BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Muhammad Yamin lahir pada tanggal 24 Agustus 1903 di Sawahlunto, Sumatera Barat. Yamin merupakan pahlawan nasional, budayawan, dan aktivis hukum terkenal di Indonesia. M. Yamin memiliki pendidikan yang lengkap. Pendidikannya dimulai ketika ia bersekolah di Hollands Indlandsche School (HIS). Ia juga mendapat pendidikan di sekolah guru. M. Yamin juga mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertanian Bogor, Sekolah Dokter Hewan Bogor, AMS, hingga sekolah kehakiman (Reeht Hogeschool) Jakarta.
Karir M. Yamin dalam dunia politik dimulai ketika ia diangkat sebagai ketua Jong Sumatera Bond pada tahun 1926 sampai 1928. Ketika menjadi ketua Jong Sumatera Bond, M. Yamin mulai menampakkan kemampuan pemikirannya yang sudah matang dengan diterimanya usulan draft yang saat ini menjadi “Sumpah Pemuda”.
Menggagas konsep Sumpah Pemuda, M. Yamin terlibat aktif dalam Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926). Dalam pertemuan pertama itu pun ia mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. M. Yamin memang gandrung pada persatuan dan kebesaran Indonesia, obsesi yang juga dipendam Soekarno.
Tak sekadar menggagas wilayah Indonesia dan mengusulkan Sumpah Pemuda, M. Yamin memiliki andil dalam pembuatan lambang Garuda Pancasila dan syair “Indonesia Raya”, juga dipercaya menemukan kata “Pancasila” itu sendiri.
Wira Wicaksana” yang berarti “taat, kesatria, bijaksana”. Wajah Gadja Mada dalam simbol itu juga merupakan penemuan M. Yamin.
Perihal wajah Gadja Mada pernah menimbulkan kontroversi. Ada yang menuding raut Gadja Mada diciptakan M. Yamin dengan Mengacu pada wajahnya sendiri. Selain itu, yang juga menjadi kontroversial adalah buku M. Yamin berjudul Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam buku tersebut, M. Yamin menyatakan pada 29 Mei 1945 ia telah menyampaikan Rancangan UUD yang sistematik dan bab-babnya mirip dengan UUD 1945, yang baru disusun pasca-kemerdekaan. Oleh Orde Baru, Naskah Persiapan dijadikan rujukan penulisan sejarah lahirnya Pancasila yang dapat menjadi upaya mendelegtimasi peran Soekarno. Sejumlah Sejarawan menyangkal keberadaan pidato 29 Mei 1945. Bung Hatta mengkritik keras buku itu. Ia mengatakan bahwa Yamin adalah seorang yang licik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kami mengambil pembahasan masalah tentang peran serta kontroversi M. Yamin sebagai seorang penggagas negara.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kontroversi yang muncul terhadap Muhammad Yamin ? 2. Bagaimanakah peran Muhammad Yamin dalam membangun bangsa ? C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi salah satu tugas pada mata pelajaran Sejarah Wajib. 2. Untuk mengetahui lebih jauh peran Muhammad Yamin dalam
membangun bangsa
D. Manfaat Penulisan 1. Manfaat bagi penulis:
Manfaat bagi penulis adalah melatih dan membiasakan penulis dalam membuat suatu karya tulis yang bersifat ilmiah dan sistematis. 2. Manfaat bagi pembaca:
Manfaat bagi pembaca adalah untuk menyampaikan informasi dan fakta-fakta yang masih jarang diketahui oleh orang awam mengenai perjuangan dan kontroversi Muhammad Yamin.
3. Manfaat bagi pengajar
BAB II PEMBAHASAN
A. Kontroversi yang Muncul Terhadap Tindakan Muhammad Yamin Muhammad Yamin adalah seorang negarawan dengan latar belakang dunia sastra yang berhasil masuk dan memiliki andil dalam bidang politik serta memberikan kontribusi besar bagi negara. Namun, di sisi lain Muhammad Yamin pernah melakukan beberapa tindakan yang kontroversial dan dianggap sebagai penyimpangan oleh sebagian besar.
Foto Muhammad Yamin (terlampir)
a. Kontroversi Bapak Perumus Pancasila
Peran Muhammad Yamin sebagai perumus dasar negara terus diselimuti kontroversi. Tak sedikit yang menuduhnya curang. Rapat yang dilaksanakan di rumah Mohammad Hatta pagi, 11 Februari 1975, dibuka tanpa banyak basa-basi. Peserta rapat langsung terpancing pertanyaan retoris sang Proklamator. “Oh, ya, saya ingin bertanya apa masih ingat, di sini ditulis pidato Yamin 29 Mei, apa benar itu?”
Sebelum peserta rapat lain menimpali, Bung Hatta lalu menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan. Hatta menuturkan Muhammad Yamin berpidato pada hari pertama sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu. Adapun dia berpidato pada hari kedua. Pada hari keempat, 1 Juni 1945, giliran Bung Karno yang berpidato.
“Setahu saya pidato Pancasila yang pertama kali Bung Karno, bukan Yamin. Kalau dia (Yamin) lebih dulu, tentu saya ingat bahwa (pidato Bung Karno) itu ulangan,” ujar Hatta seperti tertulis dalam notulen rapat ketiga Panitia Lima itu.
Pringgodigdo. Namun, sampai pertemuan hari itu, A.A. Maramis belum bergabung. Dia sedang berada di Swiss.
Pagi itu, di kediaman Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, para pendiri negara yang masih tersisa tersebut “menggunjingkan” ulah mendiang Yamin. Yamin memang sudah meninggal. Pria ini meninggal pada 17 Oktober 1962 karena penyakit komplikasi. Dia dituduh memanipulasi sejarah lewat bukunya, Naskah Persiapan UUD 1945. Buku itu dicetak pada 1959, ketika Yamin menjabat menteri negara dalam Kabinet Karya.
Dalam bukunya, Yamin menyebut tiga tokoh yang memenuhi permintaan Ketua BPUPKI, KRT Radjiman Wedyodiningrat, untuk memaparkan dasar negara Indonesia merdeka. Mereka adalah Yamin sendiri, Sukarno, dan Soepomo. Padahal ada puluhan tokoh yang berpidato dalam forum itu. “Itulah kelicikan Yamin dimasukkan di sini,” ujar Hatta.
Hatta tampaknya begitu jengkel terhadap sepak terjang Yamin di BPUPKI. Dalam notulen rapat Panitia Lima yang termuat dalam lampiran buku Uroran Pancasila terbitan Mutiara, Jakarta, 1977. Hatta yang dikenal santun itu sampai tiga kali menyebut Yamin “licik”. Meski irit komentar, Pringgodigdo pun tak urung menimpali. “Pak Yamin itu pinter nyulap, kokl”
Menurut Nugroho, Bung Karno pun bukan satu-satunya penggali Pancasila. Katanya, masih ada Yamin dan Soepomo, yang juga menyodorkan konsepsi dasar negara sewaktu berpidato pada putaran pertama sidang BPUPKI itu.
Foto kondisi sidang BPUPKI (terlampir)
Kesimpulan Nugroho itu semakin melukai para pendukung Soekarno. Maklum, sejak 1970, pemerintah Orde Baru melarang peringatan hari lahirnya Pancasila setiap 1 Juni. Menurut sejarawan Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, larangan memperingati itu datang dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (KOPKAMTIB),lembaga yang dipakai Orde Baru untuk membungkam lawan-lawan politiknya.
Untuk membangun kesimpulannya, Nugroho menjadikan buku Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 jilid 1, sebagai sumber primer. Di samping ditulis langsung oleh pelaku sejarah, menurut Kepala Pusat Sejarah ABRI itu, buku Yamin meyakinkan karena dilengkapi tulisan tangan Bung Karno sebagai kata pengantar. Apalagi Bung Karno pun mengaku menggunakan naskah Yamin itu untuk membuat pidatonya yang penting ialah “Res Publica, Sekali Lagi Res Publica”. “Buku itu di-endorse oleh Bung Karno,” ujar Nugroho Notosusanto dalam wawancara dengan Tempo (“Di Celah-celah Ingatan '4g”,Ternpo, edisi 29 Agustus 198l).
Untuk memperkuat kredibilitas sumbernya, Nugroho mengutip pembicaraan dengan A.G. Pringgodigdo. Wakil Kepala Tata Usaha BPUPKI itu menyebut isi buku Yamin otentik. Soalnya, buku itu merupakan cetakan dari laporan stenografls sidang. Buku Yamin, menurut Pringgodigdo, kata demi kata (woordelijk) sama dengan laporan stenografis yang dipinjam Yamin tapi tak pernah dikembalikan.
belum ditemukan versi aslinya. Tak mengherankan bila buku Nugroho Universitas 17 Agustus. Dalam tulisannya pada 9 Agustus 1981, Ruben menyoroti Rancangan UUD yang dilampirkan Yamin dalam bukunya. Yamin mengklaim rancangan itu sebagai lampiran pidatonya di sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945.
Yang membuat Ruben tak habis pikir, lampiran itu terdiri atas XVI bab, 37 pasal, aturan peralihan, dan aturan tambahan Keseluruhan struktur dan isi rancangan UUD versi Yamin nyaris sama persis dengan UUD 1945. Padahal isi UUD 1945 baru diputuskan melalui perdebatan bahkan pemungutan suara dalam rangkaian sidang mulai Juli sampai 18 Agustus 1945.
Ananda B. Kusuma, peneliti senior di Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, termasuk yang gigih menentang kesimpulan bahwa Yamin yang pertama kali memunculkan rumusan dasar negara. “Tulisan seperti itu merupakan upaya de-Sukarnoisasi,” kata Ananda dalam diskusi di kantor Tempo, pertengahan Juli 2014'
Untuk mematahkan kesimpulan Nugroho, tulisan Bung Hatta pun kembali dikutip banyak kalangan. Kebetulan komentar Hatta tentang hal itu menyebar dalam berbagai buku, memoar, surat wasiat, sampai surat untuk sahabat pena dia.
Sewaktu Panitia Sembilan selesai membuat rumusan baru tentang Pancasila, demikian tulis Hatta, Bung Karno meminta persetujuan supaya Yamin membuat keterangan tentang Pancasila. Hasilnya, keterangan itu terlalu panjang, sehingga ditolak Panitia Sembilan. Sebagai gantinya diambillah Preambule UUD yang sudah ada. Adapun “naskah keterangan” itu dimasukkan Yamin ke bukunya, seolah-olah pernah dibacakan pada sidang BPUPKI. “Di sinilah letak Iiciknya Yamin,” kata Hatta.
Dituduh licik dan cenderung menonjolkan diri, Yamin tak pernah terang-terangan mengklaim sebagai perumus Pancasila. Dalam pidato pada 5 Juni 1958, Yamin bahkan menegaskan bahwa pada “1 Juni 1945 diucapkan pidato yang pertama tentang Pancasila oleh Bung Karno”.
Sebaliknya, dalam beberapa kesempatan, Sukarno pun menolak disebut sebagai pencipta Pancasila. Bung Karno mengaku menggali nilai-nilai dasar itu dari budaya luhur masyarakat Indonesia. Bahkan, untuk istilah Pancasila, Sukarno mengaku mendapat bisikan dari seorang teman yang ahli bahasa.
Menurut Restu Gunawan, penulis biografi Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan, dalam suatu kesempatan pada 1966, Sukarno membuka bahwa “ahli bahasa” itu adalah Yamin.
Ceritanya, pada malam sebelum Sukarno menyampaikan pidatonya yang monumental itu, KH Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, dan KH Masjkur menginap di rumah Yamin. Malam itu Sukarno datang ke rumah Yamin untuk meminta persetujuan para tokoh atas pidato yang dia anggap sebagai kompromi antara golongan Islam dan nasionalis sekuler tersebut.
Kalaupun ada andil Yamin, sejarawan Asvi Warman Adam tetap melihat Sukarno pencetus pertama Pancasila. “Itu disampaikan pada 1 Juni,” kata Asvi. Adapun para pendiri bangsa yang lain, menurut Asvi, juga berperan dalam merumuskan butir-butir Pancasila seperti yang dilafalkan saat ini.
b. Penamaan Naskah Preambule sebagai Piagam Jakarta
Sembilan orang itu bekerja siang malam hingga akhir Juni 1945. Dilantik sebelum sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) usai, mereka rnendapat tugas yang berat: merumuskan Pancasila sebagai dasar negara dan menjadikannya sebagai teks proklamasi. Muhammad Yamin termasuk dalam tim sembilan tersebut.
Tujuh anggota Iain tim yang dikomandoi Sukarno itu adalah Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakkir, Achmad Subardjo, H Agus Salim, dan Wahid Hasyim. Tak ada catatan mengenai kerja tim sembilan. Tak ada notulensi ataupun catatan steno perihal rapat-rapat yang mereka gelar.
Pembentukan tim sembiian dilakukan menyusul perdebatan antara golongan Islam dan nasionalis dalam penentuan dasar negara pada rapat BPUPKI pertama, terutama soal menentukan hubungan antara negara dan agama.
Golongan Islam, yang dimotori oleh Abdul Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso, menginginkan agar Islam menjadi dasar negara. Sedangkan golongan nasionalisasi, yang dimotori Sukarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Maramis, dan Subardjo, menolak usul ini.
Protes keras tercatat dilayangkan oleh Johanes Latuharhary. Dia berpendat pernberlakuan syariat Islam bagi pemeluknya dapat menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Alasannya, banyak nilai budaya dan adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sedangkan kelompok Islam, yang dimotori Ki Bagus Hadikusumo, ngotot menuntut Islam menjadi dasar negara. Soekarno dan Yamin berupaya menengahi pertikaian tersebut. Mereka mengatakan hasil Piagam Jakarta adalah kompromi antara kelompok Islam dan nasionalis yang berada di tim sembilan.
Namun pada akhirnya kalimat itu pun dihilangkan setelah Hatta mengaku ditemui seorang utusan dari Indonesia timur yang mengancam akan memisahkan diri jika kata itu tak dihapus. Hatta kemudian melobi Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimejo. Keduanya akhirnya mnerima usul sila pertama itu diganti dengan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Menurut Hatta, Yamin memiliki peran cukup penting dalam penyelesaian akhir yang dilakukan tim sembilan. Dia diminta Sukarno membuat preambule atau kata pembuka yang di dalamnya nanti terdapat butir-butir Pancasila.
Hubungan Yamin dan Soekarno memang dikenal cukup dekat. Sejarawan Restu Gunawan mengatakan, keduanya memiliki banyak kesamaan soal cara pandangan nasionalisme. Yamin dan Soekarno, kata Restu, juga dikenal sama-sama menyukai hal berbau “mistis”.
Namun tugas Yamin membuat preambule tampaknya tak memuaskan sejumlah anggota lain. Hatta mengatakan preambule yang dibuat Yamin terlampau panjang untuk dibacakan sebagai naskah proklamasi. Akhirnya tim sembilan kembali menyusun naskah preambule. Dan Yamin memberinya “sentuhan” akhir menamainya Piagam Jakarta.
c. Notulen Sidang yang Hilang
Di salah satu sidang BPUPKI yang otentik mengungkap pidato Muhammad Yamin yang kontroversial. Notulen penting itu masih hilang.
Tepat pukul 11.00 pada Selasa terakhir Mei 1945, sekitar 60 anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menduduki kursi masing-masing di ruang Gedung Tyuoo Sangi-In (kini Gedung Pancasila) di Jalan Pejambon Nomor 6, Jakarta. Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat, selaku ketua, membuka sidang. Ia lalu menyilahkan Muhammad Yamin sebagai pembicara pertama di Sidang BPUPKI hari itu.
Yamin, anggota nomor urut 2 pun berpidato dengan judul “Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia”. Panjangnya sekitar 20 halaman. Butuh lebih dari satu jam untuk tuntas membacanya. Wakil ketua sidang, Raden Pandji Soeroso, tiga kali menginterupsi agar Yamin menyampaikan pemikiran sesuai dengan tema dasar negara.
Yamin bergeming. “Saya turut, tapi tidak takluk,” ujar Yamin menanggapi Soeroso, yang meminta anggota takluk kepada pimpinan.
Cuplikan pidato itu termuat utuh di buku Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasor 1945, yang terbit pada 22 April 1959. Lebih dari tiga dasawarsa buku ini menjadi rujukan tunggal untuk memperlihatkan suasana pergumulan pemikiran para pendiri bangsa dalam melahirkan Undang-Undang Dasar 1945. Presiden Sukarno memberi kata pengantar di buku itu.
Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terbitan Sekretariat Negara (1922).
Buku Yamin yang juga menjadi referensi buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI menuai polemik. Panitia Lima yang dibentuk pada 1975 atas anjuran Presiden Soeharto dan terdiri atas Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, A.A. Maramis, Soenario, serta Abdul Gaffar Pringgodigdo menganggapnya tidak otentik. Terkesan jelas Yamin ingin menonjolkan perannya. Di buku Uraian Pancasila (1977) yang dibuat Panitia Lima, Hatta mengatakan Yamin agak licik, sedangkan Gaffar Pringgodigdo menyebut Yamin pinter nyulap.
Menurut Hatta, seperti diungkap RM Ananda B. Kusuma, 79 tahun, dalam buku Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 (2004), Yamin memang berpidato, tapi pidatonya pendek. Peneliti senior pada Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu sejak 1965 hingga 1980 bertugas di Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan khusus menangani pendidikan kewarganegaraan. Menurut dia, banyak dosen yang mempermasalahkan, tapi tak berani mengemukakan.
“Pemerintah Orde Baru melakukan kebijakan de-Sukarnoisasi. Sejak 1968, lahirnya Pancasila tak lagi dirayakan. Pemerintah menyatakan yang pertama melahirkan Pancasila adalah Yamin,” ujar Ananda pada pertengahan Juli 2014.
“Saya sampai di sana ternyata hanya ada salinan. Yang asli sudah dikembalikan ke Indonesia,” ucap Ananda.
Di NA, arsip itu dinamai “Archivalia van Raden Mas Mr AK Pringgodigdo” atau “Pringgodigdo Archief”
Ada dua dokumen dalam “Pringgodigdo Archief yang penting dalam mengungkap keotentikan pidato Yamin. Pertama, koleksi nomor 5646 berupa notulen tulisan tangan Karim di atas kertas berkop Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Isinya pidato Yamin yang panjangnya sekitar tiga lembar.
Foto naskah (salinan) notulen sidang BPUPKI (terlampir)
Dokumen lain adalah penjadwalan pidato anggota pada sidang 29 Mei 1945. Yang berpidato di sesi pertama adalah Yamin selama 20 menit, Sumitro (5 menit), Margono (20 menit), Sanusi (45 menit), Sosrodiningrat (5 menit), dan Wiranatakusuma (15 menit). Jika dijumlahkan, ditambah waktu pergantian pembicara dan pengantar dari Ketua, cocok dengan lama sidang yang 130 menit.
Sayangnya, dokumen-dokumen dari “Pringgodigdo Archief itu kini tak ada di Arsip Nasional Republik indonesia (ANRI). Padahal dokumen asli telah dikembalikan NA kepada ANRI. “Dokumen aslinya dikirim ke ANRI pada November 1987. Salinannya disimpan di NA, sesuai dengan perjanjian budaya Indonesia-Belanda,” ujar anggota staf senior NA,Iris Heidebrink.
Kepala ANRI Mustari Irawan berbeda pemahaman tentang muasal arsip ini. Menurut dia, ANRI menyimpan arsip asli dan menamainya “Koleksi Pringgodigdo” dan “Koleksi Muhammad Yamin”, yang merupakan koleksi vital sehingga ditempatkan di lemari besi ruang khusus di Gedung O kompleks ANRI di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.
Negara yang pertama. “Yang kami miliki adalah yang asli, sementara yang di Belanda adalah salinan,” katanya.
Soal penyerahan “Pringgodigdo Archief' dari NA ke ANRI, Mustari tak mengetahui pasti. “Mungkin saja karena Ibu Soemartini (Kepala ANRI periode 1971-1992) memiliki hubungan baik dengan Arsip Nasional Belanda. Beliau juga berhubungan baik dengan Pura Mangkunegaran dan kenal baik dengan Rahadian Yamin dan istrinya,” ujarnya.
Arsip Yamin yang terkait dengan Sidang BPUPKI itu semula tercampur dengan koleksi pribadi Yamin yang disimpan di Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran. Rupanya, Gusti Raden Ayu Retno Satuti, istri Rahadian, mengirimkan koleksi buku dan dokumen yang ada di rumah Jalan Diponegoro 10 ke perpustakaan setelah suaminya wafat pada 1979. Pada 1990, Satuti meminta bantuan Suhartono dari Arsip Nasional Daerah di Semarang untuk menata koleksi perpustakaan dan menemukan notulen resmi itu.
“Koleksi Muhammad Yamin” inilah dokumen yang oleh Orde Baru dinyatakan hilang. Dokumen ini merupakan stenogram yang dibuat oleh anggota staf Gaffar Pringgodigdo yang menjabat Wakil Kepala Tata Usaha Tyoosakai. Menurut Saafroedin Bahar, penanggung jawab dan penyunting penyelia buku Risalah Sidang, transkrip itu kompilasi dari stenogram yang dibuat dua stenografer pada sidang BPUPKI tersebut, yakni Netty Karundeng dan Sunarti Simatupang (istri T.B. Simatupang). Saafroedin berhasil menemui keduanya dan menanyakan keberadaan stenogram itu.
Pringgodigdo” yang berisi 38 nomor arsip. Kini arsip pidato Yamin baik berupa transkrip maupun tulisan tangan Karim di kertas berkop Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu tak diketahui keberadaannya.
“Yang kami terima dan simpan seperti inilah adanya, Semua berupa ketikan, tidak ada tulisan tangan,” ujar Mustari sambil menunjuk dua bundel koleksi penting itu.
d. Sang Pemecah Belah Abadi
Politik nonkooperatif alias menolak kerja sama dengan pemerintah Belanda, sejatinya merupakan jalan panjang yang telah ditempuh Muhammad Yamin. Karena itu, ketika Yamin menyatakan bosan menjadi “politikus jalanan” pada 1937, dua karibnya, Chaerul Saleh dan Djamaloeddin Adinegoro, sempat terheran-heran.
Kawan-kawan pergerakan yang kurang dekat denganYamin juga tak sedikit yang mengkritik rencana Yamin masuk Volksraad alias Dewan Rakyat. Mereka menganggap perubahan pilihan sikap Yamin takhanya terlalu cepat, tapi juga mencurigakan.
Kecurigaan teman-teman seperjuangan Yamin tak berlebihan. Volksraad adalah semacam dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda. Dewan itu dibentuk pada 16 Desember 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pembentukan Dewan diprakarsai Gubernur Jenderal J.P. van Limburg Stirum bersama Menteri Urusan Koloni Belanda Thomas Bastiaan Plelte.
Semula Volksraad hanya memiliki kewenangan sebagai penasihat. Baru pada 1927, Volksraad memiliki kewenangan ko-legislatif bersama gubernur jenderal yang ditunjuk Belanda. Itu pun, karena gubernur jenderal memiliki hak veto, kewenangan Volksraad tetap terbatas. Wajar bila banyak tokoh pergerakan sangsi perjuangan melalui Volksraad bakal membawa perubahan.
Kartohadikusumo, tuntutan itu dikenal sebagai Petisi Sutardjo. Pendukung petisi pada 15 Juli 1936 itu antara lain Kasimo, Dt. Tumenggung, Ratulangie, Ko Kwat Tiong, dan Soeroso.
Petisi itu meminta diselenggarakan suatu konferensi untuk mengatur otonomi Indonesia di dalam wadah uni Indonesia-Belanda selama kurun sepuluh tahun. Bentuk otonomi yang sama diberikan Amerika Serikat kepada Filipina pada 1933. Lewat pemberian otonomi itu, pemerintahan persemakmuran Filipina akhirnya terbentuk pada 1935.
Sebenarnya yang diusulkan dalam Petisi Sutardjo sudah diatur dalam aturan Belanda. Hanya, dalam praktiknya, orang Indonesia tak ditempatkan pada posisi pertama dalam setiap kesempatan. Karena itu, Sutardjo dan kawan-kawan melihat perlunya tekanan kepada Kerajaan Belanda untuk melaksanakan aturan tersebut.
Yamin menentang secara terbuka petisi Sutardjo dalam tulisannya di surat kabar Kebangoenan, 11 Agustus 1936. Menurut Yamin, pembicaraan di Volksraad sering mengemengecewakan karena kerap keluar dari cita-cita rakyat Indonesia. Katanya, “Sering udara yang dikeluarkan Dewan Rakyat sudah basi dan dingin.”
Menurut Yamin, yang harus dituntut orang pribumi bukan otonomi khusus atau dominion status. Alasannya, status khusus itu masih dalam kungkungan hubungan tanah jajahan dengan ibu negeri, sepert iyang terjadi di Inggris. Padahal dominion status tak ada dalam hukum dasar Belanda dan tak menjadi cita-cita rakyat Indonesia. “Untuk itu janganlah minta barang yang sudah ada dan barang yang tidak ada perlunya.” Yamin menambahkan, “Dalam berpolitik, kita harus awas dengan taktik tawar-menawar. Kalau sudah ada dominion status, maka mintalah status yang lebih tinggi lagi.”
diputuskan lewat pemungutan suara pada 28 September 1936. Hasilnya, 26 suara menerima lawan 20 suara menolak. Anggota Fraksi National yang menerima petisi antara lain Oetomo Oetoyo, Soangkoepon, Iskandar Dinata, Jahja, dan Abdul Rasjid. Sedangkan yang menolak antara lain Tadjuddin Noor dan Wiwoho.
Tak mendapat dukungan total di Volksraad, pada 16 November 1938, Petisi Sutardjo akhirnya ditolak pemerintah Kerajaan Belanda.
Foto pada salah satu sidang Volksraad (terlampir)
Restu Gunawan, penulis buku biografi Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan, mengungkapkan bahwa selama menjadi anggota Volksraad, Yamin dijuluki sebagai “pemecah belah abadi”. Dia dipandang sebagai biang keladi perpecahan dalam Fraksi Nasional yang didirikan Muhammad Husni Thamrin. Setahun masuk Volksraad, pada masa sidang 1939, Yamin langsung mengkritik Fraksi Nasional dari dalam. Menurut Restu Gunawan, Fraksi Nasional jangan bekerja hanya untuk Jawa. Fraksi juga harus memperhatikan kepentingan luar Jawa.
Karena usulnya tak disambut hangat Fraksi Nasional, pada 10 Juli 1939, Yamin mendirikan kelompok Golongan Nasional Indonesia (GNI). GNI bukan gabungan wakil partai. GNI merupakan wadah penampung wakil utusan daerah. Kebetulan Yamin masuk ke Volksraad bukan atas nama partai, melainkan sebagai wakil distrik Sumatra Barat.
Penulis biografi Yamin lainnya, Sutrisno Kutoyo, menyebutkan Yamin kerap dijuluki “perusak aturan permainan” oleh lawan-lawan politiknya. Julukan itu, misalnya, dilekatkan sejumlah tokoh Gabungan politik Indonesia (Gapi). Alasan mereka, karena Yamin pernah mengajukan petisi untuk membentuk suatu parlemen di luar kemauan partai-partai yang berhimpun dalam Gapi.
meremehkan pendapat orang lain. “Itu mungkin karena dia percaya sekali pada kemampuan sendiri,” tulis Sutrisno.
Meski sering berseberangan dengan sesama anggota Volksraad, Yamin dalam isu-isu pokok kerap berpandangan sama dengan tokoh lain. Misalnya ketika Kerajaan Belanda bertekuk lutut di depan bala tentara Jerman pada 10 Mei 1940. Yamin dan Thamrin kontan menggugat keabsahan pemerintahan Belanda yang pusatnya kala itu dipindahkan ke London.
Kedua tokoh juga punya pandangan mirip soal pentingnya mempromosikan bahasa Indonesia. Yamin dan Thamrin mengusulkan agar dalam setiap sidang Volksraad digunakan bahasa pemersatu itu. Akhirnya, cara pandang pada cabang kasus boleh saja berbeda. Tapi, ketika sampai pada pokok perkara, yakni Indonesia merdeka, “Mereka selalu satu kata,” ujar Restu.
e. Mondar-Mandir Di Debat Dasar Negara
Peran Muhammad Yamin ketika menyusun dasar negara menuai kontroversi. Namun kerap dibela Sukarno.
Debat hangat itu berlangsung di pengujung sidang Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai selepas asar, 11 Juli 1945, di Gedung Tyuoo Sangi-In, Pejambon, kini kompleks Kementerian Luar Negeri. Sang ketua, Dr Radjiman Wedyodiningrat, baru saja membagi anggota menjadi tiga panitia (bunkakai) yaitu perancang hukum dasar, keuangan, dan pembelaan tanah air. Muhammad Yamin, yang semula diperkirakan masuk ke panitia hukum dasar negara, justru “dibuang” ke panitia keuangan.
Yamin berang dan menolak bergabung dengan panitia keuangan. Alasannya, “Karena kurang pengetahuan apa-apa, jadi saya tak ada sumbangan buat panitia.” Radjiman berkukuh. Keputusan tak bisa diubah lagi. “Sudah selesai,” ujar Radjiman. Yamin menyergah, “Saya tidak terima!”
Sejarawan Ananda B. Kusuma menduga Radjiman mangkel. Dia bertahan pada keputusannya karena Yamin terlampau eksentrik. “Yamin itu pintar, tapi banyak omong dan sering menambah-nambah,” kata Kusuma saat berdiskusi pertengahan Juli 2014.
Masalah Yamin rupanya tak selesai. Dalam rapat panitia hukum dasar, Sukarno menyampaikan penyesalan tak mampu menarik Yamin. Dia lalu meminta persetujuan agar Yamin tetap bisa bergabung. Ide ini disepakati oleh panitia perancang hukum dasar. Mereka pun menugasi Latuharhary membuat surat ke perwakilan Jepang. Tapi permintaan ini pun tetap ditolak.
Kejadian itu juga mungkin yang menyebabkankan Yamin tidak berdiri ketika ketua sidang besar Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Radjiman pada 16 Juli 1945 meminta peserta sidang untuk menyetujui rancangan Undang-Undang Dasar. Mengamati respons hadirin, Radjiman berkata, “Sekalian anggota, kecuali Tuan Yamin berdiri. Dengan suara terbanyak diterima Undang-Undang Dasar ini.”
Meski masuk panitia keuangan pimpinan Mohammad Hatta, Yamin membandel. Risalah Sidang BPUPKI menunjukkan Yamin tetap berperan dalam berbagai diskusi dasar negara. Penulis buku Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan, Restu Gunawan, heran mengapa Yamin bisa memberi banyak gagasan tentang sistem pemerintahan dan bentuk negara.
Jepang dengan tujuan mempelajari kemerdekaan Indonesia. Tyoosakai memiliki 62 anggota, termasuk pimpinan ditambah enam anggota tambahan. Pada era pendudukan Jepang, hampir semua tokoh republik mesti bekerja sama dengan Jepang. Yamin sehari-hari menjadi pegawai tinggi pada Sendenbu, yaitu Djawatan Penerangan dan Propaganda atau Himpunan Kebaktian Jawa. Agar tak ditelikung tokoh republik, Jepang memilih orang-orangnya sebagai pimpinan organisasi. Tapi dinamika politik berubah terlalu cepat. Pada 7 Juli 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo datang ke Jakarta. Dia menjanjikan peran tokoh Indonesia di pemerintahan.
Pada Septembet 1943, Yamin diserahi jabatan sanyo atau penasihat di Sendenbu. Itu berarti Yamin menjadi salah satu dari tujuh pejabat tertinggi berkebangsaan Indonesia di zaman Jepang. Pada 1944, Jepang makin terdesak. Untuk merebut simpati Indonesia, pemimpin Jepang memberi janji kemerdekaan. Karena itulah akhirnya Jepang membentuk BPUPKI. Awalnya badan ini hanya dimaksudkan sebagai badan riset gagasan Indonesia merdeka. Tapi BPUPKI justru berhasil merancang sebuah hukum dasar republik.
sidang menganggap apa yang disampaikan Yamin bukanlah dasar negara, melainkan tentang terbentuknya Indonesia merdeka. Dalam pidatonya, ia juga menyebut melampirkan rancangan undang-undang dasar, yang ternyata tidak tercatat dalam notulen rapat.
Mohammad Hatta jengkel terhadap sikap Yamin. Ketika terjadi perdebatan panas antara kelompok Islam dan nasionalis mengenai dasar negara, Hatta mengatakan, “Yamin hanya mondar-mandir.” Ada lagi pangkal kekesalan Hatta. Dalam sidang pertama, sebenarnya ada 30 orang yang berpidato. Namun Yamin hanya memasukkan tiga nama dalam bukunya. Karena itulah Hatta menyebut koleganya tersebut memalsukan sejarah. “Dia menghilangkan banyak orang yang ngomong dalam sidang,” kata Restu.
Meskipun menyisakan kontroversi, sumbangan Yamin terhadap masuknya gagasan hak asasi manusia ke konstitusi tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sidang BPUPKI pada 11 Juli 1945, misalnya, Yamin mengusulkan agar rancangan konstitusi perlu memasukkan declaration of human rights and independence.
Rujukannya adalah naskah konstitusi Amerika Serikat. Yamin mengingatkan konstitusi yang sedang mereka susun adalah konstitusi yang penduduknya mendekati 100 juta jiwa. “Negara yang kita susun bukan negara kecil, melainkan negara sehebat-hebatnya,” ujar Yamin.
Dalam soal pemerintahan, Yamin memimpikan negara yang dipimpin kepala negara yang bertanggung jawab kepada majelis musyawarah. Majelis ini, kata dia, menjadi majelis permusyawaratan dan pemegang kekuasaan setinggi tingginya bagi republik. Yamin menegaskan, majelis ini dipilih dengan bebas dan merdeka oleh rakyat berdasarkan suara terbanyak.
Kalimantan bekas jajahan Inggris, Timor bekas jajahan Portugis, dan Papua.
Gagasan ini ditentang Hatta. Menurut dia, wilayah Indonesia adalah jajahan Hindia Belanda tidak termasuk Papua, Pulau Timor, dan Semenanjung Malaka. Namun, Hatta menggaris bawahi, Papua bergabung jika dikehendaki oleh rakyatnya. Dia lebih suka jika Malaka menjadi negara merdeka sendiri. “Tetapi, kalau sekiranya rakyat Malaka ingin bersatu dengan kita, saya tak melarang,” ucap Hatta.
Sejarawan Taufik Abdullah menilai Sukarno dan Yamin punya kesamaan dalam memandang kegemilangan masa lalu. “Saya menyambungkan keduanya sebagai romantic historian,” kata Tauflk. Toh, gagasan Indonesia ala Yamin dan Sukarno ini tak diterima oleh BPUPKI. Sang ketua, Dr Radjiman, memutuskan wilayah Indonesia hanyalah bekas jajahan Hindia Belanda, Indonesia hari ini.
f. Terpidana Pertama Perkara Makar
Muhammad Yamin divonis bersalah dan dipenjarakan oleh Mahkamah Tentara Agung di Yogyakarta. Dia salah satu pelaku kudeta pertama dalam sejarah Indonesia merdeka pada 3 Juli 1946. Grasi Preesiden Soekarno membuatnya kemudian bisa menduduki jabaran menteri, bahkan lebih dari sekali. Yaman meninggalkan banyak jejeak, termasuk yang kontroversial, dalam birokrasi pemerintahan.
Maklumat yang dibuat Yamin dianggap sebagai kudeta. Dua tahun hidup di 26 tempat penahanan.
Rumah krem di Jalan Gambir 15, Baciro, Yograkarta itu adalah “tempat kejadian perkara” untuk mengajukan Muhammad Yamin ke pengadilan. Enam puluh delapan tahun silam, di bangunan yang dulu milik Mr R. Sundoro Budhyarto Martoatmodjo itu, ia dituduh merencanakan makar.
Sukarno pada 3 Juli 1946. Bersama para tertuduh lain, pria kelahiran Talawi, Sumatra Barat, 22 Agustus 1903, ini disidang di Mahkamah Tentara Agung Yograkarta.
Inilah persidangan kasus kudeta pertama setelah Indonesia merdeka. Tuduhannya, antara lain, “Pada tanggal 29 Djuni 1946 atau kira-kira pada masa itu di rumah Batjiro Djalan Gambir 15 (Djogjakarta) atau di tempat lain dalam daerah Istimewa Djogjakarta dan Surakarta telah melanggar Kitab Undang-Undang Hukum dalam Bahasa Belanda pasal 107 dengan niat merobohkan pemerintahan dengan menjerahkan empat lembar surat kepada Panglima Besar Sudirman.”
Tuduhan lain dengan tempat kejadian perkara masih di Jalan Gambir 15, Baciro, adalah Yamin bersama tertuduh lain pada 27 Juni 1946 membahas situasi politik mutakhir” Hasil diskusi itu, menurut tuduhan, Mayor A.K. Jusuf, Kepala Batalion 63, Divisi III Yogyakarta, menculik Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
“Penculikan perdana menteri merupakan peristiwa besar,” kata Didi Kartasasmita, salah satu hakim tentara yang menangani Peristiwa 3 Juli 1946. Total ada 14 orang yang disidang. Sidang dimulai pada Februari 1948 dengan ketua dewan hakim Dr Mr Kusumah Atmadja (Ketua Mahkamah Agung RI) dan jaksa Mr Tirtawinata (JaksaAgung RI).
Empat lembar surat yang dituduhkan jaksa adalah Maklumat Nomor 2, 3, 4, dan 5. Maklumat dimulai dengan nomor 2 karena sebelumnya Presiden Sukarno mengeluarkan Makiumat Nomor 1 pada 29 Juni 1946, yang berisi pernyataan “pengambil alihan kekuasaan pemerintah sepenuhnya sehubungan dengan terjadinya kejadian-kejadian yang membahayakan keselamatan negara.”
tentang pengangkatan ro anggota Dewan Pimpinan Politik. Maklumat Nomor 5 tentang pengangkatan 19 anggota Kementerian Negara. Selain duduk dalam Dewan Pimpinan Politik, sesuai dengan maklumat itu, Yamin menjabat Menteri Penerangan dan Penyiaran.
Penyerahan maklumat kepada Presiden Sukarno di Gedung Agung, Yograkarta, dilakukan Yamin pada 3 Juli bersama para tokoh lain, termasuk Jenderal Mayor Sudarsono, Panglima Divisi III Yogyakarta. Sudarsono menyebutkan penyerahan empat surat itu atas perintah Panglima Besar Sudirman. Namun bukan persetujuan presiden yang didapat. Hari itu juga mereka ditangkap dengan tuduhan kudeta.
Bukti telah ada di tangan dan para tersangka telah diketahui, langkah praktis yang harus diambil ialah menahan Jendral Sudarsono. Yamin tak menerima semua tuduhan itu. Dalam Sapta Danna, yang dimaknai sebagai tujuh dalil mempertahankan patriotisme Indonesia, lulusan Rechts Hoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) Jakarta itu menguraikan panjang-lebar pembelaannya. Ihwal pertemuan pada 27 Juni di Baciro, ia menyatakan berada di Surakarta pada hari itu. Dengan begitu, ia mengatakan tak benar terlibat pertemuan yang berbuah dengan penculikan Sjahrir pada 27 Juni 1946 malam.
Pertemuan pada 29 Juni, menurut Yamin, bukan rapat untuk merencanakan, merundingkan, dan bermufakat seperti dituduhkan jaksa. Apalagi, pada 22 Juni, surat-surat itu sudah sampai ke tangan Sudirman, seperti disampaikan sang Jenderal dalam kesaksian di persidangan. “Tuduhan itu absurd,” kata Yamin, penggerak organisasi Persatuan Perjuangan yang menolak jalan diplomasi oleh Perdana Menteri Sjahrir dan memilih jalan revolusi bersenjata.
yakni empat tahun. Sundoro Budhyarto Martoatmodjo, pemilik rumah di Jalan Gambir 15, Baciro, dihukum tiga setengah tahun.
Hukuman Yamin paling berat, menurut pemerhati sejarah Rushdy Hoesein, karena ia dianggap sebagai pembuat konsep surat yang mengusulkan pemberhentian kabinet Sjahrir. Meski divonis empat tahun, Yamin hanya menjalani hukuman sekitar dua tahun. Sebab, bertepatan dengan peringatan Proklamasi 17 Agustus 1948, Presiden Sukarno memberikan grasi dan membebaskan semua terpidana, termasuk Yamin.
Sejak ditangkap pada 3 Juli 1946 hingga mendapat grasi, ia menghuni 26 tempat penahanan. Selain di penjara Wirogunan, Yograkarta, Yamin ditahan di Mojokerto, Pacet, Ponorogo, Madiun (semuanya di Jawa Timur), Sentul (Yograkarta), dan penjara Magelang (Jawa Tengah).
Rumah di Baciro, yang disebut sebaegai tempat perencanaan makar, sekarang telah berpindah kepemilikan.
B. Gagasan Bernegara Yamin
Transisi dari pendudukan Jepang ke era Indonesia merdeka merupakan salah satu periode penting munculnya ide-ide besar perkembangan sejarah ketatanegaraan Indonesia. Pada periode ini, para pendiri negara tak hanya sebatas memikirkan dasar negara Indonesia merdeka, tapi juga hukum dasar sebagai grand design hidup bernegara.
Bentuk pemerintahan dan susunan negara menjadi salah satu tema sentral selama proses persiapan Indonesia merdeka dan sekaligus pembahasan naskah konstitusi (hukum dasar). Dalam hal ini, Mr Muhammad Yamin di antara sosok yang secara eksplisit menyatakan keberatan dengan bentuk pemerintahan monarki. Dari lima alasan yang dikemukakan, keberatan utama Yamin, monarki tidak memberikan kepastian kuat untuk memerintah negara. Tidak hanya itu, baginya, memilih monarki sama saja dengan menolak datangnya Indonesia merdeka.
Karena proklamasi merupakan pernyataan kehendak rakyat, menurut Yamin, bentuk pemerintahan pun harus pula mampu mencerminkan kehendak rakyat dan bukan kehendak monarki. Karena itu, bagi Yamin, yang paling cocok adalah berbentuk republik. Dalam logika Yamin, hanya negara dengan bentuk republiklah yang memungkinkan terjadinya pembagian kekuasaan dengan rakyat yang di antaranya bisa dijalankan secara syuriah atau perundingan. Perkembangan selanjutnya, gagasan ini tersambung dengan penegasan daulat rakyat dalam Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945.
Tidak berhenti sampai bentuk pemerintahan, Yamin juga menghendaki Republik yang berada dalam bingkai negara kesatuan dan secara tegas menolak pola hubungan pemerintah pusat dan daerah berbentuk negara serikat. Ia menyatakan alasan utamanya, “Kita tidak mempunyai kekuatan untuk membentuk beberapa negara.” Selain itu, dia menunjuk kekayaan dan sebaran penduduk Indonesia yang tidak merata berpotensi menghadirkan kekacauan dengan memilih bentuk negara serikat. Apalagi gagasan negara kesatuan memang ide dasar mewujudkan persatuan Indonesia selama hampir 40 tahun menuju Indonesia merdeka.
Namun, meski memilih unitary state, Yamin tidak menghendaki pola hubungan yang serba-pusat alias sentralistis. Baginya, pola hubungan pusat-daerah dibangun dengan menjaga kepentingan pusat-daerah. Pembagian kekuasaan antara badan pusat dan badan daerah haruslah diatur dengan keadilan dan kebijaksana sehingga tetap menjaga keistimewaan.
Gagasan Yamin ini sama dengan gagasan pendiri bangsa lain, misalnya Soepomo. Soepomo menyatakan daerah-daerah kecil yang mempunyai susunan rakyat asli seperti desa (Jawa), nagari (Minangkabau), dusun dan marga (Palembang), huta dan kuria (Tapanuli), serta gampong (Aceh) tetap dipertahankan posisi keistimewaannya. Para pendiri bangsa, termasuk Yamin, dengan tegas menolak dilakukan penyeragaman seperti praktik yang, dua puluhan tahun kemudian, dilakukan Orde Baru. Fakta tersebut membuktikan ketajaman visi bernegara mereka ketika menawarkan berbagai pilihan design hubungan pusat-daerah. Secara substansial, ide ini menunjukkan Yamin adalah figur yang mampu berpikir melewati zamannya.
Selain bentuk pemerintahan dan bentuk negara, Yamin juga mengemukakan gagasan organ atau lembaga negara di tingkat pusat. Ia mengemukakan enam lembaga (the six powers of the Repubkc of Indonesia), yaitu Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan, Majelis Permusyawaratan Kementerian, Majelis Pertimbangan, dan Balai Agung atau Mahkamah Agung. Pemaparan organisasi ini memicu perdebatan dengan Soepomo.
sistem parlementarisme menganjurkan sistem parlementarisme,” kata Soepomo.
Sekalipun mengatakan maksudnya tidak begitu, secara teoretis gagasan posisi menteri yang dikemukakan Yamin memang mengandung karakter pola sistem pemerintahan parlementer. Namun inkonsistensi seputar ihwal sistem pemerintahan tidak hanya menjadi monopoli Yamin. Soepomo yang tidak hendak memilih di antara kedua sistem pemerintahan tersebut dan akan menyusun sistem sendiri pada akhirnya sulit keluar dari karakter kedua sistem tersebut. Paling tidak, sebagai pihak yang memiliki andil besar menyusun dan menempatkan Penjelasan UUD 1945. Desain sistem pemerintahan negara yang dihasilkan Soepomo adalah penggabungan antara karakter parlementer dan karakter presidensial.
Perdebatan berikutnya berkisar pada gagasan Yamin yang menghendaki Mahkamah Agung diberi kewenangan membanding atau menguji undang-undang terhadap undang-undang-undang-undang dasar (judicial review). Dengan menggunakan alasan konstitusi yang akan dibentuk tidak membedakan secara prinsipiil (separation of power) di antara tiga cabang kekuasaan negara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif), Soepomo menolak gagasan pengujian yang diajukan Yamin. Secara teknis, penolakan Soepomo didasarkan pada asumsi bahwa para ahli hukum Indonesia sama sekali tak mempunyai pengalaman mengenai pengujian undang-undang terhadap undang-undang dasar.
dengan memberi kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi untuk menguji undang-undang terhadap undang-undang dasar.
Bukan itu saja, Yamin sekaligus membuktikan kedalaman pemahamannya mengenai pentingnya judicial review sebagai mekanisme checks and balances dalam penyelenggaraan negara. Bagaimanapun, seperti dinukilkan John Agresto, ketersediaan peranti berupa pengujian ini menjadi sebuah kebutuhan karena kalkulasi politik dan kepentingan sesaat para pembentuk undang-undang memberi peluang hadirnya undang-undang yang oppressiue atau despotic. Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir membuktikan betapa pentingnya judicial review sebagai mekanisme koreksi terhadap undang-undang. Jika tidak, hampir dapat di pastikan merusaknya undang-undang yang melanggar UUD 1945 atau melanggar hak-hak dasar warga negara.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Selama masa transisi kependudukan Jepang ke era Indonesia Merdeka banyak munculnya ide-ide besar perkembangan sejarah ketatanegaraan Indonesia.
Muhammad Yamin merupakan figur sentral di tengah pusaran perdebatan dalam BPUPKI itu. Salah satu tema sentral yang muncul dalam perdebatan adalah bentuk pemerintahan dan susunan negara. Muhammad Yamin berpendapat bentuk negara harus republik, hal ini berdasarkan proklamasi yang merupakan pernyataan kehendak rakyat, bentuk pemerintahan pun harus pula mampu mencerminkan kehendak rakyat dan bukan monarki.
Muhammad Yamin yang merupakan seorang negarawan dengan latar belakang dunia sastra yang berhasil masuk dan memiliki andil dalam bidang politik yang sangat besar serta memberikan kontribusi besar bagi negara. Namun, di sisi lain Muhammad Yamin pernah melakukan beberapa tindakan yang kontroversial dan dianggap sebagai penyimpangan oleh sebagian besar tokoh pejuang Indonesia.
Adapun kontroversi yang dihadapi oleh Muhammad Yamin, antara lain:
a. Kontroversi Bapak Perumus Pancasila
b. Penamaan Naskah Preambule sebagai Piagam Jakarta c. Notulen Sidang yang Hilang
d. Sang Pemecah Belah Abadi
B. Saran
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1
Foto Muhammad Yamin
Sumber : http://mbmfoto.tempointeraktif.com/4522/yamin_politik_zigzag.jpg. Diunduh 26 Februari 2017
Lampiran 2
Foto Kondisi Sidang BPUPKI
Lampiran 3
Foto Muhammad Yamin Bersama Soekarno
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/resize.php?src=http://mbmfoto.tempointeraktif.com/ 4508/yamin_kontroversi.jpg&tipe=foto. Diunduh 26 Februari 2017
Lampiran 4
Foto naskah (salinan) notulen sidang BPUPKI Sumber :
Lampiran 5
Foto pada salah satu sidang Volksraad
DAFTAR PUSTAKA
Aboe Bakar Loebis. 1992. Kilas Balik Revolusi. Jakarta: Universitas Indonesia Press
RIWAYAT PENULIS
Penulis pertama bernama Andi Hendra Gunawan. Anak dari pasangan Andi Abdul Rasyid, S.Sos, M.Si dan Andi Syamsurya, SE, M.Si ini lahir pada 10 Juni 1999 di Watampone. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pendidikan formal dimulai saat penulis bersekolah di TK Matannatika, kemudian dilanjutkan pada jenjang sekolah dasar pada tahun 2005 di SD Negeri 10 Manurunge. Selanjutnya, penulis
melanjutkan pendidikan dan bersekolah di SMP Negeri 4 Watampone pada tahun 2011. Kemudian pada 2014 hingga sekarang, penulis bersekolah di SMA Negeri 1 Watampone.
Ronaldo Theodorus Azikin Japari,merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari Ir.Herry Japari dan dr.Bidasari Azikin.Penulis yang hobby bermain catur dan renang ini adalah alumni dari SMPN 4 Watampone dan merupakan seorang pengurus OSIS SMPN 4 Watampone periode 2009-2010 bagian dokumentasi kegiatan .