• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika PPPKI pada Masa Pergerakan Nasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dinamika PPPKI pada Masa Pergerakan Nasi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas UTS Mata Kuliah

Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional

Dinamika PPPKI pada Masa Pergerakan Nasional

Indonesia tahun 1927 – 1935

Zulkifli Pelana

4415120305

(2)

Pendahuluan

Pasca pemberontakan PKI tahun 1926 yang berhasil digagalkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, memicu reaksi lebih represif dari pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap pergerakan kaum-kaum nasionalis. Dari refleksi itu, para aktivis pergerakan nasional mengatur taktik agar tetap bertahan dan memperoleh persatuan dari bermacam-macamnya organisasi pergerakan nasional.

Adanya keinginan akan persatuan gerakan-gerakan nasionalis Indonesia guna mencegah terpecah-belahnya aksi pergerakan nasional memicu gagasan untuk dibentuknya suatu badan federasi yang diharapkan akan mengakomodir persatuan dari bermacam-macamnya organisasi pergerakan kebangsaan di Indonesia. Badan federasi tersebut yakni PPPKI, yang merupakan suatu sarana para aktivis pergerakan nasional pada periode tahun 1927 sampai 1935 untuk memperoleh kekuatan yang besar dalam melawan penjajah Belanda.

Dalam paper ini terdapat pemaparan sekilas mengenai awal terbentuknya PPPKI, dinamika dan perkembangan PPPKI pada masa pergerakan nasional Indonesia, hingga kemunduran dan akhir dari PPPKI.

Awal Terbentuknya PPPKI

Upaya-upaya guna memperoleh persatuan pergerakan pembebasan bangsa Indonesia telah diusahakan dengan pendirian sebuah “Indonesische eenheidscomite” (Komite Persatuan Indonesia) di Bandung dan sebuah “Comite persatuan kebangsaan” di Surabaya, maka pada bulan September 1926 lahirlah sebuah “Comite persatuan Indonesia”, dalam komite ini turut duduk semua studieclub, SI, Muhammadiyah, JIB, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon dan Sarekat Madura.1 Namun, setelah komite ini didirikan, satu organisasi atau satu gabungan

(federasi) saja tidak dapat diwujudkan.

1 A. K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia (Jakarta: Dian Rakyat, 1994), hlm.

(3)

Setahun kemudian, ketika konggres PSI di Pekalongan pada bulan September 1927, langkah untuk merealisasikan pembentukan federasi mulai menemukan titik terang. Sebelum itu, Sukarno dan Sukiman telah mempersiapkan dasar bagi suatu federasi partai-partai politik sejak bulan April.2 Lalu, diadakanlah sidang kongres

pada tanggal 1 Oktober yang menyetujui PSI untuk masuk sebagai anggota federasi yang direncanakan, sehingga dengan demikian pembentukan federasi secara resmi dapat dilakukan.3 Bergabungnya PSI ke dalam federasi tidak terlepas dari peranan

Sukiman dalam meyakinkan PSI untuk bekerja sama dengan PNI, kendati ada pertentangan-pertentangan sebelumnya.4

Kemudian, sebuah rapat diadakan pada tanggal 17 – 18 Desember di Sekolah Taman Siswa di Bandung untuk mengatur pembentukan federasi secara resmi. Hadir dalam pertemuan tersebut wakil-wakil dari PSI, PNI, Budi Utomo, Pasundan, Sumatranenbond, Kaum Betawi dan Kelompok Studi Indonesia. Pertemuan tersebut menerima AD yang dipersiapkan oleh Sukarno dan Sukiman (sejak bulan April) untuk pembentukan suatu federasi yang dikenal dengan nama Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)5dan sesudah AD

itu dikirimkan kepada semua pengurus besar partai-partai, maka secara resmi di Bandung pada tanggal tersebut lahirlah PPPKI.

Adapun yang menjadi anggota PPPKI ialah: - PNI (diwakili oleh Sukarno, Mr. Iskaq).

- Algemeene Studieclub (diwakili oleh Mr. Sartono, Mr. Budiarto dan Dr. Samsi).

- PSI (diwakili oleh Dr. Sukiman dan Sjahbudin Latif).

- Budi Utomo (diwakili oleh Kusumo Utojo dan Sutopo Wonobojo).

- Pasundan (diwakili oleh Oto Subrata, Bakri Surjaatmadja dan S. Sendjaja).

2 John Ingleson, Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia tahun 1927-1935 (Jakarta:

LP3ES, 1988), hlm. 54

(4)

- Sarikat Sumatera (diwakili oleh Parada Harahap, Dahlan Abdullah). - Kaum Betawi (diwakili oleh Mohammad Husni Thamrin).

- Indonesische Studieclub (Sujono, Gondokusumo, dan Sundjoto). Terkait usaha-usaha yang akan dicapai oleh PPPKI, antara lain:

a. Menyamakan arah aksi kebangsaan, memperkuatnya dengan memperbaiki organisasi dengan kerja bersama antara anggota-anggotanya.

b. Menghindarkan perselisihan sesama anggotanya, yang hanya bisa melemahkan aksi kebangsaan saja. Sesuai dengan ini maka ditentukan, bahwa di dalam gabungan itu tidak akan diperundingkan asas-asas, tentang mana partai-partai yang berlainan paham (umpamanya agama, non-kooperasi). Hanya keputusan-keputusan yang sudah diambil dengan suara bulat saja yang mengikat semua partai; jika tentang sesuatu hal yang tidak dapat mufakat yang bulat, maka suatu keputusan dapat dijalankan hanya atas nama-nama partai yang menyetujui keputusan itu saja.6

Dengan terbentuknya PPPKI, secara sepintas sudah terlihat membawa perkembangan baru yang memberi harapan, walaupun federasi ini memang terdiri dari bermacam-macam partai. Lebih jelasnya, PPPKI merupakan federasi berbagai golongan yang ada tanpa tuntutan ideologi, kecuali menerima gagasan berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.7 Memang idealnya seperti itu, namun dalam

perkembangan selanjutnya mulai menampakkan beberapa perbedaan.

Dinamika PPPKI pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia

Pada tanggal 25 Maret 1928, PPPKI mengadakan rapat di Jakarta berhubung dengan kabar bebasnya keempat pelajar Indonesia yang dahulu tertangkap, yang mana maksud ini untuk membicarakan keadaan mereka dan nasibnya. Diambillah

6 Pringgodigdo, op. cit., hlm. 84

7 Peter Kasenda, Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933 (Depok: Komunitas Bambu, 2010),

(5)

keputusan pendirian suatu badan yang membantu mereka dan mengirimkan kawat (telegram) kepada mereka guna menyatakan simpati.

Pada tanggal 30 Agustus – 2 September 1928, PPPKI mengadakan kongres pertamanya di Surabaya. Kongres ini antara lain mengambil suatu mosi “dari rakyat kepada rakyat” tentang:

a. Dalam berpropaganda untuk organisasi sendiri, anggota PPPKI tidak boleh menyalahkan asas-asas atau tujuan anggota lainnya, juga tidak boleh mempergunakan kata-kata yang mungkin menimbulkan perasaan-perasaan yang merugikan anggota lain.

b. Segala perselisihan antara sesama anggota PPPKI haruslah diselesaikan dengan jalan perundingan.

Antara pembicara pada kongres ini terdapat juga anggota-anggota PNI yaitu Mr. Iskaq, Ir. Sukarno, Dr. Samsi, yang dengan cara ini mendapat kesempatan yang luas untuk menyebarkan pikiran-pikiran PNI kepada sidang yang ramai jenis-jenis orangnya itu.

Adanya sidang yang ramai itu juga yang menyebabkan dibentuknya seksi-seksi setempat dari PPPKI atas anjuran PNI, yang mana seksi-seksi itu mempunyai Majelis Pertimbangan masing-masing. Seksi Bandung mengadakan rapat umum pada 7 Oktober dan 16 Desember 1928; pada rapat ini dibicarakan oleh para pemimpin PNI tentang segala rintangan yang dirasa oleh kaum pergerakan dari undang-undang negeri dan juga hal erfpah (hak bangunan).8

Aksi tersendiri PNI tersebut tidak disukai oleh partai-partai lain; PNI sementara sedang berusaha melakukan aksi-aksinya mengolah rakyat umum dari organisasi yang berlainan itu dengan perantaraan “seksi-seksi” PPPKI tadi. Dari hal itu, maka tidak mengherankan jika pada rapat PPPKI 25 – 26 Desember 1928 di Bandung, mengambil keputusan akan membubarkan seksi-seksi tersebut (di Bandung, Yogya,

(6)

Solo, dan Jakarta) selekas-lekasnya.9 Rapat (tertutup) ini selanjutnya menetapkan,

bahwa PPPKI:

1. Akan menjalankan aksi yang kuat untuk menentang segala pasal dalam Undang-Undang Hukum Pidana, yang merintangi kemerdekaan orang menyatakan pikirannya dan aksi-aksi lainnya.

2. Akan berupaya agar orang-orang yang diasingkan di Digul itu tetap tidak berdosa, dimerdekakan kembali; untuk itu periksa lagi surat-surat yang bersangkutan dengan pengasingan itu dengan sebaik-baiknya.

3. Akan mengadakan suatu panitia untuk pengajaran (sekolah) kebangsaan. 4. Akan menyerahkan suatu memorandum tentang peraturan poenale sanctie10

terhadap kuli kontrak kepada Albert Thomas, ketua konferensi internasional tentang perburuhan di Geneve saat ia tiba di Indonesia.

Akhirnya, dilakukan protes terhadap ancaman-ancaman yang dikeluarkan oleh pemerintah jajahan di Dewan Rakyat (9 November 1928) kepada pemimpin-pemimpin PNI, jika mereka tidak menjadi lebih tenang dalam aksi-aksinya.

Pada konferensi PPPKI di Yogyakarta 29 – 30 Maret 1929, diberitahukan bahwa pemerintah tidak suka memberikan bantuan untuk dapat memeriksa, terkait apakah ada orang-orang yang tidak bersalah dari orang-orang yang diasingkan di Digul tersebut (pemerintah tidak mengizinkan surat-surat itu diperiksa). Selanjutnya diambillah keputusan, agar selambat-lambatnya pada 1 Mei 1929 dilakukan aksi umum yang sudah dirancangkan, menentang pasal 153 bis11 dan pasal 153 ter, serta

pasal 161 bis dari Buku Undang-Undang Hukum Pidana (tentang hasutan yang bersifat revolusioner dan ajakan mengadakan pemogokan) di kota-kota penting.12

Konferensi itu juga akan mendirikan Fonds Nasional untuk membelanjai propagandanya di Indonesia dan di luar negeri, serta untuk menyokong

sekolah-9ibid., hlm. 86

10Poenale sanctie adalah sanksi hukuman yang diberikan bila para kuli menggar kontrak (melarikan

diri). (Sumber: <http://glosarium.org/arti/?k=poenale+sanctie>, diakses 18-5-2014, pukul 10.00 WIB)

(7)

sekolah kebangsaan, akhirnya atas anjuran PNI, diangkatlah Perhimpunan Indonesia oleh konferensi itu menjadi pengawal paling depan (di Eropa) pergerakan kebangsaan Indonesia.13 Hal ini berdasarkan pada pertimbangan:

Pertama, bahwa besar manfaatnya bagi Eropa itu mengetahui keadaan-keadaan yang merajalela di Indonesia (poenale sanctie, rodi, rintangan bagi kemerdekaan berbicara dan sebagainya). Kedua, bahwa PPPKI dapat mengetahui sebaik-baiknya kejadian-kejadian dalam kalangan politik di Eropa yang dirasa penting bagi Indonesia.

Dengan demikian, pada tanggal 2 April 1929, PI diangkat secara resmi menjadi wakil PPPKI dengan mendapat mandat terbatas, yakni: PI (Perhimpunan Indonesia) dapat menjalankan aksi di Eropa atas nama PPPKI terhadap poenale sanctie dan ketiga pasal dari Undang-Undang Hukum Pidana tersebut.

Masih terkait, poenale sanctie, maka pada tanggal 1 September 1929, PPPKI mengadakan rapat-rapat umum di Jakarta, Bandung dan Surabaya untuk menentang poenale sanctie itu.

Kemudian, PPPKI mengadakan kongres keduanya di Solo pada tanggal 25 – 27 Desember 1929. Ada empat mosi dari “rakyat dan untuk rakyat” yang diambil saat kongres itu, yakni tentang:

1. Baiknya mengadakan suatu panitia untuk menyelidiki pergerakan sekerja, yang semestinya harus dipimpin oleh suatu pusat (vakcentrale).

2. Buruknya penahanan terlalu lama yang dilakukan oleh polisi atas kamu politik.

3. Tidak sahnya larangan atas beberopa golongan pegawai negeri (pegawai-pegawai di Jawa Barat dan semua orang militer) menjadi anggota dari beberapa partai nasional.

4. Keharusan memandang setiap orang yang tidak menghormati persatuan Indonesia, menjadi musuh Indonesia.14

(8)

Karena organisasi-organisasi daerah yang menjadi anggota PPPKI dan mosi tersebut sudah diambil, maka hal ini berarti organisasi-organisasi tersebut mengakui hanya Indonesia sebagai Tanah Air. Pada kongres ini, disahkan berdirinya Fonds Nasional yang sudah dimufakati pada konferensi bulan Maret, untuk propaganda di dalam dan di luar negeri, sedang diambil keputusan meneruskan adanya PI menjadi yang paling depan bagi PPPKI dengan mandat terbatas.

Selanjutnya, pada tanggal 12 Januari 1930, dua pekan sesudah penggeledahan pada semua pemimpin PNI, PPPKI mengadakan rapat di Jakarta guna memprotes penggeledahan dan penangkapan itu. Diambil keputusan akan memperkuat Fonds Nasional agar dapat menyokong keluarga orang-orang yang sedang dalam tahanan itu. Suatu mosi “dari rakyat dan untuk rakyat” menetapkan, bahwa meskipun ada rintangan yang hebat dalam aktivitas pergerakan, aksi tetap diteruskan untuk kemerdekaan kebangsaan hingga tujuan itu tercapai.

Dalam rapat tertutup itu, diambil keputusan akan mengadakan suatu Kongres Nasional Indonesia Raya pada bulan Desember 1930, yang akan dihadiri bukan saja oleh anggota-anggota PPPKI, tetapi juga oleh golongan yang bukan anggota PPPKI, maksud kongres itu ialah hendak bersama-sama memperoleh alur-alur untuk mencapai tujuan kebangsaan.15 Namun, kongres ini harus diundur sebagai akibat dari

keadaan yang kurang menyenangkan terkait dengan “serangan” dari golongan-golongan Islam terhadap kaum nasionalis sekuler dan juga karena “serangan” kaum nasionalis sekuler terhadap agama Islam.16 Selain itu, pengunduran waktu

pelaksanaan kongres tersebut disebabkan juga adanya kesulitan keuangan, hingga kongres baru bisa diadakan pada suatu waktu di tahun 1931.17

Adanya perselisihan antara kaum nasionalis Islam (dalam hal ini: PSI) dengan kaum nasionalis sekuler (dalam hal ini: PNI) berdampak pada keluarnya PSI (Partai Sarekat Islam)18 dari PPPKI pada tahun 1930. Keluarnya PSI / PSII dari PPPKI itu

15ibid., hlm. 88

16 Lihat: Pringgodigdo, 1994: 159 17 Lihat: Ingleson, 1988: 177

(9)

dikarenakan kelompok-kelompok lainnya menolak untuk mengakui peranan utama Islam yang oleh para pemimpin Islam perkotaan, dianggap pantas.19 Dan alasan lain

keluarnya PSII dari PPPKI ialah bahwa pasal 1 dari Anggaran Dasar Federasi itu berlawanan dengan Anggaran Dasar PSII yang memperbolehkan keanggotaan bagi semua orang Islam apapun kebangsaannya.20

Selain itu, perselisihan-perselisihan dalam tubuh PPPKI itu ditambah lagi dengan adanya anjuran PNI untuk mendirikan seksi-seksi lokal yang dipandang sebagai percobaan yang hendak memperkecil pengaruh partai-partai kooperasi. Hal ini memang tidak bisa terhindarkan karena PPPKI terdiri dari campuran bermacam jenis aliran pergerakan (penganut kooperasi dan non-kooperasi, kaum keagamaan dan yang netral terhadap agama), yang pastinya ada berbagai perbedaan. Dari beberapa perselisihan tersebut, eksistensi PPPKI sebagai forum bagi golongan kooperator dan non-kooperator ataupun antara nasionalis Islam dan sekuler makin terancam.

Pada konferensi tanggal 21 Maret 1931, diambil keputusan akan mengadakan juga kongres itu sebagai persediaan untuk itu PPPKI mengundang beberapa organisasi kebangsaan (juga yang tidak tergabung dalam federasi), supaya menghadiri pertemuan yang diadakan pada akhir bulan Mei 1931. Selanjutnya digantilah kata “Permufakatan” pada nama federasi itu menjadi “Persatuan”, akhirnya diputuskan pula bahwa segala keputusan tidak akan diambil lagi hanya dengan suara bulat saja, tetapi di dalam asasnya keputusan itu juga akan dapat dijalankan dengan suara yang terbanyak.21

Dapat dikatakan, bahwa meskipun ada segala perselisihan itu antara satu golongan dan golongan lain, sikap terhadap penjajah pada tahun 1931 tidak menjadi lemah, bahkan umumnya menjadi lebih keras.

Kongres Indonesia Raya diadakan pada awal tahun 1932. Di kongres ini sangat diharapkan agar partai-partai yang waktu itu sedang berselisihan (Pendidikan Nasioanl Indonesia lawan Partindo, Umat Islam lawan PBI, Istri Sedar lawan PPII) 19 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 (Jakarta: Serambi, 2008), hlm. 394

(10)

untuk menghentikan perselisihan-perselisihan di antara mereka. Hal ini sungguh menghasilkan kurang baiknya pertentangan-pertentangan itu, lebih-lebih antara Pendidikan Nasional Indonesia dan Partindo.

Lalu, pada bulan Maret 1932, PPPKI mengadakan konferensi di Surabaya. Konferensi ini mengambil keputusan akan memindahkan Majelis Pertimbangan dari Surabaya ke Jakarta, tempat kedudukan kebanyakan pengurus besar partai yang tergabung di dalam PPPKI itu. Berhubung dengan hal itu pengurus harian yang terdiri atas Dr. Sutomo dan Mr. Latuharhary, diganti dengan Thamrin dan Oto Iskandar Dinata.22

Konferensi yang diadakan bulan November 1932 menerima rancangan Ir. Sukarno tentang memperbaiki organisasi PPPKI; perbaikan ini akan menjadikan PPPKI itu lebih layak untuk jadi suatu badan yang meliputi seluruh pergerakan kebangsaan. Semenjak waktu itu akan diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun Kongres Indonesia Raya, pada kongres ini akan dibicarakan hal yang penting dan diambil keputusan tentang hal itu. Keputusan-keputusan kongres ini akan dijalankan oleh PPPKI. Bukan saja anggota-anggota PPPKI yang ikut pada Kongres Indonesia Raya itu, tetapi juga perkumpulan-perkumpulan politik yang tidak jadi anggota PPPKI, tetapi yang hadir di kongres itu dianggap bermanfaat; perkumpulan-perkumpulan yang tersebut kemudian ini hanya akan turut bersuara mengambil suatu keputusan tentang hal-hal yang akan ditentukan saja, umumnya mereka hanya boleh memberi nasehat saja.

Sebab oleh keputusan ini, di Bandung didirikanlah suatu Komite Persatuan Aksi untuk mengadakan rapat-rapat bersama dari beberapa partai, di tempat-tempat yang dianggap baik untuk mengadakan aksi itu. Sebelum itu sudah diadakan rapat-rapat yang demikian, misalnya pada bulan Juli 1932 di Jakarta, yang membicarakan tanah-tanah partikulir, undang-undang tentang pemberangusan surat kabar dan undang-undang tentang pengumpulan uang.

(11)

Kemudian, pada September 1932 suatu konferensi bersama (tetapi di luar ikatan PPPKI) dilaksanakan di Jakarta, yang mana konferensi diadakan oleh Pendidikan Nasional Indonesia, Partindo, Pasundan, Budi Utomo, Sarikat Sumatera dan PBI, membicarakan pula undang-undang yang tersebut tadi dan selanjutnya segala halangan yang ditimbulkan oleh polisi di rapat-rapat. Sebagai keputusan diambil mosi “dari rakyat kepada rakyat” untuk menentang undang-undang tentang pengumpulan uang pengekangan surat kabar, halangan di rapat-rapat, pasal 153 bis dan pasal 153 ter, serta 161 bis dari Undang-Undang Hukum Pidana dan hak-hak luar biasa dari pemerintah tentang pengasingan.23

Dari semua yang tersebut tadi, terlihatlah bahwa kembalinya Sukarno ke dalam pergerakan dan datangnya Drs. Moh Hatta dalam lapangan politik yang kritis, menyebabkan gerakan politik langsung menuju Indonesia Merdeka yang tadinya terhenti sementara dan berganti dengan perselisihan-perselisihan antara satu golongan dan golongan lain, telah dilakukan kembali sejak tahun 1932.

Adapun perkumpulan-perkumpulan yang tergabunglah dalam PPPKI pada akhir tahun 1932, yaitu: Budi Utomo, Pasundan, Serikat Sumatera, Serikat Ambon, Timor Verbonds, Partai Serikat Selebes, Partai Indonesia dan Persatuan Bangsa Indonesia. PNI Baru (Moh. Hatta) tidak jadi anggota “persatuan” itu dan ia bersikap “kritis” terhadap “persatuan” itu; Drs. Moh. Hatta menamai “persatuan” itu “persatean”. Juga golongan-golongan agama (Islam dan Kristen) tidak tergabung dalam “persatuan” itu.24

Pada bulan Mei 1933, federasi itu mengadakan aksi yang bersamaan waktunya di beberapa tempat untuk menentang hal penyempitan hak berserikat dan bersidang. Lalu, pada awal Agustus 1933, federasi itu menyiarkan surat sebaran untuk menentang aturan-aturan yang diambil oleh pemerintah guna melemahkan pergerakan yang bersikap “kiri”; federasi itu memprotes hal itu dan menganjurkan kepada rakyat supaya beraksi lebih kuat.

(12)

Kongres Indonesia Raya kedua yang akan diadakan pada bulan Desember 1933, tidak dapat dilangsungkan; ini adalah akibat larangan dari pemerintah beberapa hari sebelum kongres itu dimulai, sebab Partindo akan ikut pada kongres itu, maka larangan bersidang pun dianggap berlaku bagi seluruhnya.

Pada tahun 1933, pemerintah mengambil tindakan (selain larangan menjadi anggota, larangan bersidang, pengasingan) terhadap pergerakan kebangsaan, yaitu: sejak bulan Juli 1933 berlaku aturan tentang perjalanan di Tapanuli dan Bangka (ini menyebabkan propagandis-propagandis tidak mungkin pergi ke sana), undang-undang pengekangan surat kabar terhadap beberapa surat kabar Indonesia (sebab itu surat-surat kabar ini terpaksa berlaku sedikit ‘manis’ agar tidak terkena larangan terbit) dan pencabutan hak mengajar di sekolah bagi 87 anggota perkumpulan-perkumpulan “kiri”.

Dari berbagai dinamika dan perkembangan PPPKI tersebut, kita merefleksi sejenak guna melihat ada kritik-kritik yang tertuju pada PPPKI, di antara yaitu dalam beberapa karangan pada surat kabar PNI “Persatoean Indonesia” dari Januari sampai April 1929, terdapat kritik Mohammad Hatta terhadap PPPKI, yang dinilainya belum merupakan suatu badan yang kuat dan terorganisir, serta menganjurkan agar PPPKI menjadi suatu Dewan Ra’jat yang mewakili semua aliran politik dalam gerakan nasionalis.25 Kemudian, Hatta dalam tulisannya pada harian Indonesia Merdeka di

bulan Okbtober 1930, melanjutkan kritik terhadap PPPKI. Hatta mengkritik bahwa PPPKI berada dalam krisis ganda: pertama, krisis ideologi dan kedua, krisis impotensi.26 Krisis ideologi terjadi karena konsepsi yang salah tentang arti persatuan

dalam gerakan nasionalis. Lalu, Hatta pun menambahkan impotensi (pelemahan) politik PPPKI baru terlihat setelah penangkapan beberapa para aktivis pergerakan.

Kemunduran dan Akhir dari PPPKI

(13)

Ternyata, pembentukan PPPKI yang diharapkan akan menyatukan berbagai organisasi nasionalis kemudian hanya tinggal fatamorgana. Hal itu di antaranya disebabkan oleh: perbedaan prinsip antara PSI (nasionalisme Islam) dan PNI (nasionalis sekuler); konservatisme-nya Budi Utomo yang dibarengi ketakutan PSI terhadap dominasi PNI dalam federasi.27

Dalam hal ini, Sukarno (selaku salah satu pimpinan partai) terbilang gagal merangkul persatuan federasi partai dalam PPPKI guna melawan Belanda, meskipun berkat retorikanya PNI mampu berkembang secara pesat. Hal itu juga ditambah dengan adanya sikap para pemimpin organisasi dalam federasi mementingkan kepentingan partainya masing-masing.

Oleh karena adanya Partindo dalam PPPKI merupakan suatu rintangan bagi federasi tersebut untuk beraksi, maka pada tanggal 9 Februari 1935, partai itu keluarlah dari PPPKI. Jadi, ketika itu federasi ini terdiri hanyalah dari partai-partai yang bersikap kooperasi saja, dan dengan demikian PPPKI tidak dapat lagi dinamakan suatu perikatan dari pergerakan politik kebangsaan dari segala warna. Lagi pula dalam pergerakan itu, terutama Sukarno (yang mendirikan dan yang memperbaiki PPPKI itu), yang menjadi pendorong PPPKI, cenderung dominan beraksi terhadap PPPKI. Menilik bagaimana keadaan PPPKI itu lama-kelamaan, maka tidaklah mengherankan kita, bahwa federasi itu tidak melakukan aksi lagi.

Sesudah lebih dari empat tahun lamanya tidak beraksi, pada masa inilah PPPKI dengan diam-diam mati adanya. Berhubung dengan kegentingan interasional yang menyebabkan sangat perlunya pemusatan tenaga bangsa Indonesia, timbullah satu badan baru bagi persatuan, bernama Gabungan Politik Indonesia; tujuannya ialah mempersatukan semua partai politik Indonesia Raya. Dasar-dasar aksi ialah hak mengatur diri sendiri, persatuan kebangsaan yang meliputi seluruh rakyat Indonesia, yang menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Dengan adanya Gapi, kita melihat lahirnya kembali PPPKI; perbedaannya ialah PSII masuk pula dalam

(14)

kalangan itu.28 Akhirnya, nama PPPKI pun berakhir sebagai suatu federasi gerakan

nasionalis Indonesia.

Penutup

Pada awalnya, PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) dapat dibilang sebagai pengikatan bersama organisasi-organisasi nasionalis dengan musuh yang sama, yaitu pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sempat bergabungnya beberapa organisasi gerakan kebangsaan dalam federasi ini dapat dianggap sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional. Dengan demikian, PPPKI pun dapat menghidupkan kembali gairah juang para aktivis pergerakan nasional.

PPPKI sebagai federasi yang merupakan suatu sarana dari partai anti-kolonial dapat terbelah oleh konflik (khususnya atas kelayakan pendekatan non-kooperatif, dan peran agama)29. Adanya masalah-masalah non-kooperasi dan kooperasi serta

perselisihan nasionalisme sekuler dan nasionalisme Islam makin merapuhkan kekuatan PPPKI guna merangkul bermacam-macam organisasi pergerakan nasional. Selain itu, setiap anggota partai dalam federasi lebih suka untuk memikirkan kegiatan-kegiatan partainya masing-masing daripada soal-soal kekokohan federasi. Adanya beberapa perselisihan internal federasi tersebut makin menguatkan anggapan bahwa taktik devide et impera kolonialis Belanda masih ampuh efeknya.

Sejalan dengan pendapat John Ingleson, PPPKI yang diharapkan dapat merangkul dan menyatukan kekuatan bermacam-macam organisasi pergerakan nasional hanyalah tinggal “fatamorgana”. Sebagai penutup, kita dapat mengambil pelajaran dari kasus dinamika PPPKI tersebut, bahwa tanpa adanya persatuan dan kemauan bersama untuk menyatukan kekuatan melawan para penjajah, mustahil diperoleh keberhasilan bebasnya bangsa kita dari para penjajah.

28 Pringgodigdo, op. cit., hlm. 163

29 Nicholas Tarling, The Cambridge History of Southeast Asia Vol. 2: The 19th & 20th Centuries.

(15)

__________________

Daftar Pustaka

Buku

Ingleson, John. 1988. Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia tahun 1927-1935 Jakarta: LP3ES.

Kasenda, Peter. 2010. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933. Depok: Komunitas Bambu.

Pringgodigdo, A. K. 1994. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.

Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008. Jakarta: Serambi.

E-Book

Tarling, Nicholas. 1994. The Cambridge History of Southeast Asia Vol. 2: The 19th & 20th Centuries. Cambridge University Press.

Internet

Referensi

Dokumen terkait

Kelembagaan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Utara dibentuk berdasarkan pada Peraturan Daerah Provinsi Maluku Utara Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Pada penelitian ini diperoleh kandungan serat kasar terendah pada perlakuan penambahan enzim cairan rumen domba 125 ml/kg bahan dengan lama waktu inkubasi 24 jam

Malaria merupakan salah satu penyakit yang penting di negara tropis. Di Indonesia penyakit ini merupakan penyakit dengan angka kesakitan yang masih tinggi. Karena itu

Dengan melalui pengembangan media informasi kedalam website , karakter kartun Benny dharapkan bisa memberikan wawasan mengenai citra dari karakter kartun Benny melalu

Dan yang paling utama adalah kami membutuhkan bantuan teman – teman yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kami untuk turut membantu mendinamiskan organisasi ini serta

a) Mempunyai daya tarik yang besar dan dapat menimbulkan keinginan dan minat baru, hal ini terjadi karena peranan warna, gerakan, intonasi, suara, bentuk rancangan yang

ANALISIS TEKNIK PERMAINAN BOLAVOLI PUTRA PADA FINAL FOUR PROLIGA TAHUN 2009 DI MAGETAN JAWA TIMUR Skipsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Berdasarkan analisis terhadap validitas dan reliabilitas 149 butir soal latihan pembelajaran kosakata bahasa Perancis pada tingkat 1 dan tingkat 2 dalam