BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangProvinsi Riau merupakan provinsi yang kaya akan sumber daya alam berbagai jenis Potensi dan komoditi terdapat di Provinsi ini yang tersebar ditiap-tiap Kabupaten yang ada di Provinsi Riau diantaranya Kabupaten Siak yang merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki potensi dan komoditi dibidang perkebunan sawit.
Namun dengan demikian meskipun Perkebunan Sawit memberikan kontribusi yang begitu besar bagi suatu Provinsi, Kabupaten diperlukannya pengetahuan terhadap kajian Dampak yang ditibulkannya baik dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkannya. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya minat masyarakat akan perkebunan sawit disamping keuntungan yang diperolehnya cukup menjanjikan sehingga wajar sektor perkebunan sawit sangat diminati di provinsi riau.
Namun dengan demikian hendaknya kita selaku masyarakat harus mengetahui bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh dengan adanya perkebunan sawit seperti pertanyaan berikut:
1. Bagaimana efek dan kontribusi Tanaman sawit sendiri terhadap ekologi lingkungan sekitarnya apakah menguntungkan atau merugikan ?
2. Bagaimana pengaruh sosial terhadap daerah sekitar perkebunan sawit ?
1.2 Tujuan
Study kasus mengenai Perkebunan Sawit merupakan wadah dan sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami secara mendalam dengan meneliti dampak-dampak yang ditimbulkan dengan keberadaan Perkebunan sawit yang sangat erat keterkaitannya Terhadap Mata Kuliah ‘Analisis Sumber Daya Lingkungan.
1.3Ruang Lingkup
Sebelah Timur : Kabupaten Meranti Sebelah Barat : Kabupaten Kampar
Sebelah Selatan : Kabupaten Pangkalan Kerinci
1.4 Metode Penelitian 1.4.1 Tahapan Penelitian
Mengacu pada tujuan studi, maka pendekatan studi yang dilakukan terdiri dari beberapa tahap :
a. Persiapan
Sebelum memulai melakukan penelitian maka harus melakukan persiapan – persiapan terlebih dahulu. Persiapan yang dilakukan antara lain :
1) Menentukan masalah yang relevant untuk diangkat mejadi Topik penelitian 2) Pengurusan surat izin survei
Surat izin dikeluarkan oleh fakultas ini ditujukan nantinya ke Insatnsi-instansi yang ada di Kabupaten Siak. Surat izin ini dipakai untuk pengambilan data di Kantor Pemerintahan seperti Bappeda, BPS, Kantor-kantor camat yang ada di Kabupaten Siak.
b. Pengumpulan Data 1. Data Primer
Observasi
Survei
Wawancara
2. Data Sekunder
Data-data yang di dapat dari Kantor Pemerintahan seperti BPS, Kantor-kantor camat , instansi-instansi yang ada di Kabupaten Siak maupun data-data yang didapat dari internet yang berkaitan dengan Perkebunan sawit yang ada di Kabupaten Siak.
Pada tahapan ini adalah tahapan untuk mengolah data-data yang berhasil dihimpun dan selanjutnya dianalisa dan out putnya berupa kesimpulan sementara sebagai argumentasi penelitian.
1.5 Sistematika Penyajian
Agar data tersusun secara sistematis maka laporan ini disusun dengan sistematika penyajian sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam BAB ini diuraikan beberapa pengertian atas istilah yang digunakan, latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode penelitian, dan sistematika penyajian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam BAB ini diuraikan tentang pengertian-pengertian yang berhubungan dengan masalah penelitian.
BAB III
GA
MBARAN UMUM DAERAH PENELITIANDalam BAB ini diuraikan tentang keadaan Kabupaten Siak seperti Batas Administrasi Kabupaten Siak.
BAB IV ANALISA DATA
Dalam BAB ini di jelaskan metode-metode yang dilakukan dalam melakukan analisa-analisa permasalahan yang terjadi.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam BAB ini berisikan tentang analisis mengenai Hasil penelitian berupa kesimpulan dan saran
BAB VI PENUTUP
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Perkebunan Kelapa Sawit adalah :
”Lahan yang ditanami kelapa sawit dan dengan penggunaan lahan terkait seperti prasarana, jalan, wilayah tepian tebing dan pencadangan konservasi”.
2. Tata Ruang adalah :
Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. 3. Amdal adalah :
”Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan”.
4. Klasifikasi Kebun adalah :
”Salah satu kegiatan pembinaan dalam mendorong perusahaan perkebunan untuk pemanfaatan sumberdaya yang tersedia sehingga dapat dicapai produktivitas yang optimal dan effisien”
5. Kearifan Lokal adalah :
”Sebuah sistem pengetahuan masyarakat lokal yang didasarkan pada pola-pola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh para warga masyarakat secara berulang-ulang dan dianggap baik, yang pada dasarnya dapat bersumber pada adat istiadat setempat dan masih berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut”.
Suatu ilmu yang mempelajari susunan, bentuk sejarah perkembangan bumi dan mahkluk yang pernah hidup dalam dan diatas bumi, serta proses – proses yang telah sedang dan akan bekerja di bumi.
7. Lingkungan adalah:
Hubungan antara suatu objek (entity) dengan lingkungannya.
BAB III
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
2.1 Gambaran umum Daerah Penelitian
Sebagai kabupaten baru, Siak berupaya membangun daerahnya dengan terlebih dahulu menyiapkan berbagai sarana dan prasarana yang merupakan kebutuhan mendasar bagi proses terjadinya investasi. Oleh karena itu, disamping terbuka peluang investasi dan perdagangan di sektor-sektor unggulan, banyak potensi dan peluang investasi di bidang infrastruktur dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh para investor untuk menanamkan modalnya di wilayah Kabupaten Siak. Guna memberikan arah pengembangan melalui kegiatan investasi serta gambaran tentang peluang kegiatan investasi, Pemerintah Kabupaten Siak telah menyusun rencana investasi strategis, yang meliputi simpul-simpul investasi, pembangunan jembatan Siak dan jembatan Perawang, pembangunan jalan tol Minas - Kandis, pembangunan jalan tol Perawang - Tanjung Buton, pembangunan Pelabuhan Samudera Tanjung Buton, pembangunan Kawasan Industri Tanjung Buton, serta penyediaan energi listrik, air bersih dan telepon.
60.975 ton/tahun, dalam waktu 2 tahun akan dihasilkan CPO lebih dari 500.000 ton/tahun.
Untuk itu diperlukannya penelitian secara mendalam terhadap Dampak yang kelak akan ditimbulkan dengan keberadaaan perkebunan sawit di Kabupaten Siak.
2.2 Sejarah Tanaman Sawit
Tanaman kelapa sawit adalah sumber utama minyak nabati sesudah kelapa di Indonesia. Tanaman ini dikenal di dunia barat setelah orang Portugis berlayar ke Afrika tahun 1466. Dalam perjalanan ke Pantai Gading (Ghana), penduduk setempat terlihat menggunakan kelapa sawit untuk memasak maupun untuk bahan kecantikan. Pada tahun 1970 untuk yang pertama kali dikapalkan sejumlah biji kelapa sawit ke Inggris dan memasuki daratan benua Eropa tahun 1844. Beberapa tahun kemudian Eropa mengimport inti sawit.
Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan
K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternative dan hingga saat ini usaha perkebunan kelapa sawit sendiri telah menyebar dan merambah ke kabupaten – kabupaten yang ada di Provinsi Riau termasuk Kabupaten Siak sendiri yang tak luput dari perkembangan komoditi Kelapa Sawit.
BAB IV
ANALISA DATA
4.1
Proses Implementasi Perkebunan sawit yang ada di Kabupaten Siak
Pemerintah kab.Siak melaksanakan program pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan pola inti dan plasma yang berbasis kemitraan. Pemerintah kab. Siak bermitra dengan BUMN yang ada di propinsi riau yaitu PT. Perkebunan Nusantara V yang dinilai berpengalaman dan profesional dalam melaksanakan program tersebut sejak tahun 2003. Secara kronologis, proses persiapan pembangunan perkebunan kelapa sawit di Kab. Siak telah di rintis sejak tahun 2002. Awal dari pelaksanaan pengembangan kebun kelapa sawit di Kab. Siak dimulai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman( MOU) antara pemerintah kab. Siak dengan PT. Perkebunan Nusantara ( PTPN) V Nomor: 6 tahun 2003 pada 10 april 2003, yang kemudian ditindak lanjuti dengan keputusan bersama Bupati Siak dengan Direksi PT. Perkebunan Nusantara V No.01/05.01/05.P2/X/2003 pada 23 januari 2003 tentang pembentukan Tim bersama untuk persiapan pelaksanaan Program.
hektar di Kabupaten Siak, yaitu di Kecamatan Minas, Sei Mandau, dan Siak. Pada jangka panjang pelaksanaan program dilaksanakan atau dikelola oleh suatu perusahaan patungan (join venture) milik pemerintah kab. Siak , PT. Perkebunan Nusantara V dan masyarakat/petani kabupaten siak.
Kegiatan teknis awal proses pembangunan kebun kelapa sawit adalah dilaksanakanya survey identifikasi dan desain(SID) yang akan menginformasikan kelayakan teknis lahan untuk
Kegiatan sosialisai program mengenai pembangunan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Siak kepada masyarakat perlu dilakukan untuk dapat memberikan informasi, pengertian dan pemahaman sekaligus untuk mengetahui minat dan upaya balik serta menagkap berbagai permasalahan yang akan dihadapi pada program tersebut. Adanya sosialisai ini secara teknis akan dapat menghimpun dukungan masyarakat dalam pembangunan perkebunan kelapa dikabupaten siak. Tentunya kegiatan sosialisasi tersebut meliputi pemberian informasi, pengertian dan pemahaman sehingga diketahui minat, umpan balik serta permasalahan yang mungkin timbul berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kebun sawit. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan oleh Tim yang terdiri dari Dinas dan Instansi terkait lingkup kabupaten siak (Dinas Pertaian dan perkebunan, Dinas Pertanahan, Dinas Kehutanan, Kantor Pertanahan, Bagian perekonomian , Camat, Kepala Desa, dan Badan pertimbangan Desa di Lokasi pengembangan). Materi sosialisai meliputi tujuan, sasaran program, prosedur pelaksanaan, rekruitmen calon lahan (CPCL). Pembangunan pembibitan, pembangunan kebun plasma sampai pada pengembalian kredit dan peremajaan (Replanting) Tanaman.
Inventarisasi dan Identifikasi serta Seleksi calon petani dan lahan (CP/CL).
karena itu, perlu ditetapkan kriteria calon lahan dan calon petani dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit di kabupaten siak.
4.2.1 Pembangunan pembibitan
Pembanguna kebun pembibitan ini dapat dilaksanakan dalam dua tahap (double stage) yaitu pembibitan awal (Pre Nursery) dan pembibitan utama (Main Nursery). Pembangunan perkebunan kelapa sawit di kabupaten siak masing-masing seluas 3500 ha dan 5182 ha dapat diperlukan kebun pembibitan masing-masing 44 ha dan 67 ha.
4.2.2 Desain dan Penataan Kebun
Pengukuran dan pemetaan kembali areal efektif untuk proyek seluas 3.500 ha dilakukan utuk menginventarisasi kembali areal sebenrnya untuk perkebunan kelapa sawit karena tidak tertutup kemungkinan adanya areal yang telah digarap oleh masyarakat setempat.
4.2.3 Pembanguna fisik kebun
Periode pembangunan fisik kebun terhitung mulai penanaman sampai dengan konversi yaitu pada saat tanaman sudah berumur 4 (empat) tahun atau tanaman sudah
menghasilkan.
4.2.4 Pengawasan
4.2.5 Pola dan Ruang Lingkup Pengembangan
Pola pengembangan yang dilaksanakan dibagi dalam 2 (dua) tahap yaitu jamgka pendek dan jangka panjang. Untuk jamgka pendek seyogianya PTPN V hanya bertindak sebagi pembangun kebun sedangkan pembiayaan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah kabupaten siak. Begitu juga dengan peranan perbangkan hanya bertindak sebagia chanelling, yaitu hanya menyalurkan dana pemerintah kabupaten siak. Untuk jangka panjang pola pengembangan yang akan dilaksanakan adalah pola kemitraan inti dan plasma, yaitu suatu pola pengembangan dengan memadukan kemitraan initi dan plasma, dimana intinya adalah perusahaan patungan (konsorium) yang dibentuk secara bersama oleh pemerintah kabupaten siak dan PTPN-V. Perussahaan ini membangun dan membina perkebunan milik petani dalam suatu sisitem kerjasama yang saling menguntungkan utuh dan berkesinambungan selama jangka waktu umur ekonomis tanaman kelapa sawit (sekitar 25 tahun), sehingga pembiayaan pembangunan kebun juga menjadi tanggung jawab bersama dalam sharing kepemilikan saham atau modal. Sedangkan ruang lingkup pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui pola kemitraan inti dan plasma merupakan suatu paket pengembangan wilayah yang utuh dengan ruang lingkup pengembangan berikut:
1. Pembangunan kebun plasma
2. Pembangunan kebun inti
3. Pembangunan pabrik kelapa sawit
4. Pembangunan industri hilir
Model Kolaborasi
Dalam rangka mencapai keberhasilan berbagai pelaksanaan program pengembangan komoditas kelapa sawit di kabupaten siak, maka pelaksanaan berbagai program perkebunan kelapa sawit tersebut dirancang dengan melibatkan berbagai stake holder yang antara lain pemerintah kabupaten siak, pihak swasta, lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dengan harapan tercipta pelaksanaan program yang terintegrasi dan sinergis. Pada program jangka pendek yaitu tahap pembangunan kebun maka kolaborasi yang dilaksankan adalalah pemerintah kabupaten siak, PT. Perkebunan Nusantara V, Pusat penelitian kelapa sawit (PPKS) Medan, PT. Bank negara indonesia (Tbk) dan institut pertanian Bogor. Adapun peran dari masing-masing stakeholder sebagaimana terlihat pada Gambar 4.1. Model ini terus akan berkembang pada saat program jangka panjang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar bagan berikut:
Gambar 4.1 BAGAN PENGEMBANGAN KOMODITI PKS
Kehadiran dan keberadaan Perusahaan perkebunan ditengah-tengah masyarakat merupakan wujud dan partisipasinya dalam pengembangan pembangunan masyarakat khususnya dalam rangka peningkatan ekonomi serta pendapatan masyarakat di Pedesaan. Bentuk nyata partisipasi Perusahaan adalah dengan pembangunan lahan perkebunan kelapa sawit melalui Pola Kemitraan kebun Inti dan kebun Plasma bagi masyarakat. Dengan pengembangan dan pembangunan lahan perkebunan ini akan tercipta berbagai kegiatan usaha ekonomi yang dapat dilakukan oleh masyarakat disamping akan menciptakan dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Kehadiran dan keberadaan Perusahaan ditengah - tengah masyarakat juga membuka peluang munculnya konflik antara Perusahaan dengan masyarakat yang dipicu oleh adanya Issu masalah pencemaran lingkungan, Issu masalah Tanah dan sebagainya. Konflik ini jika tidak dikelola dan tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan dapat menimbulkan gejolak sosial ditengah-tengah masyarakat yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi, ketertiban dan keamanan lingkungan yang suka tidak suka akan mempengaruhi lingkungan kerja Perusahaan. Berbagai Issu tersebut harus disikapi dengan arif dan bijaksana oleh segenap unsur yang ada diPerusahaan. Apalagi Pimpinan memiliki suatu pandangan mulia Ada Masyarakat Baru Ada Perusahaan, dan Ada Perusahan Baru Ada Pimpinan, Serta Ada Pimpinan, Baru Ada Bawahan / Karyawan Pandangan dimaksud bermakna bawah kita adalah bagian dari masyarakat yang ada disekitar kita atau disekitar lokasi usaha Perusahaan.
Selain itu berdasarakan hasil analisa dapat disimpulkan ada dua dampak sosial yang ditimbulkan dengan keberadaan perkebunan Sawit di Kabupaten Siak antara lain:
1. Dampak Positif
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Mengurangi angka kemiskinan ditandai dengan semakin menurunnya tingkat pengangguran di daerah perkebunan sawit.
Merangsang perkembangan daerah dekitar
Turut mendukung program pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat
2. Dampak Negatif
Sering Terjadinya Sengketa lahan antara masyarakat dengan pemilik Perkebunan sawit
Semakin tersingkirnya kawasan – kawasan cagar budaya akibat pembukaan lahan perkebunan sawit
Isu masalah Tanah yang dijadikan lahan perkebunan.
kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan dan issu lain yang ada
4.2.2 Dampak Ekologi dan lingkungan akibat Perkebunan Sawit
Dampak yang ditimbulkan perkebunan sawit itu melahirkan bencana ekologis seperti kebakaran hutan, banjir, serta tanah longsor.Konflik tanah serta dampak sosial dari usaha perkebunan sawit menjadi ancaman serius, oleh karena itu ada inisiatif agar usaha ini ramah lingkungan dan berkelanjutan yang diprakarsai perkebunan kelapa sawit itu sendiri, Adapun dampak-dampak ekologi yang ditimbulkan akibat perkebunan sawit antara lain :
Merusak lingkungan dan merusak ekosistem hutan
Disamping itu jenis Tumbuhan berupa sawit ini tidak berfungsi menyerap Karbon dioksida tetapi malah mengeluarkan karbon jika perkebunan ini dilakukan dikawasan bergambut.
Timbulnya pencemaran lingkungan disekitar lokasi kegiatan ussha perusahaan.
Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi.
Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing
dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu
pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan
mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara
pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa
sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa
sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor
4.4.3 Dampak Positif Bagi pemerintah Kab. Siak
Meningkat kan PDRB ditandai dengan adanya investasi. Meningkat kan PAD kabupaten setempat
BAB V
KESIMPULAN dan SARAN
5.1 Kesimpulan
program yang telah diterapkan oleh setiap pemilik perkebunan sawit hal ini tentunya sejalan dengan program pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5.2 Saran