• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Antar Personel Bab 7 Persepsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komunikasi Antar Personel Bab 7 Persepsi"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII

PERSEPSI SEBAGAI INTI KOMUNIKASI

Nama : Aifa Nur Amalia

NIM : 1147050015

Kelas : D

(2)

Dilihat dari berbagai sumber, persepsi diartikan sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita. Persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita mendengar, melihat, merasakan dan meraba hal-hal di sekitar kita dengan indera.

Menurut William James, persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang didapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan. Sedangkan menurut penulis, persepsi adalah sebuah proses berpikir yang ditangkap oleh alat indera yang berasal dari lingkungan sebagai wujud hasil pengolahan otak dengan ingatan.

A. Persepsi terhadap Objek (Lingkungan Fisik)

Persepsi terhadap lingkungan fisik disebut ilusi perceptual, kita merasa dunia datar, padahal bulat. Contohnya, dalam menilai suatu benda saja kita tidak selalu sepakat. Ketika melihat bulan misalnya, orang Amerika Utara melaporkan melihat seorang pria di bulan, orang Indian Amerika sering melaporkan melihat seekor kelinci, orang China melaporkan melihat seorang wanita yang meningalkan suaminya, dan orang Samoa melaporkan melihat seorang wanita sedang menangis.

Dalam persepsi lingkungan fisik, kita terkadang melakukan kekeliruan. Contoh : tongkat lurus yang dimasukkan ke dalam air tampak bengkok. Kondisi mempengaruhi kita terhadap suatu benda. Misalnya ketika merasa kepanasan di tengah gurun, kita tidak jarang akan melihat fatamorgana. Ketika kita disuruh mencicipi suatu masakan, mungkin pendapat kita akan berbeda dengan orang lain karena kita memiliki persepsi yang berbeda.

Ciri-cirinya persepsi lingkungan di antaranya, yaitu : 1)Yang dipersepsi adalah benda; 2)Rangsangan ditangkap oleh alat indera melalui benda-benda fisik Misalnya: gelombang cahaya, gelombang suara; 3)Yang dilihat hanya sifat luar dari objek; 4)Objek tidak bereaksi kepada kita dan kita juga tidak memberikan reaksi emosional kepada objek tersebut; 5)Objek relatif tetap.

(3)

B. Persepsi terhadap Manusia (Persepsi Sosial)

Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita.

“Manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, dan apa yang orang pikirkan mengenai apa yang ia pikirkan mengenai orang lain itu dan seterusnya.“ (R.D Laing).

Kita mempersepsi orang melalui :

1. Proxemics : Jarak ketika orang berkomunikasi. 2. Kinesis : Gerakan, isyarat.

Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah sebagai berikut :

1. Persepsi Berdasarkan Pengalaman

Pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka trehadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman masa lalu. Salah satu contoh bahwa persepsi berdasarkan pengalaman yakni misalnya komunitas Muslim Inggris tidak mengenal ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin” yang biasanya disampaikan Muslim Indonesia setiap Idul Fitri. Pantaslah ketika seorang muslim Indonesia pada waktu sedang study S2 di London mengatakan “please forgive me” atau semacamnya, mereka bertanya dengan heran “for what?”.

2. Persepsi Bersifat Dugaan

(4)

untuk membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu.

3. Persepsi Bersifat Evaluatif

Tidak ada persepsi yang objektif, dengan demikian persepsi bersifat pribadi dan subjektif.

“Persepsi pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologi individu alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi.“ (Andrea L.Rich)

Tidak seorang pun mempersepsi suatu objek tanpa mempersepsi seberapa baik atau buruk objek tersebut.

4. Persepsi Bersifat Kontekstual

Rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks rangsangan sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan oleh karenanya persepsi kita.

Dalam mengorganisasikan objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, kita menggunakan prinsip-prinsip berikut :

a. Struktur objek atau kejadian berdasarakan prinsip kemiripam atau kedekatan dan kelengkapan. Secara lebih spesifik, kita cenderung mempersepsi rangsangan yang terpisah sebagai berhubungan sejauh rangsagan-rangsagan itu berdekatan satu sama lainnya, baik dekat secara fisik ataupun dalam urutan waktu, serta mirip dalam bentuk, ukuran, warna dan atribut lainnya. Dalam konteks penerimaan pesan, kita cenderung melengkapi pesan yang tidak lengkap dengan bagian-bagian (dugaan-dugaan) yang terkesan logis untuk melengkapi pesan tersebut.

(5)

C. Persepsi dan Budaya

Persepsi itu terikat oleh budaya (culture-bound), seperti Agama, ideologi, tingkat intelektualitas, tingkat ekonomi, pekerjaan dan cita rasa sebagai faktor-faktor internal yang jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Contoh persepsi menurut budaya : Orang Amerika berpandangan bahwa menyatakan pendapat secara terbuka adalah hal yang baik, sedangkan orang Jepang berpendapat bahwa kegemaran berbicara adalah kedangkalan.

Enam usur budaya menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter : 1. Kepercayaan (Beliefs), Nilai (Values) dan Sikap (Attitudes)

Kepercayaan adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau peristiwa punya ciri atau nilai tertentu. Misalnya, Tuhan itu Esa.

Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan kita, mencakup : kegunaan, kebaikan, estetika, dan kepuasan. Jadi nilai bersifat normatif, memberitahu suatu anggota budaya mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah dan sebagainya.

2. Pandangan Dunia (Worldview)

Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan, kehidupan, kematian, alam semesta, kebenaran, materi dan isu-isu filosofis lainnya yang berkaitan dengan kehidupan. Contohnya : Islam mempunyai pandangan bahwa manusia adalah khalifah, yakni wakil Tuhan di bumi. Akan tetapi dalam pandangan barat, manusia adalah pusat atau pengendali alam yang menguasai nasibnya sendiri.

3. Organisasi Sosial (Social Organization) 4. Tabiat Manusia (Human Nature)

Pandangan tentang siapa kita, bagaimana sifat atau watak kita, juga mempengaruhi cara kita mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. Contohnya : Kaum muslim berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan suci bersih, sedangkan golongan Kristen percaya bahwa manusia mewarisi dosa Adam dan Hawa.

5. Orientasi Kegiatan (Activity Orientation)

(6)

siapa seseorang hingga apa yang dilakukan orang tersebut. Contohnya : Dalam budaya-budaya tertentu, di Timur khususnya, seseorang itu (raja, anak presiden, pejabat, keturunan ningrat, bergelar) lebih penting daripada apa yang dilakukannya. Sedangakan di Barat, justru apa yang telah dilakukan seseorang (prestasinya) jauh lebih penting daripada siapa dia.

6. Persepsi tentang Diri dan Orang Lain (Perception of Self and Others) Dalam suatu budaya bisa saja memiliki kecenderungan individualis dan kolektivis. Hanya saja seperti orientasi kegiatan, salah satu biasanya lebih menonjol. Contohnya : Masyarakat kolektivis keterikatan pada kelompok lebih kuat daripada keterikatan antarindividu. Sedangkan orang individualis kurang terikat pada kelompoknya, mereka lebih membanggakan prestasi pribadi daripada nama keluarga dan sebagainya.

D. Kekeliruan dan Kegagalan dalam Persepsi 1. Kesalahan Atribusi

Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Contohnya orang yang tampak rajin bekerja boleh jadi bukan karena sifatnya yang rajin, melainkan karena selalu diawasi atasannya. Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menafsir makna pesan si pembicara. Contohnya: ketika seseorang tersenyum apakah ia ramah, menggoda, menyindir atau sinis.

2. Efek Halo (Halo Effect)

Efek halo adalah kesalahan persepsi yang merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Contohnya: Banyak orang Indonesia terutama para pengagum Gus Dur menilai bahwa Gus Dur akan menjadi presiden RI yang sukses, tetapi nyatanya Gus Dur tidak dapat berkomunikasi dengan bawahannya dan dengan rakyat. Akhirnya Gus Dur dilengserkan oleh DPR.

(7)

Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereo-typing), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok. Contoh stereotiping antara lain: Laki- laki bepikir logis sedangkan wanita bersikap emosional.

4. Prasangka

Prasangka adalah suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda. Richard W. Brisilin mendefinisikan prasangka sebagai sikap tidak adil, menyimpang atau tidak toleran terhadap sekelompok orang.

5. Gegar Budaya

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Uchjana. 2013. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antarpribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti. Purkasih, Siska. (2008). Analisa Persepsi, [Online]. Tersedia:

http://siskapurkasih.blogspot.co.id/2008/10/analisa-persepsi.html [26 Oktober 2015].

Qutni, Daru. (2012). Persepsi Inti Komunikasi, [Online]. Tersedia:

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 93 Tahun 2009 :tentang Standar Penyediaan Bahan Bakar, Biaya Pelumasan dan Perawatan Kendaraan Dinas di Lingkungan Pemerintah

Karena banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB dalam memilih alat kontrasepsi IUD maka variabel yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah pengetahuan,

Partipasi masyarakat hanya sebatas sebagai tenaga kerja karena masyarakat tidak mempunyai modal yang besar,maka dari pada itu produksi perikanan laut sebagai

Seperti telah diuraikan di atas, masalah yang dapat diidentifikasi adalah banyaknya anak dan remaja yang mengakses internet dengan pola konsumsi yang cukup sering

Ablasio retina dapat dihubungkan dengan malformasi congenital, sindrom metabolik, trauma mata (termasuk riwayat operasi mata), penyakit vaskuler, tumor  koroid,

Tidak ada PSAK khusus yang mengatur standar akuntansi untuk rumah sakit. PSAK

dengan praperti, agar manfaatkan PMP, Pada APSD Perubahan usahakan agar alakasikan Rp 20 Triliun untuk SUMO.. Oireksi yang tidak dapat mengikuti aturan Pemprav OKI