• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nurfah Wilda 1, Hufri 2, Fatni Mufit 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Nurfah Wilda 1, Hufri 2, Fatni Mufit 3"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PILLAR OF PHYSICS EDUCATION, Vol. 6. Oktober 2015, 169-176

169

PENGARUH PENERAPAN LKS BERORIENTASI MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE TEAM-ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI)

TERHADAP HASIL BELAJAR IPA FISIKA SISWA KELAS VIII

SMPN 3 RANAH PESISIR

Nurfah Wilda

1

, Hufri

2

, Fatni Mufit

3

1

Mahasiswa Pendidikam Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang

2Staff Pengajar Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang

[email protected]

ABSTRACT

The low scores of the students of SMPN 3 Ranah Pesisir in Physics were caused by the lack of their activeness and interaction in learning process. One effort to help the students to solve these problems was by applying LKS that is TAI-oriented learning model. Based on the problems above the study whose purpose was to find out the effect of TAI-oriented learning model had been conducted toward the scores of the second year students of SMPN 3 Ranah Pesisir in Physics. The research design used was Quasi Experimental, using Randomized Control Group Only Design. The population of this research was the second year students of SMPN 3 Ranah Pesisir who were registered in the academic year 2014/2015, while the samples were selected by using purposive sampling technique. The data involved the students’ scores in cognitive, affective and psychomotor domains. The data from those three domains were analyzed by using t-test. The score of experiment class in cognitive domain was 88.38, higher than control class, 80.01. The score of experiment class in affective domain was73.94, and the control class was 63.58. Further, the score of experiment class in psychomotor domain was 88.91, higher than control class, 80.89. After applying t-test to the three domains, then, the hypothesis could be accepted. It can be concluded that there is a significant effect of using LKS that is TAI-oriented learning model toward the scores of the second year students of SMPN 3 Ranah Pesisir in Physics, on the degree of 0.05.

Keyword: Student Worksheets, Team-Assisted Individualization, Physical competence

PENDAHULUAN

Fisika merupakan suatu ilmu yang mempu-nyai peranan besar dalam menunjang ilmu penge-tahuan dan teknologi. Ilmu fisika pada umumnya, adalah ilmu yang menjelaskan tentang fenomena alam yang ditemui dalam kehidupan, Ilmu fisika memberikan masukan yang sangat besar bagi pem-bangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (IP-TEK). Berbagai fenomena alam yang menarik se-perti bintang jatuh, gerhana, gempa bumi dan lain- nya dapat dijelaskan dengan ilmu fisika. Begitu pula dengan teknologi sederhana sampai teknologi modern sebagian besar merupakan aplikasi dari ilmu fisika.

Mengingat begitu pentingnya peranan fisika dalam perkembangan IPTEK tersebut, berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan pengetahuan fisika siswa[1]. Salah satu usaha adalah perubahan kurikulum dan memperbaiki kualitas guru fisika.

Kurikulum 2013 untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang me-reka peroleh atau mereka ketahui setelah mem-pelajari materi

pembelajaran[2]. Kurikulum 2013 bertujuan agar siswa memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, keterampilan jauh lebih baik[2]. Mereka akan lebih kreatif, inovatif dan produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.

Pendidikan Sains termasuk fisika diperlu-kan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai sumber daya yang berkualitas, man-diri, saling kerjasama, maka seorang guru harus bisa membangkitkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa, merencanakan kegiatan pembela-jaran dengan baik, dan menyediakan fasilitas be-lajar siswa sehingga mereka dapat belajar dengan baik, saling berinteraksi, kerjasama.

Semakin banyak keterlibatan siswa maka semakin besar keinginan siswa untuk memahami pelajaran yang diberikan. Siswa akan tertantang dan saling berpartisipasi aktif dalam menemukan, mendalami sendiri, dan bekerjasama dengan teman sekelompoknya sehingga materi pelajaran akan lebih lama diingat. Jika hal ini dapat

(2)

170

terlaksana dengan baik maka besar kemungkinan hasil belajar yang didapat siswa akan meningkatkan dan Kri-teria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetap-kan oleh satuan pendidikan tersebut dapat tercapai.

Namun kenyataannya di lapangan khu-susnya di SMPN 3 Ranah Pesisir pencapaian kom-petensi siswa pembelajaran fisika masih belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SMP Negeri 3 Ranah Pesisir bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Dapat dilihat melalui ketun-tasan siswa dari nilai rata-rata Ulangan Harian IPA Fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Ranah Pesi-sir tahun ajaran 2014/2015 yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75,00 sebagaimana terlihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Rata-rata UH Kelas VIII SMPN 3 Ranah PesisirTahun Ajaran 2014/2015

No Kelas Nilai Jumlah siswa

1 2 3 4 5 VIII1 VIII2 VIII3 VIII4 VIII5 69,35 67,30 65,70 62, 40 58,70 30 30 30 29 29 Sumber: Guru Fisika SMP N 3 Ranah Pesisir

Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi pene-liti di SMP Negeri 3 Ranah Pesisir ini, rendahnya pencapaian hasil belajar IPA Fisika siswa dapat disebabkan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah kurangnya kerjasama antar siswa dalam mengerja-kan tugas, Sehingga siswa yang pintar makin pin-tar dan siswa yang lambat dalam berfikir semakin terlambat. sebagian besar siswa tidak tertarik pada pelajaran IPA Fisika. Hal ini terlihat dari adanya siswa yang keluar masuk kelas, dan dalam menger-jakan tugas terkesan kurang serius. Siswa juga mengangap pelajaran IPA Fisika merupakan pela-jaran yang sangat sulit dipahami, abstrak, dan rumusnya yang rumit sehingga siswa kurang ber-minat dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu diterapkan kepada siswa model pembelajaran yang mendukung siswa untuk ingin belajar IPA khusus-nya fisika, dan menciptakan suasana saling beker-jasama dalam menyelesaikan soal-soal yang di berikan guru.

Dari hasil wawancara penulis dengan guru mata pelajaran IPA Fisika SMPN 3 Ranah Pesisir, kerjasama antar siswa rendah. Dalam proses pem-belajaran siswa mengerjakan tugas sendiri-sendiri tanpa membantu teman yang belum mengerti pada suatu permasalahan, Sehingga siswa yang tidak mengerti dengan suatu materi pembelajaran hanya menunggu hasil dari temannya tanpa adanya usaha untuk mencari jawaban/solusinya.

Salah satu model pembelajaran yang di-kembangkan untuk meningkatkan kerjasama siswa dalam pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah Team-Assisted Individualization (TAI)[3]. TAI menggabungkan kooperatif dengan pengajaran individu Pembelajaran kooperatif tipe TAI tersusun atas kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai lima siswa dengan kema-mpuan akademis dan latar belakang yang berbe-da[3]. Setiap siswa mempelajari materi, mengerja-kan soal dan meminta teman sekelompoknya untuk mengoreksi jawabannya. Apabila model pembela-jaran tipe kooperatif TAI ini diterapkan di SMPN 3 Ranah Pesisir, maka siswa dapat meningkatkan kemampuan individu dan kemampuan beraso-sialisasi dengan siswa lain atau saling bekerjasama antar siswa.

Pada pembelajaran IPA Fisika juga diper-lukan bahan ajar yang dapat membuat keaktifan dan interaksi belajar siswa meningkat. Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Salah satu bahan ajar tertulis adalah berupa Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS sebagai bahan ajar bagi guru harus disusun sede-mikian rupa, sehingga pembelajaran dapat lebih berkualitas[4]. Untuk menumbuhkan kemampuan pikir siswa yang baik maka LKS yang disusun per-lu berorientasi kepada model pembelajaran TAI. LKS berorientasi model pembelajaran TAI ini setiap langkah-langkah pembelajaran TAI[5] ditu-angkan dalam LKS. Dengan penggunaan LKS diharapkan siswa mampu berinteraksi dengan ber-bagai sumber belajar, berfikir kritis dan mela-kukan olah pikirnya dalam memahami konsep fisika dengan baik.

Penerapan model pembelajaran tipe TAI yang berorientasi LKS ini nantinya diharapkan dapat mengarahkan cara kerjasama siswa di dalam kelas, menjadikan siswa untuk lebih memperhati-kan penjelasan materi yang diberimemperhati-kan oleh guru. Siswa banyak dituntut bekerja untuk menemukan suatu konsep dengan mengisi LKS yang diberikan guru. Guru memberikan masalah yang biasa terjadi di lingkungan kemudian siswa memecahkan masa-lahnya, mulai dari pengamatan siswa terhadap contoh yang kompleks atau khusus untuk menda-patkan prinsip yang umum. LKS dibagikan di awal pembelajaran pada setiap pertemuan.

Bertitik tolak dari uraian yang telah dike-mukakan, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian sebagai judul penelitian “Pengaruh Pe-nerapan LKS Berorientasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Assisted Individualization

(TAI) terhadap Hasil Belajar IPA Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Ranah Pesisir”.

(3)

171

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian ekspe-rimen semu (quasi expeekspe-riment). Penelitian eksperi-men semu merupakan penelitian yang tidak me-ngontrol semua variabel yang berhubungan dengan sampel kecuali beberapa variabel yang diperlukan di dalam penelitian[6].

Rancangan penelitian yang digunakan ada-lah Randomized Control Group Only Design[6]. Penelitian ini membutuhkan dua kelompok sampel yang akan dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen menggunakan LKS berorientasi model pembelajaran kooperatif tipe TAI, sedangkan untuk kelas kontrol hanya meng-gunakan LKS biasa.

Populasi merupakan sekumpulan objek yang akan diteliti[7]. Populasi yang akan diguna-kan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa pada kelas VIII SMPN 3 Ranah Pesisir yang terdaftar pada tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 8 kelas. Populasi terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Ranah Pesisir

No. Kelas Jumlah Siswa

1 VIII 1 30 2 VIII 2 30 3 VIII 3 30 4 VIII 4 29 5 VIII 5 29 Jumlah 148

Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 3 Ranah Pesisir Sampel adalah bagian yang diambil dari populasi yang diteliti untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian[8]. Sampel yang dipilih haruslah representatif yaitu meng-gambarkan kese-luruhan karakteristik dari suatu populasi. Sesuai dengan rancangan penelitian yang digunakan, dibutuhkan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling[7].

Variabel penelitian terdiri dari tiga bagian yaitu variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. Sebagai variabel bebas adalah mengguna-kan LKS model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Sebagai variabel terikat adalah hasil belajar IPA Fisika pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor setelah perlakuan diberikan. Sebagai variabel kont-rol adalah materi yang digunakan sesuai dengan kurikulum 2013, kemampuan awal siswa antara kedua kelas sama, waktu pembelajaran dengan guru yang sama, jumlah dan jenis soal yang diuji-kan pada kedua kelas sama. Jenis data dalam pene-litian ini adalah data primer yaitu data yang lang-sung diperoleh dari hasil perlakuan terhadap sam-pel penelitian. Data hasil belajar siswa untuk me-nilai aspek kognitif di akhir pembelajaran di ambil setelah siswa di berikan lembaran tes akhir, ranah

afektif melalui pengamatan lembaran observasi, dan aspek psikomotor melalui lembaran observasi. Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

Pada tahap persiapan ini segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yaitu menetapkan tempat penelitian yaitu di SMPN 3 Ranah Pesisir, menentukan jadwal penelitian, menetapkan sampel penelitian yaitu kelas VIII2

sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII3 sebagai

kelas kontrol, mempersiapkan perangkat pembela-jaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelapembela-jaran (RPP) dan LKS untuk masing-masing kelas ekspe-rimen dan kontrol, membuat kisi-kisi soal uji coba, lembar observasi ranah afektif, dan lembar pen-skoran ranah psikomotor.

Pada tahap pelaksanaan ini yang membe-dakan adalah perlakuan pembelajaran yang diberi-kan kepada kedua kelas. Pada kelas VIII2 atau

kelas eksperimen dilakukan pembelajaran menggu-nakan LKS berorientasi model pembelajaran ko-opertif tipe TAI. Sedangkan pada kelas kontrol diberikan pembelajaran menggunakan LKS biasa.

Setelah proses pembelajaran selesai, kedua kelas sampel diberikan lembaran tes akhir untuk melihat hasil belajar ranah kognitif yang diperoleh siswa setelah pembelajaran. Tes ini disesuaikan dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa.

Mengumpulkan data hasil belajar ranah siswa de-ngan lembaran format penilaian ranah afektif. Mengumpulkan data hasil belajar ranah psikomo-tor siswa dengan lembaran rubrik penskoran. Sete-lah itu dilakukan pengoSete-lah hasil tes akhir pada kedua kelas sampel dan menarik kesimpulan dari hasil yang diperoleh.

Instrumen yang digunakan adalah lem-baran tes tertulis untuk ranah kognitif, lembaran observasi untuk pengamatan ranah afektif dan lembaran rubrik penskoran untuk pengamatan pada ranah psikomotor. Instrumen yang digunakan da-lam penelitian ini dijelaskan yaitu:

Instrumen untuk menentukan hasil belajar pada ranah kognitif digunakan instrumen berupa lembaran tes objektif yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Agar tes dapat menjadi alat ukur yang baik dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: membuat kisi-kisi soal tes akhir berbentuk objektif sebanyak 50 butir, melakukan uji coba tes akhir di SMPN 1 Ranah Pesisir pada kelas VIII2.

Berdasarkan hasil uji coba dilakukan analisis soal untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda soal, validitas, dan reliabilitas. Hasil dari analisis itulah yang akan diperoleh soal-soal tes akhir.

Validitas adalah suatu ukuran yang menun-jukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu ins-trumen. Untuk memperoleh instrumen tes yang benar valid, maka instrumen tes dibuat

(4)

berdasar-172

kan kurikulum. Adapun soal yang disusun berpe-doman pada ketercapaian indikator untuk mata pelajaran IPA kelas VIII semester 1 pada tahun ajaran 2014/2015 dengan materi gerak lurus, pesawat sederhana.

Sebuah tes dapat dikatakan apabila mem-punyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes yang diperoleh dapat memberikan hasil yang tetap. Un-tuk menenUn-tukan indeks reliabilitas tes maka akan digunakan rumus Kudar Richardson (KR-21)[8].

... (1) Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesukaran soal (indeks kesukaran), dapat digu-nakan rumus[8] sebagai berikut :

P =

... (2) Daya pembeda soal digunakan untuk mem-bedakan antara siswa yang pintar dan siswa yang kurang pintar. Untuk mencari daya beda dari sebuah instrumen dapat menggunakan persa-maan[8] berikut ini:

D =

... (3)

Penilaian penelitian pada ranah afektif adalah sikap dan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian ranah afektif ini menggunakan lembaran format observasi yang akan memuat aspek-aspek yang akan diamati dari sikap siswa selama proses pembelajaran berlang-sung. Aspek tersebut adalah antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, interaksi siswa dengan guru, interaksi antar peserta didik, kerja-sama kelompok, aktifitas peserta didik dalam kelompok dan partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembahasan

Pada ranah psikomotor, sistem penilaian bertujuan untuk mengukur hasil belajar siswa yang berkaitan dengan gerak dalam melakukan peker-jaan. Penilaian dapat dilakukan pada saat kegiatan praktikum di laboratorium. Bentuk penilaiannya menggunakan lembaran rubrik penskoran dimana aspek yang dinilai adalah tahap identifikasi, tahap konstruksi, tahap penyampaian hasil. Instrumen-nya berupa lembaran observasi yang bertujuan untuk melihat aktivitas siswa selama praktikum berlangsung di kelas.

Analisis data bertujuan untuk menguji apa-kah hipotesis kerja yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak. Analisis data menggu-nakan uji kesamaan dua rata-rata yaitu uji t sebagai uji hipotesis, adapun syaratnya melakukan uji nor-malitas, uji homogenitas.

Sebelum pengujian hipotesis, perlu dilaku-kan uji normalitas dan homogenitas untuk menen-tukan uji kesamaan dua rata-rata yang akan digu-nakan. Uji normalitas bertujuan untuk melihat sampel yang didapat berasal dari populasi

terdistribusi normal atau tidak[9], maka digunakan uji Liliefors.

Uji homogenitas bertujuan untuk meli-hat apakah kedua kelas sampel sudah mempunyai varians yang homogen atau tidak[9]. Untuk mem-buktikan mengujinya dilakukan uji F. Uji F ini dilakukan dengan mencari varians masing-masing data yang diperoleh.

Hasil uji normalitas dan homogenitas me-nimbulkan beberapa kemungkinan. Untuk menguji hipotesis maka dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan ketentuansebagai berikut[9]:

………...…(4) Dimana

……...…(5)

Ranah afektif disajikan dalam bentuk kua-litatif berupa huruf yang didapatkan dari hasil kon-versi angka nilai akhir. Analisis data hasil obser-vasi dilakukan dengan menjumlahkan semua kom-ponen-komponen pada ranah afektif yang sudah diberi skor dalam rentang 0 dan 1, dan skor yang diperoleh siswa dijumlahkan untuk setiap siswa. Jumlah skor yang diperoleh dikonversi menjadi huruf. Lembaran observasi ranah afektif dalam penelitian ini akan diisi dengan cara memberi skor terhadap sikap peserta didik selama proses pembe-lajaran berlangsung. Pada ranah afektif ini juga dilakukan uji hipotesis dengan uji statistik yaitu uji kesamaan dua rata-rata. Untuk analisis selanjutnya sama dengan analisis ranah kognitif.

Teknik menganalisis data yang digunakan untuk ranah psikomotor pada penelitian ini adalah dengan menggunakan lembaran rubrik penskoran. Pada ranah ini yang dinilai adalah aktivitas selama melakukan praktikum. Penilaian yang dilakukan pada ranah ini dibuat dalam bentuk lembaran rub-rik penskoran. Jumlah skor yang diperoleh siswa dikonversi menjadi huruf. Selanjutnya jumlah skor setiap siswa dianalisa menggunakan uji statistik dengan uji kesamaan dua rata-rata. Untuk analisis selanjutnya sama dengan analisis ranah kognitif. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam uji hipotesis ini adalah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas kedua kelas sampel terlebih dahu-lu, kemudian dilakukan uji kesamaan dua rata-rata. Dari uji normalitas dan homogenitas kedua kelas sampel berasal dari populasi yang terdistribusi nor-mal dan varians yang 172homogen, maka untuk mengambil kesimpulan digunakan uji t.

Data penilaian kompetensi pada ranah kog-nitif diperoleh dari lembaran tes akhir dengan menggunakan tes tertulis berbentuk soal objektif sebanyak 45 butir soal diberikan kepada kedua kelas sampel pada akhir kegiatan proses

(5)

pembela-173

jaran yang direncanakan untuk penelitian. Dari hasil perhitungan secara 173statistik, diperoleh nilai rata-rata (

x

), simpangan baku (S), dan varians (S2) pada kelas eksperimen dan 173kontrol seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Rata-Rata, Simpangan Baku dan Varians, Kedua Kelas Sampel

Kelas N

X

S

S2

Eksperimen 30 88,38 7,03 49,51 Kontrol 30 80,01 7,87 61,98 Tabel 3 menampilkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada penilaian ranah kognitif kelas eksperimen (88,38) lebih tinggi dibandingkan ke-las kontrol (80,01). Nilai pada simpangan baku kelas eksperimen lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai simpangan baku kelas kontrol, artinya

nilai pada kelas eksperimen lebih merata disban-dingkan dengan nilai pada kelas kontrol.

Uji normalitas pada ranah kognitif meng-gunakan uji Liliefors. Hasil uji normalitas tes akhir kedua kelas sampel disajikan pada Tabel4.

Tabel 4 . Hasil Uji Normalitas Kedua Kelas Sam-pel Pada Ranah Kognitif

Kelas N Α L0 Lt Ket

Eksperimen 30

0,05 0,10 0,1618 Normal Kontrol 30 0,13 0,1618 Normal Tabel 4 menunjukkan bahwa pada taraf nyata 0,05, hasil perhitungan uji normalitas Lo<Lt. Hal ini menunjukkan bahwa data tes akhir pada kedua kelas sampel terdistribusi normal. Uji homogenitas digunakan uji F. Hasil perhitungan uji homogenitas pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Pada Ranah kognitif

Kelas N Α Fhitung Ftabel Keterangan

Eksperimen 30

0,05 1,25 1,69 Homogen Kontrol 30

Tabel 5 menunjukkan bahwa hasil uji homogenitas varians yang dilakukan terhadap data tes akhir pada kedua kelas sampel ternyata dapat diperoleh Fhitung = 1,25 dan Ftabel dengan taraf

nyata α = 0,05 pada dkpembilang 29 dan dkpenyebut 29

adalah 1,69. Hasil menunjukkan Fh<F(0,05);(29,29) =

1,69, hal ini berarti data pada kedua kelas sampel sudah mempunyai varians yang homogen.

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, diperoleh bahwa data pada kedua ke-las sampel yang berasal dari popuke-lasi yang terdis-tribusi normal dan pada kedua kelas sampel memi-liki varians yang homogen, maka untuk menguji

hipotesis tersebut digunakan uji t. Hasil perhitung-an untuk uji hipotesis disajikperhitung-an dalam Tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Kedua Kelas Sam-pel

Pada Ranah Kognitif

Kelas N S2 S Th Tt

Eksperimen 30 88,38 49,51 7,03

5,07 2,00 Kontrol 30 80,01 61,982 7,87

Tabel 6 menunjukkan bahwa thitung = 5,07

sedangkan ttabel = 2,00 dengan kriteria pengujian

terima Ho bila th<t(1-α) dan tolak Ho bila

mempu-nyai harga lain dari taraf signifikan 0,05 pada dera-jat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil didapat pada

harga 5,07<2,00. Hasil analisis data memperlihat-kan keberartian perbedaan yang signifimemperlihat-kan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Data hasil belajar siswa pada ranah afektif diperoleh selama kegiatan pembelajaran berlang-sung. Data ini diambil dengan menggunakan lem-bar observasi dan dibantu oleh dua orang observer. Lembar observasi terdiri dari 6 indikator, tiap indi-kator tersebut terdiri dari beberapa kriteria yang akan dinilai observer untuk masing-masingnya. Hasil olahan nilai pada kedua kelas sampel terlihat pada Tabel 4.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata, Simpangan Baku dan Varians, Kedua Kelas Sampel

Kelas N

X

s

S2

Eksperimen 30 73,94 15,97 255,08 Kontrol 30 63,58 19,06 363,34 Tabel 7 memperlihatkan bahwa nilai rata-rata kompetensi pada ranah afektif kelas eksperimen (73,94) lebih tinggi dibanding kelas kontrol (63,58). Nilai varians dan simpangan baku kelas eksperimen lebih kecil jika dibandingkan dengan kelas kontrol, artinya nilai pada kelas eksperimen lebih merata dibandingkan dengan nilai pada kelas kontrol.

Penilaian ranah afektif dilakukan pada seti-ap kali pertemuan. Pada penelitian ini dilakukan observasi terhadap enam kali pertemuan proses pembelajaran berturut-turut. Dalam menarik ke-simpulan dari ranah afektif maka dilakukan uji hipotesis secara statistik.

Dalam uji normalitas, penulis mengguna-kan uji Liliefors. Hasil tes akhir pada kedua kelas sampel disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Afektif

Kelas N Α L0 Lt Ket

Eksperimen 30 0,05

0,1522 0,1618 Normal Kontrol 30 0,0719 0,1618 Normal

(6)

174

Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kedua kelas sampel memdapatkan nilai Lo< Lt pada taraf

nyata 0,05, berarti data yang diperoleh dari hasil belajar ranah afektif pada kedua kelas sampel terdistribusi normal. Uji homogenitas digunakan uji F. Hasil perhitungan uji homogenitas terdapat padaTabel 9.

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Afektif

Kelas N Α Fh Ft Keterangan Eksperimen 30

0,05 1,42 1,85 Homogen Kontrol 30

Tabel 9 memperlihatkan bahwa hasil uji homogenitas varians yang dilakukan terhadap data yang didapat dari hasil belajar ranah afektif kedua kelas sampel ternyata dapat diperoleh Fhitung = 1,42

dan Ftabel=1,85 pada taraf nyata α = 0,05 pada

dkpembilang 29 dan dkpenyebut 29. Hasil menunjukkan

Fh < Ft, berarti data kedua kelas sampel

mem-punyai varians yang homogen.

Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, diperoleh bahwa data pada kedua kelas sampel y a n g d i d a p a t berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan pada kedua kelas sampel memiliki varians yang homogen, maka untuk menguji hipotesis tersebut digunakan uji t. Hasil perhitungan untuk uji hipotesis disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Uji Hipotesis Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Afektif

Kelas N S2 S Th Tt

Eksperimen 30 73,94 255,08 15,97

2,35 2,00 Kontrol 30 76,15 77,5 19,06

Tabel 10 menunjukkan bahwa thitung = 2,35

sedangkan ttabel = 2,00 pada kriteria pengujian

teri-ma Ho bila th<t(1-α) dan tolak Ho apabila

mempu-nyai harga lain dari taraf signifikan 0,05 pada dera-jat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil yang

dida-patkan dengan harga 2,35<2,00. Maka hasil anali-sis data bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Data penelitian hasil belajar pada ranah psi-komotor ini didapatkan melalui hasil pengamatan selama kegiatan praktikum. Dari data hasil belajar ranah psikomotor ini dilakukan perhitungan sehi-ngga diperoleh nilai rata-rata (

x

), variansi (S2), dan simpangan baku (S) kelas eksperimen dan kontrol seperti pada Tabel 11.

Tabel 11. Nilai Rata-Rata, Simpangan Baku dan Varians, Kedua Kelas Sampel

Kelas N

X

S

S2

Eksperimen 30 88,91 7,43 55,21 Kontrol 30 80,89 9,41 88,64

Tabel 5 menampilkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada ranah psikomotor kelas eks-perimen (88,91) lebih tinggi dari kelas kontrol (80,89). Nilai varians dan simpangan baku kelas eksperimen lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai simpangan baku kelas kontrol, artinya hasil belajar pada ranah psikomotor kelas eksperimen lebih merata dibandingkan kelas kontrol.

Penilaian ranah psikomotor diperoleh mela-lui lembaran rubrik penskoran yang diambil selama proses demonstrasi berlangsung, yaitu selama enam kali pertemuan. Dalam uji normalitas ini, penulis menggunakan uji Liliefors. Hasil uji nor-malitas kemampuan unjuk kerja kedua kelas sampel disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12. Hasil Uji Normalitas Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Psikomotor

Kelas N α L0 Lt Ket

Eksperimen 30 0,05

0,145 0,1618 Normal Kontrol 30 0,1061 0,1618 Normal Tabel 12 menunjukkan bahwa pada kedua kelas sampel mempunyai nilai Lo<Lt dengan taraf

nyata 0,05. Hal ini berarti data yang diperoleh dari hasil tes akhir pada kedua kelas sampel yaitu terdistribusi normal.

Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah data kelas sampel memiliki varians yang homogen atau tidak. Untuk uji homogenitas digu-nakan uji F. Hasil perhitungan pada uji homo-genitas dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Psikomotor

Kelas N Α Fh Ft Keterangan Eksperimen 30

0,05 1,60 1,85 Homogen Kontrol 30

Tabel 13 memperlihatkan bahwa hasil uji homogenitas varians yang sudah dilakukan terha-dap data hasil belajar ranah psikomotor kedua ke-las sampel ternyata diperoleh nilai Fhitung = 1,60

dan nilai Ftabel = 1,85 dengan taraf nyata α = 0,05

pada dkpembilang 29 dan dkpenyebut 29. Hasil

menu-njukkan bahwa Fh<Ft, berarti bahwa data kedua

kelas sampel mempunyai varians yang homogen. Setelah dilakukan uji normalitas, diperoleh bahwa data pada kedua kelas berasal dari populasi

(7)

175

yang terdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, maka untuk menguji hipotesis tersebut digunakan uji t. Untuk uji hipotesis disaji-kan pada Tabel 14.

Tabel 14. Hasil Uji Hipotesis Kedua Kelas Sampel Pada Ranah Psikomotor

Kelas N S2 Th Tt

Eksperimen 30 88,91 55,21

3,69 2,00 Kontrol 30 80,89 88,64

Tabel 14 memperlihatkan bahwa uji kesa-maan dua rata-rata kelas sampel diperoleh thitung =

3,69 sedangkan ttabel = 2,00 pada kriteria pengujian

terima Ho jika th<t(1-α) dan tolak Ho jika

mem-punyai harga lain dari taraf signifikan 0,05 pada derajat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil yang

didapatkan dengan harga 3,69< 2,00. Hasil analisis data dapat memperlihatkan keberartian perbedaan, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

2. Pembahasan

Penggunaan LKS berorientasi model pem-belajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari lebih ting-ginya nilai rata-rata siswa yang menerapkan peng-gunaan LKS berorientasi model pembelajaran ko-operatif tipe TAI disbandingkan dengan nilai rata-rata siswa yang hanya menerapkan LKS biasa dapat dilihat dari ketiga ranah yaitu pada ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotor.

Hasil belajar peserta didik pada ranah kog-nitif dengan menggunakan LKS berorientasi model pembelajaran TAI merupakan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa dalam belajar sehingga hasil belajar siswa meningkat. Dalam model pembelajaran TAI, siswa dapat mengerjakan tugas-tugas dari LKS berorientasi model pembelajaran kooeratif tipe TAI secara indi-vidual dan saling bekerjasama di dalam kelompok masing-masing. peserta didik lebih cepat dalam mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru dan peserta didik dikasih kesempatan dalam menjelaskan apresiasinya. Manfaat LKS bagi sis-wa yaitu kegiatan pembelajaran menjadi menye-nangkan, peserta didik lebih antusisas dalam pro-ses pembelajaran, peserta didik lebih banyak mem-peroleh kesempatan untuk belajar secara individu karena dengan menggunakan LKS peserta didik dapat menemukan ide-ide baru dengan bimbingan guru dan peserta didik mendapatkan kemudahan untuk mempelajari pada kemampuan yang harus dikuasainya. Hal ini sejalan dengan pendapat Slavin (2009:187) menyatakan bahwa “mengadap-tasi pengajaran terhadap perbedaan individual yang berkaitan dengan kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa”[9].

Penilaian ranah afektif merupakan pendu-kung dari proses pembelajaran yang digunakan. Dalam model pembelajaran TAI dalam bentuk LKS berorientasi model pembelajaran TAI memi-liki rasa ingin tahu siswa terhadap materi disku-si/kelompok, antusias dalam mengikuti pembelaja-ran, ada interaksi peserta didik dengan guru, inte-raksi antar peserta didik, kerja sama dalam kelom-pok, aktivitas peserta didik dalam kelompok dan partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan ha-sil pembahasan dari kerja kelompok, sehingga membuat siswa jadi fokus dan termotivasi dalam proses pembelajaran, siswa percaya diri dalam me-nyampaikan pertanyaan, tanggapan, maupun men-jawab masalah-masalah yang muncul dalam proses pembelajaran Hal ini sejalan dengan pernyataan Sudjana (2005: 39) bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu sfaktor yang datang dalam diri siswa (kurangnya pemahaman terhadap materi pembelajaran) dan faktor yang datang dari luar diri siswa seperti lingkungan belajar siswa[8].

Hasil penilaian ranah psikomotor merupa-kan pendukung dari proses pembelajaran yang digunakan Model pembelajaran TAI dalam bentuk LKS berorientasi model pembelajaran TAI Pembe-lajaran TAI sangat mempengaruhi hasil belajar sis-wa menjadi lebih baik individu saling berinteraksi antara peserta didik yang satu dengan yang lain-nya, saling bekerjasama, memudahkan dalam me-mecahkan atau menyelesaikan masalah pembela-jaran dalam kelompok, sehingga hasil belajar sis-wa kelas eksperimen menjadi lebih baik dari pada kelas kontrol. Hal ini sejalan dengan pendapat Slavin (2009:189-194) yang menyatakan bahwa: a. Dapat meminimalisir keterlibatan guru dalam

pemeriksaan rutin.

b. Para siswa akan termotivasi untuk mempe-lajari materi-materi yang diberikan dengan cepat dan akurat.

c. Para siswa akan bekerja dalam tim dan me-ngemban tanggung jawab menerangkan dan memeriksa satu sama lain.

d. Siswa dapat saling membantu satu sama lain dalam menghadapi masalah dan memberikan dorongan untuk maju.

e. Melatih siswa aktif dan kreatif dalam meng-hadapi setiap permasalahan.

f. Membantu siswa yang lemah[10].

Pembelajaran TAI sangat mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi lebih baik individu saling berinteraksi antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya, saling bekerjasama, memu-dahkan dalam menyelesaikan masalah pembe-lajaran dalam kelompok.

Berdasarkan uraian di atas dapat diung-kapkan bahwa penggunaan LKS berorientasi model pembelajaran TAI memberikan pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa. Hal ini

(8)

176

berarti penggunaan LKS berorientasi model pem-belajaran TAI dapat diterapkan untuk mening-katkan hasil belajar IPA Fisika siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Pencapaian hasil rata-rata nilai kognitif 88,38 pada kelas eksperimen dan 80,01 pada kelas kontrol. Rata-rata nilai afektif 73,94 pada ekspe-rimen dan 63,68 pada kelas kontrol. Rata-rata nilai psikomotor 88,91 pada kelas eksperimen dan 80,89 pada kelas kontrol.

Berdasarkan hasil pengolahan dan ana-lisa data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan pengaruh LKS berorientasi model pembelajaran kooperatif tipe TAI memberikan pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII SMPN 3 Ranah Pesisir pada ranah penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor pada taraf signifikan 0,05. Pengaruh ini ditandai dengan adanya perbedaan yang berarti peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan LKS berorientasi model pembelajaran TAI.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih banyak kepada Yth Bapak Drs. Hufri, M.Si sebagai dosen pembimbing I sekaligus sebagai penasehat akade-mik yang telah membimbing dengan tulus dan sa-bar dalam memberikan masukan-masukan, dan Ibu Fatni Mufit,S.Pd, M,Si yang telah membimbing, mendorong dan membantu penulis dalam pem-buatan karya ini dari awal sampai akhir. Terima kasih juga kepada Yth. Bapak Drs. Mahrizal, M.Si, Bapak Dr. Hamdi, M. Si dan Bapak Drs. H. Asrizal, M.Si sebagai dosen penguji. Terima kasih

juga kepada Bapak Syafrinal,S.Pd selaku kepala sekolah SMPN 3 Ranah Pesisir yang telah membe-rikan izin dan membantu penulis selama melaku-kan penelitian di SMPN 3 Ranah Pesisir.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kemdikbud. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. Paparan Mendikbud dalam Sosialisasi Kurikulum 2013. Jakarta :Kemdikbud

[2] Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya

[3] Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

[4] Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

[5] Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar dan

Proses Pembelajaran Matematika I.

Semarang: FMIPA UNN

[6] Suryabrata. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

[7] Sugiono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

[8] Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. rev. ed Jakarta: Bumi Aksara

[9] Sudjana, Nana.2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

[10] Slavin, Robert E. 2009. Cooperative Learning: Theory, Research and Practice (Terjemahan Lita). Bandung: Nusa Media. Buku asi diterbitkan tahun 2005.

Gambar

Tabel 1. Nilai Rata-rata UH Kelas VIII SMPN 3  Ranah PesisirTahun Ajaran 2014/2015  No  Kelas  Nilai  Jumlah siswa
Tabel 2. Jumlah siswa kelas VIII di SMP Negeri 3  Ranah Pesisir

Referensi

Dokumen terkait

1. Terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif secara bersama-sama antara kelompok siswa yang belajar dengan praktikum dan

Dari hasil penelitian maka terdapat pengaruh kegiatan magang terhadap motivasi mengajar mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang ke depannya sebagai bekal

Pemberian pupuk kascing dan pupuk hayati mikoriza memberikan pengaruh pada nilai KTK tanah karena hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan nilai KTK tanah tergolong

Tabel 3 menunjukkan bahwa potensi tumbuh maksimum benih sengon pada perlakuan lama perendaman memiliki kemampuan yang berbeda dalam meningkatkan potensi tumbuh

Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat mengaruh sari buah lontar sebagai pengencer alami dalam semen babi pada suhu 22 O

Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan data curah hujan yang diperlukan kemudian mencari hujan maksimum setiap tahunnya, melakukan analisis

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang nyata antara pelatihan, disiplin kerja dan lingkungan kerja baik secara simultan maupun parsial terhadap

Barang Satuan Dasar on Site Project Keterangan