BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Kayu
Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam dan merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan bahan baku pembuatan pulp ataupun kertas sesuai dengan kemajuan teknologi. Umumnya pohon didefinisikan sebagai tanaman berkayu yang mempunyai tinggi 4,5 – 6 meter atau lebih. Kayu dibentuk oleh berbagai macam tumbuhan, banyak diantaranya tidak mencapai tinggi pohon. Batang pohon yang berdiameter di atas 16 cm dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1.Kayu daun lebar 2.Kayu daun jarum
Kayu daun lebar mempunyai struktur sel lebih lengkap daripada kayu berdaun jarum, memiliki por – pori (sel pembuluh). Kayu berdaun jarum tidak mempunyai pori – pori atau sel pembuluh, melainkan sel trakeda yaitu sel yang berbentuk panjang dengan ujung – ujung yang kecil sampai meruncing. Kayu daun jarum mempunyai struktur yang lebih sederhana daripada kayu daun lebar. Pada kayu dan jarum, jumlah jenis selnya lebih sedikit dan kombinasi bentuk – bentuk jaringannya juga lebih sederhana. Jumlah jenis pohon daun jarum di Indonesia hanya sedikit dibandingkan jenis kayu berdaun lebar yang termasuk kayu daun jarum yaitu pinus atau tusam, agathis (damar) dan lain – lain. Pada kayu daun lebar antara lain Jati, Meranti, Eucalyptus ( kayu putih ) dan lain
sebagainya yang mempunyai potensi cukup banyak di Indonesia ( Fengel, D. G. 1995).
2.2 Bahan Baku Pembuatan Pulp
Bahan baku pembuatan pulp adalah tumbuh-tumbuhan dengan kadar selulosa tinggi. Bahan baku tersebut dapat dibagi atas dua golongan :
a. Bahan baku kayu : mempunyai serat yang panjang, berasal dari pohon berdaun lebar (akasia dan lamtoro) dan pohon berdaun jarum (jarum dan cemara)
b. Bahan baku kayu : mempunyai serat pendek, berasal dari jerami, merang, dan rumput-rumputan.
Dewasa ini, industri pulp dan kertas selain menggunakan bahan baku tersebut diatas, ada juga memanfaatkan kertas/karton bekas sebagai bahan bakunya. Hal ini dilakukan karena terbatasnya persediaan bahan baku segar yang langsung bersumber dari alam.
PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menggunakan kayu jenis Eucalyptus sebagai bahan baku pembuat pulp. Tanaman Eucalyptus merupakan salah satu tanaman hutan yang banyak digunakan sebagai sumber industri. Selain itu juga tanaman ini banyak digunakan dalam usaha konversi lahan kritis atau usaha penghijauan kembali (PT. TPL., 2002).
Eucalyptus delupta merupakan salah satu jenis kayu putih yang dapat
memiliki pohon cukup besar dan tinggi mencapai 75 meter. Batang lurus dan sangat baik bentuknya, percabangan pertama lebih kurang 50 – 70% dari tinggi batang. Kulit batang tipis, berwarna kuning, cokelat sampai ungu dan mudah mengelupas dan setelah lepas menjadi warna hijau.
Eucalyptus delupta menginginkan curah hujan dan temperatur yang sangat
tinggi sepanjang tahun. Pada kondisi seperti ini pohon akan cepat tumbuh dengan bentuk yang baik. Pohon juga sangat peka terhadap api, dapat berbuah disaat masih muda. Pohon ini dapat tumbuh dengan baik di tempat-tempat terbuka dan terkena sinar-sinar matahari langsung. Baik dataran tinggi maupun dataran rendah. Kayu putih atau Eucalyptus sp tumbuh baik di daerah musim kemarau yang agak basah maupun kering serta dapat tumbuh pada daerah yang tidak subur, pada ketingginan 0 – 500 meter diatas permukaan laut ( Fengel.D.G., 1995).
2.3 Sifat – sifat Umum Kayu
Sifat – sifat kayu yang dimaksud antara lain yang bersangkutan dengan sifat – sifat anatomi kayu, sifat – sifat fisik, sifat – sifat mekanik, dan sifat – sifat kimianya.
2.3.1 Sifat Fisik Kayu
Beberapa hal yang tergolong dalam sifat fisik kayu adalah berat jenis, higroskopis, warna, dan lain – lain.
A. Berat jenis
Salah satu sifat yang penting bagi bahan baku pulp adalah berat jenis kayu tersebut. Berat jenis ditentukan antara lain oleh tebal dinding sel, kecilnya rongga sel yang membentuk pori – pori. Umumnya berat jenis kayu ditentukan berdasarkan berat kayu, kering tanur atau kering udara dan massa air yang bervolume sama.
B. Higroskopik
Kayu mempunyai sifat higroskopik, yaitu dapat menyerap molekul air atau kelembaban dan suhu udara pada suatu saat. Makin lembab udara disekitarnya akan makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Kadar air perlu ditentukan karena berpengaruh besar pada kondisi pemasakan pulp. Kayu yang baru ditebang kadar airnya sekitar 80 – 90%.
C. Warna
Pada umumnya warna sesuatu jenis kayu bukanlah warna yang murni, tetapi warna campuran beberapa jenis warna. kadang terdapat satu warna mencolok dengan kombinasi warna – warna lain yang sukar dipisahkan. Ada beberapa macam warna pada kayu antara lain warna kuning, keputih-putihan, cokelat muda, cokelat tua, kehitam-hitaman, kemerah-merahan dan lain-lain.
( Achmadi. S. 1990)
2.3.2 Sifat Kimia Kayu
Secara kimia, kandungan bahan yang terdapat dalam kayu dibagi menjadi 4 bagian yaitu : a.Cellulosa b.Hemicellulosa c.Lignin d.Extractives e.Abu
Komposisi dan sifat sifat kimia dari komponen komponen ini sangat berperan dalam proses pembuatan pulp. Pada setiap pemasakan, kita ingin mengambil sebanyak mungkin selulosa dan hemiselulosa disisi lain lignin dan extractive tidak dibutuhkan / dipisahkan dari serat kayunya. Komposisi kimia kayu bervariasi untuk setiap spesies.
Tabel 1.1 : Komposisi Typical Chemical Antara Hard wood dan Soft wood
Komponen Soft wood Hard wood
Sellulosa 42 ± 2% 45 ± 2%
Hemisellulosa 27 ± 2% 30 ± 5%
Lignin 27 ± 2% 20 ± 4%
Extractive 3 ± 2% 5 ± 3%
a.Sellulosa
Sellulosa merupakan bagian utama yang membentuk dinding sel daripada kayu. Merupakan polimerisasi yang sangat kompleks dari gugus karbohidrat yang mempunyai persen komposisi yang mirip dengan starch yaitu glukosa yang terhidrolisa oleh asam.
b.Hemisellulosa
Hemisellulosa juga merupakan polimer-polimer gula. Berbeda dengan glukosa yang terdiri dari polimer glukosa, hemisellulosa merupakan polimer dari lima bentuk gula yang berlainan yaitu glukosa, mannosa, galaktosa, xylosa, dan arabinosa. Rantai hemisellulosa lebih pendek dibandingkan dengan rantai sellulosa, karena hemisellulosa mempunyai derajat polimerisasi yang lebih
rendah. Molekul hemisellulosa terdiri dari 300 unit gugus gula. Berbeda dengan sellulosa, Polimer hemisellulosa berbentuk tidak lurus, tapi merupakan polimer-polimer bercabang, yang berarti hemisellulosa tidak akan dapat membentuk struktur kristal dan serat mikro seperti halnya sellulosa. Pada proses pembuatan pulp hemisellulosa bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan sellulosa.
c.Lignin
Lignin merupakan zat yang tidak berbentuk yang bersama sama dengan sellulosa membentuk dinding sel dari pohon kayu. Ia berfungsi sebagai perekat atau semen antara sel sel sellulosa yang membuat kayu menjadi kuat. Lignin merupakan polimer tiga dimensi yang bercabang banyak. Satu molekul lignin dengan derajat polimerisasi yang tinggi merupakan molekul yang besar karena ukurannya dan struktur tiga dimensinya. Lignin didalam kayu berfungsi sebagai lem atau semen. Lapisan (lamela) tengah dengan kandungan utamanya adalah lignin, mengikat sel-sel itu dan sehingga terbentuk struktur kayu. Dinding sel juga mengandung lignin. Pada dinding sel, lignin bersama dengan hemisellulosa membentuk semen (matriks) dimana tersusun sellulosa yang berupa mikro fibrils.
d.Extractives
Kayu biasanya mengandung berbagai zat zat dalam jumlah yang tidak banyak yang disebut dengan istilah “extractive”. Zat-zat ini dapat diambil / dipisahkan dari kayu apakah dengan memakai pelarut air maupun pelarut organik seperti alkohol atau eter. Asam-asam lemak, asam-asam resin, dan gugus fenol adalah beberapa grup yang juga merupakan extractive. (PT. TPL. 2002).
Disamping persenyawaan-persenyawaan organik, di dalam kayu masih ada zat-zat anorganik, yang disebut bagian-bagian abu (mineral pembentuk abu yang tinggal setelah lignin dan sellulosa habis terbakar). Kadar zat ini bervariasi antara 0,2-1% dari berat kayu (Dumanauw, 1990).
2.4 Proses Pembuatan Pulp
Proses pembuatan pulp kebanyakan didominasi oleh proses kraft (sulfat), penyebab utamanya adalah karena proses kraft memiliki keunggulan dibandingkan dengan proses lain, dimana prosesnya sangat simpel dan cepat serta dapat digunakan untuk semua jenis kayu dan biaya produksi sangat rendah dibandingkan dengan proses lain.
PT. Toba Pulp Lestari, Tbk pada saat ini hanya memproduksi pulp dengan menggunakan bahan baku kayu jenis Eucalyptus.
Tahapan pengolahannya meliputi : Pemupukan kayu ( wood yard ) Pengulitan ( Debarking ) Penyerpihan ( Chipping )
Pemasakan dan penyaringan ( Washing and Screening ) Pemutihan ( Bleaching )
a. Tahap pembuatan serpihan kayu ( Chipping )
Penyediaan bahan baku kayu dengan ukuran panjang 2 – 4 meter dan diameter rata – rata 30 – 60 mm diangkut dan ditumpuk pada tempat penampungan kayu (Wood yard) untuk dikeringkan secara alamiah. Selanjutnya dikirim kealat pengelupas kulit kayu (drum baker).
Setelah kayu keluar dari debarking drum, kayu akan dibawa ke washing station untuk dicuci dengan cara penyemprotan air, setelah itu kayu dikirim ke chipper untuk dicincang menjadi serpihan kayu ( chip ). Ukuran dari chip yang dihasilkan tebalnya 4,0 mm dengan panjang 24,0 mm dan ukuran ini sudah menjadi ketentuan agar chip mudah masuk kedalam digester untuk dimasak (Sirait. S., 2003).
b. Tahap pemasakan dan penyaringan
Proses pembuatan pulp dimaksudkan untuk menghasilkan serat selulosa yang terdapat di dalam bahan baku. Proses tersebut dapat digolongkan atas tiga jenis yaitu proses mekanis, proses semi kimia dan proses kimia.
Proses Mekanis
Proses ini bertujuan untuk memisahkan serat dari bahan baku dengan cara mekanis, bahan baku yang diolah biasanya adalah jenis kayu lunak. Proses mekanis sangat sederhana dan biaya operasinya murah, dan selulosa yang hilang sedikit. Akan tetapi kualitas pulp yang dihasilkan kurang baik, karena masih mengandung bahan – bahan non selulosa, selain itu seratnya juga mengalami
kerusakan. Umumnya pulp ini digunakan untuk pembuatan kertas bermutu rendah, seperti kertas karbon, koran, kertas pembungkus dan lain sebagainya.
Proses Semi Kimia
Proses ini merupakan kombinasi dari proses mekanis dan proses kimia semua bahan kimia yang umum digunakan dalam proses kimia dapat juga digunakan untuk proses semi kimia, dengan mengurangi jumlah pemakaian bahan kimia tersebut. Bahan baku mengalami perlakuan kimia untuk menghilangkan ikatan lignoselulosa secara parsial dan perlakuan mekanis untuk mendapatkan pemisahan serat yang sempurna. Hasil yang diperoleh dengan proses ini lebih rendah dibandingkan dengan proses mekanis.
Proses Kimia
Pada proses kimia bahan baku dimasak dengan menggunakan bahan kimia di dalam suatu alat yang disebut digester. Pemasakan ini bertujuan untuk menghilangkan zat – zat non selulosa yang terdapat di dalam bahan baku melalui reaksi kimia. Sebagian lignin akan larut pada proses pemasakan, sehingga proses ini disebut juga delignifikasi dan lignin yang larut dalam proses ini dipindahkan pada proses pencucian. (Sirait. S., 2003).
Pada proses kimia dibagi menjadi 3 kategori :
a. Proses soda b. Proses sulfit c. Proses sulfat
a. Proses Soda
Dalam proses soda kayu dimasak dengan larutan sodium hidroksida. Larutan sisa pemasakan dipekatkan dan kemudian dibakar, yang akan menghasilkan sodium karbonat, dan apabila diolah dengan menambahkan batu kapur akan menghasilkan sodium hidroksida. Nama proses “soda” karena bahan kimia yang ditambahkan kedalam prosesnya berupa sodium karbonat. Proses ini sekarang sudah tidak dipakai lagi. (PT.TPL.2002).
b. Proses sulfit
Pembuatan pulp kayu dengan menggunakan larutan berair kalsium hidrogen sulfit dan belerang dioksida dalam sistem bertekanan diakui dalam tahun 1866. Penemuan pelopor ini, yang dibuat di Amerika Serikat oleh B. Tilghman, dapat dipandang sebagai asal dari proses pembuatan pulp sulfit. Dibutuhkan hampir satu dasawarsa sebelum pulp sulfit pertama didunia mulai produksinya di Swedia pada tahun 1874. Ini dikerjakan oleh C.D. Ekman yang merupakan pemrakarsa utama industri pulp sulfit. Keberhasilan terakhir selama tahun 1950-an d1950-an 1960-1950-an berkena1950-an deng1950-an pengguna1950-an y1950-ang disebut basa-basa y1950-ang larut, yaitu penggantian kalsium dengan magnesium, natrium atau amonium yang memberikan jauh lebih banyak dalam pengaturan kondisi pemasakan. (Sjostrom.E.1995).
c. Proses sulfat ( kraft )
Proses pembuatan pulp kraft menggunakan bahan kimia NaOH dan Na2S
pemasak yang hilang selama proses, sehingga dikenal sebagai proses sulfat. Proses pembuatan kraft ini ditemukan pada ttahun 1884 oleh seorang ahli kimia yang berkebangsaan Jerman yang bernama Carl F. Dahl. Sementara kata kraft berasal dari bahasa Jerman yang berarti kuat.
Penambahan ion sulfida akan mempercepat delignifikasi, dengan kerusakan kecil pada selulosa dan hemiselulosa. Ion sulfida menyebabkan sulfonasi pada rantai propana yang bersambung dengan gugus fenolik dalam molekul lignin yang sangat panjang. Reaksi selanjutnya menyebabkan perpecahan molekul lignin menjadi bagian – bagian yang lebih kecil yang mana garam natriumnya akan larut dalam larutan pemasak. Pemakaian Na2S mempunyai
keuntungan lain karena Na2S akan terhidrolisa menjadi NaOH dan NaHS.
Sehingga akan menambah jumlah NaOH dalam larutan.
Pulp yang dihaasilkan dalam proses ini disebut pulp kraft, dan mempunyai kekuatan tarik yang tinggi. Pulp kraft yang tidak diputihkan digunakan untuk pembuatan kertas pembungkus bahan makanan, bahan bangunan dan mineral. Sedangkan yang diputihkan digunakan untuk berbagai macam kertas dan karton. (PT. TPL., 2002).
Salah satu proses yang terpenting dalam pembuatan pulp yaitu proses pemasakan kayu yang telah chip dilakukan di digester plant dengan menggunakan panas dan reaksi kimia. Bahan kimia yang digunakan adalah caustic soda (NaOH) dan Sodium Sulfida ( Na2S ) campuran ini disebut white liquor. Panas ini
diperoleh dari hasil pemanasan pada liquor heater secara tidak langsung dengan pertukaran panas ( steam ) dalam sistem sirkulasi lindi pemasak.
Pemanasan biasanya dilakukan pada suhu 1600C – 1800C selama 120 – 180 menit. Pemanasaan ini bertujuan untuk menghilangkan zat – zat non selulosa yang terdapat di dalam bahan baku melalui reaksi kimia. Sebagian lignin akan larut pada proses pemasakan, sehingga proses ini disebut juga “delignifikasi”. Lignin yang larut dalam larutan pemasak ini dapat dipindahkan pada unit pencucian.
Setelah pemasakan, pada pulp dan lindi pemasak dikeluarkan dari bawah bagian bejana pada tekanan yang diturunkan masuk ke dalam tangki penghembusan. Kotoran dengan ukuran besar yang tidak cukup masak ( mata kayu ) disaring lalu dikembalikan kedalam bejana untuk pemasakan ulang.
Proses pencucian merupakan lanjutan dari proses pemasakan dimana bubur kayu yang telah dimasak mengalami pencucian pada unit washing. Bubur kayu yang masuk ke knotter dicuci dalam tempat unit washer yaitu vakum washer. Dalam tahap ini proses pencucian dilakukan dengan cara mensirkulasi kembali liquor yang besar penambahannya lebih kecil 0,5% dari total jumlah
white liquor air pencuci dan aliran bubur kayu arahnya berlawanan untuk
mencegah terikutnya kembali lignin bersama pulp. Lindi pemasak bekas dikeluarkan setelah pencucian pulp dengan arah berlawanan dan diproses lebih lanjut di dalam alur pemulihan.
Tujuan dari proses pencucian ini adalah untuk memisahkan kandungan lignin yang masih tersisa setelah proses pemasakan pada digester sebelum dilanjutkan proses pengelantangan ( bleaching ). Untuk mengetahui kadar lignin
yang masih terdapat di dalam bubur kayu, maka dilakukan dengan analisa dengan metode tidak langsung untuk mengetahui derajat delignifikasi ( Sirait . S., 2003 ).
2.5. Proses Pemutihan Pulp
Proses pemutihan dapat dianggap sebagai suatu lanjutan proses pemasakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki brightness dan kemurnian dari pulp. Hal ini dicapai dengan cara menghilangkan atau memutihkan bahan pewarna yang tersisa pada pulp. Lignin yang tersisa adalah suatu zat yang paling dominan untuk menghasilkan warna pada pulp. Oleh karena itu harus dihilangkan atau diputihkan.
Tujuan utama proses pemutihan secara umum dapat diringkas sebagai berikut :
1.Memperbaiki brightness 2.Memperbaiki kemurnian
3.Degredasi serat sellulosa seminimum mungkin
Pengurangan kandungan resin didalam pulp juga faktor lain yang penting dalam proses pemutihan.(Sirait. S. 2003).
2.6 . Bahan Kimia Pada Proses Pemutihan Pulp
1. Khlorin (Cl2)
Khlorin sangat murah dan bahan kimia yang paling cocok untuk mengubah banyak lignin dan bahan bahan yang bukan sellulosa di dalam pulp yang larut. Pada kondisi yang normal khlorin sangat sedikit merusak terhadap serat serat sellulosa asal saja konsentrasi,temperatur, dan waktu reaksi dikendalikan secara hati-hati.
2. Sodium Hidroksida (NaOH)
Pada saat Khlorin bereaksi dengan lignin dan resin, sebahagian besar saja yang dihasilkan tersebut larut dalam air. Karena Khlorinat lignin dan resin sangat mudah larut dalam larutan alkali, perlakuan alkali menyusul setelah proses khlorinasi. Sodium hidroksi (kaustik soda) merupakan salah satu alkali kuat . Ini merupakan bahan kimia yang dapat merusak kulit.
3. Oksigan (O2)
Gas oksigen digunakan sebagai suatu zat pemutih bersama sama dengan alkali pada tahap ekstraksi. Gas oksigen memperkuat sifat sifat pulp yang diputihkan. Hal ini mungkin membuat berkurangnya emisi yang dapat mengganggu terhadap lingkungan.
4. Sodium Hypokhlorit (NaOCl)
Hypokhlorit adalah persenyawaan khlorin yang pertama digunakan untuk proses pemutihan. Sodium Hypokhlorit dibuat dari khlorin dan kaustik soda.
Senyawa ini merupakan larutan yang tidak stabil dan cenderung terurai yang meningkat dengan kenaikan konsentrasi dan temperatur serta berkurangnya sifat alkali.
5.Khlorin Dioksida (ClO2)
Khlorin dioksida merupakan salah satu bahan kimia pengoksida kuat, kerja dari proses ini umumnya dengan cara oksidasi terhadap lignin dan bahan-bahan berwarna lainnya. Ini digunakan untuk memutihkan pulp yang berkualitas sebab ini memiliki keunikan yang sanggup mengoksidasi bahan yang bukan sellulosa dengan kerusakan pada sellulosa yang minimum.(PT.TPL.2002)
2.7 Tahapan Proses Pemutihan Pulp
Pemutihan yang sudah modern biasanya dilaksanakan secara bertahap dengan memanfaatkan bahan-bahan kimia dan kondisi-kondisi yang berbeda-beda pada setiap tahap. Pada umumnya digunakan perlakuan kimia dan secara singkat ditunjukkan dengan urutan sebagai berikut :
- Khlorinasi (C)
Reaksi dengan elemen khlorin dalam suatu media asam
- Ekstraksi Alkali (E)
Pemisahan hasil reaksi dengan caustic
- Ekstraksi Oksidasi (E/O)
- Hypokhlorit (H)
Reaksi dengan Hypokhlorit dalam suasana alkali
- Khlorin Dioksida (D)
Reaksi dengan Khlorin Dioksida dalam suasana asam
- Oksigen (O)
Reaksi dengan elemen O2 yang bertekanan dalam suasana alkali.
Pada tahap khlorinasi, lignin dikhorinasi menjadi khlorolignin(yang akan menjadi terlarut pada tahap ektraksi), sehingga proses delignifikasi terjadi. Oksigen juga dipergunakan pada tahap ekstraksi dan terutama digunakan pada proses delignifikasi.
Pada tahap pemutihan dengan menggunakan Hypokhlorit, kelompok khromoporik lignin hancur. Brightness meningkat sangat tinggi pada tahap ini. Kalsium atau Sodium Hypokhlorit kemungkinan bisa dipergunakan. Salah satu kerugian pada perlakuan ini adalah bahwa sellulosa juga diserang oleh hypokhlorit, dan oleh karena itu kondisi-kondisi operasi selama perlakuan ini harus diperhatikan dengan seksama untuk mencegah terjadinya kerusakan pada sellulosa.
Tahap pemutihan dengan Khlorin Dioksida menghasilkan brightness pulp yang tinggi. Keuntungan dengan perlakuan ini adalah bahwa Khlorin Dioksida menghancurkan lignin tanpa merusak sellulosa.
Peroksida digunakan pada proses pemutihan pulp secara kimia. Digunakan pada kondisi-kondisi yang relatif sejuk (35 sampai 55oC). Peroksida merupakan zat pemutih yang efektif untuk melindungi sellulosa, memperbaiki brightness tanpa kehilangan produksi yang berarti.(Sirait.S.2003).
2.8 Titrasi redoks
Titrasi redoks banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia karena berbagai zat organik dan zat anorganik dapat ditentukan dengan cara ini. Namun demikian agar titrasi redoks ini berhasil dengan baik maka persyaratan berikut harus dipenuhi :
1.Harus tersedia pasangan sistem redoks yang sesuai sehingga terjadi pertukaran elektron secara stoikiometris.
2.Reaksi redoks harus berjalan dengan cepat dan berlangsung secara terukur (kesempurnaan 99,9%)
3.Harus tersedia penentuan titik akhir yang sesuai.
Potensial sistem redoks merupakan peubah yang paling khas yang berubah selama berlangsungnya titrasi redoks. Karena itu, harga potensial yang diukur dapat dirajah pada kertas grafik sebagai fungsi volume peniter yang ditambahkan. (Rivai. H 2006).
2.9 Titrasi Permanganometri
Titrasi Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasrkan reaksi oleh kalium permanganat (KmnO4). Reaksi yang difokuskan pada reaksi oksidasi
dan reduksi yang terjadi antara KmnO4 dengan bahan baku tertentu. Zat
pengoksidasi yang kuat ini diperkenalkan dalam analisis titrimetri oleh F. Margueritte untuk titrasi besi (II), dalam larutan asam, reduksi ini dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral, dan alkalis.
Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator dan umumnya dilakukan dalam suasana asam karena akan lebih mudah mengalami titik akhir titrasi.
Reaksi dalam suasana netral
MnO4- + 4H+ + e MnO4 + 2H2O
Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi ke kanan dalam suasana alkalis (Basa).
MnO4- + e MnO42-
MnO4- + 2H2O + 3e MnO2 + 4OH-
Larutan ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumlah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air lebih lazim untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya dipenangas uap selama ½ jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tidak mereduksi yang telah dimurnikan atau melalui kertas saring.
(http://www.ibookee.net/search/titrasi-permanganometri.html)