BAB I PENDAHULUAN. Plasmodium terdiri dari 4 spesies yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Parasit Genus Plasmodium terdiri dari 4 spesies yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae dan plasmodium ovale. Penularan malaria melalui nyamuk anopheles yang telah terinfeksi parasit malaria. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil , anemia dan ikterus (P. N. Harijanto, 2006).

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang sangat mempengaruhi angka kematian dan kesakitan bayi, anak balita dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan produktifrtas tenaga kerja. Lebih dari 15 (lima belas) juta penderita malaria klinis dengan 30.000 kematian yang dilaporkan melalui unit pelayanan kesehatan setiap tahun. Umumnya penderita malaria ditemukan pada daerah-daerah terpencil dan sebagian besar penderitanya dari golongan ekonomi lemah. Kesehatan lingkungan mempelajari dan menangani hubungan manusia dengan lingkungan dalam keseimbangan ekosistem dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pencegahan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan dengan mengendalikan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit malaria. Interaksi lingkungan dengan pembangunan saat ini maupun yang akan datang saling berpengaruh (Fathiet al., 2005).

Laporan WHO tahun 2005 menyebutkan di seluruh dunia jumlah kasus baru malaria berkisar 300-500 juta orang dengan kematian 2,7 juta orang/tahun sebagian besar anak-anak di bawah lima tahun yang merupakan kelompok paling

(2)

rentan terhadap penyakit dan kematian akibat malaria dengan jumlah Negara endemis malaria pada tahuin 2004 sebanyak 107 negara. Di wilayah Asia Tenggara dilaporkan terdapat 1,6 juta kasus malaria pada tahun 2013. Di wilayah Asia Tenggara dilaporkan terdapat 1,6 juta kasus malaria pada tahun 2014. Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan kasus malaria terbanyak di wilayah Asia Tenggara. (WHO 2005).

Di Indonesia, angka kejadian malaria yang diukur dengan Annual Parasite Incidence (API) adalah sebesar 1,38 per 1000 penduduk pada tahun 2013. Dari 33 provinsi di Indonesia, 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria di atas angka nasional, sebagian besar berada di Indonesia Timur. Tiga propinsi dengan API tertinggi yaitu Papua Barat, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Setiap tahunnya, diperkirakan terdapat 40.000 kematian karena malaria di Indonesia. jumlah kabupaten/kota endemik tahun 2013 sebanyak 424 dari 579 kabupaten/kota, dengan perkiraan persentase penduduk yang beresiko penularan sebesar 42,42%. Masalah malaria di Indonesia terutama terpusat di wilayah Indonesia bagian Timur,

Papua merupakan provinsi dengan API tertinggi, yaitu 45,85 per 1.000 penduduk. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Empat provinsi dengan API per 1.000 penduduk tertinggi lainnya, yaitu Papua Barat (10,20), Nusa Tenggara Timur (5,17), Maluku (3,83), dan Maluku Utara (2,44). Sebanyak 83% kasus berasal dari Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. (Sumber: Kemenkes RI, 2017)

Kabupaten Jayapura. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua tahun 2016, pada minggu keenam pada bulan januari epidemologi terlapor secara

(3)

tertulis terdapat 47 kasus, diantaranya 1 orang meninggal yaitu dikota jayapura sedangkan 46 kasus lainnya sedang ditangani pada januari 2016 ada ada 37 kasus. Kemudian februari 10 kasus total kasus tahun 2016 sampai dengan saat ini adalah 47 kasus dari 4 kabupaten . yakni kota jayapura 20 kasus, kabupaten jayapura 1 kasus, kabupaten keerom 8 kasus dan kabupaten sarmi dan timika masing-masing 3 kasus. (Dinkes papua, tahun 2016)

Jumlah penderita penyakit malaria yang dirawat di RSUD Jayapura selama Kurang lebih l bulan terakhir pada bulan desember 2017, Sebanyak : 60 orang pasien yang terbagi dalam 2 ruangan, ruang penyakit dalam pria sebanyak : 40 orang yaitu malaria tertiana : 12, malaria tropika : 23, malaria cerebral : 2, malaria berat : 3, mix malaria : 1 dan Ruangan penyakit dalam wanita sebanyak : 20 orang yaitu malaria tertiana : 8, malaria tropika : 8, malaria berat : 3, mix malaria : 1 (Data RSUD Jayapura, tahun 2017).

Menurut Hendrik L. Blum, status kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Empat faktor tersebut adalah faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat yaitu hak untuk memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. Kinerja pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatkan kualitas kesehatan penduduk. Pelayanan kesehatan merupakan faktor langsung yang berhubungan dengan kejadian penyakit infeksi (morbiditas). 4 Faktor risiko individual yang diduga berperan untuk terjadinya infeksi malaria adalah usia, jenis kelamin, genetik, aktivitas keluar rumah pada malam hari dan faktor risiko kontekstual adalah lingkungan perumahan, keadaan musim, sosial ekonomi, dan

(4)

lain-lain. 5 Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan terjangkau merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas tentunya harus ditopang dengan tersedianya tenaga kesehatan yang merata dengan jumlah yang cukup serta memiliki kompetensi yang tinggi. Derajat kesehatan masyarakat yang masih rendah diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kemampuan ekonomi yang lemah dibandingkan dengan yang tinggi, daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan yang masih terbatas. (Riskesdas) 2013

Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax adalah 2 spesies utama yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas akibat malaria di dunia. Komplikasi fatal malaria falsiparum yang paling sering ditemukan adalah terjadinya malaria serebral. Plasmodium vivax lebih sering menyebabkan anemia berat dan trombositopenia berat, dibandingkan P.falciparum. Douglas et al. (2013) melaporkan anemia berat dapat meningkatkan risiko kematian dengan AOR 5,80 ([IK 95% 5,17 – 6,50]; p 0,001). Sedangkan, trombositopenia berat juga dilaporkan dapat meningkatkan risiko kematian sebesar 4,7 kali lipat. (Kemenkes, 2014)

Adanya kejadian malaria di masyarakat dapat sebagai bahan penelaahan bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat yang terkena penyakit malaria atapun masyarakat dalam melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit malaria. Pencegahan atau pun pengobatan penyakit malaria dibutuhkan suatu pengetahuan yang baik agar dalam tindakan pencegahan atau pun pengobatan malaria dapat dilakukan secara baik dan benar. Pengetahuan masyarakat yang diperoleh dari

(5)

berbagai sumber merupakan upaya positif untuk dapat melakukan suatu tindakan yang berarti guna meminimalkan terserangnya penyakit malaria bagi keluarganya. Tindakan menjaga kebersihan, pemakaian obat malaria, menghindardari gigitan nyamuk, seperti memakai kelambu atau kasa anti nyamuk, vaksin malaria, memelihara ikan pemakan jentik dikolam/bak-bak penampungan air sepeti ikan kakap merah, menghindari keluar rumah pada waktu malam hari (Sumarmo, dkk, 2002).

Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang di praktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Kemkes RI, 2011).

Indonesia telah membuat Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 2269/ MENKES/ PER/ XI/ 2011 yang mengatur upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat atau disingkat PHBS di seluruh Indonesia dengan mengacu kepada pola manajemen PHBS, mulai dari tahap pengkajian, perencanaan, dan pelaksanaan serta pemantauan dan penilaian. Upaya tersebut dilakukan untuk memberdayakan masyarakat dalam memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sehingga masyarakat sadar, mau, dan mampu secara mandiri ikut aktif dalam meningkatkan status kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah tangga atau keluarga, karena rumah tangga yang sehat merupakan asset atau modal pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu untuk mencegah penyakit tersebut, anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan PHBS (Depkes, 2013).

(6)

Program Perilaku Hidup Bersih Sehat merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku hidup bersih sehat melalui pemberdayaan masyarakat (Depkes RI, 2008). Secara nasional penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38,7%. Terdapat lima propinsi dengan pencapaian angka nasional, yaitu di Yogyakarta (58,2%), Bali (51,7%), Kalimantan Timur (49,8%), Jawa Tengah (47%), dan Sulawesi Utara (46,9%). Propinsi dengan pencapaian PHBS yang rendah berturut-turut adalah Papua (24,4%), Nusa Tenggara Timur (26,8%), Gorontalo (27,8%), Riau (28,1%), dan Sumatra Barat (28,2%) (Depkes RI,2008).

Di kota jayapura Rumah Tangga yang di pantau ber Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) selama tahun 2015 berjumlah 6.000. dan yang ber PHBS berjumlah 2.241 Rumah Tangga, ini menunjukan 37,4% Rumah tangga yang dipantau sudah melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Tahun 2015 jumlah rumah tangga seluruhnya 59.345, rumah tangga yang diperiksa 6.210 dan dari yang diperiksa ditemukan rumah tangga yang sehat berjumlah 3.638. Disini terlihat bahwa 58,6% rumah tangga yang diperiksa adalah sehat. Rumah/Bangunan yang ada di Kota Jayapura berjumlah 59.345 buah. Rumah/bangunan yang diperiksa berjumlah 6.210 buah dan 3.620 diantaranya dinyatakan sehat. (Profil Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Tahun 2015)

Oleh sebab itu penulis didalam proposal penelitian ini mengangkat judul “Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga Dengan Kejadian Malaria Di RSUD Jayapura”

1.2 Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga dengan kejadian penyakit malaria di RSUD Jayapura ?

(7)

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga dengan kejadian malaria di RSUD Jayapura

1.3.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengidentifikasi pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga.

2. Untuk mengidentifikasi kejadian malaria.

3. Untuk menganalisa hubungan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga dan kejadian malaria di RSUD Jayapura.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanan ilmu pengetahuan dan menjadi bahan bacaan tentang kejadia malaria dan perilaku hidup bersih dan sehat dilingkungan RSUD Jayapura.

1.4.2 Praktis

Menambah wawasan dan informasi tentang penyakit malaria dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan angka kejadian penyakit malaria di lingkungan RSUD Jayapura sehingga dapat dilakukan pencegahan dan penanganan secara cepat dan tepat untuk menurunkan angka kejadian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :