• Tidak ada hasil yang ditemukan

Malakah apresiasi dan kesadaran budaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Malakah apresiasi dan kesadaran budaya"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Pentingnya Aspek Apresiasi dalam Pembelajaran Seni Rupa Sebagai Upaya Menumbuhkan Kesadaran Budaya

Illiyyin Nurul Arsy

1. Pendahuluan

Dewasa ini masyarakat selalu dihadapkan pada masalah

kebudayaan global, bahasan multikultural serta jati diri bangsa.

Permasalahan tergerusnya nilai budaya sebagai dampak mudahnya

akses teknologi dan informasi menjadi permasalahan kontradiktif dalam

segi budaya yaitu antara mengikuti arus yang ada sehingga tidak

tertinggal arus jaman ataukah mempertahankan apa yang telah ada dan

menolak segala bentuk hal baru yang masuk dalam tubuh budaya.

Selain itu, maraknya upaya dalam menghadapi arus global ini selalu

dibahas dan pada kenyataanya memang perlu selalu ada pemikiran

mengenai permaslahan ini . Secara tidak langsung pemikiran serta

bahasan yang lalu lalang terkait masalah ini adalah salah satu bentuk

kontrol yang terwujud sebagai respon atas masalah yang ada.

Demi menjawab pertanyaan dan permasalahan yang membludak

berkenaan dengan budaya, bahasan mengenai kesadaran budaya

menjadi penting untuk diketahui terlebih bagi para pelajar atau siswa

sebagai sasaran utamanya. Oleh karenaya diperlukan suatu

pembelajaran yang secara nyata mengandung kesadaran budaya

didalamya sehingga mampu mengkonstruksi pemikiran serta perilaku

pelajar untuk masa depannya. Pembelajaran yang relevan dengan

kesadaran budaya namun juga tidak melupakan identitas bagi

kepentingan pendidikan itu sendiri adalah pembelajaran seni rupa . Hal

ini turut dikuatkan dengan pendapat Plato yang menyatakan ’Art should

(2)

1

dasar pendidikan, sehingga seni atau pendidikan seni mempunyai

peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan secara

umum.

Seni dipandang sebagai alat atau sarana untuk mencapai sasaran

pendidikan. Pendekatan ‘’pendidikan melalui seni’’ juga dikemukakan

oleh John Dewey (dalam Ismiyanto:2012 ), yang menjelaskan bahwa

seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan

untuk kepentingan seni itu sendiri. Pendekatan ini, menyiratkan bahwa

pendidikan seni berkewajiban membantu ketercapaian tujuan pendidikan

secara umum, yang diharapkan mampu memberikan keseimbangan

(equalibrium) antara rasional-emosional, intelektualitas-sensibilitas.

Dengan kata lain, peran pendidikan seni bukan sebagai upaya

pengembangan dan pelestarian seni, tetapi sebagai media

pengembangan kepribadian pelajar.

Dalam pembelajaran seni pula tidak semua aspek relevan dengan

bahasan kesadaran budaya, melainkan hanya sebagian besarnya.

Salahsatu aspek yang mampu mengakomodasi bahasan budaya dan

kesadaran budaya adalah aspek apresiasi. Eisner (1972) dalam Syafii

(2006 : 12) menyebut bahwa dalam belajar artistik terdapat tiga aspek

utama yakni kemampuan produktif, kritis dan kultural. Pengelaman

produktif berkenaan dengan kegiatan penciptaan seni, pengalaman kritis

berkenaan dengan pemahaman atas proses dan produk karya seni dan

pengalaman kultural berkenaan dengan kegiatan berapresiasi terhadap

karya seni. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa aspek apresiasi

berkenaan dalam membentuk pengalaman kultural atau budaya yang

secara tidak langsung mengutamakan aspek afektif pelajar dalam

menghadapi kebudayaan global dan menanamkan kesadaran budaya

dalam pribadinya masing-masing.

Berdasarkan konteks tersebut makalah ini akan mencoba

membahas mengenai bagaimanakan aspek apresiasi dalam konteks

(3)

2

penting untuk ditanamkan dalam diri pelajar dan bahasan terakhir yaitu

bagaimana serta seberapa penting aspek apresiasi dalam pembelajaran

seni rupa sebagai upaya menumbuhkan kesadaran budaya. Oleh karena

adanya kondisi arus kebudayaan global yang mulai mendominasi, wacana

pentingya kesadaran budaya dalam pendidikan senirupa terutama pada

aspek apresiasinya menjadi suatu hal yang penting untuk dikaji.

Diharapkan dengan hal ini masyarakat bisa lebih mamahami pentingnya

peranan pembelajaran seni rupa yang dilaksanakan di sekolah.

2. Pembahasan

2.1 Apresiasi dalam Konteks Pembelajaran Seni Rupa Pembelajaran seni rupa menggunakan pendekatan education

trough art yang menitikberatkan kepada konsep pemungsian seni mengacu pada bagaimana menumbuh kembangkan sikap dan perilaku

sesuai dengan apa yang diharapkan kepada peserta didik yang diperoleh

dari hasil kegiatan berkesenian, perilaku tersebut bisa berupa sikap sabar,

toleran, kerjasama serta nilai moral lainnya. Ini berarti adanya

pembelajaran seni tidak hanya sebagai sarana penguasaan suatu

kreativitas semata melainkan sarana penanaman nilai sikap dan moral

sesuai dengan lingkunganya.

Soehardjo (2010:11) turut mengemukakan pemfungsian seni

(education trough art) sebagai adanya seni dengan segala

karakteristiknya dapat digunakan dalam usaha mempersiapkan calon

warga masyarakat, generasi baru yang dijadikan tumpuan harapan bagi

bangsa dan negara ke depan. Pendapat ini turut mendukung teori Plato

“Art should be based education” karena pada hakikatnya pendidikan dan pembelajaran adalah usaha peningkatan kualitas pribadi agar mampu

menghadapi lingkungan dan masa depannya dengan baik. Sejalan

(4)

3

mengandung suatu fungsi didik. Dimana peserta didik diharapkan

berkembang sisi kemampuan apresiatif serta sarana menumbuh

kembangkan individu peserta didik bukan hanya apresiasi budaya(lihat

Soehadrjo 2012:176).

Dipandang secara etimologis, apresiasi berasal dari kata

appreciation (Inggris), dan menurut kamus dalam bahasa Inggris di antaranya” to appreciate, yaitu bentuk kata kerjanya, berarti to judge the

value of; understand or enjoy fully in the right way (Oxford). Sementara itu, istilah “Apresiasi” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1988: 46)

adalah: “(1) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; (2) penilaian

(penghargaan) terhadap sesuatu…”. Berdasarkan pengertian tersebut

maka apresiasi seni dapat diartikan sebagai upaya untuk menyadari akan

nilai-nilai yang terdapat pada sesuatu (misalnya orang, benda, atau

peristiwa) untuk selanjutnya diberikan penghargaan atau penilaian

mengenai kualitas sesuatu tersebut.

Kemampuan estetik terhadap karya seni dapat dikembangkan

melalui kegiatan apresiasi. Feagin (dalam Rohidi) membahas fenomena

apresiasi didasrkan pandangan ontologis. Menurutnya, apresiasi dapat

dikembangkan menurut tiga komponen, yaitu: affective (objek utamanya

adalah perhatian), theoretical (komponen ini mengandung aspek

penafsiran terhadap suatu pekerjaan/karya), dan reflective (mengandung

pengertian renungan (refleksi) yang berkaitan dengan hubungan

kecocokan/kepantasan dan kebenaran respon afektif). Berdasarkan

pandangannya tersebut, apresiasi dapat dikembangkan melalui interaksi

dengan objek secara eksternal, teks secara verbal, dan memerlukan

tindakan yang tepat. Maksud tindakan dalam konteks ini bukan hanya

bersifat produk (karya), tapi bisa berupa suatu keberhasilan dalam bentuk

aktivitas.

Mengenai apresiasi, Bastomi (2012:93) mengemukakan bahwa

(5)

4

merasakan nilai-nilai yang ada pada suatu karya seni dengan terlebih

dahulu dilandasi oleh minat estetik. Dari definisi tersebut dapat

disimpulkan bahwa apresiasi lebih menekan kan pada penghayatan,

pendalaman, serta merasakan muatan dalam suatu hasil karya . Apresiasi

dalam pembelajaran yang menjadi sorotan dalam tulisan ini bukanlah

dilihat dari segi pelaksanaanya melainkan dampak ikutan atau nuturant

effect dari pembelajaran apresiasi yang mengandung pemahaman nilai nilai moral dan budaya yang selanjutnya dapat berguna dalam

pembentukan karakter pelajar kedepannya. Hal ini sesuai dengan fungsi

pembelajaran seni rupa bagi institusi pendidikan yaitu adanya suatu

pendidikan dimaksudkan sebagai upaya pelestarian sistem nilai oleh

suatu masyarakat. Dalam sebuah kelompok masyarakat tentunya memiliki

budaya atau kultur tertentu yang diwariskan secara turun-temurun.

Seni rupa dalam hal ini juga berada dalam lingkungan masyarakat

serta menjadi satu unsur kebudayaan yaitu kesenian .(Koentjoroningrat :

1986) masyarakat pendukung seni rupa tentunya akan berupaya

melestarikan atau mempertahankan serta mengembanhkan dengan

berbagai upaya hal hal yang berkaitan budaya visual yang estetik. Syafii

(2006 : 11) turut pula menegaskan bahwa kekayaan budaya visual yang

berkembang dimasyarakat perlu untuk dilestarikan salah satunya melalui

jalur pendidikan. Karena jika tidak lama kelamaan menjadi tidak dikenal

oleh generasi selanjutnya. Cara yang dapat ditempuh adalah melalui

pewarisan keterampilan atau paling tidak melalui kegiatan apresiasi.

2.2 Kesadaran Budaya dan Upaya Menghadapi Kebudayaan Global.

Wunderle (2006) menyebutkan bahwa kesadaran budaya (cultural

awareness) sebagai suatu kemampuan mengakui dan memahami

(6)

5

pesatnya arus perkembangan yang terjadi proses akulturasi budaya

menjadi hal nyata yang sulit dielakkan , bukan berarti adanya akulturasi ini

menjadi sesuatu yang buruk melainkan harus di perhatikan konteks dan

proporsinya . Masuknya budaya dengan mudah bukan tidak mungkin

menggeser nilai nilai yang telah lama dianut terlebih lagi sifat kebudayaan

itu sendiri yang tidak abadi sesuai dengan yang diungkapkan Bastomi

(2013:8) yaitu “kebudayaan tidak memiliki bentuk abadi, tetapi terus

menerius berganti wujudnya sebab selalu berganti alam dan jamannya”.

Prinsip untuk mendapatkan pemahaman tentang kesadaran

budaya adalah mengumpulkan informasi tentang budaya dan

mentranformasikannya melalui penambahan dalam memberikan makna

secara progresif sebagai suatu pemahaman terhadap budaya. Kesadaran

budaya (Cultural awareness) adalah kemampuan seseorang untuk melihat

ke luar dirinya sendiri dan menyadari akan nilai-nilai budaya, kebiasaan

budaya yang masuk. Selanjutnya, seseorang dapat menilai apakah hal

tersebut normal dan dapat diterima pada budayanya atau mungkin tidak

lazim atau tidak dapat diterima di budaya lain.

Wunderle (2006) mengemukakan lima tingkat kesadaran budaya yaitu:

a) Data dan information.

Data merupakan tingkat terendah dari tingkatan informasi secara

kognitif. Data terdiri dari signal-signal atau tanda-tanda yang tidak

melalui proses komukasi antara setiap kode-kode yang terdapat

dalam sistim, atau rasa yang berasal dari lingkungan yang

mendeteksi tentang manusia. Dalam tingkat ini penting untuk memiliki

data dan informasi tentang beragam perbedaan yang ada.

b) Culture consideration.

Setelah memiliki data dan informasi yang jelas tentang suatu budaya

(7)

6

faktor apa saja yang menjadi nilai-nilai dari budaya tertentu. Hal ini

akan memberikan pertimbangann tentang konsep-konsep yang

dimiliki oleh suatu budaya secara umum dan dapat memaknai arti dari

culture code yang ada.

c) Cultural knowledge.

Informasi dan pertimbangan yang telah dimiliki memang tidak mudah

untuk dapat diterapkan dalam pemahaman suatu budaya. Namun,

pentingnya pengetahuan budaya merupakan faktor penting bagi

seseorang untuk menghadapi situasi yang akan dihadapinya.

Pengetahuan budaya tersebut tidak hanya pengetahuan tentang

budaya orang lain namun juga penting untuk mengetahui budayanya

sendiri..

d) Cultural Understanding.

Memiliki pengetahuan tentang budaya yang dianutnya dan juga

budaya orang lain melalui berbagai aktivitas dan pelatihan penting

agar dapat memahami dinamika yang terjadi dalam suatu budaya

tertentu. Oleh karena itu, penting untuk terus menggali pemahaman

budaya melalui pelatihan lanjutan. Adapun tujuannya adalah untuk

lebih mengarah pada kesadaran mendalam pada kekhususan budaya

yang memberikan pemahaman hingga pada proses berfikir,

faktor-faktor yang memotivasi, dan isu lain yang secara langsung

mendukung proses pengambilan suatu keputusan.

e) Cultural Competence.

Tingkat tertinggi dari kesadaran budaya adalah kompetensi budaya.

Kompetensi budaya berfungsi untuk dapat menentukan dan

mengambil suatu keputusan dan kecerdasan budaya. Kompetensi

budaya merupakan pemahaman terhadap kelenturan budaya

(8)

7

budaya yang memfokuskan pemahaman pada perencanaan dan

pengambilan keputusan pada suatu situasi tertentu. Implikasi dari

kompetensi budaya adalah pemahaman secara intensif terhadap

kelompok tertentu. ( lihat Dellawati dalam

http://sosiologibudaya.wordpress.com)

Fowers & Davidov (Thompkins et al, 2006) mengemukakan bahwa

proses untuk menjadi sadar terhadap nilai yang dimiliki, bisa dan

keterbatasan meliputi eksplorasi diri pada budaya hingga seseorang

belajar bahwa perspektifnya terbatas, memihak, dan relatif pada latar

belakang diri sendiri. Dari pernyataan diatas dapat ditarik garis merah

bahwa kesadaran budaya adalah upaya berkenaan dengan pemahaman

terkait kebudayaan yang secara tidak langsung merupakan suatu sikap

yang perlu dimiliki seseorang terutama pelajar dalam menghadapi arus

kebudayaan global.

Kesadaran budaya ini menjadi suatu filter yang harus mulai

ditanamkan dalam diri seorang individu atau pelajar sehingga menjadikan

adanya sikap sensitif dan kritis terhadap kebudayaan yang masuk namun

tetap responsif dan bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam hal ini

dapat diilustrasikan bahwa dalam menghadapi kebudayaan baru

seseorang tidak langsung menjustifikasi baik buruknya melainkan dikaji

berdasarkan pemahaman yang dimiliki. Kesadaran budaya ini amat

berkaita dengan faktor afektif yang dililiki pelajar. Terbentuknya kesadaran

budaya pada individu merupakan bukan suatu hal yang terjadi begitu saja.

Akan tetapi melalui berbagai hal dan melibatkan beragam faktor

diantaranya adalah persepsi dan emosi maka kesadaran (awareness)

akan terbentuk. Oleh karenaya perlu kiranya nilai-nilai kesadaran budaya

di integrasikan kedalam pembelajaran guna mempersiapkan peserta didik

atau pelajar dalam menghadapi tantangan masa depan melalui

(9)

8

2.3 Apresiasi dalam Pembelajaran Seni Rupa : Upaya Menumbuhkan Kesadaran Budaya

Rohidi dalam makalahnya menyebutkan adanya kaitan antara

kebudayaan dan pendidikan, yaitu bahwa pada dasarnya: (1) kebudayaan

dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya, sebagai warisan atau

tradisi sosial, (2) kebudayaan dipelajari, ia tidak bersifat genetic, (3)

kebutuhan dimiliki dan dihayati bersama olh masyarakat pendukungnya,

sebagai hasil dari pendidikan oleh, untuk, dan dalam masyarakat yang

bersangkutan.

Kesadaran budaya merupakan sikap positif manusia dalam

menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat. Kesadaran

budaya sangatlah dibutuhkan dalam mengelola perbedaan-perbedaan

budaya yang ada. Hal ini dikarenakan oleh seringnya perbedaan budaya

yang menimbulkan konflik-konflik di dalam masyarakat. Masyarakat

terkadang lupa bahwa pada dasarnya setiap masyarakat memiliki pola

dan corak kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Sehingga mereka

cenderung memperlakukan sama pada setiap bentuk kebudayaan.

Padahal budaya itu sendiri terbentuk sesuai dengan corak masyarakat

yang bersangkutan. Sikap semacam inilah yang sering sekali memicu

kesalahpahaman yang berujung konflik etnis. Dengan kesadaran yang di

terapkan oleh anggota masyarakat, maka diharapkan integrasi sosial akan

tetap terjaga. Masyarakat perlu diedukasi terkait pekatnya arus

kebudayaan global, sasaran yang paling efektif dalam menanamkan

kesadaran budaya adalah pelajar serta tidak lain melalui proses

pendidikan.

Melalui aspek apresiasi dalam pembelajaran seni rupa , pelajar

atau siswa diajarkan dan ditanamkan budaya dalam artian siswa

ditanamkan nilai nilai apresiatif yang juga memuat pendidikan karakter

(10)

9

budaya. Adanya kesadaran budaya di bentuk secara komprehensif dari

berbagai aspek baik pengetahuan, pengalaman artistik (seni dan estetis),

serta afektif (nilai moral dan karakter).

Beberapa nilai –nilai pendidikan karakteryang selaras dengan

pembentuka kesadaran budaya diantaranya kereligiusan, kejujuran,

kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, kedemokratisan, menghargai

keberagaman, nasionalisme

Ketika seorang siswa sudah memiliki kesadaran budaya dengan

sendirinya ia akan mampu memfilter apa apa yang masuk tanpa

mengabaikan kemajuan teknologi. Akan tumbuh sikap kritis dalam

memilah apa yang seharusnya diikuti dan apa yang harusnya

ditinggalkan.

Berikut adalah point penting terkait apresiasi sebagai upaya menumbuhkan kesadaran budaya

1. Apresiasi dalam pembelajaran seni difungsikan sebagai sarana

menumbuhkembangkan individu.

2. Apresiasi tidak hanya berkaitan dengan segi pengalaman estetis

melainka pula segi kultural sebagaimana seni yang merupakan

unsur kebudayaan.Kesadaran budaya perlu dipupuk melalui aspek

afektif yang terealisasikan dalam pembelajaran seni rupa

3. Dalam apresiasi tekandung nilai karakter yang selaras dengan

pembentukan kesadaran budaya

4. Kesadaran budaya perlu dalam menghadapi kebudayaan global

yang semakin mendominasi.

Berikut merupakan cara-cara lain yang dapat dijadikan sebagai

alternatif dalam menumbuhkan kesadaran budaya:

1. Penanaman sikap multikulturalisme secara dini.

(11)

10

3. Penyelenggaraan beragam pameran karya seni budaya sebagai

upaya pelestarian budaya.

4. Mencintai dan menjaga budaya yang dimiliki.

3. PENUTUP

Pembelajaran seni rupa yang berlangsung di sekolah dalam

pelaksanaanya dapat pula diarahkan untuk mendidik siswa agar memiliki

kesadaran budaya dan mengembangkan nilai-nilai yang dapat menunjang

kesadaran budaya di era dimana kebudayaan global mulai mendominasi.

Pembelajaran seni rupa memberi sumbangan yang signifikan terhadap

upaya menumbuhkan kesadaran budaya dengan mengintegrasikan

aspek apresiatif dan mendinamisasi sehingga siswa sebgai peserta didik

dibekali sikap dalam menghadapi maraknya arus kebudayaan global dan

dapat menyikapi nya dengan cerdas serta bertanggungjawab.

Dengan demikian sebagai calon pendidik seni rupa baiknya

memahami fenomena kebudayaan global serta tetap melaksanakan

pembelajaran seni rupa tanpa mengabaikan fungsi didik yang dikandung

dalam pendidikan seni yaitu seni dengan segala karakteristiknya dapat

digunakan dalam usaha mempersiapkan calon masyarakat generasi baru

yang dijadikan tumpuan harapan bagi bangsa dan negara ke depan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastomi, Suwadji. 2013. Pegantar Ilmu Budaya, Handout MK. Pegantar

Ilmu Budaya

Bastomi, Suwadji. 2013. Estetika Kriya Kontemporer dan Kritiknya.

(12)

11

Ismiyanto, PC. S. 2012. Strategi Pembelajaran Seni Rupa, Handout MK.

Strategi Pembelajaran Seni Rupa

Koentjoroningrat, 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara

Baru.

Oxford University. 1995. Oxford Advanced Learner Dictionary.

Brittain:Oxford University Press

Read, H. 1970. Education Through Art. London: Faber and Faber.

Rohidi, T. R. “ Seni Sebagai Sarana Pendidikan Kebudayaan: Upaya

Menjadi “Indonesia Baru””. Makalah

Soehardjo, A.J. 2012. Pendidikan Seni: dari Konsep sampai Program

(Buku Satu). Malang: Balai kajian Seni dan Desain Jurusan Seni

dan Desain UM.

Syafi’i. 2006. Konsep dan Model Pembelajaran Seni Rupa, Bahan Ajar

Tertulis MK. Konsep dan Model Pembelajaran Seni Rupa

http://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/03/01/budaya-dan-kesadaran-budaya/ diakses pada Hari Senin, 17 November 2014

pada jam 09.15

ht t p:/ / t hreenafat hy.blogspot .com / p/ pendidikan-seni-rupa.ht m l diakses pada Hari

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi, tidak banyak yang diketahui tentang cabaran yang dihadapi oleh syarikat pembekal penyumberan luar perakaunan luar pesisir kecil dalam pengurusan pengetahuan,

Berdasar hasil analisis variansi General Linier Model (GLM) diperoleh nilai signifikansi pengaruh interaksi antara penggunaan metode eksperimen dan demonstrasi

Dalam analisis terhadap dimensi teks yang difokuskan pada Struktur Makro (tematik), penulis menemukan bahwa gagasan umum atau tema sentral yang berusaha

Sekaitan dengan prinsip-prinsip penilaian tersebut, ada enam prinsip penilaian, yaitu tes hasil belajar hendaknya: (1) mengukur hasil-hasil belajar yang telah ditentukan dengan

Pada tanggal 29 September 2011, Parlemen Uni Eropa telah mengadopsi regulasi baru mengenai ketentuan untuk menyediakan informasi makanan kepada konsumen dimana negara anggota Uni

[r]

Metode karyawisata (karya=kerja, wisata=pergi) ialah suatu cara penya- jian bahan pelajaran dengan membawa siswa lang- sung kepada obyek yang dipelajari di luar kelas. Dalam

Aplikasi yang dirancang pada pene- litian ini bertujuan untuk melakukan simulasi pengaturan lampu lalu lintas yang tidak statis (dinamis), yaitu durasi lampu