K E M E N T E R I A N P E R I N D U S T R I A N 2 7 A g u s t u s 2 0 1 4
Pusat Pengkajian Kebijakan Dan Iklim Usaha Industri BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI
BMDTP TAHUN 2014
DAFTAR ISI
A.
LATAR BELAKANG
B.
DASAR HUKUM
C.
TUJUAN BMDTP
D.
ALUR PROSES BMDTP
E.
KEBIJAKAN BMDTP 2014
F.
VERIFIKASI INDUSTRI
G.
USULAN BMDTP 2014
H.
ALUR DOKUMEN BMDTP
I.
PERMASALAHAN
J.
MENGAPA BMDTP MASIH DIPERLUKAN
K.
KEBIJAKAN BMDTP KE DEPAN
A. LATAR BELAKANG
1. UU No.10 tahun 1995 diamandemen dengan UU No.17 tahun 2006 khususnya berkaitan dengan penghapusan Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 ayat (1);
2. Wewenang Menteri Keuangan dalam pemberian fasilitas
pembebasan/keringanan bea masuk hanya terbatas pada hal tersirat pada Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 ayat (1) UU No.17 tahun 2006;
3. Insentif pembebasan bea masuk atas beberapa produk yang digunakan sebagai bahan baku industri sudah tidak lagi dapat diberikan;
Contoh :
• PMK No.85/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor HRC
• PMK No.41/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Komponen Alat Berat
• PMK No.34/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Komponen Kendaraan Bermotor
4. Sebagai jalan keluar, pemberian fasilitas bea masuk dilakukan melalui kewenangan Menkeu pada UU APBN berupa pemberian bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk setiap tahun anggaran;
5. BMDTP telah dilaksanakan selama 6 tahun anggaran yaitu tahun anggaran 2008 - 2014.
• Meningkatkan daya saing industri
• Memperdalam struktur industri nasional • Menciptakan iklim usaha yang kondusif
• Mengurangi beban/cost bea masuk untuk bahan baku/bahan penolong /komponen yang diperlukan bagi industri
Tujuan BMDTP
• Belum diproduksi di dalam negeri
• Sudah diproduksi di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan
• Sudah diproduksi di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri
Kriteria
Barang dan Bahan
yang mendapatkan BMDTP
• Memenuhi penyediaan barang dan/atau jasa untuk kepentingan umum. dikonsumsi masyarakat luas. dan/atau melindungi
kepentingan konsumen (Bobot: 40%) • Meningkatkan daya saing (Bobot: 30%)
• Meningkatkan penyerapan tenaga kerja (Bobot: 20%) • Meningkatkan pendapatan negara (Bobot: 10%)
Persyaratan untuk mendapatkan BMDTP
4
Bea Masuk terutang yang dibayar oleh Pemerintah dengan pagu anggaran sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang APBN tahun bersangkutan. BMDTP 2014 ditetapkan dengan UU 23/2013, tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014 (Lembaran Negara RI Tahun 2012 Nomor 228, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5361)
Peraturan Dirjen Bea Cukai No. 15 s/d 29/BC/2014 Tentang Tatacara Pemberian BMDTP 2014 “Tanggal 4 Agustus 2014” PMK No. 118 s/d 132/PMK.011/2014 Tentang BMDTP (PMK Sektor) Pagu Anggaran Rp. 506,62 Milyar
“Tanggal 16 Juni 2014” PMK No. 11/PMK.011/2014 Tentang BMDTP (PMK Induk) “Tanggal 17 Januari 2014” Peraturan BPKIMI No. 91/BPKIMI/PER/3/2014 Tentang Juknis Pelaksanaan
Verifikasi Industri “Tanggal 20 Maret 2014”
Surat Direktur Jenderal Anggaran (DJA) Tentang Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran Ditjen BIM;
Ditejn IUBTT dan Ditjen IA Kemenperin; dan No.DIPA untuk
ke-3 Ditjen tersebut .
Perdirjen IA No. 25/1A/PER/6/2014 Perdirjen IUBTT No. 21/IUBTT/PER/7/2014
Perdirjen BIM No. 15/BIM/PER/7/2014 Tentang tata cara penandasahan RIB &
Alokasi pagu anggaran “Tanggal 26 Juni; 2 juli ; 17 juli 2014”
Permenperin No. 27/M-IND/PER/5/2008 tentang VERIFIKASI INDUSTRI
Permenperin No. 75/M-IND/PER/5/2008 Junto No.
36/M-IND/PER/3/2011 Tentang PENUNJUKAN PT. Surveyor Indonesia Sebagai Pelaksana
Verifikasi BMDTP
Penerbitan SKVI Perusahaan Industri Sektor Tertentu
BMDTP 2014
KEMENTERIAN
KEUANGAN PT. SURVEYOR INDONESIA
Pelaksanaan Verifikasi Industri terhadap Perusahaan Industri
Sektor Tertentu BMDTP 2014 “Verifikasi Awal, Produksi, Akhir”
C. TUJUAN PEMBERIAN BMDTP
Untuk meningkatkan daya saing industri dan memperdalam
struktur industri nasional serta menciptakan iklim usaha
yang kondusif dengan mengurangi beban/cost
bea masuk untuk bahan baku/bahan penolong /komponen
yang diperlukan bagi industri
IMPORT LUAR NEGERI PRODUSEN DALAM NEGERI PMA PMDN Ind us tri Output In dustri IMPORT LUAR NEGERI PRODUSEN DALAM NEGERI PMA PMDN Output
BAHAN BAKU DALAM KATEGORI BMDTP
2008
PEMBINA SEKTOR (Ditjen Industri) SEKTOR INDUSTRI ANALISA KRITERIA INDUSTRI ANALISA KRITERIA BARANG Menteri Keuangan Ya Tidak Tidak Ya PMK Per sektor Tidak Ya - BPKIMI - SEKTOR PEMBINA - DITJEN B & C - BKF - BPKIMI - SEKTOR PEMBINA - DITJEN B & C - BKF - PT. SI
USULAN KOORDINASI PENERBITAN
E. KEBIJAKAN YANG BERBEDA PADA BMDTP 2014
BMDTP 2013 PMK No. 7/PMK.011/2013 Pasal 2 Ayat 5 BMDTP 2014 PMK No. 11/PMK.011/2014 Pasal 2 Ayat 6 & 7F. VERIFIKASI INDUSTRI
Tujuan : untuk memastikan/menjamin bahwa pemanfaatan pemberian fasilitas BMDTP tepat sasaran
ALUR PROSES VERIFIKASI
INDUSTRI PENGGUNA DAN SSC DIREKTORAT JENDERAL
BEA CUKAI SURVEYOR INDONESIA
MULAI PENGAJUAN VERIFIKASI PENGAJUAN VERIFIKASI VERIFIKASI DOKUMEN VERIFIKASI DOKUMEN VERIFIKASI LAPANGAN VERIFIKASI LAPANGAN IMPORTASI IMPORTASI DATA ENTRI/ REPORTING DATA ENTRI/ REPORTING LAPORAN VERIFIKASI AWAL LAPORAN VERIFIKASI AWAL PENGAJUAN FASILITAS PENGAJUAN FASILITAS PRODUKSI PRODUKSI
SKVI, TANDA SAH, USER’S ID
VERIFIKASI LAPANGAN VERIFIKASI LAPANGAN DATA ENTRI/ REPORTING DATA ENTRI/ REPORTING LAPORAN VERIFIKASI PRODUKSI LAPORAN VERIFIKASI PRODUKSI VERIFIKASI DOKUMEN VERIFIKASI DOKUMEN >50% IMPOR /
6 BULAN TERBITI SKEP
VERIFIKASI DOKUMEN VERIFIKASI DOKUMEN DATA ENTRI/ REPORTING DATA ENTRI/ REPORTING VERIFIKASI LAPANGAN VERIFIKASI LAPANGAN LAPORAN VERIFIKASI AKHIR LAPORAN VERIFIKASI AKHIR 95% IMPOR / 11 BULAN SKEP SKEP (FASILITAS) SKEP (FASILITAS) KARTU KENDALI/ DOKUMEN REALISASI IMPOR
KARTU KENDALI/ DOKUMEN REALISASI IMPOR
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN RI TAHAP VERIFIKASI AWAL TAHAP VERIFIKASI PRODUKSI TAHAP VERIFIKASI AKHIR
No. Jenis Industri Besaran BM-DTP (Rp) Ditjen Basis Industri Manufaktur
1. Industri Resin Sintetis 6.900.000.000
2. Industri Plastik Hilir 87.000.000.000
3. Industri Ballpoint dan Casing Crayon 1.134.000.000
4. Industri Karpet dan Permadani 85.500.000.000
Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi
5. Industri Alat Besar 22.580.000.000
6. Industri Turbin 3.500.000.000
7. Industri Mesin Peralatan Pabrik 3.937.000.000
8. Industri Komponen Kendaraan Bermotor 181.104.000.000
9. Industri Perkapalan 3.576.000.000
10. Industri Elektronika 12.845.000.000
11. Industri Kabel Serat Optik 4.720.000.000
12. Industri Peralatan Telekomunikasi 7.116.000.000
13. Industri Smart Card 11.340.000.000
14. Industri Alat Kesehatan 3.062.500.000
Ditjen Industri Agro
15. Industri Pakan Ternak 70.303.000.000
T O T A L 504.617.500.000
10.500,-H. Alur Dokumen BMDTP
Perusahaan
Pembina SektorInstansi Direktorat FasilitasKPU / KPPBC
Rencana Impor Barang
Persetujuan dan tanda sah RIB
Permohonan
SK Menteri KeuanganPIB
PIB dan SSPCP distempel dan diberi paraf PIB dan SSPCP diarsipkan- Penerbitan peraturan pelaksana belum sejalan dengan rencana impor dari calon penerima fasilitas BMDTP sehingga belum efektif pelaksanaannya.
- Kendala administrasi, diantaranya:
Ada beberapa perusahaan yang belum merevisi kapasitas produksi dalam izin
usahanya atau kesalahan penulisan kapasitas pada dokumen Izin usaha yang mana angka yang tercatat pada izin usaha industri sangat kecil dibanding aktual kapasitas terpasang, sehingga tidak dapat memanfaatkan fasilitas ini;
Adanya Spesifikasi barang yang diimpor tidak sesuai dengan yang diajukan untuk
BMDTP sehingga tidak bisa dimanfaatkan dan harus di re-ekspor;
Negara asal barang yang diimpor belum tercantum dalam SKVI dan SKMK sehingga
PERMASALAHAN PELAKSANAAN REALISASI BMDTP
(LANJUTAN)
- Tingginya kurs Dollar dan lesunya pasar.
- Adanya pemberlakuan BMAD atau BMTP, sehingga sektor industri tidak dapat memanfaatkan fasilitas BMDTP.
- Bahan baku dan komponen impor yang direncanakan mendapatkan fasilitas BMDTP ternyata mendapatkan fasilitas master list.
- Adanya pengalihan pembelian barang impor yang awalnya akan dibeli di negara non-FTA dengan menggunakan fasilitas BMDTP dialihkan ke negara mitra FTA dikarenakan faktor harga yang lebih murah.
J. MENGAPA BMDTP MASIH DIPERLUKAN?
1. Terdapat beberapa bahan baku yang diimpor yang belum tercakup dalam skema FTA atau berdasarkan skema kerjasama bilateral.
2. Disharmonis penetapan tarif bea masuk MFN bahan baku (logam) terhadap barang jadi (komponen). Tarif bea masuk bahan baku sebesar 5-15% sedangkan tarif bea masuk barang jadi justru sebesar 0–10%.
3. Tekanan terhadap tingkat daya saing dan keberlangsungan industri komponen dalam negeri akibat berlakunya bea masuk barang jadi dalam rangka FTA yang sudah menjadi 0%.
4. Bahan baku yang diimpor merupakan bahan baku yang belum diproduksi di dalam negeri dan bahan baku yang sudah diproduksi di dalam negeri tetapi spesifikasi untuk kebutuhan industri belum dapat dipenuhi atau jumlah yang diproduksi di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan.
KETERGANTUNGAN IMPOR BAHAN BAKU DAN PENOLONG
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Barang Konsumsi 6,539.1 8,303.7 6,752.6 9,991.6 13,392. 13,408. 13,138. Bahan Baku Penolong 56,484. 99,492. 69,638. 98,755. 130,934140,127141,957 Barang Modal 11,449. 21,400. 20,438. 26,916. 33,108. 38,154. 31,531. 0.00 20,000.00 40,000.00 60,000.00 80,000.00 100,000.00 120,000.00 140,000.00 160,000.00 US $ Ju ta Pertumbuhan 2013/2012 1.3% -14.01% 3.82% Sumber : BPS diolah Kemenperin;
Perkembangan Impor Menurut Golongan Barang (US$ Juta)
Porsi Impor Bahan Baku Penolong dan
Barang Modal Tahun 2013
Pada tahun 2013, impor bahan baku
penolong dan barang modal
mencapai 93,0% dari total impor Indonesia.
K. KEBIJAKAN BMDTP KE DEPAN
1. Diharapkan fasilitas BMDTP ke depan dapat dimanfaatkan pada awal
tahun anggaran, mengingat siklus produksi sektor industri direncanakan
selama 1 (satu) tahun. Sebagai contoh:
• Industri Karpet
Produksi terbanyak pada bulan Juli (untuk kebutuhan hari raya lebaran), sehingga importasi harus dilakukan sebelum Juli. Jika peraturan terkait BMDTP terbit setelah Juli, maka sudah dapat dipastikan anggaran BMDTP untuk sektor industri karpet tidak dapat dimanfaatkan maksimal.
• Industri Ballpoint
Produksi terbanyak pada bulan Juni (untuk kebutuhan kenaikan kelas
siswa/siswi), sehingga importasi harus dilakukan sebelum Juni. Jika peraturan terkait BMDTP terbit setelah Juni, maka sudah dapat dipastikan anggaran BMDTP untuk sektor industri ballpoint tidak dapat dimanfaatkan maksimal.
2. Kemenperin sedang melakukan koordinasi dengan Kemenkeu untuk
menyusun kebijakan insentif terhadap barang antara (intermediate
goods) sehingga ke depannya sektor industri sudah dapat berdaya
Pusat Pengkajian Kebijakan dan Iklim Usaha Industri BPKIMI – Kementerian Perindustrian
Lt. 19 Gedung Kementerian Perindustrian Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 52-53 Jakarta Selatan
Tel. (021) 5251470 Fax. (021) 5251470