• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menjadi Pemimpin Bukan Sekedar Pemimpi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Menjadi Pemimpin Bukan Sekedar Pemimpi"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Menjadi

Pemimpin

Bukan

Sekedar Pemimpi

UNAIR NEWS – “Pemuda Hari Ini adalah Pemimpin Masa Depan”. Ungkapan tersebut merupakan gagasan besar yang menyadarkan pentingnya langkah pemuda hari ini untuk menentukan masa depan bangsa. Berbagai langkah dan persiapan dilakukan melalui beragam hal, salah satunya adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga. Bekerja sama dengan PT. XL Axiata Tbk., BEM UNAIR menggelar Talkshow bertajuk “Leadership and Scholarship XL Future Leader”, Sabtu (21/5). Acara yang dilangsungkan di Aula Excellence with Morality, Fakultas Psikologi (FPsi) UNAIR tersebut, bertujuan untuk mencari pemuda yang punya mimpi untuk diajak mewujudkan mimpinya.

Ahmad Pradipta, mewakili PT. Xl Axiata Tbk. yang datang ke UNAIR, menuturkan bahwa acara yang telah berlangsung untuk kali kelima ini sengaja diadakan untuk mencari potensi pemuda, terkhusus mahasiswa UNAIR.

“Sudah beberapa kali acara seperti ini dilakukan di UNAIR. Selain strategis, UNAIR memiliki mahasiswa yang berpotensi cukup besar di bidang kepemimpinan,” jelasnya.

Dipta, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa acara talkshow ini merupakan sosialisasi kepada para mahasiswa. Setelah talkshow berakhir, ada beberapa tahapan seleksi dan pembinaan bagi mahasiswa yang lolos hingga tahap akhir. Ia juga menambahkan bahwa pemilihan tema “Jalan Pemimpi Jadi Pemimpin” merupakan tema besar yang ada sejak tahun pertama.

“Kegiatan ini merupakan media bagi pemuda yang mempunyai mimpi besar untuk mewujudkan mimpinya, namun belum tahu caranya. Makanya kami adakan acara semacam ini,” imbuhnya.

(2)

Senada dengan Dipta, mewakili BEM UNAIR, Ratna Dewi Kumalasari menuturkan bahwa kegiatan kerja sama ini merupakan kegiatan yang memiliki banyak keuntungan, terlebih bagi mahasiswa. Mahasiswa yang menjabat sebagai Menteri Hubungan Luar BEM UNAIR tersebut menegaskan bahwa selain pemberian beasiswa, program tersebut juga memberikan beragam pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

“Keuntungannya bagi mahasiswa yaitu selain mendapat beasiswa juga ada pembinaan untuk kepemimpinan,” jelasnya.

Acara tersebut juga mengundang siswa SMA se-Surabaya. Hal ini dimaksudkan juga sebagai media bagi BEM untuk mengenalkan beragam beasiswa dan jalur masuk yang ada di UNAIR.

“Kami juga membuka stan mengenai informasi penerimaan mahasiswa baru di UNAIR dan berbagai beasiswa yang ada di UNAIR untuk adik-adik SMA,” paparnya.

“Menjadi pemimpin bukanlah mimpi,” tegas Ratna diakhir wawancara. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh

Dua Kali Gagal Seleksi, Lutvy

Arsanti Wakili UNAIR di Ajang

Mawapres Nasional

UNAIR NEWS – Pernah gagal dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), tidak jadi penghalang bagi Lutvy Arsanti untuk mencapai harapannya. Dua kali gagal dalam ajang seleksi, kini mahasiswa jurusan D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi UNAIR

(3)

tersebut berkesempatan untuk mewakili UNAIR dalam ajang Mawapres tingkat Nasional.

Ditanya mengenai tekat untuk menjadi Mawapres, mahasiswa yang akrab disapa Lutvy tersebut mengungkapkan bahwa langkahnya ingin menjadi Mawapres bermula saat mengikuti PPKMB di awal mahasiswa baru. Mahasiswa yang mulanya tidak memiliki minat dalam organisasi tersebut akhirnya mulai menjajaki dan mencoba untuk mengikuti ajang melatih kepemimpinan sebagai salah satu syarat untuk menjadi Mawapres.

“Awalnya penasaran saat ada pemateri mengenai Mawapres waktu PPKMB dulu, dari itu saya mulai pahami persyaratannya apa saja yang diperlukan, salah satunya harus aktif organisasi yang mulanya hal yang kurang saya minati,” jelasnya.

Tekat untuk menjadi Mawapres tidak dilaluinya dengan mudah, b e r b a g a i t a n t a n g a n t e l a h i a h a d a p i . T e r l e b i h s a a t berkesempatan untuk maju ke tingkat nasional kali ini harus diterima saat tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat meraih gelar Ahli Madya. Ia mengaku, sempat ada keinginan untuk menolak tawaran Garuda Sakti untuk melanjutkan langkahnya ke ajang nasional.

“Awalnya setelah dapat kabar dari garuda sakti ya mau mundur, karena takut bentrok dengan TA,” imbuh mahasiswa yang hobi menulis dan mendengarkan musik tersebut.

Rasa ingin mundur mahasiswa kelahiran Mojokerto, 8 Agustus 1995 dari ajang Mawapres Nasional bukan tanpa sebab. Pasalnya, selepas lulus dari D3 Bahasa Inggris, ia berencana akan alih jenis ke program Strata 1.

“Karena setelah lulus Diploma saya mau lanjut ke S1, jadi butuh persiapan yang matang juga,” tegasnya.

Dibalik berbagai hal yang memberatkan langkah untuk maju ke tingkat nasional, mahasiswa peraih IPK 3.72 tersebut memiliki trik dan cara tersendiri untuk membagi berbagai tugasnya

(4)

tersebut. Selain lihai dalam mengatur waktu, Lutvy juga memiliki motivasi bahwa kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya.

“Kesempatan itu hanya sekali, ya harus dimaksimalkan,” tegasnya.

Tidak hanya motivasi dan kecerdasan dalam manajemen waktu, baginya mental juga perlu dipersiapkan. Berbekal dari cerita seniornya yang memiliki pengalaman yang sama, tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk mundur dari Mawapres demi tugas akhir. Sebab itulah di akhir perbincangan ia menegaskan betapa pentingnya untuk mempersiapkan segala hal sejak dini termasuk untuk menjadi Mawapres.

“Berbekal pengalaman tersebut, penting untuk menyiapkan semua hal sejak dini, semua memang tidak bisa dadakan, termasuk untuk menjadi seorang Mawapres,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan Editor : Dilan Salsabila

Banyak

Istilah

Yang

Melecehkan Masyarakat Adat

UNAIR NEWS – Indonesia adalah negara yang paling kaya dengan ragam kebudayaan. Pernyataan itu dilontarkan oleh Abdun Nababan selaku Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada diskusi publik bertema “Tantangan Eksistensi Masyarakat Adat dalam Pusaran Industrialisasi”, pada Selasa (24/5).

(5)

namun ada saja makna miring terhadap masyarakat adat. “Di kongres masyarakat adat nusantara pada tahun 1999, masih banyak pelecehan bagi masyarakat adat dalam bentuk istilah, misalnya istilah “Rehabilitasi Budaya”. Nah, masyarakat adat dianggap belum berbudaya sehingga perlu direhabilitasi,” ujar Sekjen AMAN dalam diskusi yang dihelat di Aula B. Soesetijo Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut.

Abdun juga menyayangkan maraknya kasus pelanggaran hak asasi manusia masyarakat adat di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam. “Kalau ada aktivis dari masyarakat adat, tidak lama pasti hilang, entah kemana orangnya,” terang Abdun.

Selain Abdun, anggota komunitas tradisional Sedulur Sikep atau Samin dari Pati, Gunritno, juga hadir dalam diskusi yang sama. Menurutnya, masyarakat adat merupakan tonggak perlawanan dalam menghadapi perdagangan bebas. Ia menyayangkan sikap banyak pihak yang menganggap tindakan masyarakat adat merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara.

“Alasan kami (Suku Samin) untuk tidak membayar pajak adalah karena kami yang memiliki, lalu kenapa harus ada yang mengatur. Sedangkan, semua orang yang tidak mengikuti peraturan pemerintah di-PKI- kan (dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia). Kami Sedulur Sikep tidak seperti itu, kami hanyalah menjunjung tinggi kejujuran,” jelas Gunritno.

Dalam kesempatan yang sama, Gunritno juga bercerita tentang perlawanan Suku Samin terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah. Gunritno menjelaskan, secara legal formal terdapat kesalahan dalam rencana pembangunan itu. Pasalnya, sebagian besar lokasi pendirian pabrik sebagaimana yang tertera pada surat perijinan, merupakan daerah khusus industri pertanian.

“Kami sudah mengadakan evaluasi bersama Gubernur Jateng untuk mendiskusikan, mana yang dianggap dapat mensejahterakan

(6)

masyarakat, apakah itu dari sektor pertambangan atau dari sektor pertanian,” terang Gunritno.

Joeni Arianto Kurniawan, S.H., M.A., selaku Ketua Pusat Studi Pluralisme Hukum FH UNAIR mengungkapkan, masyarakat adat dianggap memiliki sifat autochthonous, yaitu tatanan asli. Masyarakat adat dianggap sebagai identitas dari Bhineka Tunggal Ika dan salah satu sumber filosofi bangsa.

“Jadi, bisa saya tekankan bahwa sebuah suku itu memiliki hukum sendiri, namun mereka menamai hukum tersebut sesuai dengan adat mereka sendiri,” terang Joeni.

Dengan dihelatnya diskusi itu, Joenie berharap agar mahasiswa sebagai penerus bangsa dapat mendekatkan diri dengan masyarakat adat. “Mereka kelak akan jadi hakim, jaksa, lawyer dan para penegak hukum. Di mana hak-hak masyarakat adat kan bagaimanapun juga dilindungi oleh hukum. Nah, penegakkannya itu tergantung pada para penegak hukum,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Defrina Sukma S

Delegasi UNAIR Raih Juara

Kompetisi Studi Ekonomi Islam

UNAIR NEWS – Delegasi Universitas Airlangga berhasil memperoleh juara pada kompetisi SELF (Sharia Economic Learning Forum) Student Converence Sustainable Development yang diadakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam – Islamic Economist Society (KSEI ICON!) Universitas Udayana, Bali. Kompetisi tingkat nasional tersebut diselenggarakan pada 12-15 Mei lalu.

(7)

Kompetisi yang telah berjalan ke-13 kali ini mengangkat tema “Pengoptimalan Sumber Daya yang Adil dan Seimbang untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia”. Ada lima subtema bahasan, yakni pariwisata, industri kreatif, agrokomplek, sosial politik, dan kelautan.

Dengan paper berjudul “BERAGAM (Beras Analog Gembili): Upaya Pemanfaatan Gembili (Dioscorea esculenta) sebagai Pengganti Beras Konvensional untuk Mendukung Indonesia Sehat dan Sejahtera” Zuhairoh Naily S., Aprila Dila P., dan Ahmad Farid A. berhasil meraih juara I pada subtema agrokomplek. Ketiganya merupakan anggota dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran UNAIR.

Selain itu, tim lain yang beranggotakan Zakka Farisy B, Lusi Sulistyaningsih, dan Khaula Qurrata’ayun berhasil meraih juara I pada subtema kelautan. Paper yang mereka bawakan berjudul “Strategi Peningkatan Produktivitas Nelayan Gerbangkertosusila Melalui Sistem Tanggung Renteng Pada Koperasi Berbasis ITQS”. Ketiganya merupakan mahasiswa semester empat pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR.

“Yang mendasari kelompok kami mengambil judul itu karena keinginan kami untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sektor kelautan dan perikanan Indonesia, dengan menggunakan koperasi sebagai medianya,” ujar Zakka Farisy yang juga mendapatkan penghargaan sebagai Best Delegate.

Ada tiga sesi pada kompetisi ini, terdiri dari presentasi paper, Focus Group Discussion (FGD), dan terakhir konferensi. Pada tahap presentasi dan FGD ditentukan pemenang pada masing masing subtema. Sedangkan tahap konferensi menentukan satu orang delegasi terbaik dari seluruh delegasi yang mengikuti rangkain acara kegiatan SELF hingga selesai.

“Kami berharap semoga kedepannya dapat memotivasi teman-teman mahasiswa UNAIR yang lain untuk terus mengembangkan riset menurut keilmuannya masing-masing, sehingga mampu membawa nama

(8)

Airlangga menjadi semakin baik,” pungkas Zakka. (*) Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan

UNAIR dan Curtin University

Diskusikan

Kerjasama

Internasional

UNAIR NEWS – Rombongan dari Universitas Curtin yang dipimpin

Deputy Vice Chancellor International Seth Kunin, berkunjung ke

Universitas Airlangga (UNAIR), Senin (23/5). Kedatangan perwakilan universitas multikultural terbesar se-Australia Barat itu untuk membahas mengenai kerjasama internasional dengan UNAIR.

Tim Universitas Curtin diterima oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof. Amin Alamsjah, didampingi Wakil Dekan III dari beberapa fakultas di UNAIR yang terkaitan dengan bidang pembahasan diskusi. Sedangkan dari Universitas Curtin selain Seth Kunin juga terdapat Celia Cornwal, Dean International Faculty of

H e a l t h S c i e n c e s , s e r t a G r a n t O ’ n e i l l s e b a g a i D e a n International from Curtin Business Sciences.

Dalam diskusi yang diadakan di Gedung Manajemen UNAIR ini juga dihadiri perwakilan dari Australian Technology Network (ATN) Indonesia, Josephine Ratna. Diskusinya dibagi dalam dua pokok bidang, yaitu bidang kesehatan serta bidang bisnis dan ekonomi.

“Semuanya terkait dengan kegiatan universitas untuk menjadi

(9)

adalah melalui kerjasama internasional,” ujar Dian Ekowati, Ph.D., Kepala International Office and Partnership (IOP) UNAIR.

Dalam pembahasannya, diskusi kerjasama tersebut memiliki tiga fokus sebagai topik utama, yaitu; Joint Research, Academic

Collaboration, dan Exchange. “Kerjasama untuk hari ini

fokusnya ada tiga, jadi kita ngomongin joint collaboration terkait dengan riset, lalu juga ada academik collaboration terutama dalam konteks pengembangan dual program, lalu yang ketiga kita berbicara mengenai exchange, baik exchange

profesor maupun student, baik short course maupun jangka

panjang. Tapi intinya adalah untuk publikasi internasional,” tambah Dian.

Atas terlaksananya diskusi UNAIR dengan Universitas Curtin, Prof. Amin berharap agar kedua universitas dapat melanjutkan beberapa program yang tercakup dalam empat pilar UNAIR, yaitu;

Academic Excellence, Research Excellence, Community Excellence

dan University Holding. Hal ini guna mendukung untuk menaikkan peringkat UNAIR masuk kedalam 500 besar dunia.

“Saya berharap kedepan kita bisa terus mengembangkan dan melanjutkan beberapa program kita seperti double degree, joint

research, dan beberapa seminar internasional,” pungkas Wakil

Rektor III UNAIR. (*) Penulis : Dilan Salsabila Editor : Bambang BES

(10)

Perspektif Hak Asasi Manusia

Bersama Profesor Asal Jepang

UNAIR NEWS – Program Magister Sains Hukum dan Pembangunan (MSHP) Universitas Airlangga kembali menggelar diskusi publik bertajuk “Law and International Development: A Human Right

Perspective”. Diskusi kali ini dihadiri langsung oleh Prof.

Yuzuru Shimada, LLM., dari Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University, Jepang. Dr. Herlambang P. Wiratraman, Phd., dari Pusat Studi Hak Asasi Manusia, Fakultas Hukum Unair juga turut hadir untuk menjadi pembicara dalam diskusi public tersebut.

Pada diskusi yang diadakan Kamis, (19/5) tersebut, Prof Shimada yang berasal dari Jepang memaparkan materinya menggunakan Bahasa Indonesia. Bahkan tidak jarang ia melontarkan candaan dan gurauan untuk mencairkan suasana diskusi.

Dalam diskusi tersebut, Prof.Shimada menjelaskan materi seputar permasalahan HAM yang disebutnya sebagai dualisme HAM. Ia menyebut berbagai macam permasalahan HAM, diantaranya adalah hak sipil dan politik dan juga hak ekonomi, sosial, dan budaya. Hak yang dimaksud justru menjadi permasalahan kompleks mengenai HAM yang justru dalam prakteknya merugikan masyarakat sipil. Bagi masyarakat miskin khususnya, mereka hanya membutuhkan hak untuk bertahan hidup seperti halnya hak makan. Akan tetapi regulasi membuat hak tersebut tidak terpenuhi.

Menyinggung persoalan good governance, Prof.Shimada merespon mengenai bahasa yang ditawarkan seperti pembangunan, pengurangan kemiskinan dianggap tidak dapat menjamin untuk memenuhi semua hak hidup. “Isu-isu seperti development, poverty reduction selalu menjadi isu utama yang dibawa dalam good governance,” ujar Prof.Shimada di awal diskusi.

(11)

Selain Prof.Shimada, Dr. Herlambang juga menyinggung mengenai

good governance yang menurutnya menjadi jawaban atas

ketidakberdayaan pemerintah dalam mengelola, merencanakan dan melaksanakan kebijakan. Berbicara mengenai HAM yang telah menjamur di masyarakat, menurutnya itu bukan pelanggaran HAM, melainkan selected human right. Hal tersebut dilihat dari penemuan-penemuan mengenai penerapan HAM yang justru melibatkan kepentingan tertentu dianggap selektif, lalu kemudian dijadikan oleh paradigma HAM sebagai strategi dalam pasar.

“Pentingnya HAM saat ini telah bergeser dan bahkan berhenti oleh good governance (GG). Dalam hal ini disebut bad

governance / poor governance, yang dianggap sangat sinis

terhadap HAM,” pungkas Dr. Herlambang. Penulis: AhallaTsauro

Editor : Dilan Salsabila

Komunitas Saman FKp Gigih

Berlatih,

Bermimpi

Go

Internasional

UNAIR NEWS – Bung Karno pernah berkata, “Kemerdekaan barulah kemerdekaan sejati, jikalau dengan kemerdekaan itu kita menemukan kepribadian kita sendiri”. Kutipan tersebut secara tidak langsung menjadi pengingat bagi para pemuda agar selalu menjaga dan melestarikan kebudayaan pertiwi.

Keinginan untuk terus “merawat” warisan budaya itu mengilhami UKF (Unit Kegiatan Fakultas) Seni Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR) mendirikan Santana (Sanggar Tari

(12)

Ners Airlangga). Sanggar ini ini menjadi wadah bagi mahasiswa FKp untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang seni tradisional.

Sejak awal didirikan sekitar 2015 lalu, sudah terdapat dua peminatan di Santana. Yakni, tari Saman dan tari Jejer Jaran Dawuk. Meskipun tergolong sebagai cabang UKF yang masih muda, Santana sudah mampu menunjukkan eksistensinya. Terbukti, sudah 6 kali Santana menampilkan tari Saman dalam sejumlah event. Tiap minggu, di hari Senin, anggota Santana, peminatan tari Saman berlatih selama 3 jam. Mulai pukul 16.00 WIB hingga 19.00 WIB. Tiap pertemuan terdiri dari dua sesi. Pertama, mengulangi hafalan gerakan yang sudah dikuasai di pertemuan sebelumnya. Kedua, menghafal gerakan baru dari pelatih.

Seperti yang terlihat Senin lalu (16/5) di RK SC Roy Gd. Timur Lt. 3 FKp UNAIR. Sejumlah 26 orang penari tampak gigih berlatih menghafalkan dan mempraktikkan langsung gerakan yang diajarkan pelatih. Tak hanya tepukan dan gerakan badan, mereka juga berlatih vokal nada tinggi untuk menyanyikan beberapa bait lagu. Semua elemen bergerak secara dinamis dan beriringan.

“Seorang penari Saman dituntut untuk bergerak dan menghafal dengan cepat,. Tak hanya itu, mereka juga harus disiplin, kompak, memperkuat memori dan memiliki stamina yang baik. Semua faktor tadi merupakan satu kesatuan untuk memberikan penampilan yang mengagumkan” kata Savira Octaviana, pelatih Saman FKp UNAIR.

Berlatih tari Saman, imbuh dia, ibarat mengilhami ilmu keperawatan. Kekompakan dengan tenaga medis lain (misalnya, dokter), kecepatan menangani masalah, mengingat, dan kedisiplinan waktu adalah kunci utama.

Bila diperhatikan, anggota Saman dilatih mulai ketahanan fisik hingga attitude. Ada pula sejumlah tips khusus. Misalnya, untuk menghindari cidera pada kaki, mereka harus memakai kaos

(13)

kaki berlapis pada tungkai. Tak hanya itu, beberapa anggota diajarkan untuk menggigit daun sambil tersenyum. Tujuannya, agar memiliki kebiasan tersenyum saat menari.

Beberapa pekan belakangan, anggota Saman semakin giat berlatih. Terkadang, waktu latihan diperpanjang. Rencananya, bulan depan Santana mendapatkan tawaran “manggung”. Otomatis, tari Saman akan dihadirkan.

Salah seorang penari Saman bernama Ika lusdiana mengatakan, meskipun latihan ini melelahkan, para anggota tetap bahagia. “Harapannya, dengan dikembangkannya Santana, khususnya, peminatan Saman, masyarakat umum dan civitas UNAIR bisa lebih dekat dengan budaya asli Indonesia,” kata dia. “Jangan sampai, di era modern ini, para pemuda justru lupa dengan identitas bangsa. Itulah yang menjadi PR kita sebagai seorang mahasiswa” tambah Ika Anggreita, Penanggung Jawab UKF Seni BEM FKp Unair. Santana, kata Ika, ingin ikut mewarnai prestasi di kampus UNAIR. Bahkan, hingga level internasional. (*)

Penulis: Sucowati Dwi Jatis, Mahasiswa FKp UNAIR Editor: Rio F. Rachman

Rayakan Waisak, Anggota UKM

Buddha Ajak Masyarakat Donor

Darah

UNAIR NEWS – Hari Raya Tri Suci Waisak ke-2560 yang jatuh pada tanggal 22 Mei 2016 turut dirayakan oleh para anggota Unit Kegiatan Kerohanian Buddha (UKKB) Universitas Airlangga. Anggota UKKB UNAIR mengadakan aksi sosial dan menarik perhatian pengunjung di Tunjungan Plaza 3, Surabaya.

(14)

Bekerjasama dengan Young Buddhist Association (YBA), ‘Selfless’ dipilih sebagai tema perayaan Vesak Festival tahun 2016. ‘Selfless’ dimaknai sebagai bentuk menghargai orang lain, menyayangi makhluk hidup, tidak egois dengan sesama dan menjadi pesan damai bagi umat manusia. Dalam agama Buddha, ada ajaran bernama Amisa Dana yang berarti pemberian dalam bentuk materi.

Dalam perayaan kali ini, para anggota UKKB UNAIR mengajak masyarakat termasuk anggotanya sendiri, untuk memberikan sebagian rambutnya untuk disumbangkan dan dijadikan wig. Selain itu, ada pula donor darah bersama Palang Merah Indonesia untuk meramaikan acara tersebut.

“Ada dua orang dari UKKB yang memberikan sebagian rambutnya untuk dipotong kemudian disumbangkan dan dijadikan wig. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Farmasi angkatan 2014 Jolinda Cahyani, dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2012 angkatan Liza Augustina,” jelas Natasya Andrina Maharani dari Ketua Divisi Media dan Keterampilan UKKB.

Selain aksi sosial, pengunjung juga diajak menikmati Teropong Kardus Digital. Untuk bisa menonton video, pengunjung harus mengintip melalui teropong yang disediakan. Video itu bercerita tentang kesabaran dan cinta kasih sayang. Pada perayaan itu, ada pula patung Buddha tidur bernama Buddha Parinbbana berukuran 6 meter, dan patung Buddha setinggi 8 meter yang dibuat dari 1500 kardus dipajang di pelataran atrium TP 3. Uniknya, semua benda yang dipamerkan dibuat dari kardus bekas, sebagai salah satu karya seni kreatif sekaligus sebagai wujud aksi peduli lingkungan yang sesuai dengan tema festival. (*)

Penulis: Disih Sugianti Editor: Defrina Sukma S.

(15)

UNAIR Mantapkan Pembangunan

Kampus E di Gresik Utara

UNAIR NEWS – Guna menindaklanjuti kerjasama pengembangan kawasan pendidikan di Gresik utara, Wakil Rektor IV Universitas Airlangga Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D, bersama tim kembali meninjau lahan bakal kampus E di Kecamatan Panceng, Gresik, Senin (23/4).

Dalam kunjungan lanjutan ini, rombongan UNAIR diterima oleh

chairman PT. Polowijo Gosari Group, A. Djauhar Arifin. Dalam

sambutannya, Arifin mengatakan, pendirian perguruan tinggi di kawasan Gresik utara nantinya dapat mendorong dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

“Daerah ini adalah daerah terbuang, kondisi masyarakat yang miskin, sulit air. Dengan adanya universitas yang berdiri di sini, nanti bisa mewujudkan mimpi kita bersama, yakni terciptanya masyarakat yang semakin sejahtera,” jelasnya.

Arifin juga menambahkan, lahan seluas 420 hektar itu akan dikembangkan dalam tiga tahapan. Pertama, lahan seluas 5 hektar sudah disiapkan untuk pembangunan. Kedua, lahan seluas 45 hektar untuk perluasan. Ketiga, lahan seluas 370 hektar untuk pengembangan kaswasan pendidikan.

(16)

Chairman PT. Polowijo Gosari Group, A Djauhar Arifin (Dua Dari Kanan), Wakil Rektor IV UNAIR, Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D. (Tiga Dari Kanan), Bersama Tim Saat Di Lokasi Lahan Bakal Kampus (Foto: Nuri Hermawan)

“Lahan 5 hektar yang sudah siap ini, silahkan diatur oleh tim UNAIR sebagai langkah awal program besar ini,” imbuh Arifin. Menanggapi pernyataan Arifin, Warek IV UNAIR mengatakan, sudah ada pembahasan mengenai rancangan pengembangan kawasan. Pada kunjungan kali ini, Junaidi menggandeng tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk meninjau tata ruang serta kondisi lingkungan lahan bakal calon kampus E UNAIR.

“Kami sekarang melakukan pemetaan lokasi. Selanjutnya, akan ada tim dari kami yang akan melakukan pengujian lahan dan sebagainya,” jelas Junaidi.

Selain pengkajian mengenai rencanangan pengembangan fisik, doktor lulusan Universitas Hoshi juga menjelaskan, UNAIR telah mengkaji pengembangan nonfisik. Rencananya, ada sejumlah

(17)

fakultas dan prodi yang akan dikembangkan di kampus E UNAIR. “Kami sudah mengkaji pembangunan selama 25 tahun ke depan. Setidaknya, ada 5 fakultas dan 12 prodi, dengan sekian jumlah mahasiswa yang akan diterima,” tegas Junaidi. (*)

Design Pengembangan Kawasan Pendidikan Di Gresik Utara (Foto: Nuri Hermawan)

Penulis : Nuri Hermawan

(18)

HI UNAIR Adakan Diskusi

Musikal Balada Kota

UNAIR NEWS – Surabaya bertumbuh dengan pesat. Namun, di balik kemegahan pembangunan di Surabaya, ada elemen masyarakat yang terkena dampak negatif pembangunan. Ada banyak cara yang digunakan masyarakat untuk menyampaikan keluh kesahnya terhadap pelaku pembangunan, salah satunya adalah melalui medium seni.

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (HIMAHI UNAIR) akan menggelar diskusi menarik pada tanggal 28 Mei 2016 di Aula Soetandyo, Gedung C, FISIP UNAIR. Forum bertema “Diskusi Musikal ‘Balada Kota’: Dampak Pembangunan Pesat terhadap Masyarakat Marjinal Surabaya” juga dihadiri oleh musisi Indie bernama Silampukau.

“Kami memilih Silampukau karena Silampukau adalah band Indie asal Surabaya, dan lirik-lirik yang ada dalam lagu Silampukau menunjukan keadaan kota Surabaya,” ujar Tedi Bagus Prasetyo, Ketua Panitia Diskusi Musikal. Sebagai sivitas kampus, pihaknya juga ingin mengajak anak-anak muda bersikap lebih kritis terhadap isu-isu perkotaan dan memberi masukan kebijakan terhadap pemerintah.

Selain Silampukau, rencananya diskusi ini juga dihadiri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji, dan dan perwakilan Hubungan Masyarakat Yayasan Kota Kita Paulista Bunga Surjadi.

Tiket dijual seharga Rp35 ribu, dan bisa didapatkan di Garlick Store, Aiola Eatery, Cempaka Music Store, dan Galeri HI FISIP UNAIR. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi panitia via F a c e b o o k D i s k u s i M u s i k a l H I U N A I R , d a n I n s t a g r a m (at)diskusimusikal. (*)

(19)

Penulis: Faridah Hari Editor: Defrina Sukma S.

Referensi

Dokumen terkait

stakeholders ( direct, indirect dan alam) mengenai seberapa jauh institusi tersebut telah memenuhi kewajiban terhadap seluruh stakeholders. 3) Pengungkapan tanggung jawab

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses evaluasi kinerja guru yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SD Negeri www.wallpes.com yaitu

(13) Candi Gelung /Kurung atau Kori Agung di pembatas antara wilayah Utama Mandala dengan Madya Mandala yang berfungsi sebagai tempat keluar masuk para dewa dari

Disamping itu karena tujuannya adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya, maka kebijakan penegakan hukum itupun harus dapat memenuhi nilai-nilai keadilan bagi

Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga6. Penulis memberikan terima kasih yang

Esforsu ida ne'e sosiedade sivil hamutuk ho familia vitima konsidera hanesan ezemplu ida tan ne'ebe hatudu katak estadu rua la iha duni vontade atu responde ba preokupasaun

Efisiensi pemanfaatan input material secara keseluruhan, tenaga kerja, energi, modal, dan total input akan dihitung dengan metode APC.Setelah dilakukan pengukuran

KARAKTERISTIK PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN BENER MERIAH PROVINSI ACEH TAHUN