• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3 - Metodologi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bab 3 - Metodologi Penelitian"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Bangil. Peneliti memilih sekolah tersebut karena tersedia sarana yang mendukung pelaksanaan pembelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik menggunakan metode discovery inquiry, di mana masing-masing siswa memiliki buku teks

sendiri yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru, baik di dalam kelas maupun diluar kelas.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada awal semester I Tahun Ajaran 2015/2016. Waktu penelitian menyesuaikan dengan waktu penyampaian pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik untuk materi Muatan Listrik di sekolah tempat penelitian, yakni antara bulan Juli-Agustus 2015.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimen. Metode eksperimen adalah metode penelitian dengan memberikan perlakuan tertentu pada sampel penelitian. Menurut Solso & MacLin (2002),

(2)

sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh model pembelajaran Discovery Learning pada mata pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik. Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu. Contoh khusus dari penelitian eksperimen adalah adanya perlakuan tertentu. Ciri khusus dari penelitian eksperimen adalah adanya percobaan atau trial. Percobaan ini berupa perlakuan atau

intervensi terhadap suatu variable. Dari perlakuan tersebut diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variable yang lain.

Eksperimen kuasi adalah eksperimen yang memiliki perlakuan (treatments), pengukuran-pengukuran dampak (outcome measures), dan unit-unit eksperiment (experimental units) namun tidak menggunakan penempatan secara acak. Pada penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu (kuasi eksperimen). Desain tidak

(3)

eksperimen semu karena eksperimen ini belum atau tidak memiliki cir-ciri rancangan eksperimen yang sebenarnya, karena variabel-variabel yang seharusnya dikontrol atau di manipulasi.Oleh sebab itu validitas penelitian menjadi kurang cukup untuk disebut sebagai eksperimen yang sebenarnya.

Penelitian Quasi Experimental adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan. Bentuk penelitian ini dipilih karena objek penelitian ini adalah siswa, sehingga tidak mungkin untuk membuat kondisi objek dari kedua kelompok sama. Artinya ada variabel yang kondisinya tidak mungkin dibuat sama,

diantaranya tingkat kecerdasan siswa, keadaan sosial ekonomi, dan motivasi belajar siswa.

Pada permasalahan penggunaan model pembelajaran discovery Learning pada mata pelajran Dasar dan Pengukuran Listrik menggunakan rancangan Time Series Design yang menggunakan rancangan sebagai berikut:

O

1

O

2

O

3

O

4

X O

5

O

6

O

7

O

8

Keterangan:

(4)

O4 = Pretest Implementasi X = Penggunaan Treatment O5 = Postest Uji Validitas O6 = Postest Uji Skala Kecil O7 = Postest Uji Skala Luas O8 = Postest Implementasi

Gambar 1 Proses time series

C. Populasi dan Sampel

(5)

Menurut Sugiyono pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2011:80).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Teknik Listrik SMK Negeri 1 Bangil di Kabupaten Pasuruan semester I Tahun Ajaran 2015/2016. Jumlah total kelas X Teknik Listrik di sekolah ini adalah empat kelas, yaitu kelas XTLa, XTLb, XTLc, dan XTLd.

Menurut Sugiyono sampel adalah bagian atau jumlah dan

karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, missal karena keterbatan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu,

kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (Sugiyono,2011).

Sampel penelitian ini adalah 1 kelas yaitu kelas XTLa yang jumlah siswanya sebanyak 40 siswa. Dalam penelitian ini sampel tersebut

(6)

penelitian secara acak dari populasi yang terdiri atas cluster-cluster tertentu, dalam hal ini terdiri atas kelas-kelas.

D. Identifikasi Variabel

Berdasarkan masalah “Penggunaan Model Pembelajaran Discovery Learning pada Mata Pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik untuk

meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X di Smk Negeri 1 Bangil”.

Dalam penelitian ada dua variabel penelitian, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Berikut ini akan diuraikan kedua variabel tersebut.

Variabel Bebas

Variabel independennya (x) atau variabel yang dapat berdiri sendiri atau tidak terikat dengan variabel yang lain. Dalam masalah ini yaitu variabel : metode pembelajaran.

1) Definisi operasional

Metode pengajaran adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud dan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran, guna mencapai tujuan pembelajaran yang ditentukan.

2) Skala pengukuran

(7)

 Variabel dependennya (y) atau variabel yang terikat dengan variabel laennya dan tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk variabel dependen yaitu prestasi belajar siswa kelas x. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan kognitif Dasar dan Pengukuran Listrik. yang dimiliki siswa.

1) Definisi operasional

Kemampuan kognitif Dasar dan Pengukuran Listrik adalah kemampuan siswa untuk mengetahui, memahami, mengaplikasi, mensintesis, menganalisis, dan mengevaluasi suatu materi pelajaran. Indikator pengukurannya adalah hasil ulangan.

2) Skala pengukuran

Skala pengukurannya adalah interval dengan skala nilai dari 0 sampai 100.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian pada gambar 1 yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut

1) Observasi sekolah

Observasi sekolah berguna untuk melihat kondisi lapangan seperti berapa kelas yang ada, jumlah siswanya, cara mengajar guru elektro selama ini 2) Membuat perangkat pembelajaran berupa RPP, modul, dengan

(8)

3) Menyiapkan instrumen penelitian berupa tes prestasi belajar sekaligus aturan penskorannya serta angket tanggapan siswa

4) Melakukan validasi instrument dan perbaikan instrument 5) Melakukan uji coba soal tes dan menghitung relibilitasnya 6) Mengadakan Pre test materi

7) Melaksanakan perlakuan dengan menggunakan model discovery learning. 8) Mengadakan Post test materi dasar dan pengukuran listrik.

9) Menganalisis data. 10) Membuat kesimpulan.

F. Teknik dan Alat Pengumpul Data

Ada tiga teknik yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik dokumentasi, teknik tes, teknik angket yang masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut:

1) Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah teknik penelitian yang menggunakan dokumen yang sudah ada sebagai sumber data. Dalam hal ini, sumber data tersebut untuk mengetahui jumlah siswa dan keadaan awal Dasar dan Pengukuran Listrik yang dimiliki siswa.

2) Tes

(9)

Tes disini dilakukan dua kali, sebelum dan sesudah diterapkannya model discovery learning.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis

berbentuk esai. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi bahan kimia dalam keseharian. Tes yang digunakan berbentuk esai berjumlah 8 soal. Pertimbangan

menggunakan tes berbentuk esai karena mempunyai manfaat sebagai berikut :

a. Mudah disiapkan dan disusun.

b. Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan.

c. Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.

d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.

e. Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan.

f. Tes esai dapat memperkecil kerja sama antar siswa sewaktu mengerjakan soal. (Arikunto, 2005).

Adapun langkah-langkah penyusunan tes adalah sebagai berikut : a. Menelaah kurikulum/silabus yang digunakan

(10)

c. Membuat butir soal

d. Membuat kunci jawaban dan pedoman penskoran

e. Mengembangkan tes yang telah disusun untuk penyempurnaan lebih lanjutdengan mengkonsultasikan test yang telah disusun kepada dosen pembimbing, dan guru elektronika agar mendapat pertimbangan. f. Dilakukan validasi soal

g. Melaksanakan uji coba untuk melihat reliabilitas tes h. Menggunakan instrumen tes yang disusun untuk penelitian

Tes diberikan sebelum pembelajaran (Pre test) dan sesudah

pelaksanaan pembelajaran (Post test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes yang diberikan sebelum pembelajaran dimaksudkan untuk melihat kemampuan awal siswa, sedangkan tes akhir dimaksudkan untuk melihat pengaruh pembelajaran terhadap hasil belajar siswa

3) Teknik Angket

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau segala sesuatu diketahui responden. Angket dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kreativitas belajar Dasar dan Pengukuran Listrik siswa.

(11)

Instrumen penelitian terdiri dari dua yaitu instrumen tes dan angket, yang masing-masing akan dibahas sebagai berikut:

1. Instrumen Tes

Tes digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil kemampuan kognitif siswa pada pokok bahasan muatan listrik dari pembelajaran yang telah dilakukan dengan metode discovery learning, baik secara individual maupun berkelompok.

Instrumen tes tersebut sebelumnya diujicobakan untuk

mendapatkan instrumen tes yang berkualitas, yang memenuhi kriteria Validitas Item, Reliabilitas, Taraf Kesukaran Soal, dan Daya

Pembeda.

a. Validitas Item

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

(12)

Keterangan :

γpbi = koefisien korelasi biserial

Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betulbagi item

yang dicari validitasnya. Mt = rerata skor soal

St = standart deviasi dari skor total

P = proporsi siswa yang menjawab benar

p=banyaknya siswatang menjawabbenarjumlahseluruh siswa

q = proporsi siswa yang menjawab salah (q=1-p)

(Suharsimi Arikunto, 2005:79)

Dari uji validitas, item soal dikategorikan menjadi dua kriteria. Untuk item soal valid bila γpbi = r tabel dan untuk item soal invalid bila γ pbi < r table. Berdasarkan hasil analisis validitas terhadap 35 item soal uji

coba tes kemampuan kognitif Fisika yang dimiliki siswa diperoleh keputusan bahwa item soal invalid berjumlah 10 item, yakni item soal nomor 5, 12, 15, 20, 22, 23, 26, 28, 29, 31. Adapun item soal yang dipakai dalam tes kemampuan kognitif Fisika yang dimiliki siswa adalah item soal yang valid yaitu item soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 21, 24, 25, 27, 30, 32, 33, 34, 35.

(13)

Daya pembeda item soal adalah kemampuan suatu item soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi (pandai) dengan siswa yang berkemampuan rendah (kurang pandai). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D). Untuk mengetahui daya pembeda dari masing-masing item tes, digunakan rumus:

Dimana:

J = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar

PA=

BA

JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

(ingat p sebagai indeks kesukaran)

PB=

BB

JB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.

(Suharsimi Arikunto, 2005: 214)

Klasifikasi daya pembeda:

(14)

0.20 £ D < 0.40 item soal dikatakan daya pembeda cukup. 0.40 £ D < 0.70 item soal dikatakan daya pembeda baik. 0.70 £ D £ 1.00 item soal dikatakan daya pembeda baik sekali. D < 0, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai D

negatif sebaiknya dibuang saja.(Suharsimi Arikunto, 2005: 218)

Berdasarkan hasil analisis daya pembeda terhadap 35 item soal uji coba tes kemampuan kognitif Dasar dan Pengukuran Listrik siswa

diperoleh keputusan : item soal dengan daya pembeda jelek berjumlah 7, yakni item soal nomor 5, 12, 15, 22, 26, 29, 31; item soal dengan daya pembeda cukup berjumlah 16 item, yakni item soal nomor 2, 4, 8, 13, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 27, 28, 30, 32, 34; dan item dengan daya pembeda baik berjumlah 11 item, yakni item soal nomor 1, 3, 6, 7, 10, 11, 14, 16, 17, 33, 35: item soal dengan daya pembeda baik sekali berjumlah 1 item,yaitu nomor 9. Item soal yang dipakai dalam tes kemampuan kognitif Fisika yang dimiliki siswa adalah item soal yang berada dalam rentang klasifikasi cukup, baik dan baik sekali yaitu item soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 27, 28, 30, 32, 33, 34, 35.

c. Taraf Kesukaran

(15)

memadai, artinya tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Rumus mencari P adalah

P=JSB

di mana:

P = taraf kesukaran

B = banyak siswa yang menjawab soal itu dengan betul

JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes.(Suharsimi Arikunto, 2005: 208)

Menurut ketentuan yang sering diikuti, taraf kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:

0.00 P 0.30 : item soal dikatakan sukar .

0.30 P 0.70 : item soal dikatakan sedang.

0.70 P 1.00 : item soal dikatakan mudah.(Suharsimi Arikunto, 2005:

210) .

Berdasarkan hasil analisis taraf kesukaran terhadap 35 item soal uji coba tes kemampuan kognitif Dasar dan Pengukuran Listrik diperoleh keputusan : item soal tergolong sedang berjumlah 30 item, yakni item soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 30, 31, 32, 33, 34, 35; dan item soal tergolong mudah

(16)

item soal nomor nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 30, 31, 32, 33, 34, 35.

d. Reliabilitas Tes

Reliabilitas bisa berarti keajegan. Suatu instrumen dikatakan memenuhi kriteria reliabilitas jika instrumen tersebut digunakan berulangulang pada subyek dengan kondisi yang sama akan memberikan hasil yang relatif tidak mengalami perubahan. Untuk menghitung koefisien reliabilitas tes, dalam penelitian ini digunakan KR-20 dengan Teknik belah Dua yang dirumuskan Koder Richardson sebagai berikut:

Dimana:

R11 = reliabilitas tes secara keseluruhan

P = proporsi subjek menjawab item dengan benar Q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q= 1 - p)

Pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q N = banyaknya item

(17)

H. Teknik Pengembangan Instru 1. Uju Validitas

Validitas adalah suatu ukuranyang mengukur tingkat keva;idan suatu kesahihan suatu instrument. Suatu insytrumen dikatakan valid apabilamampu mengukur apa yang diharapkan dan dapat mengungkap data dari variable yang diteliti secara tepat.

Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui apakah tes yang digunakan dalam penelitian ini dapat atau tidak mengukur tingkat

ketepatan tes yaitu mengukur apa yang seharusnya diukur, maka dilakukan iji validitas soal. Untuk mengetahui validitas yang dihubungkan dengan kriteruia, digunakan uji statistic, yakni teknik korelasi product moment sebagai berikut:

rxy=

N

XY

(

X

)

(

Y)

{

N

X2−

(

X

)

2

}{

N

Y2−

(

Y

)

2

}

(Zainal Arifin, 2009:254)

Keterangan :

rxy = koefisien korelasi yang di cari

I. Metode Pengolahan Data dan Analisa Data

(18)

Lexy. J. Moeloeng, adalah proses pengaturan urutan data,

mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Noeng Muhajir, analisa data adalah upaya mencari serta menata secara sistematis catatan hasil observasi, interview, dan lainnya untuk meningkatkan hasil belajar peneliti tentang masalah yang diteliti menjadikan sebagai temuan bagi orang lain.

1) Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini berdasarkan pada teori menurut Azrul Azwar dan joedo Prihantono (2003) yaitu setelah data terkumpul langkah-langkah pengolahan data dilakukan dengan editing, scooring, coding, tabulating, processing, dan cleaning.

b. Editing

Pada kegiatan editing penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian mengecek ulang kelengkapan dan kejelasan jawaban

responden. Bisa disebut pula dengan meneliti kembali catatan atau data yang ada, baik dari segi kelengkapan, ketercapaian, penjelasan makna kesesuaian satu sama lainnya,relevansinya dan keseragaman data. c. Scooring

(19)

1. Pengetahuan

Setiap jawaban benar dari item pertanyaan akan diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0, sehingga setiap sampel akan

diperoleh skor pengetahuan. 2. Sikap

Setiap responden terhadap pertanyaan akan diberi skor sebagai berikut:

o Untuk pertanyaan positif (Favourable)

Setuju : 1

Tidak setuju : 0

o Untuk pertanyaan negatif (unfavourable)

Setuju : 0

Tidak setuju : 1 d. Coding

Setelah data terkumpul dan selesai diedit dilapangan, tahap

berikutnya adalah mengkode data. Untuk mempermudah mengolah data jawaban diberi kode langsung pada lembar soal.

1. Pengetahuan

Kategori penilaian pengetahuan ditentukan berdasarkan teori menurut dengan criteria penilaian sebagai berikut:

(20)

b. Kategori cukup, 65% - 79% dari tabel nilai jawaban yang benar, diberi kode : 1

c. Kategori kurang ≤ 64%, dari tabel nilai jawaban yang benar, diberi kode :0

2. Sikap

Dikategorikan menjadi :

o Kalau distribusi normal

≤ mean atau rata-rata kurang mengdukung kode 0 ≥ mean atau rata-rata mendukung kode 10

o Kalau berdistribusi tidak normal

≤ median kurang mendukung kode 0 ≥ median mendukung kode 10 e. Tabulating

Kegiatan ini dilakukan mengelompokkan data dalam bentuk table menurut sifat –sifat yang dimilikinya, sesuai dengan tujuan penelitian agar selanjutnya mudah di analisa.

f. Processing

Dalam kegiatan ini jawaban dari responden yang telah

diterjemahkan menjadi bentuk angka, selanjutnya diproses agar mudah dianalisis.

g. Cleaning

(21)

kesalahan atau tidak. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan ulang terhadap data, pengkodean, crooring.

2. Analisa Data

Digunakan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan yaitu mempelajari hubungan antar variable. Untuk menganalisa data yang terkumpul, penulis menggunakan analisa data sebagai berikut: a. Teknik Analisa Kualitatif.

Teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis penerapan model pembelajaran discovery learning mata pelajaran dasar dan pengukuran listrik.

b. Teknik AnalisisKuantitatif

Sedangkan data kuantitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisa pengaruh education games terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran dasar dan pengukuran listrik teknik yang digunakan adalah Teknik Analisa Kuantitatif.

Sedangkan data kuantitatif dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisa data statistikyang meliputi:

 Teknik analisis mean, adalah suatu teknik analisis yang

dipergunakan untuk mengetahui model discovery learning dalam meningkatkan prestasi belajar dan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik pada pendidikan.

(22)

Mx=

X N

Keterangan:

Mx = Mean yang dicari

X = Jumlah dari sekor-sekor (nilai-nilai) yang ada.

N = Number of cases (banyaknya skor-skor itu sendiri)

Kemudian datanya dapat ditafsirkan dengan kalimat kualitatif sebagai berikut:

3,5-4,0 = Baik sekali 2,8-3,4 = baik 1,6-2,7 = cukup 1,0-1,5 = kurang 0,0-0,9 = gagal

(23)

 Merumuskan Hipotesis Nihilnya (H0) dan hipotesis alternatif

(H1)

- Merumuskan hipotesis nihil (H0) “tidak ada (tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Variabel X dan Y)”

Gambar

Gambar 1 Proses time series

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan mengenai variabel terikat Sugiyono (2009:61) menyatakan bahwa, “Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena

1) Dependent variable (Y) atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiyono, 2012:62). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

Menurut Suharyadi and Purwanto, (2016) untuk mengetahui pengaruh yang timbul dari variabel independen terhadap variabel terikat (dependen) secara keseluruhan

Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

Dengan pendekatan korelasional dapat dilihat hubungan antara variabel bebas (citra merek) yang diberi simbol X 1 dengan variabel terikat (keputusan pembelian) yang diberi simbol

Variabel terikat penelitian adalah prestasi belajar mata diklat Sistem Mikroprosesor siswa SMKN 1 Cimahi kompetensi keahlian Teknik Elektronika Industri... Variabel X

Analisis regresi linier berganda adalah analisis mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel bebas), yang bertujuan

Penelitian ini bertujuan dengan untuk menguji variabel independen (bebas) yaitu lingkungan, pendapatan dan pendidikan kewirausahaan terhadap variabel dependen