1 Latar Belakang
Sumberdaya alam dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) adalah vegetasi, tanah dan air serta jasa-jasa lingkungan yang merupakan modal bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan, sumberdaya alam telah dimanfaatkan dengan prinsip orientasi ekonomi sesaat, terutama hutan dan lahan. Menurut Kartodihardjo et al. (2004), pemanfaatan lahan dalam DAS umumnya kurang memperhatikan keterkaitan unsur-unsur penyusun sistem DAS, padahal kondisi daya dukung lingkungan DAS ditentukan oleh banyak faktor yang mempunyai hubungan dan keterkaitan yang kompleks. Prinsip pemanfaatan yang demikian merupakan salah satu penyebab kerusakan DAS di Indonesia.
Gambaran kerusakan DAS di Indonesia dapat dilihat berdasarkan jumlah DAS prioritas yang semakin bertambah dari tahun ke tahun. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum No : 19 tahun 1984 – No : 059/Kpts-II/1984 – No : 124/kpts/1984 tanggal 4 April 1984 tentang penanganan konservasi tanah dalam rangka pengamanan DAS prioritas, tahun 1984 terdapat 22 DAS super prioritas (Arsyad 2006). Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 284/Kpts-II/1999 tentang penetapan urutan prioritas DAS, jumlah DAS prioritas meningkat hingga 472 DAS. Daerah aliran sungai (DAS) tersebut terdiri atas 62 DAS Prioritas I, 232 DAS Prioritas II dan 178 DAS Prioritas III (Ditjen RRL Dephut 1999). Jumlah DAS prioritas I pada tahun 2004 telah meningkat pula menjadi 65 DAS (Ditjen Sumberdaya Air 2004).
Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari merupakan salah satu DAS yang mewakili gambaran umum kondisi DAS di Indonesia yang menunjukkan degradasi pengelolaan hutan dan lingkungan hidup (Direktorat KKSDA BAPPENAS 2007) dan merupakan DAS kedua terbesar di Indonesia. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 284/1999, DAS Batanghari termasuk dalam kategori DAS prioritas I (Ditjen RRL Dephut 1999). Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari dengan luas ± 4.5 juta ha meliputi wilayah Provinsi Jambi, Sumatera Barat dan Riau dan mempunyai nilai yang sangat strategis bagi masyarakat sekitarnya.
Kekritisan DAS Batanghari ditandai dengan kondisi sungai Batanghari di luar ambang batas ketentuan sungai yang lestari. Kekritisan DAS dilihat
berdasarkan frekuensi dan besaran banjir yang sulit diprediksi. Banjir besar pernah terjadi tahun 1996; muka air sungai Batanghari naik hingga 4 m dan kembali terjadi pada tahun 2002 dan tahun 2003 (Sihite dan Pasaribu 2004). Banjir yang terjadi di DAS Batanghari disebabkan oleh sedimentasi sehingga terjadi pendangkalan sungai dan pada musim hujan air sungai meluap.
Sedimentasi dan pendangkalan sungai mengancam nilai strategis DAS Batanghari, diantaranya telah menyebabkan menurunnya debit aliran sungai Batang Siat yang merupakan sumber air irigasi Sungai Dareh dan Sitiung (SEDASI) di Sumatera Barat. Penurunan debit sungai Batang Siat selama 15 tahun terakhir adalah 10.5 m3/det (tahun 1986) menjadi 6.1 m3/det (tahun 2001)
sehingga kapasitas aliran irigasi ini menurun 67%. Sedimentasi juga mengancam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di DAS Batang Merao dan Batang Merangin-Tembesi (Tim Peneliti Bioregion DAS Batanghari 2003). Daerah aliran sungai (DAS) Merangin mempunyai tingkat sedimentasi tertinggi dibandingkan dengan sub DAS yang lain, yaitu 189.43 juta ton/tahun (Depkimpraswil 2003). Pendangkalan sungai akibat sedimentasi juga terjadi di DAS Batanghari hilir sehingga operasional Pelabuhan Samudera ”Muara Sabak” pun terganggu karena keperluan navigasi kapal dengan bobot 5 000 DWT hanya dapat dipenuhi jika dilakukan pengerukan sedimen sebesar 350 000 m3/tahun
(JICA 2002).
Sedimentasi di DAS Batanghari diduga berasal dari erosi di kawasan hulu. Erosi di DAS Batanghari menggambarkan telah rusaknya daerah resapan terutama di bagian hulu sehingga run off meningkat (koefisien run off sebesar 0.475). Berdasarkan kriteria yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 52 tahun 2001, koefisien rejim sungai kawasan hulu DAS Batanghari (120) pun telah mengindikasikan terjadinya kerusakan (Depkimpraswil 2004).
Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari terdiri atas 5 sub DAS, yaitu Batanghari Hulu, Batang Tebo, Batang Tabir, Batang Merangin-Tembesi, dan Batanghari Hilir. Sub DAS yang mempunyai tingkat erosi paling tinggi adalah DAS Batang Tebo (kawasan hulu DAS Batanghari) yaitu 184.73 ton/ha/tahun (Depkimpraswil 2004). Secara administratif DAS Batang Tebo termasuk dalam Kabupaten Bungo dan terdiri atas tiga sub DAS, yaitu Batang Pelepat, Batang Bungo dan Batang Ule (BPDAS Batanghari 2002).
Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat yang meliputi sebagian besar kecamatan Pelepat saat ini lebih menarik perhatian berbagai pihak, baik
Pemerintah Kabupaten Bungo, Pemerintah Provinsi Jambi, swasta (pengusaha) maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti ICRAF, CIFOR dan WARSI dibandingkan dengan DAS Batang Bungo dan Batang Ule. Hal ini disebabkan oleh potensi sumberdaya alamnya, namun beberapa tahun belakangan ini setiap musim hujan di DAS Batang Pelepat selalu terjadi banjir. Informasi terakhir pada awal Pebruari 2006 telah terjadi banjir bandang yang merusak beberapa fasilitas/sarana umum dan menggenangi lahan-lahan pertanian di beberapa desa di kecamatan Pelepat (Rantel, Balai Jaya, Rantau Keloyang, Baru Pelepat dan Batu Kerbau). Banjir yang terjadi menggenangi wilayah tersebut hingga ketinggian 2 m (Anonim 2006).
Banjir di DAS Batang Pelepat juga berawal dari erosi dan sedimentasi yang diduga terjadi akibat pembukaan hutan untuk berbagai penggunaan, termasuk pertanian. Pembukaan hutan di DAS Batang Pelepat ditujukan untuk mengembangkan usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) karena Kecamatan Pelepat merupakan salah satu sentra produksi karet nasional dan kawasan prioritas pengembangan kelapa sawit (BAPPEDA Kabupaten Bungo 2005). Berdasarkan data penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat juga dapat diketahui bahwa luas tutupan hutan di DAS Batang Pelepat saat ini hanya 23.51% dari luas DAS (BPDAS Batanghari 2002).
Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat terdiri atas beberapa kelas lereng yaitu landai (52 345 ha), agak curam (19 773 ha), curam (19 809 ha) dan curam sekali (1 116 ha). Pembukaan hutan untuk UTKKS di DAS Batang Pelepat pun telah mencapai lereng yang tergolong curam, tetapi tidak disertai dengan teknik konservasi tanah dan air (KTA). Kondisi ini peka menimbulkan erosi terutama pada saat awal tanam yang pada gilirannya menyebabkan degradasi lahan.
Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat mempunyai nilai indeks bahaya erosi sebesar 4.71 (BPDAS Batanghari 2002); berdasarkan kriteria Hammer (1981) indeks bahaya erosi tersebut tergolong tinggi. Prediksi erosi di beberapa desa yang termasuk dalam DAS Batang Pelepat menunjukkan bahwa erosi telah melebihi erosi yang dapat ditoleransikan (Etol), seperti di Baru Pelepat prediksi erosi mencapai 59.97 ton/ha/tahun dan di Sungai Beringin sebesar 55.00 ton/ha/tahun; padahal Etol di kedua lokasi ini hanya 16.92 dan 15.48 ton/ha/tahun (PPLH UNJA 2003).
Erosi dapat menyebabkan kerugian berupa kehilangan unsur hara pada lahan yang tererosi (on site). Alih fungsi lahan hutan eks HPH (PT Maju Jaya
Raya Timber dan PT Rimba Karya Indah) menjadi UTKKS di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) telah menimbulkan erosi yang menyebabkan kerugian berupa kehilangan unsur hara senilai Rp 93.56 milyar/tahun; sebagian besar wilayah eks HPH PT Rimba Karya Indah terdapat di DAS Batang Pelepat (Ridwansyah et al. 2006). Erosi diperkirakan juga menyebabkan sedimentasi di beberapa sungai (off site) yang termasuk dalam DAS Batang Pelepat diantaranya Sungai Batang Pelepat (7.28 ton/hari), Sungai Beringin (9.31 ton/hari) dan Sungai Senamat (9.69 ton/hari) (PPLH UNJA 2003).
Lahan UTKKS di DAS Batang Pelepat umumnya dikelola dengan berbagai agroteknologi yang belum memadai. Pengelolaan UTKKS seperti ini menyebabkan rendahnya produktivitas karet (0.45 ton KKK/ha atau 0.71 ton lateks/ha) dan kelapa sawit (11 ton TBS/ha atau 2.20 ton CPO/ha) di DAS Batang Pelepat (Disbun Provinsi Jambi 2005); produktivitas ini berada di bawah produktivitas karet dan kelapa sawit nasional yang masing-masing mencapai 0.60 ton KKK/ha dan 2.78 ton CPO/ha (Ditjenbun 2004; Balitbang Pertanian 2005a) dan potensi produksi karet yang mencapai 1.20 – 1.50 ton KKK/ha (Balitbang Pertanian 2005a).
Produktivitas karet dan kelapa sawit yang rendah berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat di DAS Batang Pelepat yang sebagian besar berasal dari usahatani. Pendapatan petani yang berasal dari usahatani berkisar Rp320 000 – Rp480 000/bulan, sedangkan total pendapatan masyarakat termasuk usaha di luar usahatani adalah Rp416 000 – Rp472 000/bulan; pendapatan tersebut masih dibawah standar upah minimum regional Kabupaten Bungo (Rp716 000/bulan), meskipun luas pemilikan lahan di kawasan ini adalah 3.82 ha/KK (PPLH UNJA 2003). Secara nasional standar luas lahan yang dianggap layak untuk mendukung kehidupan keluarga petani adalah 2 ha/KK. Standar ini sesuai dengan standar minimum luas lahan pertanian yang diberikan pada transmigran, dengan asumsi bahwa lahan pertanian diusahakan secara intensif (Permana 1980).
Usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) yang tidak berkelanjutan disebabkan oleh perencanaan usahatani belum disusun secara komprehensif berdasarkan pendekatan terhadap berbagai aspek secara simultan. Kondisi UTKKS yang tidak berkelanjutan di DAS Batang Pelepat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat terus merambah hutan; jika dibiarkan hal ini dapat mengancam kelestarian TNKS karena sebagian DAS Batang Pelepat termasuk kawasan penyangga TNKS.
Peningkatan kinerja usahatani karet rakyat tidak dapat dicapai dengan mudah karena tidak hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga terkait dengan masalah teknologi dan kemampuan sumberdaya manusia yang terkait dalam penerapannya (PPK Medan 1998). Penerapan sistem pertanian konservasi (SPK) dengan penanaman legum penutup tanah (legume cover crop atau LCC) berupa mucuna sp. dan teras gulud yang disertai pemupukan pada lahan usahatani karet milik peladang berpindah di Jambi, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan dapat meningkatkan produksi tanaman hingga 51.10% dan kelayakan usahatani hingga mencapai B/C sebesar 1.82 serta menurunkan aliran permukaan dan erosi masing-masing 65% dan 45% (Juarsah 2008).
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berkembang pesat dengan teknologi yang sudah ada, tetapi produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan potensi produksi (terutama perkebunan rakyat). Teknologi yang telah ada saat ini belum cukup untuk mendukung pengembangan usahatani kelapa sawit di masa akan datang. Oleh karena itu penelitian yang menghasilkan paket teknologi yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas tanaman dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan perlu segera dilakukan (PPKS Medan 1998). Perbaikan agroteknologi melalui SPK seperti halnya pada lahan usahatani karet diatas merupakan solusi tepat dalam pengembangan usahatani kelapa sawit berkelanjutan. Budidaya kelapa sawit pada lahan berlereng harus dilengkapi dengan tanaman penutup tanah dan teras untuk mengendalikan erosi tanah (PPKS Medan 1999).
Berdasarkan pemikiran tersebut penelitian tentang kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat DAS Batang Pelepat serta karakteristik tipe UTKKS dan pengaruhnya terhadap sifat tanah, erosi, aliran permukaan dan sosial ekonomi masyarakat sangat penting dilakukan. Karakteristik biofisik dan sosial ekonomi tersebut sangat diperlukan dalam penyusunan perencanaan SPK yang komprehensif untuk pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat.
Perumusan Masalah
Sistem pertanian konservasi (SPK) adalah sistem pertanian yang mampu mengendalikan degradasi lahan (erosi ≤ Etol) dan meningkatkan pendapatan petani hingga dapat memenuhi standar kebutuhan hidup secara layak (PKHL) dengan menggunakan agroteknologi memadai serta bersifat site specific (khas lokasi). Penyempurnaan sistem pertanian yang sedang berjalan menjadi SPK
harus melalui langkah-langkah seperti : (1) inventarisasi keadaan biofisik daerah, (2) inventarisasi keadaan sosial ekonomi petani dan (3) inventarisasi pengaruh luar (Sinukaban 2007a). Kondisi biofisik dan sosial ekonomi merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan SPK untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat, sedangkan faktor luar (eksternal) merupakan pendukung implementasi perencanaan tersebut. Oleh karena itu SPK dapat diterapkan secara optimal melalui pendekatan interdisipliner sebagaimana konsep sistem pertanian berkelanjutan (SPB).
Penyempurnaan sistem UTKKS di DAS Batang Pelepat dengan mengikuti langkah-langkah dan pendekatan tersebut dapat menghasilkan perencanaan UTKKS yang komprehensif. Oleh karena itu penyusunan perencanaan UTKKS di DAS Batang Pelepat perlu didukung dengan kajian tentang (1) bagaimana karakteristik lahan dan tipe UTKKS, (2) bagaimana pengaruh berbagai tipe UTKKS terhadap aspek biofisik (beberapa sifat tanah, aliran permukaan dan erosi) dan sosial ekonomi (pendapatan petani dan kelayakan usahatani) dan (3) bagaimana mencapai UTKKS berkelanjutan.
Kerangka Pemikiran
Daerah aliran sungai (DAS) terdiri atas unsur yang saling berinteraksi dan membentuk suatu sistem yang saling mempengaruhi (interdependensi) dan peka terhadap unsur masukan, termasuk perubahan penggunaan lahan seperti konversi hutan menjadi penggunaan lain. Hutan di DAS Batang Pelepat umumnya mengalami konversi menjadi lahan UTKKS yang masih dikelola secara konvensional sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan hidup petani secara layak dan bahkan menimbulkan degradasi lahan. Perencanaan SPK dalam kerangka pengelolaan DAS sesuai konsep SPB (mengkompromikan berbagai kepentingan, meskipun saling bertentangan) merupakan solusi tepat untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat (Gambar 1). Hal ini sesuai dengan pendapat Sinukaban (2007b) yang menyatakan bahwa konsep SPB yang telah dilaksanakan di sebagian wilayah pulau Jawa dan daerah transmigrasi juga harus diimplementasikan di seluruh daerah dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan sekaligus mempertahankan kelestarian sumberdaya alam.
Penerapan SPK untuk memperbaiki agroteknologi dengan pendekatan SPB harus bersifat proaktif, berdasarkan pengalaman (experential) dan partisipatif serta mempertimbangkan sistem yang holistik dan lokal spesifik
(Zamora 1995, diacu dalam Salikin 2003). Agroteknologi adalah suatu teknologi inovatif yang dirancang untuk mencapai produksi pertanian yang lebih efisien dan menguntungkan (Parker 2002). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agroteknologi meliputi semua teknologi yang diterapkan dalam budidaya tanaman pertanian seperti sistem tanam, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit serta teknik KTA.
Gambar 1 Kerangka pemikiran perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat.
Paket agroteknologi untuk lahan pertanian telah banyak tersedia dan direkomendasikan berdasarkan berbagai hasil penelitian, tetapi tidak semua agroteknologi dapat diterima dengan baik oleh petani dan efektif dalam mengurangi erosi dan meningkatkan pendapatan petani. Selain itu tidak semua agroteknologi yang sama dapat diterapkan diberbagai lokasi. Teknik KTA akan efektif jika penggunaan lahan sudah cocok (sesuai dengan kelas kemampuan dan kesesuaian lahan). Agroteknologi tidak ada yang mendukung tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak ada teknik KTA yang dapat mencegah erosi kalau
DAS Batang Pelepat
Karakteristik Biofisik Karakteristik Sosial Ekonomi
Tipe dan Agroteknologi UTKKS
Analisis Sosial Ekonomi :
Economically profitable and Socially acceptable & Applicable
UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat
Tipe dan Agroteknologi UTKKS Berkelanjutan Analisis Ekologi :
Enviromental friendly
kondisi tanahnya tidak cocok untuk pertanian (Sinukaban 1989). Berbagai teknik KTA yang dibutuhkan untuk melengkapi agroteknologi usahatani juga bervariasi dan dapat dipilih melalui simulasi sesuai dengan kondisi biofisik dengan menggunakan model Universal of soil loss equation (USLE). Efektivitas suatu teknik KTA untuk mengurangi erosi dapat diindikasikan oleh laju erosi aktual yang lebih kecil daripada Etol (Dariah et al. 2004).
Agroteknologi dalam SPB juga harus dapat diterima dan diterapkan oleh petani dengan sumberdaya yang tersedia baik pengetahuan, ketrampilan maupun tingkat persepsinya (Sinukaban 2007b). Hal ini berarti bahwa agroteknologi yang dipilih dalam usahatani harus pula disesuaikan dengan karakteristik (kendala) sosial ekonomi masyarakat, seperti ketersediaan modal petani, baik lahan, tenaga kerja maupun sarana produksi lainnya. Oleh karena itu agroteknologi juga akan mempengaruhi pendapatan petani, karena agroteknologi yang dipilih akan berhubungan dengan modal usahatani. Petani akan mengadopsi suatu agroteknologi jika mereka memperoleh manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut (Arifin 1996; Cahyono 2002 dan Santoso et al. 2004).
Pemilihan agroteknologi usahatani dalam penerapan SPB harus berdasarkan berbagai kriteria, yaitu memberi keuntungan kelestarian lingkungan (environmentally friendly), memberi keuntungan ekonomi kepada masyarakat (economically profitable), serta dapat diterima dan diaplikasikan oleh masyarakat (socially acceptable and Applicable) secara simultan. Berbagai metode dapat digunakan untuk merumuskan model pertanian berkelanjutan dalam pengelolaan DAS melalui analisis sistem multikriteria. Multiple goal programming (MGP) atau program tujuan ganda (PTG) adalah salah satu model yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang mengakomodasi berbagai tujuan atau kepentingan secara simultan (Nasendi dan Anwar 1985; Mulyono 1991 dan Briassoulis 2004).
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran, penelitian ini bertujuan untuk :
1. mengidentifikasi karakteristik lahan dan tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat. 2. menganalisis pengaruh tipe UTKKS terhadap beberapa sifat tanah, aliran
permukaan dan erosi.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini menyajikan kajian biofisik dan sosial ekonomi DAS Batang Pelepat terutama yang berkaitan dengan UTKKS dan alternatif pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :
1. memberi informasi dan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam memanfaatkan lahan di DAS Batang Pelepat yang sebagian besar termasuk dalam kawasan penyangga TNKS.
2. menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan SPB di kawasan hulu DAS Batanghari (khususnya DAS Batang Pelepat) sehingga dapat mengurangi tekanan penduduk terhadap TNKS.
3. menjadi sumber informasi bagi petani setempat sebagai pengguna lahan. 4. pengembangan ilmu pengetahuan dalam merancang usahatani yang