• Tidak ada hasil yang ditemukan

KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

www.inilah.com

KKP Tingkatkan Peran Penyuluh Perikanan

INILAH.COM, Jakarta - Dalam mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan, Kementerian KKP bersinergi tingkatkan peran penyuluh perikanan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan Panen Patin dan

Peluncuran Perdana Pengolahan Fillet Patin, Sabtu (6/4/2013) di Unit Pengolahan Ikan Fillet Patin, Desa Kemiking, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Salah satu alasan pemilihan tempat di Jambi, dikarenakan provinsi ini memiliki potensi sektor kelautan dan perikanan yang sangat besar. Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi Tahun 2010, provinsi ini memiliki luas laut dengan panjang pantai 44.496 km2, potensi perikanan budidaya air tawar dengan panjang sungai 1.740 km2, dan potensi kolam sebesar 6.550 ha.

Dari potensi tersebut, baru sekitar 60% yang dimanfaatkan secara optimal. Karena potensi yang dimiliki inilah, Jambi ditetapkan sebagai salah satu daerah industrialisasi yang terus didorong pengembangannya untuk menjadi salah satu sentra terbesar industri patin. Karena itu, pada acara tersebut, KKP memberikan sejumlah bantuan sektor kelautan dan perikanan bagi Provinsi Jambi yang diserahkan secara simbolis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C Sutardjo. Salah satunya merupakan bantuan pengembangan SDM kelautan dan perikanan senilai Rp1,55 miliar. Bantuan tersebut berupa pelatihan pada Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) dan bantuan penyelenggaraan penyuluhan yang terdiri dari 10 unit sepeda motor, 12 test kit, Bantuan Operasional Penyuluh (BOP) PNS bagi 62 orang, Honor Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) bagi 20 orang, bantuan penyuluh swadaya bagi 82 orang, 90 paket

penumbuhkembangkan kelompok pelaku utama, 5 buah jaket penyuluh perikanan, 10 paket alat komunikasi, 10 paket materi penyuluhan, dan 1 paket percontohan paket teknologi budidaya patin dalam rangka blue economy (demplot).

Sebagai rangkaian kegiatan kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan, sebelumnya dilakukan Temu Wicara dengan Penyuluh Perikanan Provinsi Jambi. Berdasarkan data terakhir dari Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Simluh KP) yang dikeluarkan oleh Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusluh KP) BPSDM KP, terdapat 74 orang Penyuluh perikanan di Kabupaten Muaro Jambi, yang terdiri dari 4 penyuluh PNS, 3 PPTK, dan 67 penyuluh swadaya. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 184 penyuluh perikanan se-Provinsi Jambi, yang terdiri dari 62 penyuluh PNS, 22 PPTK, 99 penyuluh swadaya, dan 1 penyuluh swasta. Pada temu wicara

tersebut, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Suseno Sukoyono, mengatakan penyuluhan kelautan dan perikanan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembangunan SDM, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan.

(2)

Peran dan keterlibatan penyuluh perikanan dalam pemberdayaan pelaku utama perikanan adalah sebagai konsultan bisnis, pendamping, serta mitra kerja pelaku utama dan usaha perikanan, promotor dan agent of change pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan di Provinsi Jambi. Selain sebagai ujung tombak dalam pendampingan pelaku utama perikanan, paradigma penyuluhan Perikanan saat ini adalah profesionalisme, agent of advocation bagi Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan, mitra sejati pelaku utama/pelaku usaha. Suseno juga menyampaikan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Rapat Koordinasi Nasional KKP, 19 Februari lalu, di Jakarta, bahwa dalam rangka pelaksanaaan prioritas pembangunan nasional, KKP telah menetapkan fokus pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2013.

Hal ini mencakup industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan blue economy; pengembangan kawasan Minapolitan melalui pelaksanaan Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan (PUMP), Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) dan PDPT; serta Program Nasional yang merupakan direktif Presiden RI yang harus didukung seperti Program Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Kelautan dan Perikanan dan program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) di 200 lokasi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), serta dalam rangka pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI), sesuai roadmap dan kriteria yang telah ditetapkan.

Karena itu, diperlukan pembekalan yang memadai kepada para penyuluh agar mereka memahami arah dan tujuan pembangunan yang akan dicapai. Menurut Suseno, untuk mencapai sasaran industrialisasi kelautan dan perikanan diperlukan sinergi pengembangan kebijakan minapolitan, industrialisasi dan blue economy baik yang diberikan oleh Pemerintah Pusat maupun daerah sebagai sasaran pembangunan kelautan dan perikanan. Hal ini dilakukan bersama melalui optimalisasi kawasan minapolitan sebagai basis wilayah dan kawasan serta penyiapan SDM pelaku utama dan aparatur/penyuluh daerah guna percepatan dan peningkatan nilai tambah dan daya saing serta pelaksanaan industrialisasi kelautan dan perikanan melalui pendekatan blue economy agar terwujud suatu ekonomi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

BPSDMKP akan pengembangan tambak/kolam percontohan yang akan dikelola secara penyuluh oleh para penyuluh dengan dukungan diseminasi tekonologi tepat guna yang dipersiapkan oleh Badan Litbang KKP, yang selanjutnya akan menjadi pusat informasi dan konseling dalam suatu kawasan tertentu untuk membantu para pelaku utama menyelesaikan beberapa masalah yang dihadapi didalam menjalani usaha yang dikembangkannya. Di samping pusat ini akan menjadi pusat pengembangan bagi para penyuluh untuk menjaga kedinamisan pengetahuan yang dimilikinya sehingga dapat terus menjadi narasumber bagi masyarakat yang membutuhkannya.

Suseno berharap dalam pesannya kepada para penyuluh, melalui kegiatan penyuluhan

ditumbuhkembangkan kemampuan dan kemandirian pelaku utama perikanan yang terdiri atas nelayan, pembudidaya ikan, pengolah dan pemasar ikan serta petambak garam dan keluarganya. "Tujuannya, agar mampu mengelola usaha kelautan dan perikanan secara produktif, efektif, dan efisien, sehingga mempunyai daya saing tinggi dengan bercirikan tingginya produktivitas, mutu, dan efisiensi usaha, karena kehadirannya dirasakan perlu oleh masyarakat," imbuhnya. [jin]

(3)

www.lagulagu.web.id

Penyuluh Perikanan Butuh Peningkatan

Kapasitas

MUARO JAMBI, KOMPAS.com – Kalangan penyuluh perikanan mendesak pemerintah untuk memberikan sejumlah program peningkatan kapasitas. Hal ini bertujuan supaya penyuluh dapat mendampingi masyarakat secara maksimal.

Koordinator Penyuluh Perikanan Kota Jambi, Nuraini mengatakan, pemerintah memiliki target besar untuk mendongkrak volume produksi. Pemerintah juga mendorong

berkembangnya industri pengolahan hasil perikanan.

Terkait itu, pihaknya meminta pemerintah untuk memberi sejumlah pelatihan yag

mendukung. “Misalnya saja, mengenai cara pengolahan hasil panen hingga upaya membuka pasar. Supaya kami bisa mendamping petani dengan lebih maksimal,” tuturnya, dalam temu wicara dengan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Suseno Sukoyono, di Desa Pudak, Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, Sabtu (6/4/2013).

Suseno mengatakan, ke depannya, penyuluh perikanan dapat mengambil peran penting tidak hanya dalam pendampingan budi daya ikan . Tenaga penyulu dapat menjadi konsultan keuangan mitra bank, sebagai akselerasi aksesibilitas permodalan bagi kelompok pelaku utama perikanan ke lembaga keuangan dan perbankan.

(4)

`http://www.infopublik.org

PUMP Propinsi Jambi Dapat Bantuan KKP

Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberi bantuan kepada Pemerintah Propinsi Jamb senilai Rp23,18 miliar untuk Pengembangan Usaha Mina

Pedesaan.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo kepada Gubernur Jambi di Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (6/4).

Menurut Sharif, dana sebesar Rp23,18 miliar tersebut diberikan untuk program

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) antara lain untuk Poklahsar sebanyak 27 Kelompok senilai Rp1,35 miliar, Sarana Prasarana Pemasaran Dalam Negeri sebesar Rp2,5 miliar, bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) untuk 30 KUB sebesar Rp3 miliar, bantuan untuk program Kapal Inka Mina sebanyak 5 unit senilai Rp7,5 miliar dan bantuan Kapal Pengawasan FRP 12 Meter senilai Rp1,65 miliar.

Selanjutnya KKP juga memberikan bantuan Handphone SMS Gateway diperuntukkan bagi Pokmaswas sebanyak 28 unit senilai Rp14 juta, bantuan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan senilai Rp1,5 miliar, bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) untuk 85 paket perikanan budidaya senilai Rp5,5 miliar serta bantuan Vaksin Edward Siealla Ichtaluri senilai Rp50 juta.(rm)

(5)

www.metrotvnews.com

Jambi Terima Bantuan Rp70 Miliar untuk Perikanan

Metrotvnews.com, Jambi: Provinsi Jambi menerima bantuan bernilai total Rp70 miliar dari pemerintah pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pengembangan sektor perikanan di daerah itu.

"Dengan bantuan ini, kami berharap pemerintah di Jambi bisa lebih mengembangkan dan meningkatkan potensi perikanan yang merupakan salah satu

sumber daya daerah sehingga kedepan bisa lebih mensejahterakan masyarakat," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutarjo di Muarojambi, Sabtu (6/4).

Menurut dia, total bantuan tersebut di antaranya untuk program pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) bagi 27 kelompok petani ikan senilai Rp1,35 miliar, sarana prasarana pemasaran dalam negeri senilai Rp2,5 miliar.

Kemudian Rp3 miliar untuk bantuan program PUMP untuk 30 kelompok unit budidaya (KUB), bantuan untuk program kapal Inka Mina sebanyak lima unit senilai Rp7,5 miliar dan bantuan kapal pengawasan FRP 12 meter senilai Rp1,65 miliar.

Selanjutnya, bantuan KKP berupa "handphone SMS gateway" yang diperuntukan bagi Pokmaswas sebanyak 28 unit senilai Rp14 juta, bantuan pengembangan SDM kelautan dan perikanan senilai Rp1,5 miliar, bantuan PUMP untuk 85 paket perikanan budidaya senilai Rp5,5 miliar serta bantuan vaksin Edward Siealla Ichtaluri senilai Rp50 juta.

"Dengan bantuan ini, saya sangat berharap bisa dimanfaatkan sebaik baiknya untuk

peningkatan produksi ikan dan untuk mendukung industrialisasi perikanan di Indonesia," ujar menteri lagi.

Ia menambahkan, salah satu industri perikanan yang tengah didorong adalah industri fillet patin serta tepung ikan. Dimana kebutuhan akan fillet patin baik lokal maupun luar negeri cukup tinggi.

Untuk terus mendorong upaya itu, bahkan, KKP telah menerbitkan Peraturan Menteri KKP nomor 15 tahun 2011 untuk menekan impor fillet patin yang sebagian besar didatangkan dari Vietnam.

"Dengan adanya industrialisasi perikanan ini, diharapkan juga bisa menjadi angin segar bagi para petani ikan, begitu juga menambah peluang kerja di daerah," tambahnya. (Ant)

(6)

http://jambi.tribunnews.com

HBA Terima Bantuan Senilai Rp 60,9 Miliar

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutarjo menyerahkan bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada Gubernur Jambi Hasan Basri Agus senilai Rp 60,9 miliar, Sabtu (6/4).

Bantuan itu diperuntukan untuk program pengembangan usaha mina Pedesaan (PUMP) Poklahsar 27 kelompok senilai Rp 1,35 miliar, sarana prasarana pemasaran dalam negeri Rp 2,5 miliar dan bantuan pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) untuk 30 KUB Rp 3 miliar.

Selain itu digunakan pula untuk program Kapal Ikan Mina sebanyak 5 unit

Rp 7,5 miliar dan bantuan Kapal Pengawasan FRP 12 meter Rp 1,65 miliar. Selanjutnya KKP juga memberikan bantuak handphone SMS Gateway diperuntukan bagi Pokmaswas sebanyak 28 unit senilai Rp 14 juta, bantuan pengembangan SDM kelautan dan perikanan senilai Rp 1,5 miliar, bantuan pengembangan usaha Mina Pedesaan (PUMP) untuk 85 paket perikanan budidaya Rp 5,5 miliar serta bantuan vaksin Edward Siealla Ichtaluri Rp 50 juta.

Gubernur Jambi Hasan Basri Agus menyambut baik bantuan dari KKP. Iapun berharap kehadiran UPI mampu memberikan dampak baik bagi pendapatan masyarakat maupun pengurangan angka pengangguran.

(7)

www.fokusjambi.com

Jambi Terima Bantuan Rp70 Miliar Pengembangan

Perikanan

FOKUSJAMBI.COM, - JAMBI, - Provinsi Jambi menerima bantuan bernilai total Rp70 miliar dari

pemerintah pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pengembangan sektor perikanan di daerah itu.

"Dengan bantuan ini, kami berharap pemerintah di Jambi bisa lebih mengembangkan dan meningkatkan potensi perikanan yang merupakan salah satu sumber daya daerah sehingga kedepan bisa lebih mensejahterakan masyarakat," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutarjo kepada wartawan usai peluncuran perdana unit pengelolaan ikan (UPI) patin di Desa Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Jambi, Sabtu.

Menurut dia, total bantuan tersebut diantaranya diperuntukan untuk program pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) bagi 27 kelompok petani ikan senilai Rp1,35 miliar, sarana prasarana pemasaran dalam negeri senilai Rp2,5 miliar.

Kemudian Rp3 miliar untuk bantuan program PUMP untuk 30 kelompok unit budidaya (KUB), bantuan untuk program kapal Inka Mina sebanyak lima unit senilai Rp7,5 miliar dan bantuan kapal pengawasan FRP 12 meter senilai Rp1,65 miliar.

Selanjutnya, bantuan KKP berupa "handphone SMS gateway" yang diperuntukan bagi Pokmaswas sebanyak 28 unit senilai Rp14 juta, bantuan pengembangan SDM kelautan dan perikanan senilai Rp1,5 miliar, bantuan PUMP untuk 85 paket perikanan budidaya senilai Rp5,5 miliar serta bantuan vaksin Edward Siealla Ichtaluri senilai Rp50 juta.

"Dengan bantuan ini, saya sangat berharap bisa dimanfaatkan sebaik baiknya untuk peningkatan produksi ikan dan untuk mendukung industrialisasi perikanan di Indonesia," ujar menteri lagi.

Ia menambahkan, salah satu industri perikanan yang tengah didorong adalah industri fillet patin serta tepung ikan. Dimana kebutuhan akan fillet patin baik lokal maupun luar negeri cukup tinggi.

Untuk terus mendorong upaya itu, bahkan, KKP telah menerbitkan Peraturan Menteri KKP nomor 15 tahun 2011 untuk menekan impor fillet patin yang sebagian besar didatangkan dari Vietnam.

"Dengan adanya industrialisasi perikanan ini, diharapkan juga bisa menjadi angin segar bagi para petani ikan, begitu juga menambah peluang kerja di daerah," tambahnya.(ant)

(8)

www.kompas.com

Penyuluh Perikanan Butuh Peningkatan Kapasitas

MUARO JAMBI, KOMPAS.com - Kalangan penyuluh perikanan mendesak pemerintah untuk memberikan sejumlah program peningkatan kapasitas. Hal ini bertujuan supaya penyuluh dapat mendampingi masyarakat secara maksimal.

Koordinator Penyuluh Perikanan Kota Jambi, Nuraini mengatakan, pemerintah memiliki target besar untuk mendongkrak volume produksi. Pemerintah juga mendorong berkembangnya industri

pengolahan hasil perikanan.

Terkait itu, pihaknya meminta pemerintah untuk memberi sejumlah pelatihan yag mendukung. "Misalnya saja, mengenai cara pengolahan hasil panen hingga upaya membuka pasar. Supaya kami bisa mendamping petani dengan lebih maksimal," tuturnya, dalam temu wicara dengan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Suseno Sukoyono, di Desa Pudak, Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, Sabtu (6/4/2013).

Suseno mengatakan, ke depannya, penyuluh perikanan dapat mengambil peran penting tidak hanya dalam pendampingan budi daya ikan . Tenaga penyulu dapat menjadi konsultan keuangan mitra bank, sebagai akselerasi aksesibilitas permodalan bagi kelompok pelaku utama perikanan ke lembaga keuangan dan perbankan.

(9)

www.antarajambi.com

Gubernur Jambi usul pendirian BP Kelautan dan Perikanan

...Hingga 2012 produksi perikanan di Jambi mencapai 92 ribu ton lebih atau meningkat sekitar 8,5 persen dibanding 2011 yang mencapai 85 ribu ton," kata Gubernur...

Jambi (ANTARA Jambi) - Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengusulkan adanya pendirian Balai

Pendidikan Kelautan dan Perikanan di Provinsi Jambi.

"Dengan adanya balai pendidikan kelautan dan perikanan dapat lebih mendorong peningkatan sektor perikanan di Jambi, yang memang memiliki potensi besar," ujar Gubernur saat menghadiri peluncuran perdana unit pengelolaan ikan (UPI) patin di Desa Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Jambi, Sabtu.

Menurut dia, potensi perikanan di Jambi sangatlah besar, dari data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat, Jambi memiliki luas laut dengan panjang pantai mencapai 44,496 kilometer persegi. Sementara potensi perikanan budidaya air tawar dengan panjang sungai mencapai 1.740 kilomter persegi, kemudian potensi kolam mencapai 6.550 hektare. Dari potensi itu, baru 60 persen yang bisa dimanfaatkan secara optimal.

"Hingga 2012 produksi perikanan di Jambi mencapai 92 ribu ton lebih atau meningkat sekitar 8,5 persen dibanding 2011 yang mencapai 85 ribu ton," kata Gubernur.

Dengan potensi besar itu, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar tepat dan ahli di bidangnya, khususnya untuk sektor perikanan.

Dengan adanya balai pelatihan di Jambi, tidak hanya penting untuk meningkatkan kinerja para penyuluh perikanan di Jambi yang baru berjumlah 184 orang dan tersebar di 12 kota/kabupaten, namun juga bermanfaat bagi para generasi muda yang ingin mendalami ilmu perikanan.

"Mudah mudahan usulan yang langsung disampaikan kepada bapak Menteri Kelautan dan Perikanan ini bisa terealisasi nantinya. Kami dari pemerintah provinsi siap mendukung dengan menyiapkan lokasi di Jambi," ujarnya lagi.

Sementara itu, Bupati Muarojambi, Burhanudin Mahir juga sangat berharap adanya balai pendidikan khusus kelautan dan perikanan di Jambi, mengingat potensi perikanan di daerahnya sangat besar. Namun, belum banyak termanfaatkan karena sumber daya manusia yang benar-benar ahli masih sedikit.

"Bisa nantinya lokasi balai pendidikan ini ada di kawasan Sungai Gelam yang memang sangat cocok

dengan potensi perikanannya," ujarnya.Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo

mengatakan, pihaknya mendukung adanya usulan tersebut, namun perlu kajian mendalam.

"Melihat besarnya potensi perikanan di Jambi, apalagi Jambi menjadi salah satu daerah percontohan perikanan di Indonesia, bisa saja ke depan dibangun lokasi Balai Pendidikan Kelautan dan

(10)

http://ekbis.sindonews.com

KKP dorong percepatan industrialisasi perikanan

Sindonews.com - Dalam rangka mendukung upaya percepatan

industrialisasi perikanan, termasuk ikan patin, Kementerian Kelautan dan

Perikanan (KKP) terus membenahi sektor hulu sampai hilir.

Menteri KKP, Sharif C Sutardjo mengatakan, cara mencapai hal tersebut, yaitu melalui penerapan teknologi, peningkatan kualitas SDM nelayan/pembudidaya dan pengolah, dan penyediaan sarana prasarana produksi perikanan. Sesuai mandat UU perikanan, pemerintah diminta mendorong

peningkatan nilai tambah perikanan.

Karena itu, KKP telah membangun proyek percontohan berupa UPI Fillet Patin di beberapa lokasi yaitu Jambi, Kampar-Riau, Karawang, Banjar, Tulungagung dan Purwakarta melalui dana APBN. Proyek percontohan ini diharapkan dapat memicu para pemangku kepentingan untuk meningkatkan produksi patin nasional.

"Saya mendapat laporan bahwa unit pengolahan fillet patin di Muaro Jambi telah dikerjasamakan dengan PT Indomaguro Tunas Unggul. Untuk itu saya minta UPI memproduksi fillet patin agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan mampu menggantikan produk patin impor," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (7/4/2013).

Menurutnya, program percepatan industrialisasi perikanan terpadu hulu sampai hilir sangat dibutuhkan peran dan dukungan dari pemangku kepentingan. Diantaranya, institusi permodalan terutama perbankan, kemitraan usaha dan dukungan yang penuh dari pemerintah daerah.

Contohnya, lanjut dia, adanya kerja sama Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), PT Indomaguro Tunas Unggul, PT Fresh On Time, dan Superindo yang telah menggagas, melaksanakan terwujudnya industri fillet patin terpadu hulu hilir di Muaro Jambi, bisa menjadi contoh untuk dikembangkan di wilayah lain.

"Saya berharap kerja sama ini akan berjalan lancar dan berhasil sehingga benar-benar bisa menjadi proyek percontohan industri perikanan terpadu hulu hilir di Indonesia," kata Sharif.

(11)

http://www.baratamedia.com

KKP Dorong Percepatan Industrialisasi

Perikanan

JAKARTA, BARATAMEDIA – Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan akan terus

membenahi sektor hulu hingga hilir dalam mewujudkan industrialisasi perikanan.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan terus mendukung upaya-upaya percepatan industrialisasi perikanan, itu dilakukan dengan membenahi sektor hulu sampai hilir,” kata Sharif Cicip Sutardjo dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan di Jakarta, Sabtu (06/04).

Untuk itu, lanjut Cicip, KKP telah membangun proyek percontohan berupa UPI (Unit Pengolahan Ikan) fillet patin di beberapa lokasi, yaitu Jambi, Kampar-Riau, Karawang, Banjar, Tulungagung, dan Purwakarta melalui dana APBN.

Selanjutnya, proyek percontohan ini diharapkan dapat memicu para pemangku kepentingan untuk meningkatkan produksi nasional.

“Saya berharap kerja sama ini akan berjalan lancar dan berhasil sehingga benar-benar bisa menjadi proyek percontohan industri perikanan terpadu dari hulu hingga hilir di Indonesia,” ujar Cicip.

Cicip juga mengemukakan bahwa hal tersebut, juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan.

Selain itu, menurut Cicip, KKP akan melakukan pembenahan-pembenahan melalui

penerapan teknologi, peningkatan kualitas SDM nelayan/pembudidaya dan pengolah, serta penyediaan sarana prasarana produksi perikanan. “Pemerintah akan mendorong peningkatan nilai tambah perikanan. Sesuai dengan mandat undang-undang perikanan,” tuturnya. (ali).

(12)

www.surabayapost.co.id

Jumlah Penyuluh Perikanan Masih

Kurang

JAMBI - Jumlah tenaga penyuluh perikanan masih belum memenuhi kebutuhan. Saat ini jumlah penyuluh hanya 8.092 orang, jauh di bawah jumlah ideal 15.350 orang. Banyak penyuluh yang bekerja dalam cakupan wilayah sangat luas.

Kepala Pusat Penyuluhan Kementrian Kelautan dan Perikanan Herman Suherman mengatakan, Sabtu (6/4/2013), ketersediaan penyuluh masih minim. Jumlah penyuluh perikanan pegawai negeri sipil mencapai 3.188 orang, sedangkan penyuluh perikanan swadaya 3.312 orang.

Sedangkan, penyuluh perikanan tenaga kontrak mencapai 1.400 orang, dan tenaga pendamping 192 orang.

"Idealnya jumlah penyuluh perikanan mencapai 15.350 untuk menjangkau seluruh daerah-daerah khususnya sentra perikanan dan kelautan," ujar Herman dilansir kompas.

Selain kekurangan tenaga, Herman melanjutkan, penyuluh yang ada pun belum betul-betul bisa melaksanakan tugasnya sesuai kebutuhan di masyarakat. "Saat ini, dengan semakin berkembangnya industri hasil perikanan dan kelautan menuntut tenaga penyuluh untuk menguasasi sektor tersebut. Tenaga penyuluh jangan hanya omdo, alias omong doang. Penyulu juga harus jadi pemain, agar benar-benar menguasai bidangnya," ujar Herman. kcm

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil isolasi yang telah dilakukan adalah cendawan endofit asal dari tanaman jagung, hasil identifikasi ditemukan 3 jenis cendawan yaitu: Aspergillus, Metaizium dan Beauveria..

Kendala lain yang dihadapi dalam pembenihan kelapa adalah buah yang memiliki sifat rekalsitran, yaitu tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama dikarenakan biji

Untuk itu diperlukan pengembangan pada sistem tersebut seperti menambahkan menu peminjaman dan pengembalian peralatan praktek, menu peminjaman peralatan praktek oleh

Lingkungan internal yang merupakan kekuatan dalam penyusunan strategi pengembangan makanan tradisional Bali pada hotel di kawasan Sanur secara berurutan sebagai

Nilai ekonomi total sumberdaya hutan yang dinilai di dalam penelitian ini adalah nilai manfaat tidak langsung, meliputi nilai ekonomi flora (rotan) dan fauna (madu),

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Pengaruh Kreativitas Mahasiswa dengan Keterampilan dalam Membuat Penataan Sanggul Menggunakan Rambut Tambahan

kegagalan dan uji coba, tapi itu sudah mendapat suatu respon yang baik dari masyarakat setempat. Suatu program dari kami dalam pembuatan produk dengan membuat pare crispy

Muncul permasalahan dari penerbitan Red Clause L/C ini, yaitu: faktor-faktor yang menjadi alasan pihak importir maupun eksportir untuk memilih pembayaran melalui pembukaan