• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB. Pendahuluan A. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB. Pendahuluan A. LATAR BELAKANG"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1

B A B

A. LATAR BELAKANG

Dalam suatu tata kelola sumberdaya alam, pengelolaan berbasis masyarakat (PBM) yang sering disebut sebagai Community-Based Management – CBM – untuk selanjutnya disebut sebagai CBM- dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk pengelolaan sumberdaya alam yang kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan tersebut berada pada masyarakat1. Pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat berdasarkan pada keyakinan bahwa pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu kawasan tertentu akan lebih berdaya guna dan berhasil guna apabila pengelolaan tersebut dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini didasari pertimbangan keberadaan masyarakat yang secara fisik berjarak dekat dan memiliki interaksi yang sangat tinggi dengan sumberdaya alam tersebut. Interaksi yang ditunjukkan oleh ketergantungan masyarakat akan kelestarian sumberdaya alam bagi kelangsungan hajat hidupnya.

Pendekatan pengelolaan ini (baca: pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat), menuntut masyarakat untuk mempertegas hak dan kewajibannya atas sumberdaya alam dan memperoleh akses yang benar dan kendali dalam pengelolaan sumberdaya alam tersebut. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat ini berarti pula pengelolaan bersama antara berbagai pihak, seperti pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain yang masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam proses pengelolaan tersebut.

(2)

Keinginan masyarakat, pemerintah, dan pihak lain yang memiliki kepentingan atas sumberdaya alam yang sama sering kali berbenturan, bertentangan, dan berkompetisi satu sama lain, merupakan salah satu sifat alami suatu komunitas. Hal tersebut menggaris bawahi pentingnya suatu bentuk atau mekanisme pengelolaan sumberdaya alam sehingga mekanisme pengelolaan ini dapat mengatasi konflik yang mungkin timbul secara benar dan adil.

Dalam kaitannya dengan kegiatan COREMAP II, pengelolaan sumberdaya alam, dalam hal ini terumbu karang, yang berbasis masyarakat merupakan kunci dalam mencapai keberhasilan tujuannya. Dalam konteks kegiatan ini,

pengelolaan sumberdaya alam terumbu karang yang berbasis masyarakat yang ditekankan adalah sistem pengelolaan terumbu karang yang terpadu yang perumusan dan pelaksanaannya dilakukan dengan pendekatan dari bawah (bottom-up approach), berdasarkan aspirasi masyarakat dan dilaksanakan bagi kepentingan masyarakat. Dalam konteks ini pula, pengelolaan ekosistem terumbu karang yang terpadu yang dimaksud adalah serangkaian upaya perencanaan, penataan, pemanfaatan, dan pengawasan terumbu karang yang menganut prinsip keseimbangan antara pemanfataan dan pelestarian.

Rangkaian upaya ini tentunya didasari pada kesesuaian dengan prinsip hukum yang berlaku serta pelibatan berbagai pihak yang berkepentingan.

B. Mengapa Buku Panduan RPTK diperlukan?

Dalam kegiatan COREMAP II tujuan umum CBM yang ditetapkan adalah: “menjamin ketersediaan ikan karang dan melestarikan habitatnya (yaitu terumbu karang), sebagai kekayaan dan modal utama pembangunan desa pesisir, secara berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penanggulangan

kemiskinan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan dalam penyelenggaraan pembangunan desa atau antar desa, serta peningkatan penyediaan sarana dan prasarana sosial ekonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.”

(3)

Tujuan umum ini kemudian dijabarkan menjadi tujuan khusus yaitu:

Memberdayakan masyarakat pesisir dan lembaganya di wilayah COREMAP agar mampu melestarikan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya melalui pengelolaan bersama dengan institusi pemerintah;

Meningkatkan pendapatan melalui diversifikasi usaha yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan layak untuk dibiayai; dan

Meningkatkan peran aktif pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pesisir dalam kerangka pengelolaan bersama perlindungan laut dan Daerah Perlindungan laut (DPL).

Pemahaman dan pengetahuan tentang suatu model pengelolaan merupakan kunci bagi keberlanjutan pelaksanaan pengelolaan tersebut. Pemahaman dan pengetahuan akan dapat dicapai dengan penumbuhan kesadartahuan masyarakat tentang segala aspek yang berkaitan dengan model pengelolaan, khususnya pengelolaan sumberdaya terumbu karang berbasis masyarakat. Hal ini karena model pengelolaan ini menuntut keterlibatan dan peran aktif masyarakat secara mandiri dalam setiap tahapan proses pengelolaan— yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan terumbu karang. Sehingga dalam setiap komponen kegiatan COREMAP, partisipasi aktif masyarakat dalam merehabilitasi, melindungi, dan melestarikan sumberdaya ekosistem terumbu karang sangat ditekankan.

Salah satu perwujudan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang dalam konteks kegiatan COREMAP adalah penyusunan suatu rencana pengelolaan terpadu bagi terumbu karang yang berbasis masyarakat yang dilengkapi dengan pelaksanaan sistem pemantauan dan pengawasan oleh masyarakat (SISWASMAS). Kegiatan ini dilakukan melalui jaringan kemitraan dan kerjasama stategis dari berbagai pihak yang dapat mendukung keberhasilan pengelolaan sumberdaya alam yang bernilai manfaat tinggi dan berkelanjutan.

(4)

Secara umum Buku Panduan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang ini—yang untuk selanjutnya disebut sebagai RPTK—disusun bagi pihak yang menginginkan informasi singkat mengenai kegiatan dan pendekatan kegiatan pengelolaan sumberdaya (terumbu karang) berbasis masyarakat dalam konteks kegiatan COREMAP II. Namun tujuan inti pengembangan Buku Panduan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang ini adalah: Sebagai arahan dan acuan praktis bagi pelaksana program COREMAP II khususnya pelaksana komponen CBM dalam penyelenggaraan penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang sesuai dengan tujuan dari program COREMAP, Sebagai sarana untuk menyamakan persepsi bagi seluruh pelaku program COREMAP dan berbagai pihak yang berkepentingan dalam penyelenggaraan penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). Buku ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari serangkaian buku panduan yang diterbitkan oleh COREMAP II/The World Bank. Rangkaian buku tersebut adalah:

1. Pengenalan Manfaat dan Fungsi Ekosistem Terumbu Karang dan ekosistem terkait, serta kondisi terumbu karang di Indonesia

2. Pembelajaran dan program-program pengelolaan sumberdaya laut berbasis masyarakat

3. Panduan Pengambilan Data dengan metode Rural Rapid Appraisal dan

Participatory Rural Appraisal

4. Panduan Penyusunan Regulasi Tingkat Desa 5. Panduan Pengorganisasian Masyarakat 6. Panduan Mata Pencaharian Alternatif

7. Panduan Jenis-jenis Penangkapan Ikan yang Ramah dan Tidak Ramah Lingkungan

8. Panduan Monitoring Berbasis Masyarakat 9. Panduan Penyusunan Daerah Perlindungan Laut 10. Panduan Pengelolaan Pusat Informasi

(5)

C. Buku Panduan untuk Siapa?

Target utama Seri Buku Pembelajaran Mandiri adalah para Fasilitator, yang kebanyakan adalah lulusan perguruan tinggi dan para Motivator Desa. Motiva-tor Desa merupakan kader pengelola terumbu karang di desa-desa di tujuh Kabupaten COREMAP II di Indonesia Timur. Tugas, fungsi, dan

tanggungjawab Fasilitator dan Motivator Desa dijabarkan secara eksplisit dalam Panduan Umum Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat. D. Cara Penggunaan Buku

Buku Panduan ini dibagi menjadi tiga bagian utama. Yang pertama adalah pengertian, komponen penunjang penyusunan, serta hal-hal yang terkait dengan materi pelaksanaan penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). Bagian kedua melingkup hal yang berkaitan dengan substansi RPTK, dan bagian ketiga adalah strategi dan tahapan pembuatan RPTK.

Buku ini ditulis secara khusus bagi pembaca target utama sebagai acuan dalam memberikan penyuluhan dan pelatihan dalam mengembangkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang berbasis masyarakat yang terpadi. Karenanya, informasi yang tersaji dalam buku ini bersifat ringkas dan dasar. Pihak-pihak yang memerlukan informasi dan pengetahuan yang lebih dalam tentang tema ini dapat membaca dan meneliti rangkaian dokumen kegiatan COREMAP yang lain.

(6)
(7)

A. Apakah Rencana Pengelolaan Terumbu Karang itu? Seperti telah dijabarkan sebelumnya, kegiatan penyusunan RPTK merupakan perwujudan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang. Penyusunan RPTK melingkup kegiatan perumusan, penyusunan, dan penetapan rencana strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang. Hasil dari kegiatan penyusunan ini adalah Dokumen Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di tingkat desa.

Rencana strategis yang dimaksud merupakan salah satu tahap kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang terpadu yang disusun bersama-sama Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang, yang selanjutnya disebut sebagai LPSTK, dan masyarakat dan dipandu oleh Motivator Desa, Fasilitator Masyarakat, dan Senior Training Officer (SETO)1. Berdasarkan visi dan sasaran yang dikembangkan masyarakat serta berdasarkan isu dan masalah spesifik yang ada di suatu lokasi, dirumuskan suatu program kerja pengelolaan terumbu karang terpadu yang terarah. Program kerja yang dihasilkan tersebut merupakan suatu kesepakatan antar berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program CBM – COREMAP.

B. Perangkat penyusunan RPTK yang diperlukan Ada serangkaian perangkat yang diperlukan dalam proses

penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang dan perangkat

2

B A B

Rencana Pengelolaan

Terumbu Karang

1 Untuk penjelasan rinci mengenai dasar teori tentang pengelolaan sumberdaya alam

berbasis masyarakat dapat dibaca di Seri Buku Panduan Pembelajaran Mandiri : Pembelajaran dari Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat.

(8)

yang disyaratkan ini sangat terkait dengan kegiatan lain dalam komponen CBM – COREMAP. Karenanya, keberhasilan kegiatan penyusunan RPTK ini akan sangat tergantung pada dilaksanakannya roses kegiatan CBM – COREMAP yang lain. Berikut ini adalah perangkat yang diperlukan dalam penyusunan RPTK:

1. Hasil pengkajian cepat (Rapid Rural Assessment—RRA), yang telah dilakukan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui secara cepat apa yang menjadi isu dan masalah dan bagaimana kondisi dalam suatu lokasi tertentu.

2. Hasil pengkajian partisipatif masyarakat (Participative Rural Assessment— PRA) yang telah dilakukan. Setelah RRA dilakukan, masyarakat kemudian dilibatkan dalam kegiatan pengkajian untuk mendapatkan informasi dan persepsi masyarakat mengenai kondisi sumberdaya alamnya. Informasi ini mencakup kondisi fisik, sumberdaya alam, sosial, ekonomi, serta budaya suatu lokasi tertentu. Hasil PRA berupa profil desa, kampung, dan/atau pulau.

3. Informasi dan panduan pelaksanaan kedua kegiatan ini (RRA dan PRA), tersaji dalam Seri Buku Panduan Pembelajaran Mandiri CBM –

COREMAP II.

4. Hasil studi dasar (baseline study) dan monitoring CRITC yang telah dilakukan

5. Peta-peta tematik yang telah didigitasi seperti peta Rencana Strategis Pengelolaan Terumbu Karang yang Berkelanjutan. (DAPATNYA DARI MANA?)

6. Draft Perencanaan Strategis Pengelolaan Perikanan secara berkelanjutan. (DAPATNYA DARI MANA?)

7. Referensi yang relevan dalam pembuatan suatu rencana pengelolaan perikanan, baik dari aspek legal maupun aspek teknis. Referensi ini

mencakup buku-buku, majalah, paper, brosur, dan/atau publikasi lain yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam terumbu karang. 8. Alat tulis dan alat penyajian dan diskusi (seperti papan tulis, flip chart, dan

(9)

C. Stakeholders yang terlibat

Seperti telah dikemukakan, keterlibatan aktif dari pihak-pihak yang

berkepentingan sangat diperlukan dalam penyusunan RPTK. Pihak-pihak yang perlu terlibat dalam kegiatan pembuatan RPTK akan berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Namun demikian, secara umum, pihak-pihak yang terlibat antara lain adalah:

1. Kepala Desa/Kampung

2. Badan Perwakilan Desa (BPD)/BAPERKAM – Badan Perwakilan Kampung

3. Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) 4. Nelayan dari berbagai cara penangkapan (budidaya atau tangkap)

5. Pengumpul/penggarap hasil sumberdaya alam terumbu karang, bakau, dan padang lamun

6. Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang telah terbentuk –Motivator Desa 7. Fasilitator Masyarakat dan SETO

8. Pengamat Karang (Reef Watchers) 9. Anggota masyarakat desa secara umum

10. Komponen lain sesuai dengan kekhasan kelembagaan masing-masing daerah (misalnya: di Kabupaten Selayar ada lembaga penyelesaian konflik yang disebut Qadi atau di Kabupaten Biak berlaku Lembaga Adat dan Gereja).

Keterlibatan para pihak di atas (stakeholders) tidak lain untuk memastikan tercapainya sasaran kegiatan dan keberlanjutan pengelolaan terumbu karang.

(10)
(11)

A. Sistematika dokumen RPTK yang diharapkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang merupakan dokumen yang sangat penting dan diperlukan bagi tercapainya ketersediaan sumberdaya ikan karang dan kondisi terumbu karang sebagai habitatnya yang lestari. Hal ini karena dokumen ini merupakan dasar dari rangkaian pelaksanaan kegiatan pengelolaan

sumberdaya terumbu karang berbasis masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai bahan acuan, dokumen ini merupakan bukti kesepakatan dan komitmen para pihak yang berwenang dan bertanggung jawab atas kelestarian terumbu karang tersebut. Karena pentingnya dokumen ini, RPTK harus mencakup

informasi yang diperlukan bagi komponen pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat. Setidaknya, setiap dokumen RPTK harus mencakup hal-hal berikut:

1. Gambaran Umum (Profil) Desa

2. Isu-isu pokok pengelolaan terumbu karang terpadu 3. Visi pengelolaan terumbu karang

4. Sasaran/target yang ingin dicapai

5. Strategi dan jenis jenis kegiatan yang akan dilakukan 6. Organisasi pelaksana

7. Waktu pelaksanaan dan biaya yang dibutuhkan B. Substansi Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Berdasarkan sistematika yang telah dijabarkan di muka, suatu rencana pengelolaan terumbu karang harus mencakup materi yang diperlukan bagi keberhasilan pengelolaan itu sendiri. Ada

beberapa substansi yang perlu termuat dalam Rencana Pengelolaan Terumbu Karang serta tahapan teknis yang perlu

Dokumen Rencana Pengelolaan

Terumbu Karang

3

B A B

(12)

dilakukan. Substansi tersebut dan tahapan teknis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penataan Wilayah atau Sistem Zonasi/Permintakatan

Wilayah laut dan pantai dalam kawasan lokasi program COREMAP memiliki sumberdaya laut yang kaya. Potensi-potensi sumberdaya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan berbagai cara. Pemanfaatan yang dapat

dipertimbangkan antara lain adalah pengelolaan perikanan jangka panjang yang berkelanjutan dan kegiatan pariwisata (yang berkelanjutan tentunya). Dalam kondisi tekanan pembangunan ekonomi dan meningkatnya harapan masyarakat yang menjadi ikutannya, tidak ada pengelolaan yang dapat bertahan dalam kurun waktu yang panjang tanpa pengelolaan yang perencanaannya dipahami dan disetujui masyarakat pengguna sumberdaya alam tersebut. Tingkat resiko pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebih karena tidak adanya pengelolaan jangka panjang ini dapat ditengahi dengan rencana pengelolaan yang dapat memfasilitasi pemanfaatan dan perlindungan sumberdaya alam, khususnya terumbu karang.

Seperti halnya pengelolaan sumberdaya alam yang lain, berbagai bentuk kepentingan dan pemanfatan sumberdaya terumbu karang, memerlukan perencanaan tata ruang yang dapat mengalokasikan pemanfaatan dalam daerah tertentu dalam suatu kawasan serta dampak yang ditimbulkan pada daerah-daerah lain yang terkait. Penataan ruang dapat menghasilkan suatu

pemintakatan berdasarkan kegiatan PRA yang telah dilakukan.

Dalam kegiatan pengkajian partisipatif (PRA) dapat diidentifikasi daerah-daerah yang memiliki karakter dan sifat yang khusus. Karakter yang khas ini kemudian menjadi dasar dari pemintakatan yang dikembangkan dalam rencana pengelolaan. Sebagai contoh, ada daerah yang memiliki keanekaan karang dan ikan hias yang tinggi, ada daerah yang telah menjadi lokasi penangkapan ikan untuk umpan, atau ada daerah dimana masyarakat biasanya memancing Ikan Sunu, dan sebagainya. Kondisi daerah yang berbeda-beda dan khas tersebut

(13)

harus tersaji dalam rencana pengelolaan dalam bentuk penataan ruang (baca: pemintakatan), sehingga kelestarian sumberdaya dan pemanfaatan dapat berkelanjutan.

Penataan ruang berdasarkan hasil PRA, masukan-masukan, dan diskusi masyarakat serta hasil analisis tim perumus (lihat bagian tahapan penyusunan dokumen RPTK) akan menjadi dasar bagi kegiatan konservasi dan

pemanfaatan yang berkelanjutan. Beberapa kategori yang penting untuk dipertimbangkan dalam rencana pengelolaan adalah sebagai berikut: Wilayah pemanfaatan tradisional (untuk kegiatan wisata, lokasi pemacingan umpan, dan lain-lain),

· Wilayah pengembangan budidaya laut (rumput laut, kerang, pembesaran ikan, dan lain-lain)

· Wilayah perlindungan sumberdaya alam (seperti daerah perlindungan laut, bakau, dan sebagainya) berbasis masyarakat atau wilayah konservasi masyarakat, dan

· Wilayah yang menjadi jalur transportasi perairan ke pedalaman desa atau pulau.

· Penataan wilayah melalui sistem zonasi ini, selain mengatur pola

pemanfaatan sumberdaya laut yang tersedia agar berkelanjutan juga dapat menjadi alat pencegah sengketa mengenai lokasi pemanfaatan antar pengguna sumberdaya alam, dari dalam maupun dari luar suatu daerah tertentu.

2. Sistem dan Mekanisme Pengelolaan

Kompilasi peta wilayah merupakan hasil tahap awal dari proses penyusunan RPTK. Keberadaan pengelolaan wilayah tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap masyarakat dan ekosistem terumbu karang itu sendiri, bila pengelolaan tersebut tidak dipahami dan tidak diketahui oleh masyarakat yang dituju. Karena itu, pemahaman dan penerimaan (acceptance) masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Sehingga masyarakat dapat paham dan

(14)

menyetujui kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana yang dibuat, paham tentang bagaimana pengawasan pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersbeut, dan hal-hal lain yang harus diatur dalam pelaksanaan sistem zonasi (pemintakatan) yang telah dibuat.

Dengan demikian, sistem dan mekanisme pengelolaan harus tersaji secara jelas dan eksplisit dalam RPTK ini. Dalam bagian sistem dan mekanisme

pengelolaan, RPTK harus secara rinci membahas hal-hal mengenai antara lain: a. Jenis kegiatan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam

zona yang telah ditetapkan,

b. Jenis alat tangkap yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam masing-masing zona,

c. Jenis biota laut yang boleh dan tidak boleh ditangkap atau dimanfaatkan (jenis biota laut yang dapat dimanfaatkan secara terbatas),

d. Definisi kawasan konservasi (minimum 10 % daerah terumbu karang), e. Jalur transportasi tradisional yang boleh dilewati, dan

f. Tata cara pengelolaan dan menjalankan sistem zonasi.

Perangkat kelembagaan atau organisasi sangat dibutuhkan agar sistem dan mekanisme pengelolaan yang dikembangkan dapat berdaya guna dan berhasil guna. Kelembagaan atau organisasi ini akan berperan menjadi pelaksana RPTK dan memiliki sebuah kerangka tata hubungan kerja antar unsur di tingkat desa atau pulau. Lembaga ini disebut sebagai Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK)

Komponen-komponen dalam struktur kelembagaan pelaksana RPTK sebaiknya terdiri dari unsur Pemerintahan Desa (Kepala Desa, Badan Perwakilan Desa, dan Qhadi – di Selayar) dan kekuatan masyarakat seperti LKM (APA INI?), Kelompok Masyarakat, dan lain-lain.

Selanjutnya, masing-masing unsur yang terlibat dalam struktur pelaksana RPTK maupu terlibat dalam tata hubungan kerja, harus memiliki gambaran tugas

(15)

masing-masing, seperti yang tercantum dalam penjelasan kelembagaan RPTK yang secara jelas menjabarkan tugas dan tanggung jawab atas suatu komponen atau bagian kegiatan pengelolaan (siapa yang melakukan apa). Pembagian tugas seperti ini dimaksudkan agar sikap dan rasa tanggung jawab dapat tumbuh dengan baik. 3. Perencanaan Program

Program-progam kegiatan sangat dibutuhkan untuk melaksanakan RPRK dan untuk memastikan bahwa tujuan RPTK tercapai. Program-program kegiatan ini pada dasarnya merupaka into dari Rencana Pengelolaan Terumbu Karang. Setiap komponen program kegiatan yang dikembangkan harus dirumuskan berdasarkan tujuan utama pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat, yaitu menjamin ketersediaan sumberdaya ikan karang serta (menjaga) habitat yang diperlukannya, yaitu terumbu karang. Program-program yang harus tercakup dalam RPTK adalah program yang dianggap dapat mendukung visi dan misi desa atau pulau. Program-program tersebut sedikitnya adalah: a. Program konservasi dan penyadaran masyarakat,

b. Program peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat, c. Program penentuan daerah perlindungan laut masyarakat (DPL) d. Program pengembangan Mata Pencaharian Alternatif (MPA), yang

direkomendasi oleh masyarakat,

e. Program peningkatan mutu pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan jender, f. Program Pembangunan Prasarana Pendukung RPTK.

Pelaksanaan setiap rencana program yang disusun dalam RPTK dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pihak terkait berdasarkan kapasitas dan kompetensinya. Sebagai contoh, program-program yang bersifat pengawasan dan penegakan hukum, misalnya, akan didukung oleh aparat penegak hukum formal (polisi, jagawan, angkatan bersenjata – AL atau AD). Sementara program-program yang lain yang membutuhkan biaya yang relatif besar akan didukung oleh pihak-pihak penyandang dana atau Pemerintah Kabupaten melalui unit-unit kerjanya atau mungkin juga dari pihak ketiga seperti dari COREMAP melalui Dana Bantuan Desa (Village Grant).

(16)

4. Sanksi

Hal yang paling berpengaruh pada kesuksesan sebuah perencanaan, terutama perencanaan yang dibangun atas kesepakatan berbagai pihak, adalah

konsekuensi dari kesepakatan tersebut yang biasanya dituangkan dalam bentuk sanksi. Biasanya, ketaatan masyarakat atau pihak-pihak lain terhadap aturan atau kesepakatan yang dibangun tergantung dari penegakkan aturan dan kesepakatan dan pelaksanaan sanksi yang disepakati tersebut bila pelanggaran terhadap aturan dan kesepakatan terjadi. Semakin longgar pelaksanaan sanksi, aturan dan kesepakatan yang dibuat akan semakin rapuh dan lemah. Sebaliknya, semakin konsisten penerapan sanksi pelanggaran, semakin kuat peraturan dan

kesepakatan yang dibangun tersebut.

Untuk memastikan bahwa materi yang terkandung dalam sanksi yang dibangun diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan, sanksi yang dibangun tersebut sebaiknya bersumber dari kearifan dan pengetahuan setempat yang telah lama dianut dan dilaksanakan masyarakat. Demikian pula aturan baru yang dikembangkan semestinya berlandaskan pada pengetahuan, pengalaman, serta proses berfikir masyarakat.

Penerapan sanksi semestinya dilakukan dengan pola bertingkat yang akan tergantung pada bobot pelanggaran yang dilakukan. Dalam RPTK, harus disepakati dan diatur jenis-jenis pelanggaran yang dapat diselesaikan di tingkat desa atau pulau atau diselesaikan pada tingkat yang lebih tinggi. Sebagai contoh, pelanggaran terhadap daerah perlindungan laut atau kawasan konservasi masyarakat, seperti nelayan yang memasuki wilayah-wilayah yang tertutup bagi pemanfaatan. Penerapan sanksi untuk pelanggaran ini dapat dilaksanakan oleh penanggung jawab pelaksana RPTK setempat. Namun untuk pelanggaran yang bersifatnya kriminal terhadap lingkungan dan memiliki bobot yang lebih berat seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak atau bahan pembius seperti potassium sianida, penanggung jawab pelaksana RPTK akan dan harus melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum formal setempat.

(17)

4

B A B

Penyusunan suatu rencana, terlebih perencanaan pengelolaan terumbu karang yang berbasis masyarakat, memerlukan

serangkaian proses yang tidak dapat dipersingkat. Hal ini karena sifat sumberdaya terumbu karang yang menjadi bagian dari rangkaian ekosistem yang kompleks serta jumlah pihak yang berkepentingan pada sumberdaya ini sangat beragam sehingga kepentingannya beragam pula. Karena dokumen ini merupakan bukti kesepakatan dan komitmen pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sumberdaya terumbu karang, RPTK merupakan

dokumen strategis dalam pencapaian tujuan pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan.

A. Strategi penyusunan

Dalam penyusunannya, keterlibatan seluruh pihak harus dapat diakomodasikan untuk memastikan bahwa pihak-pihak yang berkepentingan tersebut berperan serta dalam pengelolaan. Pada kenyataannya, melibatkan seluruh pihak dalam penyusunan suatu rencana bukan hal yang mudah. Diperlukan mekanisme proses yang bersifat pengelompokan pihak-pihak yang berkepentingan tersebut. Dalam pelaksanaannya ada beberapa komponen yang harus dibentuk yang memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda untuk memudahkan pengakomodasian kepentingan yang ada. Komponen dalam penyusunan ini antara lain adalah:

1. SETO dan Fasilitator Masyarakat. SETO dan Fasilitator Masyarakat dipiih dan direkrut oleh COREMAP II yang tugas dan fungsinya dijelaskan secara rinci dalam dokumen Panduan Umum CBM –COREMAP II.

Strategi dan Tahapan Penyusunan

(18)

2. Tim inti Penyusunan RPTK, atau Tim Inti, tingkat desa, yang terdiri dari anggota LPSTK

3. Tim pendukung Penyusunan RPTK, atau Tim Pendukung, tingkat desa yang terdiri dari Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) atau Badan Perwakilan Kampung (BAPERKAM)

Secara umum, mekanisme penyusunan RPTK adalah sebagai berikut:

1. SETO dan Fasilitator Masyarakat memfasilitasi pembentukan tim inti dan tim pendukung penyusunan RPTK tingkat desa.

2. Tim Inti dan Tim Pendukung yang telah terbentuk kemudian menyusun jadwal dan agenda penyusunan RPTK.

3. Tim Inti kemudian melakukan penggalangan input dari berbagai pihak yang berada di desa/kampung/pulau, termasuk pendatang yang melakukan aktivitas penangkapan, perdagangan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan metode diskusi dusun (kampung), interview, atau pengamatan langsung.

4. Sejalan dengan itu, Tim Pendukung melakukan konsultasi dengan berbagai pihak terutama dengan pihak yang banyak terkait dengan biota laut, pengelolaan sumberdaya berkelanjutan, aspek legal, teknis, dan lain sebagainya pada tingkat Kecamatan dan Kabupaten,

5. Tim Inti melakukan validasi data dan informasi yang terkait dengan aspirasi/kepentingan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang, dan selanjutnya mengkonsultasikan hasil proses validasi ini dengan Tim Pendukung. 6. Tim Inti dan Tim Pendukung kemudian melakukan verifikasi, kompilasi,

serta penyelarasan data dan informasi yang akan menjadi sebagai bahan-bahan dan dimasukkan ke dalam draft RPTK.

7. Draft yang telah tersusun selanjutnya disosialisasikan dan dikonsultasikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan umpan balik, melalui lokakarya tingkat desa.

8. Setelah mendapat masukan dari masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, Tim Inti dan Tim Pendukung melakukan revisi secara akomodatif

(19)

berdasarkan masukan yang diperoleh tersebut.

9. Tim Inti dan Tim Pendukung kemudian meminta bantuan kepada SETO, Fasilitator Masyarakat, dan Project Management Unit COREMAP II untuk penyesuaian redaksi, sistematika, substansi, dan lain-lain yang diperlukan dalam RPTK, dan

10. RPTK disahkan menjadi suatu aturan formal melalui Surat Keputusan tentang Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat yang diterbitkan oleh Kepala Desa.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, proses penyusunan RPTK membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang. Pengalaman dari kegiatan yang telah dilakukan, diperlukan waktu sekitar enam hingga sembilan bulan untuk menyelesaikan suatu rencana pengelolaan sumberdaya, khususnya sumberdaya terumbu karang. Hal ini karena beragamnya hal-hal yang perlu diatur dalam RPTK, beragamnya pemangku kepentingan yang memiliki aspirasi yang berbeda-beda untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ekosistem terumbu karang. Secara rinci, tahapan dan jenis kegiatan yang dilakukan dalam proses penyusunan disajikan dalam bagian berikut ini (B. Tahapan Penyusunan) B. Tahap Penyusunan

Secara rinci, tahap penyusunan RPTK terdiri dari sejumlah kegiatan yang terkait satu sama lain. Tahap penyusunan RPTK terdiri rangkaian kegiatan sebagai berikut dan dapat dilihat dalam Gambar 1.

(20)

Tahap penyusunan RPTK di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Sosialisasi dan penyebarluasan

Untuk memastikan bahwa tujuan pengelolaan terumbu karang dapat tercapai, masyarakat harus mengetahui dan memahami pentingnya sumberdaya

ekosistem terumbu karang. Pemahaman bahwa sumberdaya ini harus dikelola secara baik, untuk dimanfaatkan saat ini dan pada masa depan oleh generasi yang akan datang, harus selalu disampaikan, secara terus menerus, dan dengan berbagai cara. COREMAP hadir untuk mendukung dan memfasilitasi masyarakat agar pemahamannya mengenai ekosistem terumbu karang dan pengelolaannya semakin meningkat, kapasitasnya semakin baik, jaringan kemitraannya semakin luas. Dengan demikian masyarakat akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya untuk mengelola sumberdaya secara efektif, dan dapat menjamin keberlanjutannya. Dengan menyusun perencanaan strategis sumberdaya dalam bentuk Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK), masyarakat dapat mengelola sumberdaya secara sistematis, fokus, dan berdaya guna.

Dengan penyebarluasan informasi melalui sosialisasi dan penyebarluasan tentang COREMAP dan RPTK, diharapkan masyarakat secara perlahan mempertimbangkan kepentingan ekosistem terumbu karang, pengelolaannya, serta kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan pengelolaan tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupannya.

2. Pembuatan Profil Desa/Kampung

Data dan informasi tentang kondisi sosial dan sumberdaya dalam suatu lokasi merupakan bahan-bahan yang amat diperlukan dalam penyusunan RPTK pada lingkup desa/kampung. Membangun dan menyusun profil desa/kampung merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data dan informasi tentang kondisi obyektif di suatu desa. Pembuatan profil desa/kampung harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat, dengan

(21)

pertimbangan bahwa masyarakat setempatlah yang memiliki banyak informasi dan paling mengenali desa/kampungnya. Selain itu, pendekatan yang

partisipatif dapat membangun rasa kepemilikan terhadap sumberdaya alam serta dapat membantu membangun kepercayaan masyarakat yang sangat diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan pengelolaan terumbu karang tercapai. Pembuatan profil desa/kampung dilakukan dalam dengan metode pengkajian partisipatif (PRA) dan analisis ekosistem laut.

3. Pembentukan Tim Penyusun

Data dan informasi serta berbagai kepentingan harus diakomodasi dan dikelola secara baik, sehingga hal-hal yang penting yang berkaitan dengan segala aspek pengelolaan terumbu karang dapat termuat dalam RPTK. Untuk itu, dibentuk tim penyusun yang terdiri sekitar 7 – 10 orang oleh LPSTK. Tim ini akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan aspirasi, mengkompilasinya, menyimpulkan, dan mengolah bahan-bahan yang akan dijadikan komponen penting dalam RPTK. Tim ini akan melakukan diskusi tingkat dusun, diskusi tingkat lingkungan, dan diskusi tingkat desa/kampung untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya data dan informasi.

4. Membuat Draft RPTK

Data dan informasi yang tepat dan akurat merupakan tulang punggung suatu perencanaan. Tanpanya, suatu rencana, termasuk rencana pengelolaan, tidak akan mendapatkan legitimasi dan kredibilitas, dan lebih lanjut tujuan

pengelolaan tidak dapat tercapai. Data dan informasi serta aspirasi masyarakat dan pihak lainnya yang telah terkumpul kemudian diolah, diverifikasi, dan divalidasi. Selanjutnya data dan informasi tersebut dibangun menjadi sebuah dokumen Rencana Pengelolaan Terumbu Karang yang sesuai dengan

sistematika yang telah dikembangkan (lihat Bab III). Penyusunan draf RPTK dilakukan melalui pembahasan umum oleh tim yang dibantu dan dipandu oleh SETO, Fasilitator Masyarakat, dan Motivator Desa. Selanjutnya, SETO dan Fasilitator Masyarakat akan memfasilitasi pembuatan dokumen RPTK, dengan

(22)

berkonsultasi dengan konsultan-konsultan COREMAP, terutama konsultan pengelolaan perikanan dan konsultan hukum dan perundangan, terkait dengan substansi dan teknik penulisan dokumen.

5. Konsultasi Publik dan Revisi Akomodatif

Dokumen RPTK yang telah disusun dalam bentuk draf akan disosialisasikan kepada khalayak umum melalui musyawarah desa yang dihadiri oleh unsur pemerintah desa, BPD, kelompok masyarakat, aparat hukum lokal, petugas teknis instansi, dan lain-lain. Agenda utama musyawarah desa ini adalah penyampaian/presentasi RPTK oleh tim penyusun. Acara akan dipandu oleh SETO/Fasilitator Masyarakat/Motivator Desa. Semua tanggapan, masukan, dan kritik, kemudian akan dicatat oleh tim penyusun yang kemudian akan melakukan analisis untuk menentukan hal-hal yang perlu dimasukkan ke dalam dokumen RPTK sebagai revisi.

6. Persetujuan dan Pengesahan

Hasil revisi dokumen akan dibahas kembali secara mendalam oleh tim penyusun, Kepala Desa, dan BPD melalui rapat konsultasi. Kepala Desa dan BPD akan membahas substansi RPTK dan hal-hal yang lain yang terkait dengan proses pengesahaannya. Apabila materi-materi RPTK telah disepakati, Kepala Desa akan mengesahkan RPTK atas persetujuan BPD menjadi lembar desa sebagai salah satu pedoman pembangunan tingkat desa.

7. Monitoring dan evaluasi

Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan pada setiap tahap kegiatan dalam proses penyusunan RPTK. Potensi-potensi bias/penyimpangan terhadap tujuan dan kesepakatan yang telah dibangun bersama dalam satu kegiatan dan proses dapat muncul dalam kondisi apapun. Banyaknya bias, yaitu keputusan

pengelolaan yang berdasarkan pada satu aspek kepentingan, akan menyebabkan kualitas dokumen rendah dan tidak memiliki kredibilitas serta selanjutnya tidak dapat diterima oleh masyarakat. Bias pada setiap tahapan dan proses dapat saja muncul karena kondisi-kondisi tertentu, misalnya pertemuan atau musyawarah

(23)

desa/kampung tidak mencerminkan perwakilan masyarakat, situasi yang kurang kondusif, sehingga masyarakat tidak dapat menyampaikan aspirasinya, dan lain-lain.

Kegiatan montoring dan evaluasi bertujuan untuk mendeteksi gejala-gejala terjadinya penyimpangan yang dimaksud agar dapat segera merancang dan melakukan upaya antisipatif, sehingga pelaksanaan setiap tahap kegiatan dan proses penyusunan RPTK berlangsung secara efektif.

Rencana pengelolaan merupakan dokumen yang memiliki tata aturan yang sistematis dan jelas, dengan demikian akan memudahkan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk memahami dan melaksanakannya. Sebelum menyusun/ membuat RPTK, masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam penyusunan RPTK perlu memahami kerangka fikir, struktur, dan alur penyusunannya. Sebagai gambaran, dalam lampiran 1 disajikan sebuah struktur dan alur penyusunan rencana pengelolaan terumbu karang, mulai dari mengidentifikasi isu hingga penyusunan kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang.

C. Strategi pelaksanaan penyebarluasan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang

Setelah RPTK selesai disusun dan disahkan secara formal, langkah penting selanjutnya adalah penyebaran informasi tentang RPTK, tujuan dan sasaran penyusunannya, kepentingannya bagi setiap pihak, dan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah disepakati. Dengan demikian, sehingga masyarakat dan para pengguna sumberdaya ekosistem terumbu karang dapat mengetahui, memahami, dan mematuhi segala ketentuan serta kegiatan yang diatur dan telah disepakati bersama.

Sebagaimana umumnya suatu proses komunikasi, penyebarluasan informasi RPTK terdiri dari tiga komponen utama yang berkaitan satu sama lain. Komponen komunikasi tersebut , yaitu:

(24)

1. Sumber informasi. Sumber informasi adalah pihak yang menyampaikan informasi. Karena RPTK merupakan dokumen yang disusun dan dimiliki oleh masyarakat, idealnya, yang menjadi sumber informasi adalah pihak masyarakat, terutama lembaga yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pengelolaan RPTK. Tentu saja, sasaran informasi (yang menerima informasi pada butir 3.) yang berbeda menuntut penyampai informasi yang berbeda pula, meskipun sumber informasinya sama.

2. Media informasi. Media informasi merupakan alat atau perangkat yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang sedemikian sehingga informasi yang disampaikan dapa mencapai sasaran (butir 3.) Beragam media informasi yang dapat digunakan. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

3. Sasaran informasi. Sasaran informasi adalah pihak yang menerima informasi. Dalam konteks RPTK, sasaran informasi adalah pihak yang diharapkan kemudian menjadi pihak yang dapat melaksanakan dan mentaati aturan dan kegiatan yang telah disepakati.

Dalam penyebaran informasi, ketiga komponen proses komunikasi ini tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Sasaran informasi yang berbeda akan menuntut media yang berbeda dan sumber informasi yang berbeda pula.

Penyampaian informasi (media informasi, butir b. di atas) dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1. Komunikasi langsung, metode ini secara langsung disampaikan kepada sasaran. Kegiatan ini bisa dalam bentuk penyuluhan, pelatihan, seminar, dialog, dan acara-acara sosial keagamaan lainnya,

2. Penggunaan media, metode ini menggunakan sarana bantu untuk

menyampaikan informasi kepada sasaran. Kegiatan ini bisa dalam bentuk pembuatan poster, brosur, factsheet, newsletter, jurnal dan lain-lain, 3. Kombinasi komunikasi publik dengan menggunakan media, metode ini

digunakan untuk menyampaikan informasi kepada sasaran yang berada dalam cakupan wilayah yang luas. Kegiatan ini bisa dalam bentuk, spot acara (talk show) radio, iklan radio, dan lain-lain.

(25)

Selain itu, komponen proses komunikasi, periode atau kurun waktu perencanaan dan pelaksanaan akan membentuk proses komunikasi yang berbeda. Bagi sasaran informasi yang sifatnya umum, seperti misalnya masyarakat luas di suatu wilayah perkotaan dan pedesaan, untuk kurun waktu pendek, yang diperlukan adalah media yang substansinya ringkas dan padat. Sehingga perangkat yang paling efektif digunakan misalnya poster dan/atau leaflet serta iklan radio. Sedangkan untuk masyarakat nelayan di lokasi tertentu, untuk jangka menengah, yang diperlukan adalah pendampingan atau pelatihan langsung mengenai pelaksanaan RPTK tersebut. Untuk jangka panjang, misalnya untuk anak-anak usia sekolah di lokasi COREMAP, yang diperlukan adalah muatan lokal dalam pengajaran formal.

Singkatnya, perencanaan penyebarluasan informasi RPTK harus bersifat menyeluruh. Tanpanya, informasi RPTK sulit untuk mencapai tujuannya. Contoh perencanaan komunikasi sederhana secara ringkas dapat dilihat dalam Tabel 1 dalam Lampiran 2.

Adapun teknis pelaksanaan penyebarluasan RPTK adalah sebagai berikut: 1. SETO, Fasilitator Masyarakat, dan Motivator Desa memfasilitasi LPSTK

untuk merencanakan kegiatan dan jadwal penyebarluasan RPTK, 2. SETO, Fasilitator, dan Motivator Desa memfasilitasi LPSTK

mengumpulkan bahan atau materi-materi RPTK yang akan disebarluaskan kepada masyarakat luas,

3. SETO, Fasilitator dan Motivator Desa memfasilitasi LPSTK menentukan jenis kegiatan yang akan digunakan untuk penyebarluasan RPTK,

4. LPSTK melakukan koordinasi dengan Kepala Desa dan BPD untuk menentukan bentuk penyebarluasan RPTK yang akan dilakukan, 5. Kepala Desa dan BPD mengundang pihak-pihak yang relevan dengan

materi-materi RPTK untuk menjadi narasumber,

6. Kepala Desa dan DPD mengundang masyarakat luas dan pihak-pihak terkait untuk menghadiri pertemuan/musyawarah desa/kampung, 7. SETO, Fasilitator Masyarakat dan Motivator Desa memfasilitasi proses

(26)

pertemuan/musyawarah desa/kampung, dimana dalam acara tersebut LPSTK akan menjelaskan materi-materi RPTK,

8. LPSTK atas bantuan SETO, Fasilitator Masyarakat dan Motivator Desa melakukan evaluasi dan analisis tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta pertemuan/musyawarah desa/kampung, dan

9. LPSTK menyusun rencana tindak lanjut untuk penguatan proses penyebarluasan RPTK.

Terjaminnya kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat setempat melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat.

Sasaran Jangka Panjang :

1. Seluruh areal terumbu karang yang ada telah ditata sesuai dengan fungsinya ke dalam zona pemanfaatan, pemanfaatan terbatas, zona lindung (10 % daerah terumbu karang) dan zona yang lain,

2. Tidak terjadi perusakan terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang, 3. Tersedianya lembaga keuangan mikro di desa/kampung sebagai penunjang

pelaksanaan usaha produktif masyarakat dan pengembangan perekonomian desa/kampung, dan

4. Penghasilan masyarakat meningkat. Sasaran Jangka Pendek :

1. Masyarakat dapat mengerti program- program pengelolaan terumbu karang,

2. Masyarakat dapat memahami arti penting ekosistem terumbu karang bagi lingkungan dan kehidupan manusia, dan

3. Masyarakat mulai tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan terumbu karang.

(27)

Sasaran Jangka Panjang :

1. Seluruh areal terumbu karang yang ada telah ditata sesuai dengan fungsinya ke dalam zona pemanfaatan, pemanfaatan terbatas, zona lindung (10 % daerah terumbu karang) dan zona yang lain,

2. Tidak terjadi perusakan terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang,

3. Tersedianya lembaga keuangan mikro di desa/kampung sebagai penunjang pelaksanaan usaha produktif masyarakat dan

pengembangan perekonomian desa/kampung, dan 4. Penghasilan masyarakat meningkat.

Sasaran Jangka Pendek :

1 . Masyarakat dapat mengerti program- program pengelolaan terumbu karang,

2. Masyarakat dapat memahami arti penting ekosistem terumbu karang bagi lingkungan dan kehidupan manusia, dan

3. Masyarakat mulai tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan terumbu karang.

SASARAN (STRATEGIS)

Terjaminnya kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat setempat melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat.

ISU-ISU

VISI

Lampiran 1:

(28)

Lampiran II:

RENCAN A PENYEB ARLU ASAN INFORMASI RPTK S um ber In fo rm as i M ed ia I nf or m as i S as ar an I nf or m as i Ja ngka Panj ang Gu ru s ek ol ah D inas P end id ik an Un iv er si ta s M ua tan L ok al at au m ua tan m at a pe la ja ra n fo rm al (b ia sa ny a bi ol og i d an/ at au s os ial ) Bu ku ,pub lik as i t ek ni s, al at pe ra ga y an g ber ka itan de nga n te ru m bu k ar ang d an pe ngel ol aa nny a Ju rn al S is w a s ek ol ah da sa r hi ng ga m enen gah a ta s M ahas is w a Jang ka Me neng ah LP TSK Fa si lit at or K ep al a D es a, P em im pi n In fo rm al la in P en da m pi ng an P el at iha n P en yul uh an Ba ha n da n m odu l pe la tih an dan pe ny ul uh an yang di pe rlu ka n ya ng te rk ai t d eng an e kos is te m te ru m bu ka ra ng d an pen ge lo la an ny a Ju rn al d an ne w sl et te r N el ay an P engu saha Ibu-ib u da n an ak -a na k K el om pok s os ial y ang a da di d es a se pe rti penga jia n, g er ej a K el om po k m as yar ak at y an g l ai n Ja ngka Pendek Fa si lit ato r D es a S ta f CO RE M A P K ep al a D es a, P em im pi n In fo rm al la in Si ar an be rit a, pe rm ai nan dan ta lk sh ow in te ra kt if di ra di o/ te le vi si Ar tik el k or an, m aj al ah , dan m ed ia m as a la in P os ter d an le af le t Ne w sl et te r

Gambar

Gambar 1. Tahap Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Kualitas Kehidupan Kerja ( Quality of Work Life ) dan

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Kelas IPA SLTA Bakti Ponorogo sebanyak 10 responden di dapatkan 6 responden atau 60 % Gejala

1 في" ةدام نع ةيبرعلا ةغللا ملعت جئاتن ةيقرت في سرهفلا ةقاطب ةقباطم ملعتلا ةيجيتاترسا قيبطت جناديرس ليد نياثلا ةيمسوحكا ةطسستمتا ةسسدرمتبا نياثلا

 Trigger SQL adalah pernyataan SQL atau satu set pernyataan SQL yang disimpan dalam database dan harus diaktifkan atau dijalankan ketika suatu event terjadi pada suatu

· Kebun pohon induk adalah kebun yang ditanami dengan beberapa varietas buah unggul untuk sumber penghasil batang atas (mata tempel atau cabang entres) untuk perbanyakan dalam

(2) Pengaturan gaji karyawan Perseroan diatur oleh Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan

Lakukan installasi GridFTP server pada mesin anto.ugm.ac.id dan hera.ugm.ac.id dengan langkah - langkah silakan mengacu pada dokumen quickstart globus toolkit. Pengujian

Data primer yaitu data yang dikumpulkan secara langsung selama penelitian meliputi konstruksi jaring (Lampiran 1), jenis spesies ikan hasil tangkapan utama dan