal tersebut berdampak pada peningkatan jumlah penduduk lanjut usia. Fenomena peningkatan jumlah penduduk lanjut usia pada abad ini, menjadikan penduduk lansia sebagai salah satu kelompok sasaran pembangunan yang menjadi fokus perhatian pemerintah. Menurut BPS (2011), perubahan struktur penduduk lansia ini memberikan implikasi kepada perumusan dan arah kebijakan pembangunan, salah satunya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lansia.

Menanggapi kondisi tersebut maka diperlukan adanya penanganan yang lebih baik mengenai kesejahteraan lansia, karena lansia merupakan kelompok yang banyak mengalami kemunduran dari segi fisik, psikologi, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup lansia, perlu upaya pemberdayaan guna menunjang derajat kesehatan dan peningkatan mutu kehidupan lansia agar tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, secara umum jumlah penduduk lansia di Indonesia sebanyak 18,04 juta orang atau 7,59 persen dari keseluruhan penduduk. Jumlah penduduk lansia perempuan (9,75 juta orang) lebih banyak dari jumlah penduduk lansia laki-laki (8,29 juta orang). Sebarannya jauh lebih banyak di daerah perdesaan (10,36 juta orang) dibandingkan di daerah perkotaan (7,69 juta orang). Bila dilihat dari hasil Sensus Penduduk 1971, jumlah penduduk lansia sekitar 5,31 juta orang atau 4,48 persen dari seluruh penduduk, dan menjadi empat kali lipat pada tahun 2010 yaitu sekitar 18,04 juta orang atau 7,59 persen. Jumlah penduduk lansia di Provinsi Bali sebanyak 380.115 orang atau 9,77 persen dari keseluruhan penduduk, dengan komposisi penduduk lansia perempuan sebesar 202.594 orang dan laki-laki 177.521 orang.

Persentase penduduk lansia Provinsi Bali sebesar 9,77 persen menunjukkan bahwa Provinsi Bali termasuk daerah yang memasuki era penduduk berstruktur tua (aging

structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas telah

(12)

2 baik di daerah perkotaan (7,12 persen) maupun perdesaan (13,80 persen) dan lansia laki-laki di daerah perkotaan (7,12 persen) dan perdesaan (12,01 persen) (BPS, 2011).

Perubahan struktur penduduk mempengaruhi angka beban ketergantungan, salah satunya adalah beban ketergantungan penduduk lansia. Rasio ketergantungan penduduk lansia (old dependency ratio/ODR) adalah angka yang menunjukkan tingkat ketergantungan penduduk lansia pada penduduk usia produktif (15-59 tahun). Dari angka ini tercermin besarnya beban ekonomi yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai penduduk lansia. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa rasio ketergantungan penduduk lansia pada tahun 2010 di Provinsi Bali adalah sebesar 15,18, berarti bahwa untuk setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 15-16 orang penduduk lansia. Angka tersebut akan mengalami peningkatan seiring dengan tingginya angka harapan hidup penduduk Provinsi Bali.

Hasil Sensus Penduduk 2010 untuk Provinsi Bali, juga menunjukkan masih banyak lansia yang berperan sebagai kepala rumah tangga (37,69 persen), dimana lansia berperan sebagai pemimpin rumah tangga dan bertanggungjawab terhadap rumah tangga dari segi psikologis maupun ekonomi. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi lansia, dimana memasuki masa tua seyogyanya lansia dapat menikmati hari tuanya tanpa beban yang berat. Tingginya persentase lansia yang menjadi tulang punggung keluarga didominasi oleh penduduk lansia laki-laki (65,03 persen).

Penduduk lansia yang termasuk dalam angkatan kerja merupakan lansia potensial. Mereka tergolong sebagai lansia produktif dan mandiri. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa dari keseluruhan penduduk lansia sekitar 54,20 persen diantaranya bekerja. Proporsi lansia laki-laki bekerja (65,35 persen) dan lansia perempuan (44,44 persen). Kondisi ini terjadi baik di daerah perdesaan maupun perkotaan.

Dilihat dari lapangan pekerjaan lansia di Provinsi Bali, data Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja lansia paling besar adalah pertanian (68,50 persen), sektor perdagangan (15,00 persen) dan sector jasa-jasa (5,01 persen) dan industri pengolahan (6,61 persen). Dilihat dari status pekerjaan, dari keseluruhan penduduk lansia yang bekerja dengan status berusaha sendiri (37,51 persen), bekerja dengan status berusaha dibantu buruh (30,89 persen), pekerja tidak dibayar (23,79 persen) dan sebagai pekerja bebas (6,65 persen) sisanya sebagai buruh/karyawan (6,61 persen)

(13)

3 Hal yang perlu dicermati adalah adanya pandangan bahwa peningkatan jumlah penduduk lansia akan meningkatkan beban penduduk usia produktif, jika dikaitkan dengan perhitungan rasio ketergantungan penduduk lansia (old dependency ratio/ODR), yang merupakan tingkat ketergantungan penduduk lansia pada penduduk usia produktif. Jika penduduk lansia tersebut semakin meningkat jumlahnya, maka beban penduduk usia produktif akan semakin besar. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak lansia yang bekerja untuk mencari nafkah, seperti yang diuraikan pada uraian hasil Sensus Penduduk 2010 di atas.

1.2 Keutamaan Penelitian

Menurut Affandi (2009), banyaknya lansia yang masih bekerja disebabkan oleh kebutuhan ekonomi yang relatif masih besar, serta secara fisik dan mental lansia tersebut masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Kebutuhan ekonomi yang relatif besar pada lansia kemungkinan disebabkan tidak/belum adanya jaminan sosial ekonomi yang memadai bagi lansia. Di Indonesia jaminan hari tua, seperti uang pensiun masih sangat terbatas untuk mereka yang bekerja di sektor formal saja, tidak untuk sektor informal. Oleh karena itu, perlu dipikirkan berbagai upaya untuk menjangkau lansia yang tidak punya pensiun atau jaminan hari tua., mengingat jumlah mereka lebih banyak dibanding lansia dari sektor formal.

Meningkatnya jumlah penduduk lansia tentu membuat semakin berat pula beban negara. Dampak dari pertambahan penduduk lansia ini masih perlu mendapatkan perhatian, mengingat secara umum kondisi fisik, mental dan sosial lansia yang sudah banyak mengalami kemunduran, apalagi masih minimnya lansia yang mempunyai jaminan sosial, sehingga masih banyak lansia yang harus bekerja disebabkan oleh kebutuhan ekonomi yang relatif masih besar. Berdasarkan kondisi yang kontradiktif tersebut di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui determinan dari status kesehatan, jaminan sosial dan status pekerjaan berdasarkan karakteristik sosial ekonomi lansia.

(14)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Definisi Lanjut Usia (Lansia)

Pengertian lanjut usia menurut Undang-undang No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi “Lanjut Usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Menurut BPS, lansia adalah penduduk berumur 60 tahun ke atas. Sedangkan menurut Hardywinoto dan Setiabudhi (1999: 8), kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Penggolongan lansia menurut Depkes, digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu: (1) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia; (2) Kelompok lansia (65 tahun ke atas); dan (3) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

Berdasarkan aspek ekonomi, lansia (60 tahun ke atas) dikelompokkan menjadi (1) lansia yang produktif yaitu lansia yang sehat baik dari aspek fisik, mental maupun sosial; dan (2) lansia yang tidak produktif yaitu lansia yang sehat secara fisik, tetapi tidak sehat dari aspek mental dan sosial; atau sehat secara mental tetapi tidak sehat dari aspek fisik dan sosial; atau lansia yang tidak sehat baik dari aspek fisik, mental maupun sosial.

Secara demografis, pengelompokan penuaan penduduk dapat dilihat dari beberapa ukuran yaitu dependency ratio, persentase penduduk lansia, dan dari sisi umur median penduduk. Dari dependency ratio suatu penduduk disebut sebagai penduduk tua jika dependency ratio penduduk tuanya sudah di atas 10 persen. Dari persentase penduduk lansia, struktur penduduk lansianya sudah mencapai 7 persen ke atas. Sedangkan dari umur median penduduk, sebuah penduduk disebut sebagai penduduk tua jika umur mediannya 30 tahun ke atas.

Proses penuaan merupakan hal yang kompleks, dan belum ditemukan secara pasti fenomena yang melandasi mekanisme penuaan tersebut. Karena itu, perlu kriteria untuk menyatakan penduduk usia tua (lansia). Untuk mendefinisikan istilah penduduk lansia (lanjut usia) bukanlah hal yang mudah. Menurut BKKBN (1998), beberapa aspek yang

(15)

5 perlu dipertimbangkan untuk menentukan batasan penduduk lansia adalah aspek biologi, ekonomi, sosial, dan usia atau batasan usia. Secara biologis, penduduk lansia adalah penduduk yang telah menjalani proses penuaan dalam arti menurunnya daya tahan fisik yang ditandai dengan semakin rentannya terhadap serangan berbagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia, terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Ditinjau dari aspek ekonomi, penduduk lansia secara umum dipandang lebih sebagai beban daripada potensi sumber daya bagi pembangunan. Warga tua dianggap sebagi warga yang tidak produktif dan hidupnya perlu ditopang oleh generasi yang lebih muda. Bagi penduduk lansia yang masih memasuki lapangan pekerjaan, dianggap produktifitasnya sudah menurun, sehingga pada umumnya pendapatannya lebih rendah dibandingkan yang diterima oleh penduduk usia muda. Namun demikian tidak semua yang termasuk dalam kelompok umur lansia ini memiliki kualitas dan produktifitas rendah. Pada sebagian penduduk, kualitas penduduk usia tua tidak kalah dibandingkan mereka yang berada dalam kelompok umur muda, sebab di usia senja mereka telah memiliki cukup pendidikan dan pengalaman yang belum tentu dimiliki oleh kaum muda. Dari sudut pandang sosial, penduduk lansia merupakan suatu kelompok sosial tersendiri. Di negara Barat misalnya, penduduk lansia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini ditandai oleh keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh dalam pengambilan keputusan, serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun di usia tua. Namun di masyarakat tradisional di Asia pada umumnya, termasuk Indonesai, penduduk lansia menduduki kelas sosial yang tinggi, yang harus dihormati oleh masyarakat yang usianya lebih muda. Dari beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam mendefinisikan penduduk lanjut usia, pendekatan usia adalah yang paling memungkinkan untuk digunakan. Batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan karena informasi tentang usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.

Menurut Noveria dalam Affandi (2009), mengemukakan bahwa meskipun secara prosentase, penduduk usia lanjut di Indonesia tidak sebesar yang di miliki oleh negara-negara lain seperti Hongkong (14,3 persen), Singapora (9,6 persen) dan Korea Selatan (8,8 persen) pada tahun 1995, namun secara absolut jumlahnya lebih besar di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Tingginya jumlah lansia tersebut tidak dibarengi dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang tinggi dan kemungkinan besar

(16)

6 tingkat kesehatan juga rendah. Hal tersebut tentunya akan menambah kesulitan bagi para lansia dan keluarganya. Disatu sisi mereka hidup miskin dan harus memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak. Lalu bagaimanakah kondisi mereka sebenarnya dan apa yang mestinya dilakukan pemerintah untuk menopang kelangsungan hidup mereka.

Selain itu, faktor keluarga juga amat menentukan di dalam perjalanan hidup para lansia dimana selama ini diyakini bahwa dukungan penduduk lanjut usia merupakan tanggung jawab keluarga, terutama anak, sesuai dengan nilai yang dianut oleh kebanyakan masyarakat bahwa menjaga orang tua yang masih berusia lanjut merupakan kewajiban anak sebagai keturunannya (Noveria dalam Affandi 2009). Disamping itu, banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak merupakan tempat bergantung jika mereka sudah tua dan tidak sanggup hidup sendiri, baik karena alasan ekonomi maupun alasan kesehatan.

Nilai-nilai penghargaan terhadap orang tua tersebut tidak akan dapat bertahan, mengingat perubahan nilai-nilai kehidupan di atas akan berubah seiring dengan perubahan jaman. Hal ini dibuktikan dengan mulai banyak kasus orang tua yang terlantar, mulai dari gelandangan sampai dengan menumpuknya orang tua di panti jompo. Kondisi ini memaksa mereka untuk tetap menjadi anggota pasar kerja sangatlah dimungkinkan di masa depan (Affandi, 2009)

2.2 Lansia dan Permasalahannya

Tesis umum dari teori modernisasi adalah bahwa modernisasi secara relatif menghasilkan lansia dengan status lebih rendah di masyarakat manapun. Hasil Modernisasi berdampak pada peningkatan harapan hidup dan penurunan fertilitas karena teknologi modern membawa serta sarana untuk peningkatan hidup dan mengontrol kelahiran (Cowgill & Holmes, 1972). Konsekuensi dari modernisasi dan urbanisasi tentu akan memberikan kontribusi pada hilangnya banyak kekuasaan dan prestise dari orang tua dan juga mempengaruhi perawatan lansia (Cowgill, 1986).

Menurut Chen (2005), penuaan penduduk tentu akan menciptakan tuntutan baru pada pensiun, dan ketika digabungkan dengan fertilitas rendah, hal tersebut akan menghasilkan beban ekonomi yang lebih berat bagi generasi mendatang. Penuaan kemungkinan juga membawa tuntutan pada perawatan jangka panjang. Isu yang terkait

(17)

7 dengan usia pensiun, pemanfaatan yang efektif dari tenaga usia lanjut dan pengaturan hidup yang tepat untuk orang tua, dan lainnya, dapat mendasari kebijakan penting yang perlu mendapatkan penanganan.

Masalah penuaan membutuhkan komitmen jangka panjang. Kebijakan harus dibuat sesegera mungkin dengan mempertimbangkan kondisi khusus dari budaya dan kondisi sosial untuk tiap-tiap daerah. Dalam semua negara di dunia, penuaan penduduk mengubah rasio ketergantungan dan secara dramatis meningkatkan jumlah lanjut usia yang akan membutuhkan perawatan.

Cantor (1989) menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah lansia membawa perubahan dramatis dalam kehidupan keluarga, dalam sifat dan tingkat intervensi yang diperlukan untuk mendukung populasi yang menua, dan pengertian kita tentang peran keluarga dan masyarakat dalam menyediakan kebutuhan tersebut. Meskipun orang tua mengelola secara mandiri dengan hanya biasanya bantuan anggota keluarga, peningkatan jumlah usia lanjut dan orang yang menderita kelemahan dan ketidakmampuan memerlukan perawatan sosial yang lebih luas.

Peningkatan jumlah lansia menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi bagi keluarga dan negara. Perubahan dramatis dalam lingkungan yang lebih besar disebabkan oleh pembangunan ekonomi. Urbanisasi, industrialisasi, migrasi, dan globalisasi menyebabkan perubahan dalam struktur keluarga dan dukungan antar generasi lansia.

Dalam studi oleh Munsur, et al (2010) tentang latar belakang sosio-ekonomi, pengaturan hidup, status kesehatan dan penyalahgunaan (abuse) wanita berusia 60 tahun dan lebih tua di distrik Naogaon pedesaan Bangladesh. Data dikumpulkan dari tujuh desa dengan menggunakan probability proportional to size (PPS) sampling. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas dari lansia yang diteliti tidak memiliki pendidikan dasar, sebagai tenaga kerja tidak dibayar, janda, tidak memiliki penghasilan dan secara ekonomi tergantung pada orang lain. Analisis pengaturan hidup dari responden, menunjukkan bahwa sebagian besar hidup dengan anak-anak yang sudah menikah. Sebuah interpretasi positif temuan ini bahwa pengaturan hidup lansia perempuan Bangladesh yang menguntungkan bagi kesejahteraan mereka secara keseluruhan, karena tinggal bersama dengan kerabat merupakan sumber terpercaya dari bantuan dan dukungan. Sebagian besar lansia menyatakan bahwa status kesehatan mereka “tidak sehat” dan mereka kebanyakan menderita penyakit terkait arthritis dan memperoleh

(18)

8 perawatan dari dokter desa. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa status perkawinan responden, status pekerjaan, pendapatan bulanan keluarga, dan kebiasaan keracunan (habit of intoxication ) secara signifikan mempengaruhi status kesehatan lansia perempuan. Selanjutnya, analisis penyalahgunaan (abuse) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen disalahgunakan, terutama secara mental karena kemiskinan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia responden, status perkawinan, tingkat pendidikan dan status pekerjaan secara signifikan mempengaruhi penyalahgunaan (abuse) lansia perempuan. Temuan menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara pengaturan hidup, status kesehatan, dan penyalahgunaan (abuse).

Penelitian Milligan, K. & Tammy, S. (2008) tentang lansia bekerja, dari hasil surveI diperoleh tanggapan responden mengenai sikap tentang pekerjaan dan pension, diperoleh bahwa sebagian besar menyatakan memilih untuk berhenti bekerja ketika mereka pensiun dan banyak dari mereka yang ingin melanjutkan akan mencari pengaturan paruh waktu.

2.3 Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan telah dilakukan mengkhususkan pada model status pekerjaan lansia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Studi pendahuluan dilakukan di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dengan pertimbangan di Kabupaten Badung, Kecamatan Mengwi memiliki penduduk lansia paling banyak (35,75%). Data studi pendahuluan diperoleh melalui penyebaran angket kepada para lansia yang berumur 60-74 tahun dan sudah pensiun. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan teknik

purposive sampling, terhadap 140 orang responden. Variabel penelitian ini yaitu: tingkat

pendidikan, status dalam rumah tangga, status kawin, lama sakit dalam seminggu, ada/tidak tanggungan, tunjangan hari tua, dan status pekerjaan lansia. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis log-linier. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh bahwa status pekerjaan lansia berinteraksi dengan ada/tidaknya tanggungan dan ada/tidaknya tunjangan hari tua, status pekerjaan lansia berinteraksi dengan status dalam rumah tangga dan lama sakit dalam seminggu, status pekerjaan lansia berinteraksi dengan status kawin dan ada/tidaknya tunjangan hari tua, serta status dalam rumah tangga berinteraksi dengan status kawin dan lama sakit dalam seminggu. Sehingga disimpulkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi lansia masih bekerja adalah status dalam rumah tangga, status kawin, lama sakit dalam seminggu, ada/tidaknya

(19)

9 tanggungan, ada/tidaknya tunjangan hari tua, sedangkan tingkat pendidikan juga ikut berpengaruh tetapi secara tidak langsung.

Berdasarkan hasil analisis log linear diperoleh model log linear terbaik sebagai berikut:

3 log mijklmno = U + U756(omn) + U234(jkl) + U724(ojl) + U736(okn)

Persamaan di atas menjelaskan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi lansia masih bekerja adalah status dalam rumah tangga, status kawin, lama sakit dalam seminggu, ada atau tidaknya tanggungan, ada atau tidaknya tunjangan hari tua, sedangkan tingkat pendidikan juga ikut berpengaruh tetapi secara tidak langsung.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut di atas, dalam penelitian ini akan lebih dikembangkan lagi dan memfokuskan pada determinan dari status kesehatan, status jaminan sosial, dan status pekerjaan lansia. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan luaran yang dapat menjadi acuan dalam rangka revisi kebijakan mengenai kesejahteraan lansia di Provinsi Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.

(20)

10 BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

Secara keseluruhan penelitian ini diarahkan pada status kesehatan, jaminan sosial, dan status pekerjaan lansia, dengan tujuan sebagai berikut:

1. mengetahui secara luas latar belakang sosial ekonomi lansia;

2. mengetahui model dari status kesehatan lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya;

3. mengetahui model dari status jaminan sosial lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya;

4. mengetahui model dari status pekerjaan lansia dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Sehingga temuan yang didapatkan dari penelitian ini adalah: 1. model status kesehatan lansia,

2. model status jaminan sosial lansia, dan 3. model status pekerjaan

Dari model-model yang diperoleh merupakan acuan dalam revisi kebijakan tentang kesejahteraan lansia

3.2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh dapat sebagai sumber informasi bagi pengambil kebijakan maupun peneliti lain, mengenai kondisi nyata lansia di perdesaan Provinsi Bali, dalam hal ini akan diketahui gambaran secara umum tentang kararteristik sosial ekonomi lansia, meliputi status kesehatan, status jaminan social, dan status pekerjaan lansia.

Berdasarkan model yang diperoleh, yaitu model status kesehatan, status jaminan sosial dan status pekerjaan lansia, maka diketahui faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian dan perlu ditindaklanjuti oleh pengambil kebijakan dalam rangka perbaikan kebijakan tentang kesejahteraan lansia.

(21)

11 BAB IV

METODE PENELITIAN 4.1 Pemilihan Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah perdesaan di 8 kabupaten yang ada di Provinsi Bali. Pemilihan lokasi penelitian yang merupakan wilayah perdesaan di 8 kabupaten di Provinsi Bali, mengacu pada klasifikasi perdesaan dan perkotaan di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2010 (Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010). Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yang diperoleh dari sumber primer, yaitu diambil secara langsung oleh peneliti menggunakan kuesioner dan angket.

4.2 Teknik Sampling

Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di perdesaan di Provinsi Bali. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode proportional stratified

random sampling. Proportional stratified random sampling digunakan jika populasi

memiliki anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional, serta dihitung berdasarkan perbandingan (Sugiyono, 2008). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 430 lansia, dengan rincian sebagai berikut: untuk setiap kabupaten dipilih secara acak 3 desa, selanjutnya secara proporsional diambil sampel di masing-masing desa. Banyaknya sampel yang diambil proporsional dengan jumlah lansia yang ada di masing-masing desa hingga tercapai jumlah sampel 430 lansia.

4.3 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei, dimana informasi dikumpulkan dengan menanyai lansia menggunakan kuesioner terstruktur. Survei ini dijalankan dengan menemui responden secara bertatap muka. Dalam hal ini petugas lapang menanyai responden dengan pertanyaan terstruktur yang sudah disiapkan sebelumnya. Kuesioner yang dipergunakan dalam pengumpulan data, disajikan dalam lampiran 1.

(22)

12 4.4 Variabel-variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Karakteristik sosial ekonomi yang dijabarkan dalam variabel berikut:

 Umur (tahun),

 Jenis kelamin, dikelompokkan: Laki-laki dan Perempuan

 Status perkawinan, dikelompokkan: Tidak kawin; Kawin; Cerai hidup; dan Cerai mati.

 Tingkat pendidikan, dikelompokan: tidak sekolah; SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.

 Status dalam rumah tangga, dikelompokkan: Anggota rumah tangga dan Kepala rumah tangga

 Ada/Tidak Tanggungan, dikelompokkan: Tidak dan Ada

 Jumlah anggota keluarga yang masih ditanggung oleh responden: …… orang  Lama sakit dalam satu minggu terakhir: ….. hari

 Keluhan sakit yang dialami, dikelompokkan: Panas; Pilek; Batuk; Asma; Diare; Lainnya (sebutkan)

 Jenis tunjangan hari tua yang dimiliki, dikelompokkan: Pensiunan, Asuransi Hari Tua, Jaminan Sosial Lanjut Usia, Lainnya (sebutkan)

 Jenis pekerjaan responden, dikelompokkan: Petani, Peternak, Pedagang, Lainnya (sebutkan)

 Jam kerja dalam satu minggu: …..jam

 Pendapatan rata-rata responden per bulan, dikelompokkan: tidak berpenghasilan; di bawah Rp.500.000; Rp.500.001-Rp.1.000.000; diatas Rp. 1.000.000 (sebutkan)  Pendapatan keluarga rata-rata per-bulan, dikelompokkan: di bawah Rp.

1.000.000; Rp.1.000.001-Rp.2.000.000; di atas Rp.2.000.000 (sebutkan)  Kepuasan terhadap kondisi ekonomi, dikelompokkan: Tidak dan Ya.

 Status ekonomi, dikelompokkan: tidak bergantung pada keluarga; bergantung pada keluarga

2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah:

 Status kesehatan yaitu status kesehatan yang dirasakan sendiri oleh responden. Menurut Fillenbaum (1984), status kesehatan yang dirasakan sendiri merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan dari kondisi kesehatan yang sebenarnya.

(23)

13 Selain itu penilaian diri mengenai kesehatan adalah komponen umum dari survei berbasis populasi. Untuk mengetahui status kesehatan responden dalam penelitian ini diberikan pertanyaan: “bagaimaimana status kesehatan responden saat ini?” pilihan jawaban dikelompokkan sebagai: tidak sehat dan sehat.

 Status jaminan sosial, dikelompokkan: tidak mempunyai jaminan sosial; memiliki jaminan sosial (pensiunan, asuransi hari tua, jaminan sosial lanjut Usia (JSLU) untuk lansia tidak potensial, dan lainnya)

 Status Pekerjaan, dikelompokkan: tidak bekerja; bekerja dengan status berusaha sendiri; bekerja dengan status berusaha dibantu buruh, pekerja tidak dibayar; pekerja bebas; buruh/karyawan.

4.5 Metode Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini, mengikuti langkah-langkah berikut: 1. Melakukan analisis deskriptif untuk mendapatkan karakteristik sosial ekonomi

lansia dengan menentukan persentase variabel secara univariat.

2. Melakukan teknik analisis univariat menggunakan analisis Khi Kuadrat untuk mengetahui keterkaitan masing-masing variabel karakteristik sosial ekonomi lansia dengan status kesehatan lansia, status jaminan sosial, dan status pekerjaan lansia. Statistik uji analisis Khi Kuadrat dirumuskan sebagai berikut:



    I i J j ij ij ij hitung m m n 1 1 2 2 ˆ ˆ  dimana: ij

n = frekuensi pengamatan pada baris ke-i kolom ke-j 

i

n = frekuensi pengamatan pada baris ke-i

j

n = frekuensi pengamatan pada kolom ke-j 

n = N = jumlah seluruh pengamatan

i = 1,2, ……, I j = 1, 2, ……,J

Statistik uji tersebut, selanjutnya dibandingkan dengan distribusi  dengan 2 derajat bebas

I J1



1

dan risiko kesalahan  , serta kriteria penolakan H0

(24)

14 3. Melakukan teknik analisis multivariate menggunakan analisis regresi logistik untuk menentukan faktor-faktor yang memengaruhi status kesehatan, status jaminan sosial dan status pekerjaan lansia. Analisis regresi logistik menurut Hosmer dan Lemeshow (2000) merupakan metode regresi dengan variabel respon Y merupakan kategorik atau dikotomi, sedangkan variabel bebasnya merupakan variabel kategorik dan atau kontinu.

Model regresinya adalah x x pxp

x x x g                    0 1 1 2 2  ) ( 1 ) ( ln ) ( Dengan: β = parameter regresi x = variabel bebas

Semua data diedit, dikumpulkan, dan kemudian dianalisis menggunakan bantuan program statistik SPSS 19.0.

Bagan alir penelitian selengkapnya dapat dilihat pada diagram (fishbone diagram) di halaman 15.

(25)
(26)

16 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia Perdesaan Provinsi Bali

Penelitian ini adalah penelitian tahun pertama yang memfokuskan pada determinan dari status kesehatan, status jaminan sosial dan status pekerjaan berdasarkan karakteristik sosial ekonomi lanjut usia di perdesaan di Provinsi Bali. Data yang diambil merupakan hasil jawaban responden lansia terhadap kuisioner yang disebar di delapan kabupaten di Bali. Data yang terkumpul adalah sebanyak 430 data. Hasil analisis deskriptif karakteristik sosial ekonomi lansia perdesaan Provinsi Bali dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1. Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia Perdesaan Provinsi Bali

Variabel N % Variabel N % Status Bekerja 1. Tidak Bekerja 2. Bekerja 141 289 32,8 67,2

Ada tidak Tanggungan 1. Tidak ada 2. Ada 285 145 66,3 33,7 Jenis Kelamin 1. Laki-laki 2. Wanita 231 199 53,7 46,3 Status Kesehatan 1. Tidak sehat 2. Sehat 159 271 37,0 63,0 Status Kawin 1. Belum Kawin 2. Kawin 3. Cerai Hidup 4. Cerai Mati 12 331 6 81 2,8 77,0 1,4 18,8

Tunjangan Hari Tua 1. Tidak ada 2. Ada 349 81 81,2 18,8 Tingkat Pndidikan 1. Tidak sekolah 2. SD 3. SMP 4. SMA 5. PT 193 180 26 20 11 44,9 41,9 6,0 4,7 2,6 Pendapatan 1. Tidak ada 2. < Rp.500.000 3. 500.000-1 juta 4. > 1 Juta 143 132 97 58 33,3 30,7 22,6 13,5 Status dalam Rumah Tangga 1.Anggota Rumah Tangga 2. Kepala Rumah Tangga 251 179 58,4 41,6 Pendapatan Keluarga 1. < 1 juta 2. 1.000.001 – 2 juta 3. > 2 juta 181 169 80 42,1 39,3 18,6

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mempunyai status bekerja, yaitu sebanyak 67,2% dan 32,8% tidak bekerja. Sebagian besar responden menyatakan alasan mereka masih bekerja karena secara fisik dan mental masih merasa mampu dan kuat bekerja dan desakan ekonomi berupa pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang

(27)

17 semakin besar. Alasan ekonomi yang menjadi sebab lansia bekerja juga dikemukakan oleh Sigit (1988), dengan masih bekerjanya lansia berarti mereka masih dapat menghidupi dirinya sendiri. Bahkan tidak sedikit lansia yang masih menghidupi keluarga anaknya yang tinggal bersamanya, karena mereka hidup dalam keluarga yang tidak mampu.

Deskripsi responden menurut ada/tidaknya tunjangan hari tua, diperoleh sebagian besar lansia (81.2%) tidak mempunyai tunjangan hari tua, dan sisanya mempunyai tunjangan hari tua, seperti tunjangan pensiun, asuransi hari tua, Jaminan sosial lanjut usia (JSLU), maupun tunjangan lainnya. Status kesehatan lansia, menunjukkan sebagian besar responden 63% dari 430 total lansia mempunyai status sehat, sedangkan sisanya 37% menyatakan tidak sehat. Karakteristik lansia yang lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa 53.7% responden adalah lansia laki-laki dan 46,3% lansia wanita. Status kawin lansia menunjukkan bahwa 77% dengan status kawin, 18.8% status cerai mati, dan sisanya terdiri dari status belum kawin dan cerai hidup. Responden menurut statusnya dalam rumah tangga, menunjukkan 58.4% anggota rumah tangga dan 41.6% merupakan kepala rumah tangga. Karakteristik responden menurut ada/tidaknya tanggungan dalam rumah tangga, diperoleh sebagian besar lansia, yaitu 66,3% tidak mempunyai tanggungan, sedangkan sisanya menyatakan mempunyai tanggungan.

Variabel tingkat pendidikan responden menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mempunyai tingkat pendidikan Tidak Sekolah sebesar 44,9%, SD 41,9%, sisanya 13,2% dengan status SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Secara keseluruhan, tingkat pendidikan lansia umumnya rendah, seperti halnya kondisi pendidikan penduduk Indonesia pada umumnya. Kondisi demikian sangat dimaklumi mengingat kebanyakan lansia pada saat usia sekolah, mereka hidup dalam jaman penjajahan pada masa itu, dan besar kemungkinan bahwa hanya sedikit dari mereka bersekolah, selain itu juga sarana pendidikan masih sangat terbatas dibandingkan sekarang.

Deskripsi responden menurut pendapatan, diperoleh 33,3% lansia tidak mempunyai pendapatan, 30,7% dengan pendapatan kurang dari Rp. 500.000,-, pendapatan Rp. 500.000 – 1.000.000,- sebesar 22,6%, dan untuk pendapatan lebih dari Rp.1.000.000,- sebesar 13,5%. Sebagian besar pendapatan responden rendah. Hal ini disebabkan sewaktu masih muda mereka terserap di bidang pertanian, sehingga ketika mereka sudah lanjut usia seperti sekarang, pekerjaan-pekerjaan pertanian sudah tidak mampu lagi mereka kerjakan. Dengan demikian mereka tidak

(28)

18 mempunyai pekerjaan. Sama halnya dengan responden yang bekerja di sektor industri. Tingkat pendidikan yang ditamatkan responden sejalan dengan tingkat pekerjaan dan pendapatan yang diperoleh. Karena tingkat pendidikan responden rendah dan pekerjaan yang mereka peroleh adalah di sektor informal, penghasilan mereka rendah. Dengan kondisi seperti itu, mereka tidak dapat menabung/ menyisihkan uang untuk hari tua. Ketika mereka berhenti dari pekerjaan tidak mendapatkan tunjangan kesejahteraan hari tua, sehingga kondisi di lapangan mayoritas responden mempunyai pendapatan per bulan sangat sedikit.

Deskripsi pendapatan keluarga responden diperoleh sebanyak 42,1% dari 430 lansia dengan pendapatan kurang dari Rp. 1.000.000,-, pendapatan antara Rp. 1.000.001,- – Rp. 2.000.000,- sebanyak 39,3%, dan pendapatan lebih dari Rp. 2.000.000,- sebesar 18,6%. Deskripsi responden menurut ketergantungan ekonomi lansia terhadap anggota keluarga lain, menunjukkan bahwa 58,8% menyatakan tergantung, dan 41,2% menyatakan tidak tergantung secara ekonomi terhadap anggota keluarga lain. Jawaban responden mengenai pertanyaan apakah merasa puas terhadap kondisi ekonomi mereka saat ini, diperoleh 54,7% responden menyatakan tidak puas dan 45,3% menyatakan puas terhadap kondisi ekonomi mereka.

5.2 Model Status Pekerjaan Lansia

Masa pensiun seharusnya diisi dengan menikmati hari tua bersama anak dan cucu-cucunya, tetapi kenyataan di Provinsi Bali terutama di pedesaan masih ada 67,2% lansia yang berstatus bekerja. Alasan terbesar lansia ini masih bekerja adalah untuk menambah penghasilan dan membantu keuangan keluarga. Pekerjaan yang paling banyak ditekuni adalah pekerjaan kasar seperti buruh tani, buruh bangunan, dan sebagian lagi pedagang.

Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi lansia tersebut masih bekerja dapat dijelaskan dengan melakukan analisis statistic univariat dan multivariate. Analisis univariat dilakukan untuk melihat ada/tidaknya keterkaitan antara status pekerjaan lansia dengan karakteristik sosial ekonomi menggunakan statistik uji khi kuadrat. Hipotesis untuk uji ini adalah:

Ho: Tidak ada keterkaitan status pekerjaan dengan variable karakteristik sosial ekonomi

(29)

19 Hi: Ada keterkaitan status pekerjaan dengan variabel karakteristik sosial

ekonomi

Tabel 5.2 Hasil Uji Khi Kuadrat Status Pekerjaan dengan Karakteristik Sosial Ekonomi

Status Pekerjaan Vs Variabel Karakteristik

Nilai Khi kuadrat

Nilai Sign. Keputusan

1. Tingkat Pendidikan 22.428 0.000 Tolak Ho

2. Status Kawin 22.390 0.000 Tolak Ho

3. Status dalam Rumah Tangga 18.600 0.000 Tolak Ho

4. Ada/tidaknya Tanggungan 26.178 0.000 Tolak Ho

5. Jenis Kelamin 6.896 0.009 Tolak Ho

6. Status Kesehatan 19.700 0.000 Tolak Ho

7. Ada/tidaknya Tunjangan Hari Tua 0.875 0.350 Terima Ho

8. Pendapatan 322.635 0.000 Tolak Ho

9. Pendapatan Keluarga 1.966 0.374 Terima Ho

10. Puas/tidak pada kondisi ekonomi 0.710 0.402 Terima Ho 11. Ketergantungan secara ekonomi

pada keluarga lain

41.980 0.000 Tolak Ho

Hasil uji khi kuadrat pada Tabel 5.2 menjelaskan bahwa secara sendiri-sendiri tidak terlihat adanya keterkaitan antara status pekerjaan lansia dengan status ada/tidaknya tunjangan hari tua, pendapatan keluarga dan kepuasan pada kondisi ekonomi, ini terlihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari taraf nyata 5%, sehingga Ho diterima. Sedangkan hubungan antara status pekerjaan lansia dengan variabel karakteristik sosial lainnya signifikan yang menunjukkan adanya keterkaitan status pekerjaan dengan variabel-variabel ini.

Hasil analisis univariat hanya menghasilkan kesimpulan tentang hubungan antara status pekerjaan lansia dengan masing-masing variabel karakteristik sosial ekonomi, hal ini jelas berbeda ketika hubungan status pekerjaan lansia dengan masing-masing variable karakteristik sosial ekonomi dilihat secara simultan dan parsial (multivariate). Model yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara status pekerjaan lansia yang berskala kategorik biner dengan variable karakteristik sosial ekonomi dengan skala kategorik dan atau kontinu adalah model regresi logistic biner. Hasil uji regresi logistic multivariate terlihat pada Tabel 5.3.

(30)

20 Tabel 5.3. Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Pekerjaan Lansia

Variables in the Equation

B S.E. Wald Df Sig. Exp(B)

Step 1a Umur -0.111 0.027 17.250 1 0.000 0.895 JenisKlmn 0.646 0.427 2.292 1 0.130 1.908 StatusKwn -0.088 0.192 0.212 1 0.645 0.916 Pendidik 0.074 0.256 0.085 1 0.771 1.077 StatusRT 0.725 0.485 2.232 1 0.135 2.064 Tanggungan -0.047 0.441 0.012 1 0.914 0.954 StatKeshtn 0.242 0.346 0.488 1 0.485 1.274 TunjHariTua -1.384 0.537 6.644 1 0.010 0.251 Pendptan 2.688 0.295 83.290 1 0.000 14.701 PendKeluarga -0.464 0.257 3.265 1 0.071 0.629 PuasTarget -0.734 0.377 3.787 1 0.052 0.480 EkoTergntg -0.678 0.399 2.883 1 0.090 0.507 Constant 6.069 2.389 6.455 1 0.011 432.323

a. Variable(s) entered on step 1: Umur, JenisKlmn, StatusKwn, Pendidik, StatusRT, Tanggungan, StatKeshtn, TunjHariTua, Pendptan, PendKeluarga, PuasTarget, EkoTergntg.

Berdasarkan pada nilai signifikansinya yang lebih besar dari taraf nyata 5% dapat diputuskan variabel-variabel yang berpengaruh pada status bekerja lansia, yaitu: umur, ada tidaknya tunjangan hari tua, dan besarnya pendapatan keluarga. Maka model terbaik yang diperoleh adalah:

tan 421 . 2 459 . 3 152 . 0 204 . 16 ) (

ˆ x Umur TunjHariTua Pendp

g     (1)

Model 1 menunjukkan bahwa nilai OR untuk umur = 0,895 berarti bertambahnya umur satu tahun akan mengurangi keinginan lansia untuk bekerja 0,895 kali. Ketika bertambahnya umur lansia selalu diikuti dengan menurunnya derajat kesehatan, sehingga mengurangi pula keinginan untuk bekerja. Hal ini sejalan dengan hasil uji khi kuadrat (Tabel 5.2) untuk status kesehatan yang signifikan (sign. = 0.001 < α = 0.05) dengan status bekerja. Artinya sehat tidaknya lansia ada kaitan dengan bekerja tidaknya lansia.

Nilai OR untuk tunjangan hari tua = 0.251 mengindikasikan bahwa ketika lansia mempunyai tunjangan hari tua akan menurunkan keinginan lansia untuk bekerja 0,251 kali dibandingkan lansia yang tidak mempunyai tunjangan hari tua. Hal ini disebabkan karena pada lansia yang mempunyai tunjangan hari tua secara ekonomi lebih mapan sehingga menurunkan keinginan untuk bekerja.

(31)

21 Begitu pula pada variabel besaran pendapatan dengan nilai OR = 14,071 menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan menaikkan keinginan lansia untuk bekerja sebesar 14,071 kali.

Model 1 mengindikasikan bahwa dengan bertambahnya umur lansia dan ketika lansia mempunyai tunjangan hari tua, hal tersebut akan mengurangi keinginan lansia untuk bekerja. Variabel besaran pendapatan lansia menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan menaikkan keinginan lansia untuk bekerja.

Dengan banyaknya lansia yang bekerja, perlu dipikirkan lapangan pekerjaan dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kondisi mereka. Mereka masih tetap menjadi modal pembangunan, tanpa mengurangi kesempatan bekerja untuk penduduk usia produktif. Namun, kondisi seperti ini perlu didukung adanya jaminan sosial yang dapat membantu kebutuhan lansia, terutama untuk lansia yang bekerja di sektor informal.

5.3 Model Status Kasehatan Lansia

Bertambahnya umur pada lansia selalu berkaitan dengan kondisi kesehatan mereka. Ketika memasuki masa lansia adalah hal wajar bila diikuti pula dengan menurunnya derajat kesehatannya. Hal-hal apa saja yang dapat berpengaruh pada status kesehatan lansia ini dapat dilihat dari model status kesehatan yang diperoleh baik berdasarkan analisis univariat maupun analisis multivariat.

Hasil uji univariat dengan analisis khi kuadrat pada status kesehatan lansia terlihat pada Tabel 5.4. Analisis ini adalah untuk melihat ada tidaknya keterkaitan antara status kesehatan dengan karakteristik sosial ekonomi, dengan hipotesis yang diuji adalah Ho: Tidak ada keterkaitan status kesehatan dengan variable karakteristik social ekonomi Hi: Ada keterkaitan status kesehatan dengan variabel karakteristik sosial ekonomi.

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa secara sendiri-sendiri hanya variabel tingkat pendidikan yang menerima Ho. Artinya tingkat pendidikan lansia tidak mempunyai keterkaitan dengan status kesehatan lansia. Ini mengindikasikan bahwa apapun pendidikannya tidak mempengaruhi derajat kesehatan para lansia. Lansia dengan pendidikan rendah maupun yang mempunyai pendidikan tinggi beresiko sama untuk sakit maupun sehat. Sedangkan variabel lain hasil analisisnya adalah menolak Ho, yang menunjukkan bahwa ada keterkaitan variable status kawin, status dalam rumah tangga, ada tidaknya tanggungan, jenis kelamin, pendapatan, pendapatan keluarga, puas tidaknya

(32)

22 pada kondisi ekonomi dan ada tidaknya ketergantungan sektor ekonomi pada keluarga lain dengan status kesehatan.

Tabel 5.4. Hasil Uji Khi Kuadrat Status Kesehatan dengan Karakteristik Sosial Ekonomi

Status Kesehatan vs Variabel Karakteristik

Nilai Khi kuadrat

Nilai Sign. Keputusan

1. Tingkat Pendidikan 94.182 0.000 Terima Ho

2. Status Kawin 4.143 0.246 Tolak Ho

3. Status dalam Rumah Tangga 10.848 0.001 Tolak Ho

4. Ada tidaknya Tanggungan 4.188 0.041 Tolak Ho

5. Jenis Kelamin 9.336 0.002 Tolak Ho

7. Pendapatan 45.152 0.000 Tolak Ho

8. Pendapatan Keluarga 39.478 0.000 Tolak Ho

9. Puas/tidak pd kondisi ekonomi 24.241 0.000 Tolak Ho

10. Ketergantungan sektor ekonomi pada keluarga lain

13.191 0.000 Tolak Ho

Analisis selanjutnya adalah melakukan pengujian secara simultan atau serempak dan analisis secara parsial untuk mengetahui variabel karakteristik mana saja yang berpengaruh pada status kesehatan lansia. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik biner dengan variabel responnya adalah status kesehatan berkategori sehat dan tidak sehat.

Berdasarkan Tabel 5.5 variabel yang berpengaruh pada status kesehatan lansia adalah variable dengan tingkat signifikansi (sig.) lebih kecil 0.05. Ada dua variabel yang signifikan berpengaruh yaitu variabel umur dan pendapatan keluarga, oleh karena itu model terbaik yang diperoleh adalah:

a PendKelu Umur x gˆ( )1.1800.033 0.309 arg (2) Koefisien regresi logistic (B) dalam Model 2 tidak dapat diinterpretasikan secara langsung, melainkan melalui nilai eksponen B nya (exp B) yang disebut nilai odd rasio. Pada variabel umur dengan odd rasio 0.968 mengindikasikan bahwa bertambahnya umur akan menurunkan derajat kesehatan lansia. Variabel kedua yang berpengaruh pada status kesehatan adalah pendapatan keluarga dengan nilai odd rasio 0.374. Nilai ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan keluarga akan menurunkan persepsi responden mengenai status kesehatannya. Lansia dengan pendapatan keluarga yang

(33)

23 tergolong tinggi cenderung mempersepsi diri mempunyai status kesehatan tidak sehat. Berbeda dengan lansia dengan pendapatan keluarga yang tergolong rendah cenderung mempersepsi diri bahwa status kesehatan mereka sehat.

Tabel 5.5 Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Kesehatan Lansia Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 1a Umur -0.033 0.016 4.024 1 0.045 0.968 JenisKlmn 0.340 0.303 1.253 1 0.263 1.405 StatusKwn -0.053 0.134 0.157 1 0.692 0.948 Pendidik 0.214 0.156 1.894 1 0.169 1.239 StatusRT 0.522 0.325 2.575 1 0.109 1.685 Tanggungan 0.271 0.261 1.076 1 0.300 1.311 TunjHariTua 0.488 0.331 2.171 1 0.141 1.629 StatKerja 0.239 0.328 0.529 1 0.467 1.269 Pendptan 0.298 0.168 3.138 1 0.076 1.347 PendKeluarga -0.309 0.157 3.862 1 0.049 0.734 PuasTarget 0.453 0.239 3.604 1 0.058 1.574 EkoTergntg 0.288 0.246 1.373 1 0.241 1.334 Constant -1.180 1.674 0.497 1 0.481 0.307

a. Variable(s) entered on step 1: Umur, JenisKlmn, StatusKwn, Pendidik, StatusRT, Tanggungan, TunjHariTua, StatKerja, Pendptan, PendKeluarga, PuasTarget, EkoTergntg.

5.4 Model Status Tunjangan Hari Tua Lansia

Secara umum di Indonesia tunjangan hari tua biasanya diberikan hanya pada pekerja formal berupa uang pensiunan, hanya sedikit yang memberikan tunjangan hari tua pada pekerja informal. Padahal sebagian besar masyarakat di Indonesia bekerja pada sector informal. Hasil analisis deskriptif menunjukkan dari 430 lansia yang menjadi responden dalam penelitian ini hanya 81 orang (18,8%) yang mempunyai tunjangan hari tua, sisanya 349 orang (81,2%) tidak memiliki tunjangan hari tua. Variabel karakteristik sosial mana saya yang terkait dengan ada tidaknya tunjangan hari tua ini dapat dilihat dari hasil analisis univariat pada Tabel 5.6.

Hasil analisis univariat dengan menggunakan uji khi kudrat menunjukkan bahwa hanya variabel status perkawinan saja yang tidak ada keterkaitan dengan status ada tidaknya tunjangan hari tua. Artinya status kawin, lajang atau cerai tidak memiliki

(34)

24 keterkaitan dengan ada tidaknya tunjangan hari tua. Sedangkan variabel lainnya mempunyai keterkaitan dengan status tunjangan hari tua.

Tabel 5.6 Hasil Uji Khi Kuadrat Status Tunjangan Hari Tua dengan Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia

Ada Tidaknya Tunjangan Hari Tua vs Variabel Karakteristik

Nilai Khi kuadrat

Nilai Sign. Keputusan

1. Tingkat Pendidikan 94.182 0.000 Tolak Ho

2. Status Kawin 4.143 0.246 Terima Ho

3. Status dalam Rumah Tangga 10.848 0.001 Tolak Ho

4. Ada tidaknya Tanggungan 4.188 0.041 Tolak Ho

5. Jenis Kelamin 9.336 0.002 Tolak Ho

6. Status Kesehatan 11.837 0.001 Tolak Ho

7. Pendapatan 45.152 0.000 Tolak Ho

8. Pendapatan Keluarga 39.478 0.000 Tolak Ho

9. Puas/tidak pd kondisi ekonomi 24.241 0.000 Tolak Ho

10. Ketergantungan sektor ekonomi pada keluarga lain

13.191 0.000 Tolak Ho

Analisis selanjutnya adalah menentukan model terbaik dengan analisis regeri logistic multivariate. Hasilnya seperti yang tertera pada Tabel 5.7, menunjukkan bahwa hanya variabel tingkat pendidikan lansia yang signifikan berpengaruh terhadap status tunjangan hari tua, dengan model terbaik yang diperoleh adalah:

Pendidikan x

gˆ( )6.7670.855

(3)

Berdasarkan nilai odd rasio = 2.351 dapat dinyatakan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan lansia akan meningkatkan peluang mempunyai tunjangan hari tua 2.351 kali.

(35)

25 Tabel 5.7 Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Tunjangan Hari Tua

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 1a Umur 0.038 0.022 3.024 1 0.082 1.039 JenisKlmn -0.581 0.432 1.808 1 0.179 0.560 StatusKwn 0.251 0.199 1.593 1 0.207 1.285 Pendidik 0.855 0.166 26.527 1 0.000 2.351 StatusRT -0.114 0.426 0.071 1 0.789 0.892 Tanggungan 0.409 0.325 1.578 1 0.209 1.505 StatKeshtn 0.531 0.336 2.494 1 0.114 1.700 StatKerja -0.477 0.445 1.151 1 0.283 0.620 Pendptan 0.233 0.196 1.413 1 0.234 1.262 PendKeluarga 0.019 0.212 0.008 1 0.929 1.019 PuasTarget 0.473 0.319 2.202 1 0.138 1.605 EkoTergntg -0.385 0.313 1.510 1 0.219 0.680 Constant -6.767 2.431 7.747 1 0.005 0.001

a. Variable(s) entered on step 1: Umur, JenisKlmn, StatusKwn, Pendidik, StatusRT, Tanggungan, StatKeshtn, StatKerja, Pendptan, PendKeluarga, PuasTarget, EkoTergntg.

(36)

26 BAB VI

RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

6.1 Rencana Tahap Penelitian Tahun II

Berdasarkan hasil penelitian tahap pertama untuk daerah perdesaan ditemukan sebagian besar lansia masih bekerja dan minimya lansia yang mempunyai jaminan sosial seperti asuransi hari tua, pensiunan, jaminan sosial lanjut usia (JSLU), dan jenis jaminan sosial lainnya.

Berdasarkan hal tersebut muncul pertanyaan, bagaimanakah kondisi lansia di perkotaan Provinsi Bali? Apakah rekomendasi kebijakan yang diberikan berdasarkan hasil penelitian di perdesaan ini dapat dijadikan acuan untuk revisi kebjakan kesejahteraan lansia di perkotaan? Apakah model dari status kesehatan, status jaminan social, dan status pekerjaan lansia untuk lansia perdesaan bisa menjadi acuan untuk menyusun kebijakan lansia perkotaan? Bagaimanakah latar belakang, kondisi status kesehatan, status jaminan sosial, dan status pekerjaan lansia di perkotaan?

Berdasarkan beberapa pertanyaan penelitian tersebut di atas, maka penelitian lanjutan untuk lansia di daerah perkotaan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sehingga nantinya akan diperoleh model yang bersifat menyeluruh untuk Provinsi Bali khususnya, dan dapat menjadi rekomendasi untuk provinsi lain yang memiliki karakteristik demografi lansia yang mirip.

(37)

27 BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Latar belakang sosial ekonomi lansia diperoleh sebagian besar lansia mempunyai status bekerja, yaitu sebanyak 67,2% dan 32,8% tidak bekerja. Alasan masih bekerja, sebagian besar responden menyatakan karena secara fisik dan mental masih merasa mampu dan kuat bekerja dan desakan ekonomi berupa pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin besar.

Deskripsi responden menurut ada/tidaknya tunjangan hari tua, diperoleh sebagian besar lansia (81.2%) tidak mempunyai tunjangan hari tua, dan sisanya mempunyai tunjangan hari tua, seperti tunjangan pensiun, asuransi hari tua, Jaminan sosial lanjut usia (JSLU), maupun tunjangan lainnya. Status kesehatan lansia, menunjukkan sebagian besar responden 63% dari 430 total lansia mempunyai status sehat, sedangkan sisanya 37% menyatakan tidak sehat.

Karakteristik lansia yang lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa 53.7% responden adalah lansia laki-laki dan 46,3% lansia wanita, dengan status kawin sebesar 77%, 18.8% status cerai mati, dan sisanya terdiri dari status belum kawin dan cerai hidup. Responden menurut statusnya dalam rumah tangga, menunjukkan 58.4% anggota rumah tangga dan 41.6% merupakan kepala rumah tangga. Karakteristik responden menurut ada/tidaknya tanggungan dalam rumah tangga, diperoleh sebagian besar lansia, yaitu 66,3% tidak mempunyai tanggungan, sedangkan sisanya menyatakan mempunyai tanggungan, dengan rata-rata tanggungan 2 orang.

Sebagian besar lansia mempunyai tingkat pendidikan Tidak Sekolah sebesar 44,9%, SD 41,9%, sisanya 13,2% dengan status SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Secara keseluruhan, tingkat pendidikan lansia umumnya rendah.

Mayoritas responden mempunyai pendapatan per bulan sangat sedikit. Deskripsi pendapatan responden diperoleh 33,3% lansia tidak mempunyai pendapatan, 30,7% dengan pendapatan kurang dari Rp. 500.000,-, pendapatan Rp. 500.000 – 1.000.000,- sebesar 22,6%, dan pendapatan lebih dari Rp.1.000.000,- sebesar 13,5%. Deskripsi pendapatan keluarga responden diperoleh sebesar 42,1% dari 430 lansia dengan pendapatan kurang dari Rp. 1.000.000,-, pendapatan antara Rp. 1.000.001,- – Rp.

(38)

28 2.000.000,- sebesar 39,3%, dan pendapatan lebih dari Rp. 2.000.000,- sebesar 18,6%. Deskripsi responden menurut ketergantungan secara ekonomi terhadap anggota keluarga lain, menunjukkan bahwa 58,8% menyatakan tergantung, dan 41,2% menyatakan tidak tergantung secara ekonomi terhadap anggota keluarga lain. Sebanyak 54,7% responden menyatakan tidak puas dan 45,3% menyatakan puas terhadap kondisi ekonomi mereka saat ini.

Model yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara status pekerjaan lansia dengan variabel karakteristik sosial ekonomi lansia adalah model regresi logistic biner. Hasil uji diperoleh variabel-variabel yang berpengaruh pada status bekerja lansia, yaitu: umur, ada tidaknya tunjangan hari tua, dan besarnya pendapatan keluarga. Model terbaik yang diperoleh adalah:

tan 421 . 2 459 . 3 152 . 0 204 . 16 ) (

ˆ x Umur TunjHariTua Pendp

g     (1)

Model 1 mengindikasikan bahwa dengan bertambahnya umur lansia dan ketika lansia mempunyai tunjangan hari tua, hal tersebut akan mengurangi keinginan lansia untuk bekerja. Variabel besaran pendapatan lansia menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan akan menaikkan keinginan lansia untuk bekerja.

Variabel-variabel yang berpengaruh pada status kesehatan lansia adalah variabel umur dan pendapatan keluarga, dengan model terbaik yang diperoleh adalah:

a PendKelu Umur x gˆ( )1.1800.033 0.309 arg (2) Model 2 mengindikasikan bahwa bertambahnya umur akan menurunkan derajat kesehatan lansia dan peningkatan pendapatan keluarga akan menurunkan persepsi responden mengenai status kesehatannya. Lansia dengan pendapatan keluarga yang tergolong tinggi cenderung mempersepsi diri mempunyai status kesehatan tidak sehat. Berbeda dengan lansia dengan pendapatan keluarga yang tergolong rendah cenderung mempersepsi diri bahwa status kesehatan mereka sehat.

Variabel tingkat pendidikan lansia berpengaruh signifikan terhadap status tunjangan hari tua, dengan model terbaik yang diperoleh adalah:

Pendidikan x

gˆ( )6.7670.855

(3)

Berdasarkan model 3 dapat dinyatakan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan lansia akan meningkatkan peluang mempunyai tunjangan hari tua.

(39)

29 7.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, maka beberapa hal yang dapat disarankan adalah:

1. Kondisi banyaknya lansia yang bekerja, perlu dipikirkan lapangan pekerjaan dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kondisi mereka. Mereka masih tetap menjadi modal pembangunan, tanpa mengurangi kesempatan bekerja untuk penduduk usia produktif. Namun, kondisi seperti ini perlu didukung adanya jaminan sosial yang dapat membantu kebutuhan lansia, terutama untuk lansia yang bekerja di sektor informal.

2. Kondisi minimnya lansia yang mempunyai jaminan sosial di perdesaan Provinsi Bali dan berdasarkan model status jaminan sosial lansia yang diperoleh dari penelitian ini, yang mengindikasikan bahwa hanya lansia dengan pendidikan menengah ke atas yang mempunyai peluang untuk mempunyai jaminan sosial, maka rekomendasi berdasarkan hasil penelitian ini adalah agar pengambil kebijakan mempertimbangkan untuk menyiapkan jaminan sosial lansia yang bisa mengakomodir semua kalangan lansia pada berbagai status sosial ekonomi.

(40)

30 DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Moch. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penduduk Lanjut Usia

Memilih Untuk Bekerja. Journal of Indonesian Applied Economics, Vol. 3 No. 2 Oktober 2009, 99-110

Anonim. Referensi Kesehatan. http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/lansia/ diakses pada tanggal 25 April 2012.

BPS. 2010. Peraturan Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010, Tentang Klasifikasi Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

_______. 2011. Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia 2010 Hasil Sensus Penduduk

2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

_______. 2011. Statistik Penduduk Lanjut Usia Provinsi Bali 2010 Hasil Sensus

Penduduk 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Cantor, Marjorie H. 1989. Social Care: Family and Community Support Systems. ANNALS, AAPSS.

Chen, Hsiao-hung Nancy. 2007. Social Safety Nets and Socio-economic Disparity

Under Globalization, Department of Sociology, Taiwan: National Chengchi

University Taipei.

Cowgill, Donald O. & Holmes, Lowell D. (Editors). 1972. Aging and Modernization, New York: Appleton-Century-Crofts

Cowgill, D. 1986 . Ageing Around the World. Belmont, CA.: Wadsworth Publishing Co.

Fillenbaum, G. G. 1984. “The Well-being of the Elderly: Approaches to

Multidimensional Assessment”, World Health Organization. Publication No.84.

Geneva, WHO.

Hardywinoto dan Setiabudi, T, 1999. Panduan Geontorologi Tinjauan Dari Berbagai

Aspek. Jakarta: Penerbit PT GramediaPustaka Jakarta Utama.

Hosmer, DW & S. Lemeshow. 2000. Apllied Logistik Regression . New York: John Wiley and Sons.

Kantor Menteri Negara Kependudukan / BKKBN, 1998. Demografi Multiregional.

Jakarta.

Milligan, K. & Tammy S. 2008. Working While Receiving a Pension: Will Double

Dipping Change The Elderly Labour Market? Paper prepared for the John

Deutsch Institute conference on Retirement Policy Issues in Canada, held in Kingston Ontario on October 25-26, 2007

Munsur, Ahmed Mohammad; Tareque, Ismail; and Rahman, K. M. Mustafizur. 2010. Determinants of Living Arrangements, Health Status and Abuse among Elderly Women: A Study of Rural Naogaon District, Bangladesh. Journal of

International Women's Studies, 11(4), 162-176. Dalam:

http://vc.bridgew.edu/jiws/vol11/iss4/12

Santrock, J. W. 2002. Life-span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.

(41)

DETERMINAN DARI STATUS

KESEHATAN, STATUS

JAMINAN SOSIAL DAN

STATUS PEKERJAAN

BERDASARKAN

KARAKTERISTIK SOSIAL

EKONOMI LANJUT USIA

(STUDI LANSIA PEDESAAN DI

PROVINSI BALI)

by Desak Putu Eka Nilakusmawati

FILE

T IME SUBMIT T ED 23- JAN- 2016 08:52PM

SUBMISSION ID 623159048

WORD COUNT 7416

CHARACT ER COUNT 48066

9-

(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)

Gambar

Tabel 5.1. Karakteristik Sosial Ekonomi Lansia  Perdesaan Provinsi Bali
Tabel 5.2  Hasil Uji Khi Kuadrat Status Pekerjaan dengan Karakteristik Sosial  Ekonomi  Status Pekerjaan  Vs
Tabel 5.4. Hasil Uji Khi Kuadrat Status Kesehatan dengan Karakteristik Sosial  Ekonomi  Status Kesehatan vs  Variabel
Tabel 5.5  Hasil Uji Regresi Logistic Multivariate Status Kesehatan Lansia  Variables in the Equation
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan impulse control dan optimism merupakan kemampuan yang perlu menjadi fokus untuk dikembangkan

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa profil resilience pada ibu yang memiliki anak autis dan mampu menerima anaknya berada pada kategori tinggi untuk kemampuan impulse

Penelitian pada hewan di lembah Napu tahun 1982 mendapatkan kasus skistosomiasis pada tikus dengan angka infeksi 11,9%, angka infeksi siput 1,7% (H ADIDJAJA , 1989).. japonicum

Nasabah yang telah ditetapkan Mandiri. Dalam melaksanakan instruksi dari Nasabah, Mandiri bertindak selaku kuasa dari Nasabah dan karenanya Nasabah terikat pada tindakan-tindakan

Salam...sesungguhnya perbedaan pendapat itu adalah rahmat bagi alam,kita sebaga pendokong dan pewaris ilmu BBM sememangnya perlu memahami antara satu dan yg lain

Hasil dari penelitian pertumbuhan dan perkembangan kacang tanah yang telah kami teliti dapat dilihat dalam tabel berikut.

Laporkan kepada pengawasruang ujian apabila terdapat lembar soal, nomor soal yang tidak lengkap atau tidak urut, serta LJUSBN yang rusak atau robek untuk mendapat

 1 (satu) buah plastic bening yang bertuliskan TIKI yang didalamnya berisikan 1 buah amplop coklat yang bertuliskan TIKI yang didalamnya terdapat 1 buah buku