• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Studi Muatan Sedimen di Muara Sungai Krueng Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Studi Muatan Sedimen di Muara Sungai Krueng Aceh"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum

Erosi dan pengangkutan sedimen yang dilakukan oleh air merupakan suatu proses penting

dalam pembentukan suatu daerah aliran sungai dan mempunyai konsekuensi ekonomi serta

lingkungan yang penting. Ada beberapa pengertian dari sedimentasi atau yang biasa juga

disebut proses pengendapan. Menurut Krumbein dan Sloss (1971) sedimentasi berdasarkan

ilmu geologi dan sratigrafi adalah proses-proses yang berperan atas terbentuknya batuan

sedimen.Selanjutnya disebutkan bahwa urutan proses sedimentasi adalah meliputi proses :

pelapukan, perpindahan, deposisi (sedimentasi), serta lithifikasi (pembatuan).

Sedimen merupakan hasil proses erosi, baik berupa erosi permukaan, erosi parit atau

jenis erosi tanah lainnya. Karena adanya transpor sedimen dari tempat yang lebih tinggi

(hulu) ke daerah hilir sehingga dapat menyebabkan pendangkalan waduk, sungai, saluran

irigasi dan terbentuknya tanah baru di daerah pinggiran dan di delta-delta sungai. Dengan

demikian proses sedimentasi dapat memberikan dampak yang menguntungkan dan

merugikan. Menguntungkan karena pada tingkat tertentu adanya aliran sedimen ke daerah

hilir dapat menambah kesuburan tanah serta terbentuknya tanah garapan baru di daerah hilir,

dan pada saat yang bersamaan aliran sedimen juga dapat menurunkan kualitas perairan dan

pendangkalan badan perairan. Hasil sedimen biasanya diperoleh dari pengukuran sedimen

layang dalam sungai (suspended sediment) atau dengan pengukuran langsung di dalam

waduk. Batuan sedimen dibentuk dari batuan yang telah ada oleh kekuatan luar (gaya)dalam

(2)

seperti batuan beku dihancurkan, diangkut dan kemudian diendapkan ditempat-tempat yang

rendah letaknya, misalnya di laut, samudra atau danau (Kaliti,1963).

Kebanyakan sumber dari material sedimen adalah daratan, dimana erosi danpelapukan

sangat nyata terhadap pengikisan daratan dan dipindahkan ke laut. Pelapukanadalah aksi dari

tumbuhan dan bakteri, juga proses kimia, termasuk juga penghancuranbatuan secara mekanik

(Drake 1978).

2.2 Sifat-sifat sedimen

Sifat-sifat sedimen adalah sangat penting di dalam mempelajari proses erosidan

sedimentasi. Sifat sedimen yang paling mendasar adalah ukuran dan bentuknya,setelah itu

densitas, kecepatan jatuh ,dan lain-lain.

2.2.1 Ukuran dan Bentuk

Sedimen dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran butir menjadi lempung, lumpur,

pasir, kerikil, koral (pebble), dan batu. Salah satu klasifikasi yang terkenal adalah skala

Wenworth yang mengklasifikasikan sedimen berdasarkan ukuran (dalam millimeter) seperti

yang ditunjukkan pada Tabel 2.1.

Dalam skala Wenworth tersebut partikel yang berukuran diantara 0,0625 dan2

millimeter dianggap sebagai pasir. Material yang lebih halus dianggap sebagai lumpur

(silt)dan lempung (clay). Sedangkan material yang lebih besar dari pasir disebut koral

(pebbles) dan brangkal (cobbles). Pada kebanyakan lokasi, brangkal (cobbles) adalah material

(3)

Tabel 2.1 Ukuran Partikel Sedimen Berdasarkan Skala Wentworth

Pasir sangat halus 1/16-1/8

Lanau Lanau kasar 1/16-1/32

Lanau sedang 1/64-1/32

Lanau halus 1/128-1/64

Lanau sangat halus 1/256-1/128

Lempung Lempung kasar 1/640-1/256

Lempung sedang 1/1024-1/640 Lempung halus 1/2360-1/1024 Lempung sangat halus 1/4096-1/2360

Untuk beberapa studi kasus analisa ayakan menggunakan SNI 03-6388-2000 dan SNI

03-6408-2000 seperti pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3.

Tabel 2.2 Standar ukuran saringan

Standar Ukuran (mm) Alternatif saringan

(4)

Tabel 2.3 Batasan-batasan ukuran butiran tanah

Jenis butiran Ukuran butiran

Pasir kasar 2.0 mm – 0,42 mm

Pasir Halus 0,42 mm – 0,075 mm

Lanau 0,075 mm – 0,002 mm

Lempung 0,002 mm – 0,001 mm

Kolloida < 0,001 mm

Untuk menentukan batasan dari ukuran dalam suatu sample pasir, harus dilakukan

analisis ukuran. Mengayak pasir adalah dimaksudkan untuk menemukanbatasan dari ukuran

dalam sampel. Biasanya ayakan berupa pan dengan saringan kawat sebagai suatu standar

diberikan di dasarnya dan diklasifikasikan seperti yang dapat dilihat dalam Tabel 2.2. Ayakan

disusun dalam suatu tumpukan di mana untuk ayakan yang lebih besar ditaruh pada bagian

atas dan ayakan yang lebih halus berada di bawah daripada ayakan yang lebih besar.

Kinerja daripada pengayakan ini dimulai dengan sampel diletakkan pada ayakan yang

paling atas dan ayakan digetarkan sehingga pasir jatuh sejauh mungkin menembus tumpukan

ayakan yang berada dibawahnya. Ukuran fraksi yang berbeda kemudian akan terjebak dalam

ayakan dengan ukuran variasi yang berbeda, lalu berat pasir yang tertangkap dalam setiap

ayakan ditimbang dan kemudian didapatlah persentase dari berat total sampel yang melewati

ayakan tersebut.

Bentuk dari sedimen alam beraneka ragam dan tidak terbatas. Di samping ukuran

butir, bentuk partikel juga penting, karena ukuran partikel sedimen itu sendiri belum cukup

(5)

harga kecepatan endap yang lebih kecil dan akan lebih sulit untuk terangkut dibandingkan

dengan suatu partikel yang bulat seperti muatan dasar.

Sifat-sifat yang paling penting dan berhubungan dengan angkutan sedimen adalah

bentuk dan kebulatan butir (berdasarkan pengamatan H. Wadell). Bentuk butiran dinyatakan

dalam kebulatannya yang didefinisikan sebagai perbandingan daerah permukaan partikel.

Daerah permukaan sulit ditentukan dan isi butiran relatif kecil,sehingga Wadell mengambil

pendekatan untuk menyatakan kebulatan.

Kebulatan dinyatakan sebagai perbandingan diameter suatu lingkaran dengan daerah

yang sama terhadap proyeksi butiran dalam keadaan diam pada ruang terhadap bidang yang

paling besar terhadap diameter yang paling kecil atau dengan kata lain kebulatan

digambarkan sebagai perbandingan radius rata-rata kelengkungan ujung setiap butir terhadap

radius lingkaran yang paling besar (daerah proyeksi atau bagian butir melintang).

2.2.2 Massa Jenis (Densitas)

Densiti dari kebanyakan sedimen yang lebih kecil dari 4 mm adalah 2.650

kg/m3(graviti spesifik, s = 2.65). densiti darimineral lempung (clay) berkisar dari 2.500

sampai 2.700 kg/m3.

Densitas merupakan perbandingan massa terhadap suatu volume zat. Densitaspada

dasarnya merupakan fungsi langsung dari kedalaman sungai, serta dipengaruhi juga oleh

salinitas, temperatur dan tekanan. Secara matematis dituliskan dalam Persamaan 2.1.

ρ

=

...

( 2.1 )

dimana:

(6)

m = massa (gr)

v = volume (cm3)

Besarnya ρa tidak tetap, tergantung pada suhu, tekanan dan larutan. Pada air tawar memiliki nilai ρa = 1000 kg/m3, dan air laut memiliki nilai ρa = 1030 kg/m3. Pada perhitungan angkutan sedimen, pengaruh perbedaan kerapatan pada umumnya diabaikan.

Data massa jenis dari beberapa zat dapat dilihat dalam Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Data Massa Jenis Dari Beberapa Zat.

Zat Kerapatan (kg/m3)

Zat cair

Air 1,00 x 10

Air laut 1,03 x 10  

Darah 1,06 x 10  

Bensin 0,68 x 10  

Air raksa 13,6 x 10  

Zat padat

Es 0,92 x 10  

Alumunium 2,70 x 10  

Besi & baja 7,8x 10  

Emas 19,3 x 10  

Gelas 2,4 – 2,8 x 10  

Kayu 0,3 – 0,9 x 10  

Tembaga 8,9 x 10  

Timah 11,3 x 10  

Tulang 1,7 – 2,0 x 10  

Zat gas

(7)

Helium 0,1786

Hidrogen 0,08994

Uap air

100° C 0,6

2.3 Sifat-sifat Cairan

Angkutan sedimen di sungai pada umumnya digerakkkan oleh aliran air yang berada

dalam sungai tersebut, oleh sebab itu sangatlah penting untuk mengetahui sifat-sifat daripada

alirannya terutama aliran pada saluran yang terbuka. Beberapa sifat dan parameter yang

saling berkaitan dan berpengaruh pada pengangkutan sedimen dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Parameter yang berpengaruh pada pengangkutan sedimen

BESARAN SIMBOL SATUAN/DIMENSI KETERANGAN

Rapat massa /

kerapatan air Kg. -

Rapat massa /

kerapatan sedimen Kg. -

Kerapatan relatif

dalam air -

=

/

Viskositas dinamatik H Kg. . -

Viskositas kinematik N / det -

Tegangan permukaan Kg. -

2.3.1 Berat Spesifik Partikel Sedimen

(8)

Besarnya harga γ tergantung pada tempat di bumi (g), pada garis katulistiwa harga g = 9,78 m/det2, sedangkan di daerah kutub harga g = 9,832 m/det2 . Dengan demikian pada umumnya

diambil harga rata-rata g = 9,8 m/det2.

2.3.2 Kekentalan (viscocity)

Kekentalan (viscocity) merupakan sifat zat cair untuk melawan tegangan geser atau

perubahan sudut, terbagi dua macam :

1. Kekentalan kinematik (ν)

Kekentalan kinematik sangat dipengaruhi suhu :

V =

. ... ( 2.3 )

2. Kekentalan dinamik (η)

Kekentalan dinamik dipengaruhi partikel sedimen.

Untuk larutan yang dicairkan (c < 0.1) – Einstein (1906), mendapat :

1 2,5 ... ( 2.4 )

dimana ηm adalah koefisien kekentalan dinamik – campuran/larutan sedimen; η  adalah

koefisien kekentalan dinamik air bersih; dan c merupakan konsentrasi sedimen.

2.3.3 Kerapatan relatif dalam air - Δ(tanpa dimensi)

Kerapatan relatif dalam air adalah perbandingan selisih kerapatan suatu zat/sedimen

(9)

...

( 2.5 )

2.4 Pengangkutan Sedimen

Sedimentasi adalah proses pengendapan material yang terangkut oleh aliran dari

bagian hulu menuju bagian hilir akibat dari terjadinya erosi. Sungai-sungai membawa

sedimen dalam setiap alirannya. Sedimen dapat berada di berbagai lokasi dalam aliran,

tergantung pada keseimbangan antara kecepatan ke alas pada partikel (gaya tarik dan gaya

angkat) dan kecepatan pengendapan partikel. Sedimen dapat diangkut dengan tiga cara :

Suspension; umumnya terjadi pada sedimen-sedimen yang ukurannya sangat kecil (seperti

lempung) sehingga mampu diangkut oleh aliran air atau angin yang ada.

Bedload; terjadi pada sedimen yang relatif ukurannya lebih lebih besar (seperti pasir,

kerikil, kerakal, bongkahan) sehingga gaya yang ada pada suatu aliran yang bergerak dapat

berfungsi dan memindahkan partikel-partikel yang besar di dasar. Pergerakan dari butiran

pasir dimulai pada saat kekuatan gaya aliran melebihi kekuatan inersia butiran pasir tersebut

pada saat diam. Gerakan-gerakan tersebut bisa menggeser, menggelinding, atau bahkan bisa

mendorong antara sesama sedimen yang lainnya.

Saltation; umumnya terjadi pada sedimen yang berukuran seperti pasir, dimana aliran fluida

yang ada mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya

gravitasi yang sedang bekerja kemudian mampu mengembalikan sedimen pasir tersebut ke

dasar.

Sedangkan berdasarkan asalnya material angkutan dapat dibedakan menjadi 2

macam, yaitu (Yiniarti, 1997) :

• Muatan material dasar (bed material transport), yang berasal dari dasar, berarti bahwa

angkutan ini ditentukan oleh keadaan dasar dan aliran (dapatterdiri dari sedimen dasar dan

(10)

• Muatan cuci (wash load), yang berasal dari hasil erosi daerah aliran sungai dan tidak

berhubungan dengan kondisi hidrolik aliran setempat. Angkutan ini terdiri dari butiran yang

sangat halus dengan diameter < 50μm (terdiri darilempung dan lanau) yang hanya dapat

bergerak dengan cara melayang dan tidak berada pada dasar sungai. Beban ini terdiri atas

partikel-partikel yang sangat halus dan koloid, yang mengendap sangat lamban meskipun

dalam air tenang sekalipun. Jenis bahan ini didapatkan dari bahan alas ( bed material ) dalam

jumlah yang sangat sedikit, jadi jumlahnya sangat terbatas. Aliran turbulen yang biasa saja di

alur sungai sudah mempunyai kemampuan besar untuk mengangkut beban bilas, sehingga

banyaknya beban bilas yang diangkut hanya merupakan fungsi penyediaan material yang

terdapat di alas sungai.

Jumlah beban layang dan bilas lebih mudah untuk diukur karena partikel-partikel

sedimen tersebut bergerak secepat aliran, maka konsentrasi sedimen jika dikombinasikan

dengan pengukuran debit menghasilkan besarnya pengangkutan sedimen. Laju pengangkutan

sedimen adalah merupakan besarnya sedimen yang diukur sesaat. Jika debitnya tidak berubah

secara cepat, maka satu kali pengukuran laju pengangkutan sedimen saja sudah cukup untuk

menentukan laju rata-rata dalam satu hari. Tetapi jika debitnya berubah secara cepat dan laju

pengangkutan sedimennya tinggi, maka diperlukan beberapa pengukuran untuk menentukan

laju harian rata-rata secara lebih teliti. Pada umumnya dalam kondisi seperti ini penggunaan

cara depth integrating akan terlalu banyak memakan waktu, sehingga hanya cukup diambil

satu atau dua buah contoh air pada titik-titik yang ditetapkan dalam sungai. Suatu korelasi

antara konsentrasi-konsentrasi yang diukur pada pada titik-titik yang telah ditetapkan dengan

konsentrasi keseluruhan dapat dihitung dari pengukuran-pengukuran terdahulu yang lebih

(11)

ditetapkan kemudian dapat diperoleh dari korelasi tersebut. Prosedur ini digunakan dalam

program pengambilan sampel sedimen di kanada dengan maksud untuk penghematan biaya.

Sekali laju rata-rata pengangkutan sedimen diketahui, hasil musiman atau tahunan

dalam daerah pengaliran dapat diperoleh dengan menjumlahkan laju harian. Hasil sedimen

tahunan ini kerap kali berkorelasi secara baik dengan debit rata-rata tahunan. Jika demikian

halnya, maka apabila terdapat variasi yang jauh dari korelasi, maka merupakan indikasi yang

mengundang penilaian terhadapa perubahan situasi dalam daerah pengalirannya. Hasil

sedimen musiman atau tahunan dapat juga ditentukan dari pengukuran terhadap perubahan

dasar waduk yang dilewati oleh sungai tersebut.

Pengukuran secara periodik pada penampang-penampang melintang waduk yang

telah ditetapkan, dibarengi dengan pengamatan berat jenis dari dari bahan endapan akan

merupakan perkiraan banyaknya endapan sedimen di waduk. Bahan endapan tersebut hanya

merupakan sebagian dari besarnya pengangkutan total sedimen tahunan, karena sebagian lain

dari sedimen terangkut oleh aliran keluar dari waduk. Besarnya pengangkutan sedimen yang

keluar dari waduk tergantung dari ukuran butirannya dan luas waduk tersebut, besarnya aliran

keluar dari waduk, sifat-sifat bahan sedimen dan sifat-sifat outlet waduk. Dua buah faktor

pertama tersebut diatas mempengaruhi waktu penampungan, yakni waktu selama mana

pengendapan dapat terjadi dalam waduk. Waktu penampungan dalam hubungannya dengan

kecepatan mengendap dari butiran-butiran sedimen, merupakan faktor utama yang

mempengaruhi aliran keluar sedimen. Letak outlet pada bendungan dapat juga mempengaruhi

lebih-lebih jika letaknya pada berada pada elevasi rendah, sehingga aliran sedimen dapat

terjadi pada zona dimana terdapat konsentrasi sedimen yang lebih tinggi.

(12)

Shen dan Hungs mengasumsikan bahwa transportasi sedimen ialah kondisi yang

kompleks sehingga tidak menggunakan bilangan Froude, bilangan Reynolds, dimana

kombinasi ini didapati untuk menjelaskan semua kondisi transportasi sedimen. Sheng dan

Hungs mencoba menemukan variabel dominan yang mendominasi laju transportasi sedimen.

Persamaan Sheng dan Hungs dinyatakan sebagai berikut :

log 107404,459 324214,747. 32630,589. + 109503,872. … … ….( 2.6 )

Gw = ∗ ∗ ∗ ...( 2.7 )

Qs = Ct * Gw ... ( 2.8 )

Y =

,, , ... ( 2.9 )

di mana :

Ct = kosentrasi sedimen total,

V = kecepatan aliran (m/s),

= kecepatan jatuh (m/s),

S = kemiringan sungai,

W = lebar sungai (m),

D = kedalaman sungai (m),

Qs = muatan sedimen (kg/s)

B. Persamaan Yang’s

Yang’s (1973) memberikan formula transportasi sedimen berdasarkan konsep unit aliran

listrik, dimana bisa dimanfaatkan untuk untuk memprediksi keseluruhan konsentrasi yang

diangkut dalam dasar flumes.

Persamaan Yang’s dinyatakan sebagai berikut :

(13)

( 1,799

0,409 log

0,314 log

) log (

)...

( 2.10 )

Gw =

∗ ∗

...

( 2.11 )

Qs = Ct * Gw ...

( 2.12 )

di mana :

Ct = konsentrasi sedimen total,

d50 = diameter sedimen 50% dari material dasar (mm),

ω = kecepatan jatuh (m/s),

v = viskositas kinematik (m2/s),

V = kecepatan aliran (m/s),

Vcr = kecepatan kritis (m/s),

S = kemiringan sungai,

U* = kecepatan geser (m/s),

W = lebar dasar sungai (m),

D = kedalaman sungai (m),

Qs = muatan sedimen (kg/s).

C. Persamaan England and Hansen

England dan Hansen didasarkan pada pendekatan tegangan geser.Persamaan England

dan Hansen dinyatakan sebagai berikut :

= 0,05

[

/

[

/

...

( 2.13 )

Qs = W *

...

( 2.14 )

di mana :

(14)

Qs = muatan sedimen (kg/s).

D. Persamaan Laursen

Berdasarkan data hasil eksperimen, Laursen ( 1958 ) mengusulkan sebuah persamaan

transport sedimen dari hubungan antara kondisi aliran dan hasil debit sedimennya.

Persamaan Laursen dinyatakan sebagai berikut :

Ct = 0.01

/

1

)

10

... ( 2.15 )

/

... ( 2.16 )

Qs = Q*Ct

... ( 2.17 )

di mana :  

Ct = konsentrasi sedimen total,  

d50 = diameter sedimen 50% dari material dasar (mm),  

ω = kecepatan jatuh (m/s),  

= tegangan geser (kg/m2)

U* = kecepatan geser (m/s),  

Qs = muatan sedimen (kg/s). 

2.4.2 Metode Einstein

Dalam penentuan beban material dasar dengan menjumlahkan beban melayang dan

beban dasar digunakan metode Einsten (1950). Ia adalah orang pertama yang

memperkenalkan ide daripada tegangan geser efektif. Tegangan geser total dipertimbangkan

(15)

geser yang berhubungan dengan tegangan geser akibat pembentukan dasar saluran ( form

shear stress ) .

, ... ( 2.18 )

Tegangan geser butiran adalah tegangan efektif untuk membawa sedimen

merupakan tegangan geser yang menghasilkan kecepatan rata-rata bila semua perlawanan

disebabkan kekasaran geseran. Dengan harga-harga yang diketahui dari kecepatan dan radius

hidraulik, tegangan geser efektif dapat dihitung langsung dari persamaan kecepatan yang

dipilih dan parameter geseran butiran. Ide ini telah dipakai dari awalnya pada hampir semua

hubungan transport sedimen, kecuali untuk metode yang langsung didasarkan pada kecepatan

atau kedalaman. Metode Einstein ini memperkenalkan beberapa konsep dasar dalam

transportasi sedimen yang kemudian dimodifikasi oleh lainnya untuk perhitungan transportasi

sedimen walaupun prosedur dasar difusinya kompleks serta beberapa ketidakpastian dalam

penentuan koefisien.

2.4.3 Pengendalian Sedimen

Cara pengendalian sedimen yang terbaik adalah pengendalian sedimen yang dimulai

dari sumbernya, yang berarti dalam hal ini dimaksudkan merupakan pengendalian erosi.

Sekali sedimen itu dihasilkan, maka harus ada tindakan lain yang dapat diambil untuk

memperkecil akibat-akibatnya. Tindakan-tindakan yang dimaksud antara lain berupa :

1. Pengendalian sungai ( river training )

Dalam hal ini terdiri atas pembuatan tanggul-tanggul, krib, bendung pembimbing (

Inggris : guiding dam , Belanda : strekdam ).

(16)

Bangunan inlet harus diletakkan sedemikian rupa sehingga laju masuknya sedimen ke

saluran harus seminimal mungkin. Untuk memperkecil masuknya sedimen ke saluran adalah

dengan membuat pembilas ( excluder ) atau saluran pengendap ( setling basin ), sebelum air

dimasukkan dalam saluran.

3. Pemilihan lokasi waduk yang benar

Pemilihan lokasi bendungan untuk waduk harus dipilih di hulu anak sungai yang

banyak mengangkut sedimen, agar tidak masuk ke dalam waduk, sejauh pemilihan lokasi lain

masih dimungkinkan.

4. Pembangunan checkdam di hulu waduk

Checkdam-checkdam tersebut berfungsi untuk mengumpulkan sedimen. Bila

checkdam-checkdam tersebut tidak dibangun, maka sedimen akan masuk ke dalam waduk,

sehingga akan memperpendek umur dari pada waduk tersebut.

5. Membuat alur pintas atau sudetan ( by pass channel )

Alur pintas atau sudetan tersebut dimaksudkan untuk mengelakkan aliran yang

mengandung sedimen agar tidak masuk ke dalam waduk. Kesulitan yang akan dihadapi oleh

pemecahan persoalan dengan cara ini ialah karena jumlah sedimen terbesar terjadi pada

waktu banjir, sedangkan waduk harus menampung air banjir tersebut untuk maksud

pengendalian banjir atau untuk maksud konservasi air permukaaan.

6. Perencanaan outlet waduk yang baik

Pembuatan bangunan outlet yang dekat dengan dasar sungai akan akan memberikan

kemungkinan membilas endapan yang terdiri atas material halus.

7. Perencanaan bangunan-bangunan ( structures ) yang baik

Perencanaan ini harus sedemikian baiknya sehingga dapat dihindarkan pengendapan

sedimen di depan bukaan ( opening ), atau ruang di mana ambang-ambang, pintu-pintu dan

(17)

2.5 Kecepatan Jatuh partikel 2.5.1 Hukum Stokes

Kecepatan jatuh sebuah partikel merupakan parameter yang sangat penting

untukmempelajari sedimentasi di sungai dan juga proses pengendapan lain yang berlangsung

serta untuk menentukangerak sedimen dalam suspensi maupun dasar saluran. Kecepatan

jatuh butiran ditentukan dengan persamaan hambatan aliran:

( ) g = ... ( 2.19 )

... ( 2.20)

... ( 2.21 )

w

∆ ………... ( 2.22 )

dimana :

w = kecepatan jatuh sedimen (mm/s)

g = kecepatan gravitasi (m/det2)

D = diameter butiran sedimen (mm)

CD = koefisien hambatan

Δ= (ρs - ρa) / ρa

ρa = rapat massa air (1025 kg/m3)

ρs = rapat massa sedimen (kg/m3)

Harga besaran CD tergantung dari bilangan Reynold dan bentuk dari partikel.

Re =

...

( 2.23 )

(18)

V = kecepatan arus (mm/s)

ν= viskositas kinematik

Untuk partikel berbentuk bola dan bilangan Reynold rendah (Re < 1) (koefisien hambatan di

daerah Stokes adalah CD = 24/Re), rumus di atas menjadi :

w =

g

...

( 2.24 )

atau untuk mencari fall velocity dari suatu sedimen bisa juga digunakan persamaan

umum seperti berikut :

w =

(

) ...

( 2.25 )

2.5.2 Bottom Withdrawal Tube

Metode ini menggunakan alat yang dinamakan bottom withdrawal tube seperti yang

dilampirkan pada Gambar 2.3. Awalnya sedimen yang diuji diambil dengan alat tersebut

secara melintang dengan dua sisi terbuka pada kedalaman 1 meter. Kemudian sedimen yang

diambil tersebut diangkat secara vertikal dengan bagian bawahnya yang telah ditutup, lalu

dibawa ke permukaan untuk kemudian dimasukkan dalam sebuah wadah dengan

pengendapan dalam perhitungan waktu 3’, 6’, 10’,15’, 25’, 40’, 60’. Dengan demikian, ada

tujuh sampel sedimen yang telah diambil untuk dihitung konsentrasinya dengan metode

gravimetri.

Konsentrasi sedimen didapati dari hasil laboratorium kimia analitik. Dengan

mengambil contoh sedimen sebanyak 50 ml dan kemudian ditaruh pada sebuah kertas saring

dandi-oven agar sampel tersebut kering sempurna. Kemudian setelah itu ditimbang berat

kertas saring dan sedimen diatasnya. Dengan perhitungan sebagai berikut:

(19)

Dimana :

C = konsentrasi sedimen (kg/m3)

a = massa kertas saring + sedimen

b = massa awal kertas saring

Untuk analisa data kecepatan jatuh sedimen, nilai konsentrasi yang dipakai dalambentuk

persentase (%) dengan tujuh perhitungan sesuai sampel.

∑ x 100% ; ∑ x 100% ; dst... ( 2.27 )

Perhitungan untuk kecepatan jatuhnya sendiri dengan:

W =

( mm/s ) ...

( 2.28 )

2.6 Morfologi Sungai dan Karakteristiknya

Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari jenis, sifat, serta perilaku sungai

dengan mencakup seluruh aspek perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Sungai

mempunyai fungsi mengumpulkan curah hujan dalam suatu daerah tertentu dan

mengalirkannya ke laut. Sungai itu dapat digunakan juga untuk berjenis-jenis aspek seperti

pembangkit tenaga listrik, pelayaran, pariwisata, perikanan dan lain-lain. Dalam bidang

pertanian sungai itu berfungsi sebagai sumber air yang penting untuk irigasi. Sungai

merupakan tempat mengalirnya air. Sungai berfungsi sebagai alat transportasi, sumber bahan

baku tenaga listrik, dan tempat pembuangan akhir. Didaerah perkotaan sungai digunakan

sebagai tempat mengalirnya air ketika hujan.Karena itu sungai merupakan bagian yang

penting dari suatu kota. Apabila sungai tersumbat, aliran air yang mengalir didaratan tentunya

tidak bisa tersalurkan dengan lancar, hal itu bisa mengakibatkan terjadinya banjir. Ada

beberapa penyebab yang mengakibatkan banjir, salah satunya adalah karena pengendapan

sedimentasi pada sungai. Sedimentasi menyebabkan pendangkalan sungai, hal itu terjadi

(20)

kedalaman sungai, bisa menyumbat aliran sungai dan terjadilah banjir. Selain itu

pendangkalan sungai juga bisa mengakibatkan meluapnya air sungai,jika terdapat debit air

yang banyak yang melebihi kemampuan daya tampung aliransungai. Sehingga diperlukan

beberapa analisis yang detail guna mengatasi seberapajauh sedimentasi sungai yang

mempengaruhi terjadinya banjir.

Aliran sungai pada umumnya memiliki aliran yang bercabang, denganaliran yang

memiliki debit besar sebagai sungai utama dan anak sungai untuk debit yang lebih kecil dari

sungai utama. Pecabangan sungai juga merupakan salah satu tempat yang rawan

mengakibatkan banjir, karena tingkat sedimentasi yang terjadi dalam aliran tersebut

dipengaruhi oleh dua aliran dengan tingkat debit aliran yang berbeda. Sehingga tingkat

sedimentasi pada percabangan, dimungkinkan lebih banyak dibandingkan dengan tingkat

sedimentasi pada aliran yang lain. Hal itu dikarenakan sedimen yang dibawa tidak hanya dari

satu arus sungai,tapi bisa lebih dari satu sungai. Dalam aliran sungai yang terdapat

sedimentasi, tingkat sedimentasi bisa diakibatkan oleh beberapa faktor alam, dan juga

keadaan morfologi dari sungai tersebut. Tingkat sedimentasi dari segi morfologi memiliki

beberapa faktor, salah satunya keadaan dinding sungai, adanya jembatan, dan adanya

pelengseran pada bagian bagian bawah sungai yang tentu dari keadaan morfologi tersebut

mempengaruhi tingkat sedimentasi. Selain itu, ada juga faktor alam yang mempengaruhi

dalam proses sedimentasi. Kecepatan aliran sungai, debit aliran, dan juga ketinggian sungai

bisa mengakibatkan proses sedimentasi bisa semakin besar terjadi. Karena itu bisa

dimungkinkan kalau faktor-faktor tersebut tidak terprediksi, banjir bisa terjadi kapan saja.

2.6.1 Daerah Pengaliran

Daerah pengaliran sebuah sungai adalah daerah tempat presipitasi itu

mengkonsentrasi ke sungai. Garis batas daerah-daerah aliran yang berdampingan disebut

(21)

pada peta topografi. Daerah pengaliran, topografi, tumbuh-tumbuhan dan geologi mempunyai

pengaruh terhadap debit banjir, corak banjir, debit pengaliran dasar dan seterusnya.

2.6.2 Corak dan Karakteristik Daerah Pengaliran

1. Daerah Pengaliran Berbentuk Bulu Burung

Jalur daerah di kiri kanan sungai utama di mana anak-anak sungai mengalir ke sungai

utama disebut daerah pengaliran bulu burung. Daerah pengaliran sedemikian mempunyai

debit banjir yang kecil, oleh karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai itu berbeda-beda.

Sebaliknya banjirnya berlangsung agak lama.

2. Daerah Pengaliran Radial

Daerah pengaliran yang berbentuk kipas atau lingkaran dan di mana anak-anak

sungainya mengkonsentrasi ke suatu titik secara radial disebut daerah pengaliran radial.

Daerah pengaliran dengan corak sedemikian mempunyai banjir yang besar di dekat titik

pertemuan anak-anak sungai.

3. Daerah Pengaliran Paralel

Bentuk ini mempunyai corak dimana dua jalur daerah pengaliran yang bersatu di

bagian pengaliran yang bersatu dengan bagian hilir. Banjir itu terjadi di sebelah hilir titik

pertemuan sungai-sungai.

4. Daerah Pengaliran Yang Kompleks

Hanya beberapa buah daerah aliran yang mempunyai bentuk-bentuk ini dan disebut

(22)

2.6.3 Koefisien Yang Memperlihatkan Corak Daerah Pengaliran

1. Koefisien Corak/bentuk

Koefisien ini memperlihatkan perbandingan antara luas daerah pengaliran itu denngan

panjang sungainya.

Tabel 2.6 Koefisien Corak Sungai

Nama Sungai Daerah Pengaliran (1000

Panjang Sungai

Utama ( km ) F

Amazon 7.050 6.200 1.840

Missisipi 3.250 6.500 0.077

Yangtze 1.780 5.200 0.066

yang menunjukkan keadaan topografi dan geologi dalam daerah pengaliran. Kerapatan sungai

itu adalah kecil di geologi yang permeabel, di pegunungan-pegunungan dan di lereng-lereng,

(23)

2.6.4 Gradien Memanjang Sungai dan Bentuk Penampang Melintang

Kurva yang memperlihatkan hubungan antara jarak dan permukaan dasar sungai

yang diukur sepanjang sungai mulai dari estuari, disebut profil sungai. Profil ini tahap demi

tahap berubah menjadi profil yang stabil sesudah terjadi erosi dan sedimentasi sesuai

pengaruh aliran itu. Profil yang telah menjadi stabil sedemikian disebut profil seimbang.

Bentuk penampang melintang sungai berubah-ubah sesuai dengan karakteristik bahan dasar

sungai, kecepatan aliran dan seterusnya.

Pada bagian hulu daerah-daerah pegunungan biasa dasar sungai itu sangat besar, dan

penampang melintangnya menjadi lembah yang berbentuk V. Pada bagian pertengahan

penampang lembah itu berbentuk U. Di zone alluvial bagian hilir sungai, penampang

melintangnya menjadi trapezoid pada bagian yang lurus dan berbentuk segitiga pada bagian

tikungan. Umumnya bentuk penampang melintang sungai adalah antara bentuk persegi

panjang dan segitiga. Umpamanya luas penampang melintang A, lebar b dan dalam air

maksimum h max maka :

A = c x b x h max ... ( 2.31 )

Dimana c disebut dengan koefisien bentuk penampang melintang.

Untuk bentuk persegi panjang c = 1, untuk segitiga c = ½ dan untuk parabola c = 2/3,

Gambar

Tabel 2.1 Ukuran Partikel Sedimen Berdasarkan Skala Wentworth
Tabel 2.3 Batasan-batasan ukuran butiran tanah
Tabel 2.4  Data Massa Jenis Dari Beberapa Zat.
Tabel 2.5 Parameter yang berpengaruh pada pengangkutan sedimen
+2

Referensi

Dokumen terkait

Ciri-ciri dari larva nyamuk adalah memiliki kepala lebih kecil daripada bagian badan dan dada lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. 14 Sedangkan larva serangga lain

Tegangan tembus adalah besar tegangan yang menimbulkan terpaan elektrik pada dielektrik sama dengan atau lebih besar daripada kekutan dielektriknya.. Untuk

Alokasi belanja hibah dan bantuan keuangan kabupaten/kota yang Incumbent-nya bermaksud mengikuti kembali pemilukada lebih besar daripada kabupaten/kota yang Incumbent-nya tidak

Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % berat kering, apabila kadar lumpur lebih besar dari 5%, maka agregat halus harus dicuci bila ingin dipakai untuk

Cahaya yang mengenai bahan semikonduktor ini memiliki energi yang lebih besar daripada energi celah pita semikonduktor, sehingga akan mentransfer elektron dari

Horison A merupakan horison tanah mineral yang terbentuk pada permukaan tanah di bawah horison O, horison A merupakan akumulasi bahan organik halus yang

yaitu suami harus mempunyai otoritas yang lebih besar daripada istri. Pembagian yang sangat jelas dibuat untuk membedakan tanggung jawab istri maupun suami. Suami

Struktur dengan kategori risiko I, II, atau III yang berlokasi di mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, , lebih besar dari atau