MEMBANGUN PEREKONOMIAN MELALUI
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN NASIONAL
Didik Wahyu Purnama
DIII Akuntansi Kurikulum Khusus, Jl. Bintaro Utama Sektor V Bintaro Jaya, Tangerang Selatan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
ABSTRAK
Isu ketahanan pangan menjadi topik penting karena pangan adalah kebutuhan manusia yang hakiki. Melalui pangan kualitas sumber daya manusia dapat dibentuk. Pangan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap stabilitas sosial dan politik, yang mana keduanya adalah kunci untuk melaksanakan pembangunan. Kebijakan moneter dan
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km. [ CITATION Wor94 \l 1057 ]
Lahan pertanian adalah modal yang sangat penting dalam menggenjot produksi pangan. Tanpa perluasan lahan (ekstensifikasi) upaya peningkatan produksi pangan hanya bertumpu pada inovasi teknologi atau peningkatan produktivitas (intensifikasi). Bila hanya bertumpu pada peningkatan produktivitas, pada titik tertentu, produksi pangan bakal tak mampu memenuhi permintaan terhadap pangan yang terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk[ CITATION Kad14 \l 1057 ].
Berkaca dari negara-negara maju, mereka tak pernah mengabaikan sektor pertanian. Ketahanan pangan dapat mereka cukupi dengan baik. Potensi terjadinya inflasi karena kelangkaan bahan makanan dapat diminimalisasi. Pun dengan tingkat kesejahteraan petani dapat dicapai dengan baik.
Sektor pertanian merupakan sektor yang dapat membantu pemerintah menurunkan angka kemiskinan [ CITATION VOA14 \l 1057 ]. Jika pemerintah serius terhadap sektor pertanian, lapangan kerja akan terbuka dan otomatis tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan. Sektor pertanian ini mempekerjakan sekitar 40 persen tenaga kerja Indonesia. [ CITATION Bam \l 1057 ]
turunnya produktivitas sektor pertanian bahan pangan
Tanaman padi, jagung, dan kedelai merupakan bahan makanan yang utama bagi masyarakat Indonesia. Maka dari itu, penulis hanya membatasi pembahasan hanya seputar tiga jenis komoditas tersebut.
Peningkatan produktivitas hasil pertanian berupa padi, jagung dan kedelai belum memberi hasil yang memuaskan. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, hasil panen tanaman padi, kedelai, dan jagung dalam 6 tahun terakhir, tercatat hanya tanaman padi yang hasilnya terus meningkat. Sedangkan dua komoditas lain hasil panennya tidak selalu meningkat.
Untuk mengatasi kurangnya produktivitas kedelai dan jagung, pemerintah mengambil kebijakan impor. Pada 2013, dari total kebutuhan kedelai sebesar 2,5 juta ton , produksi kedelai di tanah air hanya bisa mencukupi 700-800 ribu ton/tahun dan sisanya dipenuhi dengan impor, [ CITATION Ken13 \l 1057 ]. Sedangkan untuk jagung, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah melakukan impor sebesar 3,2 juta ton. [ CITATION Ind13 \l 1057 ]
Tingginya tingkat ketergantungan pada impor pangan ini tak lepas dari pertambahan jumlah penduduk di satu sisi, dan di sisi lain terjadi penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Apabila kondisi yang demikian terus menerus berlanjut, dapat dipastikan krisis pangan akan menjadi permasalahan baru bagi bangsa ini.
Kebijakan pemerintah Indonesia baik di bidang fiskal dan moneter nampaknya belum menjadikan pertanian sebagai prioritas untuk memajukan pembangunan perekonomian nasional. Situasi ekonomi nasional sedang menuju ke arah liberalisasi ekonomi yang sangat agresif. Hampir semua sektor ekonomi rakyat diserahkan dalam mekanisme perdagangan bebas yang begitu massif termasuk pertanian. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya produk pangan dari luar negeri yang tingkat produktivitasnya sudah jauh lebih tinggi dan dengan harga yang lebih murah. Sedangkan produktivitas pangan nasional masih terseok-seok dengan harga yang kalah bersaing. [ CITATION Kon09 \l 1057 ]
Padahal sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. Peranan tersebut antara lain: potensi sumber daya alam Indonesia yang besar dan beragam, besarnya pangsa pasar baik di dalam negeri maupun di luar negeri, besarnya jumlah penduduk yang menggantungkan hidupnya di sektor ini, dan perannya dalam penyediaan pangan bagi ketahanan pangan nasional.
Permasalahan terkait turunnya produktivitas
Tabel 2. Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama (2010 - 2013)
Keengganan para generasi muda untuk mau menggeluti pertanian juga dirasa masih kurang. Sensus pertanian BPS menemukan kalangan muda Indonesia dengan usia kurang dari 35 tahun yang terjun ke bisnis pertanian hanya mencapai 12,87% dari total rumah tangga usaha pertanian. Sementara kalangan laki-laki masih mendominasi profesi petani dengan jumlah mencapai 23,14 juta rumah tangga, jauh lebih tinggi dibandingkan petani utama perempuan sebanyak 3 juta rumah tangga. [ CITATION Fik13 \l 1057 ]
Tabel 3. Upah Nominal dan Upah Buru Tani di Indonesia
2008- 2009 2010 2011 2012 2013 5,000
Faktor lainnya lagi, masalah ketersediaan pupuk yang masih kurang dan jumlah subsidi pupuk yang terbatas menjadi persoalan yang berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan pasokan pangan kita. Hal itu disinyalir karena distribusi melalui pola rayonisasi (pembagian wilayah atas beberapa rayon) yang tidak fleksibel, sehingga tidak mudah melakukan penyesuaian pasokan antarwilayah sekaligus lemahnya pengawasan dari Pemda dalam pengelolaan pupuk bersubsidi.
Bahkan ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai Surat Keputusan Menperindag yang mengatur rayonisasi distribusi pupuk, melanggar Undang-Undang tentang Larangan Praktik Usaha Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat karena SK tersebut menimbulkan anti persaingan usaha. KPPU beralasan bahwa sistem rayonisasi tersebut membuat distribusi pupuk tidak bisa menjangkau daerah yang tidak ditunjuk oleh menperindag. [ CITATION Ray14 \l 1057 ]
Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini seolah-olah tidak menjunjung asas keadilan bagi petani. Akibatnya petani yang sebagian besar adalah rakyat kecil tidak terlindungi haknya oleh pemerintah. Sehingga petani terusir dari tempat mereka bekerja dan memulai untuk bekerja pada sektor lain.
Juga lemahnya panduan pemerintah bagi para pertain terkait musim tanam yang saat ini sudah banyak berubah akibat perubahan cuaca yang ekstrim.
Sebagian besar petani Indonesia masih sangat lemah dalam mengakses sumber-sumber permodalan formal. Lemahnya kepemilikan modal disebabkan oleh kecilnya skala usaha sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan akumulasi modal. Setiap selesai panen, hasil penjualaan digunakan untuk membayar pinjaman sarana produksi dan kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, lemahnya akses petani kecil terhadap sumber-sumber permodalan formal disebabkan oleh prosedur yang tidak sederhana dan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh petani. [ CITATION Bam \l 1057 ]
Secara garis besar pembangunan pertanian mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik atau terpusat. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal yang terbatas, (c) penggunaan teknologi yang masih sederhana (minim inovasi), (d) sangat dipengaruhi oleh musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya pengangguran tersembunyi, (g) akses terhadap kredit, teknologi, dan pasar sangat rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani (kartel).
Harga pangan dihadapkan dengan permasalahan inflasi.
Inflasi disebabkan oleh berbagai peristiwa ekonomi. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain: meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat atas berbagai komoditas, berlebihnya jumlah uang yang beredar di masyarakat yang mendorong konsumsi atau bahkan spekulasi, dan dapat pula disebabkan oleh terhambatnya distribusi komoditas konsumsi ke masyarakat sehingga menjadikan komoditas tersebut mengalami kelangkaan. Tuntutan kenaikan upah oleh para buruh juga akan mendorong naiknya harga-harga barang yang beredar di masyarakat. [ CITATION Sad94 \l 1057 ]
Gambar 1. Tingkat Inflasi di Berbagai Negara
Inflasi memberikan dampak negatif dalam perekonomian suatu negara. Inflasi yang demikian ini biasanya timbul pada negara-negara yang mengalami hiperinflasi atau inflasi yang tidak terkendali. Tingkat daya beli masyarakat menurun sehingga dengan jumlah uang yang sama, hanya mendapatkan barang dengan jumlah yang lebih sedikit dari sebelumnya. Masyarakat menjadi enggan untuk menabung dan ber investasi. Dengan demikian laju pertumbuhan perekonomian pun akan menurun dan perekonomian menjadi lesu. Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Tentu saja inflasi yang dibahas dalam jurnal ini adalah yang berdampak buruk terhadap perekonomian nasional kaitannya dengan sektor pertanian. Inflasi dapat menyebabkan Taraf kemakmuran masyarakat mengalami penurunan apabila tanpa disertai naiknya upah.
Bagi petani di Indonesia, kenaikan harga kebutuhan pangan di masyarakat tidak berdampak pada meningkatnya pendapatan mereka. Meski tahun 2013 Indonesia telah mencapai swasembada beras, namun petani tidak merasakan keuntungannya. Praktek kartel dicurigai menjadi penyebabnya. Sehingga keuntungan dalam meningkatnya komoditas pangan hanya dinikmati segelintir orang saja.
Kartel dimaknai sebagai kerja sama sejumlah perusahaan yang bersaing untuk mengoordinasi kegiatannya sehingga dapat mengendalikan jumlah produksi dan harga suatu barang dan atau jasa untuk memperoleh keuntungan di atas tingkat keuntungan yang wajar. secara klasik dapat dilakukan melalui tiga hal yakni harga, produksi, dan wilayah pemasaran. [ CITATION Khu13 \l 1057 ]
Seringkali Bahan makanan menjadi penyumbang indeks inflasi terbesar dibandingkan komoditas lain. Berdasarkan data yang diperoleh dalam 8 tahun terakhir, tercatat pada 2013, 2012, dan 2011 bahan makanan tidak menjadi penyumbang indeks tertinggi. Namun meski tidak menjadi yang tertinggi, bahan makanan masih memiliki indeks yang tinggi.
Naiknya harga bahan makanan disebabkan dan berbanding lurus dengan kenaikan produk pertanian. Mahalnya harga produk pertanian dalam negeri dapat disebabkan oleh berbagai hal, bukan hanya impor. Harga pangan yang melonjak belakangan ini karena dugaan kartel dan minimnya infrastruktur. Padahal, infrastruktur merupakan urat nadi yang
penting untuk mendistribusikan bahan pangan. kondisi infrastruktur yang memprihatinkan seperti jalan rusak, telah merugikan banyak pihak, termasuk petani kecil karena hasil panennya tidak terdistribusi dengan baik. Dengan infrastruktur yang buruk, waktu tempuh untuk distribusi akan semakin lama dan biaya yang dikeluarkan pun semakin banyak.
Kesimpulan saran
Melihat keadaan negara ini dimana sering kali diterpa inflasi yang cukup tinggi dan tingkat pengangguran yang semakin meningkat, hendaknya sektor pertanian dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengatasinya. Dengan pengelolaan secara tepat, sektor pertanian dapat menyerap tenaga kerja yang besar. Maka jumlah pengangguran dapat dikurangi.
Jumlah institusi pendidikan Indonesia yang menjadikan sektor pertanian sebagai spesialisasinya cukup banyak, bahkan tersebar dari ujung Sumatera hingga Papua. Namun kenyataannya pertanian kita seolah masih jauh tertinggal. Hendaknya pemerintah bekerja sama dengan institusi-institusi tersebut untuk bersama-sama membangun pertanian Indonesia menjadi lebih baik. Dengan cara memperbanyak sekolah-sekolah lapangan yang secara langsung dapat menularkan ilmu di kampus kepada para petani di lapangan. Inovasi-inovasi teknologi dan benih semakin diperbanyak.
Untuk menciptakan kedaulatan pangan dan mengurangi ketergantungan kita terhadap impor bahan pangan, hendaknya pemerintah lebih memperhatikan sektor pertanian. Dengan demikian produktivitas akan meningkat serta neraca perdagangan pun akan seimbang atau bahkan surplus.
Sektor pertanian Indonesia secara nyata memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan serta ikut berperan dalam memajukan perekonomian nasional. Mulai dari lahan yang sangat luas, jumlah sumber daya manusia yang melimpah, dan jumlah lingkungan pendidikan yang berorientasi pada pertanian yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.
Dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah mendorong petani untuk meninggalkan pekerjaannya. Hal ini mengakibatkan jumlah petani berangsur-angsur menurun dari tahun ke tahun. Kebijakan-kebijakan yang ada belum dapat menjadikan petani untuk dapat berbuat lebih baik.
Mensejahterakan petani bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan sekelompok masyarakat. Namun petani adalah salah satu elemen penting dalam mata rantai kedaulatan pangan. Jika pemerintah mampu menciptakan sebuah kebijakan yang mendorong perbaikan kehidupan petani, maka produktivitas pertanian akan meningkat. Dengan demikian, kapasitas produksi akan mampu mengimbangi laju kebutuhan pangan penduduk.
Pemerintah sebagai regulator sebenarnya memiliki kuasa untuk mememajukan sektor pertanian. Namun kenyataannya, Kebijakan-kebijakan yang ada belum sepenuhnya tepat sasaran bahkan hanya menguntungkan sebagian orang saja contonya yaitu impor bahan pangan masih cukup tinggi dan persawahan yang beralih fungsi menjadi bangunan.
Pemerintah juga perlu meningkatkan investasi di pedesaan. Dengan lebih banyaknya investasi di desa misalnya dalam alat-alat pertanian yang lebih modern, huller , traktor, dan juga dalam pembangunan-pembangunan prasarana fisik seperti jembatan-jembatan baru, bendungan irigasi dan lain-lain maka timbul adanya keperluan akan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Seorang petani yang mengerjakan sawah dengan bajak atau traktor dalam waktu yang sama akan mampu menyelesaikan luas sawah yang lebih besar.
Pembangunan pertanian di masa yang akan datang dihadapkan pula pada tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik di Indonesia yang mengarah pada era demokratisasi yakni tuntutan otonomi daerah dan pemberdayaan petani. Disamping itu, dihadapkan pula pada tantangan untuk mengantisipasi perubahan tatanan dunia yang mengarah pada globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing tinggi namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat.
Daftar Pustaka
(2013). Alih Fungsi Lahan Pertanian di Indonesia 80 Ribu Hektar per tahun. Subang: www.pikiran-rakyat.com.
Ariyanti, F. (2013). Petani Indonesia Kebanyakan Sudah Sepuh. Jakarta: bisnis.liputan6.com.
Bank, World. (1994). Indonesia: environment and development.
Barat, D. P. (2003). Potensi Pertanian Indonesia. diperta.jabarprov.go.id.
(2013). Indonesia Impor Jagung Rp 385 Miliar Dalam Sebulan. Jakarta: finance.detik.com.
Indonesia, V. (2014). BPS: Inflasi, Kemiskinan Meningkat pada 2013. Washington: VOA Indonesia.
(2014). Inflasi. id.wikipedia.org.
(2013). Kenapa Indonesia Ketergantungan Impor Kedelai? Ini Sebabnya. Jakarta: finance.detik.com.
Khudori. (2013). Membongkar Kartel Pangan. nasional.sindonews.com.
(2009). Kondisi Pertanian Indonesia Saat Ini Berdasarkan Pandangan Mahasiswa Pertanian
Indonesia. Banten: www.paskomnas.com.
(2014). Rayonisasi Pupuk Langgar UU Persaingan Usaha. Jakarta: pelita.or.id.
Rivai, B. S. (t.thn.). Peningkatan Akses Petani Terhadap Kredit Ketahanan Pangan dan Energi. 188 - 208.
Ruslan, K. (2014, Januari Sabtu). Lahan Pertanian Indonesia dari Waktu ke Waktu.