Faisal Hawary
PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR DESA
Faisal Hawary KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia membuat buku ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga buku ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga buku ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Buku ini saya akui masih banyak kekurangan karena kurangnya pengalaman yang saya miliki. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan buku ini.
Madiun, Desember 2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...i
Daftar Isi...ii
Pendahuluan...1
Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan. .3
Pembangunan Transportasi Perdesaan...7
Isu Transportasi Pedesaan...9
Tujuan Program Transportasi Perdesaan. 10
Pelaksanaan Pelayanan dan Infrastruktur Transportasi Perdesaan...11
Insentif Untuk Transportasi Perdesaan....12
Pembangunan Pedesaan dalam Konteks Agropolitan, Desentralisasi, dan Otonomi Daerah di Indonesia...14
Konsep Agropolitan...14
Undang Undang Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia...17
Kesimpulan...20
PENDAHULUAN
Menurut data Kemendagri buku induk kode dan data wilayah administrasi pemerintahan per provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan seluruh Indonesia tahun 2013, terdapat 72.944 wilayah administrasi desa dan 8.309 wilayah administrasi kelurahan. Sehingga total wilayah administrasi setingkat desa dan kelurahan sejumlah 81.253 wilayah.
Komposisi penduduk masih didominasi penduduk desa sebesar 56% dan penduduk kota sebesar 44% dengan kontribusi kota besar dan metropolitan terhadap pertumbuhan mencapai 32%. Sedangkan kontribusi kota menengah dan kecil hanya 7% terhadap pertumbuhan.
Namun, dengan pertumbuhan yang timpang antara desa dan kota tersebut menyebabkan adanya kesenjangan antara desa dan kota, dan tingkat kemiskinan di desa lebih besar dibandingkan di kota.
Per Maret 2010, angka kemiskinan sudah cukup menurun, di desa 19 juta orang, di kota 11,1 juta orang. Sedangkan pada tahun 2009, angka kemisikinan di desa 20,62 juta orang, sedangkan di kota 11,91 juta orang.
Pembangunan desa akan menciptakan keseimbangan pembangunan nasional. Penting membangun dari desa dan pinggiran. Persoalan mengenai mengapa pembangunan hanya berusia pendek karena pondasinya rapuh, dan desa tidak diberdayakan.
Keseimbangan pembangunan dapat dilakukan apabila desa mendapatkan jumlah fasilitas yang tepat. Hal itu guna menciptakan sektor-sektor yang kuat di desa dan memberikan keseimbangan bagi pembangunan nasional.
Harus ada pilar-pilar di desa yang dapat memberikan keseimbangan. Kalau dalam dimensi saja tidak seimbang, kita tidak bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Jangan sampai desa menjadi 'anak tiri' dalam pembangunan. Hal tersebut justru akan menimbulkan ketidakadilan. Keseimbangan pembangunan desa dan nasional akan memperkuat dan memperkokoh bangsa. Infrastruktur di desa harus diperhatikan. Desa pun harus mendapatkan teknologi yang sesuai untuk memberdayakan daerahnya.
Pembangunan perdesaan juga menjadi salah satu cara untuk memulihkan ekonomi nasional. Pedesaan dapat membantu perkotaan ketika terjadi krisis ekonomi. Karena itu pembangunan perkotaan harus diiringi dengan pembangunan perdesaan.
otonomi daerah yang diberikan menjadi kuat, dan siap untuk melaksanakan pemerintahan mandiri.
Perdesaan harus dihubungkan antara daerah lain, karena tidak semua perdesaan merupakan desa yang produktif karena itu desa dan kota yang berdekatan perlu dihubungkan agar distribusi barang dan jasa dapat terlaksana.
Transportasi perdesaan merupakan kunci dalam pembangunan sosial dan ekonomi perdesaan. Keterkaitan antara suatu desa dan berbagai daerah lain, merupakan mata rantai ekonomi yang perlu difasilitasi.
PROGRAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN
PPIP atau program pembangunan infrastruktur perdesaan bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat, melalui partisipasi dalam memecahkan permasalahan yang terkait kemiskinan dan ketertinggalan desa.
perencanaan dan melaksanakan pembangunan infrastruktur desanya.
Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat atau PNPM sendiri merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan.
Berikut merupakan penjelasan dari PPIP Maksud;
Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui perbaikan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan infrastruktur dasar perdesaan.
Tujuan;
1. Tujuan jangka panjang adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;
2. Tujuan jangka menengah adalah
3. Meningkatkan akses masyarakat miskin dan yang mendekati miskin ke infrastruktur dasar di wilayah pedesaan.
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyediaan infrastruktur perdesaan.
Sasaran;
masyarakat, berkualitas, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
2. Meningkatnya kemampuan masyarakat perdesaan dalam penyelenggaraan infrastruktur perdesaan.
3. Meningkatnya jumlah penanganan desa tertinggal sejalan dengan RPJMN 2004-2009.
4. Meningkatnya kemampuan aparatur pemerintah daerah sebagai fasilitator pembangunan di perdesaan.
5. Terlaksananya penyelenggaraan
pembangunan infrastruktur perdesaan yang partisipatif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Prinsip;
1. Pemilihan kegiatan berdasarkan musyawarah masyarakat (acceptable).
2. Dilaksanakan masyarakat secara terbuka (transparent).
3. Dapat dipertanggungjawabkan
(accountable).
Pendekatan;
1. Pemberdayaan.
2. Keberpihakan kepada yang miskin.
3. Otonomi dan desentralisasi.
4. Partisipatif.
5. Keswadayaan.
6. Keterpaduan program pembangunan.
7. Penguatan kapasitas kelembagaan.
Ruang Lingkup Program;
1. Pembangunan infrastruktur transportasi perdesaan untuk mendukung peningkatan aksesibilitas masyarakat desa, yaitu: jalan, jembatan perdesaan, titian dan tambatan perahu;
2. Pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi pertanian, yaitu: irigasi perdesaan;
3. Pembangunan infrastruktur yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, meliputi: penyediaan air minum, dan sanitasi perdesaan.
1. Program ini dilaksanakan oleh masyarakat desa sasaran secara swakelola melalui Organisasi Masyarakat Setempat sebagai pengelola kegiatan.
2. Penetapan jenis infrastruktur, perencanaan dan operasi pemeliharaanya dilaksanakan berdasarkan Keputusan dalam Musyawarah Desa.
PEMBANGUNAN TRANSPORTASI PERDESAAN
Tingkat kemiskinan yang telah berkurang dari 60 juta pada tahun 1970 menjadi 22,5 juta di tahun 1996, namun akibat perubahan politik di Indonesia tahun 1997 tingkat kemiskinan meningkat sampai 45,9 juta dari 250 juta penduduk Indonesia.
Program ekonomi saat ini memprioritaskan infrastruktur perdesaan sebagai salah satu solusi untuk memperkuat ekonomi Indonesia. Memprioritaskan infrastruktur perdesaan bertujuan untuk memberi peluang bagi kemampuan daerah dan perdesaan sebagai tulang punggung ekonomi regional dan nasional.
Sistem distribusi harus menjamin keamanan barang dan pelayanan antara produsen dan pelanggan untuk menjamin keuntungan. Hubungan antara ekonomi perdesaan dan ekonomi perkotaan harus didukung oleh sistem distribusi yang baik untuk menjamin keberhasilan ekonomi.
timpangnya tingkat pembangunan antara perdesaan dan perkotaan.
Dengan adanya transportasi di perdesaan tingkat mobilitas pelayanan dan barang akan meningkat, sehingga kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan dapat diperoleh dari perdesaan lain.
Pada dasarnya pembangunan sistem transportasi perdesaan memerlukan tiga komponen: infrastruktur transportasi perdesaan, pelayanan trensportasi perdesaan, dan kapasitas manajemen untuk menangani pelayanan dan infrastruktur transportasi.
Kebijakan dan Program Pemerintah dalam Pengembangan, Pengentasan Kemiskinan dan Transportasi di Perdesaan
Pemerintah memiliki misi yaitu membangun daerah perdesaan yang dapat dicapai melalui pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan keanekaragaman usaha perdesaan, ketersediaan sarana dan fasilitas untuk mendukung ekonomi perdesaan, membangun dan memperkuat institusi yang mendukung rantai produksi dan pemasaran, serta mengoptimalkan sumber daya alam sebagai dasar pertumbuhan ekonomi perdesaan.
Transportasi menjadi elemen penting dan strategis untuk mendukung misi ini, terutama dalam menjamin mobilitas orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lain, mendistribusi ke daerah, regional, nasional, dan internasional.
untuk pemberdayaan masyarakat. Ini akan menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik untuk diterapkan disemua tingkat pembangunan dan keputusan yang dibuat berdasarkan kebutuhan dari masyarakat.
Pembangunan desa merupakan kebijakan dan strategi pengentasanan kemiskinan. Pada tahun 1993 pemerintah membuat program IDT untuk mengentaskan kemiskinan pada desa tertinggal dan diikuti program P3DT pada tahun 1995 untuk mendukung dan meningkatkan implementasi IDT.
Pada tahun 1998 pemerintah melalui BAPPENAS meluncurkan program PPK yang pada dasarnya merubah tingkat pembangunan dari tingkat desa ke tingkat kecamatan. Program ini memfokuskan pada penyediaan dana berputar dengan menggunakan lembaga keuangan yang dimiliki masyarakat.
Pararel dengan konsep pembangunan perdesaan dan program pengentasan kemiskinan, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah (Bangda), Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah telah membuat reformasi organisasi untuk menitikberatkan pada pembangunan, supervisi dan pelatihan. Tugas tersebut merupakan implementasi empat fungsi birokrasi yaitu pelayanan, pemberdayaan, pemabngunan dan jaringan usaha.
meningkatkan pelayanan fasilitas dan infrastruktur transportasi (b) melanjutkan peningkatan sistem transportasi lokal, dan (c) peningkatan aksesibilitas ke fasilitas dan sarana transportasi.
Isu Transportasi Perdesaan
Transportasi perdesaan dan aksesibilitas perdesaan mempunyai arti konseptual yang sederhana namun terdapat isu kompleks di sekitarnya. Secara definisi “akses” adalah (a) means of approaching something or somebody or entering a place, (b) opportunity or right to use something or approach somebody.
Definisi lain dari akses termasuk “means or right of using, reaching or obtaining”. International Labour Organization (ILO) mendefinisikan transport sebagai “pergerakan orang dan barang dengan sarana apapun yang mungkin, untuk tujuan apapun yang mungkin”. World Bank mendefinisikan transportasi sebagai “kegiatan menghubungkan orang ke tempat-tempat dan sumber daya”. Transport adalah sarana untuk meningkatkan kemampuan (atau mobilitas) bagi orang untuk mencapai akses pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan.
pada daerah perkotaan (secara temapt) dan pemerintah pusat (secara organisasi dan politik).
Konstruksi jalan perdesaan berbasis buruh di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores merupakan contoh ideal bagaimana pendekatan partisipasi dapat membantu masyarakat mengerti sepenuhnya tentang proses rencana, desain, implementasi dan evaluasi. Proyek juga menunjukkan bahwa kualitas dan biaya proyek setara denagn proyek P3DT (untuk sarana transportasi umumnya hanya untuk jalan) didanai oleh OECF/JBIC telah menunjukkan denagn meningkatkan aksesibilitas daerah perdesaan telah mengurangi waktu perjalanan ke ibukota kecamatan atau pasar lokal antara 60-80%. Desa-desa sekarang dapat menggunakan kendaraan beroda 4 dan beberapa populasi dapat dicapai dengan kendaraan beroda 4. Proyek yang akan datang seharusnya diarahkan ke dua kata kunci, yaitu integrasi dan sinkronisasi di dalam dan antar kecamatan.
Pada kasus di Nepal, jelas bahwa kebutuhan masyarakat perdesaan menjadi pusat pertanyaan transportasi perdesaan. Pendekatan berdasarkan kebutuhan utnuk meningkatkan aksesibilitas, merupakn kewajiban jika kita ingin membangun program transportasi perdesaan. Ini
termasuk program perdesaan untuk
transportasi yang dibangun dengan cara
Undang-undang desentralisasi (UU 22/99 dan UU 25/99) merupakan perubahan besar dalam memformulasikan tujuan pembangunan program transportasi perdesaan. Dalam sistem desentralisasi, pemerintah daerah harus membuat prioritas pembangunan dan merespon kebutuhan pembangunan mereka sendiri. Yang masyarakat perdesaan butuhkan adalah inti dari proses pembangunan. Pentingnya akses untuk membuka isolasi adalah alasan mengapa transport merupakan elemen esensial di pembangunan. Jones (1981, yang dikutip oleh Dongges, 2001, dalam Jinny, 2001) menyataklan bahwa “Isolasi adalah halangan utama pembangunan. Isolasi menyebabkan kemiskinan, karena pelayanan tidak mencapai yang terisolasi dan membuat mereka tidak terkontak kegiatan peningkatan pendapatan”. Program transportasi harus menjamin akses orang ke kebutuhan dasar juga kesempatan sosial dan ekonomi yaitu termasuk meningkatkan keahlian dan produktivitas mereka.
Pemerintah melihat transportasi perdesaan pendekatan holistik dalam pembangunan daerah.
Desentralisasi seharusnya tidak membuat suatu daerah (distrik, kota atau propinsi) terisolasi atau membuat mereka terisolasi, tapi harus menciptakan suatu saling ketergantungan.
Faktor penting dalam pelayanan dan transportasi perdesaan adalah pembiayaan dan pengelolaan aset. Pada saat pembiayaan daerah kadang-kadang sulit untuk diandalkan, pemerintah daerah dapat menerapkan beberapa opsi pembiayaan seperti hibah (transfer fiskal antar pemerintah), generasi baru road fund, sumber pendapatan daerah dari jalan tol, pajak dan fee seperti juga dari agen donor lain.
Inisiatif Untuk Transportasi Perdesaan
1. Pembangunan transportasi pedesaan harus terus didukung untuk meningkatkan kemampuan daerah untuk meningkatkan kehidupan yang berkesinambungan.
3. Para stakeholders harus membuat program yang komprehensif berdasarkan rencana aksi yang menoptimalkan penggunaan sumber daya alam daerah dan mengintegrasikan prinsip partisipasi, penggunaan sumber daya yang
berkesinambungan, perlindungan
lingkungan dan pemahaman jender.
4. Inisiatif dan best practices yang berhasil di bidang pengembangan transportasi pedesaan harus disebarluaskan dan direplikasi seluas-luasnya.
5. Program pengembangan transportasi pedesaan harus merujuk ke capacity building sebagai aspek penting dalam implementasi.
6. Semua stakeholders termasuk pemerintah pusat dan daerah harus membuat ketetapan untuk alokasi keuangan bagi pengembangan transportasi pedesaan.
7. Semua stakeholders harus mempersiapkan rencana kegiatan mereka sendiri untuk meningaktkan transportasi pedesaan.
9. Rencana kegiatan harus menyertakan proses monitoring dan mekanisme evaluasi.
PEMBANGUNAN PEDESAAN DALAM KONTEKS AGROPOLITAN, DESENTRALISASI, DAN
OTONOMI DAERAH DI INDONESIA
Konsep agropolitan adalah sebuah kebijakan pemerintah pusat yang merupakan pendekatan terpadu dari beberapa departemen bidang ekonomi untuk pembangunan di pedesaan khususnya pertanian dengan jalan melengkapi infrastruktur, memperluas akses terhadap kredit usaha untuk meningkatkan pendapatan petani dan mendorong pertumbuhan industri guna meningkatkan nilai tambah sektor pertanian. Program ini dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi (Deptan, 2002). memanfaatkan dan mengkombinasikan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan tantangan) yang ada sebagai potensi dan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan produtivitas wilayah akan barang dan jasa, (Friedman & Allonso, 1978).
juga pembangunan sektor secara luas usaha pertanian (on farmdan off farm), industri kecil, pariwisata, jasa pelayanan, dan lain-lain. Dalam hal ini dukungan infrastruktur sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi pertanian (Dep.Kimpraswil, 2003).
Tujuan utama program ini adalah untuk memenuhi pelayanan terhadap masyarakat di pedesaan, dengan kata lain menurut Friedmann, adalah menciptakan kota di desa agar para petani atau masyarakat desa secara umum tidak perlu pergi ke kota untuk memenuhi kebutuhan mereka. Terutama dalam hal pelayanan produksi dan distribusi, pelayanan sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Disamping itu program ini juga diharapkan dapat menahan masyarakat untuk tetap kerasan berada di kampung dan membangun desa guna mengurangi exodus ke kota.
Pengembangan agropolitan diciptakan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan di daerah. Teori ini mendukung paradigma pembangunan dari bawah yang muncul sebagai pendekatan pembangunan yang mengutamakan kekuatan lokal.
dan menarik sumber daya yang ada. Dia merupakan hasil dari setiap bagian/komponen wilayah dari suatu kawasan, dengan kata lain komponen alam, budaya, ekonomi dan sosial. Dikatakan kerakyatan bila dia melibatkan partisipasi dari masyarakat setempat dan dikatakan demokratis bila dia dapat mendukung sistem yang demokratis dalam pelaksanaannya.
UNDANG-UNDANG DESENTRALISASI DAN
OTONOMI DAERAH DI INDONESIA
Konteks Nasional
pelayanan masyarakat, tanda-tanda adanya disintegrasi di beberapa negara, dan yang terakhir, banyaknya kegagalan yang dialami oleh pemerintahan sentralistis dalam memberikan pelayanan masyarakat yang efektif.
Hal ini lah yang disadari oleh rakyat Indonesia untuk melakukan perubahan setelah 32 tahun tenggelam dalam era otoriter rezim Orde Baru yang memimpin negara dari Jakarta dan yang menjadikan Indonesia sebagai satu dari negara-negara paling sentralistik di dunia. Terutama tuntutan akan persamaan tingkat pelayanan yang dirasakan sangat berbeda antara suatu daerah dan lainnya, yang memicu keinginan desintegrasi beberapa wilayah di Indonesia terutama daerah yang kaya akan sumber daya namun kurang terbangun. Hal ini menimbulkan kecemasan tentang perpecahan negara. Kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk selama krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 1997, memperkuat keinginan masyarakat untuk merubah sistem pemerintahan yang dianggap tidak mampu mengatasi kesulitan yang timbul pada saat itu.
1. Pemerintah daerah sangat memahami kebutuhan masyarakatnya;
5. Keputusan pemerintah lokal sangat responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga mendorong pemerintah lokal untuk melakukan efisiensi dalam
pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya.
Selanjutnya M. Djadijono dan T.A. Legowo mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi ini menekankan empat hal utama:
Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip
demokrasi dan memperhatikan
keanekaragaman daerah; Pengaturan, pembagian, dan pemanfatan sumber
daerah, keadaan geografi, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah; dan
Penyelenggaraan otonomi daerah;
pengaturan, pembagian dan
KESIMPULAN
1. Transportasi perdesaan mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda.
2. Sasaran transportasi perdesaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transportasi yang ramah lingkungan, dapat dijangkau dan mudah didapat.
3. Keikutsertaan masyarakat, swasta dan pemerintah (sebagai elemen pemerintahan) selama proses pembangunan transportasi perdesaan, yaitu perencanaan, konstruksi, monitoring, pemelihraan dan evaluasi adalah penting untuk menjamin tercapaianya tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Kebijakan dan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan/Perkotaan yang Menunjang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Girimukti, Tono. 2013. PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan), (Online),
(http://tonogirimukti.com/archives/529, diunduh 29 Desember 2014, pukul 16.41).
Hida, Ramdhania El. 2010. Jumlah Penduduk Kota Dominasi Penduduk Desa di 2015, (Online),
Kementerian Dalam Negeri. 2012. Buku Induk Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Per Provinsi, Kabupaten/Kota Dan Kecamatan Seluruh Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri.
Prayitno, Arif. 2012. Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan, (Online), (http://arifprayitno99.blogspot.com/2012/03 /program-pembangunan-infrastruktur.html, diunduh 12 November 2014, pukul 08.25).
Suchaini, Udin. 2013. Berapa Jumlah Desa di Indonesia saat ini?, (Online), (http://suchaini.blogspot.com/2013/09/bera
pa-jumlah-desa-di-indonesia-saat-ini_2445.html, diunduh 25 November 2014, pukul 07.32).
Wikipedia. 2014. PNPM Mandiri Pedesaan, (Online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/PNPM_Mandiri _Pedesaan, diunduh 29 Desember 2014, pukul 23.17).
Zulfikar, Muhammad. 2014. Pemerintahan Jokowi-JK Diminta Perkuat Pembangunan
Desa, (Online),
(http://www.tribunnews.com/pemilu- 2014/2014/09/04/pemerintahan-jokowi-jk-diminta-perkuat-pembangunan-desa,