• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKRETARIAT KPA NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEKRETARIAT KPA NASIONAL"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KPA Nasional pada bulan September

ini melakukan kegiatan-kegiatan sesuai

dengan tupoksi yang tertuang dalam

Perpres No.75 Tahun 2006.

Dalam pengembangan kebijakan, stranas

yang disusun oleh GWL Ina yang mewakili

gay, waria, dan LSL* sedang dalam tahap

penyusunan.

Pokja remaja sudah melakukan serangkaian

pertemuan pada bulan ini. Pertemuan

tersebut sebagai bentuk nyata keterlibatan

remaja dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

Hasil jangka panjang pertemuan adalah

tersusunnya road map penanggulangan

HIV dan AIDS dalam RPJMN 2010-2014.

Sedangkan jangka pendeknya adalah

keterlibatan dalam rangka Hari AIDS

Sedunia (HAS) 2010.

Perkembangan data kunjungan web site

KPA Nasional, www.aidsindonesia.or.id,

ditunjukkan dalam bulan ini.

Pelatihan bagi pelatih monev (monitoring

dan evaluasi) dilaksanakan bagi pelaksana

program dalam rangka penguatan kapasitas

monev di lapangan.

*LSL= Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki

Sekretariat KPA Nasional

Menara Topas Lt.9

Jl. MH Thamrin Kav.9 Jakarta Pusat

Telp. (021) 3901758 Fax. (021) 3902665

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

SEKRETARIAT KPA NASIONAL

SEPTEMBER 2010

Pertemuan Konsultasi Nasional HIV dan AIDS dengan Pekerja Seks

Lindungi Mereka dari HIV...

(2)

A. Pengembangan Kebijakan

B. Penetapan Langkah Strategik

Pertemuan Kelompok Kerja Remaja

B

ertempat di Ruang Pertemuan KPA Nasional lantai 9 tanggal 1 September, berlangsung pertemuan kelompok kerja (pokja) remaja. Peserta terdiri atas perwakilan sektor dan masyarakarat sipil yang memiliki program terkait dengan remaja.

Pertemuan tersebut membahas tentang pengembangan rancangan program pencegahan pada penduduk usia muda dan diskusi road map dalam rangka pencapaian indikator RPJMN 2010-2014 dan MDG goal 6. Beberapa hasil dari pertemuan di antaranya: - Untuk dapat menjangkau remaja, dibutuhkan metode dan cara spesifik yang sesuai dengan kebutuhan remaja saat ini.

- Penggunaan media komunikasi dan teknologi informasi mutlak diperlukan dan ini sesuai dengan trend.

- Masing-masing sektor telah memiliki program yang baik dan fokus pada target, harapannya ada banyak pengalaman dan pembelajaran

dari program yang ada dan cakupannya nasional.

- Target jangka pendek dari pokja ini adalah dalam rangka HAS (Hari AIDS Sedunia) 2010, semua lembaga yang hadir akan terlibat. Masing-masing lembaga menyusun kerangka kegiatan dan proposal untuk disinergiskan dalam penyelenggaraan HAS 2010.

- Target jangka panjang pokja adalah diskusi penyusunan road map remaja untuk RPJMN 2010-2014 yang pelaksanaannya akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.

Tanggal 20 September 2010 di Ruang Pertemuan KPA Nasional lantai 14 berlangsung pertemuan lanjutan. Pertemuan tersebut fokus pada pembahasan mengenai penyelenggaraan HAS 2010. Tindak lanjut pertemuan adalah masing-masing lembaga membuat pemetaan terkait dengan kriteria remaja seperti sasaran, usia, perkiraan populasi, program, jumlah jangkauan, dan wilayah.

Perkembangan SRAN (Strategi dan Rencana Aksi Nasional) Penanggulangan

HIV dan AIDS bagi Gay, Waria, dan LSL Lainnya (GWL) 2010-2014

E

pidemi HIV di Indonesia adalah epidemi terkonsentrasi. Salah satu populasi kunci dengan prevalensi HIV di atas 5% adalah populasi GWL yang terdiri dari populasi waria (prevalensi 24.4%, 2007) serta gay dan lelaki yang berhubungan seks lelaki lainnya (prevalensi 5,7%, STBP 2007).

Berdasarkan hasil laporan penelitian, laporan program, hasil Mid-Term Review Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010, serta hasil analisa situasi; KPA Nasional telah menyusun SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014. Salah satu dari tujuh strategi dalam SRAN tersebut adalah Mengembangkan program yang komprehensif untuk menanggulangi HIV dan AIDS pada GWL.

SRAN GWL disusun melalui rangkaian tahapan sebagai berikut:

- Persiapan (September 2009)

- Pelaksanaan (Oktober–Desember 2009) - Konsultasi (Januari – Februari 2010) - Penyusunan (Maret – April 2010)

Dalam SRAN GWL ada lima strategi utama penanggulangan HIV dan AIDS:

1. Meningkatkan manajemen, keterlibatan, kepemilikan, dan kontekstualisasi program. 2. Mengembangkan intervensi struktural untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendukung program.

3. Meningkatkan cakupan dan efektivitas program komunikasi dalam rangka pencegahan infeksi baru HIV.

4. Meningkatkan ketersediaan layanan kesehatan seksual yang berkualitas tinggi, bersahabat, dan mudah dijangkau.

5. Meningkatkan ketersediaan layanan perawatan, dukungan, dan pengobatan yang dihubungkan dengan positive prevention yang kuat, berkualitas tinggi, bersahabat, dan mudah diakses bagi ODHA GWL.

(3)

Diskusi pada Acara Konsultasi Nasional HIV dan AIDS dengan Pekerja Seks

C. Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan

D. Penyebarluasan Informasi

Web Site KPA Nasional dalam Data

K

PA Nasional melalui web site-nya www. aidsindonesia.or.id mencoba memberikan informasi terkini upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Berbagai informasi ditampilkan terkait dengan informasi dasar HIV dan AIDS, pusat layanan AIDS, dan berita-berita terkait penanggulangan yang dilakukan baik oleh sektor dan masyarakat sipil.

Bulan September ini, statistik menunjukkan bahwa jumlah pengunjung web site adalah 3.426 orang dengan total kunjungan adalah 4.190 kunjungan. Artinya, lebih dari 1.000 orang melakukan kunjungan berulang ke web

site KPA Nasional.

Dilihat dari jumlah keseluruhan halaman yang dilihat, sebanyak 14.478 halaman telah diakses pengunjung. Adapun lima halaman terbanyak yang dikunjungi adalah halaman depan (3.638 kunjungan), dasar HIV dan AIDS (691 kunjungan), dasar pencegahan HIV dan AIDS (636 kunjungan), tes HIV (536 kunjungan), dan perawatan HIV dan AIDS (471 kunjungan). Pusat Informasi AIDS Nasional (PIAN) menyediakan informasi terkait dengan penanggulangan HIV dan AIDS yang dapat diakses pada hari Senin - Jumat pada 09.00 - 16.00 WIB. Berbagai publikasi seperti buku, jurnal, hasil penelitian, dan media KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) tersedia dan terbuka untuk umum.

Konsultasi Nasional HIV dan AIDS dengan Pekerja Seks

T

anggal 30 September di Ruang Pertemuan Lt.14 KPA Nasional berlangsung konsultasi nasional, yakni pertemuan untuk memberikan masukan yang akan disampaikan pada konsultasi regional di Bangkok bulan Oktober 2010 dengan agenda pekerja seks dan HIV. Presentasi pertama disampaikan oleh Ibu Nafsiah Mboi mengenai perkembangan program penanggulangan HIV dan AIDS, khususnya bagi WPS. Dilanjutkan dengan

presentasi dari Kemenkumham, Kemendagri, BNP2TKI, dan Koalisi Perempuan Indonesia. Beberapa masukan di antaranya:

- Perlu adanya sosialisasi terus menerus baik kepada pemangku kepentingan maupun orang-orang di lapangan mengenai program penanggulangan HIV dan AIDS.

- Wajib tes HIV masih perlu pertimbangan untuk diterapkan. Apabila ada gejala angkanya tinggi, maka yang dapat dilakukan adalah

provider initiated counseling and testing (PICT)

atau inisitiaf konseling dan testing sukarela yang berasal dari pemberi layanan seperti dokter, rumah sakit, dan puskesmas.

- Program PMTS (Pencegahan Melalui Transmisi Seksual) telah dikembangkan dengan pendekatan intervensi struktural. Program ini membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk Kemendagri terkait dengan isu penutupan sejumlah lokasi di daerah.

(4)

E. Kerja Sama Internasional dan Regional

F. Pengendalian, Pemantauan, dan Evaluasi

Pelatihan untuk Pelatih (Training for Trainer) Bidang

Monitoring dan Evaluasi Program HIV dan AIDS

dilakukan demi menjaga kinerja monitoring dan evaluasi yang baik.

Pelatihan dibagi menjadi tiga sasaran, yakni bagi peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya, peserta yang baru pertama kali terlibat, dan peserta mitra di kabupaten/ kota. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal

27-30 September di Hotel Merlynn Park Jakarta. Sedangkan pelatihan tingkat kabupaten/kota dilaksanakan November nanti. Peserta yang mengikuti kegiatan adalah 28 orang.

Materi yang diberikan terdiri atas 14 modul, yakni Pengantar HIV dan AIDS; Program, Tanggung Jawab Sektor, dan Alur Pelaporan; Pengenalan Monitoring dan Evaluasi; Menentukan Indikator; Metode dan Perangkat Monitoring dan Evaluasi; Monitoring Kualitas Data; Analisa dan Interpretasi Data; Penyajian dan Penyampaian Data untuk Pengambilan Keputusan; Mencari dan Mendiseminasikan Informasi HIV dan AIDS; Peluang dan Hambatan; Praktek dengan Program Excel 2007; Praktek dengan Program Powerpoint 2007; Manajemen Pengarsipan; dan Pembuatan Manajemen Monitoring dan Evaluasi.

Pelatihan ini menghasilkan tenaga pelatih di tingkat provinsi/kabupaten/kota. Selanjutnya tenaga pelatih tersebut akan mengadakan pelatihan di tingkat kabupaten/kota untuk periode 1-13 November 2010.

M

onitor-ing dan evaluasi merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya penanggu-langan HIV dan AIDS. Peningkatan kapasitas individu di dalamnya menjadi satu kebutuhan yang harus

Presentasi Peserta pada Pelatihan TOT Monev

Perkembangan Dana Kemitraan Indonesia untuk

Penanggulangan HIV dan AIDS (DKIA)

D

KIA dibentuk sejak tahun 2005 yang bertujuan memperkuat upaya penanggulangan multi-sektoral yang efektif dan berkesinambungan melalui peningkatan kapasitas SDM agar dapat menahan laju perkembangan HIV dan AIDS. Dana tersebut pada tahun 2005 diberikan oleh Pemerintah Inggris (DFID) yang kemudian diikuti oleh Pemerintah Australia pada tahun 2008. Hingga saat ini, total dana yang diterima dari tahun 2005-2010 adalah USD $54.2 juta yang terdiri atas Tahap I (2005–2008) dan Tahap II (2008 – 2010).

Secara keseluruhan, Dukungan DKIA telah memberikan dampak positif pada peningkatan anggaran dan jangkauan program secara nasional untuk mencapai Universal Access pada tahun 2014. Namun demikian dana

tambahan masih dibutuhkan untuk menutupi kesenjangan jangkauan, memperbaiki kualitas, dan keberlangsungan penanggulangan HIV dan AIDS. Dalam kurun waktu 4 tahun ke depan (2011– 2014) dibutuhkan dana sebesar US$ 4.5 juta atau kira-kira US$ 1.5 juta per tahun untuk memenuhi proyeksi kesenjangan dari sumber dana tersedia.

Komite pengarah DKIA, diketuai oleh Menko Kesra/Ketua KPAN, melakukan pengawasan dan pengarahan ketat terhadap penggunaan DKIA. Anggota dari komite adalah pemangku kepentingan yang terlibat dalam respons nasional, jaringan perwakilan orang hidup dengan HIV, PBB, lembaga donor, dan Pemerintah Indonesia setingkat Menteri. Komite ini akan melakukan pertemuan dalam rangka diskusi DKIA tahap III pada bulan Oktober.

(5)

G. Pengarahan kepada KPA di Daerah

Pelatihan Komprehensif Program Harm Reduction (HR)

P

rogram HR di Indonesia dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua KPA Nasional yang dituangkan dalam Permenkokesra No.02/ Per/Menko/Kesra/I/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS Melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza Suntik.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan program, maka dilakukan penguatan kapasitas bagi penyelanggara program HR di provinsi Lampung, DI Yogyakarta, Banten, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan NTB. Kegiatan dilaksanakan mengingat UU Narkotika No.35 tahun 2009 baru disahkan dan memiliki implikasi terhadap pelaksanaan program HR di daerah.

Pelatihan diselenggarakan pada tanggal 26 September -1 Oktober di Balai Pelatihan Besar Kesehatan, Ciloto, Jawa Barat.

Materi yang diterima peserta oleh peserta hari pertama adalah situasi Napza dan HIV; Napza, Adiksi, dan Permasalahannya Terkait HIV dan AIDS; Pengantar HR; Kebijakan terkait AIDS dan HR dalam Sistem Pelayanan Kesehatan; dan Intervensi Perubahan Perilaku.

Materi hari kedua Pengembangan dan Pengelolaan Program yang terdiri atas Pemanfaatan Data, Outreach, Continuum of

Care, Diskusi Cakupan dan Kualitas Program,

dan Monitoring Evaluasi.

Hari ketiga dilaksanakan kunjungan lapangan dan tugas kelompok. Hari keempat ditutup dengan materi HAM dan Gender dalam Kerangka Pelaksanaan Program dan Advokasi. Hasil akhir dari pelatihan adalah peserta menyusun rencana tindak lanjut dari masing-masing provinsi (enam provinsi). Adapun langkah utamanya adalah penetapan lokasi layanan HR, advokasi atau sosialisasi ke pemangku kebijakan, dan pembentukan pokja HR.

Peserta dalam Acara Pelatihan Komprehensif Program HR

Ibu Nafsiah Mboi Bersama dengan Peserta dalam Acara Pelatihan Komprehensif Program HR

(6)

No. NAMA KEGIATAN

GAMBARAN KEGIATAN

RENCANA OUT PUT

1.

Lokakarya Pengelolaan Program PMTS (Pencegahan Melalui Transmisi Seksual)

Peningkatan kapasitas bagi manajemen program PMTS di daerah oleh Tim Pengelola Sekretariat KPA di daerah. Selain itu, dalam rangka pengembangan rencana pelaksanaan program PMTS di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Terbangunnya kapasitas Sekretariat KPA Provinsi/ Kabupaten/Kota untuk mengelola Program PMTS di tingkat lokal. Adanya

rencana pelaksanaan Program PMTS di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

2.

Lokakarya Evaluasi Program HR dan Program PMTS

Lokakarya ini bertujuan mendapatkan gambaran hasil pelaksanaan program HR dan program PMTS dilihat dari aspek input, proses,

output, dan outcome. Selain

itu dilakukan identifikasi permasalahan dalam pelaksanaan program dan rekomendasi.

Diketahuinya hasil-hasil pelaksanaan Program HR dan Program PMTS periode Juli 2009-Juni 2010 dari aspek input, proses, output, dan outcome. Selain itu, teridentifikasinya berbagai permasalahan dalam

pelaksanaan Program HR dan PMTS.

3.

Lokakarya Pengembangan

Kurikulum Manajemen Respons

Tim KPA Nasional yang terdiri atas sektor, perguruan tinggi, dan pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) mengembangkan usulan substansi materi HIV dan AIDS dalam bentuk session

plan kepada pemangku

kepentingan terkait pendidikan untuk tenaga kesehatan.

Dihasilkannya session plan untuk masing-masing lembaga di Fakultas Kedokteran,

Fakultas Kesehatan

Masyarakat, dan Pendidikan Kebidanan dan Keperawatan.

4.

Pelatihan Survei Cepat

Perilaku (SCP) Kegiatan ini menyosialisasikan pedoman SCP yang mencakup tujuan survei, pemilihan

kabupaten/kota, pemilihan sampel, cara mengumpulkan data dan instrumen yang digunakan, pengolahan data, dan penyusunan laporan.

Terjadinya peningkatan kapasitas peserta dalam pemahaman mengenai tujuan survei, pemilihan sampel, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyusunan laporan.

5

Lokakarya Pengembangan Strategi Jaringan Populasi Kunci

Kegiatan dilakukan dengan mengundang perwakilan dari jaringan populasi kunci dari 12 provinsi yang didukung oleh SSF.

Adanya kesepakatan peserta mengenai strategi penguatan jaringan populasi kunci di nasional dan daerah.

Referensi

Dokumen terkait

- Menimbang, bahwa selanjutnya dalam mempertimbangkan suatu perbuatan pidana, sebelum menjatuhkan pidana terhadap diri Para Terdakwa, maka dalam hukum pidana terdapat dua hal

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah

Oleh yang demikian, peranan guru ketika ini amatlah penting dalam memberi nasihat, dorongan dan bimbingan kepada ibu bapa supaya mereka dapat

10.0 % 1 0.10 Dewan Komisaris telah memiliki komposisi, intergritas dan kompetensi yang sesuai dengan kompleksitas Bank OCBC NISP, melakukan tugas dan tanggung jawabnya secara

Oracle Database and Business Proses Majajemen Software (reservasi & dispatch) Windows NT Windows 8 Output Procedure Agen/dispatc her Konsumen Manager Dr iver

anul Hakim, Perencanaan Pembelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang melibatkan dengan berbagai kemampuan untuk bekerja sama dalam kelompok

bahwa keragaman budaya dan kekayaan alam Indonesia dalam bentuk pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, sumber daya genetik, dan potensi indikasi geografismerupakan

- Stadium IVS (pada pasien usia <12-18 bulan) : tingkat kesembuhan tinggi 85-92% setelah staging dan reseksi tumor tanpa kemoterapi dan atau radioterapi; bayi