MODEL PEMBELAJARAN PROJECT CITIZEN PADA MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA SEBAGAI WARGA
NEGARA YANG BAIK
Oleh :
Titik Haryati
Rahmat Sudrajat
ABSTRAK
Model pembelajaran project citizen merupakan salah satu model yang
diterapkan dalam kurikulum 2013 dikarenakan model ini memiliki banyak
kelebihan diantaranya, model ini mernbina pembelajaran AJEL (Active, Joyful,
Efektif, Learning), yang multi M3SE (materi, media, metode, sumber dan
evaluasi) karena didalamnya mencakup berbagai ragam jenis kegiatan, media dan
sumber serta pola evaluasinya diperuntukan untuk suatu tema/bahasan yang sama
atau sejenis menjadi satu paket kegiatan belajar siswa (KBS) besar ataupun kecil
sebagai sub target sehingga melahirkan KBS yang saling mengkait dan utuh.
Pada kurikulum 2013 model pembelajaran project citizen sangat tepat
terutama pada mata pelajaran PPkn Karena bebasis pada masalah, siswa akan
dibawa pada masalah-masalah yang muncul pada kenyataan siswa dan siswa
diharapkan mampu membuat satu keputusan sampai menyelesaikan masalah
tersebut hal ini sesuai dengan pendekatan scientific dalam kurikulum 2013.
Adapun langkah-langkah pendekatan scientific adalah mengamati, menanya,
menalar, mencoba dan membentuk jejaring.
Model Pembelajaran project citizen mampu mengembangkan Pendidikan
karakter siswa sebagai warga negara. Pendidikan karakter itu sendiri harus
bergerak dari knowing menuju doing atau acting. Salah satu penyebab
ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan
tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk
melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari pemikiran ini maka
kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing,
loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter.
A. PENDAHULUAN
Dalam kurikulum 2013 PPKn bertujuan untuk mengembangkan peserta
didik menjadi manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah
air, yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hal ini dapat terlihat
dari substansi utama PPKn dalam kurikulum 2013 yang lebih menitik beratkan
pada empat pilar kebangsaan.
Kita sebagai seorang guru harus mampu mengembangkan karakter siswa
sebagai warga negara, adapun tahapnya adalah melalui tahap pengetahuan
(knowing), acting, menuju kebiasaan (habit). Hal ini berarti, karakter tidak sebatas
pada pengetahuan. Karakter lebih dalam lagi, menjangkau wilayah emosi dan
kebiasaan diri. Dengan demikian, diperlukan tiga komponen karakter yang baik
(components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang
moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan
bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami, merasakan, dan
mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan.
B. PEMBAHASAN
1. Model Pembelajaran Project Citizent
a. Pengertian Pembelajaran Project Citizent
project citizen dapat diartikan sebagai wujud benda fisik, sebagai suatu
proses sosial pedagogis, maupun sebagai adjective. Sebagai wujud benda fisik,
project citizen adalah sebuah kumpulan pekerjaan siswa yang bermanfaat,
terintegrasi yang diseleksi dan disimpan dalam suatu bundle (Budimansyah,
2002:l).
Project citizen merupakan model pembelajaran yang didalamnya terdapat
karya pilihan dari keseluruhan kelas yang bekerja secara kooperatif untuk
mengembangkan kebijakan public yang terpusat pada masalah kemasyarakatan,
terdiri dari Bagian Tayangan dan Bagian Dokumentasi yang oleh siswa menurut
topik yang dikaji. Project citizen tersebut mencerminkan usaha keras para siswa
dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah ditetapkan, serta merupakan pemikiran
terbaik mereka dalam mempertimbangkan bahan-bahan mana yang paling penting
untuk dimasukkan dalam project citizen kelas.
Pembelajaran project citizen ini mernbina pembelajaran AJEL yang multi
M3SE (materi, media, metode, sumber dan evaluasi) karena didalamnya
mencakup berbagai ragam jenis kegiatan, media dan sumber serta pola
evaluasinya diperuntukan untuk suatu tema/bahasan yang sama atau sejenis
menjadi satu paket kegiatan belajar siswa (KBS) besar ataupun kecil sebagai sub
target sehingga melahirkan KBS yang saling mengkait dan utuh.
Pada pembelajaran ini siswa dapat memilih paket KBS dan kelompok
belajar koperatif (kejarkop) secara demokratis sesuai minat dan kemampuannya.
Selain itu, ada beberapa prasyarat dan persuratan untuk proses pelaksanaan
pembelajaran ini yaitu sebagai berikut:
1) Guru, Harus profesional, yaitu memiliki kompetensi mengajar sesuai dengan
kelayakan latar belakang pendidikannya. Seorang guru PKn yang melakukan
pembelajaran project citizen haruslah berlatar belakang pendidikan dari
program studi PKn.
2) Siswa, Memiliki rasa percaya (self confidence) yang tinggi, mampu
bekerjasama, memiliki rasa tanggung jawab dan keinginan untuk belajar serta
mencari informasi lebih lnas di luar sekolah.
3) Lingkungan, lingkungan yang kondusif baik di sekolah maupun di masyarakat
harus dapat melahirkan pengalaman belajar siswa (entry behavior) yang
berkualitas bagi kehidupannya kemarin, kini dan esok baik fisik maupun non
fisiknya.
Dukungan dari sekolah berupa ketersediaan sarana dan prasarana yang
memadai sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru perlu diperhatikan. Dukungan
dari pihak masyarakat dalam memahami pembelajaran ini sangat diperlukan agar
mereka dapat menfasilitasi siswa dalam memperoleh pengalaman belajarnya
diluar sekolah.
b. Dasar Filosofi Pembelajaran Berbasis Project Citizent
Pembelajaran berbasis project citizen yang diterapkan di lndonesia,
diadaptasikan dari project citizen-nya Amerika. Akar filosofi proyek ini berasal
dari filosofi pendidikan Parker yang menyatakan bahwa pendidikan itu harus
menjadi
pusat
tindakan
dan bersifat alami sehingga menimbulkan rasa
kepenasaranan anak. Rasa penasaran anak dapat dimulai pada semua pelajaran
yang ada dalam kurikulum, sehingga pendidikan bersumber dari sekolah dan
siswa itu sendiri.
Dewey menawarkan berbagai metode dalam filosofi pendidikannya itu,
yang terdiri dari lima fase yaitu: 1) cara berfikir yang “reflective thinking”; 2)
proses hubungan social anak; 3) “guiding idea”; 4) “reasoning”; 5) ferivikasi
gagasan dengan “experimental corroboration”.
c. Prinsip Dasar Pembelajaran Project Citizent
Pembelajaran project citizen mengacu pada sejumlah prinsip dasar, seperti
yang dikemukakan Djahiri (2000: 3) bahwa prinsip utama pembelajaran adalah
proses keterlibatan seluruh atau sebagian potensi diri siswa dan juga
kebermaknaannya bagi diri sendiri dan kehidupanya.
Prinsip dasar pembelajaran project citizen dijelaskan oleh Budimansyah
(2000: 8-12) yakni sebagai berikut:
1) Prinsip belajar siswa aktif, proses pembelajaran berbasis project citizen
berpusat pada siswa. Dalam setiap proses seluruh aktivitas siswa terlibat
penuh mulai dari mengidentifikasi masalah sampai pada penampilan (show
case). Guru hanya mengarahkan siswa supaya mereka terlibat dalam seluru
proses.
2) Kelompok belajar kooperatif, dalam pembelajaran project Citizent, setiap
proses berbasis kerjasama baik antara siswa, sekolah, orang tua,
lembaga-lembaga terkait serta dengan masyarakat. Dengan demikian pembelajaran
ini menggunakan proses kerjasama yang harmonis baik di dalam kelas
maupun di luar kelas/sekolah.
3) Pembelajaran partisipatorik, proses dalam pembelajaran ini menganut
partisipatorik sebab siswa diarahkan untuk terlibat secara langsung dalam
kehidupan nyata agar mereka dapat peka terhadap seluruh masalah yang
ada di masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini guru harus
dapat membangkitkan minat siswa agar belajar aktif.
d. Sifat-sifat Pembelajaran Project Citizent
Sifat-sifat pembelajaran project citizen menurut Djahiri (2000:6-7), terdiri
dari:
1) Aktif dan Meaningfull, melalui pembelajaran ini seluruh potensi siswa
(cognitive, afektif dan psikomotor) siswa terlibat secara utuh bulat.
Pembelajaran ini juga diharapkan meaningfull dalam arti berguna, bermanfaat
dan menjadi milik siswa sepenuhnya (self concept).
2) Inquiry learning atau problem solving, pembelajaran ini melatih dan
membiasakan siswa untuk mahir memecahkan masalah dengan pelaksanaan
langkah-langkah yang sistematis. Lingkungan belajar sekitar siswa menjadikan
fenomena hidup yang menarik sehingga menimbulkan rasa ingin tahu yang
tinggi sehingga mereka terdorong untuk bertanya dan mencari jawabannya.
3) Integrated learning, pembelajaran ini bersifat komprehensif dan utuh, karena
bahan ajar dan kegiatan belajar bersifat multidimensional yang utuh. Dimensi
keilmuan dipadukan dengan dimensi kehidupan.
4) Cooperative learning, seluruh proses belajar merupakan satu kesatuan yang
penuh solidaritas, saling menolong dan membantu keberhasilan belajar siswa.
Segala pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah dan votting
(suara terbanyak).
5) Student based, seluruh kemampuan siswa fisik dan non fisik serta lingkungan
belajarnya akan menjadi acuan mulai dari bahan ajar sampai penilaian.
6) Factual base, pembelajarannya menggunakan multi sumber, media dan
evaluasi. Pembelajaran mulai dari realita kehidupan kemarin, kini dan esok,
untuk dilakoninya.
7) Democratic, humanistic dan Terbuka, seluruh siswa dihargai sebagai manusia
yang memiliki potensi diri yang memiliki berbagai pilihan dan aktivitas yang
berbeda-beda. Hubungan antara guru dan siswa terjalin harmonis sebagai
partner belajar dengan menjungjung prinsip keadilan dan keterbukaan.
e. Landasan Pemikiran Pembelajaran Project Citizent
Budimansyah
(2002:
4),
mengemukakan
tiga
landasan
pemikiran
pembelajaran berbasis project citizen yaitu sebagai berikut:
1) Empat Pilar Pendidikan
Meliputi learning to do, learning to know, learning to be and learning to
life together. Setiap siswa bagaimana belajar melibatkan diri dalam kehidupannya,
siswa terlibat langsung dalam kegiatan belajar, melakukan pekerjaan secara
mandiri dan dibina untuk toleran terhadap perbedaan individu.
2) Kontruktivisme
Pandangan ini menganggap siswa sebagai sosok yang memiliki gagasan,
pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa di sekitarnya, Siswa tidak hanya
belajar dengan teori tetapi dilengkapi dengan praktek dengan mencari dan
mengaitkan materi dengan informasi yang diperlukan.
3) Democratic teaching
Proses
pembelajaran
yang
dilandasi
nilai-nilai
demokrasi
yaitu
penghargaan terhadap kemampuan siswa, menjunjung keadilan, merapkan
persamaan dan memperhatikan keragaman siswa dipenuhi belajar yang penuh
keakraban, keterbukaan dan kekeluargaan.
f. Maksud dan Tujuan Pembelajaran Berbasis Project Citizent
Dalam pemerintahan demokrasi telah disebutkan bahwa arti sebuah
pemerintahan adalah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Hal ini berarti
bahwa rakyat memiliki hak berpartisipasi dalam pemerintahan yang antara lain
meliputi partisipasi dalam melindungi hak-hak mereka dan partisipasi dalam
meningkatkan kesejahterakan umum. Hak berpartisipasi ini membawa tanggung
jawab tertentu. Diantara tanggung jawab tersebut adalah tanggung jawab untuk
mendapatkan pengetahuan dan sejumlah keterampilan berpartisipasi yang intelek,
serta tanggung jawab. untuk berkeinginan meningkatkan kebebasan dan keadilan
bagi semua orang.
Pembelajaran berbasis project citizen yang pada awalnya dikenal dengan
nama “Praktik Belajar Kewarganegaraan Kami Bangsa Indonesia (PBKKBI)”
memberikan pengenalan dan pendidikan kepada para siswa tentang beberapa
metode dan pelaksanaan langkah-langkah yang digunakan di dalam proses politik.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan komitmen aktif para siswa
terhadap kewarganegaraan dan pemerintahan dengan cara:
1) Memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat
berpartisipasi secara efektif.
2) Memberikan pengalaman praktis yang dirancang untuk mengembangkan
kompetensi dan efikasi.
g. Profil Pedagogis Pembelajaran Berbasis Project Citizent
Pembelajaran berbasis project citizen dikenal dengan nama model PKKBI
diadaptasi dari model “We people …. Project citizen yang dikembangkan oleh
Center for Civic Education (CCE), dan dalam 15 tahun terakhir ini telah
diadaptasi di sekitar didunia termasuk lndonesia Model ini bersifat
generik-pedagogik, yang diminati oleh konten/materi yang relevan dimasing-masing
negara. Sebagai model dipilih topik generic “Public Policy” (Kebijakan Publik),
yang memang berlaku dinegara manapun. Misi dari model ini adalah mendidik
para siswa agar mampu untuk menganalisis berbagai dimensi kebijakan public
dan dengan kapasitasnya sebagai “young Citizen” atau warga negara muda
mencoba memberikan masukan terhadap kebijakan public dilingkungannya. Hasil
yang diharapkan adalah kualitas warganegara yang “cerdas, kreatif, partisipatif,
prosfektif dan bertanggung jawab”.
Stategi instruksional yang digunakan dalam model ini, pada dasarnya
bertolak dari strategi “Inquiry Learning, Discovery Learning, Problem Solving
Learning, Reseach Oriented Learning” yang dikenas dengan model “Project” ala
John Dewey. Dalam hal ini ditetapkan pelaksanaan langkah-langkah sebagai
berikut:
1) Mengidentifikasi masalah kebijakan publik dalam masyarakat, pada tahap ini
siswa diharapkan dapat berbagi informasi satu dengan yang lainnya
berdasarkan pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya baik oleh siswa
itu sendiri maupun dari orang lain berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Dengan demikian kelas memperoleh informasi yang cukup untuk digunakan
memilih salah satu masalah yang tepat.
2) Memilih suatu masalah untuk dikaji oleh kelas, pada tahap ini kelas
mendiskusikan semua informasi yang didapat berkenaan dengan daftar
masalah yang ditemukan dalam masyarakat. Jika para siswa telah memiliki
informasi yang cukup, maka siswa sudah dapat memilih masalah yang akan
dipilih sebagai materi kajian kelas.
3) Mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah itu, maslah yang akan
menjadi materi kelas ditentukan, maka para siswa harus bisa memutuskan
tempat-tempat atau sumber-sumber dimana siswa bisa mendapat informasi
tambahan. Dalam pencarian informasi, nantinya para siswa akan menemukan
bahwa sumber informasi yang satu mungkin lebih baik dari yang lainnya, hal
ini mungkin saja terjadi agar kelas dapat memperoleh informasi yang akurat
dan komprehensif
4) Mengembangkan project citizen kelas, pada tahap ini siswa akan dibagi
dalam empat kelompok, dimana masing-masing kelompok akan bertanggung
jawab untuk mengembangkan project citizen kelompok. Materi-materi yang
dimasukan dalam project citizen hendaknya mencakup
dokumentasi-dokumentasi yang telah dikumpulkan dalam tahap penelitian masalah. Dalam
mengembangkan project citizen ini sangat dibutuhkan kerjasama yang baik
agar menghasilkan tayangan dan dikumentasi yang baik dan bagus sebagai
materi kajian showcase nantinya. Kelompok pertama menjelaskan tentang
masalah yang diambil, Kelompok kedua mengkaji kebijakan alternatif untuk
menangani masalah, Kelompok ketiga mengusulkan kebijakan alternative
untuk menangani masalah, dan Kelompok keempat mengembangkan rencana
kerja dari kelompok untuk menyelesaikan masalah.
5) Menyajikan project citizen,langkah berikutnya adalah menyajikan hasil
pekerjaan dihadapan para juri. Presentasi tersebut dikenal dengan sebutan
showcase yang dilakukan dihadapan dewan juri yang mewakili sekolah dan
masyarakat. Melalui kegiatan ini para siswa akan dibekali dengan
pengalaman belajar bagaimana cara meyakinkan mereka terhadap
langkah-langkah yang siswa ambil.
6) Melakukan refleksi pengalaman belajar, merefleksikan pengalaman belajar
atas segala sesuatu selalu merupakan hal yang baik, refleksi pengalaman
belajar ini merupakan salah satu cara belajar, untuk menghindari agar jangan
sampai melakukan suatu kesalaha, dan untuk meningkatkan kemampuan yang
sudah siswa miliki.
h. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Project Citizen
Menurut Nuryani Rustama (dalam Depdiknas, 2004: 40-41) kelebihan dan
kelemahan metode pembelajaran project citizen adalah sebagai berikut:
1). Kelebihan:
a) Memungkinkan pendidik mengakses kemampuan peserta didik untuk
membuat, menghasilkan berbagai tugas akademik.
b) Memungkinkan pendidik menilai keterampilan/kecakapan peserta didik.
c) Mendorong kolaborasi antara peserta didik dengan pendidik, antara peserta
didik dengan peserta didik lainnya.
d) Memungkinkan pendidik mengintervensi proses dan menentukan dimana
pendidik tersebut perlu membantu.
2). Kelemahan:
a) Memerlukan waktu yang relatif lama.
b) Pendidik harus tekun, sabar dan terampil.
c) Tidak ada kriteria yang standar.
2. Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Nama mata pelajaran PPKn sebenarnya bukan hal yang baru dalam
pendidikan di negara Indonesia, nama mata pelajaran PPKn muncul pada
kurikulum 1994 tetapi pada kurikulum 2004 hilang karena digantikan oleh PKn.
Kemudaian pada kurikulum 2013 mata pelajaran PPKn dimunculkan kembali.
Pada kurikulum 1994 PPKn karakteristinya didominasi oleh proses value
incucation dan knowledge dissemination. Hal ini dapat dilihat dari materi
pembelajarannya yang dikembangkan berdasarkan butir-butir setiap Pacasila,
Tujuan pembelajarannya pun diarahkan untuk menanamkan sikap dan perilaku
yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila serta untuk mengembangkan pengetahuan
dan
kemampuan
untuk
memahami,
menghayati
dan
meyakini nailai-nilai
Pancasila sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari (Winataputra dan
Budimansyah. 2007: 97).
Sedangkan pada kurikulum 2013 PPKn bertujuan untuk mengembangkan
peserta didik menjadi manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta
tanah air, yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hal ini dapat
terlihat dari substansi utama PPKn dalam kurikulum 2013 yang lebih menitik
beratkan pada empat pilar kebangsaan yaitu :
a. Pancasila, sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa;
b. UUD 1945 sebagai hukum dasar yang menjadi landasan konstitusional kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
c. Bhinneka Tunggal Ika, sebagai wujud keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam keberagaman yang kohesif dan utuh;
d. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara Indonesia.