PENDIDIKAN PENYADARAN
BAGI NARAPIDANA DI LEMBAGA
PEMASYARAKATAN
(Studi Tentang Pembinaan Narapidana Pada Lapas Wanita
Dewasa klas IIA Tangerang)
oleh Siti Nurhasanah*, Achmad Sanusi, Dedi Mulyasana, Yosal
Iriantara.
email: [email protected]
A wide various of causes human go to the prison is due to personal and environmental factors,
namely are: ignorance, economic factors, and most importantly, a lack of understanding of
the religious affiliations. The general objectives of this research is to reveal the impact of from
management education awareness in Penitentiary (Lapas) by taking sample in Lapas Wanita
Dewasa Tangerang. The aims of this study are to describe, analyze, clarify, issues related to:
(a). Awareness education program for Lapas Klas II A, Wanita Dewasa Tangerang. (b). The
implementation strategy of the education programs for convicted criminal (narapidana) at the
Penitentiary. (c). Problems and weaknesses faced by officers in implementation the programs.
(d). Efforts and strategic steps undertaken by the head of penitentiary (Kalapas) and its officers
in the implementation of the Education Management Awareness training for convicted criminal
at the Penitentiary. Three basic theories that underlie this study are: (1) Maslow’s theory is a
theory that comes to the concept of hierarchy of human needs, as a basis for human motivation
to behave. (2) Criminal theory that is supports of Restorative Justice as a higher value in the
direct involvement of the parties. The victims were able to restore control elements, while the
perpetrators are encouraged to assume responsibility as a step in fixing the errors caused by
crimes and in building the social value system. (3) Freire’s theory, which states that the task
of delivering individual educators in the phase of critical awareness by getting them to ask
questions, and exposes them to the world appropriately. The basic concept of theory: Six vlaue
systems are theological,legal, aesthetic, Logical-rational, physical-phsycological and teleological
values that essentialy lead the life of that value above.This research method is qualitative
research. The results showed that the head of Penitentiary and its officials have tried to perform
task with the aim of helping convicted criminal lead at the time in custody or after release from
the Penitentiary. From this research, there are some recommendations that can be delivered are:
PENDAHULUAN
Berbagai macam tindak kejahatan penyebab manusia masuk ke Lembaga Pemasyarakatan karena faktor pribadi dan lingkungan yaitu: kebodohan, himpitan ekonomi dan yang terpenting kurangnya pemahaman terhadap agama yang dianut.
Berbagai tindak kejahatan sering terjadi di masyarakat, misalnya pencurian, perampokan, penipuan, pembunuhan dan sebagainya. Dari semua tindak kejahatan tersebut terjadi dikarenakan berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, seperti keterpaksaan seseorang melakukan tindak kejahatan pencurian dengan alasan faktor ekonomi atau terpengaruh dengan lingkungan yang ada di sekitarnya dan sebagainya.
Semua tindak kejahatan yang terjadi tersebut lazimnya akan mendapat ganjaran yang setimpal atau seimbang, sehingga dengan demikian ketertiban, ketentraman dan rasa keadilan di masyarakat dapat tercapai dengan baik.
Ganjaran/hukuman dari kejahatan tersebut diberikan dalam bentuk pidana penjara sebagai tempat pembinaan yang pada akhirnya disebut sebagai lembaga pemasyarakatan, selanjutnya disebut Lapas.
Dari kondisi dan fakta masalah yang terjadi di Lapas, bermuara pada kurangnya pembinaan spiritual untuk narapidana secara sadar, mendalam dan
berkesinambungan. Kebanyakan manusia tidak patuh sepenuhnya kepada perintah Allah dan belum kembali kepada jati diri.
Reorientasi terhadap narapidana merupakan fokus masalah (akar masalah) karena penanganannya berkaitan dengan perbaikan masalah gangguan mental dan psikis melalui pemahaman agama yang harus diajarkan, diingatkan dan dipraktekkan setiap hari secara terus menerus, dari semua pihak yang terkait.
Dasar pertimbangan riset ini adalah bahwa peneliti ketika melihat siaran TV dan membaca di koran tentang kondisi Lapas yang sangat memprihatinkan saat ini, merasa terpanggil untuk turut serta meneliti dan menyumbangkan pemikiran, sehingga peneliti memilih penelitian di Lapas, dengan judul disertasi :
“Pendidikan Penyadaran bagi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Studi Tentang Pembinaan Narapidana Pada Lapas Wanita Dewasa Klas IIA Tangerang)”.
Oleh sebab itu dalam Pendidikan Penyadaran dalam hal ini pemahaman terhadap agama sangat dibutuhkan untuk membentengi akhlak narapidana dalam menghadapi berbagai macam masalah khususnya selama keberadaannya di Lapas. Karena pemahaman agama yang benar dibutuhkan untuk penguatan mental dan spiritual sehingga ujian tersebut membuat
(1) Development officer insight in dealing with issues such as the development of new types of
drugs and other crimes. (2) Tiered system of coaching education, equality of treatment and
care, education, respect for the dignity needs to be fixed. (3) The concept worthy of studies in
relation to learning process in Penitentiary are knowing the identity, the six value system and
on going education. (4) Ensuring the right of Penitentiary to keep in touch with family and
certain people (advisers and lawyers).
manusia berubah kembali menjadi baik.
Masalah pendidikan penyadaran terhadap narapidana di Lapas menjadi menarik untuk diteliti terutama yang berkaitan dengan kondisi Lapas dewasa ini banyak disoroti media massa, karena gejolak yang terjadi di beberapa Lapas yang terkesan karena kurangnya pembinaan, khususnya di bidang pendidikan penyadaran disamping masalah-masalah lainnya.
Dalam pelaksanaan program pendidikan penyadaran narapidana agar kembali menjadi warganegara yang baik, diperlukan kerjasama dari berbagai elemen untuk dimasukkan dalam proses, sehingga hal itu dapat terlaksana dengan baik sebagaimana gambar perumusan dan pembatasan masalah dibawah ini.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif karena usaha untuk menemukan aspek substantif dan prosedural dalam mengendalikan, mengawasi dan mengeluarkan kebijakan Kalapas dalam mengelola lembaganya untuk meningkatkan mutunya sangat mungkin dilakukan dengan metode ini.
Dari semua yang dilakukan peneliti, akan menghasilkan ilmu untuk mendukung dan memperbaiki Pendidikan Penyadaran yang dapat diterapkan di Lapas Wanita khususnya, sehingga menghasilkan manusia-manusia yang berakhlak mulia, berjiwa sosial dengan azas tolong menolong, mengedepankan diri dengan pengelolaan emosi dan spiritual yang baik, menjalin konsep jati diri dengan jalinan seni dalam kehidupan.
Selain itu alasan lain penggunaan metode tersebut adalah bahwa dengan pendekatan kualitatif, ingin didapatkan kedalaman temuan penelitian secara alamiah, karena metode ini tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang.
LANDASAN TEORI
1. Teori Maslow
Pembahasan selanjutnya yaitu teori Maslow yang secara garis besar teori nya dibagi menjadi dua yaitu: Pertama, Kebutuhan dasar, terdiri dari: kecukupan fisiologis, keselamatan dan keamanan. Kedua adalah Kebutuhan pertumbuhan, yang terdiri dari: keterlibatan dan hubungan sosial, harga diri dan aktualisasi diri. (Agustian A.G. 2004: 267-268).
Kebutuhan itu digambarkan sebagai sebuah piramida yang mengerucut, sebagaimana gambar berikut ini.
Maslow sadar teori yang dibuatnya harusnya dibalik. Sebab, teori piramida yang selama ini dianut membuat orang seluruh dunia menjadi serakah dan tamak. Karena di kehidupan orang hanya akan mengejar kebutuhan dasar yang terdiri dari fisiologis, keselamatan dan keamanan.
Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, orang akan merasa tidak punya kekuatan untuk mengoptimalkan kebutuhan pertumbuhan yang didalamnya ada unsur keterlibatan dan hubungan sosial, harga diri, dan aktualisasi.
Untuk hidup berkecukupan secara
Gambar 1.2 : Teori Kebutuhan Maslow Sumber : pslpop.blogspot.com
fisiologis, dimulai dengan memperbaiki rasa aktualisasi diri secara optimal, hal itu akan menumbuhkan harga diri dalam menghadapi hidup. Ketika sudah punya harga diri, akan punya kemampuan keterlibatan dan hubungan sosial. Setelah itu akan terasa aman menghadapi kehidupan, fisiologis dengan sendirinya terpenuhi.
2. Teori Pidana
Salah satu tadalah Teori Rehabilitasi, ...’bahwa dijatuhkannya hukuman kepada pelaku kejahatan, tidak saja dilihat sebagai suatu balasan atas perbuatan yang merugikan atau penjeraan semata, tetapi ada suatu kegunaan tertentu yaitu dalam pelaksanaannya bukan pidana badan, tetapi pidana hilang kemerdekaan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa penempatan seseorang disuatu tempat tertentu dengan maksud membatasi kemerdekaan seseorang, maka tujuannya adalah memperbaiki pelaku kejahatan agar dapat berprilaku sewajarnya dan pantas dengan menanamkan norma-norma yang berlaku di masyarakat, atau dapat juga dikatakan dijatuhinya hukuman untuk seseorang pelaku tindak kejahatan bertujuan untuk merehabilitasi perilakunya’. (Panjahitan P.I. et al., 2007: 6).
Menurut Muladi (1995: 127-129),
restorative justice model sebagai teori yang
banyak dianut mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:
a. Kejahatan dirumuskan sebagai pelanggaran seorang terhadap orang lain dan diakui sebagai konflik;
b. Titik perhatian pada pemecahan masalah pertanggungjawaban dan kewajiban pada masa depan;
c. Sifat normatif dibangun atas dasar dialog dan negosiasi;
d. Restitusi sebagai sarana perbaikan para pihak, rekonsiliasi dan restorasi sebagai tujuan utama;
e. Keadilan dirumuskan sebagai hubungan-hubungan hak, dinilai atas dasar hasil;
f. Sasaran perhatian pada perbaikan kerugian sosial;
g. Masyarakat merupakan fasilitator di dalam proses restoratif;
h. Peran korban dan pelaku tindak pidana diakui, baik dalam masalah maupun penyelesaian hak-hak dan kebutuhan korban. Pelaku tindak pidana didorong untuk bertanggung jawab;
i. Pertanggungjawaban si pelaku dirumuskan sebagai dampak pemahaman terhadap perbuatan dan untuk membantu memutuskan yang terbaik;
j. Tindak pidana dipahami dalam konteks menyeluruh, moral, sosial dan ekonomis; dan
k. Stigma dapat dihapus melalui tindakan restoratif.
Restorative justice model diajukan oleh kaum abolisionis yang melakukan penolakan terhadap sarana koersif (yang menggunakan paksaan) yang berupa sarana penal (putusan final) , diganti dengan sarana reparatif. (Muladi, 1996 : 125).
Paham abolisionis menganggap sistem peradilan pidana mengandung masalah atau cacat struktural sehingga secara relatistis harus diubah dasar-dasar sruktur dari sistem tersebut.
Dalam konteks sistem sanksi pidana, nilai-nilai yang melandasi paham abolisionis masih masuk akal untuk mencari alternatif sanksi yang lebih layak dan efektif daripada lembaga seperti penjara. (Atmasasmita, R. 1996: 101)
Restorative justice menempatkan nilai
yang lebih tinggi dalam keterlibatan yang langsung dari para pihak yang terlibat. Korban mampu untuk mengembalikan unsur kontrol, sementara pelaku didorong untuk memikul tanggung jawab sebagai sebuah langkah dalam memperbaiki kesalahan yang disebabkan oleh tindak kejahatan dan dalam membangun sistem nilai sosialnya.
3. Teori Freire
Model pendidikan penyadaran teori Freire tersebut diterapkan sebagai alternatif solusi, terinspirasi dari praksis pendidikan pembebasan melalui penyadaran yang digagas Freire.
“Kalangan masyarakat Indonesia sudah mulai banyak berkenalan dengan pemikiran dan karya Paulo Freire, khususnya sesudah pudarnya Orde Baru (1998), namun meniti perjalanan hidup Freire barangkali akan mempermudah pembacaan Pendidikan Kaum Tertindas. ... yang akan memberi cakrawala baru dalam mendekati berbagai masalah sosial, khususnya masalah pendidikan”. (Freire P. 2013: x)
Berkaitan dengan pendidikan penyadaran itu Freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naïf (naival consciousness), dan kesadaran kritis (critical consciousness)
Kesadaran magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan antara kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supranatural) sebagai penyebab dan ketidakberdayaan.
Kesadaran naïf, keadaan yang dikatagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat.
Kesadaran kritis, kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaming the victims” dan lebih menganalisis. Untuk secara kritis menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat. (Fakih M., 2001: 23-24)
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa semua ketentuan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku secara teori maupun praktis empiris telah dilaksanakan dengan cukup baik.
Undang Undang Pemasyarakatan Nomor 12 tahun 1995 pasal 10-13, mengatur penerimaan Terpidana di Lapas. Hal yang dicantumkan pertama adalah pendaftaran, setelah itu penggolongan untuk dimasukkan ke dalam blok.
Warga Binaan yang baru masuk, diambil darahnya, kemudian diperiksa kesehatannya yaitu tes urin untuk menentukan mereka kena Narkoba, atau mengidap HIV, TBC, IMS. dan sebagainya. Penempatan pertama kali ialah di blok Menara, yaitu blok karantina, sebagai masa pengenalan lingkungan (Mapenaling), selama tiga sampai dengan 14 hari, selama itu pula kasusnya dipelajari.
Tahap kedua adalah pembahasan tentang proses pembinaan penyadaran adalah sebagai pelaksanaan dari UU No. 12 tahun 1995 pasal 15 yang bunyinya :
1) Narapidana wajib mengikuti secara tertib program pembinaan dan kegiatan tertentu.
2) Ketentuan mengenai program pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pendidikan Pembinaan menghasilkan sebuah pengalaman berharga bagi setiap aktivitas narapidana dan diperlukan rancangan pembinaan yang bermakna, agar setiap langkah-langkah itu memiliki makna perubahan bagi perilaku Narapidana yang mengikutinya.
Selain program penyadaran Lapas Wanita Tangerang juga mempunyai program yang disebut dengan ibu asuh atau disebut juga wali asuh, dan setiap wali asuh
dapat membina sebanyak 3 sampai dengan 7 narapidana.
Cooke D. J. dalam bukunya “Menyingkap Dunia Gelap Penjara” (2008: 2), mengemukakan pernyataan yang berupa pertanyaan yaitu: “Bukankah semua orang adalah psikolog? Tanpa kita sadari, bukankah sebetulnya kita selalu mempelajari kelakuan orang lain dan mencoba menerka apa yang kemudian dia lakukan?”
Dengan telah berjalannya program ibu/ wali asuh maka kebutuhan psikolog sudah bisa terbantu pelaksanaannya.
Di samping adanya masalah dan kelemahan dalam pelaksanaan dalam praktik di lapangan patut dihargai para petugas Lapas yang telah menunjukkan baktinya dalam melaksanakan tugas yang dibebankan oleh negara.
Hal ini harus mendapat perhatian khusus dari komisioner Penjara mengingat para petugas sebetulnya sudah berusaha tetapi kurangnya pendukung dalam bidang sarana-prasarana dan fasilitas lainnya.
Hasil penelitian di Lapas Wanita Dewasa Tangerang, ditemukan bahwa Kalapas dan para petugas disana telah berusaha untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya. Tugasnya yaitu melaksanakan pemasyarakatan dengan tujuan agar Narapidana tersebut dapat menjadi manusia seutuhnya sebagaimana yang telah menjadi visi Lapas yang juga menjadi tujuan Pembangunan Nasional melalui jalur pendekatan untuk memelihara dan memantapkan iman (ketahanan mental) narapidana. Sedangkan fungsinya membina narapidana dengan kearifan serta perasaan perikemanusiaan, membantu narapidana menjalani kehidupan yang akan menyadarkannya untuk mematuhi hukum sampai kembali ke masyarakat.
Tugas dan fungsi Lapas telah berjalan tetapi belum optimal karena adanya hambatan yang telah diuraikan di Bab IV. Hambatan itu intinya adalah berupa Faktor
Intern dan yang berupa Faktor Ekstern, tetapi tugas itu tetap dijalankan dengan segala daya dan upaya yang ada.
SIMPULAN DAN
REKOMENDASI
Simpulan
Dari hasil penelitian di Lapas Wanita Dewasa Tangerang, ditemukan bahwa Kalapas dan para petugas disana telah berusaha untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya.
Tugasnya yaitu melaksanakan pemasyarakatan dengan tujuan agar Narapidana tersebut dapat menjadi manusia seutuhnya sebagaimana yang telah menjadi visi Lapas yang juga menjadi tujuan Pembangunan Nasional melalui jalur pendekatan untuk memelihara dan memantapkan iman (ketahanan mental) narapidana.
Sedangkan fungsinya membina narapidana dengan kearifan serta perasaan perikemanusiaan, membantu narapidana menjalani kehidupan yang akan menyadarkannya untuk mematuhi hukum sampai kembali ke masyarakat.
Tugas dan fungsi Lapas telah berjalan tetapi belum optimal karena adanya hambatan yang telah diuraikan sebelumnya. Hambatan itu intinya adalah berupa Faktor Intern dan yang berupa Faktor Ekstern, tetapi tugas itu tetap dijalankan dengan segala daya dan upaya yang ada.
Simpulan umum dari penelitian ini dengan dasar hasil penelitian di Lapas Klas II A, Wanita Dewasa Tangerang, bahwa Manajemen Pendidikan Penyadaran bagi narapidana wanita di Indonesia umumnya dan se- Jabodetabek khususnya, masih dapat dioptimalkan lagi, karena masih ada beberapa langkah perbaikan yang dapat dilakukan.
Sedangkan kesimpulan khusus dari penelitian ini merinci seluruh proses
mengenai jalannya Manajemen Pendidikan Penyadaran narapidana yaitu:
a. Struktur program pembinaan terbagi dua yaitu program pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Pembinaan kepribadian berupa: pembinaan kerokhanian, pembinaan intelektual, pembinaan jasmani, pelayanan kesehatan. Sedangkan pembinaan kemandirian berupa: pembinaan kedisiplinan (pramuka), pembinaan kesenian (musik, nyanyi, drama, tarian), pembinaan mental (bimbingan konseling) dan pembinaan ketrampilan (kegiatan kerja).
b. Banyaknya kegiatan pembinaan tersebut setiap harinya memakan banyak tenaga dan waktu dari para Pembina.
c. Penerapan program tersebut dari dua arah yaitu dari dalam maupun dari luar. Dari dalam: pendidikan penyadaran bagi narapidana melalui program pembinaan kepribadian, program pembinaan keterampilan, kesenian yang dibina oleh petugas Lapas, atau sebaliknya dari narapidana yang mempunyai ilmu yang bermanfaat, dapat mengajarkannya kepada petugas dan narapidana lainnya. d. Dari Luar: Lapas bekerja sama dengan
Lembaga- lembaga yaitu: Yayasan L.Ummah, LKBHPK, Dompet Duafa, Dewan Dakwah Islam, PUIT, Oky Stiana Dewi, dengan Lembaga Training Independen ESQ dibidang SDM, BNN, Kepolisian, Pemda Tangerang.
e. Masalah yang sangat krusial di Lapas Wanita Dewasa Tangerang yaitu masih terdapat kasus HP yang beredar diantara narapidana, meskipun razia telah sering dilakukan dan fasilitas telpon umum pun sudah disediakan. HP ini dikhawatirkan digunakan untuk berlangsungnya transaksi narkoba seperti terjadi pada narapidana yang bernama Franola. Tidak lama Presiden SBY,memberikan pembatalan hukuman mati, BNN mendapatkan bukti Franola masih
bertransaksi narkoba dengan pihak luar. Hal ini harus mendapat perhatian khusus dari Komisioner Penjara mengingat para petugas sebetulnya sudah mendapat gaji yang cukup dan fasilitas lainnya.
f. Masalah lainnya adalah tamu/ pengunjung dari luar membawa Narkoba yang disembunyikan di dalam bagian tubuhnya untuk diberikan kepada narapidana. Beberapa narapidana terus terang mengakui masih mengkonsumsi narkoba tersebut.
g. Pengurangan anggaran menyebabkan terbatasnya kerja sama dengan pihak luar, dalam hal pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang sangat dibutuhkan Lapas dalam rangka meningkatkan pendidikan penyadaran bagi narapidana. Sampai saat ini Lapas hanya menerima sumbangan tenaga sukarela dari masyarakat yang mau membagikan ilmunya tanpa biaya, sehingga Training ESQ, sebagai salah satu pendidikan penyadaran sampai saat ini belum dapat dilaksanakan kembali, padahal menurut Patrialis Akbar, Training ESQ bagus dan cocok untuk diterapkan di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia.
h. Untuk pendidikan penyadaran narapidana rutin dilaksanakan yaitu dengan mengadakan pembinaan kesadaran Berbangsa dan Bernegara, mengadakan penyuluhan Hukum, melaksanakan training spiritual, meningkatkan pendidikan dibidang agama dan umum.
i. Langkah strategis yang dilakukan Kalapas Wanita Dewasa Tangerang dalam pelaksanaan Manajemen Pendidikan Penyadaran narapidana yaitu dengan mengadakan tahap-tahap pembinaan secara terus menerus, dengan mendatangi dan berdialog, serta mendengarkan langsung apa yang diinginkan oleh narapidana sehingga menghilangkan jarak, dan narapidana merasa di- orang- kan.
j. Usaha optimal dan strategi dalam menjalankan Manajemen Pendidikan Penyadaran narapidana di Lapas Wanita Dewasa Tangerang yaitu dengan mengevaluasi hasil kerja para petugas Lapas, memberikan penerangan mengenai narkoba jenis baru yang terus menerus berkembang di dunia Intenasional tidak hanya sekedar wacana, sehingga tidak terjadi masuknya narkoba ke Lapas. Menghindari narapidana memakai atau menjualbelikannya antar narapidana, mencegah jual beli sistem peradilan pidana, menetralisir anggapan stigmatisasi dari masyarakat. Menggiatkan pembinaan kerohanian dan pelatihan anti narkoba serta pelatihan kesehatan. Pendapatan pegawai dievaluasi agar dapat meningkatkan kesejahteraannya. Petugas Lapas dari golongan terendah hendaknya diperhatikan dengan pemberian rumah dinas di sekitar wilayah kerja.
Rekomendasi
a. Pengembangan wawasan petugas dalam menangani masalah seperti
berkembangnya jenis narkoba baru dan kejahatan lainnya.
b. Sistem pendidikan (silabus) yang berjenjang tentang pengayoman, persamaan perlakuan dan pelayanan,
pendidikan, pembimbingan, penghormatan harkat dan martabat
manusia, yang sudah berjalan terus dilaksanakan dan diadakan perbaikan. c. Konsep yang layak dipelajari sehubungan
dengan proses pembelajaran di Lapas seperti : Mengenal Jati diri, Enam sistem Nilai dan Pendidikan yang berlangsung terus menerus
d. Terjaminnya hak narapidana untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang- orang tertentu (Penasehat atau Pengacara).
Daftar Pustaka:
Agustian, A. G. (2004). ESQ Power, Jakarta: Penerbit Arga.
Muladi, (1995), Kapita Selekta Hukum Pidana, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.