1
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN VAN
HIELE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
GEOMETRI DI MTs
„
AISYIYAH
PALEMBANG
SKRIPSI SARJANA S1
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh
DALIMA
NIM. 08221002
Program Studi Tadris Matematika
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
4
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto :
Untuk mengerjar impian dan cita-cita dalam kehidupan bukan hanya
dipikirkan melainkan harus dilaksanakan.
Akhir dari suatu perkataan “Sulit” bukanlah kesimpulan permasalahan, tetapi
merupakan lembaran awal dari suatu keberhasilan, karena sesungguhnya dibalik
kesulitan itu ada kemudahan.
Kupersembahkan skripsi ini kepada :
Ayahanda (Muhamad Ali ) dan Ibunda (Darma) tercinta yang
senantiasa
mendoa’kanku, serta berkorban membanting tulang
tiada
henti
demi
keberhasilanku.
Dan
mertuaku
Ayahanda(Samsul
Hani)
dan
Ibu
nda(Suripa,Ama.Pd).
Terimakasih atas cinta dan kasih sayang kalian kepadaku.
kakakku samroni, yunili , peki jaya,SE yeni astuti SE ,ana
Diana Firhedi, Adikku dewi sopia, Alfiin.M,AM.d Agustina,
Dika M.Nur Anisa Lia Dan Keponakanku (suburman, Siti
Anisa, rahman jaya,Marsela B.S) Terima kasih atas doa dan
motivasi kalian semua kepadaku selama ini
Saudara kembarku (muhamad kadapi Dan Istrinya Hiburmah)
saya ucapkan terima kasih atas pengorbananmu selama ini yang
tak henti-hentinya berjuang demi keberhasilanku.
Bapak Dr Amir Rusdi, M.Pd dan Bapak Muhammad Isnaini
yang telah banyak membimbing, mengarahkanku dalam
penyelesaian studi (skripsi ini).
Suamiku Tercinta(Farlin januarsya, S.Pd)
Sahabat-sahabat terbaikku (Matematika 2008)
6
ABSTRACT
This research aims to determine learning outcome and student activity during the learning process by using theVanHieleLearningModelinmathematicsespecially ingeometry. In this study theoverallactivities ofthe studentsduringthe application ofthe vanHielelearningModel is got 84.95whichis categorized as veryAvtive. The results from this study showed that the average of students achievement in the experimental group is higher than in the control group which is 76 and 66,6. the hypothesis test showed that there is a significant difference to learning outcome of 9th grade students in Geometry at MTs ҅Aisyiyah palembang by using the application of the van hiele learning model too. This can be seen in the result of t-test that showed ttest= 7,42 > ttable= 1,70 with
α= 0,05.
7 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan mengunakanModel Pembelajaran Van Hiele pada pelajaran matematika khususnya pada Materi Geometri. Dalam hal ini secara keseluruhan aktivitas siswa selama penerapan model pembelajaran van hiele sebesar 84,95 yang dikategorikan sangat active. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen yaitu 76 lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar siswa Pada kelompok kontrol yaitu 66,6 Sehingga hasil uji hipotesis menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar Geometri siswa di MTs‟ Aisyiysh Palembang kelas IX dengan menggunakan penerapan Model Pembelajaran Van Hiele. Hal ini dapat dilihat pada hasil uji t yang menunjukkanthitung>ttabel= 7,42> 1,70 dengan α =
0,05.
8
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Penerapan
Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Geometri di MTs ҅ Aisyiyah Palembang”.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan program Strata Satu (S1) pada pendidikan Matetmatika Palembang. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Aflatun Muchtar, MA Selaku Rektor IAIN Raden Fatah Palembang.
2. Bapak Dr. Kasinyo Harto, M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.
3. Ibu Agustiany Dumeva Putri, M.Si. selaku Ketua jurusan Pendidikan Matematika IAIN Raden Fatah Palembang.
4. Bapak, Ibu dan Seluruh Staf jurusan pendidikan Matematika IAIN Raden Fatah Palembang.
9
7. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan Fakultas tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.
8. Bapak Suwito, S.Pd. selaku Kepala Sekolah MTs ҅Aisyiyah Palembang. 9. Ibu Lestari Andinin Utami, S.Pd selaku Guru Bidang Studi Matematika
MTs Aisyiyah Palembang.
10. Ayahanda (Muhamad Ali) Ibunda (Darma) dan Ayahanda (Samsul Hani) Ibunda (Suripa,Ama.Pd) tercinta yang selalu mendo‟akan dan tak pernah lelah membanting tulang demi keberhasilanku.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga amal baik dari semua pihak akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, Amin.
Wassalamu‟alaikum Wr.Wb.
Palembang, 08 Juli2013 Penulis,
10 DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ...i
Halaman Persetujuan ...ii
Halaman Pengesahan ...iii
Halaman Persembahan ...iv
Halaman Pernyataan...v
Abstract ...vi
Abstrak ...vii
Kata Pengantar ...viii
Daftar Isi...x
Daftar Gambar ...xii
Daftar Lampiran ...xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ...4
C. Tujuan Penelitian ...5
D. Manfaat Penelitian ...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar ...6
B. Pengertian Pembelajaran Matematika...6
C. Pembelajaran Geometri ...7
D. Aktivitas Siswa ...14
E. Hasil Belajar Matematika ...15
F. Model Pembelajaran ...16
G. Model Pembelajaran Van Hiele ...17
H. Kajian yang Relevan ...19
I. Hipotesis ...21
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ...22
B. Jenis Penelitian ...22
C. Rancangan Penelitian ...23
D. Variabel Penelitian...24
E. Definisi Operasional Variabel ...24
F. Populasi dan Sampel ...26
G. Prosedur Penelitian ...27
H. Teknik Pengumpulan Data ...28
1. Observasi ...28
2. Tes ...29
a).Uji Normalitas ...32
b).Uji homogenitas ...34
c).Uji hipotesis ...35
11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian ...38 B. Pembahasan ...64 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...70 B. Saran ...71 DAFTAR PUSTAKA ...72 LAMPIRAN
12
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kegiatan Siswa Kelas saat mengerjakan Tes Awal ...74
Gambar 2. Proses Pembelajaran Menggunakan Model Van Hiele ...74
Gambar 3. Kegiatan Siswa Saat Mengamati LKS ...75
Gambar 4. Kegiatan Siswa Saat Mengajukan pertanyaan ...75
Gambar 5. Kegiatan Siswa Saat Menjawab soal kedepan ...76
Gambar 6. Kegiatan Siswa saat diskusi kelompok ...76
Gambar 7. Kegiatan Siswa Saat Mengerjan soal ke Papan Tulis ...77
Gambar 8. Kegiatan siswa saatpersentasi hasil diskusi ...77
13
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Surat Keputusan pembibing Skripsi ... 79
Lampiran 2. Surat keputusan penunjukan pengguji skripsi ... 80
Lampiran 3. Surat Izin Penelitian Fakultas Tarbiyah IAIN ... 81
Lampiran 4. Surat Izin PenelitianKementrian Agama Palembang ... 82
Lampiran 5. Surat Pemberian Izin dari MTs ҅Aisyiyah Palembang ... 83
Lampiran 6. Surat Keterangan telah Selesai Penelitian ... 84
Lampiran 7. Silabus ... 85
Lampiran 8. Rencana Pelaksanan Pembelajaran I ... 89
Lampiran 9. Rencana Pelaksanan Pembelajaran II ... 95
Lampiran 10. Rencana Pelaksanan Pembelajaran III ... 101
Lampiran 12. Lembar Kerja Siswa ... 106
Lampiran 13. Lembar latihan LKS ... 115
Lampiran 14. .Lembar soal latihan LKS siswa ... 118
Lampiran 14. Kunci jawaban lembar LKS ... 121
Lampiran 15. Lembar Aktivitas Siswa... 123
Lampiran 16. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa... 129
Lampiran 17. Lembar Soal Pretest ... 132
Lampiran 18. Lembar Soal Postest ... 137
Lampiran 19. Hasil Tes Soal Pretes ... 147
Lampiran 20. Hasil Tes Soal Postest... 148
Lampiran 21. Analisis data hasil belajar ... 149
Lampiran 22. Kartu Bimbingan Skripsi ... 165
14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya orang berpendapat pelajaran matematika merupakan pelajaran yang cukup berat dan sulit. Oleh sebab itu guru-guru metematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai metode dan keterampilan da lam mengajar matematika Tujuannya antara lain agar guru dapat menyusun program pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi kepada siswa-siswa agar mereka dapat belajar dengan giat. Selain itu, agar siswa-siswa merasa dan benar-benar ikut serta dalam proses belajar mengajar.
15
“ karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan ” (Q.S. Alam Nasyrah: 5).
Berkaitan dengan masalah tersebut, pada pembelajaran matematika
di MTs „Aisyiyah Palembang juga ditemukan masalah yaitu hasil belajar yang belum optimal terutama pada mata pelajaran matematika. Hal ini di dapat berdasarkan hasil observasi peneliti pada proses belajar mengajar yang berlangsung di MTs „Aisyiyah palembang yaitu pada saat kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II), terlihat bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah yang disebabkan keterbatasan informasi yang mereka peroleh. Selain itu, siswa belum memahami makna atau arti dari suatu informasi. Hal ini disebabkan siswa tidak mengidentifikasi dan menuliskan informasi yang diperoleh, sehingga belum menunjukkan hasil belajar yang baik.
16
ketingkat yang lebih tinggi. Meskipun demikian, siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru.
Model pembelajaran yang dikemukakan oleh Van Hiele (1964), menguraikan tahap-tahap perkembangan mental anak didik dalam bidang geometri. Menurut Van Hiele, ada tiga (3) unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu: waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan. Jika ketiga hal tadi ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak didik pada tingkatan berfikir yang lebih tinggi. Van Hiele juga menyatakan bahwa terdapat lima tahap belajar anak didik dalam belajar geometri yaitu: tahap pengenalan, tahap analisis, tahap pengurutan, tahap deduksi, dan tahap akurasi (Pitadjeng, 2005 : 41). Maka dari itu peneliti mencoba menggunakan Model pembelajaran Van Hiele dengan tujuan agar siswa dapat belajar lebih aktif dalam pembelajaran matematika serta dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam belajar matematika dan hasil belajarnya pun di harapkan dapat lebih meningkat.
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut (Depdiknas 2006) diantaranya:
a. Menggunakan Penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
17
c. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Materi kesebangunan merupakan materi yang sulit dipahami siswa karena berdasarkan dari observasi peneliti di MTs „Aisyiyah Palembang, siswa belum mampu mengetahui syarat segitiga-segitiga yang sebangun, pengertian segitiga yang kongruen, sifat-sifat dua segitiga yang sebangun, dan syarat dua segitiga yang kongruen. Hal tersebut mengakibatkan siswa kurang menanggapi materi yang di sampaikan guru, sehingga pada saat guru menyampaikan materi kesebangunan siswa merasa tidak aktif untuk belajar dan akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.
Berdasarkan hal di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ‘‘ Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Geometri di MTs „Aisyiyah Palembang”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya apakah ada Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Materi Geometri di MTs „Aisyiyah Palembang.
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Geometri di MTs
18 D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah:
a. Siswa, dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Matematika khususnya pada Materi Geometri dengan menggunakan Model Pembelajaran Van Hiele.
b. Guru, sebagai bahan tambahan Ilmu pengetahuan tentang pembelajaran Model Van Hiele dan penerapanya dalam kelas sebagai upaya peningkatan Hasil Belajar siswa khususnya pada Materi Geometri.
19
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Belajar di anggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental ini terjadi akibat karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang di sadari (Sanjaya, 2006:10).
Menurut Slameto (2003:2) yang di maksud dengan belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan untyuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dengan interaksi dan lingkungannya. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengar, melihat, dan lain sebagainya (Sardiman, 2003:20). Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan (Daryanto 2010:2).
Jadi, belajar adalah suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru dan menyebabkan perubahan tingkah laku.
B. Pengertian Pembelajaran Matematika
20
pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mernpengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Yang terlibat dalam sistem pembelajaran yang terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya. Material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur dan lain-lain. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dan ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Sedangkan prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi praktek, belajar, ujian dan sebagainya.
C. Pembelajaran Geometri
Geometri menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika menengah, karena banyaknya konsep-konsep yang termuat di dalamnya. Dari sudut pandang psikologi, geometri merupakan penyajian abstrak dari pengalaman visual dan spasial, misalnya bidang, pola, pengukuran dan pemetaan. Sedangkan dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi. Geometri juga merupakan lingkungan untuk mempelajari struktur matematika.
Geometri (Kesebangunan):
21
Kedua bangun di atas, ABCD dan KLMN adalah dua bangun yang sebangun, karena memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a) Pasangan sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama, yaitu:
Pasangan sisi AD dan KN = Pasangan sisi AB dan KL =
Pasangan sisi BC dan LM =
Pasangan sisi CD dan MN =
Jadi,
b) Besar sudut yang bersesuaian sama, yaitu: :
2. Dua segi tiga yang sebangun
Segitiga ABC dan PQR adalah sebangun, karena memiliki sifat : a) Perbandingan sisi yang sama besar bersesuaian sama besar, yaitu :
AC bersesuaian dengan PR =
AB bersesuaian dengan PQ =
22
b) Besar sudut-sudut yang bersesuaian sama, yaitu :
Perhatikan segitiga berikut ! ABC dan ADE sebangun, maka :
Pada segitiga siku-siku dapat dibuat garis tinggi ke sisi miring, maka diperoleh rumus :
AB2 = BD x BC, AC2 = CD x CB, AD2 = BD x CD
3. Kongruenan Bangun Datar
a) Dua bangun datar yang kongruen, Perhatikan dua bangun datar berikut !
KL = PQ, LM = QR, MN = RS, NK = SP
23 b) Dua segitiga yang kongruen
Secara geometris dua segitiga kongruen adalah dua segitiga yang saling menutupi dengan tepat. Sifat dua segitiga kongruen :
a. Pasangan sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang.
b. Sudut yang bersesuaian sama besar.
4. Sifat-Sifat Dua Segitiga yang Kongruen
Untuk dapat memahami sifat-sifat dua segitiga yang kongruen,
perhatikan Gambar diatas ini. Karena segitiga-segitiga yang kongruen
mempunyai bentuk dan ukuran yang sama maka masing-masing segitiga
jika diimpitkan akan tepat saling menutupi satu sama lain. Gambar di atas
juga menunjukkan ∆, PQT dan ∆ QRS kongruen. Perhatikan panjang
sisinya. Tampak bahwa PQ = QR, QT = RS. dan QS = PT sehingga
sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua segitiga sama panjang. Selanjutnya,
perhatikan besar sudut-sudutnya. Tampak bahwa ﮮ TPQ = ﮮ SQR, ﮮ
PQT = ﮮ QRS , dan ﮮ PTQ = ﮮ QSR sehingga sudut-sudut yang
bersesuaian dari kedua segitiga tersebut sama besar.Dari uraian di atas.
Dapat disimpulkan sebagai berikut.Dua buah segitiga dikatakan kongruen
jika dan hanya jika memenuhi sifat-sifat berikut.
1. Sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang.
24 5. Syarat Dua Segitiga Kongruen
Dua segitiga dikatakan kongruen jika dipenuhi salah satu dari tiga syarat berikut.
a. Ketiga Pasang Sisi yang Bersesuaian Sama Panjang (Sisi, Sisi, Sisi)
Dua segitiga di bawah ini, yaitu ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai panjang sisi-sisi yang sama.
Perbandingan yang senilai untuk sisi-sisi yang bersesuaian menunjukkan
bahwa kedua segitiga tersebut sebangun. Karena sebangun maka sudut-sudut
bersesuaian juga sama besar, yaitu ﮮ A= ﮮ D, ﮮ B= ﮮ E,dan ﮮ C= ﮮ F.
Karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut-sudut yang
bersesuaian sama besar maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.
b. Dua Sisi.yang Bersesuaian Sama Panjang dan Sudut yang Dibentuk oleh
25
Pada gambar di atas, diketahui bahwa AB = DE, AC = DF, dan ﮮ CAB = ﮮ
EDF. Apakah ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen? Jika dua segitiga tersebut
diimpitkan maka akan tepat berimpit sehingga diperoleh :
Hal ini berarti ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun sehingga diperolehAﮮ = ,Dﮮ
isis aneraK Eﮮ = Cﮮ nad ,E ﮮ = Bﮮ-sisi yang bersesuaian sama panjang,
maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.
a. Dua Sudut yang Bersesuaian Sama Besar dan Sisi yang Menghubungkan Kedua Sudut itu Sama Panjang (Sudut, Sisi. Sudut)
Pada gambar di atas, ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai sepasang sisi bersesuai
an yang sama panjang dan dua sudut bersesuaian yang sama besar, yaitu AB
= DE, ﮮ A = ﮮ D. Dan ﮮB = ﮮE. Karena ﮮA = ﮮD dan ﮮB =ﮮE maka
-26
sisi yang bersesuaian rnempunyai perbandingan yang senilai.
6. Pengertian Segitiga yang Kongruen
Pengubinan pada lantai yang telah kita kenal dapat digunakan untuk
memahami pengertian kongruen. Pola pengubinan yang kita gunakan adalah
pengubinan bangun segitiga. Perhatikan Gambar disamping Jika dilakukan
pergeseran atau pemutaran terhadap salah satu ubin maka segitiga tersebut
akan menempati ubin yang lain dengan tepat. Keadaan tersebut menunjukan
bahwa ubin yang satu dengan ubin lain mempunyai bentuk sama (sebangun)
dan mempunyai ukuran yang sama. Segitiga-segitiga yang mempunyai
bentuk dan ukuran yang sama disebut segitiga-segitiga yang kongruen (sama
dan sebangun).
7. Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Kesebangunan
Konsep dan sifat-sifat kesebangunan dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah atau soal cerita yang berkaitan dengan
27
membuat sketsa atau gambar. Dari gambar itu, barudiselesaikan.ContohSe
buah kawat baja dipancangkan untuk menahan sebuah tiang listrik yang
berdiri tegak lurus. Sebuah tongkat didirikan tegak lurus sehingga ujung atas
tongkat menyentuh kawat. Diketahui panjang tongkat 2 m, jarak tongkat ke
ujung bawah kawat 3 m dan jarak tiang listrik ke tongkat 6 m. Berapa tinggi
tiang listrik?
Jawab:
Misalnya, tinggi tiang listrik adalah t sehingga diperoleh perbandingan
sebagai berikut.
D. Aktivitas Siswa
28 E. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan indikator keberhasilan yang dicapai siswa dalam usaha belajarnya. Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui proses belajar.
Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperolah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hasil belajar mempunyai hubungan yang erat dengan belajar itu sendiri. Untuk mengetahui sampai mana perubahan yang terjadi pada diri sendiri baik itu perubahan tingkah laku dan kecakapan dapat dilihat dari hasil belajarnya.
Pendapat lain dikemukakan Sudjana (1997: 10) yaitu hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sementara itu Sudjana membagi tiga macam hasil belajar yaitu :
1. Keterampilan dan kebiasaan 2. Pengetahuan dan pengertian 3. Sikap dan cita-cita
Selanjutnya mengenai bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum, bahan tersebut dapat diajarkan menurut jenis hasil belajar yang ingin dicapai.
29
adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan mengunakan instrument dan membandingkanya dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan (fathurrohman, 2007:75).
F. Model Pembelajaran
Usaha-usaha guru dalam pembelajaran siswa merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan proses belajar mengajar. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat utama. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
Model-model pembelajaran biasanya digunakan oleh guru untuk memberikan dorongan bagi siswa agar lebih fokus terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut. Hal ini dilakukan oleh seorang guru, karena dalam proses belajar mengajar, proses pengajaran dari seorang guru sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan belajar mengajar tersebut. Untuk itulah guru harus memilih model pembelajaran yang tepat di sesuiakan dengan pokok bahasan yang akan di sampaikan.
30 G. Model Pembelajaran Van Hiele
Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan, melalui observasi dan tanya jawab, kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. Van Hiele (dalam Ismail, 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan keakuratan.
Pembelajaran geometri menurut van hiele ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu, materi pengajaran, dan metode pangajaran yang diterapkan. Jika ketiga unsur utama tersebut dilalui secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa kepada tahapan yang lebih tinngi.
Van Hiele berpendapat bahwa perkembangan tahap berpikir siswa dalam belajar geometri lebih didominasi oleh pengaruh pembelajaran dibanding kematangan biologis. Hal ini berarti untuk meningkatkan perkembangan tahap berpikir siswa dalam belajar geometri tergantung kemampuan guru dalam merancang pembelajaran.
Menurut Van Hiele (dalam Pitadjeng, 2005:41-44) menyatakan terdapat lima tahap dalam pembelajaran geometri, yaitu :
1. Tahap Pengenalan
31
sifat-sifat dari bangun geometri yang dilihatnya itu. misalnya, jika pada seorang siswa diperlihatkan sebuah bangun datar, tetapi siswa belum mengetahui kekongruenanya.
2. Tahap Analisis
Pada tahap ini, siswa sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamati. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada bangun geometri tersebut. misalnya disaat siswa mengamati bangun datar siswa telah mengetahui kekongruenan dari bangun datar tersebut. Namun, dalam tahap ini siswa belum mampu mengetahui hubungan antara konsep-konsepnya.
3. Tahap Pengurutan
Pada tahap ini siswa sudah mengenal dan memahami sifat-sifat suatu bangun geometri serta sudah dapat mengurutkan bangun-bangun geometri yang satu sama lainnya saling berhubungan. Misalnya, siswa telah mengenal bahwa kesebangunan dengan mengidentifikasi kekongruenan, tetapi mungkin ia belum mampu menjelaskannya.
4. Tahap Deduksi
Pada tahap ini, siswa telah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan yang bersifat umum menuju ke hal-hal yang bersifat khusus. Siswa sudah mulai memahami perlunya membuat kesimpulan secara deduktif.
5. Tahap Akurasi
32 H. Kajian Penelitian Yang Relevan
Putri prahesti (2009), pengembangan media pengajaran perangkat lunak dalam pembelajaran geometri yang berorientasi teori van hiele di kelas VII SMP N 18 Palembang. berdasarkan hasil validasi penelitian dapat disimpulkan bahwa:
Media pembelajaran yang dihasilkan memenuhi kategori valid. berdasarkan hasil analisis observasi dapat dipresentasikan banyaknya siswa yang termaksud kategori praktis adalah 45%, maka media pembelajaran yang dihasilkan tidak memenuhi kategori cukup. Berdasarkan hasil tes di dapat rata-rata nilai siswa adalah 61,2 yang termaksud dalam kategori cukup dan persentasi kentuntasan 52,5% sehingga dapat di implementasikan bahwa media pembelajaran tidak memenuhi kreteria efektif.
33
Perbedaan penelitian dari kajian yang relevan dengan penelitian yang peneliti lakukan sekarang adalah:
1. Putri prahesti (2009), pengembangan media pengajaran perangkat lunak dalam pembelajaran geometri yang berorientasi teori van hiele di kelas VII SMP N 18 Palembang.
2. Desiana (2009), Efektifitas Model Pembelajaran Van Hiele pada pokok bahasan geometri di kelas VII SMP N 9 Palembang.
3. Dalima (2013 ), Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Geometri di MTs ҅ Aisyiyah Palembang.
Dari Ketiga penelitian di atas terdapat perbedaan seperti di bawah ini:
34 I. Hipotesis Penelitian
Analisis data tersebut untuk menguji hipotesis sebagai berikut:
Ho : Tidak ada Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele
terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Geometri di MTs
„Aisyiyah Palembang.
Ha: ada Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele terhadap
Hasil Belajar Siswa pada Materi Geometri di MTs „Aisyiyah Palembang.
Untuk pengujian hipotesis pada penelitian ini digunakan statistik uji-t. Dalam penelitian ini mengunakan taraf signifikan 0,05 yang
perhitungannya mengunkakan statistik.
Kreteria pengujian hipotesis ini dengan taraf signifikan 5% sebagai berikut: Terima Ho jika thitung < ttabel( = 0,05) atau Ha ditolak.
35
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan tempat penelitian 1. Waktu penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 12 september 2012 Kurang lebih 1 bulan, dengan jumlah 4 kali pertemuan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs ҅ Aisyiyah Palembang di jln. Jendral Sudirman komplek keguruan muhamadiyah balayudha palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran van hiele terhadap hasil belajar siswa pada materi Geometri di
MTs ҅Aisyiyah palembang. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh kelas
IX MTs ҅Aisyiyah palembang yang berjumlah 32 orang siswa. materi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah “Geometri” dengan sub bahasan
kesebangunan khusus di bahas pada semester satu (ganjil).
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi-eksperimen)
36
pengembangan (research and depelopment). Selanjutnya berdasarkan tingkat kealamiahan, metode penelitian dapat dikelompokkan menjadi metode penelitian eksperimen, survey dan naturalistik (Sugiyono, 2011: 4).
Berdasarkan uraian jenis penelitian di atas maka jenis penelitian ini adalah jenis penelitian quasi eksperimen (eksperimen semu), dengan metode penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
C. Rancangan Penelitian
Adapun rancangan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:
Tabel.1
Randomized Control-Group Pretest-Postest Design
Kelompok Pretest Treatment Postest
Eksperimen T1 X T2
Kontrol T1 T2
(Sumber: Suryabrata, 2011:105) Keterangan:
T1 : Pretest
X : Perlakuan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Van Hiele
T2 : Posttest
37
matematika siswa di MTs „Aisyiyah Palembang, yang dilihat melalui aktivitas siswa dan hasil belajar.
D. Variabel Penelitian
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah: a) Variabel X: Model Pembelajaran Van Hiele.
b) Variabel Y: Hasil belajar siswa pada materi geometri.
E. Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008:61)
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele pada Materi Geometri di MTs
҅Asyiyah Palembang. 2. Hasil Belajar Siswa
Batasan masalah berdasarkan hasil belajar pada penelitian ini dilihat dari 3 kompetensi siswa yaitu dari segi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotrik.
a) Ranah Kognitif
38
(4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), dan (6) penilaian (evaluation). Dari keenam jenjang diatas peneliti hanya mengambil tiga jenjang yaitu, (1) pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), siswa dalam pembelajaran dengan model pembleeljaran Van Hiele.
b) Ranah Afektif
Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ranah yang berkaitan dengan sikap, didalam ranah afektif ini terdapat lima jenjang diantaranya, (1) menerima atau memperhatikan (receiving), (2) menanggapi (responding), (3) menghargai (valuing) (4) mengatur atau mengorganisasikan (organization), (5) karakteristik suatu nilai atau kelompok (characterization by a value or value complex). Dari kelima jenjang diatas peneliti hanya mengambil tiga jenjang yaitu, (1) menerima atau memperhatikan (receiving), (2) menanggapi (responding), (3) menghargai (valuing), siswa dalam pembelajaran dengan model Van Hiele. c) Ranah Psikomotrik
39 F. Populasi dan Sampel penelitian 1. Populasi Penelitian
Menurut Arikunto (2006:130). populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dan menurut Sugiyono (2008:560). populasi adalah sebagaian wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Arikunto (2010:173). populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Jadi yang dimaksud dengan populasi adalah semua individu yang akan menjadi subjek penelitian baik manusia dan semua gejala yang ada hubungannya dengan penelitian ini
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX MTs
„Aisyiyah Palembang tahun ajaran 2011/2012 berjumlah 32 orang.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sasaran penelitian. Menurut Arikunto (2010:174). sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel adalah sebagai bagian dari populasi (Margono, 2009:121). Dalam pengambilan sampel apabila subjeknya kurang dari 100 sebaiknya menggunakan penelitian populasi akan tetapi jika subjeknya besar dapat diambil kesimpulan sampel 10% – 15% atau 20% – 25% (Arikunto, 2006:134). Sampel dalam penelitian ini diambil seluruh dari jumlah populasi, yaitu sebanyak 32 siswa.
40 Tabel.2 Sampel Penelitian
No Kelompok Jumlah
1 Eksperimen 16
2 Kontrol 16
Jumlah 32
G. Prosedur Penelitian
Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kenakan T1, yaitu pretest untuk kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi Geometri.
2. Memberikan treatment kepada kelompok eksperimen, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Van Hiele.
3. memberikan T2, yaitu posttest untuk kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa sesudah diterapkan model pembelajaran Van Hiele. Selain itu, pemberian posttest ini juga untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran Van Hiele maupun yang tidak menggunakan model pembelajaran Van Hiele.
4. membandingkan T1 dan T2 untuk menentukan perbedaan yang timbul.
41 G. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Obeservasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis (Arikunto, 2010 :265).
Observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran aktivitas siswa selama diterapkannya model pembelajaran Van Hiele pada materi geometri di MTs ҅ Aisyiyah.
Selama kegiatan berlangsung dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi yang terdiri dari tiga indikator dan setiap indikator terdiri dari tiga deskriptor. Dalam setiap observasi, pengamat
(observer) memberi tanda ceklist (√) pada deskriptor yang tampak pada lembar observasi yang tersedia.
Adapun indikator penelitian kegiatan observasi adalah sebagai berikut:
a. Aktivitas visual :
1) Membaca buku Sumber belajar/ LKS 2) Mengamati penjelasan dari Guru 3) Mengamati kesebangunan b. Aktivitas Lisan:
1) Mengajukan pertanyaan 2) Menjawab pertanyaan 3) Diskusi
c. Aktivitas menggambar:
42
2) Menggambar bangun datar yang sebangung. 3) Menggambar segitiga yang kongruen.
Dari ketiga aktivitas siswa di atas ada hubungan dalam proses penerapan model pembelajaran Van Hiele dan ranah dalam penilaian aktivitas siswa ini di lihat dari ranah afektif dan psikomotorik. Untuk menilai aktivitas siswa tersebut, peneliti dibantu oleh seorang kolaborator, yaitu guru kelas IX Lestari Andini Utami, S.Pd dan Leti Apri Yanti,
Adapun format penilaian aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan model Van Hiele dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut.
Tabel.3 Lembar Observasi
2. Tes
Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data hasil tes. Tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa adalah sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran Van hiele. Hasil tes didapat dari tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest), di mana instrumen
K e lo mpo k Nama
Aktivitas Visual Aktivitas Lisan Aktivitas Menggambar
Membac a Buku Sumber Belajar/ LKS Mengamati penjelasan dari guru Mengamati Kesebangun an Mengajukan pertanyaan Menjawab pertanyaan Diskusi
43
yang digunakan berbentuk esai, dengan alasan bahwa soal esai memiliki kelebihan-kelebihan, di antaranya:
a) Mudah dalam pembuatan soal.
b) Guru dapat secara langsung melihat proses berpikir siswa.
c) Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi.
Tes dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang bertujuan untuk melihat sejauh mana pemahaman dan penguasaan siswa sebelum tes akhir diadakan, siswa diajar selama tiga kali pertemuan dan setiap selesai mengajar diadakan tes. Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan penerapan Model pembelajaran Van Hiele pada materi geometri. Pada pertemuan keempat siswa diberi tes yaitu berupa essay yang berjumlah 8 soal yang mencakup pokok bahasan geometri yaitu kesebangunan.
H. Teknik Analisis Data 1. Analisis Data Observasi
44 100
x N
R
S
(Purwanto, 2010:112).
Keterangan:
S : Nilai yang diharapkan (dicari) R : Jumlah skor yang diperoleh siswa N : Skor maksimum
Tabel.4
Kategori Aktivitas Siswa Rentang Nilai Kategori 84,01 – 100,00
70,01 – 84,00 55,01 – 70,00 40,01 – 55,00 0,00 – 40,00
Sangat Aktif Aktif Cukup aktif Kurang aktif
Tidak Aktif (Dimodifikasi dari Purwanto, 2010:103 ).
2. Teknik Analisis Data Tes
Untuk menghitung nilai hasil belajar, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut:
(Dimodifikasi dari Arikunto, 2007:245). Keterangan:
N : nilai yang diperoleh siswa
45 Tabel.5 Katagori Hasil Belajar
Rentang Nilai Kategori
80 – 100 60 – 79 40 – 59 20 – 39 0 – 19
Baik sekali Baik Cukup Kurang Kurang sekali (Dimodifikasi dari Purwanto, 2010:103 ).
Setelah diperoleh hasil belajar siswa, selanjutnya peneliti melakukan uji normalitas data, uji homogenitas data, dan uji hipotesis. Adapun penjabaran dari ketiganya adalah sebagai berikut.
a) Uji Normalitas Data
Berfungsi untuk mengetahui normal tidaknya penyebaran data atau sebagai bahan pertimbangan yang akan digunakan untuk menguji kenormalitasan data. Uji normalitas perlu dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dianalisis normal atau tidak, karena uji statistik parametris t atau uji-t baru dapat digunakan jika data terdistribusi secara normal.
Adapun langkah-langkah yang digunakan adalah: 1) R = xmaks– xmin
Keterangan :
R : range (daerah jangkauan data) xmaks : data terbesar
46 2) K = 1 + 3,3 log n
Keterangan :
K : banyaknya kelas
N : banyaknya data (frekuensi) 3,3 : bilangan konstanta
3) P =
K R
Keterangan :
P : panjang kelas (interval kelas) R : range (daerah jangkauan data) K : banyak kela (Sudjana, 2005: 45–47). 4) Mencari Distribusi Frekuensi
x =
i i i f x f Keterangan :x : rata-rata
xi : tanda kelas interval
i
f : frekuensi yang berhubungan dengan tanda kelas interval (Sudjana, 2005:67).
5) Mencari Modus
Mo = Bb + p
) 2 1 ( 1 b b b Keterangan :
Mo : modus
47
b1 : selisih frekuensi yang mengandung modus dengan
frekuensi sebelumnya
b2 : selisih frekuensi yang mengandung modus dengan
frekuensi sesudahnya
p : panjang kelas interval (Sudjana 2005:77). 6) Mencari Simpangan Baku
2
s =
) 1 ( 2
n n x f x fn i i i i
Keterangan :
s2 : simpangan baku / standar deviasi n : banyak data
fi : frekuensi sesuai dengan tanda kelas interval
xi : tanda kelas interval (Sudjana, 2005: 95).
7) Menguji Kenormalan Data dengan Koefisien Kemiringan, yaitu:
SK = S
Mo x
Keterangan :
SK : koefisien kemiringan Mo : modus
S : simpangan baku
x : rata-rata (Sudjana, 2005: 109).
b) Uji Homogenitas Data
48
dua buah distribusi atau lebih. Pengujian homogenitas sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Uji Homogenitas Variansi dan Uji Bartlett dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Mencari varians gabungan dengan menggunakan rumus:
2 s gab =
db S db. i2
Keterangan :
2
s gab : varians gabungan
db : n – 1 = jumlah derajat kebebasan tiap kelompok si2 : varians tiap kelompok data
2) Mencari nilai Bartlett dengan menggunakan rumus: B : (Logs2gab) db
3) Uji Bartlett menggunakan statistik Chi Kuadrat
2 : (ln 10) [B – (db.Logsi2)] (Sudjana, 2005: 263).
Dengan ln 10 = 2.3026 yang disebut dengan logaritma asli dari bilangan 10. Kriteria uji yang digunakan adalah apabila nilai hitung 2 > nilai tabel 2 maka H0 yang menyatakan varians homogen ditolak, dalam
hal lainnya diterima.
c) Uji Hipotesis
49 2 1 2 1 1 1 n n s x x t (Sudjana,2005:239) Keterangan:
t : nilai kritis distribusi student
x1 : Nilai rata-rata siswa kelompok eksperimen
x2 : Nilai rata-rata siswa kelompok Kontrol s : simpangan baku
n1 : jumlah sampel kelas eksperimen
n2 : jumlah sampel kontrol
dimana untuk mencari simpangan baku adalah sebagai berikut :
2 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 n n s n s n s (Sudjana,2005:239)I. Hipotesis Statistik
Adapun hipotesis Statistik dalam penelitian ini sebagai berikut: H0 : thitung < ttabel
Tidak ada pengaruh yang signifikan Penerapan model pembelajaran van hiele terhadap hasil belajar siswa pada materi geometri di MTs
„Aisyiyah Palembang.
Ha : thitung > ttabel
Ada pengaruh yang signifikan Penerapan model pembelajaran van hiele terhadap hasil belajar siswa pada materi geometri di MTs
50
Kreteria pengujian : hipotesis Terima H0 jika thitung< ttabel dan tolak Ho jika
thitung > ttabel dimana ttabel didapat dari daftar distribusi t dengan derajat
51
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
1. Pelaksanaaan penelitian
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran
Van Hiele terhadap hasil belajar siswa pada Materi Geometri di MTs
„Aisyiyah Palembang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada
pengaruh penerapan model pembelajaran Van Hiele terhadap hasil belajar
siswa pada materi geometri di MTs „Aisyiyah Palembang
Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu menentukan materi, menyusun rencana pembelajaran, menyusun lembar observasi/pengamatan untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, serta menyusun lembar tes untuk mengetahui hasil belajar siswa. Materi pokok adalah Geometri, sedangkan dalam penelitian ini hanya diambil sub materi Kesebangunan. Pembelajaran yang digunakan dalam kelompok eksperimen yaitu pembelajaran dengan Model Pembelajaran Van Hiele dan dalam kelompok kontrol digunakan pembelajaran konvensional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX MTs
52
untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model Van Hiele dengan siswa yang tidak diajarkan dengan model Van Hiele. 2. Deskripsi Penerapan Model Pembelajaran Van Hiele di kelompok
eksperimen
Pembelajaran geometri melalui penerapan model pembelajaran Van Hiele dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama hari Rabu tanggal 29 Agustus 2012, pertemuan kedua hari Rabu tanggal 05 September 2012, pertemuan ketiga hari Rabu tanggal 12 September 2012, pertemuan keempat hari Rabu tanggal 19 September 2012. Dalam penelitian ini dilakukan dengan lima tahap. Pembelajaran ini diterapkan dikelas IX MTs „Aisyiyah palembang Tahun pelajaran 2011/2012, dengan sampel peneliti berjumlah 16 orang.
53
latihan soal yang berjumlah 2 soal dengan bentuk esai untuk di kerjakan di rumah, dan pada pertemuan terakhir siswa diberi soal tes (posttest) berjumlah 8 soal dengan bentuk esai, di mana pada pertemuan pertama, pertemuan kedua, dan pertemuan ketiga berlangsung 2 x 40 menit dan pada pertemuan keempat berlangsung 2 x 40 menit.
Pada pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 29 Agustus 2012 pada jam pembelajaran 1-2, tepatnya pada pukul 13.00 - 14.30 wib. Pada kegiatan awal atau pendahuluan, peneliti membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian mengabsen siswa semua hadir berjumlah 16 siswa. Setelah peneliti mengabsen siswa kemudian peneliti menyampaikan indikator atau tujuan pembelajaran. Berdasarkan pada perencanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya, pembelajaran dibagi dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Masing- masing tahap direncanakan dengan alokasi waktu pendahuluan 10 menit, kegiatan inti 60 menit dan penutup 10 menit (RPP terlampir).
a). Kegiatan Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan peneliti memotivasi siswa dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari- hari yaitu Alas meja makan dan Buku, dan lain-lain.
b). Kegiatan Inti
54
kelompok ini suasana kelas gaduh karena mereka harus duduk sebangku di meja dan kusi mereka masing- masing.
Pembagian kelompok ini bertujuan agar peneliti mudah melakukan pengamatan, kemudian guru membagi LKS pada setiap kelompok, sebelum mengerjakan LKS peneliti bertanya kepada siswa, Pada Tahap Pengenalan peneliti menunjukkan beberapa model bangun Datar di papan tulis dan menyuruh siswa mengetahui bentuk-bentuk bangun datar (kesebangunan).
Gambar .1
Peneliti menunjukkan model bangun Datar.
55
Gambar. 2
Siswa sedang melakukan diskusi
Sementara siswa berdiskusi peneliti bersama dua orang pengamat (observer) lainnya mengadakan observasi tentang keaktifan siswa sambil membimbing kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan. Pada tahap ketiga ( pengurutan) pada tahap ini guru menurutkan bagian-bagian dari bangun datar yang sebangun,dengan melalui model bangun datar berdasarkan besar sudut-sudutnya.Kemudian sambil mengamati LKS masing-masing siwa memperhatikan cara mencari bagian-bagian bangun datar yang sebanding dan besar sudutnya sama panjang.
Gambar. 3
56
Pada tahap ke empat (deduksi) pada tahap ini guru dan siswa mengemukakan kesimpulan secara deduktif kepada siswa bahwa pentingya pembuktian dengan mengunakan rumus yang telah ditentukan untuk mempermudah siswa dalam menyelesaikan soal.
Pada tahap kelima (akurasi) pada tahap ini guru memberikan aturan prinsip-prinsip yang melandasi suatu pembuktian.
c). Kegiatan Penutup
Pada tahap penutup, peneliti memberikan soal di LKS yang dikerjakan secara individu yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa tentang kesebangunan (Soal tes dan kunci jawaban terlampir).
Gambar .4
Siswa mengerjakan soal secara individu
57
Selanjutnya Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 05 September 2012 jam ke 3-4 tepatnya pukul 14.30- 15.30 wib.
a). Kegiatan Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan peneliti memotivasi siswa dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari- hari yaitu, mengenal segitiga dan lain-lain.
b). Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, peneliti melanjutkan materi dari pertemuan satu , dimana siswa sudah terorganisir dalam setiap kelompok dan Pembagian kelompok ini bertujuan agar peneliti mudah melakukan pengamatan, kemudian guru membagi LKS pada setiap kelompok, sebelum mengerjakan LKS peneliti bertanya kepada siswa, Pada Tahap Pengenalan peneliti sudah menunjukkan beberapa model bangun Datar dan siswa sudah mulai mengetahui bentuk-bentuk bangun datar.
Pada tahap Analisis peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir tentang sifat-sifat yang ada di bangun datar segitiga. Selanjutnya peneliti sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran yang berlangsung dan siswa mulai menganalisis sifat-sifat segitiga seperti sisi, panjang, sudut dan lebar serta terdapat dalam bangun datar . Kemudian peneliti menyuruh siswa secara berkelompok berdiskusi, mengerjakan LKS agar siswa dapat mengetahui bagian-bagian dari bangun datar.
58
proses belajar berlangsung dan peneliti sambil membimbing kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan.
Pada tahap ketiga ( pengurutan) pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan membedakan pengertian dua sgitiga yang sebangun dan dua segitiga yang kongruen. Setelah siswa sudah mulai mengetahuinya, tetapi siswa belum bisa mengurutkan bagian-bagian yang melandasi pengertian segitiga tersebut. Selanjutnya peneliti memberitahukan kepada siswa pengertian dari dua bangun segitiga di atas dan pengertianya menurut ( sisi-sisi yang bersesuaian sebanding dan perbandinganya sama dengan 1, satu sudut sama dan sisi yang mengapit sudut tersebut sebanding, dengan perbandingan sama dengan 1, jika dua sudut pada dua segitiga sama maka, sudut yang ketiga sama ). Selanjutnya dua segitiga yang sebangun berdasarkan syarat-syaratnya.
Pada tahap ke empat (deduksi) pada tahap ini peneliti menyuruh siswa untuk mengemukakan pemahaman secara deduktif kepada siswa. Disini siswa sudah mengetahui sisfat-sifat dan perbedaan dalam segitiga kongruen dan sebangun, tetapi mereka belum mengerti membuat kesimpulanya. Disini peneliti mengarahkan kesimpulan dari sifat-sifat dan perbedaan dari segitiga yang kongruen dan sebangun. Pada tahap kelima (akurasi)pada tahap ini siswa belum mengetahui aturan prinsip-prinsip yang melandasi suatu pembuktian.
c). Kegiatan Penutup
59
kesebangunan (Soal tes dan kunci jawaban terlampir). Selanjutnya jawaban siswa tersebut dikumpul dan dianalisis, kemudian peneliti menutup pertemuan dengan salam dan menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan kedua.
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari rabu tanggal 12 Setember 2012, pada jam pelajaran 1-2 tepatnya pada pukul 13.00-14.30 wib.
a). Kegiatan Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan peneliti memotivasi siswa dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari- hari.
b). Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, peneliti membagi siswa dalam beberapa kelompok berdasarkan tempat duduk siswa masing- masing, setiap kelompok terdiri dari 2 orang ( Nama siswa dan kelompok terlampir di lembar aktivitas siswa pada pertemuan satu, dua, dan tiga) dalam pembagian kelompok ini suasana kelas gaduh karena mereka harus duduk sebangku di meja dan kusi mereka masing- masing.
60
Pada tahap ketiga ( pengurutan) pada tahap ini siswa sudah mengetahui cara mencari perbandingan tetapi siswa belum mengerti cara pengurutanya, disini peneliti memberitahukan cara menentukan nilai perbandingan pada segitiga dengan melalui model bangun datar berdasarkan besar sudut-sudutnya, sehinga diperoleh hasil sudut-sudutnya bersesuian dan sebanding.
Pada tahap ke empat (deduksi) pada tahap ini siswa sudah mengerti mengetahui kesimpulan dari nilai yang sebanding, tetapi belum mengerti dari unsur-unsurnya. Peneliti disini mengemukakan pemahaman secara deduktif kepada siswa. bahwa pentingya pembuktian sebagai salah satu syarat bahwa suatu pemahanan itu terbukti benar.
Pada tahap kelima (akurasi)pada tahap ini guru memberikan aturan prinsip-prinsip yang melandasi suatu pembuktian.
c). Kegiatan Penutup
Pada tahap penutup, peneliti memberikan soal di LKS yang dikerjakan secara individu kepada siswa yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa tentang kesebangunan (Soal tes dan kunci jawaban terlampir). Selanjutnya jawaban siswa tersebut dikumpul dan dianalisis.
61
Evaluasi diberikan dengan tujuan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengukuti keseluruhan proses pembelajaran dengan menggunakan Model pembelajaran Van Hiele.
3. Analisis Deskriftif Observasi
Data yang diperoleh dari kelompok eksperimen yaitu aktivitas siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Van Hiele. Hasil observasi ini diperoleh dari hasil penelitian yang dilaksanakan 3 kali pertemuan, di mana setiap pertemuan masing-masing berlangsung selama 2 x 40 menit. Penilaian observasi ini di bantu oleh Guru Matematika. Penilaian observasi ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas siswa selama diterapkan model pembelajaran Van Hiele pada kelompok eksperimen.
a) Aktivitas Siswa Pertemuan I
Hasil penilaian aktivitas siswa pada pertemuan pertama (Rabu, 29 Agustus 2012) didapat data sebagai berikut.
Tabel .6
Persentase Aktivitas Belajar Siswa Per Indikator Pada Pertemuan I Di Kelas Eksperimen
No Indikator / Deskriptor F
Persent ase per deskript or (%) Persentase rata-rata per indikator(%) 1 Aktivitas visual
A Membaca buku sumber belajar
/LKS 13 81,25
79,17 B Mengamati penjelasan dari guru 12 75
C Mengamati kesebangunan 12 75
2
Aktivitas Lisan
A Mengajukan Pertanyaan 7 43,75
62,50
B Menjawab Pertanyaan 7 43,75
62 3 Aktivitas Menggambar
A Menggambar bangun datar /
Menarik suatu garis kesebangunan 10 62,5
75,00 B Menggambar bagun datar yang
kongruen 10 62,5
C Menggambar segitiga yang
kongruen 16 100
Sumber: Olah Data Observasi September 2012
Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa aktivitas visual sebesar 79,17%. Indikator yang paling dominan pada aktivitas visual adalah indikator membaca buku sumber belajar/LKS yang dilakukan 13 orang siswa (81,25%) sedangkan indikator mengamati penjelasan guru dan mengamati kesebangunan dilakukan 12 orang siswa (75%).
Untuk aktivitas lisan, indikator yang paling dominan adalah indikator diskusi yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dilakukan 7 orang siswa (43,75%).
Untuk aktivitas menggambar, indikator yang paling dominan adalah indikator menggambar segitiga yang kongruen yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator menggambar kesebangunan/ menarik suatu bangun datar dan menggambar kesebangunan yang kongruen dilakukan 10 orang siswa (62,5%).
63 79,17% 62,50% 75% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 100,00%
Ak tivitas V is ual Ak tivitas Lis an Ak tivitas
M e nggam bar
Pe
rs
en
ta
se
Gambar 5 diagram
Persentase Aktivitas Siswa Pada Pertemuan I Di Kelompok Eksperimen Berdasarkan Gambar Diagram 1 di atas diperoleh data bahwa aktivitas visual sebesar 79,17%, aktivitas lisan sebesar 62,50%, dan aktivitas menggambar sebesar 75%. Dengan demikian, aktivitas yang paling dominan dilakukan siswa adalah aktivitas visual.
b) Aktivitas Siswa Pertemuan II
Hasil penilaian aktivitas siswa pada pertemuan II (Rabu, 5 September 2012) didapat data sebagai berikut:
Tabel .7
Persentase Aktivitas Belajar Siswa Per Indikator Pada Pertemuan Ii Di Kelompok Eksperimen
No Indikator / Deskriptor F
Persentase per deskriptor (%) Persentase rata-rata per indikator(%) 1 Aktivitas visual
A Membaca buku sumber belajar
/LKS 16 100
95,83 B Mengamati penjelasan dari guru 16 100
C Mengamati kesebangunan 14 87,5
2
Aktivitas Lisan
A Mengajukan Pertanyaan 11 68,75
77,08
64
C Diskusi 16 100
3 Aktivitas Menggambar
A Menggambar bangun datar /
Menarik suatu garis kesebangunan 12 75
87,5 B Menggambar bagun datar yang
kongruen. 14 87,5
C Menggambar segitiga yang
kongruen 16 100
Sumber: Olah Data Observasi September 2012
Berdasarkan Tabel .7 dapat diketahui bahwa aktivitas visual sebesar 95,83%. Indikator yang paling dominan pada aktivitas visual adalah indikator membaca buku sumber belajar/LKS dan mengamati penjelasan guru yang dilakukan 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator mengamati kesebangunan dilakukan 14 orang siswa (87,5%).
Untuk aktivitas lisan, indikator yang paling dominan adalah indikator diskusi yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator mengajukan pertanyaan dilakukan 11 orang (68,75%) dan indikator menjawab pertanyaan dilakukan 10 orang siswa (62,5%).
Untuk aktivitas menggambar, indikator yang paling dominan adalah indikator menggambar segitiga yang kongruen yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator menggambar kesebangunan/ menarik suatu bangun datar dilakukan 12 siswa (75%) dan indikator menggambar kesebangunan yang kongruen dilakukan 14 orang siswa (87,5%).
65 95,83% 77,08% 87,5% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 100,00%
Ak tivitas V is ual Ak tivitas Lis an Ak tivitas
M e nggam bar
Pe
rs
en
ta
se
Gambar 6 diagram
Persentase Aktivitas Siswa Pada Pertemuan Di Kelas Eksperimen Berdasarkan Gambar Diagram 2 di atas diperoleh data bahwa aktivitas visual sebesar 95,83%, aktivitas lisan sebesar 77,08%, dan aktivitas menggambar sebesar 87,5%. Dengan demikian, aktivitas yang paling dominan dilakukan siswa adalah aktivitas visual.
c) Aktivitas Siswa Pertemuan III
Hasil penilaian aktivitas siswa pada pertemuan III (Rabu, 12 September 2012) didapat data sebagai berikut:
Tabel .8
Persentase Aktivitas Belajar Siswa Per Indikator Pada Pertemuan Iii Dikelompok Eksperimen
No Indikator / Deskriptor F
Persentase per deskriptor (%) Persentase rata-rata per indikator(%) 1 Aktivitas visual
A Membaca buku sumber belajar
/LKS 16 100
100 B Mengamati penjelasan dari
guru 16 100
C Mengamati kesebangunan 16 100 2 Aktivitas Lisan
66
B Menjawab Pertanyaan 14 87,5
C Diskusi 16 100
3 Aktivitas Menggambar
A Menggambar bangun datar /Menarik suatu garis kesebangunan.
15 93,75
95,83 B Menggambar bangun datar
yang kongruen 15 93,75
C Menggambar segitiga yang
kongruen 16 100
Sumber: Olah Data Observasi September 2012
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa aktivitas visual sebesar 100%. Seluruh indikator pada aktivitas visual ini telah dilakukan 16 siswa (100%). Untuk aktivitas lisan, indikator yang paling dominan adalah indikator diskusi yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator mengajukan pertanyaan dan indikator menjawab pertanyaan dilakukan 14 orang siswa (87,5%).
Untuk aktivitas menggambar, indikator yang paling dominan adalah indikator menggambar segitiga yang kongruen yang dilakukan seluruh siswa, yaitu 16 orang siswa (100%) sedangkan indikator menggambar kesebangunan/ menarik suatu bangun datar dan menggambar kesebangunan yang kongruen dilakukan 15 orang siswa (93,75%).
67 100,00% 91,67% 95,8% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 100,00%
Ak tivitas V is ual Ak tivitas Lis an Ak tivitas
M e nggam bar
Pe
rs
en
ta
se
Gambar 7 diagram
Persentase Aktivitas Siswa Pada Pertemuan III Dikelompok Eksperimen Berdasarkan Gambar 3 di atas diperoleh data bahwa aktivitas visual sebesar 100%, aktivitas lisan sebesar 91,67%, dan aktivitas menggambar sebesar 95,8%. Dengan demikian, aktivitas yang paling dominan dilakukan siswa adalah aktivitas visual.
Berdasarkan penilaian aktivitas siswa dari pertemuan I sampai dengan pertemuan III dapat direkapitulasi sebagai berikut:
Tabel .9
Rekapitulasi Persentase Aktivitas Siswa Dari Pertemuan I Sampai Dengan Pertemuan III
No Uraian Pertemuan (%) Jumlah
(%)
Rata-rata (%)
I II III
1 Aktivitas Visual 79,17 95,83 100 275 91,67
2 Aktivitas Lisan 62,50 77,08 91,67 231,25 77,08 3 Aktivitas
Menggambar
75,00 87,50 95,83 258,33 86,11
Jumlah 216,67 260,41 287,5
Rata-rata 72,22 86,80 95,83
Rata-rata keseluruhan
84,95 Sumber: Olah Data Observasi September 2012
68
dan pada pertemuan III sebesar 95,83%. Dengan demikian, secara keseluruhan aktivitas siswa selama diterapkan model pembelajaran Van Heile sebesar 84,95% yang dikategorikan SangaT Aktif.
4. Uji Persyaratan Analisis Data A. Uji Normalitas Data
1). Uji Normalitas Data Tes Awal Kelompok Eksperimen
Berdasarkan hasil tes awal (pretest) kelompok eskperimen diperoleh data sebagai berikut.
Tabel .10
Nilai Pretest Kelompok Eksperimen
No Nama Siswa Nilai Pretest
1 Andi ariansya 45
2 Ashabul kahfi 40
3 Erliana yuliana 55
4 Eva karunia 45
5 Eva kusrin 50
6 Evi karunia 55
7 Fredy zaneta 47
8 Ibnu Hasan 46
9 Intan Jaya Nurma 54
10 Irma Yani 50
11 Irwanto 43
12 Juni Repi 50
13 Kamelia Lestari 50
14 Khanif Faridah 40
15 Linda Agustina 50
16 M. robbi iswanda 50
Jumlah 770
Rata-Rata 47,75
Nilai Tertinggi 55
Nilai Terendah 40
Sumber: Olah Data Tes September 2012
69
kelas interval = 4 dan panjang kelas interval = 4. Dengan banyaknya data 16, dari rata-rata, modus, dan simpangan baku dapat dicari koefisien kemiringan dengan nilai SK adalah –0,33 dan karena nilai SK sebesar -0,33 harga ini terletak antara (–1) dan (1). Ini berarti data pretest kelompok eksperimen dapat dikatakan terdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 21. selanjutnya di buat dengan garfik seperti di bwah ini untuk melihat frekuensi tiap-tiap interval.
3
4
6
3
0 1 2 3 4 5 6 7
40 – 43 44 – 47 48 – 51 52 – 55
Interval
Ju
m
la
h
S
is
w
a
Gambar 8 diagram
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Di Kelompok Eksperimen
Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat frekuensi nilai dari tiap-tiap kelas interval dan nilai tengah dari tiap-tiap kelas interval. Interval yang memiliki frekuensi (fi) paling banyak terdapat pada interval 48–51 sebanyak
70
2). Uji Normalitas Data Tes Awal Kelompok Kontrol
Hasil tes awal (pretest) kelompok kontrol diperoleh data sebagai berikut.
Tabel .11
Nilai Pretest Kelompok Kontrol
No Nama Siswa Nilai Pretest
1 M. teddy revaldy 55
2 M. zami-zami 55
3 Melsy Andini 40
4 M. Bima Ramadhan 48
5 Nilawati 43
6 Rendi 44
7 Robiah Al-Dawiyah 43
8 Rosalina 47
9 Satna Putri Darati 49
10 Saiful Anuar 50
11 Susanti 42
12 Sulastri 49
13 Tito Supriyanto 47
14 Tri Qonaah Ria 50
15 Handayani 49
16 Wahyuni Nurti N 47
Jumlah 758
Rata-Rata 47
Nilai Tertinggi 55
Nilai Terendah 40
Sumber: Olah Data Tes September 2012
71
21. selanjutnya di buat dengan garfik seperti di bwah ini untuk melihat frekuensi tiap-tiap interval.
4 4
6
2
0 1 2 3 4 5 6 7
40 – 43 44 – 47 48 – 51 52 – 55
Interval
Ju
m
la
h
S
is
w
a
Gambar 9 diagram
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Kontrol
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat frekuensi nilai dari t