• Tidak ada hasil yang ditemukan

kajian viktimologi perlindungan korban k

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "kajian viktimologi perlindungan korban k"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”

Pasal tersebut berarti menegaskan bahwa hal terpenting bagi negara hukum adalah adanya komitmen dan penghargaan untuk menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia serta adanya jaminan semua warga negara bersamaan kedudukannya di depan hukum.1 Dalam proses penegakan hukum (law enforcement) khususnya dalam peradilan pidana bertumpu pada hukum pidana dalam KUHP dan hukum acara pidana dalam KUHAP. Jika terjadi tuatu tindak pidana, maka terhaadap pelakunya akan ditindak melalui proses peradilan dengan memberikan sanksi pidana yang dilakukan oleh organ-organ negara yang memiliki hak dan kewenangan terhadap hal tersebut.

Setiap perbuatan pidana pada dasarnya pasti terdapat pelaku dan korban. Pengertian korban berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban adalah sesorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana. Dalam suatu peradilan pidana, pihak korban diwakilkan oleh penuntut umum dan untuk menguatkan pembuktian, lazimnya yang bersangkutan dijadikan saksi (korban). Namun seringkali penuntut umum tidak merasa mewakili kepentingan korban dan bertindak sesuai dengan kemauannya, sehingga kewajiban perlindungan serta hak-hak korban diabaikan.2 KUHAP yang berlaku di Indonesia, sebagai hukum pidana formil,

terlalu besar memberikan hak kepada pelaku atau tersangka tanpa memperhatikan hak-hak korban. Oleh karena itu viktimologi hadir untuk memberikan perhatian lebih utamanya bagi perumus kebijakan.

1 Bambang Waluyo, 2012, Viktimologi Perlindungan Saksi dan Korban, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 1

(2)

Proses pembangunan di Indonesia yang terus berjalan membawa berbagai dampak baik dampak positif dan negatif yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Pembangunan nasional yang seringkal tidak mengarah pada tujuan negara Indonesia yang termakktub dalam alenia keempat pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebabkan angka kemiskinan tidak mengalami perubahan. Kemiskinan adalah akar dari sebuah masalah. Miskin harta menyebabkan beberapa orang tidak dapat menikmati pendidikan yang berkualitas tidak mampu mendapatkan pelayan kesehatan yang memadai. Hal terburuknya adalah miskinnya harkat dan martabat serta moralitas sebagai manusia sehingga masalah-masalah sosial dengan mudah muncul dan menimbulkan keresahan. Kemiskinan sepertinya berkorelasi positif dengan kejahatan dan tindak kriminalitas seperti pembunuhan, perampokan, dan juga pemerkosaan.3

Sepanjang tahun 2013 kasus perkosaan di Indonesia terus melonjak hingga 25 kasus dengan jumlah korban mencapai 29 orang dan jumlah pelaku 45 orang.4

Kejahatan perkosaan dimuat dalam Pasal 285 KUHP yang rumusannya sebagai berikut:

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

Perempuan sangat rentan menjadi korban kejahatan. Dalam lingkungan pekerjaannya pun, perempuan berpeluang menjadi korban kejahatan akibat ketidaksetaraan gender dengan laki-laki. Dominasi patriarku yang meletakkan kaum perempuan sebagai subordinasi laki-laki adalah faktor utama berbagai kasus pemerkosaan, bukan ketimpangan ekonomi maupun demografi yangs ebenarnya tidak berperan benyak dalam maraknya kejahatan terhadap kesusilaan ini.5 Representasasi sistem patriarki tersebut kemudian mengakar secara turun

temurun dari generasi ke generasi hingga mempengaruhi pembagian peran di

3 http://www.sapa.or.id/f2/1691-kemiskinan-dapat-menyebabkan-kejahatan, 27 Oktober 2014

4http://www.tribunnews.com/nasional/2013/01/28/ipw-sepanjang-januari-2013-pemerkosaan

mencapai-25-kasus, 27 Oktober 2014

(3)

masayarakat, seperti misalnya peranan perempuan di ranah publik yang masih sedikit. Selain itu laki-laki selalu dianggap sebagai kaum yang kuat, sedangkan perempuan sebagai kaum yang lemah yang harus selalu berlaku feminim dan lemah lembut. Pola pikir demikian menjadikan perempuan seakan tidak memiliki kekuatan untuk melawan ketika harus berhadapan dengan laki-laki.

Ketika di dalam pemikiran sosial perempuan dianggap lebih rendah kedudukannya, maka timbullah rasa kekuasaa lakilaki terhadap perempuan, dengan alasan yang tersebutlah maka pemerkosaan dapat dengan mudahnya terjadi pada kaum perempuan karena kaum laki-laki merasa berkuasa terhadap kaum yang tidak memiliki aksesibilitas atau kemampuan untuk melakukan pembelaan diri.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat dari 93.960 kasus diantaranya merupakan kekerasan seksual dengan perkosaan menempati jumlah terbanyak yakni 4.845 kasus sepanjang tahun 1998 hingga 2011.6 Kasus

perkosaan selalu menjadi momok sendiri bagi si korban karena ketidakberanian korban untuk melaporkan kejadiantersebut karena ketidakberanian korban untuk melaporkan kepada polisi atau pihak yang berwenang. Hal semacam itu membuat proses penegakan hukum pidana di Indonesia menjadi terganjal karena pihak korban merupakan saksi kunci dalam kejahatan perkosaan. Kasus yang baru saja terjadi misalnya di Sukoharjo Solo, Raja Solo diduga melakukan tindak pidana pemerkosaan kepada seorang siswi SMK pada bulan Maret 2014. Berdasarkan assesment yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) didapati korban mengalami depresi akibat tindak perkosaan yang dialaminya. Keadaan tersebut berpotensi tidak bisanya korban untuk memberikan kesaksian di hadapan penyidik di kepolisian.7 LPSK dalam kasus perkosaan yang

dilakukan oleh raja Solo tersebut melakukan pendampingan dan melakukan pemulihan secara medis kepada korban karena korban terjangkit penyakit menular akibat perbuatan yang dilakukan oleh tersangka.

6Khaerudin, Perkosaan Kekerasan terbanyak di Indonesia,

http://nasional.kompas.com/read/2011/11/24/21344444/Perkosaan.Kekerasan.Seksual.Terbanyak.d i.Indonesia, 27 Oktober 2014

7 Pers Release Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Nomor 51/PR/LPSK/X/2014, LPSK

(4)

Kasus lain juga terjadi pada bulan Mei 2014, seorang siswi Sekolah Menengah Pertama di daerah Bogor diperkosa dengan cara digilir oleh empat orang pria selepas korban mengikuti ujian nasional.8 Karena ketakutan dan rasa

malu, korban pun tidak segera melaporkan kejadian tersebut sehingga proses penyidikan dan peradilan terhadap tersangka tidak segera tertangani. Selain itu, sinonim dengan korban-korban perkosaan pada umumnya, korban juga menaglami guncangan jiwa yang cukup berat akibat perbuatan biadab yang dilakukan tersangka kepadanya. Gangguan secara psikologis ini benar-benar membutuhkan tenaga ahli untuk mengembalikan rasa kepercayaan diri seorang perempuan.

Banyak alasan yang melatarbelakangi terjadinya kasus perkosaan ini, namun dimensi yang paling dominan adalah terjadinya krisis nilai-nilai agama dan moral yang secara lahiriah dan batiniah merupakan batasan bagi seorang manusia untuk bertindak dan bersikap. Selain itu terdapat faktor lain seperti misalnya seakin majunya teknologi, setiap orang dapat dengan mudahnya mengakses situs-situs pornografi yang menyebabkan keingintahuan dan cenderung melakukan kejahatan.

Upaya pemenuhan hak-hak dan perlindungan korban sedikit banyak mulai diakomodir dengan adanya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UU PSK) dimana salah satu point penting dalam Undang-Undang tersebut adalah diberikannya perhatian khusus mengenai perlindungan dan bantuan bagisaksi dan atau korban. Pemberian bantuan dalam UU PSK merupakan bagian dari salah satu bentuk perlindungan yang kemudian dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Namun sayangnya, konsep pemberian bantuan yang diatur dalam UU PSK dibatasi sedemikian rupa hanya mencakup bantuan medis dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial. Bantuan tersebut juga hanya diberikan kepada korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Hal tersebut dirasa membatasi konsep umum pemberian bantuan bagi korbn yang prinsipnya tidak diskriminatif. Tidak memadainya konsep pemberian bantuan dalam UU PSK dikahwatirkan akan

8

(5)

menyulitkan implementasi pemberian bantuan oleh LPSK di masa mendatang.9

Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu dianalisis dan juga dikaji kembali bagaimana konsep perlindungan hukum bagi korban kejahata pemerkosaan melalui sistem peradilan pidana yang ada di Indonesia dilihat dari perspektif viktimologi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kedudukan korban pemerkosaan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia?

2. Apa upaya perlindungan hukum bagi korban kejahatan pemerkosaan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia?

9 Syahrial Martanto Wiryawan, Melly Setyowati, Pemberian Bantuan Dalam Undang-Undang

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Viktimologi

Viktimologi berasal dari kata victim yang berarti korban dan logi yang berarti ilmu pengetahuan. Secara sederhana, viktimologi berarti ilmu pengathuan tentang korban kejahatan.10 Pengertian korban dalam perkembangannya

disesuaikan dengan masalah yang diatur dalam bberapa perundang-undangan, sehingga terdapat satu pengertian yang baku namun hakikatnya adalah sama yakni sebagai korban tindak pidana. Sebagai contoh korban kekerasan dalam rumah tangga, pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat dan sebagainya, pengertian tentang korban mengacu pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006. Korban kejahaan bukan saja orang perorangan, tetapi meluas dan kompleks. Persepsinya tidak hanya jumlah kuantitatif korban, namun juga korporasi, institusi, pemerintah, bahkan bangsa dan negara. Hal ini dinyatakan oleh Arif Gosita bahwa korban dapat berarti individu atau kelompok baik swasta maupun pemerintah.11

Masalah mengenai korban kejahatan sebenarnya bukanlah hal yang baru, Romli Atmasasmita12 memaparkan bahwa di masa abad pertengahan ketika

hukum yang bersifat primitif masih berlaku pada masyarakat bangsa-bangsa di dunia, telah ditetapkan adanya personal reparation atau semacam pembayaran ganti rugi yang dilakukan oleh seseorang yang telah melakukan tindak pidana. Fakta tersebut dikemukakan oleh Hezel B Keper yakni:13

“Pada masa lampau, menurut sejarah perkembangan hukum di negara Barat seperti Inggris, negara yang diwakili oleh raja, tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, kecuali jika kejahatan itu dilakukan terhadap negara (raja). Pada saat itu, “pembalasan” dari seseorang yang dirugikan terhadap pelaku kejahatan (asas talio)

10 Ibid, hlm 9

11 Arif Gosita, 1989, Masalah Perlindungan Anak, Aakademika Presindo, Jakarta, hlm 75-76 12 Romli Atmasasmita,1992, Masalah Santunan Terhadap Korban Pidana, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, Jakarta, hlm. 86 dalam Bambang Waluyo, Op.cit, hlm. 2-4

(7)

masih diperkenankan. Bahkan seluruh keluarga korban dapat melakukan pembalasan.”

Berpijak pada sejarah tersebut, dengan berjalannya waktu, paham itu ditingalkan. Selanjutnya rajalah yang mengamil peran untuk mewakili negara. Bahkan raja pula yang merangkap sebagai hakim dan menjatuhkan hukuman/pidana. Perjalanan sejarah berikutnya, diantaranya melahirkan Trias Politic yang melalui kekuasaan yudikatif, proses peradilan dilakukan untuk menciptakan keadilan, kebenanran dan kepastian hukum.

2.2 Hubungan Korban dengan Peradilan Pidana

Korban bukanlah bagian yang terpisahkan dalam proses peradilan pidana yang implementasinya ternyata sanagt kecil porsi perhatiannya. Pada saat ini, secara formal hak, perlindungan, dan mekanismenya sudah diatur. Untuk mewujudkan secara proporsional, profesional dan akuntabel, diperlukan keseriusan para pihak berikut:14

a) Korban

Setiap korban harus mengetahui hak nya sebagai korban dan tata cara memperoleh pemenuhan hak tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah sosialisasi oleh pihak-pihak terkait proses perlindungan korban sendiri. Setelah mengetahui hak-hak tersebut, yang lebih penting lagi adalah keberanian dan kemauan untuk mengajukan permohonan. Selain korban, perlu diperdayakan kepedulian dan kesadaran hukum dari pihak keluarga

b) LPSK

Menurut Pasal 1 butir 6 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008, LPSK adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perindungan hak-hak lain kepada saksi dan/atau korban sebagaimana dimaksud UU Nomor 13 Tahun 2006

c) Penegak Hukum

Penengak hukum dalam hal ini adalah Polri, Jaksa Penuntut Umum, Jaksa Agung, Kejasaan, Hakim dan Pengadilan sangat berperan dalam pemenuhan dan perlindungan korban dan atau saksi. Ugas dan

(8)

tanggungjawab penegak hukum selain berdasarkan masing-masing lembaga penegak hukum serta KUHAP, juga berpedoman pada UU Nomor 13 Tahun 2006 serta Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008 d) Masyarakat

Masayarakat dalam arti luas termasuk LSM, mempunyai peran yang tidak sedikit, antara lain melalui sosialisasi dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran hukum korban. Dengan demikian masyarakat berperan dalam melakukan pengawasan dan mengawal terselenggaranya perlindungan secara objektif, transparan, dan akuntabel.

2.3 Pengertian Perkosaan dan Korban

Secara yuridis formal, kejahatan atau tindak pidana adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan, merugikan masyarakat, bersifat asosial dan melanggar hukum serta undang-undang pidana. tindak pidana merupakan salah satu bentuk dari perilaku menyimpang. Sedangkan perilaku menyimpang merupakan suatu ancaman yang nyata atau ancaman terhadap norma-norma sosial yang mendasari kehidupan atau keteraturan sosial dan merupakan ancaman nyata bagi berlangsungnya ketertiban sosial.15 Dari

pengetian tersebut dapat dinyataka bahwa kejahatan atau indak pidana tiak hanya masalah kemanusiaan tetapi juga merupakan masalah sosial.

Dalam KUHP, tindak pidana perkosaan diatur dalam Bab XIV dengan judul Kejahatan terhadap kesusilaan pasal 285. Berdasarkan pasal tersebut dapat diambil unsur-unsurnya sebagai berikut:

1) Perbuatan memaksa

2) Caranya : a) dengan kekerasan b) ancaman kekerasan

3) Objek : seeoerang perempuan bukan istrinya 4) Bersetubuh dengan dia16

15 Saparinah Sadli dalam Barda Nawawi Arief, Kebijakan legislatif Dalam Penanggulangan

Kejahatan Pidana Penjara, CV Ananta, Semarang hlm, 11

(9)

Pengertian perbuatan memaksa (pada point pertama) adalah perbuatan yang ditujukan pada orang lain dengan menekan kehendak orang lain yang bertentangan dengan kehendak orang lain itu agar orang lain tadi menerima kehendak orang yang menekan atau sama dengan kehendaknya sendiri. Menerima kehendaknya ini setidaknya ada dua macam, yaitu:

a) Menerima apa yang akan diperbuat terhadap dirinya;

b) Orang yang dipaksa berbuat yang sama sesuai dengan apa yang dikehendaki orang yang memaksa.

Cara-cara memaksa dalam hal ini terbatas dengan dua cara yaitu kekerasan (geweld) dan ancaman kekerasan (bedreiging met geweld). Fungsi kekerasan dalam hubungannya dengan tindak pidana perkosaan adalah sebagai berikut:17

a) Kekerasan yang berupa cara melakukan suatu perbuatan

Dalam hal ini memerlukan syarat akibat ketidakberdayaan korban. Adanya causal verband antara kekerasan dengan ketidakberdayaan korban. Misalnya, kekerasan pada perkosaan yang digunakan sebagai cara dari memaksa bersetubuh

b) Kekerasan yang berupa perbuatan yang dilarang dalam tindak pidana, bukan merupakan cara melakukan perbuatan. Misalnya kekerasan yang diatur dalam Pasal 211 atau 212

Berdasarkan uraian di atas, maka kekerasan dalam pengertian Pasal 285 KUHP tentang perkosaan dapatlah didefinisikan sebagai suatu cara/upaya yang sifatnya abstrak yang ditujukan kepada orang lain untuk mewujudkannya diisyaratkan dengan menggunakan kekuatan badan yang besar, kekuatan badan yang mana mengakibatkan bagi orang lain itu menjadi tidak berdaya secara fisik. Karena dalam keadaan tidak berdaya itulah, orang yang menerima kekerasan terpaksa menerima segala sesuatu yang akan diperbuat terhadap dirinya walaupun bertentangan dengan kehendaknya, atau melakukan perbuatan sesuai dengan kehendak orang yang menggunakan kekerasan yang bertentangan dengan kehendaknya sendiri.

(10)

2.4 Kedudukan Korban Perkosaan dalam Sistem Peradilan Pidana

Setiap hari, masyarakat banyak memperoleh informasi tentang berbagai peristiwa kejahatan, baik yang diperoleh dari media massa cetak maupun lekerronik. Perisiwa-peristiwa kejahatan tersebut tidak sedikit menimbulkan kerugian dan atau penderiiataan bagi korban dan pelakunya. Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam melakukan aktivitasnya, kejahatan-kejahatan tersebut perlu dilakukan penanggulangan baik melalui pendekatan yang sifatnya preventif maupun represif dan dilakukan secara profesional oleh suatu lembaga yang berkompeten.

Dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, hak tersangka/terdakwa lebih diperhatikan daripada hak-hak seorang saksi dan korban tindak pidana. Tidak adanya keseimbangan hak antara saksi dan atau korban dengan seorang tersangka/terdakwa dalam ketentuan peraturan perundang-undangan seperti KUHAP, membawa pengaruh dalam mengimplementasikan hak-hak saksi, khususnya hak korban sehingga dibutuhkan ketentuan khususnya yang mengatur mengenai hak-hak saksi dan korban tindak pidana

Setiap korban pada dasarnya harus mengetahui hak-hak nya sebagai korban dan juga keluarganya. Hal ini menjadi penting karena tidak jarang seseorang yang mengalami penderitaan baik secara fisik, mental atau materiil akibat suatu tindak pidana yang menimpa dirinya, tidak mempergunakan hak-hak yang seharusnya dia terima karena berbagai alasan misalnya perasaan takut di kemudian hari masyarakat menjadi tahun kejadian yang menimpa dirinya karena menganggap kejadian tersebut merupakan aib bagi dirinya maupun keluarganya, sehingga lebih baik korban menyembunyikan kasus tersebut dan atau korban menolak untuk mengajukan ganti rugi karena dikhawatirkan prosesnya akan menjadi semakin panjang dan berlarut-larut. Alasan semacam itulah yang kemudian menjadikan beberapa korban kejahatan perkosaan menjadi enggan untuk mengetahui dan meminta hak-haknya sebagai korban. Terdapat beberapa hak umum yang disediakan bagi korban atau keluarga korban kejahatan yang meliputi:18

18 Dikdik M Arief Mansyur, 2008, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan (Antara Norma

(11)

a) Hak untuk memeperoleh ganti kerugian atas penderitaan yang dialaminya. Pemberian ganti rugi ini dapat diberikan oleh pelaku atau pihak lainnya sperti negara atau lembaga khusus yang dibentuk untuk menangani masalah ganti kerugian korban kejahatan

b) Hak untuk memperoleh pembinaan dan rehabilitasi

c) Hak untuk memeperoleh perlindungan dari ancaman pelaku d) Hak untuk memperoleh bantuan hukum

e) Hak untuk memperoleh kembali hak berupa harta miliknya f) Hak untuk memperoleh akses atas pelayanan medis

g) Hak untuk diberitahu bila pelaku kejahatan akan dikeluarkan dari tahanan sementara, atau apabila pelaku buron dari tahanan

h) Hak untuk memperoleh informasi tentang penyidikan polisi brekaitan dengan kejahatan yang menimpa korban

i) Hak atas kebebasan pribadi/kerahasiaan pribadi seperti merahasiakan nomor telefon atau identitas korban lainnya.

Sekalipun hak-hak korban kejahatan telah tersedia secara memadai , bukan berarti kewajiban dari korban kejahatan dapat diabaikan eksistensinya karena melalui peranan korban dan keluarganya diharapkan penanggulangan kejahatan dapat dicapai secara signifikan. Oleh karena itu, terdapat beberapa kewajiban umum dari korban kejahatan antara lain adalah:19

a) Kewajiban untuk tidak melakukan upaya main hakim sendiri atau balas dendam terhadap pelaku

b) Kewjaiban untuk mengupayakan pencegahan dari kemungkinan terulangnya tindak pidana

c) Kewajiban untuk memberikan informasi yang memadai mengenai terjadinya kejahatan kepada pihak yang berwenang

d) Kewajiban untuk tidak mengajukan tuntutan yang terlalu berlebihan kepada pelaku

e) Kewajiban untuk menjadi saksi atas suatu kejahatan yang menimpa dirinya sepanjang tidak membahayakan bagi korban dan keluarganya

(12)

f) Kewajiban untuk membantu berbagai pihak yang berkepentingan dalam upaya penanggulangan kejahatan

g) Kewajiban untuk bersedia dibina atau membina diri sendiri untuk tidak menjadi korban lagi

Selama ini dalam proses peradilan pidana, keberadaan saksi dan korban hanya diposisikan sebagai pihak yang dapat memberikan keterangan dimana keterangannya dapat dijadikan alat bukti dalam mengungkap sebah tindak pidana sehingga hal ini yang menjadi dasar aparat penegak hukum yang menempatkan saksi dan korban hanya sebagai pelengkap dalam mengungkap suatu tindak pidana dan memiliki hak-hak yang tidak banyak diatur dalam KUHAP. Selain itu, dalam proses peradilan pidana, Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat)

menjunjung tinggi persamaan namun dalam implementasinya terjadi perbedaan perlakuan antara korban dengan tersangka/terdakwa. Posisi korban sudah diberikan perlindungan maksimal dengan menggunakan model perlindungan saksi gabungan antara the service model dan the right prosedur model dalam memberikan perlindungan saksi dan korban.20

Begitu penting dan urgennya korban mendapatkan perlindungan hukum, maka dalam hukum acara pidana dikenal beberapa prinsip perlindungan saksi dan korban, yakni perlakuan yang wajar dan manusiawi (proper and respectful treatment). Metode atau cara peneyelidikan/penyidikan, investigasi, pengumpulan dan penafsiran bukti-bukti harus meminimalisir instruksi terhadap korban dan tidak boleh merendahkan martabat korban. Korban perkosan sudah pasti mengalami gangguan psikologis dalam dirinya bahkan juga krisis kepercayaan diri atas tindakan tersangka yang dialaminya. Dalm hal ini, organ-organ peradilan pidana dari kepolisian hingga kejaksaan dalam menyelesaikan kasus perkosaan sudah sepatutnya menerapkan perlakuan yang wajar dan manusiawi bagi korban. Perlakuan secara manusiawi disini artinya adalah berarti memperlakukan korban dalam proses peradilan pidana sebagaimana kodratnya sebagai manusia. Wanita dalam hal ini adalah korban utama dalam tindak kejahatan perkosaan haruslah diperlakukan sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai korban dalam menjalani proses-proses beracara dalam sistem peradilan

20 Muhadar, Edi Abdullah, Husni Thamrin, Perlindungan Saksi dan Korban Dalam Sistem

(13)

pidana, sekalipun instrumen hukum belum mampu mengakomodir segala kebutuhan yang ada namun proses humanisasi idealnya bisa diterapkan dalam segala aspek kehidupan salah satunya dalam penanggulangan masalah kejahatan perkosaan dari sudut pandang korban.

2.5 Perlindungan Hukum Bagi Korban Perkosaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Berdasarkan teori pelindungan korban, terdapat tiga jenis perlindungan hukum yang dapat diterapkan pada korban, yaitu:21

1) Konvesional model

Berdasarkan teori perjanjian masyarakat yang dikemukakan JJ Roesseau, keberadaan negara bersandar pada perjanjian masyarakat untuk mengikatkan diri dengan suatu pemerintah melalui organisasi politik, dalam hal ini, negara memeproleh mandat dari rakyat untuk memberikan reaksi atas pelanggaran suatu delik. Perlindungan terhadap korban diwakili oleh negara melalui instrumen penegakan hukum

2) Service model

Konsep perlindungan hukum ini tidak melibatkan korban dalam proses peradilan pidana. polisi dan jaksa adalah aparat negara yang melayani kepentingan masyarakat termasuk di dalamnya adalah korban. Negara bertanggungjawab terhadap rakyatnya termasuk dalam menyantuni korban. Terdapat alasan mengapa korban tidak dilibatkan dalam proses peradilan pidana karena keterlibatan korban akan mengacaukan sistem pelayanan publik. Hal tersebut karena pelayanan terhadap korban adalah bagian dari pelayanan publik yang mana apabila korban ikut di dalamnya akan ada kepentingan individu yang masuk

3) Prosedural right model

Dalam konsep ini, korban memiliki hak hukum dalam stiap proses peradilan. Korban dapat terlibat secara langsung dalam proses peradilan, sedangkan kewajiban polisi dan jaksa adalah untuk mempertimbangkan hak-hak korban dan cara pemenuhannya

(14)

Perlindungan yang diberikan melalui Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban adalah perlindungan khusus yang diberikan kepada saksi dan korban dimana bobot ancaman atau tingkat kerusakan yang diderita oleh saksi dan atau korban ditentukan melalui proses penetapan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Definisi mengenai perlindungan dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban terdapat dalam Pasal 1 angka 6 yang bunyinya adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan. Lebih lanjut lagi, dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyatakan bahwa perlindungan saksi dan korban adalah bertujuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan.

Dalam pasal 5 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlindungan utama yang diperlukan adalah perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta benda serta bebas dari ancaman yang berkaitan dengan kesaksiannya dalam proses perkara yang berjalan. Korban juga memiliki hak atas kompensasi dan hak atas restitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU PSK. Bentuk-bentuk perlindungan korban yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 dapat dilihat dalam tabel berikut:22

Tabel Kategori Tindakan dari Layanan yang diberikan oleh LPSK

N o

Kategori Tindakan dan Layanan

Bentuk Perlindungan dan Bantuan serta Rujukan Pasalnya 1 Perlindungan fisik a Perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga dan harta benda (Pasal 5 ayat (1) a

b Perlindungan dari ancaman (Pasal 5 ayat (1) a

c Mendapatkan identitas baru (pasal 5 ayat (1) i

d Mendapatkan tempat kediaman baru (Pasal 5 ayat (1) j

22

(15)

2 Partisipasi saksi/korban dalamprogram perlindungan LPSK

Saksi dan atau korban memiliki hak untuk ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan (Pasal 5 ayat (1) b keterbatasan atau terdapat hambatan berbahasa (Pasal 5 ayat (1) d

c Saksi dan atau korban terbebas dari pertanyaan yang menjerat (Pasal 5 ayat (1) e

d Saksi dan atau korban mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus hingga batas waktu perlindungan berakhir (Pasal 5 ayat (1) f

e Saksi dan atau korban akan diberitahukan dalam hal terpidana dibebaskan (Pasal 5 ayat (1) f

a Biaya transportasi (Pasal 5 ayat (1) k

b Biaya hidup sementara (Pasal 5 ayat (1) m

c Bantuan medis (Pasal 6a)

d Bantuan rehabilitasi psiko-sosial (Pasal 6b)

Dalam Rancangan UndangUndang KUHP, tindak pdana perkosaan diatur dalam Pasal 423 yang bunyinya sebagai berikut:

(16)

a. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan di luar perkawinan, bertentangan dengan kehendak perempuan tersebut

b. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan di luar perkawinan tanpa persetujuan perempuan tersebut

c. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, dengan persetujuan perempuan tersebut, tetapi persetujuan tersebut dicapai melalui ancaman untuk dibunuh atau dilukai

d. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, dengan persetujuan perempuan tersebut karena perempuan tersebut percaya bahwa laki-laki tersebut adalah suaminya yang sah

e. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan yang berusia dibawah 14 tahun dengan persetujuannya

f. Laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, padahal diketahui bahwa perempuan tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.

(2) Dianggap juga melakukan tindak pidana perkosaan, jika dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1:

a. Laki-laki memasukkan alat kelaminnya ke dalam anus atau mulut perempuan

b. Laki-laki memasukkan suatu benda yang bukan merupakan bagian tubuhnya ke dalam vagina atau anus perempuan.

Pasal 423 Rancangan UU KUHP yang menyebutkan batas minimal pidana bagi pelaku perkosaan adalah tiga tahun dan maksimal 12 tahun, merupakan kemajuan dibanding dengan Pasal 285 KUHP yang memberi ancaman hukuman penjara minimal satu hari dan maksimal 12 tahun. Pencantuman ancaman pidana minimum khusus (tiga tahun pidana penjara) dimaksudkan untuk memenuhi keinginan masyarakat yang seringkali harus kecewa atas putusan hakim yang dianggap kurang memperhatikan “pandangan masyarakat” maupun “pengaruh tindak pidana terhadap korban”. Disamping itu pemberlakuan batas hukuman minimum tiga tahun pidana penjara tersebut mempunyai efek penjeraan yang lebih kuat dibanding aturan lama (Pasal 285 KUHP), karena hukuman yang lebih berat terhadap pelaku tindak pidana perkosaan sangatlah dibutuhkan.

(17)

atau pelecehan seks, sehingga jaksa hanya menuntut hukuman rendah pada pelaku, demikian pula dengan hakim dimana dalam mengambil keputusan lebih memperhatikan hal-hal atau keadaan yang meringankan dari pelaku, bukan terfokus (mempertimbangkan) pada penderitaan korban. Faktor kerugian dan penderitaan yang diderita korban serta persepsi tentang perkosaan dalam masyarakat harus mendasari penegakan hukun pidana perkosaan. Karena tanpa memperhatikan hal-hal tersebut maka akan berakibat pelaku tindak pidana perkosaan dihukum ringan, bahkan divonis bebas. Hal demikian pasti akan terjadi karena disamping faktor kerugian, penderitaan yang dialami korban dan persamaan persepsi, pembuktian kasus atau tindak pidana perkosaan bukanlah perkara gampang di samping perlu adanya keberanian korban untuk melaporkan tindak pidana perkosaan yang dialaminya pada aparat penegak hukum.

Tindak pidana perkosaan merupakan kekerasan terburuk yang dapat dialami perempuan, bahkan lebih buruk dari pembunuhan, karena korban tindak pidana perkosaan akan mengalami trauma sepanjang hidupnya. Trauma ini dimulai dari ketika perkosaan terjadi, sesudah diperkosa, selama dalam pemeriksaan polisi dan jaksa, dalam persidangan dan menjalani hidup sesudahnya. Sistem hukum yang ada di Indonesia, dan budaya patriarkhi yang amat kuat berakar di masyarakat menyebabkan perempuan sering menjadi pihak yang disalahkan ketika mengalami perkosaan. Bahkan tidak jarang korban perkosaan merasa bahwa dialah yang menjadi penyebab terjadinya perkosaan yang menimpa dirinya dengan ungkapan-ungkapan dalam pemeriksaan seperti mengapa keluar malam sendirian, mengapa memakai baju pendek atau baju ketat, bahkan riwayat seksual korban dapat menyebabkan korban semkain disalahkan

(18)

yang memungkinkan hakim untuk tidak menjatuhkan pidana penjara apabila korban tindak pidana mendorong terjadinya tindak pidana, sangat merugikan korban tindak pidana perkosaan. Hal ini karena dalam peradilan pidana, korban perkosaan seringkali disalahkan atas terjadinya perkosaan.

Program pelayanan korban kejahatan (pemberian bantuan) terbagi dalam tiga fungsi utama yakni: 23

a) Fungsi primer

Fungsi primer adaah bersifat segera dan diperlukan, ditujukan untuk emberikan pelayanan langsung kepada para korban. Fungsi primer ini meliputi bentuk layanan seperti menjamin korban dengan pelayanan medis atau pelayanan sosial darurat, melayani keluarga korban yang mendesak, menjamin tidak akan terjadinya eksploitasi korban lebih lanjut oleh sistem peradilan pidana

b) fungsi sekeunder

Fungsi sekunder berkaitan dengan perhatian jangka panjang bagi korban yang ruang lingkupnya lebih luas. Fungsi sekunder program pelayanan korban misalnya adalah mengurangi resiko reviktimisasi, melanjutkan bantuan yang telah diberikan para korban dan keluarganya oleh badan-badan pelayanan masyarakat, dan mempertahankan keseimbangan kepentingaan antara keperluan-keperluan korban dan penuntut umum c) Fungsi tersier

Berkenaan dengan pengembangan dari faktor eksternal yang mendukung bagi program pelayanan korban kejahatan. Misalnya adalah pengembangan standar-stanar untuk menjamin semua bagian peradilan kriminal dengan memperhatikan kondisi korban berkaitan dengan peran yang khusus, pengembangan perundang-unndangan yang berorientasi pada kepentingan pihak korban, dan pengembangan penataran.latihan untuk para petugas peradilan pidana khususnya pada polisi dan jaksa unuk menangani masalah keadaaan darurat dan trauma pada korban

(19)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, hak tersangka/terdakwa lebih diperhatikan daripada hak-hak seorang saksi dan korban tindak pidana. Tidak adanya keseimbangan hak antara saksi dan atau korban dengan seorang tersangka/terdakwa dalam ketentuan peraturan perundang-undangan seperti KUHAP, membawa pengaruh dalam mengimplementasikan hak-hak saksi, khususnya hak korban sehingga dibutuhkan ketentuan khususnya yang mengatur mengenai hak-hak saksi dan korban tindak pidana. Selama ini dalam proses peradilan pidana, keberadaan saksi dan korban hanya diposisikan sebagai pihak yang dapat memberikan keterangan dimana keterangannya dapat dijadikan alat bukti dalam mengungkap sebah tindak pidana sehingga hal ini yang menjadi dasar aparat penegak hukum yang menempatkan saksi dan korban hanya sebagai pelengkap dalam mengungkap suatu tindak pidana dan memiliki hak-hak yang tidak banyak diatur dalam KUHAP.

(20)

B. Saran

Diperlukan adanya perhatian terhadap perlindungan hukum kepada korban tindak pidana perkosaan dalam penjatuhan sanksi secara tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, setiap korban harus memahami hak dan kewajibannya sebagai korban dalam menjalani tiap-tiap proses peradilan pidana. Hal tersebut tentu saja juga membutuhkan peran aktif dari lembaga-lembaga terkait seperti LPSK, Kepolisian dan Kejaksaan.

DAFTAR PUSTAKA

Adami Chazawi, 2007, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Arif Gosita, 1989, Masalah Perlindungan Anak, Aakademika Presindo, Jakarta.

Bambang Waluyo, 2012, Viktimologi Perlindungan Saksi dan Korban, Sinar Grafika, Jakarta.

Dikdik M Arief Mansyur, 2008, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan (Antara Norma dan Realita), Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Muhadar, Edi Abdullah, Husni Thamrin, Perlindungan Saksi dan Korban Dalam Sistem Peradilan Pidana, 2010, CV Putra Media Nusantara, Surabaya.

Saparinah Sadli dalam Barda Nawawi Arief, Kebijakan legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Pidana Penjara, CV Ananta, Semarang Syahrial Martanto Wiryawan, Melly Setyowati, 2007, Pemberian Bantuan

Dalam Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban, Indonesia Corruption Watch, Jakarta.

Pers Release Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Nomor 51/PR/LPSK/X/2014, LPSK Bantu Pulihkan Psikologis Korban Dugaan Perkosaan Raja Solo, http://lpsk.go.id, 27 Oktober 2014

(21)

Renaldi Sofwan dan Erna Karim, Pemerkosaan: Dominasi Pria terhadap Wanita, http://www.cnnindonesia.com/internasional/20140910100910-114-2897/pemerkosaan-dominasi-pria-terhadap-wanita/, 27 Oktober 2014

Khaerudin, Perkosaan Kekerasan terbanyak di Indonesia, http://nasional.kompas.com/read/2011/11/24/21344444/Perkosaan.Kekerasan .Seksual.Terbanyak.di.Indonesia, 27 Oktober 2014

http://www.sapa.or.id/f2/1691-kemiskinan-dapat-menyebabkan-kejahatan, 27 Oktober 2014

Gambar

Tabel Kategori Tindakan dari Layanan yang diberikan oleh LPSK

Referensi

Dokumen terkait

Imigran ilegal adalah orang atau sekelompok orang yang memasuki suatu negara tanpa memenuhi persyaratan hukum untuk memasuki negara tersebut.Masuknya imigran ilegal

No Nomor Peserta Nama Asal Sekolah

(L.) Merril] sebagai Indikator Toleransi Cekaman Kekeringan pada Fase Perkecambahan dalam Larutan Polyethylene Glycol (PEG) ” dengan baik sebagai salah satu

Ketiga macam perkiraan waktu tersebut akan digunakan untuk menentukan waktu pelaksanaan suatu kegiatan yang disebut dengan Waktu Harapan (Wh) atau Expected Time dengan

4.Benih Sebar ( Extension Seed = ES) merupakan keturunan dari Benih Penjenis, Benih Dasar atau Benih Pokok, yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa.. sehingga

"erapa ban!ak ara untuk duduk !ang diperole# dengan urutan berbeda $ika %Putra dan putri  dapat duduk di sembarang kursi& Putra dan putri masing'masing mengelompok

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Alex Iskandar sebagai penyidik Kepolisian Resor Kota Pekanbaru bahwa pelaksanaan penyidikan terhadap kasus pencurian arus listrik

9 Tugas yang harus saya kerjakan setiap. harinya sesuai dengan jumlah