• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN KELAS DIAMETER TERHADAP PROPORSI SEL KAYU AKASIA DAUN LEBAR (Acacia mangium Wild) Oleh/By AHMAD JAUHARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN KELAS DIAMETER TERHADAP PROPORSI SEL KAYU AKASIA DAUN LEBAR (Acacia mangium Wild) Oleh/By AHMAD JAUHARI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN KELAS DIAMETER TERHADAP PROPORSI SEL KAYU AKASIA DAUN LEBAR

(Acacia mangium Wild) Oleh/By

AHMAD JAUHARI

Program Studi Teknologi Hasil Hutan

Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

ABSTRACT

The aim of this research is to identify the pattern of wood anatomi structure of acacia wood (Acacia mangium Wild) based on the three level of elevetion and three level of diameter class.

The highest proportion value of tube cell of acacia wood that has the tree diameter 16-20cm and grow at 200-300m from the sea (the treatment A3B3)is

20.15%. The lowest proportion value of tube cell of acacia wood that grow at 100-200m from the sea and has the tree diameter 5-10cm (the treatment A2B1). The

lowest proportion value of fibre cell of acacia wood on the treatment A3B3 (the acacia

wood that grow at 200-300m from the sea and has the tree diameter 16-20cm) is 67.33%. The highest proportion value of fibre cell of acacia wood on the treatment A1B3 (the acacia wood that grow at 0-100m from the sea and has the diameter

16-20cm) is 76,09%. The highest proportion value of parenchyme cell of acacia wood that has the tree diameter 5-10cm and grow at 200-300m from the sea (the treatment A3B1) is 4.73%. And the lowest proportion value of fibre cell of acacia

wood on the treatment A2B1 (the acacia wood that grow on 100-200m from the sea

and has the tree diameter 5-10cm) is 3.44%. The lowest proportion value of radial cell of acacia wood on the treatment A1B3 (the acacia wood that grow at 0-100m

from the sea and has the tree diameter 16-20cm) is 6.29%, and the highest proportion value of radial cell of acacia wood that has the tree diameter 11-15cm and grow at 0-100m from the sea (the treatment A1B2)is 11.19%.

The proportion value of cell that near the top of Dadswell and Wardrop triangle is the acacia wood that grow at 0-100m from the sea and has the tree diameter 16-20cm. So, The acacia wood that grow at 0-100m from the sea and has tree diameter 16-20cm is good for raw material of pulp and paper.

Key word : Proportion of cell (tube, parenchyme and radial cell), Acacia wood Elevetion, tree diameter

Alamat korespondensi : Telp. +62511-4777229, e-mail : [email protected] PENDAHULUAN

Kertas sebagai suatu produk penting bagi manusia terutama di negara-negara maju. Hal ini dapat diketahui dengan semakin meningkatnya permintaan pasar akan kertas dari tahun ke tahun. Kertas berfungsi sebagai media komunikasi, produk pengepakan yang utama,

dasar produk yang dapat dibuang (tissue) dan bahan lembaran industri.

Kayu sampai saat ini masih digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang utama. Meskipun banyak penemuan lain yang menerangkan bahwa selain serat kayu juga dapat digunakan serat-serat non kayu seperti jerami,

(2)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

18 bambu, gelagah, rumput asparto,

daun pisang abaca dan lain-lain sebagai bahan baku pulp dan kertas. Tetapi rupanya kayu tetap digemari karena dapat memberikan 94% kebutuhan serat yang digunakan diseluruh dunia.

Pengenalan tentang anatomi akan memberikan gambaran tentang bagian-bagian kayu yang berbeda, sedangkan bentuk serat dinyatakan dalam panjang serat, diameter serat, tebal dinding serat dan diameter lumen merupakan parameter yang berperan dalam menentukan kekuatan ikatan antar serat dalam lembaran kertas (Departemen Perindustrian, 1988).

Salah satu sifat anatomi kayu yang sangat penting untuk keperluan bahan baku pulp dan kertas adalah informasi sel dan proporsi kayu. Informasi anatomi kayu merupakan salah satu dasar penilaian untuk

mengetahui kemungkinan penggunaan suatu jenis kayu.

Proporsi sel memberikan gambaran proporsi dari sel-sel parenkim, sel serabut dan sel pembuluh. Sedangkan dimensi serat memberikan gambaran tentang panjang serat, diameter serat dan tebal dinding sel yang akan menentukan kualitas serat. Penetapan kualitas serat ini diantaranya didasarkan pada nilai dimensi serat serta nilai turunannya yang diperoleh dari hasil pengukuran dan perhitungannya.

Kayu Akasia daun lebar mempunyai banyak kegunaan dan termasuk jenis kayu cepat tumbuh (fast growing spcies). Kayu Akasia ini

mudah tumbuh ditempat yang kurang subur dan tersebar dimana-mana. Departemen Kehutanan (1986) dalam Sabaraji (1987), mengatakan bahwa tanaman Akasia daun lebar memiliki pertumbuhan yang cepat dan mempunyai kegunaan cukup penting serta termasuk salah satu spesies yang digunakan dalam pembangunan HTI, karena mempunyai peran cukup penting dalam menunjang penyediaan bahan baku industri (industri pulp dan kertas). Kayu ini banyak digunakan untuk papan partikel, perabot rumah tangga dan untuk pulp dan kertas. Dalam pemanfatan untuk pulp dan kertas, maka parameter proporsi serat dan proporsi sel sangatlah penting dan berpengaruh.

Parameter proporsi sel memberikan gambaran proporsi dari sel-sel parenkim, sel serabut dan pembuluh. Penetapan kualitas serat ini diantaranya didasarkan pada nilai proporsi serat serta nilai turunannya yang di peroleh dari hasil pengukuran dan perhitungannya. Perbedaan karakteristik pertumbuhan pohon dapat mempengaruhi variasi serat pada kayu. Dengan adanya perbedaan ketinggian tempat maka

mempengaruhi perbedaan karakteristik pertumbuhan. Oleh

karena itu penulis mencoba meneliti variasi struktur anatomi kayu tersebut, yaitu proporsi sel.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola struktur anatomi kayu akasia daun lebar (Acacia mangium Wild) berdasarkan pengaruh ketinggian tempat yang berbeda dan kelas diameter.

METODE PENELITIAN

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian untuk pengamatan dan pengukuran parameter proporsi sel kayu Akasia daun lebar ini dilaksanakan di Laboratorium Anatomi Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan yakni dari bulan Desember 2007 sampai dengan Januari 2008, meliputi kegiatan pengambilan sampel sampai pembuatan dan pengukuran contoh uji, serta pengolahan data dan penyusunan laporan hasil penelitian.

(3)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

19 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan adalah:

1. Kayu Akasia yang berasal dari Daerah Kecamatan Karang Intan pada ketinggian tempat yang berbeda yaitu a. 0 - 100 m dpl dengan diameter 5 - 10 cm, 11- 15 cm dan 16 – 20 cm b. 100 - 200 m dpl dengan diameter 5 - 10 cm, 11- 15 cm dan 16 – 20 cm c. 200 - 300 m dpl dengan diameter 5 - 10 cm, 11- 15 cm dan 16 – 20 cm

2. Alkohol (C2H5OH) 70 %, Safranin

(C20H19OIN), Xylol (C8H10),

Canada balsam, Aquadest

Alat-alat yang digunakan adalah : Gergaji, parang, Pipet, Kaca objek dan kaca, Mikroskop elektrik, Mikrotom, Kamera, Kalkulator dan alat tulis menulis

Prosedur Penelitian

1. Pengambilan sampel di lokasi a. Menentukan lokasi studi dengan

menggunakan peta lokasi

b. Mencari pohon Akasia yang mempunyai umur kurang lebih seumur atau dengan dengan pendekatan diameter

c. Mengambil sampel dengan membuat koak pada pohon Akasia setinggi dada dengan tebal 5 cm sebanyak 3 buah, dan dilakukan pada 3 pohon dalam satu tingkat ketinggian. Pengambilan sampel yang sama pada 3 tingkat ketinggian tempat yang lain.

2. Di laboratorium a. Pembuatan preparat

Pembuatan preparat menurut Kasmudjo (1994) adalah

1. Membuat contoh uji berupa potongan kayu berbentuk kubus dengan ukuran yang sama yaitu 1 cm x 1 cm x 1 cm

2. Mengiris potongan kayu dengan menggunakan mikrotom dengan

ketebalan irisan 10 – 20 mikron, irisan yang diambil adalah irisan yang terbaik (tipis/tidak robek) 3. Merendam irisan dalam alkohol

selam 5 menit, kemudian mencelupkan lagi untuk menghalau adanya air dalam praparat

4. Merendam irisan dalam safranin kemudian mencelupkan lagi dalam alkohol agar warna preparat menjadi rata.

5. Mencelupkan preparat ke dalam xylol secara beulang-ulang dengan tujuan menghilangkan sisa alkohol dan gelembung udara yang ada

6. Meletakkan irisan dalam kaca objek lalu menutupnya dengan kaca penutup supaya tidak ada gelembung udara yang masuk dan memberikan canada balsam sebagai perekat dan pengawet. Sebelum menutup preparat proporsi sel dengan kaca penutup, preparat harus benar-benar bebas dari gelembung udara.

7. Melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop elektrik. b. Pengamatan dan Pengukuran

Penentuan proporsi tipe sel, berdasarkan luas masing-masing sel. Metode ini merupakan metode grid.

Dimana pengukurannya menggunakan box grid yang terdapat

pada lensa okuler di mikroskop. Metode box grid ini adalah metode yang menggunakan kisi transparan dengan ukuran masing-masing kotak berbentuk bujur sangkar, misalnya 5 x 5 mm = 25 mm2 (makin kecil ukuran kotak makin teliti).

Parameter proporsi sel yang diamati dan diukur adalah sel pembuluh, parenkim dan jari-jari. Sedangkan proporsi serat merupakan selisih dari komulatif proporsi sel yang ada.

Rancangan Penelitian

Rancangan yang dipakai adalah rancangan acak lengkap

(4)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

20 (RAL) dengan percobaan faktorial

yaitu perbedaan kelas diameter dan ketinggian tempat. Masing-masing jenis tanah diambil 3 pohon dimana setiap pohon diambil bagian pangkal setinggi dada sebagai contoh uji dan dalam satu pohon diambil 3 sampel. Dengan demikian jumlah sampel adalah 3x3x3 yaitu 27 sampel.

Perlakuan terdiri 2 Faktor yaitu :

a. Faktor A, yaitu ketinggian tempat terdiri dari.

A1 = 0 - 100 m dpl

A2 = 100 - 200 m dpl

A3 = 200 - 300 m dpl

b. Faktor B, yaitu ukuran diameter pohon terdiri dari.

B1 = diameter 5 – 10 cm

B2 = diameter 11 – 15 cm

B3 = diameter 16 – 20 cm

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proporsi Pembuluh

Hasil pengamatan dan pengukuran proporsi pembuluh pada

ketinggian tempat yang berbeda dan diameter yang berbeda disarikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Data hasil pengukuran dan perhitungan proporsi pembuluh (%)

Faktor A

(tinggi tempat) Ulangan

Faktor B (diameter) Jumlah Rata-rata B1 B2 B3 A1 1 16,20 13,52 15,44 45,16 15,05 2 16,32 15,44 16,88 48,64 16,21 3 13,48 16,16 17,12 46,76 15,59 Jumlah 46,00 45,12 49,44 140,56 46,85 Rata-rata 15,33 15,04 16,48 46,85 15,62 A2 1 14,42 15,44 19,00 48,86 16,29 2 14,40 16,76 13,32 44,48 14,83 3 14,96 15,12 22,12 52,20 17,40 Jumlah 43,78 47,32 54,44 145,54 48,51 Rata-rata 14,59 15,77 18,15 48,51 16,17 A3 1 16,40 15,36 20,56 52,32 17,44 2 13,28 18,08 18,16 49,52 16,51 3 15,40 13,76 21,72 50,88 16,96 Jumlah 45,08 47,20 60,44 152,72 50,91 Rata-rata 15,03 15,73 20,15 50,91 16,97

Untuk mengetahui pengaruh perbedaan ketinggian tempat dan diameter terhadap persentase proporsi pembuluhnya secara statistik, maka perlu dilakukan uji F atau analisis keragaman. Sebelum dilakukan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas

terhadap data persentase proporsi pembuluh pada ketinggian tempat dan diameter yang berbeda. Dari hasil perhitungan uji normalitas Liliefors membuktikan bahwa data menyebar normal, dimana Ki maksimum = 0,1516 lebih kecil dari Li tabel = 0,1808 (Li max < Li tabel). Uji homogenitas ragam Bartlett

(5)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

21 menunjukkan bahwa data homogen,

dimana X2 hitung = 12,069 kurang dari X2 tabel = 16,151 (X2 hitung < X2

tabel). Hasil analisis keragaman dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisis keragaman untuk persentase proporsi pembuluh Sumber Keragaman derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 8 77,621742 9,71 2,384ts 2,51 3,71 Faktor A 2 55,550129 27,775064 6,823** 3,55 6,01 Faktor B 2 8,304470 4,152235 1,020ts 3,55 6,01 Interaksi AB 4 13,767143 3,441786 0,846ts 2,93 4,58 Galat 18 73,269859 4,070548 Total 26 150,891602

Keterangan : ts = tidak berpengaruh signifikan * = berpengaruh signifikan Tabel 2 menyajikan tentang analisis keragaman untuk persentase proporsi pembuluh. Dari tabel tersebut terlihat pengaruh perlakuan ketinggian tempat (faktor A) memberikan perbedaan terhadap proporsi pembuluh Akasia yang sangat signifikan pada taraf 5% dan 1%, hal ini terlihat dari nilai F hitung yang lebih dari nilai F tabel (F hitung > F tabel). Sedangkan untuk perlakuan diameter (faktor B) dan interaksi kedua perlakuan (faktor AB) tidak memberikan perbedaan proporsi pembuluh yang signifikan pada taraf

5% dan 1%, hal ini terlihat dari nilai F hitung yang kurang dari nilai F tabel (F hitung < F tabel). Karena ketinggian tempat (faktor A) memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap proporsi pembuluh, maka dengan nilai koefisien keragaman (KK) 12,41% dilakukan uji lanjutan Duncan terhadap nilai rata-rata proporsi pembuluh untuk mengetahui perbedaan pengaruh masing-masing perlakuan. Uji Duncan terdapat pada Tabel 3.

Tabel 3. Uji Duncan untuk nilai rata-rata proporsi pembuluh Perlakuan Nilai tengah Nilai beda

A3 A2 A3 18,26 A2 15,51 2,75** A1 14,98 3,28** 0,53ts D 5% 2,00 2,10 1% 2,74 2,87

Keterangan : ts = tidak berbeda signifikan ** = berbeda sangat signifikan Tabel 3 menunjukkan bahwa

perlakuan A3 berbeda sangat

signifikan terhadap semua perlakuan (A2 dan A1), sedangkan antara

perlakuan A2 dengan A1 tidak

menunjukkan adanya perbedaan yang

signifikan. Proporsi sel pembuluh kayu Akasia tidak dapat ditentukan oleh adanya pengaruh diameter. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari faktor-faktor yang lain seperti jenis tanah dan jenis kayunya. Selain itu,

(6)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

22 pembuluh hanya terdapat pada jenis

kayu daun lebar sehingga persentase proporsi pembuluh lebih ditentukan oleh jenis kayunya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Darsani (1990), bahwa pori berbentuk cabang, bentuknya sangat khas dan panjangnya bervariasi menurut jenis kayu. Hal ini diperkuat pula oleh Usop (2000), bahwa persentase sel pembuluh berkaitan erat dengan isi sel, kerapatan dan berat jenis kayunya. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa ketinggian tempat dapat mempengaruhi proporsi pembuluh kayu Akasia.

Proporsi sel pembuluh yang terbesar terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A3B3) yakni sebesar

20,15% dan yang terendah pada pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 100 – 200 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 5 – 10 cm (perlakuan A2B1) hanya

sebesar 14,59%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa dengan semakin tinggi tempat tumbuh pohon Akasia dan dengan semakin besar ukuran diameter pohonnya maka ada kecenderungan proporsi sel yang terdapat dalam pohon Akasia tersebut juga semakin meningkat. Hal ini diduga karena pada tempat yang lebih tinggi, tekanan atmosfir juga tinggi sehingga transpirasi dan evapotranspirasi tanaman Akasia tidak terlalu tinggi sehingga tanaman tidak kekurangan air dan pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian perkembangan struktur sel didalammnya juga lebih matang dan sempurna. Pada ukuran diameter yang besar, secara tidak langsung pohon tersebut memiliki umur yang sudah tua. Dan tentu saja juga telah mengalami pertumbuhan struktur sel yang sempurna. Pendugaan ini didukung oleh Polunin (1994) dalam Saparudin (2002), bahwa pada

daerah yang lebih rendah memiliki suhu yang lebih tinggi dan tekanan yang lebih rendah sehingga dapat menyebabkan evapotranspirasi dan transpirasi meningkat akibatnya pertumbuhan tanaman akan terganggu bahkan tanaman menjadi layu dan mati karena kekurangan air (dehidrasi tanaman). Penyataan ini diperkuat oleh pernyataan Haygreen dan Bowyer (1993) yang menyatakan bahwa selama proses pendewasaan, sel-sel mulai berubah, akhirnya menyesuaikan dengan ciri unit-unit yang dewasa. Dalam hal unsur-unsur pembuluh, satu dari ciri-cirinya adalah diameter yang besar. Jadi sel-sel yang menjadi dewasa akan menjadi pembuluh dengan mengalami pertambahan diameter dimana perkembangannya dapat menjadi berkembang dari 2 sampai 5 kali diameter awalnya. Soenardi (1974) menambahkan bahwa kecepatan pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi diameter dan ketebalan dinding sel yang dibentuk dan ini akan mempengaruhi proporsi selnya.

Pohon Akasia yang tumbuh di daerah dengan ketinggian 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 16 – 20 cm tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pulp kertas. Hal ini dikarenakan persentase sel pembuluhnya relatif paling banyak dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan jumlah persentase sel pembuluh yang banyak ini, maka dapat menurunkan kualitas dan rendemen pulp yang dihasilkan. Karena dengan ukuran diameter pembuluh yang relatif besar akan mempersulit dalam proses pemasakan dan penggilingan pulp. Terlebih lagi jika memiliki dinding pembuluh yang relatif tebal. Hal ini serupa dengan pernyataan Usop (2000), bahwa persentase sel-sel pembuluh yang relatif banyak dapat menurunkan rendemen yang dihasilkan karena sel-sel pembuluh tersebut akan mempersulit

(7)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

23 penguraian serat-serat dan

mengakibatkan banyak serat yang terputus.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembuluh kayu Akasia daun lebar pada ketiga ketinggian tempat tergolong pembuluh yang hampir seluruhnya soliter . Hal ini dikarenakan penyebaran pembuluhnya tersebar satu-satu/tidak bergabung satu dengan yang lain. Walaupun ada yang bergabung, hanya sedikit sekali yang bergabung dua atau tiga buah. Ini sesuai dengan pendapat Martawijaya (1989) yang menyatakan bahwa pengelompokkan dari pori (gabungan pori) dikatakan

hampir seluruhnya soliter jika jumlah pembuluh soliter lebih dari 20 kali jumlah gabungan pori. Pendapat ini diperkuat pula oleh Darsani (1990), bahwa pembuluh jika dilihat dari penyusunannya pada bidang transversal terpisah satu dari yang lainnya oleh jaringan sel-sel yang lain, maka pori itu dikatakan soliter. Proporsi Serat

Hasil pengamatan dan pengukuran proporsi serat pada ketinggian tempat yang berbeda dan diameter yang berbeda disarikan pada Tabel 4 .

Tabel 4. Data hasil pengukuran dan perhitungan proporsi serat (%) Faktor A

(tinggi tempat) Ulangan

Faktor B (diameter) Jumlah Rata-rata B1 B2 B3 A1 1 70,08 70,48 73,76 214,32 71,44 2 73,76 70,96 72,08 216,80 72,27 3 76,24 69,72 82,44 228,40 76,13 Jumlah 220,08 211,16 228,28 659,52 219,84 Rata-rata 73,36 70,39 76,09 219,84 73,28 A2 1 72,68 71,96 70,12 214,76 71,59 2 73,12 70,76 73,00 216,88 72,29 3 74,08 74,40 67,00 215,48 71,83 Jumlah 219,88 217,12 210,12 647,12 215,71 Rata-rata 73,29 72,37 70,04 215,71 71,90 A3 1 71,96 72,56 68,16 212,68 70,89 2 72,40 69,00 67,96 209,36 69,79 3 71,08 75,32 65,88 212,28 70,76 Jumlah 215,44 216,88 202,00 634,32 211,44 Rata-rata 71,81 72,29 67,33 211,44 70,48

Untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan diameter yang berbeda terhadap persentase proporsi seratnya, maka dilakukan uji F atau analisis keragaman. Sebelum dilakukan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas terhadap data persentase proporsi

serat pada ketinggian tempat dan diameter yang berbeda. Dari hasil perhitungan uji normalitas Liliefors membuktikan bahwa data menyebar normal, dimana Li maksimum = 0,1095 lebih kecil dari Li tabel = 0,67 (Li max < Li tabel). Uji homogenitas ragam Bartlett menunjukkan bahwa data homogen, dimana X2 hitung =

(8)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

24 14,222 kurang dari X2 tabel = 16,151

(X2 hitung < X2 tabel). Hasil analisis

keragaman dapat dilihat pada Tabel 6

Tabel 6. Analisis keragaman untuk persentase proporsi serat Sumber Keragaman derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 8 145,937500 18,242188 2,490ts 2,51 3,71 Faktor A 2 35,267361 17,633680 2,407ts 3,55 6,01 Faktor B 2 13,059028 6,529514 0,891ts 3,55 6,01 Interaksi AB 4 97,611115 24,4027779 3,330* 2,93 4,58 Galat 18 131,890625 7,327257 Total 26 277,828125

Keterangan : ts = tidak berpengaruh signifikan * = berpengaruh signifikan Tabel analisis keragaman diatas menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan ketinggian tempat dan diameter tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi seratnya pada taraf 5% dan 1%, hal ini terlihat dari nilai F hitung yang kurang dari nilai F tabel (F hitung < F tabel). Sedangkan untuk pengaruh perlakuan interaksi ketinggian tempat dan ukuran diameter memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi seratnya pada taraf 5%.

Interaksi kedua faktor (AB) berpengaruh signifikan terhadap proporsi seratnya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor itu tidak bebas, pengaruh tiap faktor bergantung pada taraf faktor lainnya atau saling mempengaruhi. Untuk itu, maka perlu dilakukan analisis lanjutan untuk mengetahui pengaruh sederhana setiap faktor terhadap proporsi serat seperti yang tertera pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil perhitungan pemeriksaan interaksi AB terhadap proporsi seratnya

Pembanding Derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhitung F tabel 5% 1% A dalam B1 2 4,587022 2,29351 0,31302185ts 3,55 6,01 A dalam B2 2 7,588622 3,79431 0,5178533ts 3,55 6,01 A dalam B3 2 120,7065 60,3532 8,23710174** 3,55 6,01 B dalam A1 2 48,87787 24,4389 3,33546244ts 3,55 6,01 B dalam A2 2 16,87502 8,43751 1,15156423ts 3,55 6,01 B dalam A3 2 44,9024 22,4512 3,0641736ts 3,55 6,01

Keterangan : ts = tidak berpengaruh signifikan ** = berpengaruh sangat signifikan Hasil perhitungan pada Tabel

7 memperlihatkan bahwa pengaruh berbagai ketinggian tempat (faktor A) pada pohon ukuran diameter 16-20 cm memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap persentase proporsi serat, sedangkan pengaruh berbagai ketinggian pada pohon ukuran diameter 5-10 cm dan 11-15 cm tidak memberikan pengaruh yang

(9)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

25 signifikan terhadap proporsi serat.

Begitupula untuk pengaruh ukuran diameter 5-10 cm, 11-15 cm dan 16-20 cm (faktor B) tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada taraf perlakuan A baik untuk perlakuan A1

(ketinggian tempat 0-100 m dpl), A2

(ketinggian tempat 100-200 m dpl) maupun A3 (ketinggian tempat

200-300 m dpl) terhadap proporsi serat. Perbedaan pengaruh berbagai ketinggian tempat (faktor A) pada pohon ukuran diameter 16-20 cm memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi serat dikarenakan adanya perbedaan ukuran diameter dan umur pohon Akasia. Pada pohon Akasia yang diameter kayunya berukuran 16-20 cm memiliki umur yang lebih tua daripada pohon Akasia yang berukuran 5-10 cm dan 11-15 cm sehingga ukuran diameternya juga lebih besar. Pendapat ini didukung oleh pendapat dari Soenardi (1974) dalam Saparudin (2002), bahwa adanya perbedaan pertumbuhan dan umur pada masing-masing pohon akan menyebabkan perbedaan ketebalan dindng sel dan diameter pohon yang dibentuk sehingga akan berpengaruh terhadap proporsi sel seratnya, dimana dengan semakin tinggi proporsi serabut yang berdinding tebal, maka akan makin tinggi kekuatan kayunya.

Serat menyusun sebagian besar volume kayu daun lebar (hard wood). Serat ini ditandai dengan sel-sel yang membesar secara aksial

dengan diameter yang relatif kecil dan ujung-ujungnya meruncing. Dinding selnya biasanya jarang terdapat noktah dan dinding selnya lebih tebal dari elemen-elemen pembuluh dalan parenkim jari-jari serta parenkim aksial.

Proporsi sel serat/serabut yang terendah terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A3B3) yakni 67,33%

dan yang tertinggi pada pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A1B3) hanya sebesar

76,09%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon Akasia yang tumbuh di daerah ketinggian tempat 0 – 100 m dpl memiliki persentase proporsi serat yang lebih banyak (73,28%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pohon Akasia yang tumbuh di ketinggian tersebut ini dapat digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Hal ini dikarenakan serat merupakan bahan utama pulp yang tersusun (kaya) akan selulosa. Ikatan yang erat dan kuat pada kertas yang terbentuk berasal dari jumlah dan keadaan serat ini.

Proporsi Parenkim

Hasil pengamatan dan pengukuran proporsi parenkim pada ketinggian tempat yang berbeda dan diameter yang berbeda disarikan pada Tabel 8.

(10)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

26 Tabel 8. Data hasil pengukuran dan perhitungan parenkim (%)

Faktor A

Ulangan Faktor B (diameter) Jumlah Rata-rata (tinggi tempat) B1 B2 B3 A1 1 3,70 3,44 3,84 10,98 3,66 2 3,52 3,76 4,00 11,28 3,76 3 3,40 3,48 4,28 11,16 3,72 Jumlah 10,62 10,68 12,12 33,42 11,14 Rata-rata 3,54 3,56 4,04 11,14 3,71 A2 1 3,68 3,36 3,84 10,88 3,63 2 3,72 3,60 3,96 11,28 3,76 3 2,92 3,44 4,48 10,84 3,61 Jumlah 10,32 10,40 12,28 33,00 11,00 Rata-rata 3,44 3,47 4,09 11,00 3,67 A3 1 5,72 3,76 5,92 15,40 5,13 2 4,60 4,36 3,84 12,80 4,27 3 3,88 3,00 3,44 10,32 3,44 Jumlah 14,20 11,12 13,20 38,52 12,84 Rata-rata 4,73 3,71 4,40 12,84 4,28

Pengaruh ketinggian tempat dan diameter terhadap persentase proporsi parenkimnya dapat diketahui dengan melakukan uji F atau analisis keragaman. Sebelum dilakukan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas terhadap data persentase proporsi parenkim pada ketinggian tempat dan diameter yang berbeda. Dari hasil perhitungan uji

normalitas Liliefors membuktikan bahwa data menyebar normal, dimana Li maksimum = 0,1409 lebih kecil dari Li tabel = 0,167 (Li max < Li tabel). Uji homogenitas ragam Bartlett menunjukkan bahwa data homogen, dimana X2 hitung = 15,151 kurang dari X2 tabel = 16,151 (X2 hitung < X2 tabel). Hasil analisis keragaman dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Analisis keragaman untuk persentase proporsi parenkim Sumber Keragaman derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 8 5,045329 0,630666 1,606ts 2,51 3,71 Faktor A 2 2,098402 1,049201 2,672ts 3,55 6,01 Faktor B 2 1,624281 0,812141 2,068ts 3,55 6,01 Interaksi AB 4 1,322645 0,330661 0,842ts 2,93 4,58 Galat 18 7,067434 0,392635 Total 26 12,112762

Keterangan : ts = tidak berpengaruh signifikan

(11)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

27 Hasil analisis keragaman

menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan ketinggian tempat dan diameter tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi parenkim pada taraf 5% dan 1%, hal ini terlihat dari nilai F hitung yang kurang dari nilai F tabel (F hitung < F tabel). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proporsi sel parenkim tidak ditentukan oleh ketinggian tempat dan ukuran diameter. Akan tetapi masih ada faktor-faktor lain yang lebih menentukan dibandingkan dengan faktor ketinggian tempat dan ukuran diameter. Hasil penelitian Balimansyah (2004), menyimpulkan bahwa perbedaan jenis tanah dapat mempengaruhi persentase proporsi parenkim. Ini diduga karena adanya perbedaan jenis tanah tentu saja akan menyebabkan perbedaan unsur hara. Dengan semakin banyak unsur hara dan cairan yang diserap dari dalam tanah maka pertumbuhan unsur kambium lebih bagus dan memacu perkembangan parenkim. Hal ini sesuai dengan Violet dan A. Jauhari (2004), bahwa semua unsur longitudinal kayu berasal dari tipe inisial kambium yang sama, yaitu sel inisial kambium bentuk kumparan yang akan tumbuh menjadi sel-sel parenkim longitudinal, trakeid vasisentrik dan sel serabut. Karena ketinggian tempat dan diameter yang berbeda tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase proporsi parenkim, maka dengan koefisien keragaman (KK) 16,12% tidak dilakukan uji lanjutan Duncan untuk mengetahui perlakuan mana yang paling berpengaruh terhadap persentase proporsi parenkim.

Proporsi sel parenkim yang terbesar terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 5 - 10 cm (perlakuan A3B1)

yaitu 4,73% dan yang terendah pada kayu Akasia yang tumbuh di

ketinggian 100 – 200 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 5 - 10 cm (perlakuan A2B1) sebesar

3,44%. Kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian 100 – 200 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 5 - 10 cm dapat digunakan sebagai bahan baku pulp kertas. Hal ini dikarenakan persentase sel parenkimnya sedikit sehingga meningkatkan rendemen yang dihasilkan. Hal ini serupa dengan pernyataan Usop (2000), bahwa persentase sel-sel parenkim yang relatif banyak dapat menurunkan rendemen yang dihasilkan karena sel-sel parenkim tersebut sering banyak mengandung resin yang akan mempengaruhi drainase pulp dalam proses pembuatan kertas, yakni menghambat jalannya mesin kertas karena lengket.

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan posisi parenkim terhadap pembuluh yang tergolong parenkim paratrakeal. Hal ini dikarenakan posisi penyebaran parenkim pada penampang melintang kayu daun tersebut berhubungan dengan pembuluh. Hal ini didukung oleh pernyataan Soenardi (1974), bahwa penyebaran parenkim pada penampang kayu yang berhubungan dengan pembuluh dikelompokkan sebagai parenkim paratrakeal sedangkan yang tidak berhubungan dengan pembuluh disebut dengan parenkim apotrakeal.

Proporsi Jari-Jari

Hasil pengamatan dan pengukuran proporsi jari-jari pada ketinggian tempat yang berbeda dan diameter yang berbeda disarikan pada Tabel 10.

(12)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

28 Tabel 10. Data hasil pengukuran dan perhitungan proporsi jari-jari (%)

Faktor A

Ulangan Faktor B (diameter) Jumlah Rata-rata

(tinggi tempat) B1 B2 B3 A1 1 10,04 13,08 6,96 30,08 10,03 2 6,40 9,84 7,04 23,28 7,76 3 6,88 10,64 4,88 22,40 7,47 Jumlah 23,32 33,56 18,88 75,76 25,25 Rata-rata 7,77 11,19 6,29 25,25 8,42 A2 1 9,12 9,24 7,04 25,40 8,47 2 8,76 8,88 9,72 27,36 9,12 3 8,04 7,04 6,40 21,48 7,16 Jumlah 25,92 25,16 23,16 74,24 24,75 Rata-rata 8,64 8,39 7,72 24,75 8,25 A3 1 5,92 8,32 5,36 19,60 6,53 2 9,72 8,56 10,04 28,32 9,44 3 9,64 7,92 9,92 27,48 9,16 Jumlah 25,28 24,80 25,32 75,40 25,13 Rata-rata 8,43 8,27 8,44 25,13 8,38

Untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan diameter terhadap persentase proporsi jari-jarinya, maka dilakukan uji F atau analisis keragaman. Sebelum dilakukan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas terhadap data rata-rata persentase proporsi jari-jari pada tiga ketinggian tempat dan diameter yang berbeda tersebut. Dari hasil perhitungan uji

normalitas Liliefors membuktikan bahwa data menyebar normal, dimana Li maksimum = 0,1315 lebih kecil dari Li tabel = 0,167 (Li max < Li tabel). Uji homogenitas ragam Bartlett pada Lampiran 18 menunjukkan bahwa data homogen, dimana X2 hitung = 8,192 kurang dari X2 tabel = 16,151 (X2 hitung < X2 tabel). Hasil analisis keragaman dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Analisis keragaman untuk persentase proporsi jari-jari Sumber Keragaman derajat bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 8 14,62632 1,82829 3,397* 2,51 3,71 Faktor A 2 5,57052 2,78526 5,175* 3,55 6,01 Faktor B 2 6,62632 3,31316 6,156** 3,55 6,01 Interaksi AB 4 2,42948 0,60737 1,129ts 2,93 4,58 Galat 18 9,68706 0,53817 Total 26 24,31338

(13)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

28 Hasil analisis keragaman

menunjukkan bahwa perlakuan ketinggian tempat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi jari-jari pada taraf 5% dan 1%, sedangkan untuk dan ukuran diameter memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap persentase proporsi jari-jari pada taraf 5%. Hal ini terlihat dari nilai F hitung yang lebih dari nilai F tabel (F hitung > F tabel). Karena

perlakuan ketinggian tempat dan diameter menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap persentase proporsi jari-jari, maka dengan koefisien keragaman (KK) 8,79% dilakukan uji lanjutan yakni uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang paling berbeda terhadap persentase proporsi jari-jari. Uji Beda Nyata Terkecil terlihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk proporsi jari-jari

Perlakuan Nilai tengah Nilai beda A1B2 A2B1 A3B3 A3B1 A2B2 A3B2 A1B1 A2B3 A1B2 11,19 A2B1 8,64 2,55* A3B3 8,44 2,75* 0,20ts A3B1 8,43 2,76* 0,21ts 0,01ts A2B2 8,39 2,80* 0,25ts 0,05ts 0,04ts A3B2 8,27 2,92** 0,37ts 0,17ts 0,16ts 0,12ts A1B1 7,77 3,42** 0,87ts 0,67ts 0,66ts 0,62ts 0,50ts A2B3 7,72 3,47** 0,92ts 0,72ts 0,71ts 0,67ts 0,55ts 0,05ts A1B3 6,29 4,90** 2,35* 2,15* 2,14* 2,10* 1,98* 1,48ts 1,43ts BNT 5% 1.91 1% 2.86

Keterangan : ts = tidak berbeda signifikan * = berbeda signifikan

** = berbeda sangat signifikan Hasil uji BNT nilai rata-rata

proporsi jari-jari menunjukkan bahwa perlakuan A1B2 berbeda sangat

signifikan dengan perlakuan A3B2,

A1B1, A2B3 dan A1B3 sedangkan

dengan perlakuan A2B1, A3B3 dan

perlakuan A1B3 menunjukkan

perbedaan yang signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perlakuan A1B2 merupakan perlakuan

yang memberikan pengaruh yang sangat berbeda dengan perlakuan lainnya terhadap nilai rata-rata proporsi jari-jari.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa ketinggian tempat dan ukuran diameter dapat menentukan prporsi jari-jari. Artinya

semakin tinggi tempat tumbuh, maka proporsi sel jari-jarinya dapat meningkat. Hal ini dikarenakan dengan semakin bertambahnya tinggi tempat tumbuh makanan maka cadangan makanan yang disalurkan oleh jari-jari akan semakin banyak sehingga proporsi sel sel jari-jarinya juga akan semakin meningkat. Seperti yang dikemukakan oleh Soenardi (1974) dalam Saprudin (2002) bahwa kecepatan pertumbuhan akan mempengaruhi diameter dan ketebalan dinding sel yang dibentuk dan ini akan berpengaruh terhadap proporsi sel jari-jarinya.

(14)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

30 Jari-jari kayu merupakan

jaringan yang terdiri dari sel-sel berbentuk seperti batu bata yang letaknya radial atau longitudinal, jari-jari ini berfungsi sebagai jalan angkutan bagi air dan mineral pohon dalam arah horizontal dari dan ke lapisan floem (Soenardi, 1974). Pada hasil penelitian terlihat bahwa penampang melintang batang, jari-jarinya tampak seperti garis yang lebar yang berbeda-beda pada ketiga tempat dengan ketinggian dan diameter yang berbeda.

Proporsi sel jari-jari yang terendah terjadi lagi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameter batangnya 16 – 20 cm (perlakuan

A1B3) yakni sebesar 6,29% dan yang

tertinggi pada kayu Akasia di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameter batangnya 11 – 15 cm (perlakuan A1B2) yakni

sebesar 11,19%.

Segitiga Dadswell dan Wardrop

Kecocokan kayu Akasia sebagai bahan baku pulp dan kertas, maka dilihat dari letak keberadaan proporsi sel kayu Akasia dalam segitiga Dadswell dan Wardrop, karena semakin tinggi letak posisinya maka akan semakin baik atau cocok kayu tersebut sebagai bahan baku pulp dan kertas. Letak segitiga Dadswell dan Wardrop terlihat seperti pada Gambar 5.

Gambar 1. Grafik segitiga Dadswell dan Wardrop Keterangan :

= Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 5-10 cm = Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 11-15 cm = Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 16-20 cm = Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter 5-10 cm = Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter 11-15 cm = Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter 16-20 cm = Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter 5-10 cm = Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter 11-15 cm = Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter 16-20 cm

(15)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

Rekapitulasi proporsi pembuluh, serat/serabut, parenkim

dan jari-jari pada tiga ketinggian

tempat yang berbeda dan tiga ukuran diameter yang juga berbeda pada dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Rekapitulasi proporsi pembuluh, serat/serabut, parenkim dan jari-jari

Parameter Proporsi (%)

Pembuluh Serat/serabut Parenkim Jari-jari

A1B1

Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 5-10

cm

15,33 73,36 3,54 7,77

A1B2

Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 11-15

cm

15,04 70,39 3,56 11,19

A1B3

Ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 16-20

cm

16,48 76,09 4,04 6,29

A2B1

Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter

5-10 cm

14,59 73,29 3,44 8,64

A2B2

Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter

11-15 cm

15,77 72,37 3,47 8,39

A2B3

Ketinggian tempat 100-200 m dpl dengan ukuran diameter

16-20 cm

18,15 70,04 4,09 7,72

A3B1

Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter

5-10 cm

15,03 71,81 4,73 8,43

A3B2

Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter

11-15 cm

15,73 72,29 3,71 8,27

A3B3

Ketinggian tempat 200-300 m dpl dengan ukuran diameter

16-20 cm

20,15 67,33 4,40 8,44

Gambar 1 menunjukkan proporsi yang mendekati puncak segitiga adalah proporsi sel pohon Akasia yang tumbuh pada ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 16-20 cm, berarti pohon Akasia yang tumbuh pada tempat tersebut paling baik sebagai bahan baku pulp dan

kertas. Hal ini sesuai pernyataan Kasmudjo (1994), semakin banyak persentase jumlah serat/serabut, semakin sedikit persentase jumlah parenkim dan pembuluh, maka kayu semakin baik sebagai bahan baku pulp.

(16)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

32 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Ketinggian tempat dan ukuran diameter batang kayu Akasia tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap proporsi pembuluh, serat, parenkim dan jari-jari, hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari faktor lain seperti berat jenis kayu dan faktor tempat tumbuh (tanah)

2. Proporsi sel pembuluh yang terbesar terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A3B3) yakni sebesar

20,15% dan yang terendah pada pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 100 – 200 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 5 – 10 cm (perlakuan A2B1) hanya sebesar 14,59%.

3. Proporsi sel serat/serabut yang terendah terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A3B3) yakni 67,33%

dan yang tertinggi pada pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameternya sebesar 16 – 20 cm (perlakuan A1B3) hanya sebesar 76,09%

4. Proporsi sel parenkim yang terbesar terjadi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian 200 – 300 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 5 - 10 cm (perlakuan A3B1) yaitu 4,73%

dan yang terendah pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian

100 – 200 m dpl dengan ukuran diameter batang pohonnya 5 - 10 cm (perlakuan A2B1) sebesar

3,44%

5. Proporsi sel jari-jari yang terendah terjadi lagi pada kayu Akasia yang tumbuh di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameter batangnya 16 – 20 cm (perlakuan A1B3) yakni sebesar

6,29% dan yang tertinggi pada kayu Akasia di ketinggian tempat 0 – 100 m dpl dengan ukuran diameter batangnya 11 – 15 cm (perlakuan A1B2) yakni sebesar

11,19%

6. Proporsi sel yang mendekati puncak segitiga adalah proporsi sel pohon Akasia yang tumbuh pada ketinggian tempat 0-100 m dpl dengan ukuran diameter 16-20 cm, berarti pohon Akasia yang tumbuh pada tempat tersebut paling baik sebagai bahan baku pulp dan kertas.

Saran

Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dimensi serat serta kandungan kimia yang terdapat dalam kayu Akasia pada ketiga tempat tersebut sehingga pemanfaatan kayu tersebut dalam bidang pulp dan kertas lebih optimal. Disarankan pula untuk menggunakan pohon Akasia yang tumbuh di daerah dengan ketinggian tempat 0-100 m dpl dan ukuran diameternya 16-20 cm, karena pohon Akasia yang tumbuh pada tempat tersebut paling baik sebagai bahan baku pulp dan kertas.

DAFTAR PUSTAKA

Butterfield dan Meylan. 1980. Three Dimensional Struktur of Wood An Ultratructural Approch. Chapman and Hall, London New York.

Dapertemen Perindustrian, 1998. Beberapa Metode Pulping. Yayasan Pendidikan Bakti. Sekolah Pulp dan Kertas, Bandung.

(17)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 22, Maret 2008

33 Darsani, A.S. 1990. Variasi Panjang

Serat dan Pengamatan Anatomi Kayu Sungkai (Peronema canescens Jack). Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Fakultas Kehutanan

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. Gajah Mada University Press, Yokyakarta.

Haygreen dan Bowyer. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. University Gajah Mada, Yogyakarta.

Heddy, 1990. Biologi Pertanian Tinjauan Singfkat Tentang Anatomi, Fisiologi, Sistematika dan genetika Dasar Tumbuh-Tumbuhan. Rajawali, Jakarta.

Hidayati, R. 1988. Uji Propenance Proyek ATA-267 Riam Kiwa Kalimantan Selatan. Fakultas Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Tidak dipublikasikan.

IAWA List. 1997. Anatomi Kayu Daun Lebar Secara Mikroskopis. Terjemahan Dimensi Sel Kayu. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda.

Kasmudjo, 1994. Ilmu Kayu dan Produk Hasil Hutan. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Martawijaya, A, Iding Kartasujono, Mandang dan Kosasi Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia.

Departemen Kehutanan, Bogor.

Panshin, A. J. and C. de Zeew. 1980. Textbook of Wood Technology. Mc Graw Hill. New York.

Saprudin, H. 2002. Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Proporsi Sel dan Dimensi Serat Kayu Akasia (Acacia mangium Wild). Skripsi

Fakultas Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Tidak

dipublikasikan.

Soenardi. 1974. Ilmu Kayu (Bab 1 dan 2). Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

Steel & Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Usop, Frans Paul. 2000. Anatomi dan Kimia Kayu dengan Sifat (Kualitas) Kertas. Diktat Perkuliahan. Fakultas Kehutanan Univewrsitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Tidak dipublikasikan.

Yayasan PROSEA. 1997. Seri Manual Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. PROSEA Network Office. Bogor.

Zobel and Buijtenen. 1989. Wood Variation Its Causes And Control. Springer Verlag. Germany.

Gambar

Gambar 1. Grafik segitiga Dadswell dan Wardrop   Keterangan :

Referensi

Dokumen terkait

> 75 89 75 TL Total 108 Berdasarkan hasil analisis tes penilaian keterampilan praktikum pada tabel 4.15 dapat dijelaskan bahwa dari 108 jumlah peserta didik, ada 89 peserta didik

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa warna hitam, putih, kuning, hijau, ungu, dan merah di masyarakat Bali memiliki makna konotasi sekaligus memiliki

(1) Golongan non Muslim tidak wajar untuk berada dalam kekafiran terhadap Allah SWT kerana hakikatanya ialah Allah SWT yang menciptakan roh mereka dan menempatkan mereka

Tulisan ini hanya sebatas membahas komunikasi dari komunikator, sedangkan pada analisis mengenai teks pidato pelantikan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama ini,

Apabila barang yang masuk dalam kondisi rusak ringan namun masih layak pakai maka barang yang bersangkutan tersebut masih tetap dipergunakan dengan cara diperbaiki atau

Interpretasi yang mereka lakukan menentukan mereka akan memiliki konsep diri positif atau konsep diri negatif (Hurlock, 1992, h. 203) mengatakan bahwa umpan balik dari orang

Kasudin Perindustrian dan Energi Jakarta Barat, Chairil Anwar, men- gaku sudah menindak lanjuti keluhan warga tersebut dengan memperbaiki lampu yang padam dan sekarang

Songon i ma nian nang roha mi Sonang nai molo rap hita nadua Uli denggan sude nang rohakki Dang jadi sirang be ra hita nadua Sai gabe ma sahat tu saur matua Sonang nai molo